MESSAGE TO LAODICEAN
Part
05/05 - Stephen Bohr
THE
REMEDY FOR LAODICEA
https://www.youtube.com/watch?v=DPb7zcqUPI0&t=37s
Dibuka dengan
doa
Today we are going to study part 5 of the message of the Faithful
and True Witness to the Laodicean church. This will be the final presentation
in this series. Being that it's been quite a while since we've studied the
first four messages, I would like to just review basically what we have covered
in the previous presentations.
Hari ini
kita akan mempelajari bagian ke-5 dari pesan Saksi yang Setia dan Benar kepada
gereja Laodekia. Ini merupakan presentasi yang terakhir dari seri ini. Karena
sudah lewat cukup lama sejak kita mempelajari empat pelajaran yang pertama,
saya mau mengulangi apa yang telah kita liput pada dasarnya di
presentasi-presentasi yang sebelumnya.
We've been looking at the disease from which the church of Laodicea suffers.
It's a deadly disease. It's a disease which if not remedied, will lead to certain and absolute death. Now
what is the problem with the church of Laodicea, our own Seventh-Day Adventist
Church? With us individually, not speaking corporately, but individually, here
in the pews, this morning? We found that the
church of Laodicea does the right things for the wrong reasons, or with the wrong motivation. She does
everything to impress men and to impress God. In other words, it doesn't come
naturally from the heart. It is actually an
artificial system of works with the intention of impressing fellow
believers, and impressing God.
Kita sedang menyimak penyakit yang
diderita gereja Laodekia. Penyakit yang mematikan. Penyakit yang
jika tidak diobati akan membawa kepada kematian yang mutlak dan pasti.
Nah, apa masalahnya di gereja Laodekia, gereja MAHK kita sendiri? Apa
masalahnya dengan kita secara individu, tidak bicara secara jemaat, tetapi
secara individu, yang duduk di bangku-bangku pagi ini? Kita mendapati bahwa gereja
Laodekia melakukan hal-hal yang benar untuk alasan-alasan yang salah,
atau dengan motivasi yang salah. Dia melakukan
apa saja untuk mengesankan manusia dan mengesankan Allah. Dengan kata lain, apa
yang dilakukannya tidak datang secara alami dari hati. Sesungguhnya itu adalah suatu
sistem tindakan-tindakan yang sengaja dibuat dengan niat untuk
mengesankan sesama umat percaya dan mengesankan Allah.
You see, the problem with the Laodicean church is that the outside is good but the inside is rotten
and all wrong. You see, Laodicea has the
form and the theory of the truth. Laodicea has the form of godliness,
but there is no power that leads to that godliness. Laodicea has correct ritual, correct beliefs, but no power
behind those beliefs and those rituals. The church of Laodicea has the same
problem as the Pharisees had in the days of Christ. The Pharisee, like the rich
young ruler, thought that he was a commandment-keeper. He said, “all of these
Commandments I have kept from my youth, what more do I still lack?” And Jesus said to
him, “The one thing that you lack is that all of your Commandment-keeping
has to come from your heart. Go sell all that you have, and give it to the
poor. Show your love for the poor and then you will have eternal or everlasting
life.”
Kalian lihat, masalahnya dengan gereja
Laodekia ialah di luarnya bagus tetapi di
dalamnya busuk dan semuanya salah. Kalian lihat, Laodekia
memiliki bentuk dan teori kebenaran. Laodekia punya bentuk
kesalehan, tetapi tidak punya kuasa yang membawa kepada kesalehan itu. Laodekia
punya ritual yang benar, keyakinan yang benar, tetapi tidak ada kuasa
di balik keyakinan dan ritual itu. Gereja Laodekia punya masalah yang sama yang
dimiliki orang-orang Farisi di zaman Kristus. Orang-orang Farisi, seperti
penguasa muda yang kaya itu, berpikir bahwa dia adalah seorang pemelihara
Hukum. Dia berkata, “20
Semuanya itu telah kuturuti dari masa aku
kecil, apa lagi yang masih kurang padaku?” (Matius 19:20). Dan Yesus berkata kepadanya, “Hal yang masih kurang padamu
ialah semua pemeliharaan Hukum yang kamu lakukan harus datang dari hatimu.
Pergi juallah semua milikmu, dan berikan kepada orang miskin. Tunjukkan kasihmu
bagi yang miskin, maka kamu akan memiliki hidup kekal atau hidup yang abadi.”
· The problem of the
Laodicean church is illustrated by the workers of the vineyard who went out to
work at different hours of the day.
When pay time came, those who worked more, felt like they
deserved more.
· It's illustrated by
the condition of the older son in the story of the prodigal son, who served his
father with mercenary motives.
He wanted to impress his father. He says, “All of these years
I have served you, and you have done nothing for me.”
· It's illustrated by
the story of the Pharisee and the publican.
The publican beats his breast and he says, “Lord, be merciful
to me, a sinner.” Whereas the Pharisees says, “I thank you Lord
that I'm not like other men. All of my beliefs are right, all
of my rituals are right, all of my practices are right, and thank you that I'm
not like this miserable publican here. I fast twice a week, I keep the Sabbath,
I pay my tithe.” Selfishness. Lots of works, but done with the wrong
reason.
· It's illustrated by
the fig tree, full of leaves, ostentatious as to its piety, but devoid of fruit
that comes from the nature of the tree.
· It's Illustrated
in Matthew chapter 23 where Jesus spoke
of the Pharisees as whited sepulchers.
He said, “Outside you have this beautiful tombstone
whitewashed, but inside you are filled with bones and with rottenness.”
You see, the outside does not square with the inside. The outside looks good. People come to church, they return their tithe, they keep the Sabbath, they practice health reform ~ not that any of these things are wrong ~ we need to do them, but they have to be done with the right motivation, they have to come from a loving heart. They are not there to impress God, to impress our fellow human beings, to make us look good, to think that we can earn salvation. They need to flow naturally from a converted heart.
·
Masalah gereja Laodekia digambarkan oleh pekerja-pekerja di kebun
anggur, yang datang bekerja di jam-jam yang berbeda.
Ketika
tiba waktunya menerima gaji, mereka yang bekerja lebih lama, merasa berhak
menerima lebih banyak.
·
Itu digambarkan oleh kondisi anak yang sulung dalam kisah anak yang
boros, yang melayani ayahnya dengan motif demi uang.
Dia ingin
mengesankan ayahnya. Dia berkata, “Selama bertahun-tahun aku telah melayanimu, dan
engkau tidak berbuat apa-apa untukku.”
· Itu digambarkan oleh kisah orang
Farisi dan pemungut cukai.
Si pemungut cukai memukuli dadanya dan berkata, “Ya
Allah, kasihanilah aku orang yang berdosa.” (Lukas 18:13). Sementara
orang Farisi itu berkata, “Ya Allah, aku bersyukur
aku tidak seperti orang lain. Semua keyakinanku benar. Semua ritualku benar. Semua
yang aku praktekkan benar. Dan terima kasih aku tidak
seperti pemungut cukai yang menyedihkan ini. Aku berpuasa dua kali seminggu, aku memelihara
Sabat, aku menyerahkan persepuluhan.” Keegoisan. Banyak perbuatan tetapi
dilakukan dengan alasan yang salah.
·
Itu digambarkan oleh pohon ara, yang daunnya penuh, mencolok
kesalehannya, tetapi nihil buah yang berasal secara alami dari pohon itu.
·
Itu digambarkan di Matius pasal 23 di mana Yesus bicara tentang
orang-orang Farisi seperti kuburan.
Dia
berkata, “Di
luarnya ada nisan yang cantik yang dicuci putih, tetapi di dalamnya kamu
dipenuhi tulang belulang dan pembusukan.”
Kalian lihat, bagian luarnya tidak cocok dengan bagian dalamnya. Bagian luarnya tampak bagus. Orang-orang datang ke gereja, mereka mengembalikan persepuluhan mereka, mereka memelihara Sabat, mereka mempraktekkan reformasi kesehatan ~ tidak berarti bahwa semua hal ini salah ~ kita harus melakukan semua itu, tetapi mereka harus dilakukan dengan motivasi yang benar, mereka harus datang dari hati yang mengasihi. Mereka tidak dilakukan untuk mengesankan Allah, untuk mengesankan sesama manusia, untuk membuat kita tampak bagus, mengira bahwa kita bisa mendapatkan keselamatan sebagai upah. Perbuatan-perbuatan itu harus mengalir dari hati yang telah bertobat.
You know we can understand the
situation of Laodicea by going back and looking at what happened at Mount Sinai.
You know, when God revealed The Ten Commandments on tables of stone, Israel said,
“All that the Lord has spoken we will do.” How long did their
commitment last? A few days at most. You see, because they saw the Ten
Commandments as a list of regulations to measure up to. God has these rules,
and we do our utmost to live up to those rules. But without a change of heart they could not live in harmony with the rules.
That's why later on in the days of Jeremiah, God says, “I'm going to make a
new covenant with the house of Israel, not like that Covenant at Mount Sinai
where the Law was written on tables of stone, and the people simply thought
that they should measure up.” He says, “I'm going to take that Law which
was on tables of stone and I'm going to
write that Law in their hearts, and then they will naturally do what the Law
requires, not because they're trying, but because they have the Law,”
which by the way is a reflection of God's character. “They have God's
character in their hearts.”
Kita bisa memahami situasi Laodekia dengan kembali
dan menyimak apa yang terjadi di G. Sinai. Ketika Allah menyatakan Kesepuluh
Perintah dengan menuliskannya di loh-loh batu, Israel berkata, “Segala yang difirmankan TUHAN akan kami
lakukan” (Keluaran 19:8). Berapa lama komitmen mereka bertahan? Paling lama beberapa hari. Kalian
lihat, karena mereka melihat Kesepuluh Perintah sebagai sebuah daftar peraturan
untuk dipatuhi: Allah membuat peraturan-peraturan itu, dan kami akan melakukan
sebisa-bisanya untuk hidup sesuai dengan peraturan-peraturan itu. Tetapi tanpa adanya perubahan hati, mereka tidak bisa hidup
selaras dengan peraturan-peraturan itu. Itulah mengapa di kemudian hari di zaman Yeremia, Allah berkata, “Aku akan membuat perjanjian yang baru dengan kaum Israel, tidak seperti
perjanjian yang di G. Sinai di mana Hukum ditulis di atas loh-loh batu dan
orang-orang semata-mata menganggap mereka harus memenuhinya.” (Yeremia
31:31-32). Allah berkata, “Aku
akan mengambil Hukum itu yang tercantum di loh-loh batu, dan Aku akan menuliskan Hukum itu di hati mereka, maka mereka
akan melakukan secara alami apa yang diminta oleh Hukum itu, bukan karena mereka yang berusaha, tetapi karena mereka memiliki Hukum
itu,” (Yeremia 31:33) yang adalah refleksi dari karakter Allah. “Mereka
memiliki karakter Allah di hati mereka.”
In other words, the problem with
Laodicea is that she looks fine outside, but she's rotten inside. And as you
look at the book of Revelation, you find that Laodicea ~ and God have two
totally and radically different perspectives ~ Laodicea thinks she's rich, she
thinks she has 20/20 vision, she thinks she's luxuriously clothed, and she
thinks that she's happy and joyful. But Jesus
says that Laodicea is poor, Laodicea is blind, Laodicea is naked.
