MESSAGE TO LAODICEAN
Part
03/05 - Stephen Bohr
DIAGNOSING
LAODICEA’S PROBLEM
https://www.youtube.com/watch?v=d5p5ookFuVE&t=76s
Dibuka dengan
doa.
Little Peter was playing with his building blocks in the living
room of the house. As he was building there suddenly his father broke into the
living room, loudly speaking to his son. Now when he entered boisterously,
Peter raised up his finger to his mouth, and he said to his father, “Ssshhh!”
And his father suddenly quieted down, and said to his son, “Peter,
now why should I be quiet?”
And Peter says, “Because I'm building a church.”
Peter's father of course was very impressed. He said, “My son
is learning reverence, praise the Lord!” You're supposed to be silent in church.
But then he decided that he would ask Peter just to strengthen his reason for
being quiet. He says, “Now, Peter, why should I be quiet in church?”
And Peter looked at his father and he said, “Because
everybody's sleeping.”
Hahahaha.
Si kecil
Peter sedang bermain dengan balok-balok susunnya di ruang keluarga. Selagi dia
sibuk menyusun di sana, tiba-tiba ayahnya bergegas masuk ke ruang keluarga,
berbicara dengan keras kepada anaknya. Nah, ketika ayahnya masuk dengan suara keras,
Peter mengangkat jarinya ke mulutnya dan dia berkata kepada ayahnya, “Ssshhh!”
Dan
ayahnya tiba-tiba terdiam, dan berkata kepada anaknya, “Peter, nah mengapa aku harus
diam?”
Dan Peter
berkata, “Karena
aku lagi membangun sebuah gereja.”
Tentunya
ayah Peter sangat terkesan. Dia berkata, “Anakku sedang belajar menghormati, puji Tuhan!”
Memang orang tidak boleh berisik di gereja. Tetapi kemudian dia memutuskan
untuk bertanya kepada Peter hanya untuk memastikan apa alasan Peter untuk tidak
berisik. Dia berkata, “Nah, Peter, mengapa aku harus diam di gereja?”
Dan Peter
memandang ayahnya dan dia berkata, “Karena semua orang sedang tidur.”
Hahahaha.
This morning we are going to speak
about the lukewarm church, the sleeping
church, if you please, the anesthesized church. And I'd like to begin
by reading the message to the Laodicean
church. This is part three in our series, and we've dealt with the Parable
of the Fig Tree, actually several fig tree passages in the New Testament; and we’ve
dealt with the story of The Prodigal Son in our last study together, and we
focused particularly on the older son as the Laodicean. Now, we're going to get
into the study of the message to the Laodicean Church itself in our topic today,
and probably two more after this one, to really study this passage in detail.
Pagi ini kita akan bicara tentang gereja
yang suam-suam, gereja yang tertidur, katakanlah, gereja yang
terbius. Dan saya ingin mulai dengan membacakan pesan kepada gereja
Laodekia. Ini adalah bagian ketiga dalam seri kita dan kita
sudah membahas Perumpamaan Pohon Ara, persisnya beberapa ayat tentang pohon ara
di Perjanjian Baru; dan kita telah membahas kisah Anak yang Boros dalam
pelajaran kita bersama, dan kita terutama fokus pada anak yang lebih tua
sebagai seorang Laodekia. Nah, kita akan masuk untuk mempelajari pesan kepada
gereja Laodekia itu sendiri di topik kita hari ini, dan kemungkinan di dua
topik lagi setelah ini, untuk benar-benar mempelajari bacaan ini secara detail.
It says in Revelation 3 and beginning at verse 14, the following:
“14 And to the angel of the church of the Laodiceans write, ‘These things says the Amen, the Faithful and True Witness, the Beginning of the creation of God: 15
’I know your works, that you are
neither cold nor hot. I could wish you were cold or hot. 16 So then, because you are lukewarm, and neither cold nor hot, I will vomit you out of My mouth. 17 Because you say, ‘I am rich, have become wealthy, and have need of nothing’—and
do not know that you are wretched, miserable, poor, blind, and naked— 18 I counsel you to buy from Me gold refined in
the fire, that you may be rich; and white garments, that you may be
clothed, that the
shame of your nakedness may not be revealed; and anoint your eyes with eye
salve, that you may see. 19 As many as I love, I rebuke and chasten. Therefore be zealous and repent. 20 Behold, I stand at the door and knock. If anyone hears My voice and opens the door, I will come in to him and dine with him, and he with Me. 21 To him who overcomes I will grant to sit with Me on
My throne, as I also overcame and sat down with My Father on His throne. 22 He who has an ear, let him hear what the Spirit says to the
churches.” This is the message to the Laodicean
church.
Dikatakan
di Wahyu 3 dan mulai dari ayat 14, demikian, “14
Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Laodikia, ‘Inilah yang dikatakan Sang Amin, Saksi yang Setia dan
Benar, Pemula dari ciptaan Allah: 15 Aku tahu
segala pekerjaanmu, bahwa engkau tidak
dingin maupun panas. Sekiranya saja engkau dingin atau panas! 16 Jadi karena
engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau
dari mulut-Ku. 17 Karena engkau berkata: ‘Aku kaya, telah menjadi berkelimpahan dan tidak
kekurangan apa-apa’, dan tidak tahu bahwa engkau malang, menyedihkan, miskin, buta dan telanjang, 18 Aku
menasihatkan engkau, supaya membeli dari Aku emas yang telah dimurnikan dalam
api agar engkau boleh menjadi kaya; dan juga pakaian putih, supaya engkau boleh berpakaian
agar ketelanjanganmu yang memalukan jangan kelihatan, dan minyakilah matamu dengan salep mata,
supaya engkau boleh melihat. 19 Seberapa banyak yang Kukasihi, Aku tegur dan hajar. Sebab itu bersemangatlah dan bertobatlah! 20
Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetuk; jikalau ada orang yang mendengar
suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk ke
tempatnya dan makan malam bersamanya dan ia bersama-Ku. 21 Kepada dia yang menang akan Aku karuniakan
untuk duduk bersama-sama dengan Aku di atas
takhta-Ku sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan
Bapa-Ku di atas takhta-Nya. 22 Siapa bertelinga, hendaklah ia
mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat." Inilah
pesan kepada gereja Laodekia.
Now as we examine this
passage, we notice that it has five distinct parts and we're going to
take a look at each one of these parts.
1. First of all we have the Person
who delivers the message, and I'll just give you the verses.
For those of you who have your Bibles,
the person who delivers the message is
mentioned in chapter 3:14 and 15a. In other words the first part of verse 15
deals with the deliverer of the message.
2. The second part is the
diagnosis of the disease, and basically that's found in chapter 3:15b
through verse 17. In other words, it's the diagnosis of the illness or the
sickness of Laodicea.
3. In the third place we have the
remedy for the sickness or the illness of Laodicea. And that's found in
chapter 3:18.
4. In the fourth place we have the
reason for the message to the Laodiceans, that's found in Revelation
3:19 and 20.
And of course the reason is that
Jesus loves His church and therefore He rebukes His church.
5. And finally in the fifth place we have the reward for those who pay heed to the message to the
Laodicean church.
So we have the deliverer of the message, we have the diagnosis
of the disease, we have the remedy for the disease, we have the reason why the True
Witness gives this message, and finally we have a mention of the reward in Revelation
3:21.
Nah, ketika
kita memeriksa bacaan ini, kita melihat bahwa ada lima bagian yang berbeda dan
kita akan menyimak setiap bagiannya.
1. Pertama
ada Pribadi yang
menyampaikan pesan, dan saya hanya akan memberi kalian ayat-ayatnya.
Bagi kalian yang membawa Alkitab, yang menyampaikan pesannya disebutkan di
pasal 3:14 dan 15a. Dengan kata lain, bagian pertama dari ayat 15 berkaitan
dengan yang menyampaikan pesan itu.
2. Bagian
kedua adalah diagnosa
penyakitnya, dan pada dasarnya ini ada di pasal 3:15b hingga ayat
17. Dengan kata lain ini adalah diagnosa penyakit Laodekia.
3. Di
tempat ketiga itu obat
bagi penyakit Laodekia. Dan itu ada di pasal 3:18.
4. Di
tempat keempat itu alasan
diberikannya pesan itu kepada gereja Laodekia.
Itu ada di Wahyu 3:19-20. Dan tentu saja alasannya
ialah Yesus mengasihi gerejaNya dan oleh karena itu Dia menegur gerejaNya.
5. Dan
akhirnya di tempat kelima ada hadiah bagi mereka yang memperhatikan pesan kepada gereja
Laodekia ini.
Jadi
ada yang menyampaikan pesan, ada diagnosa penyakitnya, ada obat untuk penyakit
itu, ada alasan mengapa Saksi yang Benar memberikan pesan ini, dan akhirnya ada
disebutkan pahalanya di Wahyu 3:21.
Now before we actually get into study this passage itself, there
are some things that I need to share with you about the Church of Laodicea.
1. First of all we all know that in Revelation chapter 2 and 3 we
have seven churches, and of course these seven
churches represent seven stages of the history of the Christian church.
In fact I would like to read a
statement that we find in Acts of the Apostles
page 585 where we're told that these seven churches represent seven
successive periods in the history of the Christian church. And by the way what
Ellen White says in Acts of the Apostles is
nothing revolutionary or new, because most conservative
biblical scholars agree that the seven churches represent seven successive
stages of the history of the Christian Church from the days of the Apostles
till the end of time.
This is what Ellen White has to say, “The names of the 7 churches are symbolic of the church in
different periods of the Christian era. The number 7 indicates completeness,
and is symbolic of the fact…” now listen to this, “…that the messages extend to the end of time, while the
symbols used reveal the condition of the church at different periods in the history of the world.”
So according to Ellen White, the
seven churches represent seven successive stages of the history of the
Christian Church, from Apostolic times till the very end of time. Now what this
means is that, Laodicea being the
seventh church must be the last church,
because after number seven there are no more; which means that the Laodicean
church must be the end-time church. It must be the last Church before the close of probation. I guess
that would mean that the Laodicean message applies directly to the church today.
2. Now another point that I want to underline concerning the
Laodicean message is that this message is being delivered as the judgment is transpiring.
You say, “Why is that?” Simply
because the name “Laodicea” comes from
two Greek words: one is λαός [laos lah-os'] which means “people” and the other root word is δίκη [dikē] which means “to judge”. In other
words if you put those two words together, the name Laodicea means “judging the people” or “the judgment of the people”.
Now we all know that the Judgment
began on October 22, 1844, which means that the Laodicean church is a church
which rises after this date, because it is the church of the judgment, it's the church that is being divided between the
righteous and the unrighteous in the Heavenly judgment. And so it's a
very important message because the message will determine whether you will be
on the Lord's side or whether you will not be on the Lord's side.
3. The third point that I want to emphasize concerning the message
to the Laodiceans is that this message
is so important that it will actually lead
to the shaking in the church.
Now I'm sure we've all heard about the sifting or the shaking. Basically
the idea is that most of the people who are
now within the Seventh Day Adventist Church will end up leaving the Seventh Day
Adventist Church. That is a sobering
fact. In fact Ellen White
says that, that “people will leave like the blowing leaves of
autumn.” She says that that “there's not one in 100 in the remnant church today who will be able to close their history successfully, if history closed today.” That is a sobering fact. This message is so important that it's going to lead to the
sifting or the shaking out of those who are unfaithful among
God's people.
In fact allow me to read you a statement from Early Writings page 270 where we are told this by the Lord's
messenger. She says this, “I asked
the meaning of the shaking I had seen, and was shown that it would be caused by
the straight testimony called forth by the counsel of the True Witness to the
Laodecians…” so what is it
that's going to cause the shaking? According to this, It is the message of the True
Witness to the Laodiceans. She continues saying, “…This
will have its effect upon the heart of the receiver, and will lead him to exalt
the standard and pour forth the straight truth. Some will not bear this
straight testimony. They will rise up against it, and this will cause a shaking
among God’s people...”
So this message is so important because
it's going to determine whether you remain with the remnant church, or whether
you leave the remnant Church.
4. Another important detail about the Laodicean church is that,
this is the only church in Revelation 2 and 3
which Jesus says nothing good about.
All of the previous six churches,
Jesus has some word of commendation, He has something good to say about that
church. But when it comes to the Church of Laodicea Jesus has nothing good to
say about Laodicea. He has no commendation, which means that the Church of Laodicea must be in a dire
state, it must be in a terrible condition,
to not have even one positive thing said about it by Jesus. It must have a very, very, serious disease, which
is deadly.
