THE GREAT PROPHECIES OF THE OLD TESTAMENT 1
Part 01/25 - Stephen Bohr
GOD, HISTORY, PROPHECY, TIME, AND
ETERNITY PART 1
https://www.youtube.com/watch?v=mQxSxB878bs&list=PLIWJyuxBfZ7je1L5eNH11ROzC-CaAKO3E&index=1&t=24s
Dibuka
dengan doa.
So please turn with
me to the table of contents. This would
be on page 1 of your study notes, and I have a few things that I want to mention.
1. First of all, you'll find as you work through the study notes, that there are several items of information in brackets.
When I quote a passage from Scripture, you'll find some
commentary in brackets. The reason for that is, because if I included all of
those verses fully in the study notes, we would probably have 6- or 7 hundred
pages, and it's not practical. So I've placed in brackets, those are my own
comments, those are not part of the biblical text. So when you find a passage from
the Bible with brackets, what's in the brackets are my own personal commentary
on that particular part of the passage.
2. The second point is that obviously we are not going to be able
to study everything in the study notes.
It's impossible 477 pages in 24 hours, there's no way that
we can cover all the material, but I included more than what we cover in the
class, because I want you to have that material so that you can continue
studying, and so please that which we don't study in class make sure that you
don't file these study notes away, make sure that you study what we do not
study here in class.
3. You've also received in your bag an article from the Seventh-Day
Adventist Bible Commentary.
I highly recommend that you read that article between
today and tomorrow because it gives us principles of how to study the prophecies
of the Old Testament that appear to apply to literal Israel, how do we
understand these prophecies, to go far beyond literal Israel. It's vitally
important that you study that article between today and tomorrow.
4. The next point is that I'm doing double duty during this week.
I was invited to speak for
ASI (Adventist-laymen’s Services and Industries) the Southwest area, and
so Thursday night as well as on Sabbath I will be in Keene presenting
there to ASI. So we've had to readjust the schedule somewhat,
and I hope that you'll take a look at the schedule, especially if you've been
here in previous years, because there are some changes in the schedule.
5. The next thing that I would like to mention is that in the study
notes you will find some duplication of things that I've done before,
but I have added material to what we've done before, and
I've included these portions because they provide context for new material that
we're going to present here during this week.
6. Also you'll notice that this is Part 1 of the Prophecies of the
Old Testament.
Originally I had planned next year to do some additional Minor
Prophets like Zephaniah, and Haggai, and Amos, etc. but last Sabbath I was in
my local church and the pastor preached on the “70 Weeks”, they're kind of in a
mini evangelistic series, and in the evening another pastor preached on the “2300
Days”. And I got to thinking you know, I have a Commentary on Revelation, complete
Commentary on Revelation covering every chapter, and I have study notes for
Daniel, but we've never done anything in a class other than what was done at a
prayer meeting when I was pastor of the church. We studied Daniel for six years
in prayer meeting, but we don't have anything on video on the Book of Daniel. And
so I decided that the prophecy that we're going to study next year will be the
Book of Daniel from chapter 1 through chapter 12, so that we have not only the
study notes ~ by the way I'll be adding material to the study notes
because many years have passed since I
prepared those study notes. I believe
that the Book of Daniel is so important that we better not put it on the back
burner. And so the following year we will do those other minor prophets. Does
that sound feasible?
Okay, so I hope you
all plan to come next year to Anchor if time lingers, and we're able to do it.
Jadi mari
bersama saya, kita ke daftar isi. Ini ada di hal. 1 makalah
kalian, dan saya punya beberapa hal yang ingin saya sebutkan.
1.
Pertama,
kita akan melihat saat kita mengupas makalah itu bahwa ada beberapa keterangan
dalam kurung.
Bila saya mengutip sebuah ayat
dari Kitab Suci, kita akan menemukan beberapa komentar dalam kurung. Alasannya
ialah, karena jika saya memasukkan seluruh ayat itu lengkap ke dalam makalah,
kita akan punya mungkin 6 sampai 7 ratus halaman, dan itu tidak praktis. Jadi
saya tempatkan dalam kurung. Itu adalah komentar-komentar saya sendiri, itu
bukan bagian dari ayat Alkitab. Jadi bila kalian melihat sebuah ayat dari
Alkitab dengan kurung, yang di dalam kurung itu adalah komentar pribadi saya
sendiri mengenai bagian ayat tersebut.
2.
Poin
kedua ialah, sudah jelas kita tidak akan bisa mempelajari semua yang ada di
makalah.
Mustahil 477 halaman dicakup dalam 24 jam, tidak
mungkin kita bisa meliput semua materinya, tetapi saya memasukkan lebih
daripada apa yang akan kita liput dalam kelas, karena saya mau kalian punya
bahan tersebut supaya kalian bisa melanjutkan mempelajarinya. Jadi mohon apa
yang tidak sempat kita pelajari di dalam kelas, pastikan kalian tidak mengarsip
saja makalah ini. Pastikan kalian mempelajari apa yang tidak kita pelajari di
dalam kelas.
3.
Kalian
juga sudah menerima dalam tas kalian sebuah artikel dari SDA Bible Commentary.
Saya sangat merekomendasikan
kalian membaca artikel tersebut antara hari ini dan besok, karena itu memberi
kita prinsip-prinsip bagaimana mempelajari nubuatan-nubuatan Perjanjian Lama
yang sepertinya berlaku bagi Israel literal, bagaimana kita bisa memahami
nubuatan-nubuatan ini jauh melampaui Israel literal. Sangatlah penting kalian
mempelajari artikel tersebut antara hari ini dan besok.
4.
Poin
berikutnya ialah saya sedang mendapat tugas rangkap minggu ini.
Saya diundang berbicara untuk ASI
(Adventist-laymen’s
Services and Industries), daerah
Barat-Daya, maka pada hari Kamis dan Sabat saya akan berada di Keene membuat
presentasi di sana untuk ASI. Jadi kita harus menyesuaikan skedulnya dan saya
berharap kalian akan memeriksa skedulnya, terutama bagi yang sudah pernah
kemari di tahun-tahun yang lalu, karena ada beberapa perubahan di skedulnya.
5.
Hal
berikutnya yang mau saya singgung ialah di makalah kalian akan menemukan
duplikasi beberapa hal yang pernah saya bahas sebelumnya,
tetapi saya telah menambahkan
materi baru kepada apa yang sudah pernah kita pelajari sebelumnya, dan saya
masukkan bagian-bagian itu karena mereka memberi konteks bagi materi baru yang
akan disampaikan di sini selama minggu ini.
6.
Juga
kalian akan melihat bahwa ini adalah Seri Nubuatan-nubuatan
Perjanjian Lama Bagian Pertama.
Aslinya saya merencanakan tahun
depan akan membahas beberapa nabi kecil lainnya seperti Zefanya, Hagai, Amos,
dll. Tetapi Sabat lalu saya ada di gereja saya dan pendetanya berkhotbah
tentang “70 Minggu”, mereka sedang mengadakan seri penginjilan mini, dan
malamnya pendeta yang lain berkhotbah tentang “2300 Petang dan Pagi”. Saya jadi
berpikir, saya punya pembahasan tentang Wahyu, pembahasan lengkap tentang Wahyu
yang meliput setiap pasalnya. Dan saya punya makalah untuk Daniel, tetapi kita
belum pernah membuat kelas selain apa yang pernah dilakukan di pertemuan doa
ketika saya masih gembala di gereja. Saat itu kami mempelajari Daniel selama
enam tahun di pertemuan doa, tetapi kita tidak punya dalam bentuk video tentang
kitab Daniel. Jadi saya putuskan nubuatan yang akan kita pelajari tahun depan
ialah kitab Daniel dari pasal 1 hingga pasal 12, supaya kita tidak hanya punya
makalahnya ~ nah, saya akan menambahkan materi ke makalahnya karena sudah lewat
banyak tahun sejak saya menyusun makalah tersebut. Saya percaya kitab Daniel
itu begitu pentingnya, dan kita jangan mengabaikannya. Maka untuk tahun
berikutnya baru kita akan membahas tentang nabi-nabi kecil. Apakah itu bisa
diterima?
Baiklah,
jadi saya berharap kalian semua membuat rencana untuk datang tahun depan ke
Anchor sekiranya masih ada waktu, dan kita sempat melakukannya.
Now let's take a
look at the table of contents and see where we're going in our classes today.
I'm hoping to cover lesson 1, 2, and 3, as well as lessons 4 and 5. And let me
just mention that section 2 ~ the reason I've included it, is because it is
closely related with the book of Habakkuk and with the book of Joel. it
provides background to the book of Joel and to the book of Habakkuk. That's why
I've included those 5 Lessons here in the second section of the study notes.
Nah, mari
kita simak daftar isi makalahnya dan kita lihat ke mana kita akan pergi di
kelas kita hari ini. Saya berharap bisa meliput pelajaran 1, 2, dan 3, juga
pelajaran 4, dan 5. Dan saya mau mengatakan bahwa bagian 2 ~ alasan mengapa
saya memasukkannya ialah ini sangat dekat terkait dengan kitab Habakuk dan
dengan kitab Yoel. Ini memberikan latar belakang kitab Yoel dan kitab Habakuk.
Itulah mengapa saya memasukkan kelima pelajaran di sini di bagian kedua dari
makalah.
The Great Prophecies of the Old Testament Part 1
Table of Contents
SECTION #1: GOD AND
PROPHECY
LESSON #1 - GOD, HISTORY, PROPHECY, TIME AND ETERNITY ............................. 3
LESSON #2 - THE
CERTAINTY OF GOD’S PROMISES ........................................ ...... 21
LESSON #3 - THE
VISION OF ORDERLY CONFUSION
.................................... ......... 35
SECTION #2: GOD AND
PROPHECY
LESSON #4 - SIGHING AND CRYING
IN JERUSALEM ................................................ 51
LESSON #5 - BABYLON’S INFURIATING WINE .......................................................... 65
LESSOn #6 - THE TYPOLOGY OF
THE
BOOK OF HABAKKUK .................................
81
LESSON #7 - THE
JUST SHALL LIVE BY FAITH ......................................................... 109
LESSON #8 - THE
TRUTH ABOUT THE FINAL GENERATION ..................................
125
SECTION #3:
STUDIES IN ISAIAH
24-27
LESSON
#9 -
ISAIAH 24:6: THREE SINS THAT WILL DESTROY THE WORLD...... 151
LESSON #10 - ISAIAH 24:21-23: SATAN’S MILLENNIAL PRISON HOUSE.............. 165
LESSON
#11 - REFLECTIONS
ON ISAIAH 25: ‘LO, THIS IS OUR
GOD’ ................... 175
LESSON #12 - REFLECTIONS ON ISAIAH 26: ‘ARISE AND SING’ ........................... 179
LESSON #13 - ISAIAH 27: THE DEFEAT OF LEVIATHAN..........................................
183
SECTION #4:
STUDIES IN ISAIAH
24-27
LESSON #14 – ISRAEL’S GATHERING AND THE SCATTERING PROPHECIES ..... 191
LESSON
#15 - EZEKIEL 36-39: THE INVASION OF
GOG FROM MAGOG................ 211
LESSON #16 - ISAIAH 36-38: THE TYPOLOGY OF SENAQUERIB’S
INVASION.... 227
LESSON #17 - THE
TYPOLOGY OF THE
BOOK
OF JOEL............................... ........... 235
LESSON #18 - THE
MEANING OF THE WORD ‘ESCAPE’ ................................. .......
