MESSAGE TO LAODICEAN
Part
01/05 - Stephen Bohr
NOTHING
BUT LEAVES
https://www.youtube.com/watch?v=0Ct6CSM-GcY&t=5s
Dibuka dengan
doa.
During the next four sermons that I'm going to preach here at
Fresno Central Church, Lord
willing, we are going to be speaking about God's message to the
Church of Laodicea. I've spoken a lot about Bible prophecy in the last several
presentations. This series will not be particularly on Bible prophecy, it's
going to be on God's special message,
not to the world but to His church in these
last days. Probably most of you are aware of the fact that the Church
of Laodicea is the last church that is mentioned in Revelation 3, therefore
knowing that the Seven Churches represent seven periods of the history of the
Christian church from the times of Christ till the end of time, we know that this message is God's last message to His church,
church number seven in the series. So if this is Christ's last message to His
church, it would do well for us to listen to the voice of Jesus.
Selama
empat khotbah berikutnya, jika Tuhan berkenan, saya akan bicara di sini di
Fresno Central Church, tentang pesan Allah kepada gereja Laodekia. Saya sudah
bicara banyak tentang nubuatan Alkitab di beberapa presentasi yang terakhir.
Seri ini tidak bicara khusus tentang nubuatan Alkitab, melainkan ini adalah
tentang pesan khusus Allah bukan kepada dunia
tetapi kepada gerejaNya di hari-hari akhir ini.
Kira-kira kebanyakan dari kalian sadar akan fakta bahwa gereja Laodekia adalah
gereja terakhir yang disebutkan di Wahyu 3, oleh sebab itu, mengetahui bahwa
Ketujuh Sidang mewakili tujuh periode sejarah gereja Kristen dari zaman Kristus
hingga akhir zaman, kita tahu bahwa pesan ini adalah pesan terakhir Allah
kepada gerejaNya, gereja nomor tujuh. Maka jika ini adalah pesan
Kristus yang terakhir kepada gerejaNya, sebaiknya kita dengarkan suara
Yesus.
I would remind you that this message
is not for the world at large like the Three Angels’ Messages. You know, those
messages are yes, meant for the church as well; but they're particularly
focused on warning the world about the events that are taking place, and what is
soon to take place. But the message to the
Laodiceans is an internal message, it's a message to the church, to the Christian church in general, and more
specifically to the Seventh-Day Adventist Church. You know we have a tendency
of thinking that these messages actually apply to other people in other churches,
but the Spirit of Prophecy has told us explicitly that the message to the Laodicean Church applies in a special sense to the
Seventh Day Adventist Church.
Saya ingin mengingatkan bahwa pesan ini bukan
ditujukan dunia di luar sana seperti Pekabaran Tiga Malaikat. Betul, pekabaran
itu juga ditujukan kepada gereja; tetapi mereka terutama fokus pada
memperingatkan dunia tentang peristiwa-peristiwa yang sedang terjadi dan apa
yang akan segera terjadi. Tetapi pesan kepada orang-orang
Laodekia adalah pesan internal, sebuah pesan khusus untuk
gereja, secara umum ditujukan gereja Kristen, tetapi secara lebih
spesifik lagi ditujukan kepada gereja MAHK. Kalian tahu, kita
punya kecenderungan untuk berpikir bahwa pesan-pesan ini sesungguhnya berlaku
bagi orang-orang lain di gereja-gereja lain. Tetapi Roh Nubuat secara eksplisit
telah memberitahu kita bahwa pesan kepada gereja Laodekia ini
berlaku secara istimewa kepada gereja MAHK.
Now I would like to read the passage that we find in Revelation chapter 3, and then we are not going to study that passage today, we are going to study something else that is related to this passage. We have to go back to history to understand what is going to happen with the church at the end of time. However, I do want to read this passage, so we know exactly what the Church of Laodicea is, and the message that God imparts. The message is found in Revelation 3:14-21 and I'm going to read through this without much comment. It says this, “14 And to the angel of the church of the Laodiceans write, ‘These things says the Amen, the Faithful and True Witness, the Beginning of the creation of God: 15 ’I know your works, that you are neither cold nor hot. I could wish you were cold or hot. 16 So then, because you are lukewarm, and neither cold nor hot, I will vomit you out of My mouth. 17 Because you say, ‘I am rich, have become wealthy, and have need of nothing’—and do not know that you are wretched, miserable, poor, blind, and naked— 18 I counsel you to buy from Me gold refined in the fire, that you may be rich; and white garments, that you may be clothed, that the shame of your nakedness may not be revealed; and anoint your eyes with eye salve, that you may see. 19 As many as I love, I rebuke and chasten. Therefore be zealous and repent…” that's a key word “…and repent. 20 Behold, I stand at the door and knock. If anyone hears My voice and opens the door, I will come in to him and dine with him, and he with Me. 21 To him who overcomes I will grant to sit with Me on My throne, as I also overcame and sat down with My Father on His throne.” The message to the Church of the Laodiceans.
Sekarang saya ingin membacakan ayat-ayat yang ada
di Wahyu pasal 3, lalu kita tidak akan mempelajari ayat-ayat ini hari ini, kita
akan mempelajari hal yang lain yang terkait kepada ayat-ayat ini. Kita harus
kembali ke sejarah untuk bisa memahami apa yang akan terjadi pada gereja di
akhir masa. Namun, saya mau membacakan ayat-ayat ini supaya kita tahu secara
tepat gereja Laodekia itu apa, dan apakah pesan yang disampaikan Allah. Pesan
ini ada di Wahyu 3:14-21, dan saya akan membacakannya tanpa banyak komentar.
Dikatakan, “14 Dan tuliskanlah kepada malaikat
jemaat di Laodekia, ‘Inilah yang dikatakan Sang
Amin, Saksi yang Setia dan Benar, Pemula dari
ciptaan Allah: 15 Aku tahu segala pekerjaanmu, bahwa engkau tidak dingin maupun
panas. Sekiranya saja engkau dingin atau
panas! 16 Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau
panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku. 17 Karena engkau
berkata: ‘Aku kaya, telah menjadi berkelimpahan
dan tidak kekurangan apa-apa’, dan tidak tahu bahwa engkau malang, menyedihkan, miskin, buta dan telanjang, 18Aku
menasihatkan engkau, supaya membeli dari Aku emas yang telah dimurnikan dalam
api agar engkau boleh menjadi kaya; dan juga pakaian putih, supaya engkau boleh berpakaian
agar ketelanjanganmu yang memalukan jangan kelihatan, dan minyakilah matamu dengan salep mata,
supaya engkau boleh melihat. 19 Seberapa
banyak yang Kukasihi, Aku tegur dan hajar. Sebab itu bersemangatlah dan bertobatlah!…” ini kata kunci, “…dan
bertobatlah! 20 Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetuk;
jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk ke tempatnya dan makan malam
bersamanya dan ia bersama-Ku. 21 Kepada dia
yang menang akan Aku karuniakan untuk duduk bersama-sama
dengan Aku di atas takhta-Ku sebagaimana
Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya…” Pesan kepada gereja Laodekia.
Now what I would like to do in our study today is go back to the times of Christ, actually slightly before the coming of Christ. I would like to go to the times of John the Baptist. John the Baptist is actually proclaiming his message of preparing a people for the first coming of Jesus, six months before Jesus began His public ministry. Very important chronological detail. John the Baptist is preaching in approximately 6 months before Jesus begins His public ministry. And I want you to notice the message that John the Baptist imparts, it's found in the gospel of Matthew chapter 3, and I would like to begin reading at verse 1, “1 In those days John the Baptist came preaching in the wilderness of Judea, 2 and saying,…” now notice the word, “…‘Repent,…” did we find that in Revelation 3? Yes, we did, “… ‘Repent! For the kingdom of heaven is at hand!’…” and then it goes on to describe John the Baptist. And then I want to jump down to verse 7, “…7 But when he saw many of the Pharisees and Sadducees coming to his baptism, he said to them, ‘Brood of vipers! Who warned you to flee from the wrath to come?...” quite a way to begin a message, “brood of vipers”. Now John the Baptist is calling these people to repent. The question is who are they? Did you notice? It says here that he's speaking to the Pharisees and the Sadducees. Let me ask you, were the Pharisees and the Sadducees quite pious, were they quite religious? Oh, absolutely! Did they keep the Sabbath? Yes. Did they tithe? Did they eat pork? No! Did they come to church? Yes! Did they fast? Absolutely! They were very, very spiritually oriented. They were very religious people. And so when John the Baptist comes and he says, “Repent!”, I'm sure that the first thought in their minds was “Repent from what? We're Lawkeepers, we do what God says we're supposed to do. We're the chosen people, we're righteous. So why in the world would we need to repent? Repent from what?” You know, you usually repent of sin, don't you? But they certainly did not consider themselves sinners at all. But John the Baptist tears away the veneer, and he says, “Listen, you are a brood of vipers!” And by the way, do you know what vipers are? Snakes. Last I knew, snakes breed snakes, hello? In other words, they were children of whom? Of the great viper, Satan.
