Tuesday, August 4, 2026

EPISODE 05/05 ~ MESSAGE TO LAODICEANS ~ THE REMEDY FOR LAODICEA ~ STEPHEN BOHR

 

MESSAGE TO LAODICEAN

Part 05/05 - Stephen Bohr

THE REMEDY FOR LAODICEA

https://www.youtube.com/watch?v=DPb7zcqUPI0&t=37s

 

Dibuka dengan doa

 

 

Today we are going to study part 5 of the message of the Faithful and True Witness to the Laodicean church. This will be the final presentation in this series. Being that it's been quite a while since we've studied the first four messages, I would like to just review basically what we have covered in the previous presentations.

 

Hari ini kita akan mempelajari bagian ke-5 dari pesan Saksi yang Setia dan Benar kepada gereja Laodekia. Ini merupakan presentasi yang terakhir dari seri ini. Karena sudah lewat cukup lama sejak kita mempelajari empat pelajaran yang pertama, saya mau mengulangi apa yang telah kita liput pada dasarnya di presentasi-presentasi yang sebelumnya.

 

 

We've been looking at the disease from which the church of Laodicea suffers. It's a deadly disease. It's a disease which if not remedied, will lead to certain and absolute death. Now what is the problem with the church of Laodicea, our own Seventh-Day Adventist Church? With us individually, not speaking corporately, but individually, here in the pews, this morning? We found that the church of Laodicea does the right things for the wrong reasons, or with the wrong motivation. She does everything to impress men and to impress God. In other words, it doesn't come naturally from the heart. It is actually an artificial system of works with the intention of impressing fellow believers, and impressing God.

 

Kita sedang menyimak penyakit yang diderita gereja Laodekia. Penyakit yang mematikan. Penyakit yang jika tidak diobati akan membawa kepada kematian yang mutlak dan pasti. Nah, apa masalahnya di gereja Laodekia, gereja MAHK kita sendiri? Apa masalahnya dengan kita secara individu, tidak bicara secara jemaat, tetapi secara individu, yang duduk di bangku-bangku pagi ini? Kita mendapati bahwa gereja Laodekia melakukan hal-hal yang benar untuk alasan-alasan yang salah, atau dengan motivasi yang salah. Dia melakukan apa saja untuk mengesankan manusia dan mengesankan Allah. Dengan kata lain, apa yang dilakukannya tidak datang secara alami dari hati. Sesungguhnya itu adalah suatu sistem tindakan-tindakan yang sengaja dibuat dengan niat untuk mengesankan sesama umat percaya dan mengesankan Allah.

 

 

You see, the problem with the Laodicean church is that the outside is good but the inside is rotten and all wrong. You see, Laodicea has the form and the theory of the truth. Laodicea has the form of godliness, but there is no power that leads to that godliness. Laodicea has correct ritual, correct beliefs, but no power behind those beliefs and those rituals. The church of Laodicea has the same problem as the Pharisees had in the days of Christ. The Pharisee, like the rich young ruler, thought that he was a commandment-keeper. He said, “all of these Commandments I have kept from my youth, what more do I still lack?” And Jesus said to him, “The one thing that you lack is that all of your Commandment-keeping has to come from your heart. Go sell all that you have, and give it to the poor. Show your love for the poor and then you will have eternal or everlasting life.”

 

Kalian lihat, masalahnya dengan gereja Laodekia ialah di luarnya bagus tetapi di dalamnya busuk dan semuanya salah. Kalian lihat, Laodekia memiliki bentuk dan teori kebenaran. Laodekia punya bentuk kesalehan, tetapi tidak punya kuasa yang membawa kepada kesalehan itu. Laodekia punya ritual yang benar, keyakinan yang benar, tetapi tidak ada kuasa di balik keyakinan dan ritual itu. Gereja Laodekia punya masalah yang sama yang dimiliki orang-orang Farisi di zaman Kristus. Orang-orang Farisi, seperti penguasa muda yang kaya itu, berpikir bahwa dia adalah seorang pemelihara Hukum. Dia berkata, 20 Semuanya itu telah kuturuti dari masa aku kecil, apa lagi yang masih kurang padaku?(Matius 19:20). Dan Yesus berkata kepadanya, “Hal yang masih kurang padamu ialah semua pemeliharaan Hukum yang kamu lakukan harus datang dari hatimu. Pergi juallah semua milikmu, dan berikan kepada orang miskin. Tunjukkan kasihmu bagi yang miskin, maka kamu akan memiliki hidup kekal atau hidup yang abadi.”  

 

 

·       The problem of the Laodicean church is illustrated by the workers of the vineyard who went out to work at different hours of the day.

When pay time came, those who worked more, felt like they deserved more.

·       It's illustrated by the condition of the older son in the story of the prodigal son, who served his father with mercenary motives.

He wanted to impress his father. He says, “All of these years I have served you, and you have done nothing for me.”

·       It's illustrated by the story of the Pharisee and the publican.

The publican beats his breast and he says, “Lord, be merciful to me, a sinner.” Whereas the Pharisees says, “I thank you Lord that I'm not like other men. All of my beliefs are right, all of my rituals are right, all of my practices are right, and thank you that I'm not like this miserable publican here. I fast twice a week, I keep the Sabbath, I pay my tithe.” Selfishness. Lots of works, but done with the wrong reason.

·       It's illustrated by the fig tree, full of leaves, ostentatious as to its piety, but devoid of fruit that comes from the nature of the tree.

·       It's Illustrated in  Matthew chapter 23 where Jesus spoke of the Pharisees as whited sepulchers.

He said, “Outside you have this beautiful tombstone whitewashed, but inside you are filled with bones and with rottenness.”

You see, the outside does not square with the inside. The outside looks good. People come to church, they return their tithe, they keep the Sabbath, they practice health reform ~ not that any of these things are wrong ~  we need to do them, but they have to be done with the right motivation, they have to come from a loving heart. They are not there to impress God, to impress our fellow human beings, to make us look good, to think that we can earn salvation. They need to flow naturally from a converted heart.

 

·       Masalah gereja Laodekia digambarkan oleh pekerja-pekerja di kebun anggur, yang datang bekerja di jam-jam yang berbeda.

Ketika tiba waktunya menerima gaji, mereka yang bekerja lebih lama, merasa berhak menerima lebih banyak.

·       Itu digambarkan oleh kondisi anak yang sulung dalam kisah anak yang boros, yang melayani ayahnya dengan motif demi uang.

Dia ingin mengesankan ayahnya. Dia berkata, “Selama bertahun-tahun aku telah melayanimu, dan engkau tidak berbuat apa-apa untukku.”

·       Itu digambarkan oleh kisah orang Farisi dan pemungut cukai.

Si pemungut cukai memukuli dadanya dan berkata, “Ya Allah, kasihanilah aku orang yang berdosa.” (Lukas 18:13). Sementara orang Farisi itu berkata, “Ya Allah, aku bersyukur aku tidak seperti orang lain. Semua keyakinanku benar. Semua ritualku benar. Semua yang aku praktekkan benar. Dan terima kasih aku tidak seperti pemungut cukai yang menyedihkan ini. Aku berpuasa dua kali seminggu, aku memelihara Sabat, aku menyerahkan persepuluhan.” Keegoisan. Banyak perbuatan tetapi dilakukan dengan alasan yang salah.

·       Itu digambarkan oleh pohon ara, yang daunnya penuh, mencolok kesalehannya, tetapi nihil buah yang berasal secara alami dari pohon itu.

·       Itu digambarkan di Matius pasal 23 di mana Yesus bicara tentang orang-orang Farisi seperti kuburan.

Dia berkata, “Di luarnya ada nisan yang cantik yang dicuci putih, tetapi di dalamnya kamu dipenuhi tulang belulang dan pembusukan.”

Kalian lihat, bagian luarnya tidak cocok dengan bagian dalamnya. Bagian luarnya tampak bagus. Orang-orang datang ke gereja, mereka mengembalikan persepuluhan mereka, mereka memelihara Sabat, mereka mempraktekkan reformasi kesehatan ~ tidak berarti bahwa semua hal ini salah ~ kita harus melakukan semua itu, tetapi mereka harus dilakukan dengan motivasi yang benar, mereka harus datang dari hati yang mengasihi. Mereka tidak dilakukan untuk mengesankan Allah, untuk mengesankan sesama manusia, untuk membuat kita tampak bagus, mengira bahwa kita bisa mendapatkan keselamatan sebagai upah. Perbuatan-perbuatan itu harus mengalir dari hati yang telah bertobat.

 

 

You know we can understand the situation of Laodicea by going back and looking at what happened at Mount Sinai. You know, when God revealed The Ten Commandments on tables of stone, Israel said, “All that the Lord has spoken we will do.” How long did their commitment last? A few days at most. You see, because they saw the Ten Commandments as a list of regulations to measure up to. God has these rules, and we do our utmost to live up to those rules. But without a change of heart they could not live in harmony with the rules. That's why later on in the days of Jeremiah, God says, “I'm going to make a new covenant with the house of Israel, not like that Covenant at Mount Sinai where the Law was written on tables of stone, and the people simply thought that they should measure up.” He says, “I'm going to take that Law which was on tables of stone and I'm going to write that Law in their hearts, and then they will naturally do what the Law requires, not because they're trying, but because they have the Law,” which by the way is a reflection of God's character. “They have God's character in their hearts.”

 

Kita bisa memahami situasi Laodekia dengan kembali dan menyimak apa yang terjadi di G. Sinai. Ketika Allah menyatakan Kesepuluh Perintah dengan menuliskannya di loh-loh batu, Israel berkata, “Segala yang difirmankan TUHAN akan kami lakukan” (Keluaran 19:8). Berapa lama komitmen mereka bertahan? Paling lama beberapa hari. Kalian lihat, karena mereka melihat Kesepuluh Perintah sebagai sebuah daftar peraturan untuk dipatuhi: Allah membuat peraturan-peraturan itu, dan kami akan melakukan sebisa-bisanya untuk hidup sesuai dengan peraturan-peraturan itu. Tetapi tanpa adanya perubahan hati, mereka tidak bisa hidup selaras dengan peraturan-peraturan itu. Itulah mengapa di kemudian hari di zaman Yeremia, Allah berkata, “Aku akan membuat perjanjian yang baru dengan kaum Israel, tidak seperti perjanjian yang di G. Sinai di mana Hukum ditulis di atas loh-loh batu dan orang-orang semata-mata menganggap mereka harus memenuhinya.” (Yeremia 31:31-32).  Allah berkata, “Aku akan mengambil Hukum itu yang tercantum di loh-loh batu, dan Aku akan menuliskan Hukum itu di hati mereka, maka mereka akan melakukan secara alami apa yang diminta oleh Hukum itu, bukan karena mereka yang berusaha, tetapi karena mereka memiliki Hukum itu,” (Yeremia 31:33) yang adalah refleksi dari karakter Allah. “Mereka memiliki karakter Allah di hati mereka.”