Laodicea even though she thinks she's happy, is miserable and wretched. Obviously Laodicea is very severely self-deceived.
Have you ever seen a naked person who
you say, “You're naked, go get dressed!”
“Me naked? You're kidding. I'm not
naked!”
Or a person who is poverty stricken. You
say, “You're poor.”
“No, I'm not poor. I'm rich.”
Obviously the Laodicean church ~ that's us ~ is very severely
self-deceived into thinking she's rich ~ she's poor. She sees ~ she's blind. Luxuriously
clothed ~ naked. Happy ~ miserable. How could you have two different
perspectives such as this?
Dengan kata lain, masalahnya dengan Laodekia ialah,
di luarnya dia tampak bagus, tetapi di dalamnya dia busuk. Dan bila kita lihat
di kitab Wahyu, kita akan mendapati Laodekia ~ dan Allah punya dua perspektif
yang seluruhnya dan secara radikal berbeda ~ Laodekia mengira dirinya kaya, dia
mengira dia punya penglihatan 20/20, dia kira dia berpakaian mewah, dan dia
kira dia bahagia dan gembira. Tetapi Yesus berkata bahwa Laodekia itu
miskin, Laodekia itu buta, Laodekia
itu telanjang. Laodekia walaupun dia mengira
dia bahagia, sebenarnya dia mengenaskan dan malang.
Jelas Laodekia sangat tertipu oleh dirinya sendiri.
Pernahkah kalian melihat seorang yang telanjang,
dan kalian berkata kepadanya, “Kamu telanjang, pergilah kenakan pakaian.”
“Aku telanjang? Yang bener aja. Aku tidak
telanjang.”
Atau dengan seseorang yang miskin, dan kalian
berkata, “Kamu
miskin.”
“Tidak, aku tidak miskin. Aku kaya.”
Jelaslah gereja Laodekia ~ yaitu kita ~ sangat
menipu diri sendiri dengan berpikir dirinya kaya, padahal dia miskin. Bahwa dia
bisa melihat, padahal dia buta. Bahwa dia berpakaian mewah, padahal dia
telanjang. Bahwa dia bahagia, padahal menyedihkan. Bagaimana bisa ada dua
perspektif yang berbeda seperti ini?
Ellen White in Volume 3 of the Testimonies page 252 has this to say, “The message of the True Witness finds the people of God in a sad deception, yet honest in that deception…” Did you get that? The Laodicean message comes to a people who are sadly deceived but they are honestly deceived. They actually think that they're okay. She continues saying, “…They know not that their condition is deplorable in the sight of God…” How do you convince one to seek treatment if he doesn't feel that he's sick? That's the problem with the Laodicean church. Jesus says, “You're sick.” But Laodicea refuses to accept the idea that she's sick. And therefore if you don't feel like you're sick, you're not going to seek for a remedy.
Ellen White di Testimonies Vol. 3 hal. 252, mengatakan ini, “…Pesan
dari Saksi yang Benar mendapatkan umat Allah dalam keadaan yang menyedihkan,
tertipu, namun dia memang jujur tertipu…”
apakah kalian menangkap
itu? Pesan kepada Laodekia datang kepada umat yang sayangnya tertipu, tetapi
mereka memang jujur tertipu. Mereka sungguh-sungguh mengira mereka baik-baik
saja. Ellen White melanjutkan berkata, “…Mereka tidak tahu bahwa kondisi mereka menyedihkan di
pemandangan Allah…” Bagaimana kita bisa
meyakinkan seseorang untuk berobat bila dia tidak merasa bahwa dia sakit? Itulah masalah gereja
Laodekia. Yesus berkata, “Kamu
sakit.”
Tetapi Laodekia menolak menerima ide bahwa dia sakit.
Maka jika orang tidak merasa dirinya sakit, dia tidak akan mencari obat.
Volume 4 of the Testimonies page 87 Ellen White has said this, “The only hope for the Laodiceans is a clear view of their standing before God, a knowledge of the nature of their disease…” In other words, the first step for Laodiceans is to see her true condition, and to know what her disease is. And by the way, the disease is that self is in the heart and not Jesus. Everything she does is with selfish mercenary motives, to look good, to be saved, to look better than others, to impress God ~ not that all of those external things aren't important, because they are ~ the problem is that these activities, and these beliefs, and these rituals, spring from a selfish heart.
Testimonies
Vol. 4 hal. 87, Ellen White mengatakan ini, “…Satu-satunya harapan bagi jemaat Laodekia
adalah pandangan yang jelas tentang posisi mereka di hadapan Allah, pengetahuan
tentang kondisi penyakit mereka…” Dengan kata lain, langkah
pertama bagi Laodekia ialah untuk mengenali kondisinya yang sebenarnya dan apa
penyakitnya. Dan ketahuilah, penyakitnya ialah yang ada di
hatinya itu diri sendiri bukan Yesus. Segala yang dia lakukan
itu dilakukan dengan motivasi untuk kepentingan diri sendiri, supaya tampak
bagus, supaya diselamatkan, supaya tampak lebih baik daripada orang-orang lain,
supaya mengesankan Allah ~ tidak berarti bahwa semua hal eksternal ini tidak
penting, karena mereka penting ~ tetapi masalahnya ialah semua aktivitas ini,
semua keyakinan ini, semua ritual ini, muncul dari hati yang egois.
Now in Revelation 3 Jesus proposes to
Laodicea three remedies for her condition. And I praise the Lord that the Lord
doesn't only paint a bleak picture, He actually shows the church how the problem
can be solved. Because some people use the message to the Laodicean church to
beat up the church, particularly offshoots you know, and actually they're like
the Pharisees, because they say, “I thank you, Lord, that I'm not like those
who belong to the organized church…” that's
a pharisaic attitude, isn't it? Of course, it is.
Nah, di Wahyu 3 Yesus menawarkan tiga obat kepada
Laodekia untuk kondisinya. Dan saya bersyukur Tuhan tidak hanya memberikan
gambaran yang kelam, Dia menunjukkan kepada gereja bagaimana masalah itu bisa
diselesaikan. Karena ada orang-orang yang menggunakan pesan kepada gereja
Laodekia untuk menjatuhkan gereja, terutama kelompok-kelompok pecahannya.
Sesungguhnya mereka ini seperti orang-orang Farisi, karena mereka berkata, “Aku bersyukur Tuhan, aku tidak
seperti mereka yang ikut gereja yang di dalam organisasi…” ini adalah sikap
orang Farisi, bukan? Tentu saja iya.
Now what are the three remedies?
1.
gold tried in fire
2.
white garments
By the way, the gold is to take care of the poverty. The white
garments are to take care of the nakedness.
3.
and eye salve to take care of the blindness.
Now, let's talk about each one of these remedies that God
proposes to the church of Laodicea.
Nah
apakah ketiga obatnya?
1. Emas yang dimurnikan dalam api
2. Pakaian putih
Nah, emas
itu untuk mengobati kemiskinannya. Pakaian putih untuk mengobati
ketelanjangannya.
3. Dan salep mata untuk mengobati
kebutaannya.
Nah, mari
kita bicara satu per satu tentang obat yang ditawarkan Allah kepada gereja
Laodekia.
What is the gold tried in fire? Turn with me to Galatians 5:6 and we're going to find what the gold tried in fire is. Galatians 5:6. Here the apostle Paul says this, “6 For in Jesus Christ neither circumcision availeth any thing, nor uncircumcision;…” what is it that avails then in Christ? “…but faith which…” what? “…which worketh by love.” (KJV) Does Laodicea have a lot of works? Yes, she does. Who produces those works? Laodicea herself. They are not works of faith, they are works of Law that she produces. But notice that Galatians 5:6 speaks about a faith that works, and what is the motivating principle that leads faith to work? Love!
Emas yang dimurnikan dalam api itu apa? Mari bersama saya ke
Galatia 5:6 dan kita akan melihat apa itu emas yang dimurnikan dalam api.
Galatia 5:6. Di sini rasul Paulus mengatakan demikian, “6
Sebab di dalam Kristus Yesus baik
bersunat maupun tidak bersunat tidak berarti apa pun,…” kalau begitu
apa yang berarti dalam Kristus? “…tetapi iman
yang…” apa? “…yang
bekerja oleh kasih.” (KJV). Apakah Laodekia punya banyak perbuatan? Ya, betul.
Siapa yang menghasilkan perbuatan-perbuatan itu? Laodekia sendiri. Mereka bukan
perbuatan-perbuatan dari iman, mereka itu perbuatan-perbuatan Hukum yang
dihasilkan Laodekia. Tetapi simak Galatia 5:6 bicara tentang iman yang
berbuat, dan apa prinsip yang
memotivasi iman untuk
berbuat? Kasih!
Notice how James describes this. James 1:27, here James says, “27 Pure religion and undefiled before God and the Father is this,…” you want to know what true religion is? What undefiled religion is? Here's the definition: “…To visit the fatherless and widows in their affliction, and to keep himself unspotted from the world…” (KJV) You know, what challenge the church? If you want a real blessing in your life, talk to Pastor Jensen, and go visiting the shut-ins, the fatherless, and the widows. You know, you will bring a blessing to them; but you will be the most blessed. Visit someone who's depressed, someone who's discouraged, not because you have to, not because you say, “If I don't do it, the Lord's not going to allow me into heaven.” No! When the love of Jesus is in the heart, it will be a delight to go out and do it. We'll do it with a smile on our face, with joy in our hearts, because we love people. Not because we're forced to do it. And of course the last part of the verse says, “and to keep himself unspotted from the world”.
Simak bagaimana Yakobus menggambarkan ini. Yakobus
1:27 di sini Yakobus berkata, “27 Agama
yang murni dan yang tak tercemar di hadapan
Allah dan Bapa, ialah ini, …” kalian mau
tahu apa agama yang sejati itu? Agama yang tidak tercemar itu? Ini definisinya, “…mengunjungi anak-anak
yatim dan janda-janda dalam kesusahan mereka dan menjaga supaya dirinya
sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.” (KJV) Kalian tahu, apa yang menantang gereja?
Jika kita ingin mendapatkan berkat yang sungguh-sungguh dalam hidup kita,
bicaralah kepada Pastor Jensen, dan pergi mengunjungi mereka yang dikurung,
yang tidak punya ayah, dan yang janda. Kalian tahu, kita akan membawa berkat
bagi mereka; tetapi kita sendiri yang akan terutama diberkati. Kunjungi orang
yang tertekan, orang yang putus asa, bukan karena kita harus, bukan karena kita
berkata, “Jika aku tidak melakukannya, Tuhan
tidak akan mengizinkan aku masuk Surga.” Tidak! Bila kasih kepada Yesus ada
di dalam hati, kita akan gemar pergi dan melakukan itu. Kita akan melakukannya
dengan senyum di wajah kita, dengan sukacita di hati kita, karena kita
mengasihi mereka. Bukan karena kita terpaksa melakukannya. Dan tentu saja
bagian terakhir ayat itu mengatakan, “dan menjaga supaya
dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.”