273
SECTION #5: ELLEN WHITE AND THE END-TIME SCENARIO
LESSON #19 - ELLEN WHITE AND THE LAST THREE PLAGUES
........................... 277
LESSON #20 - ELLEN WHITE’S DANIEL
11:40-12:3: A DEDUCTIVE STUDY ........ 287
SECTION #6:
STUDIES IN THE
THEOLOGY OF JONAH
LESSON
#21 – THE HISTORICAL BACKGROUND OF JONAH................................. 307
LESSON #22 - THE
ROLES OF GOD AND JONAH ...................................................... 315
LESSON #23 - GOD, JONAH AND MISSIONS .............................................................. 319
LESSON #24 - THE SOVERIGN PROVIDENCE OF GOD............................................ 325
LESSON #25 - THE
CHARACTERS OF GOD AND JONAH ........................................ 331
LESSON #26 - GOD, MAN AND PRAYER IN JONAH................................................. 339
LESSON #27 - TYPOLOGY IN JONAH ..........................................................................
343
LESSON #28 - THE
THREE DAYS AND THREE NIGHTS.......................................... 351
SECTION #7:
STUDIESON CREATION AND THE
SABBATH
LESSON #29 - CREATION, DE-CREATION AND RE-CREATION ............................. 369
LESSON
#30 - LESSONS
FROM A FORBIDDEN TREE .............................................. 389
LESSON
#31 - THE TYPOLOGY OF
REBUILDING THE JERUSALEM WALL........ 409
LESSON #32 - REBUILDING THE JERUSALEM WALL..............................................
425
SECTION #8:
MISCELLANEOUS STUDIES
LESSON #33 - IT IS FINISHED—SEVEN TIMES .......................................................... 437
LESSON #34 - IN
ALL THINGS GIVE THANKS........................................................... 451
LESSON #35 - A REFUGE IN A
TIME OF STORM........................................................ 463
CONTACT INFORMATION............................................................................................... 47
And then you'll
notice in the study notes that we're going to study Isaiah 24 through Isaiah chapter 27.
I have done some things on Isaiah 24, I've included them because I know we have
students here that have not been to previous Anchors, so I'll be telling you that
you need to review those because we're not going to cover every aspect in class,
because I've done that before. But you know I haven't done anything really on
Isaiah 25, Isaiah 26, and Isaiah 27. These chapters are called the “Little Apocalypse of
the Old Testament”, the little book of Revelation in the Old Testament.
There are tremendous connections between Isaiah 24-27 and the Book of
Revelation. So we're going to deal with that.
Lalu
kalian akan melihat di makalah ini bahwa kita akan mempelajari Yesaya 24 hingga Yesaya 27.
Saya pernah membuat pembahasan tentang Yesaya 24, dan ini saya masukkan di sini
karena saya tahu ada peserta-peserta kelas ini yang tidak ikut kelas-kelas
Anchor sebelumnya, jadi saya beritahukan kalian perlu mengulangi lagi
pembahasan itu karena kita tidak akan meliput semua aspeknya di kelas ini
karena itu sudah dilakukan sebelumnya. Tetapi saya belum pernah membuat
pembahasan tentang Yesaya 25, 26, dan 27. Pasal-pasal ini disebut “Apokalips Kecil Perjanjian Lama”,
atau kitab Wahyu kecil Perjanjian Lama. Ada kaitan yang banyak sekali antara
Yesaya 24-27 dengan kitab Wahyu. Jadi kita akan membahas itu.
And then, section 4,
we have in a previous study notes Israel's Gathering and Scattering prophecies,
but I never actually taught that in class, and that is foundational for what
we're going to study regarding Gog and Magog, regarding the story of
Sennacherib’s invasion up to the borders of Jerusalem, and also as the backdrop
to the book of Joel. And so we are going to take a look at the Gathering and
Scattering prophecies of the Old Testament as the backdrop to the study of Gog
and Magog, Sennacherib’s Invasion, and the book of Joel.
Then we are not going to study section 5, probably
we won't be able to get there, but I
hope that you will study that, because that provides Ellen White's perspective
of Habakkuk and the book of Joel, as well as Revelation chapter 14.
Kemudian bagian
4, ada di makalah yang lalu nubuatan-nubuatan tentang Pengumpulan dan Penyerakkan Israel, tapi saya
belum pernah mengajarkan ini di kelas, dan ini adalah dasar untuk apa yang akan
kita pelajari mengenai Gog dan Magog, mengenai kisah invasi Sanherib hingga ke
perbatasan Yerusalem, dan juga sebagai latar belakang kitab Yoel. Maka kita
akan menyimak nubuatan-nubuatan Pengumpulan dan Penyerakkan Israel di
Perjanjian Lama sebagai latar belakang untuk pelajaran Gog dan Magog, invasi
Sanherib, dan kitab Yoel.
Lalu kita
tidak akan mempelajari bagian 5, kemungkinan besar kita tidak akan sampai di
sana, tetapi saya berharap kalian akan mempelajari tu, karena di situ ada
perspektif Ellen White tentang kitab Habakuk dan kitab Yoel, juga tentang Wahyu
pasal 14.
Then we're going to
take a look at the book of Jonah. You know, most people you ask them you know, what do you know about Jonah? “Oh, he was swallowed by a whale”, that's
about the knowledge that people have. But there's a tremendous typology in the
story of Jonah, and so we're going to take a look at the book of Jonah.
Lalu kita
akan melihat kitab Yunus. Kalian tahu, kebanyakan orang jika kita tanyai, apa
yang kalian tahu tentang Yunus? “Oh, dia ditelan ikan paus”, itu saja kira-kira yang diketahui orang. Tetapi ada tipologi yang luar
biasa di kisah Yunus, maka kita akan menyimak kitab Yunus.
And then we have
studies on Creation and the Sabbath. You know, when I ask people what day was
the sun created, they said, “Well the Bible says the sun was created on the
fourth day.” But really the Bible clearly indicates that the sun was
actually created the first day, not the fourth day. Now how do we explain
that God created light the first day and He made the sun the fourth day? Well,
you're going to have the opportunity of having an explanation of that in this presentation.
Kemudian
ada pembahasan tentang Penciptaan dan Sabat. Kalian tahu, bila saya bertanya
matahari diciptakan pada hari apa? Mereka berkata, “Nah, Alkitab mengatakan
matahari diciptakan pada hari keempat.”
Tetapi sebenarnya Alkitab dengan
jelas mengindikasikan bahwa matahari sesungguhnya diciptakan pada hari pertama,
bukan hari keempat. Nah, bagaimana kita bisa menjelaskan bahwa Allah
menciptakan terang pada hari pertama dan Dia menciptakan matahari pada hari
keempat? Nah, kalian akan punya kesempatan mendapatkan penjelasannya di
presentasi ini.
Then lesson 30,
I've done previously, but I included in the study notes.
Lalu
pelajaran 30, sudah pernah saya bahas sebelumnya, tapi saya masukkan dalam
makalah.
And then we're
going to deal with the typology of the rebuilding of the wall of Jerusalem by Nehemiah,
the historical experience is really a prophecy about what is going to happen in
the end time with God's remnant people. The rebuilding of the breach that was
made in the wall, and the breach of course is the demolishing of the Sabbath
commandment by the Christian world.
Kemudian
kita akan membahas tipologi diperbaikinya dinding Yerusalem oleh Nehemia.
Pengalaman sejarah itu sesungguhnya adalah nubuatan tentang apa yang akan terjadi
pada umat sisa Allah. Diperbaikinya kerusakan yang dibuat pada dinding itu ~
dan tentu saja kerusakan itu ialah dihancurkannya Perintah Hari Sabat oleh
dunia Kristen.
And then I've also
included some miscellaneous studies here. “It is finished.” God says, “It is finished” seven times and we're going
to take a look at the seven times. And by the way, each time there's a movement
through the Sanctuary that begins in the
court and then moves all the way through the Most Holy Place. In other
words, the seven “It is finished.” follow the order of the
Sanctuary. And we're going to take a look at that.
Lalu saya
juga memasukkan beberapa pelajaran lain di sini: “Sudah selesai”. Allah berkata “Sudah selesai” tujuh
kali dan kita akan melihat ketujuh kali itu. Dan ketahuilah, setiap kali ada
gerakan di Bait Suci,
yang dimulai dari pelataran lalu bergerak terus hingga ke Bilik Mahasuci.
Dengan kata lain ketujuh “Sudah selesai”
mengikuti urutan
pekerjaan Bait Suci. Dan kita akan
menyimak itu.
“In all things give thanks”, that's another study.
“Dalam segala hal, ucapkan syukur”(1 Tesalonika 5:18) itu pelajaran yang lain.
And I've included
the one on the “Cities of Refuge”, that
is I don't think that I've included that in any series but the Cities of Refuge
are really a prophecy. They not only were a refuge for the fugitive Israelites
who inadvertently slew somebody, but
they also are a symbol of finding refuge in Christ. So that is one of the prophecies
of the Old Testament.
Dan saya
telah memasukkan pembahasan tentang “Kota–kota Perlindungan”, saya rasa saya
belum pernah memasukkannya dalam seri mana pun, tetapi Kota-kota Perlindungan
sebenarnya adalah sebuah nubuatan. Mereka bukan saja tempat perlindungan bagi
bangsa Israel yang sedang buron, yang secara tidak sengaja telah membunuh
seseorang, tetapi mereka juga adalah sebuah simbol menemukan perlindungan dalam
Kristus. Jadi ini adalah salah satu nubuatan Perjanjian Lama.
So we have a lot of
material to cover this week, and I trust
that you will study the notes in advance
in the evening. And you know, I'll tell you what we need to study for the
following day and I hope you'll take the time to kind of work through it, so
it's easier to teach the class.
Jadi ada
banyak materi yang harus diliput minggu ini, dan saya percaya kalian akan
mempelajari makalah itu sebelumnya di malam hari. Dan supaya kalian tahu, saya
akan memberitahu apa yang perlu dipelajari untuk hari berikutnya, dan saya
berharap kalian menyediakan waktu untuk mempelajarinya sehingga lebih mudah
untuk mengajar di kelas.
So anyway, let's go
to page number 3, we're going to deal first of all with the relationship
between God and prophecy, and we're going to begin at the top of page 3. What
distinguishes the true God from all false pretenders? Some people think it's
the fact that God is the Creator, and that certainly distinguishes the true God
from all false pretenders. But there's a special characteristic that distinguishes the
true God from all false gods and we find the answer in Isaiah 46:9-11,
it says there, “9 Remember the former things of old, for I am God, and
there is no other; I am
God, and there is
none like Me…”
So the question is, why is there no other? Why is there none
like God? Here comes the reason, “…10 Declaring the end from the beginning, and from
ancient times things that are not yet done,
saying, 'My counsel…” which means, “My
plan” “… shall stand, and
I will do all My pleasure,' 11
Calling a bird of prey from the east, the man who executes My counsel, from a far country. Indeed, I have
spoken it; I will also bring it to pass. I will also do it.”
Baiklah, mari kita ke hal. 3, kita akan lebih dulu
membahas hubungan antara Allah dengan nubuatan, dan kita akan mulai di bagian
atas hal. 3. Apa yang membedakan Allah yang sejati dari semua pemalsu yang
lain? Ada yang menganggap itu adalah faktanya bahwa Allah itu
Sang Pencipta, dan hal ini tentu saja membedakan antara Allah yang sejati dari
semua yang palsu. Tetapi ada
satu karakter khusus yang membedakan Allah yang sejati dari semua ilah yang
palsu dan kita dapatkan jawabannya di Yesaya 46:9-11, dikatakan
di sana, “9 Ingatlah hal-hal di zaman dahulu, karena Akulah
Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah, dan tidak ada yang seperti Aku,…” maka pertanyaannya ialah, mengapa tidak
ada yang lain? Mengapa tidak ada yang seperti Allah? Inilah alasannya, “…10 mendeklarasikan yang akhir dari permulaan, dan
dari zaman dahulu hal-hal yang belum terjadi, mengatakan,
‘Keputusan-Ku…” artinya
“RencanaKu” “…akan tetap berlaku, dan Aku akan melaksanakan segala kesenanganKu.
11 Memanggil burung buas dari timur, orang yang melaksanakan
keputusan-Ku dari negeri yang jauh. Iya, Aku
telah mengatakannya, Aku juga akan membuatnya jadi, Aku telah merencanakannya, Aku
juga akan melakukannya.”