 

 

In other words, the problem with Laodicea is that she looks fine outside, but she's rotten inside. And as you look at the book of Revelation, you find that Laodicea ~ and God have two totally and radically different perspectives ~ Laodicea thinks she's rich, she thinks she has 20/20 vision, she thinks she's luxuriously clothed, and she thinks that she's happy and joyful. But Jesus says that Laodicea is poor, Laodicea is blind, Laodicea is naked. Laodicea even though she thinks she's happy, is miserable and wretched. Obviously Laodicea is very severely self-deceived.

Have you ever seen a naked person who you say, “You're naked, go get dressed!”

“Me naked? You're kidding. I'm not naked!”

Or a person who is poverty stricken. You say, “You're poor.”

“No, I'm not poor. I'm rich.”

Obviously the Laodicean  church ~ that's us ~ is very severely self-deceived into thinking she's rich ~ she's poor. She sees ~ she's blind. Luxuriously clothed ~ naked. Happy ~ miserable. How could you have two different perspectives such as this?

 

Dengan kata lain, masalahnya dengan Laodekia ialah, di luarnya dia tampak bagus, tetapi di dalamnya dia busuk. Dan bila kita lihat di kitab Wahyu, kita akan mendapati Laodekia ~ dan Allah punya dua perspektif yang seluruhnya dan secara radikal berbeda ~ Laodekia mengira dirinya kaya, dia mengira dia punya penglihatan 20/20, dia kira dia berpakaian mewah, dan dia kira dia bahagia dan gembira. Tetapi Yesus berkata bahwa Laodekia itu miskin, Laodekia itu buta, Laodekia itu telanjang. Laodekia walaupun dia mengira dia bahagia, sebenarnya dia mengenaskan dan malang. Jelas Laodekia sangat tertipu oleh dirinya sendiri.

Pernahkah kalian melihat seorang yang telanjang, dan kalian berkata kepadanya, “Kamu telanjang, pergilah kenakan pakaian.”

“Aku telanjang? Yang bener aja. Aku tidak telanjang.”

Atau dengan seseorang yang miskin, dan kalian berkata, “Kamu miskin.”

“Tidak, aku tidak miskin. Aku kaya.”

Jelaslah gereja Laodekia ~ yaitu kita ~ sangat menipu diri sendiri dengan berpikir dirinya kaya, padahal dia miskin. Bahwa dia bisa melihat, padahal dia buta. Bahwa dia berpakaian mewah, padahal dia telanjang. Bahwa dia bahagia, padahal menyedihkan. Bagaimana bisa ada dua perspektif yang berbeda seperti ini?

 


Ellen White in Volume 3 of the Testimonies page 252 has this to say, “The message of the True Witness finds the people of God in a sad deception, yet honest in that deception…”  Did you get that? The Laodicean message comes to a people who are sadly deceived but they are honestly deceived. They actually think that they're okay. She continues saying, “…They know not that their condition is deplorable in the sight of God…”   How do you convince one to seek treatment if he doesn't feel that he's sick? That's the problem with the Laodicean church. Jesus says, “You're sick.” But Laodicea refuses to accept the idea that she's sick. And therefore if you don't feel like you're sick, you're not going to seek for a remedy.

 

Ellen White di Testimonies Vol. 3 hal. 252, mengatakan ini, “…Pesan dari Saksi yang Benar mendapatkan umat Allah dalam keadaan yang menyedihkan, tertipu, namun dia memang jujur tertipu…”  apakah kalian menangkap itu? Pesan kepada Laodekia datang kepada umat yang sayangnya tertipu, tetapi mereka memang jujur tertipu. Mereka sungguh-sungguh mengira mereka baik-baik saja. Ellen White melanjutkan berkata, “…Mereka tidak tahu bahwa kondisi mereka menyedihkan di pemandangan Allah…” Bagaimana kita bisa meyakinkan seseorang untuk berobat bila dia tidak merasa bahwa dia sakit? Itulah masalah gereja Laodekia. Yesus berkata, “Kamu sakit.” Tetapi Laodekia menolak menerima ide bahwa dia sakit. Maka jika orang tidak merasa dirinya sakit, dia tidak akan mencari obat.


 

Volume 4 of the Testimonies page 87 Ellen White has said this, “The only hope for the Laodiceans is a clear view of their standing before God, a knowledge of the nature of their disease…”   In other words, the first step for Laodiceans  is to see her true condition, and to know what her disease is. And by the way, the disease is that self is in the heart and not Jesus. Everything she does is with selfish mercenary motives, to look good, to be saved, to look better than others, to impress God ~ not that all of those external things aren't important, because they are ~ the problem is that these activities, and these beliefs, and these rituals, spring from a selfish heart.

 

Testimonies Vol. 4 hal. 87, Ellen White mengatakan ini, “…Satu-satunya harapan bagi jemaat Laodekia adalah pandangan yang jelas tentang posisi mereka di hadapan Allah, pengetahuan tentang kondisi penyakit mereka…” Dengan kata lain, langkah pertama bagi Laodekia ialah untuk mengenali kondisinya yang sebenarnya dan apa penyakitnya. Dan ketahuilah, penyakitnya ialah yang ada di hatinya itu diri sendiri bukan Yesus. Segala yang dia lakukan itu dilakukan dengan motivasi untuk kepentingan diri sendiri, supaya tampak bagus, supaya diselamatkan, supaya tampak lebih baik daripada orang-orang lain, supaya mengesankan Allah ~ tidak berarti bahwa semua hal eksternal ini tidak penting, karena mereka penting ~ tetapi masalahnya ialah semua aktivitas ini, semua keyakinan ini, semua ritual ini, muncul dari hati yang egois.

 

 

Now in Revelation 3 Jesus proposes to Laodicea three remedies for her condition. And I praise the Lord that the Lord doesn't only paint a bleak picture, He actually shows the church how the problem can be solved. Because some people use the message to the Laodicean church to beat up the church, particularly offshoots you know, and actually they're like the Pharisees, because they say, “I thank you, Lord, that I'm not like those who belong to the organized church…” that's  a pharisaic attitude, isn't it? Of course, it is.

 

Nah, di Wahyu 3 Yesus menawarkan tiga obat kepada Laodekia untuk kondisinya. Dan saya bersyukur Tuhan tidak hanya memberikan gambaran yang kelam, Dia menunjukkan kepada gereja bagaimana masalah itu bisa diselesaikan. Karena ada orang-orang yang menggunakan pesan kepada gereja Laodekia untuk menjatuhkan gereja, terutama kelompok-kelompok pecahannya. Sesungguhnya mereka ini seperti orang-orang Farisi, karena mereka berkata, “Aku bersyukur Tuhan, aku tidak seperti mereka yang ikut gereja yang di dalam organisasi…” ini adalah sikap orang Farisi, bukan? Tentu saja iya.

  


Now what are the three remedies?

1.    gold tried in fire

2.    white garments

By the way, the gold is to take care of the poverty. The white garments are to take care of the nakedness.

3.    and eye salve to take care of the blindness.

Now, let's talk about each one of these remedies that God proposes to the church of Laodicea.

 

Nah apakah ketiga obatnya?

1.    Emas yang dimurnikan dalam api

2.    Pakaian putih

Nah, emas itu untuk mengobati kemiskinannya. Pakaian putih untuk mengobati ketelanjangannya.

3.    Dan salep mata untuk mengobati kebutaannya.

Nah, mari kita bicara satu per satu tentang obat yang ditawarkan Allah kepada gereja Laodekia.

 


What is the gold tried in fire? Turn with me to Galatians 5:6 and we're going to find what the gold tried in fire is. Galatians 5:6. Here the apostle Paul says this, 6 For in Jesus Christ neither circumcision availeth any thing, nor uncircumcision;…” what is it that avails then in Christ? “…but faith which…”  what? “…which worketh by love.” (KJV) Does Laodicea have a lot of works? Yes, she does. Who produces those works?  Laodicea herself. They are not works of faith, they are works of Law that she produces. But notice that Galatians 5:6 speaks about a faith that works, and what is the motivating principle that leads faith to work? Love!

 

Emas yang dimurnikan dalam api itu apa? Mari bersama saya ke Galatia 5:6 dan kita akan melihat apa itu emas yang dimurnikan dalam api. Galatia 5:6. Di sini rasul Paulus mengatakan demikian, 6 Sebab di dalam Kristus Yesus baik bersunat maupun tidak bersunat tidak berarti apa pun,…” kalau begitu apa yang berarti dalam Kristus?  “…tetapi iman yang…” apa? “…yang bekerja oleh kasih.” (KJV). Apakah Laodekia punya banyak perbuatan? Ya, betul. Siapa yang menghasilkan perbuatan-perbuatan itu? Laodekia sendiri. Mereka bukan perbuatan-perbuatan dari iman, mereka itu perbuatan-perbuatan Hukum yang dihasilkan Laodekia. Tetapi simak Galatia 5:6 bicara tentang iman yang berbuat, dan apa prinsip yang memotivasi iman untuk berbuat? Kasih!

 


Notice how James describes this. James 1:27, here James says, 27 Pure religion and undefiled before God and the Father is this,…”  you want to know what true religion is? What undefiled religion is? Here's the definition:  “…To visit the fatherless and widows in their affliction, and to keep himself unspotted from the world…” (KJV) You know, what challenge the church? If you want a real blessing in your life, talk to Pastor Jensen, and go visiting the shut-ins, the fatherless, and the widows. You know, you will bring a blessing to them; but you will be the most blessed. Visit someone who's depressed, someone who's discouraged, not because you have to, not because you say, “If I don't do it, the Lord's not going to allow me into heaven.” No! When the love of Jesus is in the heart, it will be a delight to go out and do it. We'll do it with a smile on our face, with joy in our hearts, because we love people. Not because we're forced to do it. And of course the last part of the verse says, “and to keep himself unspotted from the world”.

 

Simak bagaimana Yakobus menggambarkan ini. Yakobus 1:27 di sini Yakobus berkata, 27 Agama yang murni dan yang tak tercemar di hadapan Allah dan Bapa, ialah ini, …”  kalian mau tahu apa agama yang sejati itu? Agama yang tidak tercemar itu? Ini definisinya,   “…mengunjungi anak-anak yatim dan janda-janda dalam kesusahan mereka dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.” (KJV) Kalian tahu, apa yang menantang gereja? Jika kita ingin mendapatkan berkat yang sungguh-sungguh dalam hidup kita, bicaralah kepada Pastor Jensen, dan pergi mengunjungi mereka yang dikurung, yang tidak punya ayah, dan yang janda. Kalian tahu, kita akan membawa berkat bagi mereka; tetapi kita sendiri yang akan terutama diberkati. Kunjungi orang yang tertekan, orang yang putus asa, bukan karena kita harus, bukan karena kita berkata, “Jika aku tidak melakukannya, Tuhan tidak akan mengizinkan aku masuk Surga.” Tidak! Bila kasih kepada Yesus ada di dalam hati, kita akan gemar pergi dan melakukan itu. Kita akan melakukannya dengan senyum di wajah kita, dengan sukacita di hati kita, karena kita mengasihi mereka. Bukan karena kita terpaksa melakukannya. Dan tentu saja bagian terakhir ayat itu mengatakan,  “dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.”