Now you say, “Pastor, wait a minute, you're saying that these
Sabbath-keeping health- reforming, tithe-paying, fasting, righteous people,
were a brood of vipers born of the great viper himself?”
That's not what I say. That's what Scripture says.
Nah, apa yang ingin saya lakukan di pelajaran kita
hari ini ialah kembali ke zaman Kristus, tepatnya sedikit sebelum kedatangan
Kristus. Saya ingin pergi ke zaman Yohanes Pembaptis. Yohanes Pembaptis
memproklamasikan pekabarannya untuk mempersiapkan suatu umat bagi kedatangan
pertama Yesus, enam bulan sebelum Yesus memulai ministri publikNya. Detail
kronologi yang sangat penting. Yohanes Pembaptis berkhotbah
kira-kira 6 bulan sebelum Yesus memulai ministri publikNya. Saya
mau kalian perhatikan pekabaran yang disampaikan Yohanes Pembaptis, ini ada di
injil Matius pasal 3, dan saya mau mulai membaca dari ayat 1, “1
Pada waktu itu tampillah Yohanes Pembaptis berkhotbah
di padang gurun Yudea 2 dan berkata,…”
nah
perhatikan katanya, “…‘Bertobatlah,…” apakah kita menemukan kata ini di Wahyu
3? Ya, betul, “…‘Bertobatlah,
sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!’…” kemudian selanjutnya digambarkan
bagaimana Yohanes Pembaptis itu. Saya mau meloncat turun ke ayat 7, “…7
Tetapi waktu ia melihat banyak orang Farisi dan Saduki datang ke pembaptisan yang diadakannya, berkatalah ia
kepada mereka, ‘Anak-anak ular beludak, siapakah
yang memperingatkan kamu, supaya melarikan diri dari murka yang akan
datang’?…” cara yang mengagetkan untuk memulai suatu pekabaran:
“anak-anak ular beludak”. Nah, Yohanes Pembaptis memanggil orang-orang ini
supaya bertobat. Yang menjadi pertanyaan, siapa mereka itu? Apakah kalian
lihat? Dikatakan di sini bahwa dia sedang berbicara kepada orang-orang
Farisi dan Saduki. Coba saya tanya, apakah orang-orang Farisi
dan Saduki itu cukup saleh, apakah mereka itu cukup relijius?
Oh, tentu saja! Apakah mereka memelihara Sabat? Ya. Apakah mereka mengembalikan
persepuluhan? Apakah mereka makan babi? Tidak! Apakah mereka datang ke gereja?
Ya. Apakah mereka berpuasa? Tentu saja. Mereka amat sangat berorientasi pada
kehorahnian. Mereka adalah orang-orang
yang sangat relejius. Jadi ketika Yohanes Pembaptis datang dan dia berkata “…bertobatlah!…” saya yakin pikiran pertama yang muncul
di benak mereka ialah, “Bertobat dari apa? Kami ini penurut Hukum, kami melakukan apa kata
Allah yang harus kami lakukan. Kami ini umat pilihan, kami ini orang-orang
benar. Jadi mengapa kami perlu bertobat? Bertobat dari apa?” Kalian tahu,
biasanya orang bertobat dari dosa, bukan?
Tetapi mereka jelas-jelas sama sekali tidak menganggap mereka
itu orang-orang berdosa. Tetapi Yohanes Pembaptis mencabik kedok
mereka dan dia berkata, “Dengarkan! Kalian adalah “anak-anak ular beludak”. Nah, setahu saya ular yang
memperanakkan ular, halo? Dengan kata
lain, mereka itu anak-anak siapa? Anak-anak ular besar itu, Setan.
Nah,
kalian berkata, “Pastor,
tunggu dulu, Anda mengatakan bahwa orang-orang benar yang memelihara Sabat ini,
yang mengikuti reformasi kesehatan, mengembalikan persepuluhan, berpuasa,
adalah anak-anak ular beludak yang lahir dari ular besar itu sendiri?”
Itu bukan
kata saya, itu apa yang dikatakan Kitab Suci.
Now what was their problem? I want you to notice that John the
Baptist is going to compare them to a tree. He's going to compare the Jewish
nation to a tree, a tree which has many, many, leaves. It's a beautiful tree,
it's a tree which is attractive to the eyes. But there's a serious problem with
this tree. I want you to notice chapter 3:8, John the Baptist says this, “ 8 Therefore bear fruits worthy of repentance…” What was the
problem with the tree? The tree was full of
leaves, but it had no what? It had no
fruit. By the way, he's speaking here of the Jewish nation as a tree,
and he's saying, you know, “You have a wonderful veneer, you have wonderful
leaves which attract the attention of people. But the problem is, you are
devoid of fruit. Repent, because you are not producing fruit.”
Nah, apa masalah mereka? Saya mau kalian menyimak
bahwa Yohanes Pembaptis akan membandingkan mereka dengan sebatang pohon. Dia
akan membandingkan bangsa Yahudi dengan sebatang pohon, sebatang pohon yang
punya banyak sekali daun. Sebatang pohon
yang indah, sebatang pohon yang menarik dipandang mata. Tetapi pohon ini punya
masalah yang serius. Saya mau kalian menyimak pasal 3:8, Yohanes Pembaptis
mengatakan ini, “8 Oleh karena itu, hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan…” Apa masalah pohon itu? Pohon
itu penuh daun tetapi dia tidak punya apa? Tidak punya
buah. Nah, Yohanes Pembaptis di sini sedang bicara tentang
bangsa Yahudi sebagai sebatang pohon, dan dia berkata, “Kalian punya lapisan luar yang
indah, kalian punya daun-daun yang indah yang menarik perhatian orang. Tapi
masalahnya ialah, kalian tidak punya buah. Bertobatlah, karena kalian tidak
menghasilkan buah.”
And then I want you to notice verse 9, “ 9 and do not think to say to yourselves, ‘We have
Abraham as our father.’…”
Can you hear the pride in that statement? “We have Abraham as
our father”, “we have William Miller as our father”, “we have Joseph Bates
as our father”, “we have J. Andrews as our father”, “we have Ellen White as our
mother”. See, I almost blew it there. Do not think to say within yourselves, “We have Abraham
as our father”, in other words, don't consider your denominational pride as
something great. And then he says, notice the last part of the verse,
“…For I say to you that God is able to raise up children to Abraham from
these stones.” By the way, Jesus was not pointing at stones, if you read Ellen
White's comment in Desire of Ages. You're
going to find that Ellen White says, that the
Jews considered the Gentiles individuals with stony hearts.
Lalu saya mau
kalian menyimak ayat 9, “9 Dan jangan berpikir untuk berkata kepada dirimu sendiri, ‘Kami punya
Abraham sebagai bapak kami!’…” Bisakah kalian menangkap rasa bangga
dalam pernyataan ini? “Kami punya Abraham sebagai bapak kami!”, “kami punya William
Miller sebagai bapak kami”, “kami punya Joseph Bates sebagai bapak kami”, “kami
punya J. Andrews sebagai bapak kami”, “kami punya Ellen White sebagai ibu kami”,
lihat, saya hampir salah di sini. Jangan berpikir kalian bisa berkata di antara
kalian sendiri, “Kami punya
Abraham sebagai bapak kami!”, dengan
kata lain, jangan mengandalkan kebanggaan denominasi kalian sebagai sesuatu
yang hebat. Lalu dia berkata, simak bagian akhir ayat ini, “…Karena
aku berkata kepadamu: Allah dapat membangkitkan
anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini!…”
Nah,
Yesus tidak sedang menunjuk ke batu-batu literal. Jika kita baca komentar Ellen
White di Desire of Ages, kita akan melihat bahwa Ellen White
mengatakan bangsa Yahudi menganggap bangsa-bangsa non-Yahudi sebagai
individu-individu yang berhati batu.
In fact the Jews called the Gentiles “stones”, they called them “swine”.
How would you like to be called a swine? They call them “dogs”. In fact Jesus
says, “it's not good to take the pearls and throw them to…” the what? “…to
the swine.” He says to this Canaanite woman, “You know it's not good to
take the bread of the children and give it to the dogs.” He was reflecting the
ideas of that day and age. In other words, these self-sufficient Jews, they're
saying, “Look, we have Abraham as our father, and we're not like these
stones here, these Gentiles who have stony hearts. We have tender hearts, we
listen to the voice of God, and we obey the voice of God.” Are you catching
the picture? Self-righteous people
practicing all the forms of religion, rich and increased with goods, and
in need of nothing, a tree with beautiful leaves, ostentatious leaves, but when you look closely, a tree that is
devoid of what? Devoid of fruit.