Two key points in
these verses:
ü
first of all God knows the end from
the beginning,
ü
and secondly because God knows the
end from the beginning, His plan will come to pass for sure.
Dua poin
kunci:
ü
Pertama,
Allah tahu akhirnya dari permulaan,
ü
dan
kedua, karena Allah tahu akhirnya dari permulaan, rencanaNya sudah pasti akan jadi.
Now let's go to the
next section in our study notes. The Messianic prophecies of the Old Testament
marked a precise date when the Messiah would be born. Christ came to
this world, not one second early or one second late. In eternity past, the God
who knows the end from the beginning put a precise date on His calendar for the
birth of Jesus Christ. However, the Messianic prophecies of the Old
Testament revealed only the event when He would be born, not the
specific date. Jesus came exactly at the time that God had placed on
His eternal calendar. He was not one second early and He was not one second
late.
How do we know
that? Galatians 4:4 uses a very interesting expression, it says, “ 4 But when the
fullness of the time had come, God sent forth His Son, born of a
woman, born under the Law,…” “when the fullness of time had come” that expression means that when the exact moment on God's
calendar came, Jesus was born into this
world.
Nah, mari
kita ke bagian berikutnya dari makalah kita. Nubuatan-nubuatan messianik Perjanjian Lama, memberi tanda satu tanggal yang tepat kapan
Sang Messias akan dilahirkan. Kristus
datang ke dunia ini, tidak satu detik lebih pagi atau satu detik lebih
lambat. Di masa kekekalan lampau, Allah yang tahu akhirnya dari
permulaan, menentukan satu tanggal yang tepat di kalenderNya untuk kelahiran
Yesus Kristus. Namun,
nubuatan-nubuatan Messianik Perjanjian Lama hanya menyatakan
peristiwanya kapan Dia akan dilahirkan, bukan
tanggalnya yang spesifik. Yesus
datang persis pada waktu yang telah ditentukan Allah di kalenderNya yang kekal.
Dia tidak lebih pagi satu detik dan Dia tidak lebih lambat satu detik.
Bagaimana
kita bisa tahu itu? Galatia 4:4 menggunakan ungkapan yang sangat menarik,
dikatakan, “4 Tetapi ketika kegenapan waktunya tiba,
Allah mengutus Anak-Nya, dilahirkan dari
seorang perempuan, dilahirkan di bawah
Hukum…”. “ketika kegenapan waktunya tiba” ungkapan ini berarti ketika tepat pada
saat yang ditentukan di kalender Allah tiba, Yesus dilahirkan ke dalam dunia
ini.
Now you say, “How
do we know that the expression “fullness of the time had come” refers to a specific date on God's calendar?” Simply because a similar expression
appears in Mark 1:14 and 15. After Jesus had been
baptized and received the Holy Spirit, and went to the wilderness to be
tempted, He announced that the time was fulfilled. A very similar expression to
Galatians 4:4. Let's read Mark 1:14 and 15, “14 Now after John was put in
prison, Jesus came to Galilee, preaching the gospel of the kingdom of
God, 15 and
saying,…” what does He say?
“…‘The time is fulfilled…” is that similar to “when the fullness of time had come”? Yes! “…‘The time is fulfilled and the kingdom of God is at hand. Repent, and believe
in the gospel.’…”
Sekarang kalian berkata, “Dari mana kita tahu
ungkapan “kegenapan waktunya tiba” mengacu ke tanggal spesifik di
kalender Allah?” Semata-mata karena ada ungkapan yang mirip muncul di Markus
1:14-15. Setelah Yesus dibaptis dan menerima Roh Kudus, dan
pergi ke padang gurun dan dicobai Setan, Dia mengumumkan bahwa waktunya telah digenapi.
Suatu ungkapan yang sangat mirip dengan Galatia 4:4. Mari kita baca Markus
1:14-15, “14 Sesudah Yohanes dimasukkan penjara, datanglah Yesus ke Galilea
memberitakan Injil kerajaan Allah 15 dan berkata…” apa
kataNya? “…‘Waktunya telah digenapi;…”
apakah ini sama dengan “kegenapan waktunya tiba”?
Ya! “…‘Waktunya telah digenapi; dan Kerajaan
Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!’…”
Now what was Jesus
referring to when He said “the time is fulfilled”? Well, there's no doubt what time He was referring to. He was
referring to the moment when the 69th week of the prophecy of Daniel
9 came, when the 483 years had
passed, that led to the final week of the 70 weeks. Jesus is saying, “the time is fulfilled”. Did God have on His calendar a precise date for the
baptism of Jesus and the beginning of His ministry? He most certainly
did. So did God have a precise date for the birth of Jesus on His eternal
calendar? He did. But He did not reveal the date of His birth, and Ellen White
explains it's because people would idolize the date instead of idolizing the
Lord.
Nah,
Yesus bicara tentang apa ketika Dia berkata, “Waktunya telah digenapi”? Nah, tidak diragukan lagi waktu apa yang Dia
bicarakan. Dia mengacu kepada
saat ketika minggu ke 69 dari nubuatan Daniel pasal 9 tiba,
ketika 483 tahun telah lewat, yang membawa kepada minggu yang terakhir dari
ke-70 minggu yang dinubuatkan. Yesus berkata, “Waktunya telah digenapi”. Apakah ada di kalender Allah tanggal
spesifik untuk pembaptisan Yesus dan dimulainya ministriNya?
Tentu saja ada. Jadi apakah Allah
punya tanggal yang tepat untuk kelahiran Yesus di kalender
kekalNya? Ada. Tetapi Allah tidak memberitahukan tanggal kelahiranNya, dan
Ellen White menjelaskan itu karena manusia akan menyembah tanggalnya dan bukan
menyembah Tuhannya.
Now let's read this
interesting statement of Ellen White in Desire
of Ages 31 and 32, “The Saviour’s coming was foretold
in Eden. When Adam and Eve first heard the promise, they looked for its speedy fulfillment. They joyfully
welcomed their first-born son, hoping that he
might be the Deliverer…”
but he resulted being the first murderer of human history. “...But the fulfillment of the promise tarried…”
what's a synonym of “tarried”? “Delayed” now delayed for whom?
For God or for us? For us, not for God. She continues, “…Those who first
received it died without the sight. From the days of Enoch the promise
was repeated through patriarchs and prophets, keeping
alive the hope of His appearing, and yet He came not. The prophecy of Daniel
revealed the time of His advent, but not all rightly
interpreted the message. Century
after century passed
away; the voices of the prophets ceased.
The hand of the oppressor…” that is the Romans,
“…was heavy upon Israel, and
many were ready to exclaim,
“The days are prolonged, and every vision faileth.” (Ezekiel 12:22). Now comes the key portion of the statement, “But like the stars in the vast circuit
of their appointed path, God’s purposes know no haste
and no delay….” God's purposes know what? No haste and no delay. In other words, He
doesn't make His plans before He had originally planned, or He does not delay
them. For human beings the promise of Genesis 3:15 delayed, but not for God.
Every event of Christ's life on earth occurred at the precise moment that the Father
and the Son had determined in eternity past. However, while Jesus, this is
important, while Jesus was on earth He did not have knowledge of the full plan.
So in
Heaven when the plan was drawn up with the Father, Jesus saw the entire plan.
But on earth Jesus did not have access to the total plan.
Sekarang mari kita baca pernyataan menarik Ellen White ini di Desire of Ages hal. 31-32, “…Kedatangan Sang Juruselamat sudah dinubuatkan di Eden. Ketika Adam dan Hawa pertama mendengar janji itu, mereka menantikan penggenapan yang cepat. Mereka menyambut dengan penuh sukacita kelahiran anak pertama mereka, berharap bahwa dia adalah sang penyelamat…” tetapi dia malah menjadi pembunuh yang pertama dalam sejarah kemanusiaan. “…Tetapi penggenapan janji itu tertunda…” apa sinonimnya kata “tertunda”? “Lebih lambat”. Nah, tertunda bagi siapa? Bagi Allah atau bagi kita? Bagi kita, bukan bagi Allah. Ellen White melanjutkan, “…Mereka yang pertama menerima janji itu, mati tanpa pernah melihat penggenapannya. Dari zaman Henokh janji itu diulang-ulang melalui para patriak dan nabi-nabi, mempertahankan agar harapan kedatanganNya itu terus hidup, namun Dia tidak datang-datang. Nubuatan Daniel mengungkapkan waktu kedatanganNya tetapi tidak semua menafsirkan pekabaran itu dengan benar. Berabad-abad berlalu, suara para nabi lenyap. Tangan si penjajah…” yaitu bangsa Roma “…menekan berat di atas Israel dan banyak yang sudah siap berteriak, ‘hari-harinya diperpanjang dan setiap penglihatan tidak digenapi.’ (Yehezkiel 12:22)…” Sekarang ini porsi kunci dari pernyataan itu, “… Tetapi seperti bintang-bintang di jalur sirkuit yang luas yang ditentukan bagi mereka, tujuan Allah tidak mengenal ketergesaan maupun kelambatan.” Tujuan Allah tidak mengenal apa? Ketergesaan maupun keterlambatan. Dengan kata lain, Dia tidak membuat rencanaNya sebelum Dia sudah merencanakannya, atau Dia tidak menundanya. Bagi manusia janji Kejadian 3:15 tertunda, tetapi bukan bagi Allah. Setiap peristiwa dalam kehidupan Kristus di dunia terjadi tepat pada momen yang telah ditentukan Bapa dan Anak di masa kekekalan lampau. Namun, ini penting, selama Yesus hidup di bumi, Dia tidak memiliki pengetahuan tentang seluruh rencananya. Jadi ketika di Surga, saat rencana itu dibuat bersama Allah Bapa, Yesus melihat keseluruhan rencana itu. Tetapi di bumi, Yesus tidak punya akses ke keseluruhan rencana tersebut.
In The Ministry of Healing page 479 Ellen White
wrote that Jesus made no daily plans for Himself. Let's read that statement, a short
one, Ministry of Healing 479, “Christ in His life on earth made no plans for Himself. He accepted…”
whose plans? “…He accepted God's plans
for
Him, and…” how did He know what He was supposed
to do every day? It says, “…and day by day…”
not week by week, month by month, or year by year. But “…day by day the Father unfolded
His plans.”
So while He
was on earth Jesus only had knowledge of the plan for that day,
according to this statement. That's the reason why Jesus said in John 5:30, “ 30 I can of Myself do nothing. As I
hear, I judge; and My judgment is righteous, because I do not seek My own will but
the will of the Father who sent Me.”
Di The Ministry of Healing hal. 479 Ellen White menulis bahwa Yesus tidak membuat
rencana harian untuk DiriNya sendiri. Mari kita
baca pernyataan ini, singkat saja, Ministry
of Healing hal 479, “…Dalam hidupNya di dunia Kristus
tidak membuat rencana bagi DiriNya sendiri. Dia menerima…” rencana siapa? “…Dia menerima rencana
Allah bagiNya, dan…” bagaimana Dia tahu apa yang harus dilakukanNya setiap hari? Dikatakan di
sini, “…dan
dari hari ke hari…” bukan dari minggu ke minggu, bulan
ke bulan, tahun ke tahun, tetapi “…dari hari ke hari Bapa
mengungkapkan rencanaNya.”
Jadi selama Dia berada di bumi, Yesus hanya punya pengetahuan
tentang rencana untuk hari itu saja, menurut pernyataan ini.
Itulah alasannya mengapa Yesus berkata di Yohanes 5:30, “30 Aku tidak dapat
berbuat apa-apa dari DiriKu sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku
dengar, dan penghakimanKu adil sebab Aku tidak menurut kehendakKu sendiri,
melainkan kehendak Bapa yang mengutus Aku.”