The apostle Paul in 1 Timothy 6:17-19 speaks about what the riches represent. It represents actually faith that works by love. But notice how the apostle Paul amplifies this idea. 1 Timothy 6:17-19 he says this, “17 Charge them that are rich in this world, that they be not highminded, nor trust in uncertain riches…” see, physical riches are uncertain riches “…but…” to trust “…in the living God, who giveth us richly all things to enjoy;…” and now notice this. “…18 That they do good, that they be…” what? “…rich in good works…” what are the riches that Laodicean needs? Good works produced by what? By faith, a faith that loves. Are you catching the picture? What's the problem with Laodicea? Laodicea has a cold heart. And she's cold towards people because there's no love there. He says that, “…they be rich in good works,…” and what is the result? “…ready to distribute,…” it's to give, “…willing to communicate…” that it speaks the Gospel. “…19 Laying up in store for themselves a good foundation against the time to come, that they may lay hold on eternal life.” (KJV) Powerful passage. Rich in good works.
Rasul Paulus di 1 Timotius 6:17-19 bicara tentang
apa yang diwakili oleh kekayaan.
Itu sesungguhnya mewakili iman yang
bekerja karena kasih. Tetapi simak sekarang bagaimana rasul
Paulus mengamplifikasikan ide ini. 1 Timotius 6:17-19 dia mengatakan ini, “17 Perintahkan
mereka yang kaya di dunia ini agar
mereka jangan tinggi hati, maupun mengandalkan pada kekayaan yang tidak tentu…” lihat, kekayaan duniawi itu kekayaan yang tidak tentu, “…melainkan…” untuk mengandalkan “…pada Allah yang hidup, yang
memberikan kepada kita dengan limpah segala
sesuatu untuk dinikmati. …” Dan sekarang simak ini, “…18
Hendaknya mereka itu berbuat kebaikan, agar mereka menjadi…” apa? “…kaya
dalam perbuatan baik,…” apakah kekayaan yang dibutukan Laodekia? Perbuatan baik yang
dihasilkan oleh apa? Oleh iman, iman yang mengasihi. Apakah kalian menangkap
gambarnya? Apa masalahnya dengan Laodekia? Laodekia punya hati yang dingin,
dan dia dingin terhadap manusia karena tidak ada kasih di sana.
Dia mengatakan “…agar mereka
menjadi kaya dalam perbuatan baik,…” dan
apa akibatnya? “…siap
berbagi…” itu memberi “…rela berkomunikasi…” itu bicara tentang Injil, “…19 mengumpulkan bagi diri mereka
sendiri, suatu dasar yang baik untuk masa
yang akan datang, supaya mereka bisa mendapatkan
hidup yang kekal.” (KJV) Pesan yang luar biasa. Kaya dalam perbuatan baik.
You see, Laodicea doesn't have good works.
· The Sabbath keeping
of Laodicea is not a good work.
It's an evil work because something she does, because she thinks
she's saved by doing it.
· You see Laodicea's
tithe returning is not really a good work, it's an evil work, because they do
it in order to impress God, and to be recognized.
· The health reform
of Laodicea many times is a health reform where they do it in order to
criticize the one who does not do it.
Are you understanding the picture here?
When the apostle Paul talks about works of Law, have you ever heard the expression “works of Law”?
Man is not justified by works of Law? Those works of Law aren't good works at
all, they are works that a person performs
in order for God to save you. In other words, by definition “works of
Law” are evil works, because they're not works of faith, they don't
spring from a loving heart.
Kalian
lihat, Laodekia tidak punya perbuatan yang baik.
·
Pemeliharaan Sabat orang Laodekia bukanlah perbuatan yang baik.
Itu
perbuatan yang jahat karena dia pikir dia diselamatkan dengan melakukannya.
·
Kalian lihat, pengembalikan persepuluhan Laodekia sesungguhnya bukanlah
perbuatan yang baik, karena mereka melakukannya untuk mengesankan Allah, dan
supaya mendapat pengakuan.
·
Reformasi kesehatan Laodekia seringkali adalah reformasi kesehatan yang
mereka lakukan untuk bisa mengkritik orang-orang yang tidak melakukannya.
Apakah
kalian memahami gambarannya di sini?
Ketika
rasul Paulus bicara tentang perbuatan-perbuatan Hukum,
pernahkah kalian mendengar ungkapan “perbuatan-perbuatan Hukum”? Bahwa manusia
tidak dibenarkan oleh perbuatan-perbuatan Hukum? Perbuatan-perbuatan Hukum itu
sama sekali bukanlah perbuatan-perbuatan yang baik, itu adalah
perbuatan-perbuatan yang dilakukan seseorang agar Allah menyelamatkan dia.
Dengan kata lain, menurut definisinya, “perbuatan-perbuatan Hukum” itu
perbuatan-perbuatan yang jahat, karena mereka bukan
perbuatan-perbuatan iman, mereka tidak timbul dari hati yang
mengasihi.
James 2:5, continuing on what the riches are, says in James 2:5, “5 Hearken, my beloved brethren, Hath not God chosen the poor of this world rich in…” what? “…rich in faith…” what kind of faith? A faith that what? A faith that works, we noticed. “…Hath not God chosen the poor of this world rich in faith and heirs of the kingdom…” now notice, “…which He hath promised to them that love Him?” What kind of works are these? They are works of what? Works of faith and love.
Yakobus 2:5, melanjutkan tentang kekayaan itu apa,
dikatakan di Yakobus 2:5, “5 Dengarkanlah, hai saudara-saudara
yang kukasihi! Bukankah Allah telah memilih
orang-orang miskin di dunia ini yang kaya dalam…” apa? “…kaya dalam iman…” iman macam apa? Iman yang bagaimana?
Iman yang berbuat, kita simak, “…Bukankah Allah telah
memilih orang-orang miskin di dunia ini yang kaya dalam iman dan ahliwaris Kerajaan…” sekarang simak, “…yang
telah dijanjikan-Nya kepada mereka yang
mengasihi Dia? …” Perbuatan-perbuatan
macam apakah ini? Itu perbuatan-perbuatan apa? Perbuatan-perbuatan
iman dan kasih.
We all know that passage in James chapter 2 beginning with verse 14. It's a vivid illustration of this, of these riches that Laodicea needs. Let's go through this passage quickly. James chapter 2 and beginning with verse 14, “14 What doth it profit, my brethren, though a man…” notice this “…though a man say he hath faith…” did you get that point? What does it profit if a man says he has faith “…and have not works? Can…” such a “…faith save him?...” can a workless faith save you? Can a faithless work save you? That went over your head. Can a faithless work save you? Can faithless works save you? Can workless faith save you? No! It has to be a faith that works, an active faith. Can such a faith, can a workless faith save you? Verse 15, what is he talking about? “…15 If a brother or sister be naked, and destitute of daily food, 16 And one of you say unto them, ‘Depart in peace, be ye warmed and filled’; notwithstanding ye give them not those things which are needful to the body; what doth it profit?...” What does it profit to come to church and to keep the Sabbath, and to return your tithe, and to practice the principles of health reform, if people are in need and you don't do anything about it? Faith is not working by law. In other words, verse 17, “…17 Even so faith, if it hath not works, is…” what? “…is dead, being alone…” Listen to what I'm going to say now. Man is saved by faith alone, but the faith that saves is never alone. I repeat, man is saved by faith alone but the faith that saves is never alone. Because where faith appears, works appear. Works of love from the heart, not works produced from a selfish heart. Verse 18, “…18 Yea, a man may say, Thou hast faith, and I have works…” then he says, “…shew me thy faith without thy works, and I will shew thee my faith by my works…” man is not saved by faith alone, in the sense that I mentioned before. Man is not saved by works. Man is not saved by faith plus works. Man is saved by a faith that works, because that is the only true genuine faith. Verse 19, “…19 Thou believest that there is one God; thou doest well: the devils also believe, and tremble…” so if you have only an intellectual faith, you're not better than the devil, is what James is saying, because the devils believe that Jesus was born into this world, that Jesus died, that Jesus resurrected, that Jesus went to heaven, that Jesus is interceding, that Jesus is coming again. They believe it all, but it doesn't change their life.
By the way all of the Hebrew heroes of
Hebrews 11 are doing something. They're the heroes of faith, but they're doing.
Moses, Moses leaves Egypt. Noah builds an ark, Abraham has sexual relations with Sarah even though
he's an old man. So you're talking about action. Enoch walked with God. See, faith is an action word. Faith is not something that happens in
your brain. It's something that happens in
your actions. It's an action word. Unfortunately, we've come to the
idea that “believe” which is the same word which is translated “faith”, is
something that happens in our head. But that which goes into our head needs to
be translated into action.
Verse 20, “…20 But wilt thou know, O vain man, that
faith without works is dead?...” Verse 21, “…21Was
not Abraham…” now this this threw Martin Luther for a loop, “…21Was not Abraham our father
justified by works, when he had offered Isaac his son upon the altar?...” You know, Martin
Luther called the book of James “the Epistle of straw” and in fact he said more
than once that if he had his way, he would take some scissors and cut it out of
the New Testament, because Paul says, we're “justified by faith
without works of Law”. James says “was not our Father Abraham justified
by works”. It all depends how you look at it. You see, Paul is telling us how is a lost
person saved. James is telling us how a saved person should live. So Paul's
focus is, how is a person saved, by grace through faith. James is saying, “Yes!
But a true faith is a faith that…” what? “…that works. And if it doesn't
work, it's not faith.” And so God is saying that Laodicea needs to have lots of works, but produced by a faith that loves.
Verse 22, “…22 Seest thou how faith wrought…” or was working
together “…with his works, and by
works was faith made perfect?...” See, without works faith is imperfect,
incomplete.
Kita semua tahu tulisan di Yakobus pasal 2 mulai
dari ayat 14. Itu adalah ilustrasi yang hidup tentang ini, tentang kekayaan
yang dibutuhkan Laodekia. Mari kita bahas tulisan ini dengan cepat. Yakobus 2
mulai dengan ayat 14, “14 Apakah
gunanya, Saudara-saudaraku, walaupun seseorang…”
simak ini, “…walaupun seseorang
mengatakan, bahwa ia mempunyai iman…” apakah
kalian menangkap poinnya? Apa keuntungannya jika seseorang berkata dia punya
iman, “…tetapi ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah
iman yang begitu itu menyelamatkan dia?…” bisakah
iman yang tidak berbuat menyelamatkan kita? Bisakah perbuatan yang tanpa iman
menyelamatkan kita? Ini terlalu sulit untuk kalian pahami. Bisakah perbuatan
tanpa iman menyelamatkan kita? Bisakah iman yang tidak berbuat menyelamatkan
kita? Tidak! Harus iman yang berbuat, iman yang aktif.
Bisakan iman yang seperti ini, iman yang tanpa perbuatan menyelamatkan kita?