Bahkan bangsa Yahudi menyebut bangsa-bangsa
non-Yahudi “batu”, mereka menyebut bangsa-bangsa non-Yahudi “babi” ~ maukah
kalian disebut babi? Mereka menyebut bangsa-bangsa non-Yahudi “anjing”. Malah
Yesus berkata, “Jangan melemparkan mutiaramu kepada…” apa? “ kepada babi.” (Matius 7:6). Yesus berkata kepada seorang
perempuan Kanaan, “‘Tidak patut mengambil rotinya anak-anak dan
melemparkannya kepada anjing-anjing.” (Matius 15:26). Yesus sedang merefleksikan konsep
pemikiran di masa dan zaman itu. Dengan kata lain, orang-orang Yahudi yang
merasa paling benar ini, mereka mengatakan, “Lihat, kami punya Abraham sebagai bapak kami, dan
kami tidak seperti batu-batu ini, bangsa-bangsa lain ini yang hatinya seperti
batu. Kami punya hati yang lembut, kami mendengarkan suara Allah dan kami mematuhi
suara Allah.” Apakah kalian menangkap gambarnya? Orang-orang yang
merasa paling benar sendiri, yang mempraktekkan semua bentuk agamanya, kaya dan berkelimpahan harta,
dan tidak kekurangan apa pun, pohon yang punya daun-daun yang indah, daun-daun
yang mencolok, tetapi yang bisa dilihat secara lebih
teliti, ternyata ini pohon yang tidak punya apa? Tidak punya buah.
By the way, what is the fruit which God expected this tree, the Jewish nation, to produce? If you go with me to the Gospel of Luke we have an explanation. Luke 3 and I want to begin reading at verse 10. I want you to notice that when John preaches his message not only are the scribes and Pharisees present there, there are three other groups present listening to the message of John the Baptist. It says there in chapter 3, beginning with verse 10, “10 So the people asked him, saying…” after he says, “Bear fruit, repent, because you're not bearing fruit.” It says “…10 So the people asked him, saying, ‘What shall we do then?’ 11 He answered and said to them, ‘He who has two tunics, let him give to him who has none; and he who has food, let him do likewise.’…” Let me ask you, is this practical religion, giving food and giving clothing? Absolutely. Notice verse 12, “…12 Then tax collectors…” by the way, were they loved by these holy righteous people? Oh, oh no! They were hated by these holy righteous people. “…12 Then tax collectors also came to be baptized, and said to him, ‘Teacher, what shall we do?’…” In other words, what does it mean to produce fruit? How do we produce fruit? “…13 And he said to them, ‘Collect no more than what is appointed for you.’…” in other words, don't practice extortion with your fellow human beings. If you love your neighbor don't practice extortion. Once again it has to do with what? With practical daily religion. Notice verse 14, “…14 Likewise the soldiers…” who were Romans, they were Gentiles, “…the soldiers asked him, saying, ‘And what shall we do?’ So he said to them, ‘Do not intimidate anyone or accuse falsely, and be content with your wages.’…”
Nah, buah apa yang diharapkan Allah dari pohon ini,
bangsa Yahudi ini, untuk mereka hasilkan? Jika kalian pergi bersama saya ke
injil Lukas, kita dapatkan penjelasannya. Lukas 3, dan saya mau membaca mulai
ayat 10. Saya mau kalian menyimak bahwa ketika Yohanes menyampaikan pesannya,
bukan hanya para ahli Taurat dan orang Farisi yang hadir di sana, ada tiga
kelompok lain yang juga sedang mendengarkan pekabaran Yohanes Pembaptis. Dikatakan
di pasal 3, mulai dari ayat 10, “10 Maka
orang-orang bertanya kepadanya, mengatakan,…” setelah dia berkata, “hasilkanlah buah, bertobatlah,
karena kamu tidak berbuah”. Dikatakan, “…10 Maka
orang-orang bertanya kepadanya, mengatakan, ‘Apa yang harus kami perbuat kalau begitu?’ 11 Dia menjawab dan berkata kepada mereka, ‘Dia yang punya dua helai baju, hendaklah ia memberikan kepada dia yang tidak punya; dan dia yang punya makanan, hendaklah ia berbuat yang sama.’…”
Coba
saya tanya, apakah ini agama praktis, memberikan makanan dan memberikan
pakaian? Tentu saja! Simak ayat 12, “…12 Lalu pemungut-pemungut cukai…” nah, apakah mereka dicintai oleh
orang-orang suci yang merasa benar sendiri? Oh, tidak! Mereka dibenci oleh
orang-orang suci yang merasa benar sendiri itu. “…12 Lalu pemungut-pemungut cukai juga datang untuk
dibaptis, dan berkata kepadanya, ‘Guru, apakah yang harus kami
perbuat?’…” dengan kata lain apa yang dimaksud dengan menghasilkan buah?
Bagaimana kami bisa menghasilkan buah? “…13 Dan dia berkata kepada mereka, ‘Jangan menarik
lebih banyak daripada yang telah ditentukan bagimu.’…” dengan kata
lain, jangan mempraktekkan pemerasan terhadap sesama. Jika kamu mencintai
sesamamu, jangan melakukan pemerasan. Sekali lagi itu berkaitan dengan apa?
Dengan agama praktis sehari-hari. Simak ayat 14, “…14 Demikian pula prajurit-prajurit…” yang adalah orang-orang Romawi, mereka
bukan bangsa Yahudi, “…prajurit-prajurit bertanya kepadanya, ‘Dan apa
yang harus kami perbuat?’ Maka dia berkata
kepada mereka, ‘Jangan mengintimidasi siapa pun
atau menuduh secara tidak benar, dan puaslah
dengan gajimu.’…”
Are you noticing what the fruit is? The fruit is practical religion.
It's giving food, clothing, not extorting, treating others well, in other words
the fruit is what is spoken of in
Galatians chapter 5, the fruit of the Spirit.
Let's read that in Galatians chapter 5, the fruit is not keeping God's
Commandments, the fruit is not keeping the Law, the fruit is practical godliness. You see, the Jews they were doing
all of these things. Let me ask you, do you think some of those Jews would have
made good Seventh-Day Adventists? Ouch! Have you ever heard of the rich young
ruler? Was he quite a morally right person,
externally? Sure. When Jesus says, “Keep the Commandments!” what does the
young man say? “I've kept the Commandments since my youth.” But then he says, “What more do I
lack?” Was he rich and increased with goods? Yes. He was practicing
the Jewish religion. He would have made a good Elder in the Seventh-Day
Adventist Church because he appeared to be morally right. But there was cancer inside.
He didn't love his neighbor. See, there
you have the practical aspect of religion.
Apakah
kalian perhatikan buahnya itu apa? Buahnya adalah agama praktis. Itu memberikan
makanan, pakaian, tidak memeras, memperlakukan orang lain dengan baik. Dengan
kata lain, buahnya adalah apa yang dikatakan di
Galatia pasal 5, buah Roh. Mari kita baca Galatia
pasal 5. Buahnya bukanlah memelihara Perintah Allah, buahnya bukan memelihara
Hukum, buahnya adalah kesalehan praktis. Kalian
lihat, orang-orang Yahudi mereka sudah melakukan semua hal itu. Coba saya
tanya, menurut kalian apakah orang-orang Yahudi itu bisa menjadi orang-orang
MAHK yang baik? Aduh! Pernahkah kalian dengar kisah penguasa muda yang kaya?
Apakah dia orang yang benar secara moral, di luarnya? Tentu saja. Ketika Yesus
berkata, “turutilah perintah-perintah
Allah”, apa
yang dikatakan orang muda itu? ”Semuanya itu telah kuturuti dari masa aku kecil…”, Tetapi kemudian dia berkata, “apa
lagi yang masih kurang padaku?” (Matius 19:17-20). Apakah orang ini kaya dan
berkelimpahan harta? Ya. Dia mempraktekkan agama Yahudi. Dia bisa menjadi ketua
yang baik di gereja MAHK karena dia tampaknya benar secara moral. Tetapi ada
kanker di dalamnya. Dia tidak mengasihi sesama. Lihat, di sinilah aspek praktisnya
agama.
Now let's go back to Matthew chapter 3 and notice what John the Baptist has to say. Chapter 3, and I would like to read verse 10, it says, “10 And even now…” listen to this, “…the ax is laid to the root of the trees. Therefore every tree which does not bear good fruit…” what's going to happen to it? “…is cut down and thrown into the fire.” What's going to happen with the tree that does not produce fruit? It is going to be cut down and it is going to be thrown into where? Into the fire.
And then the message of John the Baptist comes to an end. We
don't have a lot in the Bible about what John the Baptist preached, other than
these few verses that we've read.
Sekarang mari kita kembali ke Matius
pasal 3 dan simak apa yang dikatakan Yohanes Pembaptis. Pasal 3, dan saya mau
membaca ayat 10, dikatakan, “10 Dan
bahkan sekarang…” dengarkan ini, “…kapak sudah diletakkan di akar
pohon. Oleh karena itu setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik…” apa yang akan terjadi padanya? “…itu ditebang
dan dibuang ke dalam api.” Apa yang akan terjadi pada pohon yang tidak menghasilkan
buah? Pohon itu akan ditebang dan akan dibuang ke mana? Ke dalam api. Lalu
pesan Yohanes Pembaptis berakhir. Tidak banyak yang kita peroleh dari Alkitab
tentang apa yang dikhotbahkan Yohanes Pembaptis, selain beberapa ayat ini yang
telah kita baca.