Now this growth in
the knowledge of Jesus of God's plan is illustrated by His first visit to the
temple. Notice this statement from Desire of
Ages page 78. As Jesus visited the temple
when He was 12 years old, you know, and He observed the ceremonies of the
temple, He says, “This has something to
do with Me.” Let's read the statement.
“For the first time the child Jesus looked upon the temple.
He saw the white-robed priests performing their solemn ministry. He beheld the
bleeding victim upon the altar of sacrifice. With the worshipers He bowed in prayer, while the cloud of
incense ascended before God. He witnessed the impressive rites of
the paschal service. Day by day…” what does it say? Not week by week,
month by month, year by year. “…Day by day He saw their meaning more clearly…” did Jesus have access to the total plan when He was on earth?
No. “…Day by day He saw their meaning more clearly.
Every act seemed to
be bound up with His own life. New impulses
were awakening within Him.
Silent and absorbed, He seemed to be studying out a
great problem. The mystery of His mission was opening
to the Saviour. “Do you not know that I must be about my
Father’s business?”
Sekarang,
pertumbuhan dalam pengetahuan Yesus tentang rencana Allah itu digambarkan oleh
kunjunganNya yang pertama ke Bait Suci. Simak pernyataan ini dari Desire of Ages hal. 78. Ketika Yesus mengunjungi Bait Suci
ketika berusia 12 tahun, kalian tahu, dan Dia memperhatikan upacara-upacara
Bait Suci, Dia berkata, “Ini ada kaitannya dengan Aku.” Mari kita baca pernyataan ini, “…Untuk pertama kalinya anak Yesus memandang Bait Suci. Dia
melihat imam-imam berjubah putih melaksanakan pelayanan mereka yang khusuk. Dia
memandang korban yang berdarah di atas mezbah kurban. Bersama-sama dengan
mereka yang beribadah, Dia sujud sambil berdoa, sementara awan dupa naik di
hadapan Allah. Dia menyaksikan
ritual-ritual yang mempesona dari upacara passah. Dari hari ke hari…” apa katanya? Bukan minggu ke minggu, bulan ke bulan, tahun ke tahun. “…Dari hari ke hari
Dia melihat makna mereka dengan lebih jelas…” apakah Yesus punya akses ke
seluruh rencananya ketika Dia hidup di dunia? Tidak. “…Dari hari ke hari Dia melihat makna mereka dengan lebih
jelas. Setiap tindakan sepertinya terkait dengan hiidupNya Sendiri.
Firasat-firasat baru dalam DiriNya tergugah. Tanpa bersuara dan sepenuhnya menyimak, Dia sepertinya
sedang mempelajari dengan seksama suatu masalah
besar. Misteri dari misiNya terkuak kepada Sang Juruselamat. ‘Tidakkah kalian
tahu, bahwa Aku harus melakukan pekerjaan
Bapa-Ku?’… ”
Every event of
Christ's life was in God's purview long before He came to this earth. He
knew what was going to happen. In eternity past the Father and the Son foreknew
every detail of Christ's earthly life. God's
foreknowledge is revealed in the Hebrew festivals. Is the timing of
everything that Jesus did already revealed a thousand years before? Actually
1’400 years before, the days of Moses. The Father and the Son did not ~ now
listen carefully ~ the Father and the Son did not arbitrarily predetermine the
events, but rather based on Their foreknowledge of the flow of future historical events,
They planned accordingly. Do you understand the difference? God didn't
say, “These are the dates, no matter
what.” No! God who saw all of history knew exactly when He needed to
establish those dates, according to the flow of history.
Setiap
peristiwa dalam kehidupan Kristus berada dalam lingkup pengetahuan Allah jauh
sebelum Dia datang ke dunia ini. Allah tahu apa yang akan terjadi. Di masa kekekalan lampau Bapa
dan Anak sudah mengetahui sebelumnya setiap detail dari kehidupan duniawi Kristus.
Pengetahuan Allah sebelumnya dinyatakan dalam perayaan-perayaan Bait Suci
Yahudi. Apakah waktu dari segala yang akan dilakukan Yesus sudah
dinyatakan seribu tahun sebelumnya? Sesungguhnya malah 1’400 tahun sebelumnya
di zaman Musa. Bapa dan Anak tidak ~ sekarang dengarkan baik-baik ~ Bapa dan
Anak tidak sesuka hati Mereka menentukan sebelumnya peristiwa-peristiwa
tersebut, melainkan berdasarkan apa
yang sudah Mereka ketahui sebelumnya tentang aliran sejarah masa yang akan
datang, Mereka membuat rencananya. Apakah kalian paham bedanya? Allah tidak berkata,
“Inilah
tanggal-tanggalnya apa pun yang terjadi.”
Tidak! Allah yang melihat keseluruhan sejarah tahu dengan pasti kapan Dia harus
menentukan tanggal-tanggal peristiwa-peristiwa tersebut sesuai aliran sejarah.
Some wonder whether
God the
Father has a specific date on His calendar for the second coming of Jesus.
The answer is Yes! Do you think God knows the date of the second coming? Does
He hasten that date or delay that date? No, He doesn't. Let’s notice Mark 13:32.
Now I know that Ellen White says that we should hasten the second coming, but that's
from our perspective, not from His. “32 But of that day and hour no one knows, not
even the angels in heaven, nor the Son, but only the Father.” Does the Father have a date for the second coming? He most certainly
does. He doesn't
hasten it, and He doesn't delay it. From our perspective God has
delayed the second coming, however, from God's perspective there is no delay.
God has placed a specific time on His calendar for the second coming because He
knows when His people are going to be ready. Ellen White says that
Jesus could have come shortly after 1844, He could have come shortly after
1888. So did God have those 1844 in His calendar? He says, “Oops, they're not ready, let's change the date”? No! Did God know
when His people would be ready? Yes, and that's the date He put on His
calendar. For us there is a delay but for God
there is no delay. God has a precise date for the second coming of
Jesus.
Ada yang
bertanya-tanya apakah Allah
Bapa punya tanggal spesifik di kalenderNya untuk kedatangan kedua Yesus?
Jawabannya ialah Ya! Apakah menurut kalian Allah tahu kapan tanggal kedatangan
kedua itu? Apakah Allah mempercepatnya atau menunda tanggal tersebut? Tidak,
Dia tidak. Mari kita simak Markus 13:32. Nah, saya tahu Ellen White berkata kita harus mempercepat kedatangan
kedua, tetapi itu dari perspektif kita bukan dari perspektif Allah.
“32 Tetapi tentang hari dan jamnya itu tidak seorang pun yang tahu, bahkan malaikat-malaikat di sorga tidak, maupun Anak tidak, tetapi hanya Bapa.” Apakah Bapa punya tanggal yang spesifik untuk kedatangan kedua?
Tentu saja iya. Dia tidak
mempercepatnya, dan Dia
tidak menundanya. Dari perspektif kita Allah telah
menunda kedatangan kedua ini, namun, dari
perspektif Allah tidak ada penundaan. Allah telah menentukan
suatu waktu yang spesifik di kalenderNya untuk kedatangan kedua karena Dia tahu kapan umatNya
akan siap. Ellen White berkata bahwa Yesus seharusnya sudah bisa
datang tidak lama setelah 1844, Dia seharusnya sudah bisa datang tidak lama
setelah 1888. Jadi apakah ada di kalender Tuhan tahun 1844 itu, lalu Dia
berkata, “Oops, umatKu tidak siap, mari Kita
ganti tanggalnya”? Tidak! Apakah Allah
tahu kapan umatNya akan siap? Ya, dan itulah tanggal yang Dia masukkan
kalenderNya. Bagi kita ada
penundaan tetapi bagi Allah tidak ada penundaan. Allah punya
tanggal yang tepat bagi kedatangan kedua Yesus.
Now the question is
how did Jesus know every day what He was supposed to do? In five ways:
1. first of all, He had an intimate prayer connection with His Father.
And in that way His Father spoke to Him and revealed to
Him what He was supposed to do each day.
2. Second, He knew the prophecies of the Old Testament concerning
Himself backwards and forwards.
He was a student of Scripture, and that told Him exactly
when He needed to act, and what He needed to do.
3. Third, in the contemplation of the lessons of nature.
Have you noticed that many of the parables, most of the parables
deal with nature what Jesus taught?
4. in the fourth place the temple ritual, was a way of teaching
Jesus what He was supposed to do at any given time.
5.
and then a careful observation
of God's providential leading each day in His life.
We find an illustration of this in the
story of the man who was born blind. It seems like that man was born for that
specific moment, when he met Jesus. Notice what we find in John 9:2, “ 2 And
His disciples asked Him, saying, ‘Rabbi, who sinned, this man or his
parents, that he was born blind?’…” notice the answer of Jesus in verse 3, “…3 Jesus
answered, ‘Neither this man nor his parents sinned, but…” and I add it in
brackets, He was born ~ that's the context, right? ~ He
was born for what purpose? So
“…that the works of God should be revealed in him.’…” He was born for that particular moment. The encounter had already been planned according to God's foreknowledge
in eternity.
Sekarang,
pertanyaannya ialah bagaimana Yesus tahu setiap hari apa yang harus
dilakukanNya? Dengan lima cara:
1.
pertama,
Dia punya hubungan doa yang intim
dengan BapaNya.
Dan dengan cara itu BapaNya
bicara padaNya dan menyatakan kepadaNya apa yang harus Dia perbuat setiap hari.
2.
kedua,
Dia tahu dengan baik semua nubuatan
Perjanjian Lama tentang DiriNya sendiri.
Dia seorang pakar Kitab Suci, dan
itu memberitahu padaNya persisnya kapan Dia perlu bertindak dan apa yang harus
dilakukanNya.
3.
ketiga,
dengan merenungkan pelajaran-pelajaran
dari alam.
Sudahkah kalian perhatikan banyak
dari perumpamaan-perumpamaanNya, nyaris semua dari perumpamaan-perumpamaan yang
diajarkan Yesus berkaitan dengan alam?
4.
di tempat
keempat, ritual Bait Suci
adalah cara untuk mengajar Yesus apa yang harus dilakukanNya kapan pun
waktunya.
5.
kemudian
dengan memperhatikan secara seksama
bagaimana pemeliharaan Allah menuntun setiap hari dalam
hidupNya.
Kita temukan ilustrasi ini di
kisah orang yang dilahirkan buta. Sepertinya orang tersebut dilahirkan khusus
untuk waktu itu, ketika dia bertemu dengan Yesus. Simak apa yang ada di Yohanes
9:2, “2 Dan murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, ‘Rabi, siapakah yang berbuat
dosa, orang ini atau orangtuanya, sehingga ia dilahirkan buta?’…” simak
jawaban Yesus di ayat 3, “…3 Jawab Yesus,
‘Bukan orang ini yang berbuat dosa maupun
orangtuanya, melainkan…” dan
saya tambahkan dalam kurung di makalah, dia dilahirkan ~ itu konteksnya, bukan?
~ dia dilahirkan untuk tujuan apa? “…agar
pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.’…” dia dilahirkan khusus untuk saat itu.
Perjumpaannya dengan Yesus sudah ada dalam rencana sesuai yang telah diketahui
Allah sejak masa kekekalan.
Now here's something interesting. All throughout the ministry of
Jesus, Jesus many times said that “My time has not come”, “My hour has not come”. Let's pursue that in the
ministry of Christ.
First of all we find at the wedding of Cana the grape juice runs out or should we say, the
wine. Jesus made grape juice. So the wine runs out and the mother of Jesus
comes to Jesus says, “There's no wine.” Calamity, you can't
have a party without wine. And notice what Jesus said to her in John 2:4, “4 Jesus said to her, ‘Woman, what does your concern have to
do with Me? My hour has not yet come.’…” Hmm, interesting. What does that mean?
Nah, ini ada yang menarik.
Sepanjang ministri Yesus, seringkali Yesus berkata, “WaktuKu belum tiba”, “SaatKu belum
tiba”. Mari kita simak itu di ministri
Kristus.