 


The apostle Paul in 1 Timothy 6:17-19 speaks about what the riches represent. It represents actually faith that works by love. But notice how the apostle Paul amplifies this idea. 1 Timothy 6:17-19 he says this,  17 Charge them that are rich in this world, that they be not highminded, nor trust in uncertain riches…” see, physical riches are uncertain riches  “…but…” to trust “…in the living God, who giveth us richly all things to enjoy;…” and now notice this. “…18 That they do good, that they be…”  what?   “…rich in good works…” what are the riches that Laodicean needs? Good works produced by what? By faith, a faith that loves. Are you catching the picture? What's the problem with Laodicea? Laodicea has a cold heart. And she's cold towards people because there's no love there. He says that, “…they be rich in good works,…” and what is the result? “…ready to distribute,…” it's to give,  “…willing to communicate…” that it speaks the Gospel.  “…19 Laying up in store for themselves a good foundation against the time to come, that they may lay hold on eternal life.” (KJV) Powerful passage. Rich in good works.

 

Rasul Paulus di 1 Timotius 6:17-19 bicara tentang apa yang diwakili oleh kekayaan. Itu  sesungguhnya mewakili iman yang bekerja karena kasih. Tetapi simak sekarang bagaimana rasul Paulus mengamplifikasikan ide ini. 1 Timotius 6:17-19 dia mengatakan ini, 17 Perintahkan mereka yang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati, maupun mengandalkan pada kekayaan yang tidak tentu…” lihat, kekayaan duniawi itu kekayaan yang tidak tentu, “…melainkan…” untuk mengandalkan “…pada Allah yang hidup, yang memberikan kepada kita dengan limpah segala sesuatu untuk dinikmati. …”  Dan sekarang simak ini,  “…18 Hendaknya  mereka itu berbuat kebaikan, agar mereka menjadi…” apa? “…kaya dalam perbuatan baik,…” apakah kekayaan yang dibutukan Laodekia? Perbuatan baik yang dihasilkan oleh apa? Oleh iman, iman yang mengasihi. Apakah kalian menangkap gambarnya? Apa masalahnya dengan Laodekia? Laodekia punya hati yang dingin, dan dia dingin terhadap manusia karena tidak ada kasih di sana. Dia mengatakan   “…agar mereka menjadi kaya dalam perbuatan baik,…”  dan apa akibatnya?   “…siap berbagi…”  itu memberi “…rela berkomunikasi…” itu bicara tentang Injil, “…19 mengumpulkan bagi diri mereka sendiri, suatu dasar yang baik untuk masa yang akan datang, supaya mereka bisa mendapatkan hidup yang kekal.” (KJV) Pesan yang luar biasa. Kaya dalam perbuatan baik.

 

 

You see, Laodicea doesn't have good works.

·       The Sabbath keeping of Laodicea is not a good work.

It's an evil work because something she does, because she thinks she's saved by doing it.

·       You see Laodicea's tithe returning is not really a good work, it's an evil work, because they do it in order to impress God, and to be recognized.

·       The health reform of Laodicea many times is a health reform where they do it in order to criticize the one who does not do it.

Are you understanding the picture here?

When the apostle Paul talks about works of Law, have you ever heard the expression “works of Law”? Man is not justified by works of Law? Those works of Law aren't good works at all, they are works that a person performs in order for God to save you. In other words, by definition “works of Law” are evil works, because they're not works of faith, they don't spring from a loving heart.

 

Kalian lihat, Laodekia tidak punya perbuatan yang baik.

·       Pemeliharaan Sabat orang Laodekia bukanlah perbuatan yang baik.

Itu perbuatan yang jahat karena dia pikir dia diselamatkan dengan melakukannya.

·       Kalian lihat, pengembalikan persepuluhan Laodekia sesungguhnya bukanlah perbuatan yang baik, karena mereka melakukannya untuk mengesankan Allah, dan supaya mendapat pengakuan.

·       Reformasi kesehatan Laodekia seringkali adalah reformasi kesehatan yang mereka lakukan untuk bisa mengkritik orang-orang yang tidak melakukannya.

Apakah kalian memahami gambarannya di sini?

Ketika rasul Paulus bicara tentang perbuatan-perbuatan Hukum, pernahkah kalian mendengar ungkapan “perbuatan-perbuatan Hukum”? Bahwa manusia tidak dibenarkan oleh perbuatan-perbuatan Hukum? Perbuatan-perbuatan Hukum itu sama sekali bukanlah perbuatan-perbuatan yang baik, itu adalah perbuatan-perbuatan yang dilakukan seseorang agar Allah menyelamatkan dia. Dengan kata lain, menurut definisinya, “perbuatan-perbuatan Hukum” itu perbuatan-perbuatan yang jahat, karena mereka bukan perbuatan-perbuatan iman, mereka tidak timbul dari hati yang mengasihi.

 


James 2:5, continuing on what the riches are, says in James 2:5, 5 Hearken, my beloved brethren, Hath not God chosen the poor of this world rich in…” what?  “…rich in faith…” what kind of faith? A faith that what? A faith that works, we noticed.   “…Hath not God chosen the poor of this world rich in faith and heirs of the kingdom…” now notice,  “…which He hath promised to them that love Him?” What kind of works are these? They are works of what? Works of faith and love.

 

Yakobus 2:5, melanjutkan tentang kekayaan itu apa, dikatakan di Yakobus 2:5, 5 Dengarkanlah, hai saudara-saudara yang kukasihi! Bukankah Allah telah memilih orang-orang miskin di dunia ini yang kaya dalam…”  apa?   “…kaya dalam iman…”  iman macam apa? Iman yang bagaimana? Iman yang berbuat, kita simak, “…Bukankah Allah telah memilih orang-orang miskin di dunia ini yang kaya dalam iman dan ahliwaris Kerajaan…”  sekarang simak, “…yang telah dijanjikan-Nya kepada mereka yang mengasihi Dia? …”  Perbuatan-perbuatan macam apakah ini? Itu perbuatan-perbuatan apa? Perbuatan-perbuatan iman dan kasih.

 


We all know that passage in James chapter 2 beginning with verse 14. It's a vivid illustration of this, of these riches that Laodicea needs. Let's go through this passage quickly. James chapter 2 and beginning with verse 14, 14 What doth it profit, my brethren, though a man…” notice this  “…though a man say he hath faith…” did you get that point? What does it profit if a man says he has faith   “…and have not works? Can…” such a  “…faith save him?...” can a workless faith save you? Can a faithless work save you? That went over your head. Can a faithless work save you? Can faithless works save you? Can workless faith save you? No! It has to be a faith that works, an active faith. Can such a faith, can a workless faith save you? Verse 15, what is he talking about?  “…15 If a brother or sister be naked, and destitute of daily food, 16 And one of you say unto them, ‘Depart in peace, be ye warmed and filled’; notwithstanding ye give them not those things which are needful to the body; what doth it profit?...”  What does it profit to come to church and to keep the Sabbath, and to return your tithe, and to practice the principles of health reform, if people are in need and you don't do anything about it? Faith is not working by law. In other words, verse 17,  “…17 Even so faith, if it hath not works, is…” what?  “…is dead, being alone…” Listen to what I'm going to say now.  Man is saved by faith alone, but the faith that saves is never alone. I repeat, man is saved by faith alone but the faith that saves is never alone. Because where faith appears, works appear. Works of love from the heart, not works produced from a selfish heart. Verse 18, “…18 Yea, a man may say, Thou hast faith, and I have works…” then he says, “…shew me thy faith without thy works, and I will shew thee my faith by my works…” man is not saved by faith alone, in the sense that I mentioned before. Man is not saved by works. Man is not saved by faith plus works. Man is saved by a faith that works, because that is the only true genuine faith. Verse 19,  “…19 Thou believest that there is one God; thou doest well: the devils also believe, and tremble…” so if you have only an intellectual faith, you're not better than the devil, is what James is saying, because the devils believe that Jesus was born into this world, that Jesus died, that Jesus resurrected, that Jesus went to heaven, that Jesus is interceding, that Jesus is coming again. They believe it all, but it doesn't change their life.

By the way all of the Hebrew heroes of Hebrews 11 are doing something. They're the heroes of faith, but they're doing. Moses, Moses leaves Egypt. Noah builds an ark, Abraham has sexual relations with Sarah even though he's an old man. So you're talking about action. Enoch walked with God. See, faith is an action word. Faith is not something that happens in your brain. It's something that happens in your actions. It's an action word. Unfortunately, we've come to the idea that “believe” which is the same word which is translated “faith”, is something that happens in our head. But that which goes into our head needs to be translated into action.

Verse 20, “…20 But wilt thou know, O vain man, that faith without works is dead?...” Verse 21, “…21Was not Abraham…” now this this threw Martin Luther for a loop,  “…21Was not Abraham our father justified by works, when he had offered Isaac his son upon the altar?...” You know, Martin Luther called the book of James “the Epistle of straw” and in fact he said more than once that if he had his way, he would take some scissors and cut it out of the New Testament, because Paul says, we're “justified by faith without works of Law”. James says “was not our Father Abraham justified by works”. It all depends how you look at it.  You see, Paul is telling us how is a lost person saved. James is telling us how a saved person should live. So Paul's focus is, how is a person saved, by grace through faith. James is saying, “Yes! But a true faith is a faith that…” what? “…that works. And if it doesn't work, it's not faith.” And so God is saying that Laodicea needs to have lots of works, but produced by a faith that loves. Verse 22, “…22 Seest thou how faith wrought…” or was working together  “…with his works, and by works was faith made perfect?...” See, without works faith is imperfect, incomplete.