Ayat 15, apa yang dibicarakannya? “…15 Jika seorang
saudara laki-laki atau perempuan tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari,
16 dan seorang dari antara kamu berkata kepada mereka, ‘Selamat jalan, jangan
kedinginan dan makanlah yang kenyang!’
tetapi kamu tidak memberikan mereka apa yang diperlukan
secara jasmani, apakah gunanya itu?…” apakah gunanya datang ke gereja untuk memelihara Sabat dan
mengembalikan persepuluhan, dan mempraktekkan prinsip-prinsip reformasi
kesehatan jika ada orang yang membutuhkan dan kita tidak berbuat apa-apa untuk
itu? Iman itu bukan perbuatan Hukum. Dengan kata lain, ayat 17, “…17 Demikian juga halnya iman, jika
iman itu tidak disertai perbuatan, iman itu…”
apa? “…mati, karena sendirian…” Dengarkan
apa yang akan saya katakan sekarang. Manusia hanya diselamatkan oleh iman,
tetapi iman yang menyelamatkan itu tidak pernah sendirian. Saya ulangi, manusia
hanya diselamatkan oleh iman, tetapi
iman yang menyelamatkan itu tidak pernah sendirian. Karena
ketika iman muncul, perbuatan muncul; perbuatan kasih yang berasal dari hati,
bukan perbuatan yang diciptakan oleh hati yang mementingkan diri. Ayat 18 “…18 Iya,
orang mungkin berkata: ‘Kamu punya iman dan aku punya
perbuatan’…” lalu dia
berkata, “…Tunjukkanlah
kepadaku imanmu itu tanpa perbuatanmu, dan
aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku…” Manusia tidak diselamatkan oleh iman saja dalam pengertian
yang saya sebutkan tadi. Manusia tidak diselamatkan oleh perbuatan. Manusia
tidak diselamatkan oleh iman plus perbuatan. Manusia diselamatkan oleh iman
yang berbuat, karena inilah satu-satunya iman yang tulen. Ayat
19, “…19
Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja, engkau benar! Bahkan setan-setan
pun percaya dan gemetar…” jadi jika kita hanya punya iman yang intelektual, kita tidak
lebih baik daripada setan, itulah yang dikatakan Yakobus, karena setan-setan
percaya bahwa Yesus lahir ke dunia ini, bahwa Yesus mati, bahwa Yesus bangkit,
bahwa Yesus pergi ke Surga, bahwa Yesus sedang menjadi Perantara, bahwa Yesus
akan datang kembali. Mereka percaya semua itu, tapi itu tidak mengubah hidup
mereka.
Nah, semua
pahlawan iman di Ibrani 11 berbuat sesuatu. Mereka adalah pahlawan-pahlawan
iman, tetapi mereka melakukan perbuatan. Musa, Musa meninggalkan
Mesir. Nuh membangun bahtera. Abraham menjalin
hubungan seksual dengan Sarah walaupun dia sudah tua. Jadi kita
bicara tentang tindakan. Henokh berjalan bersama
Allah. Lihat, iman adalah sebuah kata perbuatan. Iman bukan sesuatu yang
terjadi di dalam otak. Itu sesuatu yang terjadi dalam
perbuatan kita. Itu sebuah kata kerja. Sayangnya, kita tiba pada
konsep bahwa “keyakinan” yang adalah kata yang sama yang diterjemahkan “iman”,
itu sesuatu yang terjadi di dalam kepala kita. Tetapi apa yang ada di dalam
kepala kita harus diubahkan menjadi perbuatan.
Ayat 20, “…20 Tetapi
ketahuilah o, manusia yang bebal, bahwa iman tanpa perbuatan itu mati?…”
Ayat 21, “…21 Bukankah Abraham…” ini akan membuat Martin Luther kaget sekali, “…21 Bukankah Abraham, bapak kita,
dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya ketika ia mempersembahkan Ishak,
anaknya, di atas mezbah?…” Kalian tahu, Martin Luther menyebut kitab Yakobus itu “Surat
jerami” dan bahkan dia berkata lebih dari satu kali, bahwa andaikan dia
diizinkan berbuat sesuai keinginannya, dia akan mengambil gunting dan
menggunting kitab itu dari Perjanjian Lama karena Paulus mengatakan bahwa kita “28…dibenarkan
oleh iman tanpa
melakukan perbuatan Hukum” (Roma 3:28). Yakobus berkata, “…21 Bukankah Abraham, bapak kita,
dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya?” Semuanya tergantung bagaimana kita memandangnya. Kalian lihat, Paulus
memberitahu kita bagaimana seseorang yang hilang bisa diselamatkan. Yakobus
memberitahu kita bagaimana seseorang yang sudah diselamatkan harus hidup. Jadi
fokus Paulus ialah, bagaimana orang bisa diselamatkan, oleh kasih karuna
melalui iman. Yakobus berkata, “Betul!
Tetapi iman yang sejati adalah iman yang…” apa? “…yang berbuat. Dan jika
dia tidak berbuat, itu bukan iman.” Maka Allah berkata bahwa Laodekia
harus punya banyak perbuatan, tetapi yang dihasilkan oleh iman yang mengasihi. Ayat 22, “22
Apakah kamu lihat bagaimana iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatannya, dan oleh
perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna?…” Lihat,
tanpa perbuatan iman itu tidak sempurna, tidak lengkap.
Let me ask you what's more important, a bodyless spirit or a spiritless body? You can't have one without the other. And that's what James is saying. By the way, let me ask you this, when you open a door, which side of the door moves first, the inside or the outside? They both move together. That's faith and works. Where faith appears, works follow. When you came to church this morning, which wheels move first? The front wheels or the back wheels? Let's take a car that is back wheel drive, okay? What happens when the back wheels begin to roll? They push, don't they? They push. What happens with the front wheels? They follow. Faith, a loving faith, is the power; but where there is the power, there is what? Works follow, works of faith, works of love, not works of Law.
Coba saya tanya, mana yang lebih penting, roh yang tidak punya tubuh atau tubuh yang tidak punya roh? Tidak bisa ada satu tanpa yang lain. Dan itulah yang dikatakan Yakobus. Nah, coba saya tanya ini, ketika kita membuka pintu, sisi pintu yang mana yang bergerak lebih dulu? Bagian yang dalam atau bagian yang luar? Mereka bergerak bersama-sama. Itulah iman dan perbuatan. Di mana muncul iman, perbuatan mengikuti. Ketika kita datang ke gereja tadi pagi, roda kendaraan mana yang bergerak dulu? Roda-roda depan atau belakang? Misalnya pada mobil yang digerakkan roda belakang, oke? Apa yang terjadi ketika roda-roda belakang mulai menggelinding? Mereka mendorong, bukan? Mereka mendorong. Apa yang terjadi dengan roda-roda depannya? Mereka mengikuti. Iman, iman yang mengasihi, adalah penggeraknya; tetapi di mana ada penggeraknya, di sana ada apa? Perbuatan mengikuti, perbuatan-perbuatan iman, perbuatan-perbuatan kasih, bukan perbuatan-perbuatan Hukum.
Let me ask you, which oar is more important, the right oar or the
left oar of a rowboat, which is more important? They're both indispensable. They
have to work what? Together, or else you're going to go in circles. Ellen White
says that faith and works are like two oars of a rowboat. They need to work
together or else you will have an unbalanced Christian life. Verse 23, “…23 And
the scripture was fulfilled which saith, Abraham believed God, and it was
imputed unto him for righteousness: and he was called the Friend of God…” is that marvelous? When
his faith worked, he was called what? The friend of God. Verse 24, “…24 Ye see then how that by works
a man is justified, and not by faith only….” See, Paul and James
are not contradicting each other, folks. The apostle Paul is fighting against
those who say we are saved by faithless works. Whereas James is fighting
against those who say that we are saved by a workless faith. In other words, both of them have to
go together. And then in verse 25 we see, “25 Likewise also was not
Rahab the harlot justified by works, when she…” notice what she did,
she acted on her faith, even though she knew that it might cost her life,
because she was hiding spies, and they were looking for them to kill them. The Bible
says, was not she “…justified by works,
when she had received the messengers, and had sent them out another way?...” She acted and then
he reaches the conclusion by saying, “…26 For as the body
without the spirit is dead, so faith without works is dead also.” (KJV)
Coba saya tanya, dayung mana yang lebih penting,
dayung kanan atau dayung kiri pada perahu dayung, yang mana yang lebih penting.
Kedua-duanya harus ada. Mereka harus bekerja apa? Bersama-samal, kalau tidak
perahunya bergerak berputar-putar. Ellen White mengatakan iman dan perbuatan
bekerja seperti dua dayung perahu. Mereka harus bekerja bersama-sama, kalau
tidak kehidupan Kekristenannya menjadi tidak seimbang. Ayat 23, “23 Dan genaplah nas yang mengatakan: ‘Abraham mempercayai Allah, dan itu diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran’ dan dia disebut
‘teman Allah.’…” bukankah
ini luar biasa? Ketika imannya berbuat, dia disebut apa? Teman Allah. Ayat 24, “…24
Jadi kamu lihat, bagaimana oleh perbuatan-perbuatannya seorang manusia dibenarkan, dan bukan hanya oleh iman…” Lihat, Paulus dan Yakobus tidak saling mengkontradiksi,
Saudara-saudara. Rasul Paulus sedang memerangi mereka yang mengatakan kita
diselamatkan oleh perbuatan yang tidak beriman. Sementara Yakobus sedang
memerangi mereka yang mengatakan bahwa kita diselamatkan oleh iman yang tidak
berbuat. Dengan kata lain, kedua-duanya harus bergandengan. Kemudian di ayat 25
kita lihat, “…25
Seperti itu pula, bukankah Rahab yang
pelacur itu, dibenarkan oleh
perbuatan-perbuatannya ketika ia…” simak
apa yang dilakukannya, dia bertindak berdasarkan imannya walaupun dia tahu
bahwa itu mempertaruhkan nyawanya, karena dia sedang menyembunyikan mata-mata,
dan orang-orang sedang mencari mata-mata itu untuk membunuh mereka. Alkitab
mengatakan, bukankah Rahab “…dibenarkan
oleh perbuatan-perbuatannya ketika ia menerima utusan-utusan
itu, dan menyuruh mereka keluar melalui
jalan yang lain?…” Rahab
bertindak. Kemudidan Yakobus membuat konklusinya dengan mengatakan, “…26 Sebab seperti tubuh tanpa roh itu mati, demikianlah iman tanpa
perbuatan-perbuatan juga mati.”
(KJV)
So Laodicea needs a new
heart, that through faith and love will produce works. And don't anybody say
that Pastor Bohr is saying that we don't have to keep God's Law anymore, we
don't have to keep the Sabbath, we don't have to practice health reform, we
don't have to tithe anymore. What I'm saying is that all of those things have
to come for the right reason or else they're not acceptable in the sight of God.
Jadi
Laodekia membutuhkan hati yang baru, yang melalui iman dan kasih akan
menghasilkan perbuatan-perbuatan. Dan jangan ada yang berkata bahwa Pastor Bohr
mengatakan kita tidak harus memelihara Hukum Allah lagi, kita tidak harus
memelihara Sabat, kita tidak harus mempraktekkan reformasi kesehatan, kita
tidak harus menyerahkan persepuluhan lagi. Apa yang saya katakan ialah semua
hal itu harus datang dari alasan yang benar, kalau tidak, mereka tidak diterima
di pemandangan Allah.
Allow me to read you a statement from Ellen White on the gold
tried in fire. This is Selected
Messages Vol. 1 page 398, this is what she says, “Grace is unmerited
favor, and the believer is justified without any merit of his own, without
any claim to offer to God. He is justified
through the redemption that is in Christ Jesus, who stands in the courts of heaven as the sinner’s Substitute and Surety…” but now comes the balancing statement “…But
while he is justified because
of the merit of Christ,
he is not free to work unrighteousness. Faith works by love and purifies the soul. Faith buds and
blossoms and bears a harvest of precious
fruit…” and this is the
key portion. “…Where faith is, good works appear…” And then she explains what she means by “good works”. “…The sick are visited, the poor are cared for, the fatherless and the widows are not neglected,
the naked are clothed, the destitute are fed…” what are the works? Works of love, charity, to help people in
need. She finishes by saying, “…Christ went about doing good, and when men are
united with Him, they love the children
of God, and meekness and truth guide
their footsteps…” that's the gold tried
in fire that Laodiceans needs, desperately needs, as one of the
remedies for her condition.