Now it's interesting to notice that
the pioneers of the Adventist Church ~ those who lived shortly after 1844 ~
believe that they were the Philadelphian church, the church of Brotherly Love. Of
course, what they believed was soon shattered by the servant of the Lord. Shortly
after 1844, actually it was in 1856 Ellen White wrote a testimony which is
found in Vol. 3 of The Testimonies and she
said, “Folks, let's not deceive ourselves with the
idea that we are the Church of Philadelphia, that we are the Church of
Brotherly Love,” she says. “We are the Church of
Laodicea.” And she said this shortly after 1844.
What would she say today?
Allow me to read you a couple of her
statements where she speaks about this
message applying specifically to us, to
the 7th Day Adventist Church, because many of our pioneers said, “Well,
you know this message is perfect for the Methodists, this is a wonderful
message for the Presbyterians, and for the Lutherans, and for the Roman
Catholics, you know, but it doesn't really apply to us because we're the Church
of Brotherly Love.” Ellen White shook them up when she said, “No way! We
are the Laodicean church.”
First statement Selected Messages Vol. 2 page 66, she says this, “The message to the Laodecians is applicable
to Seventh Day Adventists who have had great light and have not walked in the
light….” How could you be more explicit than that? She uses the
name “Seventh Day Adventists”. It applies to us! Let's not deceive ourselves
into thinking that it applies to all of the other churches. Let's take it to
heart that God is speaking about our church.
In Vol. 7 of the Bible Commentary page 959 we find this
additional statement about the identity of the Church of Laodicean. She says, “The message to the church of the Laodiceans
applies especially to the people of God today…”
I'm going to read that again,
“The message to the church of the Laodiceans applies especially to the people of God
today. It is a message to professing Christians who
have
become so much like
the
world
that
no difference can
be
seen….”
Now folks, this message to
the Laodiceans has incredible power. It has power to bring revival and reformation to the Seventh Day Adventist
Church such as never has been seen before; but it also has the potential to
cause tremendous division. It is a powerful message.
Nah
sebelum kita masuk ke pelajaran ayat-ayat itu sendiri, ada beberapa hal yang
perlu saya bagikan kalian tentang gereja Laodekia.
1. Pertama,
kita semua tahu bahwa di Wahyu pasal 2
dan 3 ada gereja-gereja (jemaat-jemaat/sidang-sidang), dan tentunya ketujuh gereja di
sana mewakili tujuh
tahap dalam sejarah gereja Kristen.
Saya ingin membacakan sebuah pernyataan yang ada di
Acts of the Apostles hal. 585 di
mana kita diberitahu bahwa ketujuh gereja ini mewakili tujuh periode secara
berturut-turut dalam sejarah gereja Kristen. Dan apa yang dikatakan Ellen White
di Acts of the Apostles bukan
sesuatu yang revolusioner atau baru, karena kebanyakan pakar Alkitab yang konservatif setuju bahwa
ketujuh gereja itu mewakili tujuh tahap suksesif sejarah gereja Kristen dari
zaman para rasul hingga akhir zaman.
Inilah yang dikatakan Ellen White, “Nama ketujuh jemaat
tersebut merupakan simbol dari gereja di zaman-zaman
yang berbeda dari era Kekristenan. Angka
7 menunjukkan keseluruhan dan merupakan
simbol dari fakta…” sekarang
dengarkan ini, “…bahwa pekabaran-pekabaran itu berlaku terus hingga akhir
zaman, sementara simbol-simbol yang
dipakai itu mengungkapkan kondisi gereja
pada masa-masa yang berbeda dalam sejarah dunia.”
Jadi menurut Ellen White, ketujuh gereja mewakili
tujuh tahap suksesif sejarah gereja Kristen, dari zaman para rasul hingga akhir
zaman. Nah, apa yang dimaksud dengan ini ialah, karena Laodekia itu gereja
yang ketujuh, itu pasti gereja
yang terakhir, karena setelah angka 7, sudah tidak ada lagi yang
lain; yang mana berarti gereja Laodekia haruslah gereja akhir zaman. Itu
pastilah gereja yang terakhir sebelum pintu kasihan menutup. Maka, menurut saya itu
berarti pesan kepada Laodekia berlaku langsung kepada gereja hari ini.
2. Nah,
poin yang lain yang mau saya garisbawahi tentang pekabaran kepada Laodekia
ialah, pekabaran tersebut disampaikan selagi penghakiman sedang terjadi.
Kalian berkata, “Kok bisa?” Semata-mata
karena nama “Laodekia” berasal
dari dua kata Greeka: satu ialah
λαός [laos lah-os'] yang berarti “orang-orang” (atau
umat) dan dan akar kata yang lain ialah δίκη [dikē] yang berarti “menghakimi”. Dengan
kata lain, jika kedua kata itu digabungkan, nama Laodekia berarti “menghakimi orang-orang” atau “penghakiman
atas orang-orang”.
Nah kita semua tahu bahwa penghakiman dimulai pada
22 Oktober 1844, yang berarti bahwa gereja Laodekia adalah gereja yang muncul
setelah tanggal ini, karena dia adalah gereja penghakiman, dialah gereja yang terbagi antara yang benar dan yang tidak benar dalam
penghakiman Surgawi. Maka ini adalah pesan yang sangat penting
karena pesan ini akan menentukan apakah kita akan berada di pihak Tuhan atau
kita tidak akan berada di pihak Tuhan.
3. Poin
ketiga yang mau saya tekankan mengenai pesan kepada gereja Laodekia ialah bahwa
pesan ini
begitu pentingnya, dia akan
benar-benar mengakibatkan sebuah penggoncangan dalam gereja.
Nah, saya yakin kita semua sudah pernah mendengar
tentang pengayakan atau penggoncangan. Pada dasarnya konsepnya ialah kebanyakan orang-orang yang
sekarang ada di dalam gereja MAHK akan meninggalkan gereja MAHK. Ini fakta
yang membuat kita sadar. Malah Ellen White mengatakan bahwa “orang-orang akan meninggalkan gereja seperti
daun-daun musim gugur yang diterbangkan.” Dia mengatakan bahwa “tidak satu dari antara 100 (1895) [ dari antara 20 (1893)] umat
gereja yang sisa hari ini yang akan bisa menutup sejarah mereka dengan sukses, andai
sejarah ditutup hari ini.” Ini adalah fakta yang membuat kita sadar. Pekabaran ini begitu pentingnya
sehingga ini akan mengakibatkan suatu pengayakan atau penggoncangan, keluarnya
mereka yang tidak setia dari antara umat Allah.
Izinkan
saya membacakan sebuah pernyataan dari Early Writings hal. 270 di mana kita diberitahu ini oleh
utusan Tuhan. Ellen White berkata ini, “Aku
menanyakan makna pengayakan yang aku lihat, dan ditunjukkan bahwa itu akan
diakibatkan oleh kesaksian tegas yang disampaikan melalui teguran Saksi yang
Benar kepada jemaat Laodekia…” jadi apa yang akan
mengakibatkan pengayakan itu? Menurut ini, itu adalah pesan dari Saksi yang
Benar kepada gereja Laodekia. Ellen White melanjutkan berkata, “…Ini
akan berdampak pada hati orang yang menerimanya, dan akan membawanya untuk
meninggikan standar dan mencurahkan kebenaran yang hakiki. Ada yang tidak mau
menerima kesaksian ini, mereka akan
bangkit melawannya, dan ini akan menyebabkan suatu pengayakan di antara umat
Tuhan…”
Jadi pekabaran ini begitu penting karena dia akan
menentukan apakah kita akan tinggal bersama gereja umat yang sisa atau apakah
kita akan meninggalkan gereja umat yang sisa.
4. Detil
penting lainnya tentang gereja Laodekia ialah, inilah satu-satunya gereja di Wahyu 2 dan 3 yang tidak
disebutkan oleh Yesus satu pun kebaikannya.
Semua enam gereja sebelumnya, mendapat kata-kata
pujian dari Yesus, Dia ada mengatakan sesuatu yang baik tentang gereja-gereja
itu. Tetapi ketika tiba di gereja Laodekia Yesus tidak mengatakan apa pun yang
baik tentang Laodekia. Yesus tidak punya pujian, berarti gereja Laodekia ini tentunya
dalam kondisi yang parah, dia tentunya dalam kondisi yang sangat buruk, untuk
sama sekali tidak mendapatkan satu pun kata yang positif dari Yesus. Tentunya
gereja ini punya
penyakit yang amat sangat serius, yang mematikan.
Nah menarik untuk disimak bahwa para pionir gereja
Advent ~ mereka yang hidup tidak lama setelah 1844 ~ meyakini bahwa mereka
adalah gereja Filadelfia, gereja Kasih Persaudaraan. Ternyata apa yang mereka
yakini segera dihancurkan oleh hamba Tuhan. Tidak lama setelah 1844, tepatnya
itu di tahun 1856 Ellen White menulis suatu kesaksian yang ada di The Testimonies Vol. 3 dan dia berkata, “Saudara-saudara,
janganlah kita menipu diri sendiri dengan pendapat bahwa kita adalah gereja
Filadelfia, bahwa kita adalah gereja Kasih Persaudaraan,…” katanya, “…Kita
adalah gereja Laodekia.” Dan Ellen White
mengatakan ini tidak lama setelah 1844. Apa yang akan dikatakannya hari ini?
Izinkan saya membacakan beberapa pernyataannya, di
sini dia berbicara bahwa pesan
ini berlaku secara spesifik kepada kita, kepada gereja MAHK, karena banyak dari
pionir kita yang mengatakan, “Nah, pesan ini cocok untuk golongan Methodist, ini
adalah pesan yang bagus untuk golongan Presbyterian, dan bagi golongan Lutheran,
dan bagi golongan Roma Katholik, tetapi ini tidak benar-benar berlaku bagi kita
karena kita adalah gereja Kasih Persaudaraan.” Ellen White mengguncang
mereka ketika dia berkata, “Keliru! Kitalah gereja Laodekia.”
Pernyataan pertama Selected Messages Vol. 2 hal. 66, dia
berkata demikian, “Pesan kepada jemaat Laodekia,
ditujukan kepada MAHK yang telah memiliki terang besar, namun tidak berjalan di
dalam terang itu….” Apa masih bisa lebih eksplisit daripada ini? Ellen
White memakai nama “MAHK”. Ini berlaku bagi kita! Marilah jangan kita menipu
diri sendiri dengan berpikir bahwa itu berlaku kepada semua gereja lain.
Masukkanlah hati bahwa Allah sedang bicara kepada gereja kita.
Di The Bible Commentary Vol. 7 hal. 959 kita temukan pernyataan tambahan
tentang identitas gereja Laodekia. Kata Ellen White, “…Pekabaran kepada gereja Laodekia terutama berlaku bagi umat
Allah hari ini…” saya akan mengulanginya, “…Pekabaran
kepada gereja Laodekia terutama berlaku bagi umat Allah hari ini. Itu adalah
suatu pekabaran kepada yang mengaku Kristen yang telah menjadi begitu mirip
dunia hingga tidak tampak perbedaannya.”
Nah,
Saudara-saudara, pekabaran kepada Laodekia ini punya
kuasa yang luar biasa. Dia punya kuasa untuk mendatangkan
kebangunan rohani dan reformasi bagi gereja MAHK seperti yang belum pernah
terjadi sebelumnya; tetapi dia juga punya potensi untuk mengakibatkan
perpecahan besar. Ini adalah pekabaran yang penuh kuasa.
In 1978 our family was living in Quincy, Illinois, where I was
pastoring the Quincy and Warsaw churches, you know that’s strong Mormon country
up there. The reorganized Mormon church primarily is up in Warsaw. But anyway while
we were pastoring there, I received a call to go and teach theology in the city
of Medellin Colombia, at our 7th Day Adventist University down there. And so we
prayed, and we asked the Lord what His will was. And being that the Lord has
given me the gift of teaching ~ I don't say that boastfully, but it's reality ~
I decided along with my wife and family that we would take the call and go and
teach down at our school in Colombia.
When I arrived at the Theology Department I soon saw that there
were serious troubles. One of the colleagues of the Theology Department was
causing all sorts of problems for the school, and for the organized church. He
was criticizing the leaders of the denomination, he was criticizing the
organization, and he was causing division among the churches in the Colombia,
Venezuela Union. Soon entire churches began taking sides. Family members
against family members, members that had loved one another before, now were at
odds and were fighting against each other because some were in favor of the denomination,
some were in favor of the leadership, and others were against the leadership,
and against the organized structure of the church. Things became terrible. You
know, sometimes the air was so thick you could almost cut it with a knife, it
was really, really bad. Not only in the environment of the institution, but in
many of the churches throughout the whole Union.