 


Kita semua tahu tulisan di Yakobus pasal 2 mulai dari ayat 14. Itu adalah ilustrasi yang hidup tentang ini, tentang kekayaan yang dibutuhkan Laodekia. Mari kita bahas tulisan ini dengan cepat. Yakobus 2 mulai dengan ayat 14, 14 Apakah gunanya, Saudara-saudaraku, walaupun seseorang…” simak ini, “…walaupun seseorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman…” apakah kalian menangkap poinnya? Apa keuntungannya jika seseorang berkata dia punya iman, “…tetapi ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman yang begitu itu menyelamatkan dia?…”  bisakah iman yang tidak berbuat menyelamatkan kita? Bisakah perbuatan yang tanpa iman menyelamatkan kita? Ini terlalu sulit untuk kalian pahami. Bisakah perbuatan tanpa iman menyelamatkan kita? Bisakah iman yang tidak berbuat menyelamatkan kita? Tidak! Harus iman yang berbuat, iman yang aktif. Bisakan iman yang seperti ini, iman yang tanpa perbuatan menyelamatkan kita? Ayat 15, apa yang dibicarakannya?  “…15 Jika seorang saudara laki-laki atau perempuan tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, 16 dan seorang dari antara kamu berkata kepada mereka, ‘Selamat jalan, jangan kedinginan dan makanlah yang kenyang!’ tetapi kamu tidak memberikan mereka apa yang diperlukan secara jasmani, apakah gunanya itu?…” apakah gunanya datang ke gereja untuk memelihara Sabat dan mengembalikan persepuluhan, dan mempraktekkan prinsip-prinsip reformasi kesehatan jika ada orang yang membutuhkan dan kita tidak berbuat apa-apa untuk itu? Iman itu bukan perbuatan Hukum. Dengan kata lain, ayat 17, “…17 Demikian juga halnya iman, jika iman itu tidak disertai perbuatan, iman itu…”  apa?   “…mati, karena sendirian…”  Dengarkan apa yang akan saya katakan sekarang. Manusia hanya diselamatkan oleh iman, tetapi iman yang menyelamatkan itu tidak pernah sendirian. Saya ulangi, manusia hanya diselamatkan  oleh iman, tetapi iman yang menyelamatkan itu tidak pernah sendirian. Karena ketika iman muncul, perbuatan muncul; perbuatan kasih yang berasal dari hati, bukan perbuatan yang diciptakan oleh hati yang mementingkan diri. Ayat 18 “…18 Iya, orang mungkin berkata: ‘Kamu punya iman dan aku punya perbuatan’…” lalu dia berkata, “…Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatanmu, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku…” Manusia tidak diselamatkan oleh iman saja dalam pengertian yang saya sebutkan tadi. Manusia tidak diselamatkan oleh perbuatan. Manusia tidak diselamatkan oleh iman plus perbuatan. Manusia diselamatkan oleh iman yang berbuat, karena inilah satu-satunya iman yang tulen. Ayat 19, “…19 Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja, engkau benar! Bahkan setan-setan pun percaya dan gemetar…”  jadi jika kita hanya punya iman yang intelektual, kita tidak lebih baik daripada setan, itulah yang dikatakan Yakobus, karena setan-setan percaya bahwa Yesus lahir ke dunia ini, bahwa Yesus mati, bahwa Yesus bangkit, bahwa Yesus pergi ke Surga, bahwa Yesus sedang menjadi Perantara, bahwa Yesus akan datang kembali. Mereka percaya semua itu, tapi itu tidak mengubah hidup mereka.

Nah, semua pahlawan iman di Ibrani 11 berbuat sesuatu. Mereka adalah pahlawan-pahlawan iman, tetapi mereka melakukan perbuatan. Musa, Musa meninggalkan Mesir. Nuh membangun bahtera. Abraham menjalin hubungan seksual dengan Sarah walaupun dia sudah tua. Jadi kita bicara tentang tindakan. Henokh berjalan bersama Allah. Lihat, iman adalah sebuah kata perbuatan. Iman bukan sesuatu yang terjadi di dalam otak. Itu sesuatu yang terjadi dalam perbuatan kita. Itu sebuah kata kerja. Sayangnya, kita tiba pada konsep bahwa “keyakinan” yang adalah kata yang sama yang diterjemahkan “iman”, itu sesuatu yang terjadi di dalam kepala kita. Tetapi apa yang ada di dalam kepala kita harus diubahkan menjadi perbuatan.

Ayat 20, “…20 Tetapi ketahuilah o, manusia yang bebal, bahwa iman tanpa perbuatan itu mati?…”  Ayat 21, “…21 Bukankah Abraham…” ini akan membuat Martin Luther kaget sekali, “…21 Bukankah Abraham, bapak kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah?…”  Kalian tahu, Martin Luther menyebut kitab Yakobus itu “Surat jerami” dan bahkan dia berkata lebih dari satu kali, bahwa andaikan dia diizinkan berbuat sesuai keinginannya, dia akan mengambil gunting dan menggunting kitab itu dari Perjanjian Lama karena Paulus mengatakan bahwa kita  28dibenarkan oleh iman tanpa melakukan perbuatan Hukum” (Roma 3:28). Yakobus berkata, “…21 Bukankah Abraham, bapak kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya?” Semuanya tergantung bagaimana kita memandangnya. Kalian lihat, Paulus memberitahu kita bagaimana seseorang yang hilang bisa diselamatkan. Yakobus memberitahu kita bagaimana seseorang yang sudah diselamatkan harus hidup. Jadi fokus Paulus ialah, bagaimana orang bisa diselamatkan, oleh kasih karuna melalui iman. Yakobus berkata, “Betul! Tetapi iman yang sejati adalah iman yang…” apa? “…yang berbuat. Dan jika dia tidak berbuat, itu bukan iman.” Maka Allah berkata bahwa Laodekia harus punya banyak perbuatan, tetapi yang dihasilkan oleh iman yang mengasihi. Ayat 22, 22 Apakah kamu lihat bagaimana iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatannya, dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna?…”  Lihat, tanpa perbuatan iman itu tidak sempurna, tidak lengkap. 

 


Let me ask you what's more important, a bodyless spirit or a spiritless body? You can't have one without the other. And that's what James is saying. By the way, let me ask you this, when you open a door, which side of the door moves first, the inside or the outside? They both move together. That's faith and works. Where faith appears, works follow. When you came to church this morning, which wheels move first? The front wheels or the back wheels? Let's take a car that is back wheel drive, okay? What happens when the back wheels begin to roll? They push, don't they? They push. What happens with the front wheels? They follow. Faith, a loving faith, is the power;  but where there is the power, there is what? Works follow, works of faith, works of love, not works of Law.


Coba saya tanya, mana yang lebih penting, roh yang tidak punya tubuh atau tubuh yang tidak punya roh? Tidak bisa ada satu tanpa yang lain. Dan itulah yang dikatakan Yakobus. Nah, coba saya tanya ini, ketika kita membuka pintu, sisi pintu yang mana yang bergerak lebih dulu? Bagian yang dalam atau bagian yang luar? Mereka bergerak bersama-sama. Itulah iman dan perbuatan. Di mana muncul iman, perbuatan mengikuti. Ketika kita datang ke gereja tadi pagi, roda kendaraan mana yang bergerak dulu? Roda-roda depan atau belakang? Misalnya pada mobil yang digerakkan roda belakang, oke? Apa yang terjadi ketika roda-roda belakang mulai menggelinding? Mereka mendorong, bukan? Mereka mendorong. Apa yang terjadi dengan roda-roda depannya? Mereka mengikuti. Iman, iman yang mengasihi, adalah penggeraknya; tetapi di mana ada penggeraknya, di sana ada apa? Perbuatan mengikuti, perbuatan-perbuatan iman, perbuatan-perbuatan kasih, bukan perbuatan-perbuatan Hukum.

 

 

Let me ask you, which oar is more important, the right oar or the left oar of a rowboat, which is more important? They're both indispensable. They have to work what? Together, or else you're going to go in circles. Ellen White says that faith and works are like two oars of a rowboat. They need to work together or else you will have an unbalanced Christian life. Verse 23, “…23 And the scripture was fulfilled which saith, Abraham believed God, and it was imputed unto him for righteousness: and he was called the Friend of God…” is that marvelous? When his faith worked, he was called what? The friend of God. Verse 24,  “…24 Ye see then how that by works a man is justified, and not by faith only….” See, Paul and James are not contradicting each other, folks. The apostle Paul is fighting against those who say we are saved by faithless works. Whereas James is fighting against those who say that we are saved by a workless faith.  In other words, both of them have to go together. And then in verse 25 we see, 25 Likewise also was not Rahab the harlot justified by works, when she…” notice what she did, she acted on her faith, even though she knew that it might cost her life, because she was hiding spies, and they were looking for them to kill them. The Bible says, was not she  “…justified by works, when she had received the messengers, and had sent them out another way?...” She acted and then he reaches the conclusion by saying, “…26 For as the body without the spirit is dead, so faith without works is dead also.” (KJV)

 

Coba saya tanya, dayung mana yang lebih penting, dayung kanan atau dayung kiri pada perahu dayung, yang mana yang lebih penting. Kedua-duanya harus ada. Mereka harus bekerja apa? Bersama-samal, kalau tidak perahunya bergerak berputar-putar. Ellen White mengatakan iman dan perbuatan bekerja seperti dua dayung perahu. Mereka harus bekerja bersama-sama, kalau tidak kehidupan Kekristenannya menjadi tidak seimbang. Ayat 23, 23 Dan genaplah nas yang mengatakan: ‘Abraham mempercayai Allah, dan itu diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran’ dan dia disebut ‘teman Allah.’…”  bukankah ini luar biasa? Ketika imannya berbuat, dia disebut apa? Teman Allah. Ayat 24,   “…24 Jadi kamu lihat, bagaimana oleh perbuatan-perbuatannya seorang manusia dibenarkan, dan bukan hanya oleh iman…” Lihat, Paulus dan Yakobus tidak saling mengkontradiksi, Saudara-saudara. Rasul Paulus sedang memerangi mereka yang mengatakan kita diselamatkan oleh perbuatan yang tidak beriman. Sementara Yakobus sedang memerangi mereka yang mengatakan bahwa kita diselamatkan oleh iman yang tidak berbuat. Dengan kata lain, kedua-duanya harus bergandengan. Kemudian di ayat 25 kita lihat, “…25 Seperti itu pula, bukankah Rahab yang pelacur itu, dibenarkan oleh perbuatan-perbuatannya ketika ia…” simak apa yang dilakukannya, dia bertindak berdasarkan imannya walaupun dia tahu bahwa itu mempertaruhkan nyawanya, karena dia sedang menyembunyikan mata-mata, dan orang-orang sedang mencari mata-mata itu untuk membunuh mereka. Alkitab mengatakan, bukankah Rahab “…dibenarkan oleh perbuatan-perbuatannya ketika ia menerima utusan-utusan itu, dan menyuruh mereka keluar melalui jalan yang lain?…” Rahab bertindak. Kemudidan Yakobus membuat konklusinya dengan mengatakan, “…26 Sebab seperti tubuh tanpa roh itu mati, demikianlah iman tanpa perbuatan-perbuatan juga mati.” (KJV)

  

 

So  Laodicea needs a new heart, that through faith and love will produce works. And don't anybody say that Pastor Bohr is saying that we don't have to keep God's Law anymore, we don't have to keep the Sabbath, we don't have to practice health reform, we don't have to tithe anymore. What I'm saying is that all of those things have to come for the right reason or else they're not acceptable in the sight of God.

 

Jadi Laodekia membutuhkan hati yang baru, yang melalui iman dan kasih akan menghasilkan perbuatan-perbuatan. Dan jangan ada yang berkata bahwa Pastor Bohr mengatakan kita tidak harus memelihara Hukum Allah lagi, kita tidak harus memelihara Sabat, kita tidak harus mempraktekkan reformasi kesehatan, kita tidak harus menyerahkan persepuluhan lagi. Apa yang saya katakan ialah semua hal itu harus datang dari alasan yang benar, kalau tidak, mereka tidak diterima di pemandangan Allah.