Izinkan saya membacakan kalian
sebuah pernyataan dari Ellen White mengenai emas yang dimurnikan api. Ini Selected Messages Vol. 1 hal.
398, inilah yang dikatakannya,
“…Rahmat adalah kebaikan yang kita tidak layak terima, dan orang percaya
itu dibenarkan tanpa jasa apa pun dari dirinya sendiri, tanpa apa pun yang bisa
diklaimnya dari Allah. Dia dibenarkan melalui penebusan yang ada dalam Kristus
Yesus, yang sedang berdiri di pengadilan Surgawi sebagai Pengganti dan Penjamin
orang berdosa itu…” tetapi sekarang ini pernyataan yang mengimbanginya. “…Tetapi sementara orang ini dibenarkan
karena jasa Kristus, dia tidak merdeka untuk mengerjakan ketidakbenaran. Iman
oleh kasih menghasilkan perbuatan dan memurnikan jiwa. Iman bertunas dan
berbunga dan menghasilkan tuaian buah yang berharga…” dan ini bagian kuncinya, “…Di mana ada iman, perbuatan-perbuatan baik
muncul…” Kemudian Ellen White
menjelaskan apa yang dimaksudnya dengan “perbuatan-perbuatan baik”. “…Yang sakit dilawat, yang miskin
dipelihara, yang yatim dan yang janda tidak diterlantarkan, yang telanjang
diberi pakaian, yang kekurangan diberi makan…”
apakah
perbuatan-perbuatannya? Perbuatan-perbuatan kasih, bantuan, menolong mereka
yang membutuhkan. Ellen White mengakhiri dengan berkata, “…Kristus pergi ke mana-mana berbuat
kebaikan, dan ketika manusia menyatu dengan Dia, mereka akan mengasihi
anak-anak Allah, dan penyerahan dan kebenaran akan memimpin langkah-langkah
mereka…” Inilah emas
yang dimurnikan dalam api yang diperlukan Laodekia, sangat
diperlukan, sebagai salah satu obat bagi kondisinya.
The second remedy is white garments.
What is represented by the white garments? Go with me to Genesis 2:25. Remember
when Adam and Eve were created, they were naked and they were not what? They
were not ashamed. Do you know why they were not ashamed? Even though they were
naked with regards to human garments, they were actually covered with what? With
a glorious robe of light. Now the glorious
white robe of light represented their state of innocence, and purity, and
righteousness, before they sinned. It says there that, they were naked, “25…they
were both naked… and they were not ashamed.” But then Adam and
Eve sinned, they lost their innocence, they lost their righteousness. What was
the immediate result when they sinned? Suddenly they're naked. Well, they were
naked before, but what happened? The glorious robe of light disappeared, and with all the light. Now they
look at themselves and they say, “Oh, we're naked!” So how did they try
to resolve their problem? They implemented the Laodicean solution. It says in Genesis 3:7, “7 And the eyes of them both were opened,
and they knew that they were naked; and they sewed fig leaves together, and
made themselves aprons.” (KJV) How did they try to cover their unrighteousness?
By making aprons of fig leaves and covering themselves. But you know what's
interesting? Even after doing that, they still considered themselves naked.
Obat yang
kedua adalah jubah putih. Apa yang dilambangkan oleh
jubah putih? Mari bersama saya ke Kejadian 2:25. Ingat ketika Adam dan Hawa
diciptakan, mereka telanjang dan mereka tidak apa? Mereka tidak malu. Tahukah
kalian mengapa mereka tidak malu? Walaupun mereka telanjang dalam hal pakaian
manusia, mereka sesungguhnya diselubungi oleh apa? Oleh jubah cahaya yang
mulia. Nah, jubah cahaya yang mulia ini melambangkan kondisi
kepolosan mereka, yang murni, dan yang
benar, sebelum mereka berbuat dosa. Dikatakan di sana bahwa
mereka itu telanjang, “25 Dan mereka keduanya telanjang… dan mereka tidak
merasa malu.” (KJV) Tetapi
kemudian Adam dan Hawa berbuat dosa, dan mereka kehilangan kepolosan mereka,
mereka kehilangan kebenaran mereka. Apakah akibat langsungnya ketika mereka
berbuat dosa? Tiba-tiba mereka telanjang. Nah, sebelumnya mereka memang sudah
telanjang, tetapi apa yang terjadi? Jubah cahaya yang mulia hilang, dan
bersamanya segala cahanya. Sekarang mereka memandang diri mereka sendiri dan
mereka berkata, “Oh, kita telanjang!”
Jadi bagaimana mereka berusaha menyelesaikan masalah mereka? Mereka memakai
solusi Laodekia. Dikatakan di Kejadian 3:7, “7 Dan mata mereka berdua dibuka, dan mereka tahu bahwa mereka telanjang;
dan mereka menyemat daun-daun pohon ara dan membuat penutup
bagi diri mereka sendiri.”(KJV). Bagaimana mereka berusaha menutupi ketidakbenaran
mereka? Dengan membuat penutup/seperti celemek dari daun-daun ara dan menutupi
diri mereka sendiri. Tetapi kalian tahu apa yang menarik? Walaupun setelah
melakukan itu, mereka masih menganggap diri mereka telanjang.
Does Laodicea feel fully clothed? Does
Laodicea feel fully clothed? Oh, Yes! You mean you say, “I'm not naked, I'm
luxuriously clothed!” is what Laodicea says. But God says, “You're…”
what? “…naked!” Adam and Eve covered themselves with fig leaves. They
said, “That'll take care of the problem of nakedness.” But even after
that they're still naked.
You say, “How do we know that?”
Because in verse 10 ~ this is after
they put on the fig leaves ~ God comes
to the garden and and He talks to Adam. And Adam says, “10 And
he said, I heard Thy voice in the garden, and I was afraid, because I was
naked; and I hid myself.” He wasn't naked anymore because he
had fig leaves. Obviously the fig leaves do not cover the nakedness. By the way,
the fig leaves represent their own what? Their own excuses for their sin, their
own works. Do you know what the greatest
sign of a lack of repentance is passing the buck? When you pass the
buck, you're not repentant. “Oh, the Devil made me do it.” “But my wife is
like this”, “my son or my daughter are like this.” The immediate result of
the sin of Adam and Eve was to cast blame. They weren't repentant. They weren't
sorry, they’re sorry they got caught,
but they weren't sorry for their sin. They didn't realize what a profound thing
that they had done. And so when God comes and speaks to Adam, Adam says, “the woman You
gave me…” see? “…if You hadn't given me that woman…” Little while before
he was very thankful to have the woman, but now “the woman You gave
me, her and You, you're to blame.” And when He comes and He speaks to
Eve, Eve says, “the serpent You made…” They're not sorry for their sin,
they're sorry they got caught. They don't know the terrible consequences of
their sin until they offer the first sacrifice, and they understand what sin is
going to cost. Then their eyes are open. They no longer cover themselves with
their own excuses and their own righteousness.
Apakah Laodekia merasa berpakaian lengkap? O, iya!
Dia berkata, “Aku
tidak telanjang, aku berpakaian mewah!” itulah kata Laodekia. Tetapi Allah
berkata, “Kamu…” apa? “…telanjang!” Adam dan Hawa menutupi diri mereka dengan
daun-daun ara. Mereka berkata, “Ini akan menyelesaikan masalah
ketelanjangan.” Tetapi bahkan setelah itu, mereka tetap merasa telanjang.
Kalian berkata, “Dari mana kita tahu itu?”
Karena di ayat 10 ~ ini setelah mereka menyematkan
daun-daun ara ~ Allah datang ke taman dan Dia bicara kepada Adam. Dan Adam
mengatakan, “10 Dan ia menjawab: ‘Aku mendengar suaraMu di taman,
dan aku takut, karena aku telanjang; dan aku menyembunyikan
diriku.’ (KJV) Dia sudah tidak telanjang lagi karena dia punya penutup dari daun-daun
ara itu. Jelas bahwa daun-daun ara itu tidak menutupi ketelanjangan. Nah,
daun-daun ara itu melambangkan apa mereka sendiri? Alasan-alasan pembenaran
mereka sendiri untuk dosa mereka, perbuatan mereka sendiri. Tahukah kalian tanda yang paling
jelas ketiadaannya pertobatan ialah melemparkan kesalahan kepada pihak lain. Ketika kita menyalahkan orang
lain, kita tidak sedang bertobat. “Oh, si Iblis yang membuat aku melakukannya”,
“Istriku yang seperti ini”, “Anak laki-lakiku atau anak perempuanku seperti
ini”. Akibat langsung dosa Adam dan Hawa ialah mereka melemparkan kesalahan.
Mereka tidak bertobat. Mereka tidak menyesal. Mereka menyesal mereka
tertangkap, tetapi mereka tidak menyesali dosa mereka. Mereka tidak menyadari
betapa seriusnya perbuatan yang telah mereka lakukan. Maka ketika Allah datang
dan berbicara kepada Adam, Adam berkata, “…Perempuan yang Kauberikan kepadaku…” lihat? “Andai Engkau tidak memberiku
perempuan itu…” Beberapa saat sebelumnya Adam sangat bersyukur diberi
perempuan itu, tetapi sekarang “…Perempuan yang Kauberikan
kepadaku, dia dan Engkau yang salah.” Dan ketika Allah datang
dan Dia berbicara kepada Hawa, Hawa berkata, “Ular yang Engkau ciptakan…” Mereka tidak
menyesali dosa mereka, mereka menyesal mereka tertangkap. Mereka tidak tahu
betapa mengerikannya konsekuensi dosa mereka hingga mereka mempersembahkan
kurban yang pertama. Dan mereka paham betapa mahalnya harga dosa. Pada saat itu
mata mereka terbuka. Mereka tidak lagi menutupi diri sendiri dengan
alasan-alasan sendiri dan kebenaran mereka sendiri.
Let me ask you, what was it that was
going to cover the nakedness of Adam and Eve? Not their fig leaves, because
they were still naked after putting on the fig leaves. Genesis 3: 21 has the
answer, a profound statement. It says, “21 Unto Adam also and to
his wife did the LORD God make coats of skins, and clothed them.” You notice that “skins”
is in plural. How many sinners were there? Two. And if you have “skins”, you
have how many animals? At least two. What do you need to do to get the skin of
an animal? You have to kill the animal. What was God trying to teach through
this ceremony? He was trying to say, “Adam and Eve, you've sinned, and
you've been stripped of the glory of God. You tried to cover up that nakedness
of sin through your own efforts, through your own fig leaf garments, but that
is going to still leave you naked.” In order for your nakedness to be covered,
Jesus says, “I'm going to have to go to the world, and I'm going to have to
suffer. I'm going to have to die. And as a result, My robe of perfect
righteousness will cover you. Not your coverings, but Mine.”