There was one church in a region of Colombia which had very
severe problems. This church was called the Redemption Church in the city of Bucaramanga,
which by the way, I'm invited to be there next May for a weeklong series of
meetings. They're going to have a a huge Evangelistic series in the city, in a coliseum
there. This church was in terrible condition. I mean the church members were
fighting one another. Most of the church in fact was against the organized
church, and they were against the leadership of the church. So the Union asked
me to go and have a week of prayer at this church, to see if something could be
done. I don't think they had very many hopes, because many of the leaders had
been to that church, and they had been run out of the church almost physically.
But they figured, this is a young guy, you know, and we can use him kind of
like a scapegoat. He can go and they'll beat up on him, they won't beat up on
us anymore. I don't know exactly the reason why they sent me, but I was a young
guy, didn't have a lot of experience. So I went to that church to have a week
of prayer, to do a little bit of troubleshooting.
Di
tahun 1978, keluarga kami tinggal di Quincy, Illinois, di mana saya
menggembalakan gereja di Quincy dan Warsaw, kalian tahu di situ tempat kekuatan
kelompok Mormon. Gereja Mormon terutama ada di Warsaw. Begitulah, sementara
kami menggembala di sana, saya menerima telepon untuk pergi dan mengajar
theologi di kota Medellin Colombia di universitas MAHK kita di sana. Maka kami
berdoa dan kami bertanya kepada Tuhan apa kehendakNya. Dan karena Tuhan telah
memberi saya talenta untuk mengajar ~ saya tidak menyombong mengatakan ini,
tapi itu kenyataan ~ saya bersama dengan istri dan keluarga saya memutuskan
untuk menerima panggilan tersebut dan pergi ke sana untuk mengajar di sekolah
kita di Colombia.
Ketika
saya tiba di Departemen Theologia, segera saya lihat bahwa ada masalah serius
di sana. Salah satu kolega Departemen Theologia menimbulkan segala macam
masalah bagi sekolah dan bagi gereja yang resmi. Dia mengkritik para pimpinan
denominasi, dia mengkritik organisasi, dan dia menimbulkan perpecahan di antara
gereja-gereja di Colombia, di Uni Venezuela. Dalam waktu singkat gereja-gereja
mulai terpecah. Anggota keluarga melawan anggota keluarga, anggota-anggota yang
tadinya saling mengasihi sekarang bermusuhan dan berseteru satu sama lain
karena ada yang memihak denominasi, ada yang memihak pimpinan, dan yang lain
melawan pimpinan, dan melawan struktur yang terorganisasi dari gereja. Kondisi
menjadi sangat buruk. Terkadang udaranya terasa begitu berat, seolah-olah bisa
dipotong dengan pisau. Memang sangat-sangat buruk. Bukan hanya di lingkungnan
institusi, tetapi di banyak gereja yang ada di seluruh Uni.
Ada
sebuah gereja di daerah Colombia itu yang punya masalah sangat parah. Gereja
ini bernama the Redemption Church di kota Bucaramanga ~ dan
kebetulan saya diundang ke sana nanti di bulan Mei untuk seri satu minggu
pertemuan, mereka akan mengadakan seri penginjilan besar di kota itu di sebuah
stadion yang besar di sana. Nah, gereja ini waktu itu kondisinya parah.
Anggota-anggotanya bertengkar satu sama lain. Kebanyakan gereja faktanya
menentang gereja yang resmi, dan mereka menentang kepemimpinan gereja itu. Jadi
Uni mengirim saya ke sana untuk mengadakan satu minggu berdoa di gereja ini,
untuk melihat apa yang bisa dilakukan. Saya kira mereka tidak berharap banyak,
karena sudah banyak pimpinan yang ke gereja itu dan mereka praktis secara fisik
diusir keluar dari sana. Tetapi mereka pikir ini orang muda, ini bisa kami
pakai sebagai semacam kambing hitam. Dia bisa ke sana dan mereka akan
menggempurnya, sehingga mereka tidak akan menggempur kami lagi. Saya tidak tahu
alasan persisnya mengapa mereka mengirim saya, tetapi saya masih muda, tidak
punya banyak pengalaman. Jadi saya pergi ke gereja itu untuk satu minggu
berdoa, untuk melakukan sedikit pembenahan masalah.
Why, well do I remember the first evening that I got up to preach,
the church was full of stony faces, that is. You could tell that people were
openly hostile, the majority of them anyway. Second night just slightly better.
Third night just a little bit better. But all throughout the course of the week,
the people were ~ you could tell ~ they were very angry, they were at odds with
each other, they were fighting. Some of them even hated one another within that
church. Finally the Friday evening meeting came, and that evening I decided to
preach the message that I am preaching today, and that we most likely will be
looking at in the next two sessions that we're going to have together. I
decided to preach the message to the Laodicean church.
Nah,
saya sangat ingat malam pertama saya berdiri untuk berkhotbah itu, gereja itu
penuh dengan wajah-wajah yang membatu. Bisa segera dikenali bahwa orang-orang
itu bersikap bermusuhan secara terbuka, mayoritas mereka, setidaknya. Malam
kedua sedikit lebih baik. Malam ketiga, sedikit lebih baik. Tetapi sepanjang
acara satu minggu itu, orang-orangnya terlihat sedang sangat marah, mereka
saling bermusuhan satu sama lain, mereka berkelahi. Ada yang bahkan saling
membenci di dalam gereja. Akhirnya tibalah saatnya pertemuan Jumat malam, dan
malam itu saya memutuskan untuk mengkhotbahkan pesan yang saya khotbahkan hari
ini, dan kemungkinan besar kita akan membahasnya dalam dua sesi lagi berikutnya
bersama-sama. Saya memutuskan untuk berkhotbah tentang pekabaran kepada gereja
Laodekia.
Interestingly enough present at that meeting without my
knowledge was the President of the Union. He was Public Enemy Number One to most
of the people in this church. I think Mary Melton knows who it was, it was Luis
Flores who was the President of the Union at that time, and I didn't know he
was going to be there. In fact he got there late and the church was so packed, it
was so full, there were people outside the front door, and they were sitting on
the steps, there were people standing in the windows, and I didn't know that he
was there.
Well, anyway I preached the message, and I told the folks, “Listen,
both of you, both of the groups that are here, those that are pro
organized work, and those who are against organized work. Both of you are
Pharisees, both groups are Pharisees,” I said in my sermon, and of course I
could see some eyebrows rising when I said that. And I said, “…you want me
to tell you why? The reason why is because those who are within the church
structure say, ‘I thank you, Lord, that I'm not like those who are against the
denomination.’ And those who are outside are saying, ‘Lord I'm thankful that
I'm not in apostasy like those who belong to the denomination.’…” I said. “…In
other words, both of you have your hearts filled with pride, and as a result
the church is divided, and God cannot bless the church.” Basically, I told
them, that they needed to accept the message to the Laodiceans, if the church
was not going to fragment itself and disappear.
Yang
menarik, hadir di pertemuan itu tanpa sepengetahuan saya, Presiden Uni. Dia
adalah musuh nomor wahid bagi sebagian besar jemaat di gereja ini. Saya rasa
Mary Melton tahu siapa dia. Dia adalah Luis Flores, yang pada saat itu menjabat
Presiden Uni, dan saya tidak tahu dia akan hadir di sana. Faktanya, dia datang
terlambat dan gereja begitu penuh sesak, ada orang-orang di luar pintu depan,
dan mereka duduk di anak-anak tangga, ada orang-orang yang berdiri di
jendela-jendela, dan saya tidak tahu dia ada di sana.
Nah,
saya membawakan pesannya, dan saya memberitahukan mereka, “Dengarkan,
kalian kedua-duanya, kedua kelompok yang ada di sini, mereka yang pro pekerjaan
organisasi, dan mereka yang menentang pekerjaan organisasi, kalian kedua-duanya
adalah orang-orang Farisi, kedua kolompok ini adalah Farisi,” kata saya
dalam khotbah itu. Dan tentu saja saya melihat beberapa alis terangkat ketika
saya berkata demikian. Dan saya berkata, “…kalian mau saya beritahu
mengapa? Alasannya ialah karena mereka yang ada dalam struktur gereja berkata,
‘Aku bersyukur, Tuhan, aku tidak seperti mereka yang menentang denominasi.’ Dan
mereka yang ada di luarnya berkata, ‘Tuhan, aku bersyukur aku tidak murtad
seperti mereka yang ikut denominasi.’…” kata saya. “…Dengan kata lain,
kalian sama-sama memenuhi hati kalian dengan keangkuhan, dan sebagai akibatnya
gereja terpecah, dan Allah tidak bisa memberkati gereja ini.” Pada dasarnya
saya katakan kepada mereka bahwa mereka perlu menerima pesan kepada Laodekia,
jika mau gereja itu tidak akan pecah sendiri berkeping-keping dan lenyap.
I'd like to tell you that at that meeting I felt the presence of
the Holy Spirit such as I have never felt it in all of my ministry before that
time, and after that time. It was like there was electricity in the air, and
there was, because the Holy Spirit was present in power. Suddenly as I was
coming to the end of the sermon, one church member would raise his hand and say,
“Pastor, I need to say something!”
And I knew that this one was one of the individuals against the
leaders and against the organization. So I felt a little bit of fear. But the
Lord impressed me to let the person speak.
And the person would start saying, you know, “I need to take this message to
heart, and I believe that God is speaking to my heart.” And then this
person would address somebody else in the congregation with whom they were at
odds, and that person would get up and come to the individual who was speaking,
and they would embrace with tears streaming down their cheeks.
It was the most impressive thing. And I wanted to end the
meeting because I've been preaching for about an hour and 15 minutes, but they
wouldn't let me.
Another person would stand and and say, “Please, Brother so
and so, forgive me for what I've done.”
And you just had one person right after another standing and
begging forgiveness of one another. Family members who had been at odds, who
you thought would never be reconciled, now were reconciling.
Saya
mau katakan bahwa di pertemuan itu saya merasakan kehadiran Roh Kudus yang
seperti itu belum pernah saya rasakan di seluruh ministri saya sebelumnya dan
juga sesudah waktu itu. Sepertinya ada listrik di udara, dan memang ada, karena
Roh Kudus hadir dalam kuasa.
Tiba-tiba
ketika saya mendekati akhir dari khotbah, satu anggota gereja mengangkat
tangannya dan berkata, “Pastor, saya mau mengatakan sesuatu!”
Dan
saya tahu bahwa orang ini adalah salah satu yang menentang para pemimpin dan
menentang organisasi. Jadi saya merasa sedikit khawatir. Tetapi Tuhan memberi
kesan kepada saya untuk membiarkan orang ini bicara.
Dan
orang itu berkata, “Saya perlu memasukkan pesan ini ke dalam hati, dan
saya percaya Allah sedang berbicara kepada hati saya.” Kemudian orang ini
menyebut orang yang lain di dalam perkumpulan itu dengan siapa dia bermusuhan,
dan orang itu berdiri dan datang kepada dia yang sedang berbicara, dan mereka
berpelukan dengan air mata mengalir menuruni pipi mereka. Itu adalah hal yang
paling mengesankan.
Dan
saya ingin mengakhiri pertemuan itu karena saya suah berkhotbah selama satu jam
dan 15 menit, tetapi mereka tidak mengizinkan. Orang lain berdiri dan berkata,
“Saudara si Anu, mohon maafkan saya untuk segala perbuatan saya.” Dan satu
demi satu orang berdiri dan saling minta maaf dan memaafkan. Anggota keluarga
yang tadinya bermusuhan, yang tidak kita bayangkan bisa berbaikan lagi,
sekarang berbaikan kembali.
Suddenly ~ and I think I can mention his name, Juan Oviedo who was
from a certain region in Colombia, and he had actually moved there to the city
of Bucaramanga, he was the ring leader of those who were against the
denomination, I knew that throughout the course of the week. He stood up, and
he said, “I want to speak.”
And when he raised his hand, I had serious misgivings about him
saying anything, because I knew that he was militantly against the leaders, and
he was militantly against the organization. But the Lord impressed me to let
him speak.
And so he said, “Pastor, I don't want to speak here from the
congregation, I want to come up to the pulpit, and I want to speak from the
pulpit.”
So I stepped aside and Juan came up to the pulpit and tears
streaming down his cheeks. I mean it was just like, just like a waterfall of
tears coming down his cheeks. And he said, “Pastor Flores, I know that you
are here this evening and I want you to please come forward.”
And so Pastor Flores kind of worked his way through all of the
multitude that was there, and he came to the front. Of course, I'm sure he had
his misgivings also, because he was Public Enemy Number One, he was actually
despised and hated by this group.