He also speaks about the
winnowing fan being in the hand of the Messiah, and He was going to
separate the wheat from the chaff. Now there's going to be a shaking, right? The
wheat would be like the tree that produces what? Fruit. The chaff would be like
a tree that does not produce what? That does not produce fruit. There's going to be a shaking and there's
going to be a group cut down and rejected, because it does not produce fruit. And
John the Baptist is saying “Repent! Because you don't produce fruit.”
Dia juga bicara tentang kipas penampi di tangan Sang Messias, dan Dia akan memisahkan antara gandum dan sekam. Nah, berarti akan ada suatu penampian, benar? Gandum itu setara dengan pohon yang menghasilkan apa? Buah. Sekam setara dengan pohon yang tidak menghasilkan apa? Yang tidak menghasilkan buah. Akan ada penampian, dan akan ada satu kelompok yang ditebang dan ditolak, karena tidak menghasilkan buah. Dan Yohanes Pembaptis mengatakan, “Bertobatlah! Karena kamu tidak menghasilkan buah.”
Now the question is, did the people
accept the message of John the Baptist? Did the Jewish nation compared to a
tree say, “Really? You know, we have a lot of leaves. You know, we have the
temple, and we have the Law, and we have the covenants, and we have all of these
things. But really, you know we haven't treated other people very well. You
know, we're not revealing the fruit of the Spirit in our lives. You know, we
ought to repent and we ought to have a change of heart, and start producing
fruit in our lives.”
The question is ~ as a result of the
message of John the Baptist, did the Jewish nation listen to the message and
accept it? Well, we who live now in the Year 2005 know that they didn't. But
when John the Baptist spoke, you didn't know whether the tree was going to bear
fruit or not, whether the axe was going to be laid to the root of the tree, and
it was going to be uprooted and thrown into the fire. We don't know at this
point whether that was going to be the destiny of the Jewish nation.
Sekarang, pertanyaannya ialah, apakah bangsa Yahudi
menerima pekabaran Yohanes Pembaptis? Apakah bangsa Yahudi yang dibandingkan
dengan sebatang pohon, berkata, “Begitukah? Kami punya banyak daun, kami punya Bait
Suci, kami punya Hukumnya, dan kami punya Perjanjiannya, dan kami punya semua
hal itu. Tetapi memang bener kami tidak memperlakukan orang-orang lain dengan
baik. Kami tidak menyatakan buah Roh dalam hidup kami. Kami seharusnya bertobat
dan kami seharusnya mengalami perubahan hati, dan mulai menghasilkan buah dalam
hidup kami”?
Pertanyaannya ialah ~ sebagai akibat pekabaran
Yohanes Pembaptis, apakah bangsa Yahudi mendengarkan pesan itu dan menerimanya?
Nah, kita yang hidup sekarang di tahun 2005 tahu bahwa mereka tidak. Tetapi
ketika Yohanes Pembaptis bicara, belum diketahui apakah pohon itu akan berbuah
atau tidak, apakah kapak akan diletakkan di akar pohon itu, dan pohon itu akan dicabut
dari akarnya dan dibuang ke dalam api. Pada saat itu kita tidak tahu apakah itu
yang akan menjadi nasib bangsa Yahudi.
Now we need to go to a second passage. Go with me to Luke chapter 13, all of these passages are very closely linked and united. Luke 13, and I would like to begin reading at verse 1. By the way, this is taking place two and a half years into Christ's ministry, that's an important point. It's taking place 2½ years after Jesus began His ministry, which means that John the Baptist preached for 6 months, half a year; Jesus has preached for two and a half years, how many years have gone by so far? Three years since John began proclaiming his message. Now notice this, how the Bible is linked, how these ideas are connected. It says in verse 1, “1 There were present at that season some who told Him…” that is, told Jesus “…about the Galileans whose blood Pilate had mingled with their sacrifices…” evidently they'd come to the temple to sacrifice, and Pilate had slain many of the Galileans that had come to worship. “…2 And Jesus answered and said to them, ‘Do you suppose that these Galileans were worse sinners than all other Galileans, because they suffered such things?...” because the idea was “they suffered these things because they were great sinners, but we didn't suffer them because we're righteous.” See, that's the idea. Notice verse 3, “… 3 I tell you, no; but unless you repent you will all likewise perish…” What is the idea again? They need to what? Repent. Are they a self-righteous people? They say, “Oh, those people got exactly what they had coming, because they were unrighteous.” Notice what we find in verse 4, “… 4 Or those eighteen on whom the tower in Siloam fell and killed them, do you think that they were worse sinners than all other men who dwelt in Jerusalem?...” are you seeing the idea here? Those that did not suffer calamities, they feel like they're better, that God has favored them, whereas He has not favored these others because they're very much sinners. But Jesus says in verse 5, “…5 I tell you, no; but unless you repent you will all likewise perish.’…” in other words, Jesus is saying, “Don't you think that you're so much more righteous than other people that suffered these calamities, that they suffered these calamities because they were great sinners.” He says, “Unless you repent, you're going to suffer the same thing.” Are you understanding what it's saying? Same arrogant attitude as we found with the tree in Matthew chapter 3.
Nah, sekarang kita harus ke bacaan kedua. Mari
bersama saya ke Lukas pasal 13, semua bacaan ini sangat erat terkait dan
menyatu. Lukas 13 dan saya mau mulai membaca dari
ayat 1. Nah, ini terjadi 2½ tahun dalam ministri Kristus,
ini poin yang penting. Ini terjadi 2½ tahun setelah Yesus memulai ministriNya,
yang berarti Yohanes Pembaptis sudah berkhotbah selama 6 bulan, setengah tahun;
Yesus sudah berkhotbah selama 2½ tahun, berarti berapa tahun sudah lewat? Tiga
tahun sejak Yohanes mulai menyampaikan pekabarannya. Sekarang
simak ini, bagaimana Alkitab itu terkait, bagaimana konsep-konsep itu
terhubung. Dikatakan di ayat 1, “1 Pada waktu itu hadir di sana beberapa orang yang
memberitahu Dia…” memberitahu Yesus, “…tentang orang-orang
Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan kurban mereka…” Rupanya
mereka datang ke Bait Suci untuk mempersembahkan kurban dan Pilatus telah
membunuh banyak dari orang Galilea itu yang datang untuk beribadah. “…2
DanYesus menjawab dan berkata kepada mereka, ‘Sangkamu orang-orang Galilea ini adalah pendosa-pendosa yang lebih parah
daripada semua orang Galilea yang lain, karena mereka menderita hal-hal itu?…” karena mereka
punya konsep bahwa “orang-orang
itu mengalami hal demikian karena mereka adalah pendosa-pendosa besar, tetapi
kami tidak mengalaminya karena kami orang-orang benar.” Lihat, itulah konsepnya. Simak
ayat 3, “…3 Aku
katakan kepadamu, Tidak, tetapi kecuali
kamu bertobat, kamu semua akan binasa seperti
itu…” Apa
konsepnya? Mereka harus apa? Bertobat. Apakah mereka ini orang-orang yang
merasa suci sendiri? Kata mereka, “Oh, orang-orang itu mendapatkan apa yang patut
mereka terima, karena mereka orang-orang yang tidak benar.” Simak apa yang kita dapati di ayat
4, “…4Atau kedelapan
belas orang, di atas
mana menara di Siloam jatuh dan membunuh mereka, apa kamu sangka mereka adalah pendosa-pendosa yang lebih
parah daripada semua orang lain yang diam di
Yerusalem?…” apakah kalian
melihat konsepnya di sini? Mereka yang tidak menderita musibah, mereka merasa
bahwa mereka itu lebih baik, bahwa Allah berkenan kepada mereka, sementara
Allah tidak berkenan kepada orang-orang lain itu karena mereka jelas-jelas
adalah pendosa-pendosa. Tetapi Yesus berkata di ayat 5, “…5
Aku katakan kepadamu, Tidak, tetapi kecuali kamu bertobat, kamu semua akan binasa seperti itu.’…” Dengan kata lain Yesus mengatakan, “Jangan kira kalian begitu jauh
lebih benar daripada orang-orang itu yang telah menderita bencana-bencana itu,
bahwa mereka menderita bencana karena mereka adalah pendosa-pendosa besar.” Kata Yesus, “Kecuali kamu bertobat, kamu juga
akan mengalami hal yang sama.” Apakah kalian paham apa yang dikatakan? Sikap sombong yang
sama seperti yang kita temukan pada pohon di Matius pasal 3.
Now you say, what possible relationship can there be? Jesus now
gives a parable to illustrate His point. Notice Luke 13:6, “…6 He also spoke this parable: ‘A certain man had a fig tree planted in
his vineyard…” by the way,
the vineyard represents the world, all the nations of the world. And what is
planted in the vineyard? A fig tree. And now notice, this is three years after John the Baptist started preaching, “…and he came seeking…” what? “…fruit on it and found
none…” Now you need to understand, that in
Israel the fig tree bears fruit and then the leaves come out, announcing that
the tree has fruit. Are you understanding what I'm saying? In other words, if
the tree has leaves, it should have what? It should have fruit. And so this vinedresser represents whom? Jesus. So it says, he comes, sees this fig
tree planted in a vineyard. The vineyard is
the world, the fig tree represents
the same thing as the tree in Matthew chapter 3. “…and he came
seeking fruit on it and…” what
was the problem? He “…
found none…” Three years
have gone by. Any fruit on this tree, on this Jewish tree? Absolutely not!