Pertama, kita lihat di pesta pernikahan di Kana (Yohanes 2:1-10), di mana
sari anggurnya habis, atau lebih tepatnya harus kita katakan, anggurnya yang habis;
Yesus-lah yang membuat sari anggurnya. Jadi anggurnya habis dan ibu Yesus
datang kepada Yesus dan berkata, “Anggurnya habis.” Bencana besar, mana bisa di pesta tanpa anggur. Dan simak apa kata
Yesus kepada ibuNya di Yohanes 2:4, “4 Kata Yesus kepadanya, ‘Perempuan, kekhawatiranmu punya urusan apa denganKu? Saat-Ku belum tiba.’…” Hmmm, menarik. Apa artinya?
Well, let's notice the second example. John 7:6, 8 here the
unbelieving brothers of Jesus are trying to goad Him to go to Jerusalem to the Feast of
Tabernacles. And notice what Jesus says to His unbelieving brothers, who later
became converted, by the way. “6 Then Jesus said to them, ‘My time has not yet come, but
your time is always ready…. 8 You go up to this feast. I am
not…” now notice this,
“…I am not yet going up to this feast…”
because He did go to the feast, by the way, but it wasn't
the moment, it wasn't the time at that moment, because His brothers wanted Him
to reveal Himself openly according to Desire of
Ages, but if Jesus had done that, it
would have been given fire to His enemies to
oppose Him. So it wasn't the moment. So
“…I am not yet going up to this feast for My time has not yet fully
come.’…” It's not the time yet.
Now Jesus eventually went according to John 7:10, “10 But when His brothers had gone up, then He also went up to the
feast, not openly, but as it were in secret.”
Was there a purpose to everything in the way that Jesus did it?
Did He have communion with His Father and know what He was supposed to do, what
He wasn't supposed to do? Absolutely!
Nah, mari kita simak contoh kedua. Yohanes 7:6, 8,
di sini saudara-saudara Yesus mencoba mendorong Dia untuk pergi ke Yerusalem ke
Perayaan Tabernakel. Dan simak apa kata Yesus kepada saudara-saudaraNya yang
tidak percaya ~ yang baru kemudian jadi percaya.
“6 Maka kata Yesus
kepada mereka, ‘Waktu-Ku belum tiba, tetapi waktumu
selalu siap. 8 Pergilah kamu ke
pesta itu. Aku belum akan…” sekarang
simak ini, “…Aku belum akan
pergi ke perayaan ini…” karena
Dia toh pergi ke perayaan itu, tetapi saat itu belum saatnya, saat itu belum
waktunya, karena saudara-saudaraNya ingin Dia menyatakan DiriNya secara terbuka
menurut Desire of Ages, namun andai Yesus melakukan itu, itu
akan memberi api kepada musuh-musuh untuk menentangNya. Jadi ini bukan saatnya. Maka, “…Aku belum akan pergi ke perayaan ini karena waktu-Ku masih
belum genap.’…” Masih
belum waktunya. Nah Yesus akhirnya pergi juga menurut Yohanes 7:10, “…10 Tetapi sesudah saudara-saudara Yesus berangkat ke
pesta itu, Ia pun pergi juga ke perayaan itu,
tidak terang-terangan tetapi secara diam-diam.”
Apakah ada tujuannya untuk segala sesuatu yang
dilakukan Yesus? Apakah Dia berkomunikasi dengan BapaNya dan tahu apa yang
harus dilakukanNya, dan apa yang Dia tidak boleh lakukan? Tentu saja!
Now Jesus once said that His Father had sent Him to the world. That went over like a lead balloon with those
who were listening. Notice John 7:30, by the way, did they try to arrest Jesus
several times during His ministry? Could
they put one finger on Him? No! Notice why. John 7:30, “30 Therefore they sought to
take Him; but no one laid a hand on Him, because His hour had not yet
come.”
Nah, Yesus pernah berkata bahwa BapaNya
telah mengutusNya ke dunia ini. Itu langsung membuat sewot
mereka yang mendengarnya. Simak Yohanes
7:30, apakah mereka berusaha menangkap Yesus beberapa kali selama ministriNya?
Bisakah mereka meletakkan satu jari pun padaNya? Tidak! Simak mengapa. Yohanes
7:30, “30 Oleh karena
itu mereka berusaha menangkap Dia, tetapi tidak ada
seorang pun yang menyentuhNya sebab saat-Nya
belum tiba.”
Remember, the word “hour”, we're coming to that in a few moments.
Ingat kata “jam”, kita akan segera membahas itu
sebentar lagi.
Notice also that the religious leaders sent spies to arrest
Jesus, and notice what we find in John 7:45 and 46. They weren't able to arrest
Him. It says there, “45 Then the officers came to the
chief priests and Pharisees…” they had been sent
by them “…who said to them, ‘Why
have you not brought Him?’ 46 The
officers answered, ‘No man ever spoke like this Man!’…” They could not arrest Him
during His ministry.
Simak juga para pemimpin rohani
mengirimkan mata-mata untuk menangkap Yesus, dan simak apa yang kita lihat di
Yohanes 7:45-46, mereka tidak bisa menangkapNya. Dikatakan di sana, “45 Lalu petugas-petugas itu datang kepada imam-imam kepala dan orang-orang Farisi,…” mereka itu diutus oleh orang-orang ini, “…yang berkata kepada mereka, ‘Mengapa kamu belum membawa-Nya?’ 46 Petugas-petugas
itu menjawab, ‘Tidak ada manusia yang pernah bicara
seperti Orang ini!’…” Mereka
tidak bisa menangkapNya selama ministriNya.
And then Jesus said to a group of Jews, “You don't know My Father and you don't know Me.” Once again they
tried to arrest Him, John 8:20, and they couldn't. Notice why not. “20 These words Jesus spoke in the treasury, as He taught in
the temple; and no one laid hands on Him, for His hour had not yet
come.”
So all during His ministry Jesus saying, “the hour hasn't come, the hour hasn't come” nobody can put a finger
on Me.”
Lalu Yesus berkata kepada sekelompok
orang Yahudi, “Kalian tidak kenal BapaKu dan kalian tidak mengenal
Aku.” (Yohanes 8:19). Sekali lagi mereka berusaha menangkapNya, Yohanes 8:20, tapi mereka
tidak bisa. Simak mengapa tidak bisa. “20 Kata-kata itu diucapkan Yesus di tempat perbendaharaan, waktu Ia mengajar di Bait Allah. Dan tidak
seorang pun yang mencekalNya, karena
saat-Nya belum tiba…” Jadi sepanjang ministriNya Yesus
berkata, “saat-Nya belum tiba”, “saat-Nya belum tiba” tidak ada seorang pun bisa menyentuh
Aku.”
Now let's go to the story of the resurrection of Lazarus, where
this becomes clearer. John 11:5 and 6, it says,
“5 Now Jesus loved Martha and her sister and Lazarus…” and Jesus has heard that Lazarus is gravely ill on his deathbed “…6 So, when He heard that he
was sick, He stayed two more days in the place where He was.” Some love, right? So here's that Lazarus on his deathbed, oh,
let's hang out a couple of days before we go. Why did Jesus not show His love for
Mary, Martha, and Lazarus by going immediately to the home of Lazarus to heal
him? Because Ellen White explained that it was because if Jesus had gone, He
would have healed him, and this was not His Father's plan. If He had
healed Lazarus it would have been just like any other of His miracles. However,
the
resurrection of Lazarus was to reveal without any doubt that He was the
Messiah, the Son of God. You see, Jesus had resurrected two persons
before this, but He resurrected them right after they had died. So the
religious leader said, “Oh, they weren't really dead.” But with Lazarus you
couldn’t say he wasn't really dead. He had died four days before and his own
sister says, “Lord, let's not remove the
stone, he stinks.” And so it was vital that Jesus not go because He would
have healed Lazarus contrary to the Father's plan.
Sekarang mari kita ke kisah kebangkitan Lazarus, di
mana ini menjadi lebih jelas. Yohanes 11:5-6 mengatakan, “5 Nah,Yesus memang
mengasihi Marta dan saudara perempuannya dan
Lazarus…” dan
Yesus telah mendengar bahwa Lazarus sakit keras sedang sekarat. “…6 Maka, ketika Ia
mendengar bahwa Lazarus sakit, Ia tinggal dua hari lagi di tempat, di mana
Ia berada…” kasih
yang aneh, benar? Jadi si Lazarus sedang sekarat, oh, mari kita tinggal dua
hari lagi di sini sebelum kita ke sana. Mengapa Yesus tidak menunjukkan kasihNya untuk
Maria, Marta dan Lazarus dengan segera
pergi ke rumah Lazarus untuk menyembuhkannya? Ellen White
menjelaskan bahwa itu karena
andai Yesus ke sana, sudah pasti Dia menyembuhkan Lazarus, dan ini tidak sesuai dengan rencana
Bapa. Andai Yesus telah menyembuhkan Lazarus maka itu akan sama
seperti mujizat-mujizatNya yang lain. Namun, membangkitkan Lazarus itu untuk menyatakan tanpa keraguan
bahwa Dialah Sang Messias, Anak Allah. Kalian lihat, Yesus telah
membangkitkan dua orang sebelum ini, tetapi Dia membangkitkan mereka segera
setelah mereka mati. Maka para pemimpin rohani berkata, “Ah, mereka tidak benar-benar mati.” Tetapi dengan Lazarus orang tidak bisa
mengatakan dia tidak benar-benar mati. Dia sudah mati empat hari sebelumnya dan
saudara perempuannya sendiri berkata, “Tuhan, janganglah membuka batunya,
dia sudah bau.” (Yohanes 11:39). Maka
sangatlah vital Yesus tidak ke sana dulu karena Dia pasti menyembuhkan Lazarus,
bertentangan dengan rencana Bapa.
Notice Desire of Ages page 528,
“Had He restored him from illness
to health, the miracle that is
the most positive evidence
of His divine character, would not have been performed.
Had Christ been in the sickroom, Lazarus would not have died; for Satan would have had no power over him. Death could not have
aimed his dart at Lazarus
in the presence of the Life-giver. Therefore
Christ remained away…” it was not God's plan that He heal
Lazarus. Did Jesus know it? Yes, He knew it. How did He know it? Because He had
the eternal knowledge from the whole plan in Heaven? No! Because His Father
told Him not the time to go.
Ellen White states that Jesus would go through entire towns and
when He came out on the other side, there was not one sick person left. Desire Ages page 241 says, “About them were whole villages
where there was not a
moan of sickness in any house; for He had passed through
them, and healed all their sick.” So if Jesus had gone, He would have healed Lazarus, and the
greatest evidence that He was the Messiah would not have been given.
Simak Desire of Ages hal. 528, “…Sekiranya Dia
(Yesus) memulihkan dia (Lazarus) dari sakit menjadi sehat, maka mujizat yang
merupakan bukti paling meyakinkan tentang karakter keilahianNya, tidak akan
terjadi. Sekiranya Kristus ada di kamar di mana Lazarus terbaring sakit,
Lazarus tidak akan mati karena Setan tidak akan punya kuasa atasnya. Kematian
tidak bisa mengarahkan pisau terbangnya pada Lazarus di hadapan
Sang Pemberi Hidup. Itulah mengapa Kristus harus tidak boleh ada di sana…” Bukan rencana Allah Yesus menyembuhkan Lazarus. Apakah Yesus tahu itu?
Dia tahu itu. Dari mana Dia tahu? Karena Dia memiliki pengetahuan yang kekal
dari seluruh rencana yang dibuat di Surga? Tidak! Karena BapaNya memberitahuNya bahwa belum waktunya untuk
pergi.
Ellen White menyatakan bahwa Yesus
bilamana melewati kota-kota kecil, pada waktu Dia meninggalkannya maka tidak ada satu pun orang di sana
yang sakit lagi. Desire of Ages
hal. 241 mengatakan, “…Di
sekeliling mereka di seluruh desa-desa itu tidak ada lagi erangan orang sakit
di dalamnya karena Dia telah melewati desa-desa itu dan menyembuhkan semua
orang sakit mereka…” Jadi andaikan Yesus langsung pergi
ke Lazarus, tentunya Dia bakal menyembuhkan Lazarus sehingga bukti terbesar
bahwa Dialah Sang Messias tidak akan terjadi.