And Juan Oviedo said, “Pastor Flores, I want to say I'm
deeply sorry for everything that I've said about you, and for the way that I've
warred against you, and the way that division has been caused in this church,
and in the other churches of the Union. Please Pastor, can you forgive me?” And
he gave the Union President a big hug.
And the Union President was shedding tears also down his cheeks.
It was the most marvelous electric moment that I have ever seen
in my ministry. I've seen other manifestations but never the intensity of this
meeting. The result was that the church had a tremendous revival and reformation.
Hearts were changed by the power of the Holy Spirit. Hearts were broken,
selfishness was set aside, and the church became a united church.
At that time they had approximately 400 members, I've had the
privilege of returning to that church several times since that meeting, and
there are church members that still remember, they say, “Pastor, we still
remember that meeting where you preached on the Laodicean message, and the Lord
through His power turned this church around.” And they say the church is
thriving, the church is alive, the church is missionary minded. There are many
people that are coming to a knowledge of the the truth as a result of the
witness of the church.
Tiba-tiba
~ dan saya rasa saya boleh menyebutkan namanya ~ Juan Oviedo, dari salah satu
daerah di Colombia yang pindah ke kota Bucaramanga, dialah kepala kelompok
mereka yang menentang denominasi, ini saya ketahui dari pertemuan sepanjang
minggu itu. Dia berdiri dan dia berkata, “Saya mau bicara.”
Dan
ketika dia mengangkat tangannya, saya punya kekhawatiran besar dia akan
mengatakan apa-apa, karena saya tahu dia sangat militan menentang para
pemimpin, dan dia sangat militan menentang organisasi. Tetapi Tuhan memberi
kesan kepada saya untuk membiarkan dia bicara.
Maka
dia berkata, “Pastor, saya tidak mau bicara di sini dari bangku
jemaat, saya mau naik ke mimbar, dan saya mau bicara dari mimbar.”
Jadi
saya minggir, dan Juan naik ke mimbar dan air matanya mengalir deras di
pipinya, seperti air terjun air matanya mengalir turun di pipinya. Dan dia
berkata, “Pastor Flores, saya tahu Anda ada di sini malam
ini, dan saya mohon Anda mau maju ke depan.”
Maka
Pastor Flores dengan susah payah mencari jalan di antara orang banyak yang ada
di sana dan dia datang ke depan. Saya yakin, tentu dia juga punya rasa waswas,
karena dia itu musuh besar nomor wahid, dia dipandang hina dan dibenci oleh
kelompok ini.
Dan
Juan Oviedo berkata, “Pastor Flores, saya mau katakan, saya sangat
menyesal untuk segala yang telah saya katakan tentang Anda, dan untuk cara saya
memerangi Anda, dan oleh karenanya telah mengakibatkan perpecahan dalam gereja
ini, dan di gereja-gereja lain di Uni. Maukah Pastor memaafkan saya?”
Dan
dia memeluk erat-erat Presiden Uni itu. Dan Presiden Uni juga menangis. Itu
adalah momen yang paling indah dan menarik yang pernah saya lihat dalam
ministri saya. Saya pernah melihat manifestasi-manifesstasi lain tetapi tidak
pernah dengan intensitas pertemuan ini.
Hasilnya
gereja mengalami kebangunan rohani dan reformasi yang luar biasa. Hati-hati
diubahkan oleh kuasa Roh Kudus. Hati-hati dipatahkan. Keegoisan disingkirkan,
dan gereja menjadi gereja yang bersatu.
Pada
waktu itu mereka punya sekitar 400 anggota. Saya punya kesempatan kembali ke
gereja itu beberapa kali sejak saat itu, dan masih ada anggota jemaat yang
ingat, mereka berkata, “Pastor, kami masih ingat pertemuan itu di mana
Anda mengkhotbahkan pesan Laodekia, dan Tuhan melalui kuasaNya telah
memutarbalik gereja ini.” Dan mereka berkata bahwa gereja ini bertumbuh,
gereja ini hidup, gereja ini terlibat penginjilan. Banyak orang yang mendapat
pengetahuan kebenaran sebagai akibat kesaksian gereja ini.
Folks, the Laodicean message has power. When the Laodicean
message is applied to my life, not to his life, not to the Methodist’s life,
not to the Lutheran's life, not to the Presbyterian’s life, not to the Catholic's
life, not to the Mormon’s or the Jehovah Witness’ life, but when it's applied
to my own personal life, it has power to bring revival and reformation.
Saudara-saudara,
pesan Laodekia itu punya kuasa. Ketika pesan Laodekia diaplikasikan dalam hidup
saya, bukan di hidupnya, bukan di hidup orang Methodist, bukan di hidup orang
Lutheran, bukan di hidup orang Presbyterian, bukan di hidup orang Katolik,
bukan di hidup orang Mormon atau Saksi Yehova, tetapi ketika itu diaplikasikan
dalam hidup saya pribadi, itu punya kuasa untuk mendatangkan kebangunan rohani
dan reformasi.
In Selected Messages Vol. 1 page
357 Ellen White speaks about the problem of Laodicea. Listen to this, “They have resisted His grace…”
remember this is us,
right? By the way, the visitors today, it's not you, I'm not speaking to you
now, I'm speaking to the Laodicean Fresnoites, okay? Fresno Centralites, so the
visitors that are here ~ unless you need it also, unless you know that the Lord
is speaking to your heart ~ you know, I'm not preaching at you, I want you to
understand that. She says, “They have resisted His
grace, abused His privileges, slighted His opportunities, and have been
satisfied to sink down in contentment, in lamentable ingratitude, hollow formalism,
and hypocritical insincerity…” Wow! That's
a mouthful. Being that probably you didn't catch it all, let me read it again. “…They have resisted His grace, abused His privileges, slighted His opportunities, and have been satisfied
to sink down in contentment,…” in other words, self-satisfied, “…in lamentable ingratitude, hollow formalism,
and hypocritical insincerity…” and now
notice this because we're going to come back to it later. “…With Pharisaic pride…”
with what? What does the word “pharisaic”
come from? Excuse me, from “pharisee”. So does Laodicea have a Pharisee problem?
Yes, it does. “…With Pharisaic pride they have vaunted
themselves…” what does “vaunted”
mean? Pastor Jensen you're the expert in English. They have “puffed themselves
up”, thank you very much, “…they have vaunted themselves till it has been
said of them, ‘Thou sayest, I am rich, and increased with goods, and have need of nothing.’…"
Di Selected Messages Vol. 1 hal. 357 Ellen White bicara tentang
masalah Laodekia. Dengarkan ini, “…Mereka
sudah menolak kasih karuniaNya,…”
ingat,
ini kita, benar? Nah, para tamu hari ini, ini bukan kalian, saya tidak sedang
berbicara kepada kalian sekarang, saya bicara kepada orang-orang Laodekia
Fresno, oke? Orang-orang Laodekia Fresno Central, jadi para tamu yang hadir di
sini ~ kecuali kalian juga membutuhkannya, kecuali kalian tahu bahwa Tuhan
sedang berbicara kepada hati kalian ~ nah, saya tidak berkhotbah pada kalian,
saya mau kalian paham itu. Ellen White berkata, “…Mereka sudah menolak kasih karuniaNya, menyalahgunakan
hak-hak istimewa yang diberikanNya, menganggap enteng kesempatan-kesempatan
dariNya, dan sudah merasa puas terbenam dalam kenyamanan, dalam rasa tidak
bersyukur yang menyedihkan, dalam formalisme kosong, dan ketidaktulusan yang
munafik…” Wow! Itu deskripsi yang
lengkap. Kemungkinan kalian tidak menangkap semuanya, saya akan mengulanginya
lagi. “…Mereka sudah menolak kasih
karuniaNya, menyalahgunakan hak-hak istimewa yang diberikanNya, menganggap
enteng kesempatan-kesempatan dariNya, dan sudah merasa puas terbenam dalam kenyamanan,…”
dengan kata
lain sudah puas dengan diri sendiri, “…dalam
rasa tidak bersyukur yang menyedihkan, dalam formalisme kosong, dan
ketidaktulusan yang munafik…” dan sekarang simak ini karena nanti kita akan kembali kemari, “…Dengan kesombongan Farisi…” dengan apa? Jadi apakah
Laodekia punya masalah Farisi? Ya, betul. “…Dengan kesombongan Farisi, mereka
membanggakan diri…” apa artinya “membanggakan”? Pastor Jensen Anda yang ahli bahasa Inggris.
Mereka telah membesarkan diri sendiri, terima kasih, “…mereka
membanggakan diri hingga dikatakan tentang mereka, ‘17… engkau berkata: ‘Aku kaya, dan aku telah menjadi berharta, dan tidak kekurangan apa-apa’…”
Now,
can we trust this message? We certainly can, because the One who delivers the
message is none other than Jesus Christ.
Nah, bisakah
kita mempercayai pesdan ini? Tentu saja bisa karena Dia yang menyampaikan pesan
itu tak lain adalah Yesus Kristus.
Allow me to mention the reasons why
this message you can take it to the bank. It's true, it's trustworthy, and we
better listen to it, because it's Jesus who is speaking.
· First of all, we're told in Revelation 3:14 that the One
who is speaking is “the Amen”.
Do you know what the word “amen”
means? It means “it is so”. So His very name means “It Is So”.
· Furthermore He's introduced as “the Beginning of the creation of God”,
actually a better translation would
be, “the Beginner of the creation of God”, in other words, He was the One who began the creation of
God. So if He began the creation of God do you think He knows everything about
His creatures? Absolutely! So He's not only the “It Is So” He is the “Beginner
of the creation of God”. So He knows everything about creation.
· Furthermore He’s called “the Faithful and True Witness”. No doubt about that.
· And furthermore He says, “I know your works.” In other words, “you can't hide anything from Me.”
“I'm the Amen, I'm the Beginner of
the creation of God, I'm the Faithful and True Witness.” And I know your
works.” The message can be trusted because
it's Jesus Christ Himself who is delivering the message.
Izinkan saya menyebutkan alasan mengapa pesan ini
bisa diandalkan. Pesan ini benar, bisa dipercaya, dan sebaiknya kita dengarkan,
karena yang bicara adalah Yesus.
·
Pertama, di Wahyu 3:14
kita diberitahu bahwa Dia yang berbicara adalah “Sang Amin”.
Tahukah kalian kata “amin” apa artinya? Artinya
“benar begitu”. Jadi namaNya sendiri artinya “Benar Begitu”.
·
Lebih lanjut Dia
diperkenalkan sebagai “Awal dari
ciptaan Allah”,
sebenarnya terjemahan yang lebih baik adalah “Pemula dari ciptaan Allah”, dengan kata lain, Dialah yang
memulai ciptaan Allah. Maka jika Dia yang memulai ciptaan Allah, menurut kalian
apakah Dia tahu segala sesuatu tentang makhluk-makhluk ciptaanNya? Tentu saja!
Jadi Dia bukan hanya “Sang Benar Begitu”, Dia adalah “Pemula dari ciptaan Allah” jadi Dia tahu segalanya tentang
ciptaan.
·
Lebih jauh Dia disebut “Saksi yang Setia dan Benar”. Tidak diragukan lagi.
·
Dan lebih jauh Dia berkata, “Aku tahu segala pekerjaanmu”, dengan kata lain, “kamu tidak bisa menyembunyikan
apa-apa dariKu.”
“Akulah Sang
Amin, Pemula dari ciptaan Allah, Akulah Saksi yang setia dan benar. Dan Aku
tahu pekerjaanMu.” Pesan ini bisa dipercaya karena Yesus Kristus sendirilah
yang menyampaikan pesannya.
Now,
let's talk about the disease. The disease that Laodicean suffers from. You see,
Jesus looks at Laodicea differently
than Laodicea looks at herself. It's interesting, Laodicea says, “I'm
rich”, Laodicea says “I'm luxuriantly clothed”, Laodicea says, “I
have 20/20 vision”, Laodicea says, “I am happy.”
Jesus,
on the other hand, says, “Rich? A-ah! Poor”. “Clothed? A-ah! Naked”. “20/20
vision? No way! Blind”. “Happy? Forget it! Miserable and wretched.”
How
in the world could there be two such opposite perspectives? Obviously there's
something terribly wrong with Laodicea,
she doesn't actually believe that she's sick.
Let me ask you how can you treat someone who doesn't believe he's sick? See,
why this disease is so terrible? It's because Laodicea doesn't feel sick.
Jesus
says, “You're ill, you have cancer, you have terminal cancer, you're going
to die.”