Verse 7, “…7 Then he said to the keeper of his vineyard…” the vinedresser; the
owner of the vineyard who is God the Father says to the vinedresser,
“…‘Look, for three years I have come seeking fruit on this fig tree and
find none…” how long
has he been looking for fruit? Three years. John the Baptist preached 6 months,
this is 2½ years into the ministry of Jesus. He says, “I've come three years looking for
fruit” and what was the problem? “I have found none”, and now
notice, “…Cut
it down; why does it use up the ground?’…” Is that a similar idea to Matthew 3? Of course it is. Do
you have the idea of repentance? The idea of arrogance? The idea of a tree? The
possibility of cutting down the tree? Absolutely! 3 years have passed, the tree
is just as arrogant as ever, it has all of the leaves, it's beautiful to
behold, but when people come to it, it has no fruit. It mocks them, in other
words. All it does is put on a beautiful front on the outside. And so the owner
of the vineyard says, “Chop it down!” But
the vinedresser loves the tree. Let's continue reading, verse 8, “…8 But he answered and said to him,
‘Sir, let it alone this year also,…” how many more years did he ask for the tree to remain?
“Give me one more year.” How many years were left in the ministry of Jesus
at this point? One year, because the ministry of Jesus lasted how long? Three
and a half years, and this is two and a half years into His ministry. So he
says to the owner of the vineyard, he says, “Let it stay for this one more
year.” And notice what he says, he's not going to just leave it there, he
says, “…until I dig around it and fertilize it...” in other words, he says, “I'm going to dedicate special
attention to the tree during this last year.” Did Jesus dedicate special attention to the Jewish tree the last year of His
ministry? He most certainly did. And then notice what he says, “…9 And if it bears fruit, well. But if not, after that you
can cut it down.’…” And the parable ends.
Question: did the fig tree bear fruit? We know it didn't. But
when Jesus told the parable, the parable ends in suspense, doesn't it? And you
wonder, you say, “Did this fig tree ever bear fruit? Was it cut down or was
it allowed to remain?” that's the question you are left with when the
parable comes to an end.
Nah, kalian
berkata, ada kaitan apa kira-kira dengan ini? Yesus sekarang memberikan suatu
perumpamaan untuk mengilustrasikan poinNya. Simak Lukas 13:6, “6
Dia juga bicara tentang perumpamaan ini: ‘Ada seseorang mempunyai sebatang pohon ara yang ditanam di
kebun anggurnya…” nah, kebun anggur itu melambangkan dunia, semua bangsa di
dunia. Dan apa yang ditanam di kebun anggur itu? Sebatang pohon ara. Dan
sekarang simak, ini adalah tiga tahun setelah Yohanes Pembaptis
mulai berkhotbah, “…dan ia
datang untuk mencari…” apa? “…buah
padanya dan tidak menemukannya…” Nah, kalian perlu mengerti bahwa di
Israel, pohon ara itu berbuah kemudian baru daun-daunnya keluar, mengumumkan
bahwa pohon tersebut punya buah. Apakah kalian paham apa yang saya katakan?
Dengan kata lain, jika pohon itu punya daun, dia harus punya apa? Harus punya
buah. Maka si pengurus kebun, yang melambangkan
siapa? Yesus, dikatakan bahwa dia datang, melihat
pohon ara ini yang ditanam di kebun anggur. Kebun anggur itu dunia ini,
pohon ara melambangkan hal yang sama seperti pohon yang di Matius 3,
“…dan ia datang untuk mencari
buah padanya dan…” apa
masalahnya? Dia “…tidak menemukannya…” Tiga tahun sudah lewat. Apa ada
buah pada pohon ini, pohon Yahudi ini? Sama sekali tidak ada. Ayat 7, “… 7 Lalu ia berkata kepada
pengurus kebun anggurnya itu,…” pemilik kebun
anggur itu yang adalah Allah Bapa, berkata kepada pengurus kebun itu, “…‘Lihat, sudah tiga tahun aku datang mencari buah
pada pohon ara ini dan tidak menemukannya…”
sudah
berapa lama dia mencari buah? Tiga tahun. Yohanes Pembaptis berkhotbah selama 6
bulan, ini 2½ tahun dalam ministri Yesus. Dia berkata, “Aku sudah datang selama tiga
tahun mencari buah,” dan apa masalahnya? “Aku tidak menemukan satu pun.” Dan sekarang
simak, “…‘Tebanglah pohon ini. Untuk apa ia makan
tempat di tanah ini?’…” apakah ini konsep yang sama dengan Matius 3? Tentu saja iya.
Apakah di sini ada konsep pertobatan? Konsep kesombongan? Konsep sebatang
pohon? Kemungkinan ditebangnya pohon itu? Betul sekali! Tiga tahun sudah lewat,
pohon itu masih sama sombongnya seperti dulu, dia punya semua daunnya, cantik
dilihat, tetapi bila dihampiri, dia tidak punya buah. Dengan kata lain pohon
itu menipu. Dia hanya memasang permukaan yang cantik di luarnya. Maka pemilik
kebun anggur itu berkata, “Tebang saja!” Tetapi pengurus kebun itu mencintai pohon ini. Mari kita
lanjut membaca, ayat 8, “…8 Tetapi
dia menjawab dan berkata kepadanya, ‘Tuan, biarkanlah dia tahun ini juga,…” masih berapa
tahun lagi yang dimintanya untuk pohon ini agar dibiarkan ada? “Berilah aku satu tahun lagi.” Pada saat
itu masih berapa tahun yang tersisa dari ministri Yesus? Satu tahun, karena
ministri Yesus berlangsung berapa lama? Tiga setengah tahun, dan ini sudah jalan
dua setengah tahun dalam ministriNya. Maka dia berkata kepada pemilik kebun
anggur itu, dia berkata, “Biarkan pohon ini tinggal satu tahun ini lagi.” Dan simak
apa katanya, dia tidak hanya akan membiarkan pohon itu di sana, dia berkata, “…sampai aku mencangkuli sekelilingnya dan
memberi pupuk kepadanya,…” dengan kata lain dia berkata, “Aku akan mendedikasikan
perhatian khusus kepada pohon Yahudi ini selama tahun yang terakhir.” Apakah Yesus
mendedikasikan perhatian khusus kepada pohon Yahudi ini di tahun terakhir
ministriNya? Tentu saja iya. Kemudian simak apa katanya, “…9 dan jika ia berbuah, baguslah. Tetapi
jika tidak, setelah itu engkau boleh
menebangnya.’…” Dan
perumpamaan ini berakhir.
Pertanyaan: apakah pohon ara itu berbuah? Kita tahu dia
tidak berbuah. Tetapi ketika Yesus memberikan perumpamaan itu, perumpamaan
tersebut berakhir menggantung, bukan? Dan orang tidak tahu, apakah pohon ara
itu pernah berbuah? Apakah itu ditebang atau dibiarkan tetap ada? Itulah
pertanyaan yang ditinggalkan ketika perumpamaan tersebut berakhir.
Now do you see the relationship between this passage and Matthew
3? You have a group of people who are arrogant, they are told to repent, that they're
not any more righteous than anyone else upon whom calamities have fallen, they
have a beautiful external appearance, all of the leaves, but they have no fruit.
And so the owner says, “Chop it down! Why should it occupy
the ground?”
By the way,
·
the owner of the vineyard is God the
Father
·
the fig tree represents the Jewish
nation
·
the vineyard represents all of the
nations of the world
·
the vinedresser is Jesus
·
and even the time period fits
·
and Jesus loves His fig tree, He says,
“Don't cut it down yet, let Me work with it for this last year, to see if
maybe somehow I can get it to produce fruit.”
And the parable ends.
Nah, apakah kalian melihat kaitan antara
bacaan ini dengan Matius 3? Ada sekelompok orang yang sombong, mereka disuruh
bertobat, bahwa mereka tidak lebih benar daripada orang lain yang kena musibah,
mereka punya penampilan luar yang indah, semua daunnya, tetapi mereka tidak
punya buah. Maka pemilik kebun itu berkata, “Tebanglah
pohon ini. Untuk apa ia makan tempat di
tanah ini?”.
Nah, supaya tahu,
·
pemilik kebun
anggur itu ialah Allah Bapa
·
pohon ara itu
melambangkan bangsa Yahudi
·
kebun anggur
itu melambangkan semua bangsa di dunia
·
pengurus kebun
itu Yesus
·
dan bahkan
periode waktunya klop
·
dan Yesus
mencintai pohon ara ini, Dia berkata, “Jangan
ditebang dulu, biar Aku mengerjakannya selama tahun yang terakhir ini untuk
melihat jika entah bagaimana Aku bisa membuatnya menghasilkan buah.”
Dan perumpamaan itu berakhir.