Coba saya tanya apa yang akan menutupi
ketelanjangan Adam dan Hawa? Bukan daun-daun ara mereka karena mereka masih
tetap telanjang setelah memasang daun-daun ara itu. Kejadian 3:21 memberikan
jawabannya, suatu pernyataan yang mendalam. Dikatakan, “21 Bagi Adam dan istrinya, TUHAN Allah membuatkan
pakaian dari kulit-kulit binatang dan mengenakannya kepada mereka…” simak kata “kulit-kulit” dalam bentuk
jamak. Ada berapa orang pendosa di sana? Dua. Dan jika ada “kulit-kulit” ada
berapa ekor binatang? Paling sedikit dua. Apa yang perlu dilakukan untuk
mengambil kulit dari binatang itu? Binatang itu harus dibunuh. Apa yang mau
diajarkan Allah melalui upacara ini? Allah berusaha mengatakan, “Adam dan Hawa, kalian sudah
berbuat dosa, dan kemuliaan Allah kalian sudah dilucuti dari kalian. Kalian
mencoba menutupi ketelanjangan dosa melalui usaha kalian sendiri, dengan pakaian
dari daun ara, tapi itu tetap masih meninggalkan kalian telanjang.” Supaya
ketelanjangan kalian tertutup, Yesus berkata, “Aku akan harus pergi ke dunia,
dan Aku akan harus menderita. Aku akan harus mati. Dan sebagai akibatnya, jubah
kebenaranKu yang sempurna akan menutupi kalian. Bukan penutup yang dari kalian,
tapi kepunyaanKu.”
Isaiah 61:10 explains what the garment represents. It says there,
“10 I will greatly rejoice in the LORD, my soul shall
be joyful in my God;…” and now notice this.
Why is it that Isaiah is saying “I will greatly rejoice in the Lord, my soul
shall be joyful in my God”, here he explains the reason, “…for he hath
clothed me with the garments of salvation, he hath covered me with the robe of…”
what? “…of righteousness,…” let me ask you what
kind of robe did the Pharisee use? He had the robe of self-righteousness. By
all he did, he said, “Oh, look at me, I'm luxuriously dressed.” God says,
“Naked!” By rejecting Christ they could not be covered with a glorious
robe of righteous of Jesus. Notice Galatians 3:27 it says, “27 For
as many of you as have been baptized into Christ have…” what? “…have put on Christ…” What does the garment
represent? What does the robe represent?
It means to put on whom? Christ.
Yesaya 61:10 menjelaskan jubah itu melambangkan
apa. Dikatakan di ssana, “10Aku akan
sangat bersukaria di dalam TUHAN, jiwaku akan
bersukacita di dalam Allahku…” dan sekarang
simak ini. Mengapa Yesaya mengatakan, “…10Aku akan sangat bersukaria di dalam TUHAN, jiwaku akan bersukacita di dalam Allahku…” di sini dia
menjelaskan alasannya, “…sebab Ia telah
mengenakan pakaian keselamatan kepadaku, Dia
telah menyelubungi aku dengan jubah…” apa? “…kebenaran…” Coba saya tanya, jubah macam apa yang
dipakai orang Farisi? Dia punya jubah kebenarannya sendiri dengan segala
perbuatan yang dilakukannya. Dia berkata, “Oh, lihatlah aku, aku berpakaian mewah.” Allah
berkata, “Telanjang!” Dengan
menolak Kristus mereka tidak bisa ditutupi oleh jubah kebenaran Yesus yang
mulia. Simak Galatia 3:27, yang mengatakan, “…27 Karena seberapa banyak dari kamu yang dibaptis ke dalam Kristus, telah…” apa? “…telah mengenakan Kristus…” pakaian itu
melambangkan apa? Jubah itu melambangkan apa? Artinya
mengenakan siapa? Kristus.
Do you know that even our greatest
works and our best works are tainted by selfishness? It's very
difficult to find anyone who performs a work that is totally altruistic, in
other words, it has no self-interest. By the way, that's what “Agape” means. It means giving without expecting anything in return,
it means giving without having any mercenary motives. And when we do that,
we've reached perfection. According to Scripture, “Be therefore
perfect as your heavenly Father is perfect”. And the previous
verses speak about the love of God, His bountiful goodness towards the human
race. The Pharisee, they were dressed with their own robe of righteousness,
which in the sight of God was an abomination. That's why they thought their
works were good.
Tahukah
kalian bahkan perbuatan kita yang paling hebat dan yang paling
baik itu tercemar dengan keegoisan? Sangat sulit mencari orang
yang melakukan suatu perbuatan yang seluruhnya altruistis, dengan kata lain,
yang tidak ada pamrihnya. Nah, itulah makna “Agape”, artinya memberi tanpa
mengharapkan apa pun sebagai balasan, artinya memberi tanpa
motif keuntungan pribadi. Dan bilamana kita berbuat itu, kita sudah mencapai
kesempurnaan. Menurut Kitab Suci, “48 Karena itu, jadilah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang
di sorga itu sempurna.” (Matius 5:48 KJV). Dan ayat-ayat sebelumnya bicara
tentang kasih Allah, kebaikanNya yang melimpah kepada manusia. Orang-orang
Farisi, mereka mengenakan jubah kebenaran mereka sendiri, yang di pemandangan
Allah adalah suatu kekejian. Itulah mengapa mereka menganggap
perbuatan-perbuatan mereka itu baik.
Notice Revelation 7:13 and 14, how do we make our garments white?
Is it by what we do or is it by what Jesus has done? Notice Revelation 7:13 and
14. “13 And one of the elders answered, saying unto me, ‘What
are these which are arrayed in white robes? and whence came they?’ 14
And I said unto him, ‘Sir, thou knowest.’ And he said to me, ‘These are they
which came out of great tribulation’…” actually it says in the Greek “those who have
come out of the tribulation, the great one” this is the end
time generation, and now notice what characterizes them, “…and have washed their robes, and made them…”
what? “…made them white…”
how? “…in the blood of the
Lamb…” the same Lamb that died in Genesis 3:21, or was represented by
the Lamb of Genesis 3:21. Folks, we can
never do enough works to recommend ourselves to God. It's only based on the death of Jesus. But
when we grasp what the death of Jesus means, it will be our delight to obey Him.
Simak Wahyu 7:13-14, bagaimana kita membuat jubah
kita putih? Apakah dengan apa yang kita lakukan atau dengan apa yang dilakukan
Yesus? Simak Wahyu 7:13-14. “13 Dan seorang dari antara tua-tua itu
menjawab dan berkata kepadaku, ‘Siapakah
mereka yang memakai jubah putih itu dan dari manakah mereka datang?’ 14
Dan aku berkata
kepadanya: ‘Tuanku, tuan yang
mengetahuinya.’ Lalu ia berkata kepadaku, ‘Mereka ini adalah orang-orang yang telah keluar dari kesukaran yang besar…” sebetulnya
dalam bahasa Greeka dikatakan, “…mereka
yang telah keluar dari kesukaran, yang besar itu…” inilah
generasi akhir zaman, dan sekarang simak bagaimana karakter mereka, “…dan
telah mencuci jubah mereka dan membuatnya…” apa? “…membuatnya putih…” bagaimana? “…di dalam darah Sang Domba.’…” Domba yang sama yang mati di Kejadian 3:21. Saudara-saudara,
kita sendiri tidak akan pernah bisa mengerjakan cukup
perbuatan-perbuatan untuk merekomendasikan diri kita kepada
Allah. Hanya bisa berdasarkan kematian Yesus.
Tetapi ketika kita menangkap apa makna kematian Yesus, kita jadi gemar
mematuhiNya.
Like Adam and Eve. Do you know they tried
to excuse their sin until God said, “I want you to bring these two animals
and I want you to slit their throats.” And Adam takes the knife and he cuts
the throat, and the blood gushes out. Suddenly that animal is lifeless in the
arms of Adam. Terrible, in a world where there was no death before. You know
today we're accustomed to death, so it's not so terrible, we see death every
day, every moment, almost of every day. So death has lost its alarming nature. But
in a world where there had been no death for Adam to take the life of those lamb.
And then Jesus comes to Adam and He says, “Adam, pretty terrible isn't it?
But that lamb represents Me. That's the price of your sin.” Do you think
Adam looked at sin differently now that it was going to take the life of his Creator?
Adam at that moment his heart was regenerated. He was born again, he no longer
tried to excuse sin. He saw the terrible nature of sin and from that moment on
he said, “I don't want to have anything more to do with sin. I hate sin.
Look what it's going to do with my Jesus.” So the victory over sin is not gained by looking at the Law, it's gained by
looking at Jesus. And when I see what sin cost Jesus, I will not want
to continue sinning, and I will be covered with the robe of His righteousness.
Seperti Adam dan Hawa. Tahukah kalian mereka
berusaha membenarkan dosa mereka hingga Allah berkata, “Aku mau kalian membawa kedua
binatang ini dan aku mau kalian menggorok leher mereka.” Dan Adam mengambil
pisau dan menggorok leher dan darah muncrat keluar. Tiba-tiba binatang itu lemas
tidak bernyawa di lengan Adam. Mengerikan, di sebuah dunia di mana sebelumnya
tidak pernah ada kematian. Kalian tahu, hari ini kita sudah terbiasa dengan
kematian, sehingga itu tidak begitu mengerikan. Kita melihat kematian setiap
hari, nyaris setiap saat setiap hari. Sehingga kematian sudah kehilangan sifat
mengerikannya. Tetapi di sebuah dunia di mana belum pernah ada kematian, Adam
mengambil nyawa binatang-binatang itu. Kemudian Yesus datang kepada Adam dan
Dia berkata, “Adam, sangat mengerikan, bukan? Tetapi domba itu melambangkan
Aku. Itulah harga dosamu.” Kalian pikir sekarang Adam akan memandang dosa
berbeda setelah tahu itu akan memakan hidup Penciptanya? Pada saat itu hati
Adam mengalami regenerasi, dia dilahirkan baru. Dia tidak lagi berusaha
membenarkan dosa. Dia melihat kodrat dosa yang mengerikan, dan mulai saat itu
dia berkata, “Aku tidak mau punya urusan lagi dengan dosa. Aku benci dosa.
Lihat, apa yang akan dilakukannya pada Yesusku.” Jadi kemenangan
atas dosa tidak diperoleh dengan memandang Hukum. Itu diperoleh dari memandang
Yesus. Dan ketika saya melihat apa yang harus dibayar Yesus
untuk dosa, saya tidak mau terus-menerus berbuat dosa, dan saya akan ditutupi
oleh jubah kebenaranNya.
Romans 10:3 tells us what the problem of the Pharisee was. The apostle
Paul says speaking about the Jews of his day and age, “3 For
they being ignorant of God's righteousness, and going about to establish their
own righteousness…” see the problem? They didn't know God's righteousness,
they wanted to establish their own righteousness, “…have not submitted themselves unto the
righteousness of God.”
Roma 10:3 memberitahu kita apa masalah
orang-orang Farisi. Rasul Paulus berkata, bicara tentang orang-orang Yahudi di
zamannya, “3 Sebab, karena mereka tidak mengenal
kebenaran Allah dan berusaha untuk menegakkan kebenaran mereka sendiri…”
lihat
masalahnya? Mereka tidak tahu tentang kebenaran Allah, mereka mau menegakkan
kebenaran mereka sendiri, “…sudah tidak menyerahkan diri mereka kepada
kebenaran Allah.”