Laodicea
says, “Who, me? You’ve got to be kidding. Terminal cancer? You don't know
what You're talking about.” In other words, she feels just the opposite of
what Jesus sees her as being.
Nah, mari
kita bicara tentang penyakitnya. Penyakit yang diderita Laodekia. Kalian lihat,
Yesus memandang Laodekia berbeda dari Laodekia memandang dirinya
sendiri. Menarik. Laodekia berkata, “Aku kaya”, Laodekia berkata,
“Aku berpakaian mewah”, Laodekia berkata, “Aku punya
penglihatan 20/20”, Laodekia berkata, “Aku bahagia.”
Yesus di
pihak lain berkata, “Kaya? O, tidak! Miskin.” “Berpakaian? O, tidak! Telanjang”.
“Penglihatan 20/20? Sama sekali tidak! Buta”. “Bahagia? Lupakan saja!
Mengenaskan dan menyedihkan.”
Bagaimana kok
bisa ada dua perspektif yang begitu berlawanan? Jelas ada yang sangat salah
dengan Laodekia, dia tidak benar-benar
percaya bahwa dia sakit.
Coba saya tanya, bagaimana kita bisa mengobati orang yang tidak
menyadari dia sakit? Lihat mengapa penyakit ini begitu mengerikan? Karena
Laodekia tidak merasa sakit.
Yesus
berkata, “Kamu sakit, kamu punya kanker, kamu punya kanker tahap
terakhir, kamu akan mati.”
Laodekia
berkata, “Siapa? Aku? Engkau bergurau. Kanker terminal?
Engkau tidak tahu apa yang Kaubicarakan.”
Dengan kata
lain, Laodekia justru merasa bertolakbelakang dengan bagaimana Yesus melihat
keadaannya.
In
Vol. 3 of the Testimonies page 252 and 253
Ellen White has this to say about the self-deception of the Laodicean church. She
says, “The message of the True Witness finds the people of God in a
sad deception yet honest
in that deception….” now did you catch that? Is Laodecea
deceived? Yes. Is she honestly deceived? Let me ask you, is it
possible that you might be honestly lost? Absolutely! She's honestly deceived.
Ellen White continues saying,
“…They know not that their condition is deplorable in the sight of God.”
And
that's why Jesus gives the Laodicean message to help us see how Jesus looks at
us, not as we look at ourselves, because we have the tendency of seeing
ourselves much better than we are. So Jesus says, “Throw aside your self
evaluation, and let Me evaluate you and you can know that I'm telling you the
truth.”
Di Testimonies Vol. 3 hal. 252-253, Ellen White mengatakan ini tentang gereja Laodekia yang menipu dirinya
sendiri. Katanya, “…Pekabaran dari Saksi yang Benar mendapati
umat Allah dalam suatu ketertipuan yang menyedihkan, namun jujur dalam ketertipuan
itu…” nah, apakah kalian
menangkap ini? Apakah Laodekia tertipu? Iya. Apakah dia jujur tertipu? Coba
saya tanya, apakah mungkin kita bisa jujur tersesat? Betul sekali. Laodekia itu
benar-benar tertipu. Ellen White melanjutkan berkata, “…Mereka tidak tahu bahwa kondisi mereka itu mengenaskan
di pemandangan Allah…”
Dan itulah mengapa Yesus memberikan pesan Laodekia
ini untuk membantu kita menyadari bagaimana Yesus memandang kita, tidak
sebagaimana kita memandang diri kita sendiri, karena kita punya kecenderungan
untuk melihat diri kita jauh lebih baik
daripada yang sesungguhnya. Maka Yesus berkata, “Buang evaluasi dirimu dan biarkan Aku yang
menilaimu dan kamu akan tahu bahwa Aku mengatakan yang sebenarnya padamu.”
Now
you notice that the Church of Laodicea is lukewarm. Do you know what lukewarm
is? Lukewarm is a combination of what? Of hot and cold. In other words, Laodicea has something that is hot, and it has
something that is cold. And so you ask, what does Laodicean have that's
hot and what does Laodicea have that is cold? Just by way of example I can
remind you of the fig tree that Jesus cursed. What did the fig tree have which
was hot? The leaves. Oh, yes, it had luxuriant leaves, I mean attracted the
attention of Jesus even from afar, Scripture says. It had just wonderful leaves.
Let
me ask you what did the tree have cold? It didn't have any fruit.
In
other words, it was hot externally because it had many leaves, but it was cold
because it did not have any what? Any fruit.
Nah, kalian
sudah melihat bahwa gereja Laodekia itu suam-suam. Tahukah kalian suam-suam itu
apa? Suam-suam adalah suatu kombinasi dari apa? Dari panas dan dingin. Dengan
kata lain, Laodekia punya
sesuatu yang panas, dan punya sesuatu yang dingin. Maka kalian
bertanya, apa yang dipunyai Laodekia yang panas dan apa yang dipunyai Laodekia
yang dingin? Sebagai contoh saya bisa mengingatkan kalian pada pohon ara yang
dikutuk Yesus. Apa yang dimiliki pohon ara itu yang panas? Daun-daunnya. Oh,
ya, dia punya daun yang rimbun, yang bahkan menarik perhatian Yesus dari jauh,
menurut Kitab Suci. Dia punya daun-daun yang indah.
Coba saya
tanya apa yang dipunyai pohon itu yang dingin? Dia tidak punya buah.
Dengan kata
lain, di luarnya dia panas karena dia punya banyak daun, tetapi dia dingin
karena dia tidak punya apa? Buah apa pun.
Now let me ask you what is it that Laodicea has which is hot? Allow me to
share it with you.
· Laodicea has a rich
denominational heritage.
We have the fathers. We have Father
Miller, Father William Miller, we have Joseph Bates, we have James and Ellen
White, we have J.N. Loughborough, J.N. Andrews, among others. In other words,
we have great spiritual fathers who founded the Seventh Day Adventist Church.
· We have a great health
system with marvelous health principles which are the envy of many in
the world.
· We have the largest
Protestant parochial educational system in the world.
· We are working in over
200 countries of the world and we're baptizing thousands worldwide in a
single day.
· We have hundreds of
publishing houses which proliferate our literature on a worldwide scale.
· We have a marvelous
organizational system which spans the world,
a fantastic financial policy or
financial policies, which distribute the resources of the church, so that the
church can carry on its mission worldwide.
· We have an incomparable
belief system with solid Biblical foundations. All of our doctrine fit
together perfectly.
· We have a unique lifestyle.
We don't smoke, we don't drink, we
dress modestly (at least we used to), we don't eat pork or shrimp, we tithe our
income, we go to church on Saturday, we don't dance, we don't go to the theater.
Hello? In other words we are the peculiar people of the Lord. Externally
the Seventh Day Adventist Church looks beautiful and nice to the eye of the
beholder. But all of the form of religion and piety cannot hide an internal sickness
which we have as a people. You see, all of these things lead us many times to
be proud, to have pride, because we're hot in all of these externals. But the
question, is there an aspect of Laodicean which is cold? Yes, there is. You see,
the problem with Laodicea is not the outside, the problem with Laodicea is the
inside. You see, Laodicea outside looks nice to the beholder, has a lot to
offer, but inside Laodicean is suffering with a terrible disease. You see the disease of Laodicea, our disease, is a disease of the heart.
Sekarang coba saya tanya apa yang
dimiliki Laodekia yang panas? Izinkan saya membagikan itu kepada
kalian.
·
Laodekia punya warisan deonominasi yang kaya.
Kita punya bapak-bapak pionir. Kita punya bapak William
Miller, kita punya Joseph Bates, kita punya James dan Ellen White, kita punya
J.N. Loughborough, J.N. Andrews, di antara lainnya. Dengan kata lain, kita
punya bapak-bapak rohani yang hebat-hebat yang mendirikan gereja MAHK.
·
Kita punya sistem kesehatan yang luar biasa,
dengan prinsip-prinsip kesehatan yang bagus sekali,
yang membuat banyak orang di dunia iri hati.
·
Kita punya sistem pendidikan parokial yang
paling besar di dunia.
·
Kita bekerja di lebih dari 200 negara
di dunia,
dan kita membaptiskan ribuan orang di seluruh dunia
dalam satu hari.
·
Kita punya ratusan penerbitan
yang menyebarkan literatur kita dalam skala global.
·
Kita punya sistem organisasi yang bagus
sekali yang melintasi dunia,
kebijakan-kebijakan finansial yang fantastis yang
mendistribusikan pendapatan gereja sehingga gereja bisa melanjutkan misinya di
seluruh dunia.
·
Kita punya sistem keyakinan yang tidak ada
tandingannya, dengan fondasi Alkitabiah yang solid. Semua doktrin
kita cocok dengan sempurna satu sama lain.
·
Kita punya pola hidup yang unik.
Kita tidak merokok, tidak minum alkohol, pakaian
kita tidak norak (setidaknya tadinya begitu), kita tidak makan babi atau udang,
kita mengembalikan persepuluhan atas penghasilan kita, kita ke gereja pada hari
Sabtu, kita tidak berdansa, kita tidak ke gedung teater.
Halo? Dengan kata lain kita adalah umat
Tuhan yang unik yang terpisah dari yang lain. Secara eksternal
gereja MAHK tampak indah dan baik di mata yang memandang. Tetapi semua bentuk keagamaan
dan kesalehan tidak bisa menyembunyikan penyakit internal yang kita miliki
sebagai umat. Kalian lihat, segala hal ini membuat kita seringkali menjadi
sombong, punya kebanggaan, karena kita panas dalam segala yang eksternal. Namun
pertanyaannya, apakah ada aspek Laodekia yang dingin? Ya, ada. Kalian lihat,
masalah Laodekia bukan bagian luarnya, masalah Laodekia adalah dalamnya. Kalian
lihat, di luar Laodekia tampak bagus di pemandangan orang, punya banyak yang
ditawarkan; tetapi di dalamnya Laodekia sedang menderita penyakit yang
mengerikan. Kalian lihat, penyakit Laodekia,
penyakit kita, adalah penyakit di hati.
Allow me to read you a statement here
from Manuscript Releases Vol. 18 pages 39 and
40. Listen to this. “There is hope for our churches if they will heed the message given to
the
Laodiceans…” is there hope? Yes,
if we listen to the message to the Laodiceans. Now notice this, you just in
your heart tell yourself if this is your experience. “…Sabbath after Sabbath…”
speaking about the Laodiceans,
“…they meet together,
and
with effort sing the
songs that are assigned but that do
not come from the heart…” now we're talking about a practical
detail in the worship service. Once again she says this, she says, “…Sabbath after Sabbath
they meet together, and with effort sing the
songs that are assigned but that do
not come from the heart…” is it just
possible that we stand in the worship service and we sing by rows you know songs
like, “I love to tell the story” or “What a friend we have in Jesus” and we're
not even thinking about what we're singing? We're doing it just as a custom or
as a habit because that's the assigned hyme. She continues saying, “…The joy of Christ in the heart will make songs to
come from inspired
lips and warm, thankful hearts.”
Izinkan saya membacakan sebuah pernyataan di sini
dari Manuscript Releases Vol. 18 hal. 39-40. Dengarkan ini. “…Ada harapan bagi gereja-gereja kita jika mereka mau
mendengarkan pekabaran yang diberikan kepada Laodekia…” apakah ada harapan? Ya,
jika kita mendengarkan pekabaran kepada Laodekia. Sekarang simak ini, dan dalam
hati kalian bertanya sendiri apakah ini pengalaman kalian. “…Dari Sabat ke Sabat…” bicara tentang jemaat Laodekia,
“… mereka bertemu, dan dengan upaya keras
menyanyikan lagu-lagu yang ditentukan, tetapi itu tidak datang dari hati…” sekarang kita bicara tentang detail praktis dalam upacara kebaktian.
Sekali lagi Ellen White mengatakan ini, dia berkata, “…Dari Sabat ke Sabat mereka bertemu, dan dengan upaya
keras menyanyikan lagu-lagu yang ditentukan, tetapi itu tidak datang dari hati…” apakah mungkin kita berdiri saat kebaktian dan kita bernyanyi bait-bait
lagu seperti “Ku Suka Menceritakan” atau “Yesus Sahabat Sejati” tetapi kita
tidak sedang memikirkan apa yang kita nyanyikan? Kita melakukannya hanya
sebagai suatu kebiasaan karena itulah himne yang ditentukan. Ellen White
melanjutkan berkata, “…Sukacita Kristus di dalam hati
akan membuat lagu-lagu keluar dari bibir-bibir yang diilhami dan dari hati-hati
yang hangat dan penuh syukur…”
Do you see that she says that you can
sing songs with effort, and they have no meaning; or you can sing songs with joy, because they come from
where? They come from the heart. Laodicea suffers of spiritual schizophrenia,
because she has a double personality. Outside she's one way, but inside she's
different. She's like a Dr. Jackal and Mr. Hyde. As we already read, Laodicea is a hypocrite. They show one
face on the outside but they have serious problems on the inside.