 

 

Allow me to read you a statement from Ellen White on the gold tried in fire. This is Selected Messages Vol. 1 page 398, this is what she says, “Grace is unmerited favor, and the believer is justified without any merit of his own, without any claim to offer to God. He is justified through the redemption that is in Christ Jesus, who stands in the courts of heaven as the sinners Substitute and Surety…”  but now comes the balancing statement  “…But while he is justified because of the merit of Christ, he is not free to work unrighteousness. Faith works by love and purifies the soul. Faith buds and blossoms and bears a harvest of precious fruit…” and this is the key portion. “…Where faith is, good works appear…” And then she explains what she means by “good works”. “…The sick are visited, the poor are cared for, the fatherless and the widows are not neglected, the naked are clothed, the destitute are fed…”  what are the works? Works of love, charity, to help people in need. She finishes by saying, “…Christ went about doing good, and when men are united with Him, they love the children of God, and meekness and truth guide their footsteps…” that's the gold tried in fire that Laodiceans needs, desperately needs, as one of the remedies for her condition.

 

Izinkan saya membacakan kalian sebuah pernyataan dari Ellen White mengenai emas yang dimurnikan api. Ini Selected Messages Vol. 1 hal. 398, inilah yang dikatakannya,    “…Rahmat adalah kebaikan yang kita tidak layak terima, dan orang percaya itu dibenarkan tanpa jasa apa pun dari dirinya sendiri, tanpa apa pun yang bisa diklaimnya dari Allah. Dia dibenarkan melalui penebusan yang ada dalam Kristus Yesus, yang sedang berdiri di pengadilan Surgawi sebagai Pengganti dan Penjamin orang berdosa itu…”  tetapi sekarang ini pernyataan yang mengimbanginya. “…Tetapi sementara orang ini dibenarkan karena jasa Kristus, dia tidak merdeka untuk mengerjakan ketidakbenaran. Iman oleh kasih menghasilkan perbuatan dan memurnikan jiwa. Iman bertunas dan berbunga dan menghasilkan tuaian buah yang berharga…”  dan ini bagian kuncinya, “…Di mana ada iman, perbuatan-perbuatan baik muncul…” Kemudian Ellen White menjelaskan apa yang dimaksudnya dengan “perbuatan-perbuatan baik”. “…Yang sakit dilawat, yang miskin dipelihara, yang yatim dan yang janda tidak diterlantarkan, yang telanjang diberi pakaian, yang kekurangan diberi makan…”  apakah perbuatan-perbuatannya? Perbuatan-perbuatan kasih, bantuan, menolong mereka yang membutuhkan. Ellen White mengakhiri dengan berkata, “…Kristus pergi ke mana-mana berbuat kebaikan, dan ketika manusia menyatu dengan Dia, mereka akan mengasihi anak-anak Allah, dan penyerahan dan kebenaran akan memimpin langkah-langkah mereka…” Inilah emas yang dimurnikan dalam api yang diperlukan Laodekia, sangat diperlukan, sebagai salah satu obat bagi kondisinya.

 

 

The second remedy is white garments. What is represented by the white garments? Go with me to Genesis 2:25. Remember when Adam and Eve were created, they were naked and they were not what? They were not ashamed. Do you know why they were not ashamed? Even though they were naked with regards to human garments, they were actually covered with what? With a glorious robe of light. Now the glorious white robe of light represented their state of innocence, and purity, and righteousness, before they sinned. It says there that,  they were naked, 25…they were both naked… and they were not ashamed.” But then Adam and Eve sinned, they lost their innocence, they lost their righteousness. What was the immediate result when they sinned? Suddenly they're naked. Well, they were naked before, but what happened? The glorious robe of light  disappeared, and with all the light. Now they look at themselves and they say, “Oh, we're naked!” So how did they try to resolve their problem? They implemented the Laodicean  solution. It says in Genesis 3:7, 7  And the eyes of them both were opened, and they knew that they were naked; and they sewed fig leaves together, and made themselves aprons.” (KJV) How did they try to cover their unrighteousness? By making aprons of fig leaves and covering themselves. But you know what's interesting? Even after doing that, they still considered themselves naked.

 

Obat yang kedua adalah jubah putih. Apa yang dilambangkan oleh jubah putih? Mari bersama saya ke Kejadian 2:25. Ingat ketika Adam dan Hawa diciptakan, mereka telanjang dan mereka tidak apa? Mereka tidak malu. Tahukah kalian mengapa mereka tidak malu? Walaupun mereka telanjang dalam hal pakaian manusia, mereka sesungguhnya diselubungi oleh apa? Oleh jubah cahaya yang mulia. Nah, jubah cahaya yang mulia ini melambangkan kondisi kepolosan mereka,  yang murni, dan yang benar, sebelum mereka berbuat dosa. Dikatakan di sana bahwa mereka itu telanjang, 25 Dan mereka keduanya telanjang…  dan mereka tidak merasa malu.” (KJV) Tetapi kemudian Adam dan Hawa berbuat dosa, dan mereka kehilangan kepolosan mereka, mereka kehilangan kebenaran mereka. Apakah akibat langsungnya ketika mereka berbuat dosa? Tiba-tiba mereka telanjang. Nah, sebelumnya mereka memang sudah telanjang, tetapi apa yang terjadi? Jubah cahaya yang mulia hilang, dan bersamanya segala cahanya. Sekarang mereka memandang diri mereka sendiri dan mereka berkata, “Oh, kita telanjang!” Jadi bagaimana mereka berusaha menyelesaikan masalah mereka? Mereka memakai solusi Laodekia. Dikatakan di Kejadian 3:7, 7 Dan mata mereka berdua dibuka, dan mereka tahu bahwa mereka telanjang; dan mereka menyemat daun-daun pohon ara dan membuat penutup bagi diri mereka sendiri.”(KJV). Bagaimana mereka berusaha menutupi ketidakbenaran mereka? Dengan membuat penutup/seperti celemek dari daun-daun ara dan menutupi diri mereka sendiri. Tetapi kalian tahu apa yang menarik? Walaupun setelah melakukan itu, mereka masih menganggap diri mereka telanjang.

 

 

Does Laodicea feel fully clothed? Does Laodicea feel fully clothed? Oh, Yes! You mean you say, “I'm not naked, I'm luxuriously clothed!” is what Laodicea says. But God says, “You're…” what? “…naked!” Adam and Eve covered themselves with fig leaves. They said, “That'll take care of the problem of nakedness.” But even after that they're still naked.

You say, “How do we know that?”

Because in verse 10 ~ this is after they put on the fig leaves ~  God comes to the garden and and He talks to Adam. And Adam says, 10 And he said, I heard Thy voice in the garden, and I was afraid, because I was naked; and I hid myself.” He wasn't naked anymore because he had fig leaves. Obviously the fig leaves do not cover the nakedness. By the way, the fig leaves represent their own what? Their own excuses for their sin, their own works. Do you know what the greatest sign of a lack of repentance is passing the buck? When you pass the buck, you're not repentant. “Oh, the Devil made me do it.” “But my wife is like this”, “my son or my daughter are like this.” The immediate result of the sin of Adam and Eve was to cast blame. They weren't repentant. They weren't  sorry, they’re sorry they got caught, but they weren't sorry for their sin. They didn't realize what a profound thing that they had done. And so when God comes and speaks to Adam, Adam says, “the woman You gave me…” see? “…if You hadn't given me that woman…” Little while before he was very thankful to have the woman, but now “the woman You gave me, her and You, you're to blame.” And when He comes and He speaks to Eve, Eve says, “the serpent You made…” They're not sorry for their sin, they're sorry they got caught. They don't know the terrible consequences of their sin until they offer the first sacrifice, and they understand what sin is going to cost. Then their eyes are open. They no longer cover themselves with their own excuses and their own righteousness.

 

Apakah Laodekia merasa berpakaian lengkap? O, iya! Dia berkata, “Aku tidak telanjang, aku berpakaian mewah!” itulah kata Laodekia. Tetapi Allah berkata, “Kamu…” apa? “…telanjang!”  Adam dan Hawa menutupi diri mereka dengan daun-daun ara. Mereka berkata, “Ini akan menyelesaikan masalah ketelanjangan.” Tetapi bahkan setelah itu, mereka tetap merasa telanjang.

Kalian berkata, “Dari mana kita tahu itu?”

Karena di ayat 10 ~ ini setelah mereka menyematkan daun-daun ara ~ Allah datang ke taman dan Dia bicara kepada Adam. Dan Adam mengatakan, 10 Dan  ia menjawab: ‘Aku mendengar suaraMu di taman, dan aku takut, karena aku telanjang; dan aku menyembunyikan diriku.’ (KJV) Dia sudah tidak telanjang lagi karena dia punya penutup dari daun-daun ara itu. Jelas bahwa daun-daun ara itu tidak menutupi ketelanjangan. Nah, daun-daun ara itu melambangkan apa mereka sendiri? Alasan-alasan pembenaran mereka sendiri untuk dosa mereka, perbuatan mereka sendiri. Tahukah kalian tanda yang paling jelas ketiadaannya pertobatan ialah melemparkan kesalahan kepada pihak lain. Ketika kita menyalahkan orang lain, kita tidak sedang bertobat. “Oh, si Iblis yang membuat aku melakukannya”, “Istriku yang seperti ini”, “Anak laki-lakiku atau anak perempuanku seperti ini”. Akibat langsung dosa Adam dan Hawa ialah mereka melemparkan kesalahan. Mereka tidak bertobat. Mereka tidak menyesal. Mereka menyesal mereka tertangkap, tetapi mereka tidak menyesali dosa mereka. Mereka tidak menyadari betapa seriusnya perbuatan yang telah mereka lakukan. Maka ketika Allah datang dan berbicara kepada Adam, Adam berkata, “…Perempuan yang Kauberikan kepadaku…” lihat? “Andai Engkau tidak memberiku perempuan itu…” Beberapa saat sebelumnya Adam sangat bersyukur diberi perempuan itu, tetapi sekarang “…Perempuan yang Kauberikan kepadaku, dia dan Engkau yang salah.” Dan ketika Allah datang dan Dia berbicara kepada Hawa, Hawa berkata,  “Ular yang Engkau ciptakan…” Mereka tidak menyesali dosa mereka, mereka menyesal mereka tertangkap. Mereka tidak tahu betapa mengerikannya konsekuensi dosa mereka hingga mereka mempersembahkan kurban yang pertama. Dan mereka paham betapa mahalnya harga dosa. Pada saat itu mata mereka terbuka. Mereka tidak lagi menutupi diri sendiri dengan alasan-alasan sendiri dan kebenaran mereka sendiri.

 

 

Let me ask you, what was it that was going to cover the nakedness of Adam and Eve? Not their fig leaves, because they were still naked after putting on the fig leaves. Genesis 3: 21 has the answer, a profound statement. It says, 21 Unto Adam also and to his wife did the LORD God make coats of skins, and clothed them.” You notice that “skins” is in plural. How many sinners were there? Two. And if you have “skins”, you have how many animals? At least two. What do you need to do to get the skin of an animal? You have to kill the animal. What was God trying to teach through this ceremony? He was trying to say, “Adam and Eve, you've sinned, and you've been stripped of the glory of God. You tried to cover up that nakedness of sin through your own efforts, through your own fig leaf garments, but that is going to still leave you naked.” In order for your nakedness to be covered, Jesus says, “I'm going to have to go to the world, and I'm going to have to suffer. I'm going to have to die. And as a result, My robe of perfect righteousness will cover you. Not your coverings, but Mine.”