Now notice John 11:7 and 8, Jesus after a couple of days of
hanging out where they were, Jesus says, “Let's
go back to Judea again.” He says to His disciples. Oh, this really shook them
up. Notice John 11:7-8, “ 7 Then after this He said
to the disciples, ‘Let
us go to Judea again.’ 8 The disciples said to Him,
‘Rabbi, lately the Jews sought to stone You, and are You going there
again?’…” If you read in chapter 8 Jesus had said, “before Abraham was I am” and they picked up stones to stone Him. And in
in the previous chapter, in chapter 10, Jesus had said “I and the Father are one” and once again
they picked up stones to stone Him in Judea. So the disciples are saying, “We're going back to Judea? Come on! They're
going to kill You.” The way that Jesus responded is strange, the way He
responded to His disciples’ objection, John 11:9, the first part of the verse
says, “9 Jesus answered, ‘Are there not twelve hours in the day?…” Now what does that have to do with what the disciples had said, “don't go to Judea”? Well this was a
very strange expression.
Sekarang mari simak Yohanes 1:7-8, setelah beberapa
hari berada di tempat mereka, Yesus berkata, “Ayo kita ke Yudea lagi.” Dia berkata demikian kepada murid-muridNya.
Oh, itu betul-betul mengejutkan mereka. Simak Yohanes 11:7-8, “7 Lalu sesudah itu Ia
berkata kepada murid-murid-Nya, ‘Mari kita ke Yudea lagi.’ 8
Murid-murid itu berkata kepada-Nya, ‘Rabi, terakhir
ini orang-orang Yahudi mencoba melempari Engkau, dan Engkau masih mau ke sana lagi?’…” Jika kalian baca di pasal 8, Yesus
pernah berkata “…sebelum Abraham ada, Aku selalu ada.’ (Yohanes 8:58) dan orang-orang memungut batu untuk melontariNya.
Dan di pasal sebelumnya, pasal 10 Yesus berkata, “Aku dan Bapa adalah satu.’ (Yohanes 10:30) dan sekali lagi mereka memungut batu untuk
melempariNya di Yudea. Maka para murid berkata, “Kita mau kembali ke Yudea? Yang
bener aja! Mereka akan membunuhMu.” Yesus
merespon dengan cara yang aneh, caranya merespon keberatan para muridNya.
Yohanes 11:9, bagian pertama ayat itu berkata, “9 Jawab Yesus,
‘Bukankah ada dua belas jam dalam satu hari?…”
Nah, apa kaitannya itu dengan apa yang dikatakan para murid,
“Jangan ke Yudea”? Nah, ini adalah ungkapan yang sangat aneh.
Let me explain what Jesus meant. Jesus compared the parameters of His
ministry from the beginning of His ministry at His baptism till the
moment of His death on the cross, He compared it to a 12-hour day. It's
a
symbolic day, that lasts three and a half years. Hour number one, would
be His baptism. Hour number 12 would be when Jesus said on the cross “It is finished”, that is His 12-hour day.
And then Jesus says something. He continues saying, ‘Are there not twelve hours in the day?’ And then in verse 9, the second part of the verse, Jesus says, “… If anyone
walks…” do you know what “walk” symbolically means in the Bible?
“Walking” in the Bible has to do with behavior or conduct. We ought to walk as
He walked, mean we ought to behave as He behaves. And so Jesus is saying, “…If anyone walks…” or if anyone is in harmony with God's plan, “…in the day…” was Jesus walking
in the day, according to His Father's plan? Yes.
“…If anyone walks in the day he does not stumble, because he sees
the light of this world. 10 But if one walks in the night…” that would be contrary to God's plan, right? “… if one walks in
the night he stumbles, because the light is not in him.’…”
Mari saya jelaskan apa yang dimaksud Yesus. Yesus membandingkan parameter
ministriNya dari permulaan ministriNya saat Dia dibaptis, hingga saat kematianNya di salib,
itu Dia bandingkan dengan 12 jam siang
hari. Itu adalah satu
hari simbolis yang berdurasi tiga setengah tahun. Jam yang
pertama adalah saat baptisanNya. Jam ke-12 adalah ketika di salib Yesus
berkata, “Sudah selesai”. Inilah 12 jam siang hariNya.
Lalu Yesus mengatakan sesuatu. Dia berkata
selanjutnya, “…9 ‘Bukankah ada dua belas jam dalam satu hari?…” Lalu
di bagian kedua ayat 9, Yesus berkata, “…Jika orang berjalan…” tahukah
kalian “berjalan” secara simbolis itu apa di Alkitab? “Berjalan” di Alkitab
berkaitan dengan perilaku atau sikap. Kita harus berjalan sebagaimana Yesus
berjalan, berarti kita harus berperilaku sebagaimana Yesus berperilaku. Jadi Yesus berkata, “…Jika orang berjalan…” atau jika orang itu hidup selaras
dengan rencana Allah, “…di siang hari,…” apakah
Yesus berjalan di siang hari sesuai dengan rencana BapaNya? Ya. “…Jika orang berjalan di siang hari, dia tidak tersandung, karena ia melihat terang dunia ini. 10 Tetapi jikalau
orang berjalan di malam hari…” artinya ini bertentangan dengan rencana
Allah, benar? “…jikalau
orang berjalan di malam hari, dia tersandung, karena terang tidak ada di dalam dirinya.’…”
Ellen White went on to explain what Jesus meant when He said, “Doesn't the day have 12 hours?” and what He meant
by walking in the light and walking in the darkness. Desire of Ages page 526 Jesus here is speaking, “I am under the guidance of My Father;…” that's walking in the light, right? “…as long as I do His will, My life is safe.
My twelve hours of day are not yet ended…”
are you following this? So what did Jesus mean when He said, “the hour has not yet come”? It's the end of
the last hour, folks. So notice, “…My life is
safe. My twelve hours of day are not yet ended. I
have entered upon the…”
what? “…the
last remnant of My day;…” because the resurrection of Lazarus took place six months before
Jesus died on the cross, so this is the last remnant of His 12-hour day “...but while any of
this remains…” any of My 12-hour
day remains “…I am…” what? “…safe….” Now we know why He couldn't be
arrested. “…He who walks in a path of his own choosing
where God has not called him, will stumble, for him day is turned into night
and wherever he may be, he is not secure.”
Ellen White menjelaskan apa yang dimaksud Yesus
ketika Dia berkata, “…9 ‘Bukankah ada dua belas jam
dalam satu hari?…” dan apa yang dimaksudNya dengan
berjalan dalam terang dan berjalan dalam kegelapan. Desire of
Ages hal. 526,
di sini Yesus sedang bicara,
“…Aku ada di bawah tuntunan BapaKu…” ini berarti berjalan dalam terang, benar? “…selama Aku
melakukan kehendakNya, hidupKu aman. Dua belas jam hariKu belum berakhir…” apakah kalian mengikuti ini? Jadi apa maksud Yesus ketika Dia berkata “Waktunya belum tiba”? Itulah akhir dari jam yang terakhir, Saudara-saudara. Jadi simak, “…HidupKu aman. Dua
belas jam hariKu belum berakhir. Aku telah memasuki…” apa? “…sisa
terakhir hariKu…” karena kebangkitan Lazarus terjadi
hanya enam bulan sebelum kematian Yesus di salib, maka ini adalah bagian
terakhir yang tersisa dari 12 jam hariNya. “…tetapi selama
masih ada yang tersisa…” dari 12 jam hariKu, “…Aku…” apa? “…aman…” Sekarang kita tahu mengapa Yesus tidak bisa ditangkap. “…Dia yang berjalan di jalan pilihannya sendiri di mana Allah tidak memanggilnya, akan
tersandung, baginya siang berubah menjadi malam, dan di mana pun dia berada,
dia tidak aman.”
She continues in Desire of Ages
527 and 528 and she's speaking about Thomas. “He [Thomas] knew
the hatred
of the Jews toward Christ.
It
was their purpose
to compass His death, but this purpose had not succeeded, because some
of His allotted time…”
what is the allotted time? 12 hours “…some of His allotted time still remained. During this time Jesus had the guardianship of heavenly
angels; and even in the regions of Judea, where the rabbis were plotting how they might take Him and put Him to death,
no harm
could come to Him.” That's what happens when we walk,
when we behave in harmony with God's plan. The disciples did not have the
foggiest idea what Jesus was saying, because in John 11:16 Thomas says, “Oh, let us also go that we may die
with Him.” They would come to
understand, but during His ministry they lacked understanding.
Ellen
White melanjutkan di Desire of Ages hal. 527-528, dan dia berbicara tentang Tomas. “…Dia [Tomas] tahu kebencian orang-orang Yahudi terhadap
Kristus. Tujuan mereka ialah untuk merancang kematianNya, tetapi tujuan ini
tidak berhasil karena waktu yang diberikan kepadaNya…” apa waktu yang diberikan kepadaNya? 12 jam (simbolis), “…waktu yang diberikan kepadaNya masih tersisa. Selama waktu
itu, Yesus mendapatkan penjagaan para malaikat surgawi, dan bahkan di
daerah-daerah Yudea di mana para rabi sedang bersekongkol bagaimana mereka bisa
menangkapNya dan membunuhNya, tidak ada celaka bisa datang padaNya…” Itulah yang terjadi bila kita berjalan, bila kita berperilaku selaras
dengan rencana Allah. Para murid sama sekali tidak paham apa yang dikatakan
Yesus, karena di Yohanes 1:16 Tomas berkata, “…Ah, biarlah kita juga
pergi supaya kita boleh mati bersamaNya…” Mereka nanti akan mengerti, namun
selama ministriNya, mereka tidak punya pengertian itu.
Now this 12-hour day idea is further amplified when Jesus healed
the man born blind. This is the next section on page 10. In John 9:3 and 4
Jesus said this, “4 I must work the works of Him who
sent Me…” in other words, “I must work the Father's work”, “…while…” what? What did Jesus mean
“…while it is day…” Well, “while My 12-hour
day is transpiring”, right? Are you with me or not? So He's saying “…4 I must work the works of Him…” of the Father “…who sent Me while it
is day; the night
is coming…” by the way when Jesus spoke about
12-hour day He's speaking about the light portion of the 12 hours. When He dies
on the cross,, the darkness begins, okay? Because He's under the power of
darkness. We'll see that in a moment. So He says,
“…4 I must work the works of Him who
sent Me while it is day; the night
is coming when no one can work…” because His work
will have been what? Will have been finished.
Nah, konsep 12 jam hari ini lebih dijelaskan Yesus
ketika Dia menyembuhkan orang yang lahir buta. Ini adalah bagian berikutnya di
hal.10 makalah. Di Yohanes 9:3-4 Yesus mengatakan ini, “4 Aku harus
mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku,…”
dengan kata lain “Aku
harus mengerjakan pekerjaan Bapa”, “…selama…” apa?
Apa yang dimaksud Yesus dengan “…selama masih siang;…” nah,
artinya selama masa 12 jam hariKu masih berlangsung, benar? Apakah kalian bisa
mengikuti saya atau tidak? Jadi Dia berkata, “…4 Aku harus mengerjakan pekerjaan Dia…” pekerjaan Bapa, “…yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam,…” nah, ketika Yesus bicara tentang hari
yang 12 jam Dia bicara tentang bagian yang terang (bagian siang) dari 12 jam tersebut. Ketika Dia mati
di salib, kegelapan dimulai, oke? Karena Dia berada di bawah kuasa kegelapan.
Nanti kita akan melihat ini. Jadi Dia berkata, “…4 Aku harus mengerjakan pekerjaan Dia yang
mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, saat tidak ada orang yang dapat bekerja…” karena pekerjaanNya waktu itu sudah
apa? Sudah selesai.