Now there's another passage that is linked with these first two
passages. Go on your Bibles with me to Mark
11:12-14, this is during the last week of the ministry of Jesus before His
crucifixion, actually it's a couple of days
before Jesus goes to the cross, and I want you to notice how
interesting this is. Mark 11:12 it says, “12 Now the next day, when they had come out from Bethany, He was
hungry…” notice Jesus was hungry, what do you
do when you're hungry? You look for something to eat, right? Verse 13, “…13 And
seeing from afar a fig tree having leaves…” what would the leaves indicate? The beautiful exterior which
attracted the attention, would announce: fruit, fruit here. And so Jesus, if
you'll notice once again, at verse 13,
“…13 And
seeing from afar a fig tree having leaves…” by the way, if it hadn't had leaves Jesus wouldn't have even
gone, because the leaves are the announcement that the tree has fruit. And
Ellen White clarifies in the Desire of Ages
that there were many other trees in the vineyard. She says that this fig tree
was unique because it actually bore leaves before the other trees; the other
trees were bare, they had no leaves, so they attracted no attention. And by the
way they all represent the Gentiles. The
Jews received special privileges as they were to bear fruit first, because of
all of the privileges that they received. It was not expected that the
Gentiles ~ until they heard the message ~ should bear the fruit. So it says, “…He went to see if perhaps He would find something on it…” and it says,
“…When He came to it, He found nothing but…” what?
“…nothing but leaves…” and it says “…for it was not the
season for figs…” What that means is, that it was not fig season. This tree had
produced figs, was supposed to produce figs earlier than all of the other trees.
It was a tree out of season, in other words, it
received special blessings, did it not? According to Mark. What we read
in Luke 13, it received special attention. And so it was supposed to bear fruit earlier than all of the other trees,
but it didn't. And now I want you to notice what happens, verse 14, “…14 In
response Jesus said to it, ‘Let no one eat fruit from you ever again.’ And
His disciples heard it.” Can you imagine what's going on here?
Nah, ada bacaan lain yang terkait dengan dua bacaan
yang pertama. Mari bersama saya ke Alkitab kalian, ke Markus 11:12-14,
ini adalah di minggu terakhir ministri Yesus sebelum
penyalibanNya, tepatnya ini dua hari sebelum Yesus
disalibkan, dan saya mau kalian simak betapa menariknya ini.
Markus 11:12 mengatakan, “12
Keesokan harinya ketika mereka meninggalkan
Betania, Yesus merasa lapar…” simak Yesus
lapar, apa yang kita lakukan ketika kita lapar? Kita mencari sesuatu untuk
dimakan, benar? Ayat 13, “…13
Dan dari jauh Ia melihat pohon ara yang berdaun…” apa yang diindikasikan daun-daun itu? Penampilan
luar yang indah yang menarik perhatian mengumumkan: buah, ada buah di sini!
Maka Yesus, jika kita simak sekali lagi ayat 13, “…13 Dan dari jauh Ia melihat pohon
ara yang berdaun…” nah, andaikan
pohon itu tidak berdaun, Yesus bahkan tidak akan menghampirinya, karena
daun-daunnya itu yang mengumumkan bahwa pohon itu punya buah. Dan Ellen White
menjelaskan di Desire of
Ages bahwa di
sana di kebun anggur itu ada banyak pohon lain. Ellen White mengatakan bahwa
pohon ara ini unik karena dia sudah berdaun sebelum pohon-pohon lainnya;
pohon-pohon lain masih gundul, tidak ada daunnya, sehingga mereka tidak menarik
perhatian. Nah, pohon-pohon lainnya itu semua melambangkan bangsa-bangsa
non-Yahudi. Bangsa Yahudi sudah menerima hak-hak istimewa oleh
karena itu mereka harus menghasilkan
buah lebih dulu, sebab semua hak-hak istimewa yang telah mereka terima.
Bangsa-bangsa lain tidak diharapkan berbuah hingga mereka mendengar pekabaran
itu. Jadi dikatakan, “…Ia pergi melihat
kalau-kalau Ia akan menemukan apa-apa pada
pohon itu…” dan
dikatakan, “…Waktu
Ia datang ke pohon itu, Ia tidak mendapatkan
apa-apa selain…” apa? “…selain daun-daun…” dan
dikatakan, “…sebab ini bukan
musim buah ara…” apa
yang dimaksud ialah, ini bukan musim buah ara. Pohon ini sudah diharapkan
menghasilkan buah lebih pagi daripada pohon-pohon yang lain. Ini adalah pohon
yang berbuah di luar musimnya, dengan kata lain, pohon ini sudah
menerima berkat khusus, bukan? Menurut Markus. Apa yang kita
baca di Lukas 13, pohon itu sudah menerima perhatian istimewa. Maka
pohon itu diharapkan berbuah lebih dulu daripada semua pohon yang lain.
Tetapi ternyata tidak. Dan sekarang saya mau kalian menyimak apa yang terjadi.
Ayat 14, “…14
Sebagai reaksinya, Yesus berkata kepada
pohon itu, ‘Jangan lagi pernah
ada orang yang makan buahmu!’ Dan
murid-murid-Nya mendengar itu…” Bisakah kalian bayangkan apa yang
terjadi di sini?
By the way do you notice that in all three passages there are:
·
the self-sufficient ones who compare themselves
with sinners,
it's in
Matthew 3, isn't it? “We are children of Abraham, we have the covenants, we
have the promises, you know we're not like these stones here.”
·
in Luke chapter 13 you have the same
idea coming through.
“Do you think you're better
than these people because they suffered a calamity and you didn't?”
·
And in all three passages there's the
idea of repentance, because there's no fruit.
These three passages ~ and by the way, the tree links all three
passages. Had the tree borne fruit in
four years since John the Baptist began to preach? Absolutely not! So Jesus
says, “Let no one eat fruit from you ever again.’ And His
disciples heard it.”
Nah, apakah kalian melihat bahwa dalam
ketiga bacaan ini ada:
·
Orang-orang
yang merasa sudah cukup baik, yang membandingkan diri mereka dengan orang-orang
yang berdosa,
ini di Matius 3, bukan? “Kami anak-anak Abraham, kami punya
Perjanjiannya, kami punya janji-janjinya, kami tidak seperti batu-batu di
sini.“
·
di Lukas pasal
13 ada konsep yang sama.
“Kamu kira kamu lebih baik daripada orang-orang ini karena mereka
mengalami bencana dan kamu tidak?”
·
dan di semua
ketiga bacaan itu ada konsep pertobatan, karena tidak ada buah.
Ketiga bacaan ini ~ nah, pohon itu
mengaitkan semua tiga bacaan itu. Apakah pohon itu menghasilkan buah dalam
empat tahun setelah Yohanes Pembaptis mulai berkhotbah? Sama sekali tidak! Maka
Yesus berkata, ”…‘Jangan lagi pernah ada orang yang
makan buahmu!’ Dan murid-murid-Nya mendengar itu…”
Now allow me to read you a passage in
Desire of Ages page 583 where Ellen White
interprets what the leaves and what the fruit represents. She says, “The Jewish religion, with its magnificent temple, its sacred altars, its mitered priests
and impressive ceremonies, was indeed
fair in outward appearance, but humility, love, and benevolence were lacking...” Are those fruits of the Spirit by the
way? Humility, love, benevolence? They most certainly are. She says, “…All the trees in the fig orchard were destitute of fruit;…” see, there were other trees, all of them were destitute of fruit, “…but the leafless
trees raised no expectation, and caused no disappointment…”
because they didn't have leaves, they weren't attractive, they didn't
claim much, see? “…By these trees the Gentiles were represented. They
were as destitute as were the Jews of godliness;
but they had not professed
to serve God…” are you understanding what this is saying?
Sekarang izinkan saya membacakan sebuah kutipan di Desire of Ages hal. 583 di
mana Ellen White menafsirkan apa yang dilambangkan daun-daun dan buah. Dia
berkata, “…Agama Yahudi dengan Bait Sucinya yang
megah, mezbah-mezbahnya yang kudus, imam-imamnya yang bertopi khusus, dan
seremoni-seremoninya yang mengagumkan, benar-benar indah dalam penampilan
luarnya, tetapi kerendahan hati, kasih, dan kebaikan budi tidak ada. …” apakah ini buah Roh?
Kerendahan hati, kasih, kebaikan budi? Tentu saja iya. Ellen White berkata,
“…Semua pohon di kebun tidak punya buah…” lihat, ada pohon-pohon
yang lain, mereka semuanya tidak punya buah, “…tetapi pohon-pohon yang tidak punya daun,
tidak membangkitkan harapan dan tidak menimbulkan kekecewaan…” karena mereka tidak punya
daun, mereka tidak menarik, mereka tidak mengklaim banyak, lihat?
“…Pohon-pohon ini melambangkan bangsa-bangsa non-Yahudi. Mereka sama
miskinnya seperti orang-orang Yahudi dalam hal kesalehan, tetapi mereka tidak
mengaku mengabdi kepada Allah…” apakah kalian paham apa yang dikatakan?