There's a passage I want to read, it's quite extensive, from the
Spirit of Prophecy, Christ’s Object Lessons
page 311 and 312 on the robe. Ellen White says this, “…This robe, woven in the loom
of
Heaven, has in it not one thread of human devising…” How many threads of human devising
does the robe have? Not one, because your works don't earn anything. See, your works flow from salvation, they do not earn
salvation; they are the result of being saved, not the cause of being
saved. She continues saying, “…Christ in
His
humanity wrought out a perfect character, and this character
He
offers to impart
to us…”
so that His character in place of mine, “… ‘All our righteousness are as filthy rags.’
Everything…” now notice, “…Everything that we of ourselves can do is defiled
by
sin. But the Son of God
‘was manifested to
take away our
sins; and in Him
is no
sin.’ Sin is defined to be ‘the transgression of the Law.’ (1 John 3:5, 4). But Christ was obedient to every
requirement of the Law. He said of Himself, ‘I delight to
do Thy will, O My God; yea, Thy Law is
within My heart.’ (Ps.
40:8). When on earth, He said to His disciples, ‘I have kept My Father's
commandments.’
(John 15:10). By…”
now notice this, “…By His perfect
obedience,
He has
made it possible
for
every human being to obey God's commandments…” There's some people that say, “Ah,
you can never keep the Commandments of God. You can never keep the Law of God
this side of eternity.” Those who say that are limiting the power of God. They're
saying God isn't powerful enough, and the excuse is, “well, human nature is
weak.” Yes! Is it so weak that God can't do anything about it? Are you with
me or not? When you say that you can't overcome sin, you're saying God isn't
powerful enough to give you victory over sin, you're limiting the power of God.
She continues saying, “…By His perfect
obedience.
He has
made it possible
for
every human being to obey God's commandments…” and then she gives
a secret, “…When we submit ourselves to
Christ…” there's the key. See,
we don't want to totally submit to Jesus, we only want to give part. “…When we submit ourselves to Christ, the heart is
united with His heart, the will is merged in
His
will, the mind becomes one with
His
mind, the thoughts are brought into captivity to
Him; we live His
life…” it's not ours; Live Out Thy Life Within
Me goes the hymn. “…This is what it means to be clothed with the garment of
His righteousness. Then as the Lord looks upon us He sees, not the fig-leaf
garment, not the nakedness and deformity of sin, but His
own
robe of righteousness, which is perfect obedience to the Law
of
Jehovah.”
Ada sebuah kutipan yang mau saya bacakan, cukup
panjang, dari Roh Nubuat, Christ’s Object Lessons hal.311-312 tentang jubah. Ellen White
mengatakan ini, “…Jubah ini, ditenun di mesin tenun surgawi,
sama sekali tidak mengandung sehelai pun benang buatan manusia…” ada berapa benang buatan manusia di jubah ini? Tidak satu pun, karena
perbuatan kita tidak menghasilkan apa-apa. Lihat, perbuatan-perbuatan
kita itu mengalir dari keselamatan, mereka tidak bisa mendapatkan keselamatan;
mereka adalah hasil dari diselamatkan, bukan penyebab diselamatkan. Ellen White
berkata, “…Kristus dalam kemanusiaanNya
telah merajut suatu karakter yang sempurna dan karakter ini Dia tawarkan untuk
dibagikan kita…” jadi karakterNya di tempat karakter saya. “…‘segala kebenaran kami
seperti kain kotor’ (Yes. 64:6.).
Segala sesuatu…” sekarang simak, “…Segala sesuatu yang bisa kita lakukan sendiri itu sudah tercemar dosa. Tetapi
Anak Allah, ‘dijadikan manusia untuk mengangkat dosa kita, dan di dalam Dia tidak ada dosa’ (1 Yoh. 3:5) Dosa itu didefinisikan sebagai ‘pelanggaran Hukum’ (1 Yoh. 3:4) Tetapi Kristus taat kepada setiap
tuntutan Hukum. Dia berkata tentang DiriNya sendiri, ‘Aku
suka melakukan kehendak-Mu, ya AllahKu; ya, Hukum-Mu
ada di dalam hati-Ku.’ (Maz. 40:8). Ketika masih hidup
di dunia, Dia berkata kepada murid-muridNya, ‘Aku telah menuruti Perintah-perintah
Bapa-Ku’ (Yoh. 15:10). Lewat…” sekarang simak ini, “…Lewat
kepatuhanNya yang sempurna. Dia telah memungkinkan setiap manusia untuk
mematuhi perintah-perintah Allah…” Ada orang-orang yang
berkata, “Ah, kita tidak akan
pernah bisa mematuhi Perintah-perintah Allah. Kita tidak akan pernah bisa
mematuhi Hukum Allah di dunia ini.” Mereka yang berkata demikian membatasi kuasa Allah. Mereka mengatakan
Allah tidak cukup berkuasa , dan alasannya ialah, “nah, sifat alami manusia itu lemah.” Ya, tapi apakah begitu lemahnya
sehingga Allah tidak bisa berbuat apa-apa dengannya? Apakah kalian mengikuti
saya atau tidak? Ketika kita berkata kita tidak bisa mengalahkan dosa, kita
mengatakan Allah tidak cukup berkuasa untuk memberi kita kemenangan atas dosa,
kita membatasi kekuasaan Allah. Ellen White melanjutkan berkata, “…Lewat
kepatuhanNya yang sempurna Dia telah memungkinkan setiap manusia untuk mematuhi
perintah-perintah Allah…” lalu dia memberikan
rahasianya. “…Bilamana kita
menyerahkan diri kepada Kristus,…” ini kuncinya. Lihat, kita
yang tidak mau sepenuhnya berserah kepada Yesus, kita hanya mau berserah
sebagian. “…Bilamana kita menyerahkan diri kepada Kristus, hati kita
dipersatukan dengan hatiNya, kemauan kita menyatu dengan kemauanNya, pikiran
kita menjadi satu dengan pikiranNya, pikiran kita tunduk kepada kekuasaanNya,
kita menjalani hidupNya…” hidup kita bukan milik
kita lagi. Live Out Thy Life Within
Me (Hidupkanlah
HidupMu Di Dalam Aku), bunyi lagu pujian. “…Inilah yang dimaksud dengan mengenakan
pakaian kebenaranNya. Maka pada saat
Tuhan memandang kita, Dia tidak melihat
pakaian daun ara, tidak melihat ketelanjangan dan keburukan dosa, tetapi Dia
melihat jubah kebenaranNya sendiri, yaitu kepatuhan yang sempurna kepada Hukum-hukum
Yehova.”
Wow! Higher than any human thought,
the highest human thought is what God has planned for His people: God likeness.
Not in the sense that Lucifer wanted to be like God, but in the sense of being
like God in character. See, Laodicea is self-righteous, and it comes short of
the righteousness of God. That's our church.
Wow!
Lebih tinggi daripada pikiran manusia apa pun, pikiran manusia yang tertinggi,
itulah yang telah direncanakan Allah bagi umatNya: keserupaan dengan Allah.
Tidak dalam pengertian seperti yang diinginkan Lucifer menjadi seperti Allah,
tetapi dalam pengertian seperti Allah
dalam karakter. Lihat, Laodekia itu merasa benar sendiri, dan dia tidak
mencapai kebenaran Allah. Itulah gereja kita.
Let's go quickly to the eye salve. Do you know how many times
Jesus called the Pharisees blind? Notice Matthew 15:14 Jesus says, speaking
about the religious leaders, “14 Let them alone: they
be blind leaders of the blind. And if the blind lead the blind, both shall fall
into the ditch.” What did Jesus call them? Blind, leaders of the blind, the
Pharisees, those self-righteous Pharisees, who kept the Sabbath, who practiced
the principles of health, who tithed, who fasted twice a week, whose life
was apparently a perfect model of piety, Jesus says they're blind. Is that
the same problem with Laodicea? It most
certainly is. In fact in Matthew 23 five times Jesus calls the Pharisees “blind
guides”, “fools”, and “blind”. and “blind Pharisee”.
Mari kita cepat-cepat pergi ke salep
mata. Tahukah kalian berapa kali Yesus menyebut orang-orang
Farisi itu buta? Simak Matius 15:14, Yesus berkata, bicara tentang para
pemimpin rohani, “14 Biarkanlah mereka itu. Mereka adalah pemimpin-pemimpin buta dari orang buta. Dan
jika orang buta menuntun orang buta, keduanya akan jatuh ke dalam parit.” Yesus menyebut mereka apa? Buta,
pemimpin-pemimpin orang buta, orang-orang Farisi itu, yang merasa benar
sendiri, yang memelihara Sabat, yang mempraktekkan prinsip-prinsip kesehatan,
yang mengembalikan persepuluhan, yang berpuasa dua kali seminggu, yang hidupnya tampak
sebagai gambaran kesalehan yang sempurna, Yesus mengatakan mereka buta. Apakah itu masalah yang sama
seperti Laodekia? Betul sekali. Bahkan di Matius 23, lima kali Yesus menyebut orang
Farisi itu “penuntun-penuntun
buta”, “bodoh” dan “buta”, dan “Farisi yang buta”.
Remember the story of the man who was born blind? That's a
marvelous parable. I have a whole lesson that I wrote for this series on The
Parables, on this story of John chapter 9. You see, the Pharisees say, “we
see” and they reject Jesus. And so Jesus says, “You're blind.” Whereas
the blind man who is blind accepts Jesus, and now he sees. So blindness or
seeing has to do with your relationship with whom? With Jesus.
In fact in John 9:39 we find these
words, “39 And Jesus said, ‘For judgment I am come into this
world, that they which see not might see; and that they which see might be made
blind.” And everything has to do with whether you truly receive Jesus as
your Savior or not, whether you're spending time with Him, whether you're
submitting your life to Him without reservations, whether you're investing your
time, your talents, your strength, your material resources, putting it all on
the altar of sacrifice, not because we want to earn salvation but because we
love Jesus.
Ingat
kisah orang yang dilahirkan buta? Itu perumpamaan yang menarik. Saya punya
pelajaran lengkap yang saya tulis untuk seri mengenai Perumpamaan-perumpamaan,
tentang kisah di Yohanes pasal 9. Kalian lihat, orang-orang Farisi berkata, “Kami melihat” dan mereka
menolak Yesus. Maka Yesus berkata, “Kamu buta!”. Sementara orang yang
buta yang tidak melihat, menerima Yesus, dan sekarang dia melihat. Jadi buta
atau bisa melihat terkait kepada hubungan kita dengan siapa? Dengan Yesus.
Bahkan di Yohanes 9:39 kita menemukan kata-kata
ini, “39 Dan kata Yesus: ‘Aku datang ke dalam dunia
untuk menghakimi, supaya mereka yang tidak
melihat, boleh
melihat, dan supaya mereka yang melihat, boleh menjadi
buta.’” Dan semua itu
berkaitan dengan apakah kita sungguh-sungguh menerima Yesus sebagai Juruselamat
kita atau tidak, apakah kita menghabiskan waktu bersamaNya, apakah kita
menyerahkan hidup kita kepadaNya tanpa reserve, apakah kita menginvestasikan
waktu kita, talenta kita, kekuatan kita, sumber-sumber materi kita, meletakkan
semua itu di atas mezbah persembahan, bukan karena kita mau mendapatkan
keselamatan sebagai upah, tetapi karena kita mengasihi Yesus.