And when was the work of Jesus, when did His 12-hour day come to
an end? When is it that He had done the work of His Father? When on the cross
He said, “It is finished.” He had made full provision for
salvation. Jesus performed the works of salvation of the Father while His
12-hour day lasted, but when He cried out to His Father on the cross “It is finished”, His 12-hour symbolic day came to an
end, because He had finished His Father's work. The time for the powers of
darkness had arrived.
Dan ketika pekerjaan Yesus selesai, kapan hariNya
yang 12 jam itu berakhir? Kapan saat Dia telah menyelesaikan pekerjaan BapaNya?
Ketika di salib Dia berkata, “Sudah selesai”. Dia
telah membuat persediaan penuh bagi keselamatan. Yesus telah melakukan
pekerjaan penyelamatan BapaNya selama harinya yang 12 jam itu berlangsung,
tetapi ketika Dia berseru kepada BapaNya di salib, “Sudah selesai”, maka hari simbolisnya yang 12 jam itu berakhir,
karena Dia telah menyelesaikan pekerjaan BapaNya. Saatnya bagi kuasa kegelapan
telah tiba.
John 4:34 is related to this. Jesus said, “34 Jesus said to them, ‘My food is to do the will of Him
who sent Me, and to…” what?
“…to finish His work.” How long did Jesus
have to finish His Father's work? 12 hours of His symbolic day. Is this making
sense?
Yohanes 4:34 terkait ini. Yesus berkata,
“34 Kata Yesus kepada mereka,
‘Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan…” apa? “…menyelesaikan pekerjaan-Nya…”
Berapa lama waktu yang dimiliki
Yesus untuk menyelesaikan pekerjaan Bapa? 12 jam
dari hari simbolisnya. Apakah ini bisa dimengerti?
Now notice this remarkable statement from Ellen White, because
some people might be saying, “Pastor Bohr, are you saying that every detail of
Christ's ministry was already planned in eternity past, because God already
knew what was going to happen?”
Notice this statement, this is an amazing statement, Desire of Ages page 147 she's going to explain
what Jesus meant when He said “My hour has not yet come”. “The words, ‘Mine hour is not yet come,’
point to the fact that
every act…” how many? “…every act of Christ's
life on earth was in fulfillment of the plan that had existed from the days of eternity. Before He came to earth…”
Now notice, when He was in Heaven “…Before He came to earth the plan lay out before Him, perfect in all its
details….” So in Heaven did
Jesus have access to the total plan? He did. Now notice, “…But as He walked among men, He was guided…” how? “…step by step, by the Father's will. He did not hesitate to act…” when? “…at the
appointed time. With the same
submission He waited until the
time had come.”
Sekarang simak pernyataan mengagumkan ini dari
Ellen White, karena mungkin ada orang yang bertanya, “Pastor Bohr, jadi Anda
mengatakan setiap detail dalam ministri Kristus sudah direncanakan di masa
kekekalan lampau karena Allah sudah tahu apa yang akan terjadi?”
Simak
pernyataan ini, ini adalah pernyataan yang mengagumkan, Desire of Ages hal. 147, Ellen White akan menjelaskan apa yang dimaksud
Yesus ketika Dia mengatakan “SaatKu belum tiba.” “…Perkataan ‘SaatKu belum tiba’ menunjuk kepada fakta bahwa setiap tindakan…” berapa tindakan? “…setiap tindakan dalam
hidup Kristus di bumi itu merupakan penggenapan dari rencana yang sudah ada
sejak masa kekekalan. Sebelum Dia datang ke bumi…”
sekarang simak, ketika Dia masih ada di Surga. “…Sebelum Dia datang ke bumi, rencananya
sudah terbuka di hadapanNya, sempurna dalam semua detailnya…” Jadi apakah di Surga Yesus punya
akses kepada seluruh rencana? Ya, benar. Sekarang simak, “…Tetapi
sementara Dia berjalan di tengah-tengah manusia, Dia dituntun…” bagaimana? “…selangkah
demi selangkah, oleh kehendak Allah Bapa. Dia tidak ragu-ragu untuk bertindak…” kapan? “…pada saat yang telah ditentukan. Dengan
kepatuhan yang sama Dia menunggu hingga saat itu tiba…”
The entire plan in detail, God in His foreknowledge already had
on His calendar in Heaven. He did not determine it that way. We're
not talking about determinism. He did it according to when He knew that the
flow of history, it would be ideal to do that. Are
you with me? In our next lesson we're going to see that God in His foreknowledge already knows
from eternity past who's going to be saved and who's going to be lost and His
predestines those who He knew were going to choose Him, but He does not
determine it.
Allah yang sudah mengetahui
segalanya dari awal, sudah punya seluruh rencanaNya dalam detail di kalenderNya
di Surga. Bukan Allah yang menentukan
akan terjadi begitu. Kita tidak bicara tentang tindakan menentukan. Allah membuat
rencana yang ideal dari awal sesuai dengan apa yang Dia ketahui akan terjadi
dalam aliran sejarah. Apakah kalian paham?
Di pelajaran kita berikutnya kita akan melihat
bagaimana Allah dengan kemahatahuanNya
sejak awal, sudah tahu sejak masa kekekalan lampau, siapa-siapa yang akan
selamat dan siapa-siapa yang akan tidak selamat, dan Allah membuat rencana bagi
mereka yang sudah diketahuiNya akan memilih DiriNya, namun bukan
Allah yang menentukan siapa yang selamat.
Now at the end of His ministry, during the last week, Jesus
changed His tune, He no longer said, “My hour has not yet come”, He says, “the hour has come.” Let's notice that. John 12:23 and 27. Some Greeks come and they
want an interview with Jesus, and Jesus is going to say something very
interesting. Notice John 12:23 and 27, “23 But Jesus answered them, saying, ‘The hour…” what? “…has come that the Son of Man should be
glorified….” and then verse 27, “…27 ‘Now My soul is troubled, and what shall I say? ‘Father, save Me
from this hour’?...” did Jesus know that He was at the
point of going to Gethsemane and the cross? Of course He did. So “…what shall I say? ‘Father,
save Me from this hour’? But for this purpose I came to this hour…” This is hour number 12, it's towards the end of hour number 12.
Nah, di bagian akhir ministriNya, di minggunya yang
terakhir, Yesus mengubah nada
bicaraNya, Dia tidak lagi berkata “WaktuKu belum tiba”, Dia berkata “Saatnya telah tiba”. Mari
kita simak itu. Yohanes 12:23, 27. Beberapa orang Greeka datang dan mereka mau
mewawancarai Yesus, dan Yesus akan mengatakan
sesuatu yang sangat menarik. Simak Yohanes 12:23, 27, “23 Tetapi Yesus menjawab mereka, kata-Nya, ‘Saatnya…” apa? “…telah tiba bagi Anak Manusia untuk dimuliakan…” lalu
ayat 27, “…27
Sekarang jiwa-Ku galau dan apakah yang akan
Kukatakan? ‘Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini’?…” apakah Yesus tahu Dia ada di titik harus ke Getsemani dan salib? Tentu saja.
Jadi “…apakah
yang akan Kukatakan? ‘Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini’? Justru untuk tujuan
inilah Aku tiba pada saat ini.’…” Ini adalah jam ke12, menjelang akhir
dari jam ke-12.
Now another example is when Jesus said to His disciples that ~
this is right before the Passover ~ that
He was going to leave the world and He was going to return to His Father. Notice
John 13:1, “1 Now before the Feast of the
Passover, when Jesus knew…” what did He know? “…that His hour had come…” no longer is He saying the hour hasn't come, He knew
“…that His hour had come, that He should depart from this world to
the Father, having loved His own who were in the world, He loved them to
the end.”
Nah, contoh lain ialah ketika Yesus berkata kepada
murid-muridNya bahwa ~ ini tepat sebelum hari raya Passah ~ bahwa Dia akan
meninggalkan dunia dan Dia akan kembali ke BapaNya. Simak Yohanes 13:1, “1 Sekarang sebelum hari raya Passah, ketika Yesus
sudah tahu…”
apa yang sudah diketahuiNya? “…bahwa saat-Nya sudah tiba…” Dia tidak lagi berkata saatnya belum
tiba, Dia sudah tahu “…bahwa saatNya sudah tiba, bahwa Dia
harus meninggalkan dunia ini untuk pergi kepada Bapa, setelah mengasihi milikNya sendiri
yang ada di dunia ini, Ia mengasihi
mereka sampai akhirnya.”
And then on the way to Gethsemane Jesus raise that wonderful
prayer of John 17 and notice John 17:1, what Jesus says to His Father, “1 Jesus spoke these words, lifted
up His eyes to heaven, and said: ‘Father, the hour has come. Glorify Your
Son, that Your Son also may glorify You…”
And just before His arrest in Gethsemane in Matthew 26:45 and
46, we find these words, “45 Then He came to His disciples
and said to them, ‘Are you still sleeping and resting? Behold…” what? “…the hour is at hand, and the Son of Man
is being betrayed into the hands of sinners. 46 Rise, let us be going. See, My
betrayer is at hand.”
Could they now arrest Jesus? Could they mistreat Jesus? Why? Because His hour had
come.
Kemudian dalam perjalanan ke Getsemani, Yesus
menaikkan doa yang indah itu yang di Yohanes 17. Simak Yohanes 17:1, apa kata
Yesus kepada BapaNya, “1 Yesus mengucapkan kata-kata ini, sambil menengadah ke langit dan berkata, ‘Bapa, saatnya telah tiba.
Muliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu juga boleh memuliakan Engkau.”
Dan tepat sebelum penangkapanNya di Getsemani di
Matius 26:45-46, kita melihat kata-kata ini, “45 Lalu datanglah Ia
kepada murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka, ‘Apakah kalian masih tidur dan beristirahat? Lihat,…” apa? “…saatnya sudah tiba, dan Anak Manusia sedang dikhianati ke
tangan orang-orang berdosa. 46 Bangunlah, marilah kita pergi. Lihat, pengkhianatKu sudah dekat.’…” Bisakah mereka sekarang menangkap
Yesus? Bisakah mereka menyiksa Yesus? Mengapa? Karena saatNya telah tiba.
Now several times as we mentioned, they tried to arrest Jesus, they couldn't, because His hour
number 12 had not arrived yet. But when Jesus said “It is finished” on the cross, we find that His 12-hour day comes to an end.
Notice Luke 22:52 and 53 it's very interesting, when the chief
priests bring the temple guard to arrest Jesus, we find these words. “52 Then Jesus said to the chief
priests, captains of the temple, and the elders who had come to Him, ‘Have you come out, as against a robber, with swords and clubs? 53 When I was with you daily in the temple, you did not try to seize
Me. But…” then what did He say? “…But this is your hour, and the power of
darkness.”
His day of light would come to an end when He said “It is finished” and now came the hour of the powers
of darkness. Are you with me or not?
Nah, beberapa kali seperti yang sudah disebutkan,
mereka berusaha menangkap Yesus, tapi tidak bisa, karena jamnya yang ke-12
belum tiba. Tetapi ketika Yesus berkata, “Sudah selesai” di
salib, kita dapati bahwa harinya yang 12 jam telah berakhir.
Simak Lukas 22:52-53 ini sangat menarik, ketika
imam-imam kepala membawa
kepala-kepala pengawal Bait
Suci untuk menangkap Yesus, kita temukan kata-kata ini, “52 Lalu Yesus berkata
kepada imam-imam kepala, dan kepala-kepala pengawal Bait Allah, serta tua-tua
yang datang kepadaNya, ‘Kalian datang seperti kepada
seorang penyamun, dengan pedang dan pentung? 53
Ketika Aku bersamamu
setiap hari di Bait Allah, kamu tidak berusaha
menangkap Aku. Tetapi.…” kemudian
apa kataNya? “…Tetapi
inilah saat kamu, dan kuasa kegelapan itu.’…”
Hari
siangNya akan berakhir ketika Dia berkata “Sudah selesai” dan sekarang waktunya jam kuasa kegelapan. Apakah kalian mengikuti saya atau
tidak?