A little bit further down on this page 583 Ellen White says “…Jesus had come to the fig
tree hungry, to find food…”
What did
that mean? “…So He had come to Israel, hungering
to find in them the fruits of righteousness. He had lavished on them His gifts,
that they might bear fruit for the blessing
of the world…” and yet they bore no fruit for the blessing of the world, in
spite of their religiosity, in spite of having the form of godliness, the
appearance of piety, there was no practical religion, there was no love, there
was no benevolence, there was no goodness, there was no sharing with those who
were destitute, and hungering, and thirsting for the message, and for the
blessings of God.
Sedikit ke bawah di hal. 583, Ellen White berkata, “…Yesus datang ke pohon ara itu dengan rasa lapar, untuk
mencari makanan…” apa maksudnya itu? “…Demikianlah Dia datang ke Israel, lapar
menemukan mereka dalam buah-buah kebenaran. Dia telah melimpahi mereka anugerah-anugerahNya,
agar mereka boleh menghasilkan buah yang memberkati dunia…” namun mereka tidak
menghasilkan buah sebagai berkat bagi dunia, meskipun mereka sangat relijius, walaupun mereka memiliki
bentuk kesalehan, penampilan kudus, tapi tidak ada agama praktis, tidak ada
kasih, tidak ada kebaikan budi, tidak ada kemurahan, tidak berbagi dengan
mereka yang kekurangan, dan kelaparan, dan kehausan akan pekabaran, dan
berkat-berkat Allah.
I want you to notice what happened to that tree. By the way, do
you remember? It said the tree would be cut down, and thrown into the fire, and
it dried up. Notice what we find in Mark 11:20 and 21, it says, “20 Now in the morning, as they passed by, they saw the fig tree
dried up from the roots…” Wow! What happens when a tree dries
up by the roots? That’s it. By the way, let me ask you, had God prophesied
through John the Baptist that the tree that did not bear fruit would be cut
down and thrown into the fire? Yes! Is this the destiny that is taking place to
that tree? Absolutely. Why? Because it did not bear what? Because it did not
bear fruit.
Saya mau kalian menyimak apa yang terjadi pada
pohon itu. Nah, apakah kalian ingat? Dikatakan bahwa pohon itu akan ditebang
dan dilemparkan ke dalam api, dan dia mengering. Simak apa yang ada di Markus
11:20-21, dikatakan, “20
Dan pagi-pagi
ketika mereka lewat, mereka melihat pohon
ara itu mengering
dari akar-akarnya…” Wow! Apa yang terjadi bila sebatang
pohon mengering dari akar-akarnya? Tamat riwayatnya. Nah, coba saya tanya,
apakah Allah telah menubuatkan melalui Yohanes Pembaptis bahwa pohon yang tidak
menghasilkan buah akan ditebang dan dibuang ke api? Ya! Apakah ini nasib yang
terjadi pada pohon itu? Betul sekali. Mengapa? Karena dia tidak menghasilkan
apa? Karena dia tidak menghasilkan buah.
Now we're going to study the message to the Church of Laodicea,
and we're going to find that that message parallels what we've studied this
morning to a T. The only difference is that a tree is not used as an
illustration, the Church of Laodicea represents our church, the 7th-Day
Adventist Church. Not only Fresno Central, all of the Adventist Church, 7th-Day
Adventist Church, in a special way.
Sekarang kita akan mempelajari pekabaran
kepada gereja Laodekia, dan kita akan melihat bahwa pesan itu paralel dengan
apa yang kita pelajari pagi ini sampai ke detail-detailnya. Bedanya hanyalah
tidak dipakainya sebatang pohon sebagai ilustrasi, gereja Laodekia melambangkan
gereja kita, MAHK, bukan hanya Fresno Central, tapi semua gereja MAHK, dalam
cara yang khusus.
What is the problem with Laodicea? Same problem? Yes! Rich,
increased with goods, and in need of nothing. Don't we have special
institutions that the world doesn't have? Educational system, hospital system,
publishing ministry, unparalleled message, principles of health ~ I mean we've
got it all. Is it just possible that we
could fall into the same mistake that the Jews fell into, that they felt
self-sufficient because of all of the external aspects of religion, whereas the
internal piety of the Spirit is lacking? I believe so. We're going to notice in
our study that Jesus says to Laodicea, “Repent!” And I can imagine
Laodicea saying, “Repent? Repent of what? I'm rich and increased with goods
and in need of nothing.”
Apa masalahnya dengan Laodekia? Masalah
yang sama? Ya! Kaya, berkelimpahan harta, dan tidak kekurangan apa-apa.
Bukankah kita punya institusi-institusi istimewa yang tidak dimiliki dunia?
Sistem pendidikan, sistem rumah sakit, ministri penerbitan, pekabaran yang
tidak ada saingannya, prinsip-prinsip kesehatan ~ kita punya semuanya. Apakah
mungkin kita bisa jatuh ke kesalahan yang sama yang dibuat bangsa Yahudi, bahwa
mereka merasa serba cukup karena segala aspek eksternal keagamaan, di mana
kesalehan internal Roh tidak ada? Menurut saya iya. Kita akan melihat dalam
pelajaran kita bahwa Yesus berkata kepada Laodekia, “Bertobatlah!” Dan saya bisa
membayangkan Laodekia berkata, “Bertobat? Bertobat dari apa? Aku kaya dan
berkelimpahan harta dan tidak kekurangan apa-apa.”
Let me ask you folks, it's awful quiet in here. See, I told you
I was going to preach to the church today, not studying the message for the
world, but the message for the church which we need in these last days. It's
the last message of Jesus to the church. Does Jesus say to Laodicea,
“Repent!”? Yes, He does. Repent from what? Repent from not bearing what? Fruit.
You say, “How do you know that?”
Because in the message to the Church of Laodicea, Jesus comes
knocking. At what time does He come knocking? You have noticed. We read the
passage to begin today. At what time does Jesus come? He knocks at the door, listen
up, at supper time. In other words, Jesus
wants to what? He wants Laodicea to
feed Him.
Any relationship with what we studied about the tree? But where
is Jesus? He's not inside, He's what? Outside.
You say, “How do you know it's at supper time?”
Because Jesus says, “I will come in and sup with him. I will
have supper with him.”
Coba saya tanya, Saudara-saudara. Hening
sekali di sini. Lihat, saya sudah katakan hari ini saya akan berkhotbah kepada
gereja, bukan belajar pekabaran bagi dunia, melainkan pekabaran bagi gereja
yang kita perlukan di hari-hari akhir ini. Pekabaran yang terakhir dari Yesus
bagi gereja. Apakah Yesus berkata kepada Laodekia, “Bertobatlah!”? Ya, betul. Bertobat
dari apa? Dari tidak menghasilkan apa? Buah.
Kalian berkata, “Dari mana kita tahu itu?”
Karena di pekabaran kepada gereja
Laodekia Yesus datang mengetuk pintu. Pada waktu mana Yesus datang mengetuk?
Kalian sudah tahu. Kita sudah membaca ayat itu saat memulai khotbahnya hari
ini. Pada waktu apa Yesus datang? Dia mengetuk pintu ~ dengarkan ~ saat makan
malam. Dengan kata lain Yesus mau apa?
Dia mau Laodekia memberinya makan.
Apakah ada hubungannya dengan apa yang
telah kita pelajari tentang pohon itu? Tetapi Yesus ada di mana? Dia bukan di
dalam, Dia di mana? Di luar.
Kalian berkata, “Dari mana kita tahu itu waktu makan
malam?”
Karena Yesus berkata, “Aku akan masuk ke tempatnya dan makan malam
bersamanya” Aku akan makan
malam bersamanya.
Jesus hungers and thirsts from Laodicea the same things that He
hungered and thirsted for from the Jewish nation. In fact, Ellen White says
that we are repeating the history of the
Jewish nation. By the way, what would be equivalent to cutting the tree
down and throwing it in the fire? In Revelation 3 Jesus says, “Repent, or
else I will…” what? “…I will spew you out of My mouth.” Is that equivalent to cutting down the tree? Yes, it is.
Yesus lapar dan haus dari Laodekia akan
hal-hal yang sama yang Dia lapar dan haus dari bangsa Yahudi. Bahkan, Ellen
White berkata bahwa kita sedang mengulangi sejarah bangsa Yahudi.
Nah, apa kira-kira persamaan dengan menebang pohon itu dan membuangnya ke dalam
api? Di Wahyu 3 Yesus berkata, “Bertobatlah, kalau tidak…” apa? “…Aku
akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku…” apakah ini
sama dengan menebang pohon itu? Ya, benar.
There's a whole series of parallels between what happened then
and what happens today. He says, actually the Greek says, “I am about to spew you out of My mouth”. And folks, we cannot consider that simply because we're
Seventh Day Adventist and we have God's end time message, that that guarantees
that. This is it, this is the church and there's not the possibility ~ and I
know I need to be careful about this ~ the possibility that the Adventist
Church cannot go down the same road as the Jewish nation. Is there that
possibility? There most certainly is, and it's not because of all of the
external things that we have, it's because the
internal piety that is manifested in the fruit of the Spirit, is missing.
Amazing!