Apakah kalian melihat Ellen White berkata kita bisa
menyanyi dengan upaya, namun tidak ada artinya; atau kita bisa menyanyi dengan
sukacita karena itu keluar dari mana? Keluar dari hati. Laodekia menderita
skizofrenia spiritual karena dia punya kepribadian ganda. Di luarnya dia
baik-baik saja, tapi dalamnya dia berbeda. Dia adalah Dr. Jackal dan Mr. Hyde.
Kita sudah menyimak bahwa Laodekia itu munafik.
Mereka menunjukkan satu wajah di luarnya tapi mereka punya problem serius di
dalamnya.
In fact Ellen White says that the Laodiceans are halfhearted Christians. Notice
what we find in, this is in the Spalding Magan Collection page 260 a statement from Ellen White, she
says this, “Half-hearted Christians are worse than
infidels…” I'll let you
digest that for a moment. “Half-hearted
Christians are worse than infidels…” do you know what an “infidel” is? An “infidel” is an individual
who has no faith, in other words, someone who doesn't even believe in the
existence of God, an “infidel”, it means unfaithful. She says, “Half-hearted
Christians are worse than infidels for
their deceptive words…”
listen to this, “…and non-committal position may lead many astray. The infidel shows his colors…”
in other words, the
infidel is what? Cold. Are you with me? The true believer is what? Hot. The infidel
is what? Cold. Now notice what she says, “…The infidel shows
his colors…” nothing to hide, right? “…The luke-warm Christian deceives both parties…” he deceives the hot and he deceives the cold. She says, “…He is neither
a good worldling nor a good Christian. Satan uses him to do a work that no one else can do.”
Bahkan Ellen White mengatakan
bahwa jemaat Laodekia adalah orang Kristen yang setengah hati.
Simak apa yang kita dapati di Spalding
Magan Collection hal. 260, suatu
pernyataan dari Ellen White, dia berkata begini, “…Orang Kristen yang setengah hati lebih
buruk daripada orang kafir…” saya akan izinkan kalian mencernakan itu sejenak. “…Orang
Kristen yang setengah hati lebih buruk daripada orang kafir…” tahukah kalian “orang
kafir” itu apa? “Kafir” adalah seseorang yang tidak punya iman, dengan kata
lain, seseorang yang bahkan tidak perduli akan keberadaan Allah. Seorang
“kafir” artinya orang yang tidak beriman. Ellen White berkata,
“…Orang Kristen yang setengah hati lebih buruk daripada orang kafir
karena kata-kata mereka yang menyesatkan…” dengarkan ini, “…dan
posisi mereka yang non-komital bisa membawa banyak orang tersesat. Orang kafir
menunjukkan warna aslinya…” dengan kata lain orang kafir itu apa? Dingin. Apakah kalian mengikuti
saya? Orang beriman sejati itu apa? Panas. Orang kafir itu apa? Dingin. Nah,
simak apa kata Ellen White, “…Orang
kafir menunjukkan warna aslinya…” tidak ada yang
disembunyikan, benar? “…Orang Kristen yang suam-suam menipu kedua
belah pihak…” dia menipu yang panas dan dia menipu yang dingin. Ellen White berkata,
“…Dia bukanlah orang dunia yang baik, dan juga bukan seorang Kristen
yang baik. Setan menggunakan dia untuk melakukan pekerjaan yang tidak bisa
dilakukan orang lain.”
Laodiceans are
half-hearted Christians, they have one foot in the world, and they want one foot
with Jesus. On the outside they have a form
of godliness, but they're lacking the power thereof, as the apostle
Paul says. In fact Ellen White says that Laodicean is in carnal security. She says that Laodiceans have patchwork
characters. In other words, if you have this defect of character, you say, “Oh,
let me put a patch over that.” And so you try to overcome that by patching
it. And then you have this other defect of character, you say, “Well, let me
patch that one over.” That's not the way it's done. The way in which the
life and the character is changed is from the inside out, not by trying to
patch up your behavior like the Pharisees did. The Pharisees had characters
full of patches, but it was still the same old garment. So Ellen White tells us
that the Laodiceans have patchwork characters. In fact she says that they are “almost Christians”.
Jemaat Laodekia adalah orang-orang Kristen setengah hati, mereka meletakkan satu kaki di
dunia, dan mereka mau satu kaki bersama Yesus. Di luarnya mereka
punya bentuk kesalehan, tetapi mereka tidak memiliki kuasa darinya,
seperti kata rasul Paulus. Bahkan Ellen White berkata, jemaat Laodekia berada dalam
kedamaian yang palsu yang bersandar pada hal-hal duniawi. Dia
mengatakan bahwa jemaat Laodekia punya karakter tambal sulam. Dengan kata lain,
jika ada cacat dalam satu karakternya, dia berkata, “Oh, saya akan meletakkan sehelai
tambalan di atasnya.” Maka dia berusaha mengatasi hal itu dengan
menambalnya. Dan kalau nanti ada cacat karakter yang lain, dia berkata,
“Nah, biar saya tambal di atasnya.” Bukan begitu caranya. Cara bagaimana
hidup dan karakter berubah itu harus dari sebelah dalam keluar, bukan dengan
menambal sikap kita seperti yang dilakukan orang-orang Farisi. Orang-orang
Farisi karakternya penuh tambal sulam, tetapi itu masih tetap pakaian yang
lama. Jadi Ellen White memberitahu kita bahwa jemaat Laodekia punya karakter
tambal-sulam. Bahkan dia mengatakan mereka itu “hampir Kristen”.
Allow me to read you Christ’s Object Lessons page 118 she says, “Almost Christians, yet not fully Christians,
they seem near the kingdom of heaven,…” did you catch that? They're “…Almost
Christians, yet not fully Christians, they
seem near the kingdom of heaven, but they cannot enter there. Almost but not wholly saved, means to be not almost but wholly lost.” In other words,
there's no such thing as being almost saved, because being almost saved is to be totally lost, is what this statement
says.
Izinkan saya membacakan Christ’s Object Lessons hal. 118, Ellen White berkata, “…Hampir
Kristen, namun belum Kristen penuh, mereka seolah-olah dekat kerajaan Surga…”
apakah kalian
menangkap itu? Mereka itu “…Hampir Kristen, namun belum Kristen penuh, mereka
seolah-olah dekat kerajaan Surga, tetapi mereka tidak bisa memasukinya. Hampir
tetapi tidak seluruhnya selamat berarti bukan hampir melainkan sama sekali
tidak selamat.” Dengan kata lain, tidak ada yang namanya hampir selamat,
karena hampir selamat itu adalah sama sekali tidak selamat,
itulah yang dikatakan pernyataan ini.
The problem with Laodicea is that
she's lost. She's lost at home. You remember the story of The Prodigal Son, the
older son in the story? He was the lost son. The son that was lost came back
home, he repented. But the son who stayed at home, the older brother, he was the Laodicean, he was at home all the time, but he
was lost at home. My question is how many are lost here at home? Ellen
White says that the Laodiceans are neutral and non-committal, they are neither
good Christians nor good worldlings. She says that they have an insipid religious experience. What does “insipid”
mean? Pastor Jensen? It means “tasteless”, in other words, they have a tasteless
religious experience. In fact they are role players, they’re actors, they act
like in a play, they act a role, but they're
acting what they are not. They're playing the role of someone else. They're
like apples hanging by threads from a tree.
Masalahnya dengan Laodekia ialah dia tersesat. Dia
tersesat di dalam rumah. Kalian ingat kisah Anak yang Boros, anak sulung di
kisah itu? Dialah anak yang tersesat. Anak yang tadinya hilang, akhirnya pulang
ke rumah, dia bertobat. Tapi anak yang tinggal di rumah, anak yang sulung,
dialah yang Laodekia, dia ada di rumah terus, tetapi dia
tersesat di rumah. Pertanyaan saya adalah, berapa banyak di sini
yang tersesat di rumah? Ellen White mengatakan bahwa jemaat Laodekia itu netral
dan tidak menyatakan posisinya, mereka bukan Kristen yang baik, juga bukan
orang dunia yang baik. Ellen White berkata mereka punya pengalaman rohani
yang hambar. Apa artinya “hambar”? Pastor Jensen? Itu artinya
“tidak ada rasanya”, dengan kata lain, mereka punya pengalaman yang tidak ada
rasanya. Sesungguhnya mereka adalah pemain peran, mereka adalah aktor, mereka
seperti bermain dalam sandiwara, mereka membawakan sebuah peran, tetapi mereka
memerankan apa yang bukan mereka. Mereka memainkan peran sebagai
orang lain. Mereka seperti apel yang digantung dengan tali pada pohon.
Now I want you to imagine an apple
tree that for years and years has never produced an apple. Is there something
wrong with the apple tree? If it's never produced an apple, of course. So we
have this apple tree in my yard that has never produced one apple, and it's getting
kind of embarrassing because the neighbors look over the fence and they see
this apple tree, beautiful apple tree with lots of leaves and everything, but
not one apple year after year. So I'm kind of embarrassed, and I say, “I
know what I'm going to do.” So that night I go to the grocery store and I
buy a thousand apples. And at night while nobody is looking I attach threads to the top of the apples, to
the stem of the apples, and I hang all these apples on the apple tree. And the
next morning the neighbor wakes up and the neighbor looks at the tree, says,
“Wow! Overnight. Look what happened. The neighbor's apple tree has apples. A
miracle!” But if he looked closely at the apple tree he would see that the
apples were attached, they did not come from inside, from the nature of the
tree, they were placed there artificially. And that's the problem with Laodicea. Laodicea does not produce works, it
does not keep the doctrines, it does not follow the lifestyle, because it comes
from the heart, a transformed and changed heart. They do it in order to be seen
by men, in other words what Laodicea does is
artificial. They are Christians in the intellect, but the truth has not reached
the heart, and it's a sobering fact ~ listen up, folks ~ it is a
sobering fact that the Church of Laodicea has Jesus outside the heart, knocking
on the door. Now let me ask you, if Jesus is not in the heart controlling the
heart, who is? Self! If Jesus isn't there, I am. And the Laodicean church for
all of its claims has Jesus standing at the door and what? Knocking. In other
words, the problem with the Laodicean church is a problem of her what? The
problem of her heart.
Nah, saya mau kalian membayangkan sebuah pohon
apel, yang selama bertahun-tahun belum pernah menghasilkan sebuah apel pun.
Apakah ada yang salah dengan pohon apel itu? Jika dia tidak pernah menghasilkan
sebuah apel pun, tentu saja. Maka ada pohon apel ini di kebun saya yang tidak
pernah menghasilkan sebuah apel pun, dan lama-lama itu memalukan karena para
tetangga yang melihat dari pagar, mereka bisa melihat pohon apel ini, pohon
yang indah dengan banyak daun dan segalanya, tetapi tidak pernah ada satu apel
pun dari tahun ke tahun. Jadi saya agak malu, dan saya berkata, “Aku tahu apa yang akan aku
lakukan.” Maka malam itu saya pergi ke toko dan saya membeli seribu buah
apel. Dan di tengah malam sementara tidak ada yang melihat, saya mengikatkan
tali ke tangkai apel-apel itu dan saya gantung semua apel itu pada pohon apel.
Dan keesokan harinya tetangga bangun dan dia melihat ke pohon itu dan
berkata, “Wow! Dalam satu malam.
Lihat apa yang terjadi. Pohon apel tetangga ada buahnya. Suatu keajaiban!”
Tetapi jika dia melihat lebih teliti ke pohon apel itu, dia akan melihat bahwa
apel-apel itu diikatkan, mereka tidak tumbuh secara alami dari pohon itu,
mereka ditempatkan di sana secara buatan. Dan itulah masalahnya dengan
Laodekia. Laodekia tidak menghasilkan perbuatan, dia tidak memelihara
doktrinnya, dia tidak menuruti pola hidupnya karena semua itu harus datang dari
hati, hati yang telah diubahkan dan telah diganti. Mereka melakukannya supaya
dilihat oleh manusia. Dengan kata lain, apa yang dilakukan Laodekia itu
bikinan. Mereka adalah Kristen hanya dalam intelek, tetapi kebenarannya tidak
mencapai hati mereka. Dan ini adalah fakta yang memelekkan mata
~ dengarkan Saudara-saudara ~ ini adalah fakta yang memelekkan mata bahwa
gereja Laodekia membiarkan Yesus di luar hatinya, mengetuk di pintu. Sekarang
coba saya tanya, jika Yesus tidak ada di dalam hati mengendalikan hati, lalu
siapa yang mengendalikan? Diri sendiri! Jika Yesus tidak di sana, aku
sendirilah yang di sana. Dan gereja Laodekia dengan semua yang diklaim olehnya,
membiarkan Yesus berdiri di pintu dan apa? Mengetuk. Dengan kata lain,
masalahnya dengan gereja Laodekia adalah masalah apanya? Masalah hatinya.