 

Coba saya tanya apa yang akan menutupi ketelanjangan Adam dan Hawa? Bukan daun-daun ara mereka karena mereka masih tetap telanjang setelah memasang daun-daun ara itu. Kejadian 3:21 memberikan jawabannya, suatu pernyataan yang mendalam. Dikatakan, 21 Bagi Adam dan istrinya, TUHAN Allah membuatkan pakaian dari kulit-kulit binatang dan mengenakannya kepada mereka…”  simak kata “kulit-kulit” dalam bentuk jamak. Ada berapa orang pendosa di sana? Dua. Dan jika ada “kulit-kulit” ada berapa ekor binatang? Paling sedikit dua. Apa yang perlu dilakukan untuk mengambil kulit dari binatang itu? Binatang itu harus dibunuh. Apa yang mau diajarkan Allah melalui upacara ini? Allah berusaha mengatakan, “Adam dan Hawa, kalian sudah berbuat dosa, dan kemuliaan Allah kalian sudah dilucuti dari kalian. Kalian mencoba menutupi ketelanjangan dosa melalui usaha kalian sendiri, dengan pakaian dari daun ara, tapi itu tetap masih meninggalkan kalian telanjang.” Supaya ketelanjangan kalian tertutup, Yesus berkata, “Aku akan harus pergi ke dunia, dan Aku akan harus menderita. Aku akan harus mati. Dan sebagai akibatnya, jubah kebenaranKu yang sempurna akan menutupi kalian. Bukan penutup yang dari kalian, tapi kepunyaanKu.”

 

 

Isaiah 61:10 explains what the garment represents. It says there, 10 I will greatly rejoice in the LORD, my soul shall be joyful in my God;…”  and now notice this. Why is it that Isaiah is saying “I will greatly rejoice in the Lord, my soul shall be joyful in my God”, here he explains the reason, “…for he hath clothed me with the garments of salvation, he hath covered me with the robe of…” what? “…of righteousness,…” let me ask you what kind of robe did the Pharisee use? He had the robe of self-righteousness. By all he did, he said, “Oh, look at me, I'm luxuriously dressed.” God says, “Naked!” By rejecting Christ they could not be covered with a glorious robe of righteous of Jesus. Notice Galatians 3:27 it says,27 For as many of you as have been baptized into Christ have…” what?  “…have put on Christ…” What does the garment represent? What does the robe represent? It means to put on whom? Christ.

 

Yesaya 61:10 menjelaskan jubah itu melambangkan apa. Dikatakan di ssana, 10Aku akan sangat bersukaria di dalam TUHAN, jiwaku akan bersukacita di dalam Allahku…”  dan sekarang simak ini. Mengapa Yesaya mengatakan, “…10Aku akan sangat bersukaria di dalam TUHAN, jiwaku akan bersukacita di dalam Allahku…” di sini dia menjelaskan alasannya, “…sebab Ia telah mengenakan pakaian keselamatan kepadaku, Dia telah menyelubungi aku dengan jubah…” apa? “…kebenaran…”  Coba saya tanya, jubah macam apa yang dipakai orang Farisi? Dia punya jubah kebenarannya sendiri dengan segala perbuatan yang dilakukannya. Dia berkata, “Oh, lihatlah aku, aku berpakaian mewah.” Allah berkata, “Telanjang!” Dengan menolak Kristus mereka tidak bisa ditutupi oleh jubah kebenaran Yesus yang mulia. Simak Galatia 3:27, yang mengatakan, “…27 Karena seberapa banyak dari kamu yang dibaptis ke dalam Kristus, telah…” apa?  “…telah mengenakan Kristus…” pakaian itu melambangkan apa? Jubah itu melambangkan apa? Artinya mengenakan siapa? Kristus.

 

 

Do you know that even our greatest works and our best works are tainted by selfishness? It's very difficult to find anyone who performs a work that is totally altruistic, in other words, it has no self-interest. By the way, that's what “Agape” means. It means giving without expecting anything in return, it means giving without having any mercenary motives. And when we do that, we've reached perfection. According to Scripture, “Be therefore perfect as your heavenly Father is perfect”. And the previous verses speak about the love of God, His bountiful goodness towards the human race. The Pharisee, they were dressed with their own robe of righteousness, which in the sight of God was an abomination. That's why they thought their works were good.

 

Tahukah kalian bahkan perbuatan kita yang paling hebat dan yang paling baik itu tercemar dengan keegoisan? Sangat sulit mencari orang yang melakukan suatu perbuatan yang seluruhnya altruistis, dengan kata lain, yang tidak ada pamrihnya. Nah, itulah makna “Agape”, artinya memberi tanpa mengharapkan apa pun sebagai balasan, artinya memberi tanpa motif keuntungan pribadi. Dan bilamana kita berbuat itu, kita sudah mencapai kesempurnaan. Menurut Kitab Suci, 48 Karena itu, jadilah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga itu sempurna.” (Matius 5:48 KJV). Dan ayat-ayat sebelumnya bicara tentang kasih Allah, kebaikanNya yang melimpah kepada manusia. Orang-orang Farisi, mereka mengenakan jubah kebenaran mereka sendiri, yang di pemandangan Allah adalah suatu kekejian. Itulah mengapa mereka menganggap perbuatan-perbuatan mereka itu baik.

 

 

Notice Revelation 7:13 and 14, how do we make our garments white? Is it by what we do or is it by what Jesus has done? Notice Revelation 7:13 and 14. 13 And one of the elders answered, saying unto me, ‘What are these which are arrayed in white robes? and whence came they?’ 14 And I said unto him, ‘Sir, thou knowest.’ And he said to me, ‘These are they which came out of great tribulation’…” actually it says in the Greek “those who have come out of the tribulation, the great one” this is the end time generation, and now notice what characterizes them,  “…and have washed their robes, and made them…” what?  “…made them white…” how?  “…in the blood of the Lamb…” the same Lamb that died in Genesis 3:21, or was represented by the Lamb of Genesis 3:21. Folks, we can never do enough works to recommend ourselves to God. It's only based on the death of Jesus. But when we grasp what the death of Jesus means, it will be our delight to obey Him.

 

Simak Wahyu 7:13-14, bagaimana kita membuat jubah kita putih? Apakah dengan apa yang kita lakukan atau dengan apa yang dilakukan Yesus? Simak Wahyu 7:13-14. 13 Dan seorang dari antara tua-tua itu menjawab dan berkata kepadaku, ‘Siapakah mereka yang memakai jubah putih itu dan dari manakah mereka datang?’ 14 Dan aku berkata kepadanya: ‘Tuanku, tuan yang mengetahuinya.’ Lalu ia berkata kepadaku, ‘Mereka ini adalah orang-orang yang telah keluar dari kesukaran yang besar…”  sebetulnya dalam bahasa Greeka dikatakan,  “…mereka yang telah keluar dari kesukaran, yang besar itu…” inilah generasi akhir zaman, dan sekarang simak bagaimana karakter mereka, “…dan telah mencuci jubah mereka dan membuatnya…” apa? “…membuatnya putih…”  bagaimana?   “…di dalam darah Sang Domba.’…” Domba yang sama yang mati di Kejadian 3:21. Saudara-saudara, kita sendiri tidak akan pernah bisa mengerjakan cukup perbuatan-perbuatan untuk merekomendasikan diri kita kepada Allah. Hanya bisa berdasarkan kematian Yesus. Tetapi ketika kita menangkap apa makna kematian Yesus, kita jadi gemar mematuhiNya.

 

 

Like Adam and Eve. Do you know they tried to excuse their sin until God said, “I want you to bring these two animals and I want you to slit their throats.” And Adam takes the knife and he cuts the throat, and the blood gushes out. Suddenly that animal is lifeless in the arms of Adam. Terrible, in a world where there was no death before. You know today we're accustomed to death, so it's not so terrible, we see death every day, every moment, almost of every day. So death has lost its alarming nature. But in a world where there had been no death for Adam to take the life of those lamb. And then Jesus comes to Adam and He says, “Adam, pretty terrible isn't it? But that lamb represents Me. That's the price of your sin.” Do you think Adam looked at sin differently now that it was going to take the life of his Creator? Adam at that moment his heart was regenerated. He was born again, he no longer tried to excuse sin. He saw the terrible nature of sin and from that moment on he said, “I don't want to have anything more to do with sin. I hate sin. Look what it's going to do with my Jesus.” So the victory over sin is not gained by looking at the Law, it's gained by looking at Jesus. And when I see what sin cost Jesus, I will not want to continue sinning, and I will be covered with the robe of His righteousness.

 

Seperti Adam dan Hawa. Tahukah kalian mereka berusaha membenarkan dosa mereka hingga Allah berkata, “Aku mau kalian membawa kedua binatang ini dan aku mau kalian menggorok leher mereka.” Dan Adam mengambil pisau dan menggorok leher dan darah muncrat keluar. Tiba-tiba binatang itu lemas tidak bernyawa di lengan Adam. Mengerikan, di sebuah dunia di mana sebelumnya tidak pernah ada kematian. Kalian tahu, hari ini kita sudah terbiasa dengan kematian, sehingga itu tidak begitu mengerikan. Kita melihat kematian setiap hari, nyaris setiap saat setiap hari. Sehingga kematian sudah kehilangan sifat mengerikannya. Tetapi di sebuah dunia di mana belum pernah ada kematian, Adam mengambil nyawa binatang-binatang itu. Kemudian Yesus datang kepada Adam dan Dia berkata, “Adam, sangat mengerikan, bukan? Tetapi domba itu melambangkan Aku. Itulah harga dosamu.” Kalian pikir sekarang Adam akan memandang dosa berbeda setelah tahu itu akan memakan hidup Penciptanya? Pada saat itu hati Adam mengalami regenerasi, dia dilahirkan baru. Dia tidak lagi berusaha membenarkan dosa. Dia melihat kodrat dosa yang mengerikan, dan mulai saat itu dia berkata, “Aku tidak mau punya urusan lagi dengan dosa. Aku benci dosa. Lihat, apa yang akan dilakukannya pada Yesusku.” Jadi kemenangan atas dosa tidak diperoleh dengan memandang Hukum. Itu diperoleh dari memandang Yesus. Dan ketika saya melihat apa yang harus dibayar Yesus untuk dosa, saya tidak mau terus-menerus berbuat dosa, dan saya akan ditutupi oleh jubah kebenaranNya.

 

 

Romans 10:3 tells us what the problem of the Pharisee was. The apostle Paul says speaking about the Jews of his day and age, 3 For they being ignorant of God's righteousness, and going about to establish their own righteousness…” see the problem? They didn't know God's righteousness, they wanted to establish their own righteousness,  “…have not submitted themselves unto the righteousness of God.”

 

Roma 10:3 memberitahu kita apa masalah orang-orang Farisi. Rasul Paulus berkata, bicara tentang orang-orang Yahudi di zamannya, 3 Sebab, karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan berusaha untuk menegakkan kebenaran mereka sendiri…”  lihat masalahnya? Mereka tidak tahu tentang kebenaran Allah, mereka mau menegakkan kebenaran mereka sendiri, “…sudah tidak menyerahkan diri mereka kepada kebenaran Allah.”