The apostle Paul was the typical Laodicean before his conversion. He epitomizes the
Laodicean. Did the apostle Paul feel like he was miserable before he came to
Christ? Oh, no! Did he think he was blind? No, he's eyesight was 20/20. Did he
feel like he was poor? He felt very rich, thank you. Let's allow him to
describe it. Philippians 3:3 to 8, the apostle Paul says, reminiscing about his
experience, “3 For we are the circumcision, which worship God in
the spirit, and rejoice in Christ Jesus, and have no confidence in the flesh…” that means we don't
have confidence in ourselves and what we do, our works, our greatness. And then
he remembers his previous life, he says, “…4 Though I might also
have confidence in the flesh. If any other man thinketh that he hath whereof he
might trust in the flesh, I more: 5 Circumcised the eighth day, of
the stock of Israel, of the tribe of Benjamin, an Hebrew of the Hebrews; as
touching the Law, a Pharisee; 6 Concerning zeal, persecuting the
church; touching the righteousness which is in the Law, blameless…” can you hear the Laodicean coming through? Rich and increased
with goods, and in need of nothing. Oh, but then he met Jesus on the road to Damascus.
By the way he was blinded, and then his sight was open, because now he
understands the Gospel. Is there hope for the Laodicean to see it? Yes! Because
Saul of Tarsus was one. There's hope if we can just see our condition and come
before Jesus. The apostle Paul then says, “…7 But what things were
gain to me, those I counted loss for Christ. 8 Yea doubtless, and I
count all things but loss for the excellency of the knowledge of Christ Jesus
my Lord: for whom I have suffered the loss of all things, and do count them but
dung, that I may win Christ, 9 And be found in him, not having mine
own righteousness, which is of the Law, but that which is through the faith of
Christ, the righteousness which is of God by faith.”
Rasul Paulus adalah tipikal orang Laodekia sebelum
pertobatannya. Dia melambangkan orang Laodekia. Apakah rasul Paulus merasa dia
mengenaskan sebelum dia datang ke Kristus? O, tidak! Apakah dia pikir dia buta?
Tidak, penglihatannya 20/20. Apakah dia merasa miskin? Dia merasa sangat kaya,
terima kasih. Mari kita izinkan dia menggambarkannya sendiri. Filipi 3:3-8,
rasul Paulus berkata, mengingat pengalamannya,“3 Karena
kita inilah sunat itu, yang beribadah
kepada Allah dalam Roh, bersukacita dalam
Kristus Yesus, dan tidak mengandalkan daging.…” ini artinya kita tidak mengandalkan
diri kita sendiri dan apa yang kita lakukan, perbuatan-perbuatan kita,
kehebatan kita. Lalu dia teringat hidupnya yang lama, dia berkata, “…4
Sekalipun aku juga punya alasan untuk mengandalkan daging. Jika ada orang yang menyangka dia
boleh mengandalkan daging, lebih-lebih aku: 5 disunat pada hari
kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang yang paling Ibrani dari semua orang Ibrani; dalam hal Hukum Taurat, seorang Farisi; 6 dalam hal
semangat, penganiaya jemaat; dalam hal kebenaran
menurut Hukum Taurat, aku tidak bercacat…” bisakah kita mendengar sifat
Laodekianya keluar? Kaya dan berkelimpahan harta, dan tidak kekurangan apa pun.
Oh, tetapi kemudian dia bertemu Yesus dalam perjalanan ke Damaskus. Nah, dia
dibutakan, setelah itu penglihatannya terbuka, karena sekarang dia baru paham
Injil. Apakah ada harapan bagi orang-orang Laodekia untuk melihat? Ya! Karena
Saulus dari Tarsus bisa. Ada harapan jika saja kita bisa melihat kondisi kita
dan datang ke hadapan Yesus. Lalu rasul Paulus berkata, “…7
Tetapi apa yang dahulu kuanggap menguntungkan bagiku,
sekarang karena Kristus kuanggap tidak bernilai.
8 Ya, tidak
diragukan, dan aku menganggap segala sesuatu tidak
bernilai demi keistimewaan pengetahuan
tentang Kristus Yesus, Tuhanku, untuk
DIa-lah aku telah menderita kehilangan segala sesuatu, dan yang kuanggap
sebagai sampah, supaya aku boleh memenangkan
Kristus. 9 Dan berada dalam Dia, tidak dengan memiliki kebenaranku sendiri yang dari mentaati Hukum Taurat,
melainkan yang melalui iman Kristus, kebenaran yang dari
Allah melalui iman.”
I'd like to read one statement in closing from the Spirit of
Prophecy. This is found in Volume 4 of the Testimonies page 88 and 89. She speaks here about the three remedies
that we've spoken about. This is a summary statement. She says, “The True Witness counsels us to buy of Him gold tried in the fire, white raiment,
and eyesalve. The gold here recommended as having been tried in the fire is faith and love….” Did we prove that
biblically? We read several verses, “…It makes…”
now notice this “…It makes the heart rich; for it has been purged until it is pure, and the more it is tested
the more brilliant is its luster…”
where is the problem resolved? In the
heart. She says, “…The white raiment is purity
of character, the righteousness of Christ
imparted to the sinner. This is indeed a
garment of heavenly texture, that can be bought only of Christ for a life of willing
obedience…” Then she says, “…The eyesalve is
that wisdom and grace which enables us to discern between the evil and the good, and to detect
sin under any guise…” in other words, to detect sin and see ourselves as we really are.
She says, “…God has given His church eyes which He requires
them to anoint with wisdom, that they may see clearly;…” but now notice this, “…but many would put out the eyes of the church if they could; for they would not have their deeds
come to the light, lest they should be reproved. The divine
eyesalve will impart clearness to the understanding…” by the way, do you
know what the eyes of the church really are?
The gift of Prophecy. That's the reason why prophets before they were
called “prophets”, were called “seers”, so the eyes of the church is the gift
of prophecy, which means the Spirit of Prophecy. Why do so many people in the Adventist
church dislike Ellen White? Oh, it's because she was a false prophet, because
she plagiarized? No, those are the excuses for not believing in God speaking
through her. The real reason why people did
not like prophets is because prophets told the truth, they told it like it is.
They said, “You need to correct this; this needs to change; you need to
detect sin; you have to see sin.” And people want to hang on to their sins,
they don't want to change, they want to have their cake and eat it too, they
want to be saved in their sins.
Saya mau membacakan satu
pernyataan sebagai penutup dari Roh Nubuat. Ini ada di Testimonies Vol. 4 hal. 88-89. Ellen White di sini bicara tentang ketiga obat yang tadi kita
singgung. Ini adalah pernyataan yang menyimpulkan. Ellen White berkata, “…Saksi yang Benar menasihati kita untuk
membeli dariNya emas yang telah diuji dalam api, pakaian putih, dan salep mata.
Emasnya yang di sini direkomendasikan sebagai sudah dimurnikan dalam api, ialah
iman dan kasih…” apakah kita sudah membuktikannya secara alkitabiah? Kita sudah membaca
beberapa ayat. “…Itu
membuat…” sekarang simak ini, “…Itu
membuat hati menjadi kaya; karena sudah dibersihkan hingga murni, dan semakin
banyak diuji, semakin terang sinarnya…” di
manakah masalah itu diselesaikan? Di dalam hati. Ellen White berkata, “…Pakaian putihnya adalah kesucian karakter,
kebenaran Kristus yang dibagikan kepada orang yang berdosa. Ini benar-benar
suatu pakaian dari bahan surgawi, yang bisa dibeli hanya dari Kristus demi
sebuah kehidupan yang rela patuh…” Lalu
Ellen White berkata, “…Salep
matanya ialah hikmat dan rahmat yang memampukan kita untuk membedakan antara
yang jahat dan yang baik, dan untuk mendeteksi dosa dalam bentuk samaran apa
pun…” dengan kata lain, untuk mendeteksi dosa dan melihat diri kita sendiri
sebagaimana adanya. Ellen White berkata, “…Allah telah memberikan gerejaNya mata yang
Dia tentukan harus mereka minyaki dengan hikmat, supaya mereka bisa melihat
dengan jelas…” Tetapi sekarang simak ini, “…tetapi banyak yang
ingin membutakan mata gereja jika mereka bisa, karena mereka tidak mau
perbuatan-perbuatan mereka diketahui orang, supaya mereka tidak akan ditegur.
Salep mata ilahi ini akan memberikan kejernihan kepada pengertian…” Nah, tahukah kalian apa sesungguhnya mata gereja?
Karunia nubuat. Itulah mengapa para nabi dulu sebelum mereka
disebut “nabi”, mereka disebut “penglihat”. Jadi mata gereja adalah karunia nubuat, artinya Roh
Nubuat. Mengapa begitu banyak orang di gereja Advent tidak menyukai Ellen
White? O, karena dia seorang nabi palsu, karena dia plagiat? Bukan, itu adalah
alasan-alasan untuk tidak mempercayai bahwa Allah berbicara melalui Ellen
White. Alasan yang sesungguhnya mengapa orang tidak menyukai
para nabi ialah karena nabi-nabi mengatakan yang sebenarnya, mereka mengatakan
kebenaran apa adanya. Mereka berkata, “Kamu harus memperbaiki ini; ini harus
diubah; kamu harus mengenali dosa; kamu harus melihat dosanya.” Dan orang-orang mau
terus menggandoli dosa-dosa mereka, mereka tidak mau berubah, mereka mau
kedua-duanya, mereka mau diselamatkan dalam dosa mereka.
And I'll conclude with this, folks. God gives a marvelous
promise to those who overcome the Laodicea condition, “to he who overcomes I will grant to
sit with Me on My throne even as I overcame and have sat down with My Father on
His throne.” What a glorious promise, to sit someday with Jesus on His throne.
But in order for this to happen we must first of all invite Jesus to come into
our heart, when He knocks at the door, “I stand at the door and knock,” Jesus says. Big
question is, are we going to let Him in? How about we sing that little chorus “Into
My Heart”, would you like to?
Into my heart
into my heart
come in to my heart, Lord
Jesus
come in today
come in to stay
come into my heart, Lord Jesus
Dan saya
akhiri dengan ini, Saudara-saudara.
Allah telah memberikan suatu janji yang indah kepada mereka yang
mengalahkan kondisi Laodekia, “21 Kepada dia yang menang Aku akan mengaruniakan untuk duduk bersama-sama
dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana
Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya.” (Wahyu 3:21). Betapa indahnya janji ini, untuk suatu hari duduk
bersama Yesus di takhtaNya. Tetapi supaya ini bisa terjadi pertama-tama kita
harus mengundang Yesus datang masuk ke hati kita ketika Dia mengetuk di pintu. “Aku berdiri di muka pintu dan mengetuk”, (Wahyu 3:20) kata Yesus. Pertanyaan besarnya
ialah, apakah kita akan mengizinkan Dia masuk? Bagaimana kalau kita nyanyikan
lagu pendek “Dalam Hati”, maukah kalian?
Dalam hati
Dalam hati
Masuklah ya
Tuhan Yesus
Masuk
sekarang
Dan tinggal
s’nang
Dalam hatiku
ya Yesus
02 08 26