Now somebody's going to leave here
and say, “Pastor Bohr said we don't have to keep the Sabbath anymore, it's
not important. Tithing, not important. Now we can go to the theater, and we can
eat pork if we want to, and drink wine with our meals.” Is that what I'm
saying? Are all these things important?
Is Sabbath keeping important? Yes,
but the reason why Sabbath keeping is important is because I have a
relationship with Jesus, and I want to spend the time with Him. In other words,
it's not a rule and regulation that I have to keep whether I want to or not,
that I want to keep in order to be saved. It's something that comes from within.
I want to spend that day with Jesus because I love him so much.
Health principles are not principles
that we follow because we say “vegans will make it to Heaven faster”. No!
It's wonderful to be a vegan, but if you're being a vegan because you want to exhibit
yourself as being holier than anyone else, or because you think that you're going
to be saved because you're a vegan, then the motivation is wrong. We should
want to be vegans, we should want to be vegetarians, because that way we can
have a closer communion with Jesus, because a healthy body and a healthy mind
go together. Are you understanding what I'm saying?
Tithing ~ do you know there was this
one lady one time that says to me, she was a typical Laodicean. You know she
says, “Every time that I have to bring my tithe to the church it is a big
effort on my part. I wish I didn't have to give the tithe.”
And so I looked at her and I said, “Not
a problem. Don't bring it next Sabbath.”
And she looked at me. Her eyes open
wide. She says, “Of all people the pastor of the church telling me that I'm
not supposed to bring my tithe. What are you talking about?”
I said, “Don't bring it. It's
cursed.”
She says, “What? It's cursed? I'm
going to call the Conference President, and I'm going to tell him that you told
me I'm not supposed to pay tithe. It's my duty to pay tithe. God requires me to
pay tithe.”
And I looked at her and I said, “Listen, you should not tithe because God
requires it, although that's important. You should tithe because you love the
Lord and you want to be faithful to Him.”
People whose heart is right will be
the best tithers. People whose heart
Is right will be the best Sabbath-keepers.
People whose hearts are right will be the best health reformers. But these
things will be the result of a changed heart. They will not bring salvation,
they will not have the purpose of exhibiting our piety.
Nah, akan ada orang yang keluar dari sini dan
berkata, “Pastor
Bohr mengatakan kita tidak usah memelihara Sabat lagi, itu tidak penting.
Persepuluhan, tidak penting. Sekarang kita boleh ke teater, dan kita boleh
makan babi kalau kita mau, dan minum anggur saat makan.” Apakah itu yang
saya katakan? Apakah semua ini penting?
Apakah memelihara Sabat itu penting? Ya, tetapi
alasannya mengapa memelihara Sabat itu penting ialah karena saya punya hubungan
dengan Yesus, dan saya ingin menghabiskan waktu bersamaNya. Dengan kata lain
itu bukan sebuah peraturan dan ketentuan yang harus saya pelihara apakah saya
mau atau tidak, yang saya pelihara supaya selamat. Itu adalah sesuatu yang
datang dari dalam. Saya mau menghabiskan hari itu bersama Yesus karena saya
sangat mengasihinya.
Prinsip-prinsip kesehatan bukanlah prinsip-prinsip
yang kita ikuti karena kita berkata, “Yang vegan akan ke Surga lebih cepat”. Tidak!
Menjadi vegan itu bagus sekali, tetapi jika kita menjadi vegan karena kita mau
memamerkan diri sebagai lebih suci daripada orang lain, atau karena kita
berpikir kita akan diselamatkan karena kita seorang vegan, maka motivasinya
keliru. Kita seharusnya mau menjadi vegan, menjadi vegetarian, karena dengan
cara itu kita bisa punya hubungan yang lebih dekat dengan Yesus, karena tubuh
yang sehat dan pikiran yang sehat itu jalan bersama. Apakah kalian paham apa
yang saya katakan?
Persepuluhan ~ tahukah kalian pernah ada seorang
ibu yang berkata kepada saya, dia tipikal seorang Laodekia ~ dia berkata, “Setiap kali saya harus membawa
persepuluhan saya ke gereja, itu adalah sebuah perjuangan besar bagi saya.
Andaikan saja saya tidak usah menyerahkan persepuluhan.”
Maka saya menatapnya dan saya berkata, “Bukan masalah. Jangan membawanya
Sabat depan.”
Dan ibu itu memandang saya. Matanya terbuka lebar.
Dia berkata, “Dari
semua orang yang ada, kok malah gembala sidangnya yang memberitahu saya, saya
tidak usah membawa persepuluhan. Anda bicara apa ini?”
Saya berkata, “Jangan bawa. Itu terkutuk.”
Dia berkata, “Apa? Terkutuk? Saya akan menelepon Presiden
Konferens dan saya akan melaporkan kepadanya Anda menyuruh saya tidak usah
memberikan persepuluhan. Memberi persepuluhan adalah kewajiban saya. Allah
mengharuskan saya memberi persepuluhan.”
Dan saya memandangnya dan berkata, “Dengarkan, Anda jangan memberi
persepuluhan karena Allah yang mengharuskan itu, walaupun itu penting. Anda
harus memberi persepuluhan karena Anda mengasihi Tuhan dan Anda mau setia
kepadaNya.”
Mereka yang hatinya benar, adalah pemberi
persepuluhan yang terbaik. Mereka yang hatinya benar akan
menjadi pemelihara Sabat yang terbaik. Mereka yang
hatinya benar akan menjadi reformator kesehatan
yang terbaik. Tetapi semua ini adalah hasil dari hati yang diubahkan.
Semua ini tidak mendatangkan keselamatan, mereka bukanlah tujuan
untuk memamerkan kesalehan kita.
Ellen White says in
Vol. 4 of the Testimonies page 87 these
words, speaking about Laodicea,
they are lacking in
devotion and fervor, “They profess to love the truth…”. I looked up all of
the statements of Ellen White about the Laodiceans. She constantly uses the
word “profess”, “profess”, “profess”, “profess”, to describe what the Laodiceans
do, and she constantly uses the word “heart”. She constantly says that Laodicean
has a heart problem, you know, and they need to have their heart fixed. Are you
with me? She says this, “They profess to love the truth yet are
deficient in Christian fervor and devotion. They dare not give up
wholly and run the risk of
the unbeliever, yet they
are unwilling to die to self and follow
out closely the principles of their faith.”
Di Testimonies Vol. 4 hal. 87, Ellen White mengatakan kata-kata ini, bicara tentang Laodekia, mereka
itu kurang dalam hal pengabdian dan semangat, “…Mereka mengaku mencintai kebenaran…” Saya mencari semua pernyataan Ellen White tentang Laodekia. Dia selalu
memakai kata “mengaku”, “mengaku”, “mengaku”, “mengaku” dalam menggambarkan apa
yang dilakukan jemaat Laodekia, dan dia terus-menerus memakai kata “hati”. Dia
terus mengatakan Laodekia punya masalah “hati”, dan hati mereka perlu
diperbaiki. Apakah kalian mengikuti saya? Ellen White berkata begini, “…Mereka mengaku mencintai kebenaran, namun
kurang dalam semangat Kristen dan pengabdian. Mereka tidak berani melepaskan
seluruhnya dan menghadapi resiko orang-orang tidak percaya, namun mereka tidak
rela mati kepada diri dan mengikuti dengan benar-benar prinsip-prinsip iman
mereka.”
Let's go to Matthew 5:20, I want you
to notice here this very important verse where Jesus is beginning actually The
Sermon on the Mount. And He says something very interesting there in Matthew 5:20.
This is what He says, “ 20 For I say to you, that unless
your righteousness exceeds the righteousness of the scribes and Pharisees, you will by no means
enter the kingdom of heaven.” Is our righteousness supposed to be
greater or lesser than the Pharisees’? It's supposed to be greater. Let me ask
you, were the Pharisees pretty righteous? Externally? Yes. Does God expect less
from us? No! The greater righteousness is a righteousness which comes from
where? Which comes from within. Now, there's the heart leads to righteousness. The
Pharisees only have had half of the equation, which ultimately means that they
had none of the equation.
Mari kita ke Matius 5:20, saya mau kalian menyimak
di sini ayat yang sangat penting ini di mana Yesus sedang memulai KhotbahNya di
atas Bukit. Dan Dia mengatakan sesuatu yang sangat menarik di sini di Matius
5:20. Inilah yang Dia katakan, “20 Maka Aku
berkata kepadamu: Kecuali kebenaranmu melebihi
kebenaran ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak
akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Apakah kebenaran kita harus lebih besar atau lebih
kurang daripada kebenaran orang-orang Farisi? Harus lebih besar. Coba saya
tanya, apakah orang-orang Farisi itu cukup benar? Secara eksternal? Ya. Apakah
Allah menuntut lebih sedikit dari kita? Tidak! Kebenaran yang lebih besar
adalah kebenaran yang datang dari mana? Dari dalam. Nah, hatilah yang menuntun
kepada kebenaran. Orang-orang Farisi hanya punya separo dari keseluruhannya,
yang pada akhirnya berarti mereka tidak punya keseluruhannya sama sekali.
Now let's go to Matthew 5:21 and 22
so that you see how the Pharisees looked at things. Jesus says, “21 You have heard that it was said to those of old, ‘You shall not murder, and
whoever murders will be in danger of the judgment.’…” so the Pharisees at
this point are saying, “Hallelujah! Praise the Lord, Lord we've never killed
anyone.” Oh, but now Jesus goes to the root, verse 22,
“…22 But I say to you that whoever is angry with his
brother…” see, that's an internal motivation “…whoever is
angry with his brother without a cause shall be in danger of the judgment.
And whoever says to his brother, ‘Raca!’…” which means “fool”, “…shall be in danger of the
council. But whoever says, ‘You fool!’ shall be in danger of hell fire.” Amazing! You know,
we would disfellowship someone for murder. How many people have we
disfellowshipped for anger, and for hatred, which come from where? They come
from the heart, that's right.
Mari kita ke Matius 5:21 dan 22 supaya kalian
melihat bagaimana pandangan orang-orang Farisi. Yesus berkata, “21 Kamu telah mendengar yang dikatakan kepada mereka
di zaman dahulu, ‘Jangan membunuh; dan
siapa pun yang membunuh akan ada dalam bahaya dihakimi’…” Maka orang-orang Farisi saat itu
mengatakan, “Hallleluya!
Puji Tuhan, Tuhan kami tidak pernah membunuh siapa pun.” Oh, tetapi
sekarang Yesus akan pergi ke akarnya, ayat 22, “…22 Tetapi Aku berkata kepadamu, bahwa siapa pun yang marah terhadap saudaranya…”
lihat,
ini motivasi internal, “…siapa pun
yang marah terhadap saudaranya tanpa alasan,
akan ada dalam bahaya dihakimi. Dan siapa pun yang berkata kepada saudaranya: ‘ῥακά [rhaka] Tidak berguna!’ akan ada dalam bahaya disidang,
dan siapa pun
yang berkata, ‘Kamu tolol!’ akan ada dalam bahaya
api neraka.’…” Luar biasa! Kalian tahu, kita mengeluarkan orang dari gereja
untuk pembunuhan. Berapa banyak orang yang telah kita keluarkan untuk kemarahan
dan kebencian, yang datang dari mana? Yang datang dari hati, benar.
Notice verses 27 and 28, “27 You have heard that it was said to those of old, ‘You shall not commit adultery.’…”
and when Jesus said this, the Pharisees and scribes were saying,
“Preach it, Rabbi! Preach it! We've never had sexual relations with anyone
other than our wife.” Wow! But then when Jesus continues to speak about the
heart, they've got troubles. “…28 But I say to you that whoever looks at a woman to lust for her
has already committed adultery with her…” where? “…with her in his heart.”
Simak ayat 27 dan 28, “27 Kamu telah mendengar dikatakan kepada mereka di zaman dahulu, ‘Jangan berzinah.’…” dan ketika Yesus mengatakan ini,
orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat mengatakan, “Khotbahkan, Rabi! Khotbahkan!