 

 

There's a passage I want to read, it's quite extensive, from the Spirit of Prophecy, Christ’s Object Lessons page 311 and 312 on the robe. Ellen White says this, “…This robe, woven in the loom  of Heaven, has in it not one thread of human devising…”  How many threads of human devising does the robe have? Not one, because your works don't earn anything. See, your works flow from salvation, they do not earn salvation; they are the result of being saved, not the cause of being saved. She continues saying, “…Christ in His humanity wrought out a perfect character, and this character He offers to impart to us…”  so that His character in place of mine,  “… All our righteousness are as filthy rags.’  Everything…”  now notice,  “…Everything that we of ourselves can do is defiled by sin. But the Son of God was manifested to take away our sins; and in Him is no sin.’ Sin is defined to be the transgression of the Law.’ (1 John 3:5, 4). But Christ was obedient to every requirement of the Law. He said of Himself, I delight to do Thy will, O My God; yea, Thy Law is within My heart.’ (Ps. 40:8). When on earth, He said to His disciples, I have kept My Father's commandments.’  (John  15:10). By…” now notice this,   “…By His  perfect  obedience,  He  has  made  it  possible  for  every human being to obey God's commandments…” There's some people that say, “Ah, you can never keep the Commandments of God. You can never keep the Law of God this side of eternity.” Those who say that are limiting the power of God. They're saying God isn't powerful enough, and the excuse is, “well, human nature is weak.” Yes! Is it so weak that God can't do anything about it? Are you with me or not? When you say that you can't overcome sin, you're saying God isn't powerful enough to give you victory over sin, you're limiting the power of God. She continues saying, “…By His  perfect  obedience.  He  has  made  it  possible  for  every human being to obey God's commandments…”  and then she gives a secret, “…When we submit ourselves to Christ…”  there's the key. See, we don't want to totally submit to Jesus, we only want to give part.  “…When we submit ourselves to Christ, the heart is united with His heart, the will is merged in His will, the mind becomes one with His mind, the thoughts are brought into captivity to Him; we live His life…”  it's not ours; Live Out Thy Life Within Me goes the hymn. “…This is what it means to be clothed with the garment of His righteousness.  Then as the Lord looks upon us He sees, not the fig-leaf garment, not the nakedness and deformity of sin, but His own robe of righteousness, which is perfect obedience to the Law of Jehovah.”

 

Ada sebuah kutipan yang mau saya bacakan, cukup panjang, dari Roh Nubuat, Christ’s  Object Lessons hal.311-312 tentang jubah. Ellen White mengatakan ini, “…Jubah ini, ditenun di mesin tenun surgawi, sama sekali tidak mengandung sehelai pun benang buatan manusia…”  ada berapa benang buatan manusia di jubah ini? Tidak satu pun, karena perbuatan kita tidak menghasilkan apa-apa. Lihat, perbuatan-perbuatan kita itu mengalir dari keselamatan, mereka tidak bisa mendapatkan keselamatan; mereka adalah hasil dari diselamatkan, bukan penyebab diselamatkan. Ellen White berkata, “…Kristus dalam kemanusiaanNya telah merajut suatu karakter yang sempurna dan karakter ini Dia tawarkan untuk dibagikan kita…” jadi karakterNya di tempat karakter saya.    “…‘segala kebenaran kami seperti kain kotor’ (Yes. 64:6.). Segala sesuatu…”  sekarang simak,  “…Segala sesuatu yang bisa kita lakukan sendiri itu sudah tercemar dosa. Tetapi Anak Allah,  dijadikan manusia untuk mengangkat dosa kita, dan di dalam Dia tidak ada dosa’ (1 Yoh. 3:5) Dosa itu didefinisikan sebagai ‘pelanggaran Hukum’ (1 Yoh. 3:4) Tetapi Kristus taat kepada setiap tuntutan Hukum. Dia berkata tentang DiriNya sendiri, ‘Aku suka melakukan kehendak-Mu, ya AllahKu; ya, Hukum-Mu ada di dalam hati-Ku.’ (Maz. 40:8). Ketika masih hidup di dunia, Dia berkata kepada murid-muridNya, ‘Aku telah menuruti Perintah-perintah Bapa-Ku’ (Yoh. 15:10). Lewat…” sekarang simak ini, “…Lewat kepatuhanNya yang sempurna. Dia telah memungkinkan setiap manusia untuk mematuhi perintah-perintah Allah…”  Ada orang-orang yang berkata, “Ah, kita tidak akan pernah bisa mematuhi Perintah-perintah Allah. Kita tidak akan pernah bisa mematuhi Hukum Allah di dunia ini.” Mereka yang berkata demikian membatasi kuasa Allah. Mereka mengatakan Allah tidak cukup berkuasa , dan alasannya ialah, “nah, sifat alami manusia itu lemah.” Ya, tapi apakah begitu lemahnya sehingga Allah tidak bisa berbuat apa-apa dengannya? Apakah kalian mengikuti saya atau tidak? Ketika kita berkata kita tidak bisa mengalahkan dosa, kita mengatakan Allah tidak cukup berkuasa untuk memberi kita kemenangan atas dosa, kita membatasi kekuasaan Allah. Ellen White melanjutkan berkata, “…Lewat kepatuhanNya yang sempurna Dia telah memungkinkan setiap manusia untuk mematuhi perintah-perintah Allah…”  lalu dia memberikan rahasianya.  “…Bilamana kita menyerahkan diri kepada Kristus,…”  ini kuncinya. Lihat, kita yang tidak mau sepenuhnya berserah kepada Yesus, kita hanya mau berserah sebagian. “…Bilamana kita menyerahkan diri kepada Kristus, hati kita dipersatukan dengan hatiNya, kemauan kita menyatu dengan kemauanNya, pikiran kita menjadi satu dengan pikiranNya, pikiran kita tunduk kepada kekuasaanNya, kita menjalani hidupNya…”  hidup kita bukan milik kita lagi. Live Out Thy Life Within Me (Hidupkanlah HidupMu Di Dalam Aku), bunyi lagu pujian.  “…Inilah yang dimaksud dengan mengenakan pakaian kebenaranNya. Maka pada saat Tuhan memandang kita, Dia tidak  melihat pakaian daun ara, tidak melihat ketelanjangan dan keburukan dosa, tetapi Dia melihat jubah kebenaranNya sendiri, yaitu kepatuhan yang sempurna kepada Hukum-hukum Yehova.”

 

 

Wow! Higher than any human thought, the highest human thought is what God has planned for His people: God likeness. Not in the sense that Lucifer wanted to be like God, but in the sense of being like God in character. See, Laodicea is self-righteous, and it comes short of the righteousness of God. That's our church.

 

Wow! Lebih tinggi daripada pikiran manusia apa pun, pikiran manusia yang tertinggi, itulah yang telah direncanakan Allah bagi umatNya: keserupaan dengan Allah. Tidak dalam pengertian seperti yang diinginkan Lucifer menjadi seperti Allah, tetapi dalam pengertian seperti  Allah dalam karakter. Lihat, Laodekia itu merasa benar sendiri, dan dia tidak mencapai kebenaran Allah. Itulah gereja kita.

 

 

Let's go quickly to the eye salve. Do you know how many times Jesus called the Pharisees blind? Notice Matthew 15:14 Jesus says, speaking about the religious leaders, 14 Let them alone: they be blind leaders of the blind. And if the blind lead the blind, both shall fall into the ditch.” What did Jesus call them? Blind, leaders of the blind, the Pharisees, those self-righteous Pharisees, who kept the Sabbath, who practiced the principles of health, who tithed, who fasted twice a week, whose life was  apparently a perfect model of piety, Jesus says they're blind. Is that the same problem with Laodicea? It most certainly is. In fact in Matthew 23 five times Jesus calls the Pharisees “blind guides”, “fools”, and “blind”. and “blind Pharisee”.

 

Mari kita cepat-cepat pergi ke salep mata. Tahukah kalian berapa kali Yesus menyebut orang-orang Farisi itu buta? Simak Matius 15:14, Yesus berkata, bicara tentang para pemimpin rohani, 14 Biarkanlah mereka itu. Mereka adalah pemimpin-pemimpin buta dari orang buta. Dan jika orang buta menuntun orang buta, keduanya akan jatuh ke dalam parit.”  Yesus menyebut mereka apa? Buta, pemimpin-pemimpin orang buta, orang-orang Farisi itu, yang merasa benar sendiri, yang memelihara Sabat, yang mempraktekkan prinsip-prinsip kesehatan, yang mengembalikan persepuluhan, yang berpuasa dua kali seminggu, yang hidupnya tampak sebagai gambaran kesalehan yang sempurna, Yesus mengatakan mereka buta. Apakah itu masalah yang sama seperti Laodekia? Betul sekali. Bahkan di Matius 23, lima kali Yesus menyebut orang Farisi itu “penuntun-penuntun buta”, “bodoh” dan “buta”, dan “Farisi yang buta”.

 

 

Remember the story of the man who was born blind? That's a marvelous parable. I have a whole lesson that I wrote for this series on The Parables, on this story of John chapter 9. You see, the Pharisees say, “we see” and they reject Jesus. And so Jesus says, “You're blind.” Whereas the blind man who is blind accepts Jesus, and now he sees. So blindness or seeing has to do with your relationship with whom? With Jesus.

In fact in John 9:39 we find these words, 39 And Jesus said, ‘For judgment I am come into this world, that they which see not might see; and that they which see might be made blind.” And everything has to do with whether you truly receive Jesus as your Savior or not, whether you're spending time with Him, whether you're submitting your life to Him without reservations, whether you're investing your time, your talents, your strength, your material resources, putting it all on the altar of sacrifice, not because we want to earn salvation but because we love Jesus.

 

Ingat kisah orang yang dilahirkan buta? Itu perumpamaan yang menarik. Saya punya pelajaran lengkap yang saya tulis untuk seri mengenai Perumpamaan-perumpamaan, tentang kisah di Yohanes pasal 9. Kalian lihat, orang-orang Farisi berkata, “Kami melihat” dan mereka menolak Yesus. Maka Yesus berkata, “Kamu buta!”. Sementara orang yang buta yang tidak melihat, menerima Yesus, dan sekarang dia melihat. Jadi buta atau bisa melihat terkait kepada hubungan kita dengan siapa? Dengan Yesus.

Bahkan di Yohanes 9:39 kita menemukan kata-kata ini, 39  Dan kata Yesus: ‘Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya mereka yang tidak melihat, boleh melihat,  dan supaya mereka yang melihat, boleh menjadi buta.’Dan semua itu berkaitan dengan apakah kita sungguh-sungguh menerima Yesus sebagai Juruselamat kita atau tidak, apakah kita menghabiskan waktu bersamaNya, apakah kita menyerahkan hidup kita kepadaNya tanpa reserve, apakah kita menginvestasikan waktu kita, talenta kita, kekuatan kita, sumber-sumber materi kita, meletakkan semua itu di atas mezbah persembahan, bukan karena kita mau mendapatkan keselamatan sebagai upah, tetapi karena kita mengasihi Yesus.