Now when Jesus hung on the cross He must have been encouraged as
He saw the details of the Father's plan being fulfilled right before His eyes,
according to what was written in the Scriptures thousands of years before. Every
event of Jesus on the cross had been foreseen thousands of years before. Let's
notice this. This will be our last point during this session.
Nah, ketika Yesus tergantung di salib,
tentunya hatiNya dibesarkan ketika Dia melihat detail-detail rencana BapaNya
sedang digenapi tepat di depan mataNya, menurut apa yang tertulis di Kitab Suci
ribuan tahun sebelumnya. Setiap peristiwa Yesus di salib sudah diketahui ribuan
tahun sebelumnya. Mari kita simak ini. Ini akan menjadi poin terakhir kita di
sesi ini.
Psalm 22:1 which is quoted in Matthew 27 in verse 46, “My God, My God, why have
You forsaken Me?” does that kind of ring a bell? Those
are the exact words of Jesus on the cross, but it was written a thousand years
before it happened. “1 My God, My God, why have You
forsaken Me? Why are You so far
from helping Me, and from the
words of My groaning?...”
Mazmur 22:1 yang dikutip di Matius 27:46, “1 Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan
Aku?…” apakah ini mengingatkan kita tentang
sesuatu? Ini adalah kata-kata Yesus yang sama di
atas salib, tetapi ini sudah ditulis sekitar seribu tahun sebelum
terjadinya. “…1 Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan
Aku? Mengapa
Engkau begitu jauh dari menolong Aku, dan
dari kata-kata eranganKu?”
Do you know the very words of His enemies at the foot of the
cross were written a thousand years before they said what they said? Notice
Psalm 22:7 and 8, “7 All those who see Me…” here Jesus is
speaking about His experience “…ridicule Me; they shoot out the lip, they shake the head, saying, 8 ‘He trusted in the Lord, let Him rescue Him; let Him deliver Him, since He
delights in Him!’…” The very words in Matthew
27:42 and 43, written a thousand years before.
Tahukah kalian kata-kata yang diucapkan para musuhNya di kaki salib
itu sudah ditulis seribu tahun yang lalu sebelum mereka mengatakan apa yang
mereka katakan? Simak Mazmur 22:7-8, “7Semua yang melihat Aku…” di
sini Yesus bicara mengenai pengalamanNya, “…menertawakan
dan mengolok-olok Aku; mereka mencibirkan
bibir, menggelengkan kepala, berkata, 8‘Ia
mempercayai TUHAN, biarlah Tuhan yang menyelamatkanNya. Biar Dia yang menyelamatkanNya, karena Dia berkenan
kepadaNya’…” Kata-kata
yang sama yang ada di Matius 27:42-43; telah ditulis seribu tahun sebelumnya.
They cast lots for the garments of Jesus, but that's in Psalm
22:18 written a thousand years before. In Mark 15:24 we find the fulfillment. Here in the prophecy it says, “18 They divide My garments among
them, and for My clothing they cast lots.” Written a thousand
years before it happened.
Mereka melempar undi untuk pakaian Yesus, tetapi
itu ada di Mazmur 22:18, tertulis seribu tahun sebelum terjadinya. Di Markus
15:24 kita melihat penggenapannya. Di sini di nubuat
itu tertulis, “18 Mereka membagi-bagi pakaianKu di
antara mereka, dan untuk jubahKu mereka
membuang undi.” Ditulis seribu tahun yang lalu sebelum terjadinya.
And then they gave Him vinegar to drink. Folks, that was written
a thousand years before also in the Psalms, notice Psalm 69:21 which is
repeated in Matthew 27:34, “21 They also gave me gall for my
food, and for my thirst they gave me vinegar to drink.”
Do you think Jesus was encouraged when He saw these things
taking place? The plan is being fulfilled to a T. “I'm within the Father's plan. Everything is going according to plan.”
Lalu mereka memberiNya minum cuka.
Saudara-saudara itu sudah tertulis seribu
tahun yang lalu sebelumnya di Mazmur. Simak Mazmur 69:21 yang diulangi lagi di
Matius 27:34, “21 Mereka
juga memberi Aku campuran yang pahit sebagai
makanku, dan untuk haus-Ku, mereka memberi
Aku cuka untuk diminum…” menurut
kalian apakah Yesus merasa disemangati ketika Dia melihat hal-hal ini terjadi?
RencanaNya digenapi sampai detail yang
terkecil. “Aku ada dalam rencana Bapa. Semuanya
terjadi sesuai rencana.”
Even the last words of Jesus on the cross were written a
thousand years before. Psalm 31:5 quoted in Luke 23:46, “5 Into Your hand I commit My
spirit; You have redeemed Me, O Lord God of truth.”
Bahkan kata-kata terakhir Yesus di atas salib sudah ditulis seribu
tahun
sebelumnya. Mazmur 31:5, yang dikutip di Lukas 23:46, “5 Ke dalam
tangan-Mu Aku serahkan RohKu; Engkau telah menebusKu, ya
TUHAN, Allah kebenaran.”
Jesus was well-versed in the Scriptures of the Old Testament,
and was conscious of every word that He would speak, and when He would speak it,
He was also aware of the words of others and what they would speak. While He hung
on the cross His mind undoubtedly retrieved these Scriptures through the aid of
the Holy Spirit. How certain is that prophecy is going to be fulfilled? How
sure can we be that prophecy is going to be fulfilled? That everything on God's
calendar is going to take place, how sure can we be? Absolutely, unquestionably
certain, that God's prophecies will be fulfilled, even the prophecies in the Old
Testament that were not fulfilled with literal Israel, will be fulfilled with
spiritual Israel. We're going to study several of those prophecies. But they're not going to be fulfilled
literally over there, where it mentions Edom and Moab, you know, God is
speaking to the prophet within his context, you know. If God said “United
States” and “Rome”, “What's this talking
about?” the prophet would say. So God speaks to the prophet within his
frame of reference. But then that becomes a type of something far greater in
the future. We're going to see that in the Gog and Magog prophecy,
Joel, and the Book of Jonah, and the Book of Habakkuk. You're dealing with
typology in these prophecies, that's why you need to read the article from the
SDA Bible commentary. It gives you the principles to know how to apply in the
future what occurred in the past.
Yesus sangat mengenal isi Kitab Suci Perjanjian
Lama, dan sepenuhnya sadar akan setiap perkataan yang akan Dia
utarakan, dan kapan Dia mengutarakannya. Dia juga sadar akan perkataan-perkataan
orang lain dan apa yang akan mereka katakan. Sementara Dia tergantung di atas
salib, tidak diragukan melalui bantuan Roh Kudus, pikiranNya
mengingat kembali tulisan-tulisan di Kitab Suci. Seberapa pastikah sebuah
nubuatan akan digenapi? Seberapa yakinkah kita bahwa nubuatan itu akan
digenapi? Bahwa semua yang ada di kalender Allah, akan terjadi, seberapa
yakinkah kita? Tanpa keraguan, sepenuhnya yakin bahwa nubuatan-nubuatan Allah akan digenapi, bahkan
nubuatan-nubuatan di Perjanjian Lama yang tidak digenapi oleh Israel literal,
akan digenapi oleh Israel spiritual. Kita akan mempelajari
beberapa dari nubuatan-nubuatan tersebut. Tetapi
mereka tidak akan digenapi secara literal di Israel sana, di mana disebutkan
Edom dan Moab. Kalian tahu, Allah bicara kepada nabi itu dalam lingkup
konteksnya. Andai Allah mengatakan “Amerika Serikat” dan “Roma”, nabi itu akan
berkata, “Ini
bicara tentang apa?” Maka Allah bicara
kepada nabi itu dalam lingkup kerangka referensinya. Tetapi itu nanti akan menjadi tipe dari
sesuatu yang jauh lebih besar di masa depan. Kita akan melihat
ini di nubuatan Gog dan Magog, Yoel, dan kitab Yunus dan kitab Habakuk. Di
nubuatan-nbuatan ini kita berurusan dengan tipologi, itulah mengapa kalian
perlu membaca artikel dari SDA Bible Commentary. Itu memberi kalian prinsip-prinsipnya untuk mengetahui bagaimana di
masa depan kita bisa mengaplikasikan apa yang terjadi di masa lampau.
Now let's end by introducing what we're going to do in our next
class. What about us? You think God has a plan, a specific plan, for our lives, that He
is willing to reveal to us day by day? Is it just possible that through:
Ø a life of prayer,
Ø the study of the Scriptures,
Ø time spent learning the lessons of nature,
Ø and a careful observation of God's providential acts in our
daily lives,
He is willing to
reveal His plan for us for our life?
Let's turn to the statement we quoted before, “Christ in
His
life on earth made no plans for Himself. He accepted God's plans for
Him, and day by day the Father unfolded His plans...”
Now that's talking about Christ. Now notice us, “… So should we depend upon God, that our
lives may be the simple outworking of His will. As we
commit our ways to Him, He will
direct our step.” (The Ministry of Healing, p.479).
Nah, mari kita akhiri dengan memperkenalkan apa
yang akan kita lakukan di kelas kita berikutnya. Bagaimana dengan kita? Menurut
kalian, apakah Allah punya
rencana, rencana yang spesifik untuk
hidup kita, yang Dia mau nyatakan itu kepada kita dari hari ke hari?
Apakah mungkin, melalui:
Ø kehidupan doa,
Ø pembelajaran Kitab Suci,
Ø waktu yang dipakai untuk mempelajari
pelajaran-pelajaran dari alam,
Ø dan observasi yang teliti tentang
tindakan-tindakan kemurahan Allah dalam kehidupan sehari-hari kita,
Allah bersedia menyatakan
rencanaNya bagi kita tentang hidup kita?
Mari kita
ke pernyataan yang sudah pernah kita kutip, “…Kristus dalam hidupNya tidak membuat rencana apa pun bagi
DiriNya Sendiri. Dia menerima rencana Allah bagiNya, dan dari hari ke hari Bapa
mengungkapkan rencana-rencanaNya…” Nah, ini bicara tentang Kristus.
Sekarang simak kita, “…Dengan demikian kita harus bersandar pada
Allah supaya hidup kita boleh menjadi karya yang murni dari kehendakNya.
Sebagaimana kita menyerahkan karakter kita kepadaNya, Dia akan menuntun langkah
kita.” (The Ministry of Healing,
hal. 479).
And then she says, “Too many, in planning for a brilliant future, make an utter failure. Let
God plan for you. As a little child, trust to the guidance of Him who will ‘keep the feet
of His saints.’ (1 Samuel 2:9)….”
and then comes the part of the statement we're going to pick up
next time “…God never leads His children otherwise than
they
would choose to be led, if they could see
the
end from the beginning and discern
the
glory of the purpose which they are fulfilling as co-workers with Him.” (The Ministry of Healing, p. 479). What was possible
for Him is possible for us.
Kemudian
Ellen White berkata, “…Terlalu banyak orang, dalam merencanakan
masa depan yang cemerlang, justru membuat kegagalan total. Biarkan Allah yang
membuat rencana untukmu. Seperti seorang anak kecil, percayailah
tuntunan Dia yang akan ‘memelihara
kaki-kaki orang-orang kudusNya’ (1 Samuel 2:9)…” lalu bagian pernyataan yang akan kita lanjutkan dalam pelajaran
berikutnya, “…Allah tidak pernah menuntun anak-anakNya
berlawanan dengan apa yang akan mereka pilih untuk dituntun jika mereka bisa
melihat akhirnya dari permulaan dan memahami kemuliaan tujuan yang mereka
genapi sebagai mitra-kerja dengan Allah.” (The Ministry of Healing, hal. 479). Apa yang
mungkin bagi Allah, itu mungkin bagi kita.
23 03 25