Kami tidak pernah punya hubungan seksual dengan siapa pun selain istri kami
sendiri.”
Wow! Tetapi kemudian ketika Yesus mulai berbicara tentang hati, mereka kena
masalah. “…28 Tetapi Aku berkata kepadamu, bahwa siapa pun
yang memandang seorang perempuan dengan nafsu terhadapnya,
sudah melakukan perzinahan dengan dia…” di mana? “…dengan dia di dalam
hatinya.”
Do you know Jesus realize that we
have a heart problem?
Jesus said, “8 ‘These people draw near to Me with their mouth, and honor Me
with their lips, but
their…” what? “…their heart is far from Me.”
“ 8 Blessed are the pure in heart, for they shall see God.”
“34 … For out of the
abundance of the heart the mouth speaks.”
He also said, “21 For where your treasure is, there your heart will be
also.”
“19 For out of the
heart proceed evil thoughts, murders, adulteries, fornications, thefts, false
witness, blasphemies.”
Tahukah kalian Yesus menyadari bahwa
kita punya masalah hati?
Yesus berkata, “8 Bangsa ini mendekati Aku dengan mulutnya, dan menghormati Aku dengan
bibirnya, padahal…” apa? “…hatinya jauh dari-Ku.” (Matius 15:8).
“8 Diberkatilah orang
yang murni hatinya, karena mereka akan
melihat Allah.” (Matius 5:8).
“34 … Karena
dari isi hati, mulut berbicara.” (Matius 12:34)
“21 Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu.” (Matius 6:21)
“19 Karena dari
hati keluar segala pikiran jahat,
pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.” (Matius 15:19)
Jesus realized that our problem is not with our behavior, our
problem is what? Our problem is with our hearts. And Jesus constantly dealt
with Laodiceans in His day.
· You have the rich young ruler, typical Laodicean,
could have been a good Elder in the Seventh Day Adventist Church,
because he was morally straight, morally right. When Jesus says, “Keep the
Commandments.” He says, “Which?” So Jesus quotes the last table of the Law,
takes out the one that says “you shall not covet” and puts in its place “you
shall love your neighbor as yourself”. But basically He's quoting the last
table. And the young man, when he hears this, he says, “This is too good to be
true. I'm there. I've arrived.” He says, “All these I've
done since my youth, so I'm ready for eternal life.” But then he says, “Well,
maybe there's something missing. What yet do I still lack?”
· The Pharisee and the publican who we mentioned
before.
The Pharisee is the typical Laodicean, says, “I thank you, Lord
that I'm not like other men” whoa! “I keep the Sabbath, I
tithe, I fast twice a week, I don't eat shrimp and lobster, and pork.” He
didn't say that, but that's the attitude. And he says, “I especially thank
you, Lord, that I'm not like this miserable publican over here, a sinner.” See,
that is the Laodicean problem: self-righteousness.
· You have the
parable of the workers in the vineyard.
I think we all know that parable. The people who went at
different hours of the day to work in the vineyard. Pay time came at the end of
the day. Those who had worked more
they felt like they deserve greater pay. “We work much and we deserve much.”
See, they served as hirelings, in other words. They did not appreciate the
grace of the owner of the vineyard, that’s paying everyone equally. They felt
that they had earned more. That's the case of the Laodicean church.
· And then you have the older brother in the story of the Prodigal Son.
He says to his father, “Father, I have served you all of
these years, I have never transgressed even one of your little Commandments,
and yet you've never killed me a young goat to reward me for my faithfulness.”
Are you understanding what the Laodicean problem is? You know
what? I have enough problems with my own character to be worrying about everybody
else's. Maybe you don't have that same experience, maybe we're at this point
where you know we can serve as judges of others, because we've reached perfection.
Now I know all of you better than that. We're all in the process of getting fixed,
are we not? We're being repaired. Praise the Lord!
Yesus
menyadari bahwa masalah kita bukanlah sikap kita, masalah kita itu apa? Masalah
kita itu hati kita. Dan Yesus terus-menerus berurusan dengan orang-orang
Laodekia di zamanNya.
·
Ada penguasa
muda yang kaya, tipikal orang Laodekia,
dia bisa
menjadi seorang Ketua yang baik di gereja MAHK karena dia lurus secara moral,
benar secara moral. Ketika Yesus berkata, “Turutilah Perintah-Perintah Allah”, dia berkata, “Yang mana?” Maka Yesus
mengutip loh batu Hukum yang terakhir, mengeluarkan perintah yang berkata “Jangan mengingini” dan di tempatnya
memasukkan “kasihilah sesamamu seperti
dirimu sendiri”. Tetapi pada dasarnya Yesus mengutip loh batu
yang terakhir. Dan orang muda itu ketika dia mendengar ini, dia berkata, “Ini
kebetulan sekali. Aku sudah di sana. Aku sudah tiba.” Dia berkata, “Semuanya itu telah kuturuti dari masa aku muda, jadi aku sudah siap untuk hidup
kekal.” Tetapi kemudian dia berkata,
“Nah, mungkin ada yang kurang. Apa lagi yang masih kurang padaku?”
·
Orang Farisi dan pemungut cukai yang kita
bicarakan sebelumnya.
Orang
Farisi yang adalah tipikal Laodekia itu, berkata, “Ya
Allah, aku bersyukur aku tidak seperti orang
lain”, whoa! “Aku memelihara Sabat, aku memberikan persepuluhan, aku berpuasa dua kali seminggu, aku tidak
makan udang dan lobster dan babi…” Dia tidak mengatakan itu, tetapi itulah
sikapnya. Dan dia berkata, “Dan aku terutama bersyukur, Tuhan, aku tidak
seperti pemungut cukai yang menyedihkan
di sini ini, seorang pendosa.” Lihat, itulah masalah jemaat Laodekia, merasa
suci sendiri.
·
Ada perumpamaan para
pekerja di kebun anggur.
Saya rasa
kita semua sudah kenal perumpamaan itu. Orang-orang datang pada jam yang
berbeda untuk bekerja di kebun anggur. Saat gajian di akhir hari, mereka yang bekerja lebih
merasa mereka berhak menerima gaji lebih banyak. “Kami bekerja banyak dan kami
berhak lebih banyak.” Lihat, mereka melayani sebagai orang gajian, dengan
kata lain. Mereka tidak menghargai kemurahan pemilik kebun yang membayar semua
orang sama. Mereka merasa mereka telah menghasilkan lebih. Itulah kasus gereja
Laodekia.
·
Kemudian ada saudara
yang lebih tua di kisah Anak yang Boros.
Dia berkata kepada ayahnya, “Bapak, aku telah melayanimu selama
bertahun-tahun ini, aku tidak pernah melanggar satu pun Perintahmu, tetapi
engkau tidak pernah menyembelih bagiku seekor kambing muda sebagai pahala
kesetiaanku.”
Apakah
kalian paham apa masalah gereja Laodekia? Tahu tidak? Saya punya cukup masalah
dengan karakter saya sendiri untuk mengurusi karakter semua orang lain. Mungkin
kalian tidak punya pengalaman itu, mungkin kita berada di titik di mana kita
tahu kita bisa menjadi hakim atas orang lain, karena kita telah mencapai
kesempurnaan. Nah, saya tahu kalian semua lebih baik daripada itu. Kita semua
sedang dalam proses diperbaiki, bukan? Kita sedang diperbaiki. Puji Tuhan!
Now go with me very quickly here to Matthew 23:23 to 28. Here
you're going to see what the problem is. The problem of the Laodicean. Matthew
chapter 23 and let's read verses 23 to 28. We'll do it very quickly. “23 Woe to you, scribes and Pharisees, hypocrites! For
you pay tithe of mint and anise and cummin…” little tiny seeds. Can you imagine them, nine cumin seeds
for me, and one for the Lord. Nine cilantro seeds for me, and one cilantro seed
for the Lord,
“…and have neglected…” notice,
“…and have neglected the weightier matters of the Law…” that is the motivations for doing it, “…justice and mercy and faith. These you ought to have done,
without leaving the others undone…” In other words, you need both-and, not either-or. Verse 24, “…24 Blind guides,…” is Laodicea blind? Excuse me, is Laodicea blind? Oh, why
would Jesus call these guys blind guides? “…24 Blind guides, who strain out a gnat and swallow a camel!...” and they literally did this. By the way, I don't know
whether you're aware of this, but they would actually run all of their water
through a strainer, because they might drink a mosquito if they didn't do that,
and mosquitoes were unclean. But they would strain the mosquito and they would
swallow a camel. Now in other words, they would major on the minors and minor
on the majors. And so it says, “…25 ‘Woe to you, scribes and Pharisees, hypocrites! For you cleanse the outside of the cup and dish, but inside they
are full of extortion and self-indulgence…” where's the problem outside or inside with the Pharisees? It
is inside, folks. “…26 Blind Pharisee, first
cleanse the inside of the cup and dish, that the outside of them may be clean
also…” clean the inside
and the outside will be clean. Verse 27, “…27 ‘Woe to you, scribes and
Pharisees, hypocrites! For you are like
whitewashed tombs which indeed appear beautiful outwardly, but inside are full
of dead men’s bones and
all uncleanness. 28 Even so you also outwardly
appear righteous to men, but inside you are full of hypocrisy and
Lawlessness’.” Wow! What a
tremendous indictment. It's a sobering fact, folks, that the Lord Jesus was
crucified by a group of church-attending Sabbath-keeping tithe-paying, health-reforming
two-time-a-week fasting people. What would we do to Jesus if Jesus was here
today?
Sekarang mari bersama saya
cepat-cepat ke Matius 23:23-28. Di sini kita akan melihat apa masalahnya,
masalah dari gereja Laodekia. Matius 23 dan kita akan membaca ayat 23-28, kita
lakukan dengan cepat. “23
Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, orang-orang
munafik! Sebab kamu mengembalikan persepuluhan
dari selasih, adas manis dan jintan,…” biji-biji yang kecil mungil. Bisakah kalian bayangkan mereka
menghitung, 9 biji jintan untukku, dan 1 untuk Tuhan; 9 biji ketumbar untukku,
dan 1 untuk Tuhan, “…dan
telah mengabaikan…” simak, “…dan
telah mengabaikan hal-hal yang lebih penting dalam Hukum Taurat…” itulah motivasi untuk melakukannya, “…keadilan, dan belas kasihan, dan iman. Ini harus
kamu lakukan, tanpa membiarkan yang lain tidak dilakukan…” Dengan kata lain, harus melakukan kedua-duanya, bukan salah
satu. Ayat 24, “…24
Pemandu-pemandu buta…” apakah
Laodekia buta? Oh, mengapa Yesus menyebut orang-orang itu pemandu-pemandu buta? “…24 Pemandu-pemandu
buta, yang menyaring ngengat dan menelan
unta!…” dan mereka
melakukan ini secara literal. Nah, entah kalian tahu atau tidak, tetapi mereka
benar-benar menyaring air minum mereka dengan saringan karena adanya
kemungkinan mereka minum seekor nyamuk andaikan mereka tidak melakukan itu, dan
nyamuk termasuk binatang haram. Jadi mereka akan menyaring nyamuk dan menelan
seekor unta. Dengan kata lain mereka membesarkan yang kecil, dan mengecilkan
yang besar. Jadi dikatakan, “…25 Celakalah
kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, orang-orang munafik! Sebab kamu bersihkan sebelah
luar cawan dan pinggan, tetapi sebelah
dalamnya penuh pemerasan dan pemanjaan diri.…” di
mana masalahnya, luar atau dalam pada orang-orang Farisi? Dalam,
Saudara-saudara. “…26 Hai
orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan dan pinggan itu, supaya sebelah
luarnya juga akan bersih…” bersihkan bagian dalamnya, maka bagian luarnya akan bersih.
Ayat 27, “…27 Celakalah
kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, orang-orang munafik! Sebab
kamu sama seperti kuburan yang dicuci bersih,
yang memang tampak indah sebelah luarnya, tetapi di dalamnya penuh tulang belulang orang
mati dan pelbagai kenajisan. 28
Demikian jugalah, di luar kamu tampaknya
benar di mata orang, tetapi di dalam kamu penuh kemunafikan dan pelanggaran Hukum…” Wow! Dakwaan yang luar biasa. Fakta yang membuka mata,
Saudara-saudara, Tuhan Yesus disalibkan oleh sekelompok orang yang pergi ke
gereja, memelihara Sabat, memberi persepuluhan, mengikuti reformasi kesehatan,
berpuasa dua kali seminggu. Apa yang akan kita lakukan kepada Yesus andaikan
Yesus hari ini ada di sini?
08 07 26