 

 

The apostle Paul was the typical Laodicean  before his conversion. He epitomizes the Laodicean. Did the apostle Paul feel like he was miserable before he came to Christ? Oh, no! Did he think he was blind? No, he's eyesight was 20/20. Did he feel like he was poor? He felt very rich, thank you. Let's allow him to describe it. Philippians 3:3 to 8, the apostle Paul says, reminiscing about his experience, 3 For we are the circumcision, which worship God in the spirit, and rejoice in Christ Jesus, and have no confidence in the flesh…” that means we don't have confidence in ourselves and what we do, our works, our greatness. And then he remembers his previous life, he says, “…4 Though I might also have confidence in the flesh. If any other man thinketh that he hath whereof he might trust in the flesh, I more: 5 Circumcised the eighth day, of the stock of Israel, of the tribe of Benjamin, an Hebrew of the Hebrews; as touching the Law, a Pharisee; 6 Concerning zeal, persecuting the church; touching the righteousness which is in the Law, blameless…” can you hear the  Laodicean coming through? Rich and increased with goods, and in need of nothing. Oh, but then he met Jesus on the road to Damascus. By the way he was blinded, and then his sight was open, because now he understands the Gospel. Is there hope for the Laodicean to see it? Yes! Because Saul of Tarsus was one. There's hope if we can just see our condition and come before Jesus. The apostle Paul then says, “…7 But what things were gain to me, those I counted loss for Christ. 8 Yea doubtless, and I count all things but loss for the excellency of the knowledge of Christ Jesus my Lord: for whom I have suffered the loss of all things, and do count them but dung, that I may win Christ, 9 And be found in him, not having mine own righteousness, which is of the Law, but that which is through the faith of Christ, the righteousness which is of God by faith.”

 

Rasul Paulus adalah tipikal orang Laodekia sebelum pertobatannya. Dia melambangkan orang Laodekia. Apakah rasul Paulus merasa dia mengenaskan sebelum dia datang ke Kristus? O, tidak! Apakah dia pikir dia buta? Tidak, penglihatannya 20/20. Apakah dia merasa miskin? Dia merasa sangat kaya, terima kasih. Mari kita izinkan dia menggambarkannya sendiri. Filipi 3:3-8, rasul Paulus berkata, mengingat pengalamannya,3 Karena kita inilah sunat itu,  yang beribadah kepada Allah dalam Roh, bersukacita dalam Kristus Yesus, dan tidak mengandalkan daging.…” ini artinya kita tidak mengandalkan diri kita sendiri dan apa yang kita lakukan, perbuatan-perbuatan kita, kehebatan kita. Lalu dia teringat hidupnya yang lama, dia berkata, “…4 Sekalipun aku juga punya alasan untuk mengandalkan daging. Jika ada orang yang menyangka dia boleh mengandalkan daging, lebih-lebih aku: 5 disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang yang paling Ibrani dari semua orang Ibrani; dalam hal  Hukum Taurat, seorang Farisi; 6 dalam  hal semangat, penganiaya jemaat; dalam hal kebenaran menurut Hukum Taurat, aku tidak bercacat…”  bisakah kita mendengar sifat Laodekianya keluar? Kaya dan berkelimpahan harta, dan tidak kekurangan apa pun. Oh, tetapi kemudian dia bertemu Yesus dalam perjalanan ke Damaskus. Nah, dia dibutakan, setelah itu penglihatannya terbuka, karena sekarang dia baru paham Injil. Apakah ada harapan bagi orang-orang Laodekia untuk melihat? Ya! Karena Saulus dari Tarsus bisa. Ada harapan jika saja kita bisa melihat kondisi kita dan datang ke hadapan Yesus. Lalu rasul Paulus berkata, “…7 Tetapi apa yang dahulu kuanggap menguntungkan bagiku, sekarang karena Kristus kuanggap tidak bernilai. 8 Ya, tidak diragukan, dan aku menganggap segala sesuatu tidak bernilai demi keistimewaan pengetahuan tentang Kristus Yesus, Tuhanku, untuk DIa-lah aku telah menderita kehilangan segala sesuatu, dan yang kuanggap sebagai sampah, supaya aku boleh memenangkan Kristus. 9 Dan  berada dalam Dia, tidak dengan memiliki kebenaranku sendiri yang dari mentaati Hukum Taurat, melainkan yang melalui iman Kristus,  kebenaran yang dari Allah melalui iman.”

 

 

I'd like to read one statement in closing from the Spirit of Prophecy. This is found in Volume 4 of the Testimonies page 88 and 89. She speaks here about the three remedies that we've spoken about. This is a summary statement. She says, “The True Witness counsels us to buy of Him gold tried in the fire, white raiment, and eyesalve. The gold here recommended as having been tried in the fire is faith and love….”  Did we prove that biblically? We read several verses,  “…It makes…”  now notice this  “…It makes the heart rich; for it has been purged until it is pure, and the more it is tested the more brilliant is its luster…” where is the problem resolved? In the heart. She says,  “…The white raiment is purity of character, the righteousness of Christ imparted to the sinner. This is indeed a garment of heavenly texture, that can be bought only of Christ for a life of willing obedience…”  Then she says, “…The eyesalve is that wisdom and grace which enables us to discern between the evil and the good, and to detect sin under any guise…”  in other words, to detect sin and see ourselves as we really are. She says,  “…God has given His church eyes which He requires them to anoint with wisdom, that they may see clearly;…” but now notice this, “…but many would put out the  eyes of the church if they could; for they would not have their deeds come to the light, lest they should be reproved. The divine eyesalve will impart clearness to the understanding…”  by the way, do you know what the eyes of the church really are? The gift of Prophecy. That's the reason why prophets before they were called “prophets”, were called “seers”, so the eyes of the church is the gift of prophecy, which means the Spirit of Prophecy. Why do so many people in the Adventist church dislike Ellen White? Oh, it's because she was a false prophet, because she plagiarized? No, those are the excuses for not believing in God speaking through her. The real reason why people did not like prophets is because prophets told the truth, they told it like it is. They said, “You need to correct this; this needs to change; you need to detect sin; you have to see sin.” And people want to hang on to their sins, they don't want to change, they want to have their cake and eat it too, they want to be saved in their sins.

 

Saya mau membacakan satu pernyataan sebagai penutup dari Roh Nubuat. Ini ada di Testimonies Vol. 4 hal. 88-89. Ellen White di sini bicara tentang ketiga obat yang tadi kita singgung. Ini adalah pernyataan yang menyimpulkan. Ellen White berkata, “…Saksi yang Benar menasihati kita untuk membeli dariNya emas yang telah diuji dalam api, pakaian putih, dan salep mata. Emasnya yang di sini direkomendasikan sebagai sudah dimurnikan dalam api, ialah iman dan kasih…”  apakah kita sudah membuktikannya secara alkitabiah? Kita sudah membaca beberapa ayat. “…Itu membuat…”  sekarang simak ini, “…Itu membuat hati menjadi kaya; karena sudah dibersihkan hingga murni, dan semakin banyak diuji, semakin terang sinarnya…” di manakah masalah itu diselesaikan? Di dalam hati. Ellen White berkata, “…Pakaian putihnya adalah kesucian karakter, kebenaran Kristus yang dibagikan kepada orang yang berdosa. Ini benar-benar suatu pakaian dari bahan surgawi, yang bisa dibeli hanya dari Kristus demi sebuah kehidupan yang rela patuh…” Lalu Ellen White berkata, “…Salep matanya ialah hikmat dan rahmat yang memampukan kita untuk membedakan antara yang jahat dan yang baik, dan untuk mendeteksi dosa dalam bentuk samaran apa pun…”  dengan kata lain, untuk mendeteksi dosa dan melihat diri kita sendiri sebagaimana adanya. Ellen White berkata, “…Allah telah memberikan gerejaNya mata yang Dia tentukan harus mereka minyaki dengan hikmat, supaya mereka bisa melihat dengan jelas…”  Tetapi sekarang simak ini,  “…tetapi banyak yang ingin membutakan mata gereja jika mereka bisa, karena mereka tidak mau perbuatan-perbuatan mereka diketahui orang, supaya mereka tidak akan ditegur. Salep mata ilahi ini akan memberikan kejernihan kepada pengertian…” Nah, tahukah kalian apa sesungguhnya mata gereja? Karunia nubuat. Itulah mengapa para nabi dulu sebelum mereka disebut “nabi”, mereka disebut “penglihat”. Jadi mata gereja adalah karunia nubuat, artinya Roh Nubuat. Mengapa begitu banyak orang di gereja Advent tidak menyukai Ellen White? O, karena dia seorang nabi palsu, karena dia plagiat? Bukan, itu adalah alasan-alasan untuk tidak mempercayai bahwa Allah berbicara melalui Ellen White. Alasan yang sesungguhnya mengapa orang tidak menyukai para nabi ialah karena nabi-nabi mengatakan yang sebenarnya, mereka mengatakan kebenaran apa adanya. Mereka berkata, “Kamu harus memperbaiki ini; ini harus diubah; kamu harus mengenali dosa; kamu harus melihat dosanya.” Dan orang-orang mau terus menggandoli dosa-dosa mereka, mereka tidak mau berubah, mereka mau kedua-duanya, mereka mau diselamatkan dalam dosa mereka.

 

 

And I'll conclude with this, folks. God gives a marvelous promise to those who overcome the Laodicea  condition, “to he who overcomes I will grant to sit with Me on My throne even as I overcame and have sat down with My Father on His throne.” What a glorious promise, to sit someday with Jesus on His throne. But in order for this to happen we must first of all invite Jesus to come into our heart, when He knocks at the door, “I stand at the door and knock,” Jesus says. Big question is, are we going to let Him in? How about we sing that little chorus “Into My Heart”, would you like to?

 

Into my heart

into my heart

come in to my heart, Lord  Jesus

come in today

come in to stay

come into my heart, Lord Jesus

 

Dan saya akhiri dengan ini, Saudara-saudara.  Allah telah memberikan suatu janji yang indah kepada mereka yang mengalahkan kondisi Laodekia, 21 Kepada dia yang menang Aku akan mengaruniakan untuk duduk bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya.” (Wahyu 3:21). Betapa indahnya janji ini, untuk suatu hari duduk bersama Yesus di takhtaNya. Tetapi supaya ini bisa terjadi pertama-tama kita harus mengundang Yesus datang masuk ke hati kita ketika Dia mengetuk di pintu.  “Aku berdiri di muka pintu dan mengetuk”, (Wahyu 3:20) kata Yesus. Pertanyaan besarnya ialah, apakah kita akan mengizinkan Dia masuk? Bagaimana kalau kita nyanyikan lagu pendek “Dalam Hati”, maukah kalian?

Dalam hati

Dalam hati

Masuklah ya Tuhan Yesus

Masuk sekarang

Dan tinggal s’nang

Dalam hatiku ya Yesus

 

 

 

02 08 26