Ada serangkaian seri yang paralel antara
apa yang terjadi di masa itu dengan apa yang terjadi sekarang. Yesus berkata,
sebetulnya dalam bahasa Greeka dikatakan, “Aku akan
segera memuntahkan kamu keluar dari mulutKu.” (Wahyu 3:16). Dan
Saudara-saudara, kita jangan berpikir hanya karena kita adalah MAHK dan kita
punya pekabaran Allah untuik akhir masa, itu menjadi jaminan kita. Ini dia,
inilah gerejaNya dan tidak mungkin ~ saya tahu saya harus berhati-hati
mengatakannya ~ tidak mungkin gereja Advent tidak akan mengalami apa yang
dialami bangsa Yahudi. Apakah ada kemungkinan itu? Jelas ada, dan itu bukan
karena semua hal eksternal yang ada pada kita, itu karena kesalehan
internal yang termanifestasikan di buah Roh itu tidak ada pada kita.
Luar biasa!
Before I conclude this morning, I would like to read page 584 of Desire of Ages,
listen to this, “The warning is for all time…”
the warning of this last experience, this parable. “…Christ’s act in cursing the tree which…” was an acted parable “…which His own power had created stands as a warning
to all churches and to all Christians. No one can live the Law of God without
ministering to others. But there are many who do not live out Christ’s merciful, unselfish life. Some who think themselves excellent Christians do not understand
what constitutes service for God.
They
plan and study to please themselves. They act only in reference
to self. Time is of
value to them only as they can gather for themselves. In all the affairs of life this is their object. Not for others
but for themselves do they minister. God created them to live in a world where unselfish service must be performed…” see, the world is hungering and
thirsting for that. “…He designed
them to help their fellow men in every possible way. But self is
so large that they cannot see anything
else. They are not in touch with humanity. Those who thus live for self are like the fig tree, which made every pretension but
was fruitless. They observe the forms of worship,
but without repentance
or faith.
In profession they honor the Law of God, but obedience
is lacking. They say, but do not. In the sentence
pronounced on the fig tree Christ demonstrates how hateful in His eyes is this vain pretense. He declares…” listen to this, “…He declares that the open sinner is less guilty than is he who professes
to serve God, but who bears no fruit to His glory.”
Sebelum saya akhiri pagi ini, saya mau membacakan hal. 584 Desire of Ages.
Dengarkan ini, “…Peringatan ini adalah untuk segala
zaman…” peringatan tentang pengalaman yang terakhir ini, perumpamaan ini. “…Tindakan Kristus mengutuk pohon itu…” yang adalah tindakan simbolis, “…yang diciptakan oleh kuasaNya sendiri, tampil sebagai sebuah
peringatan kepada semua gereja dan kepada semua orang Kristen. Tidak ada yang
bisa hidup menurut Hukum Allah tanpa melayani orang lain. Tetapi ada banyak
yang tidak menghidupkan kehidupan Kristus yang penuh rahmat dan tidak
mementingkan diri. Ada yang menganggap diri mereka orang-orang Kristen yang
hebat, tapi tidak paham apa artinya pelayanan bagi Allah. Mereka membuat rencana
dan belajar untuk memuaskan diri mereka sendiri. Mereka bertindak hanya untuk
kepentingan diri sendiri. Waktu itu berharga bagi mereka sejauh mereka dapat
memanfaatkannya untuk diri mereka sendiri. Dalam segala aspek kehidupan, inilah
tujuan mereka. Bukan bagi orang lain melainkan mereka melayani diri mereka sendiri. Allah telah menciptakan
mereka untuk hidup di sebuah dunia di mana pelayanan untuk orang lain harus
dilakukan…” lihat, dunia lapar dan
haus untuk itu. “…Allah
merancang agar mereka menolong sesama dalam segala cara sebisanya. Tetapi diri
itu begitu besar sehingga mereka tidak bisa melihat orang lain. Mereka
kehilangan kontak dengan kemanusiaan. Dengan demikian mereka yang hidup untuk
diri sendiri seperti pohon ara, yang berpura-pura tetapi tidak berbuah. Mereka
memelihara bentuk ibadah, tetapi tanpa pertobatan maupun iman. Dalam pengakuan
mereka menghormati Hukum Allah, tetapi tidak ada kepatuhan. Mereka berkata
tetapi tidak berbuat. Di keputusan yang dijatuhkan pada pohon ara itu, Kristus
menunjukkan betapa di mataNya Dia membenci kepura-puraan kosong itu. Dia
menyatakan…” dengarkan ini, “…Dia menyatakan, pendosa yang
terang-terangan lebih kecil kesalahannya daripada dia yang mengaku mengabdi
kepada Allah tetapi tidak menghasilkan buah untuk kemuliaanNya.”
Those are powerful words. What are we doing for the Lord? We
come to church on Sabbath, we don't work, many of us tithe, we don't eat pork,
many perhaps are vegans, we know all about the principles of health, and yet
what are we doing for the world? What are we doing for our community? What are
we doing in revealing the practical godliness, the character of Jesus to a
world who is hungering and thirsting for something better than what they have?
Itu kata-kata yang keras. Apa yang kita
lakukan bagi Tuhan? Kita datang ke gereja pada hari Sabat, kita tidak bekerja,
banyak di antara kita yang mengembalikan persepuluhan, kita tidak makan babi,
mungkin banyak yang vegan, kita tahu semuanya tentang prinsip-prinsip
kesehatan, namun begitu apa yang kita lakukan bagi dunia? Apa yang kita lakukan
untuk komunitas kita? Apa yang kita lakukan untuk menyatakan kesalehan praktis,
karakter Yesus, kepada sebuah dunia yang lapar dan haus untuk sesuatu yang
lebih baik daripada apa yang mereka miliki?
I'd like to end by reading a parable of Jesus and making a few
remarks about it. Go with me to the Gospel of Luke chapter 18, and you know
this parable very well, but it illustrates this same principle. By the way,
next Sabbath we're going to talk about the parable of the prodigal son.
You say, “Now what does that have to do with Laodicea?”
A lot. That parable is not really about the prodigal son, it's
about the son who was lost at home. See, we usually study the story of the
prodigal son. We say, “How wonderful, you know, he came back home, his
father embraced him, and they lived happily after.” And we forget that the
main point of the parable didn't have to do with the younger son but with the
older one, who was at home and served his father, and you know, like a hireling
who says, “I've served you all these years, you owe me something, Dad.” Are
you following me? That whole story has the purpose, and of course then you have
the Gentiles, so to speak, which is his brother.
Saya ingin mengakhiri dengan membacakan
sebuah perumpamaan Yesus dan membuat beberapa komentar tentang itu. Mari
bersama saya ke injil Lukas pasal 18, dan kalian kenal baik perumpamaan ini,
tetapi ini menggambarkan prinsip yang sama. Nah, Sabat depan kita akan bicara
tentang perumpamaan anak yang berfoya-foya itu.
Kalian berkata, “Nah, apa kaitannya itu dengan Laodekia?”
Banyak. Perumpamaan itu sesungguhnya
bukan tentang anak yang berfoya-foya, itu tentang anak yang hilang di dalam
rumah. Lihat, biasanya kita mempelajari kisah anak yang berfoya-foya, kita
berkakta, “Bagus sekali,
dia pulang, bapaknya memeluknya, dan mereka hidup bahagia selamanya.” Dan
kita melupakan poin utama perumpamaan itu tidak berkaitan dengan anak yang
bungsu, melainkan dengan anak yang sulung, yang ada di rumah dan berbakti
kepada bapaknya, tetapi seperti orang bayaran dia berkata, “Aku telah
mengabdi kepadamu selama bertahun-tahun ini, Bapak berutang sesuatu padaku.” Apakah
kalian mengikuti saya? Seluruh kisah itu ada tujuannya, dan tentu saja di sana
ada bangsa-bangsa lain, katakanlah begitu, yang adalah saudaranya.
Do you know the Pharisee always compares his piety with the
piety of others? Let's notice that, Luke chapter 18 and I want to begin at
verse 9, “9 Also He spoke this parable to some who trusted in
themselves that they were righteous, and despised others…” Hello? Any relationship with the fig tree? Absolutely. Verse 10, “…10 Two men went up to
the temple to pray…” did they both come to worship God? Sure, “…one a Pharisee and the other a tax
collector….” how did the Pharisee look upon the
tax collector? “That miserable IRS agent, I wish a bolt of lightning would
fall from Heaven and burn him up.” Hope we don't feel like that towards the
IRS agents, we have to love them too, you know. But the Jews they hated the tax
collectors because they were Jews in the employ of Rome, imagine that. Verse 11, “…11 The Pharisee stood and prayed
thus with himself…” Hello? He prayed what? With himself! In other words, his prayer
didn't go beyond his head which was very big, incidentally. “…11 The Pharisee stood and prayed
thus with himself, ‘God, I thank You that I am not like other men…” who is he
comparing himself with? With others, you know. When I compare myself with
others, I'm always better than they are. You can know that for sure. But when I
compare myself with God, I'm a worm. Albert, I didn't expect you to say that so
loud, hahahaha! So it says, “…11 The Pharisee stood and prayed
thus with himself, ‘God, I thank You that I am not like other men,
extortioners, unjust, adulterers, or even as this tax collector…” and then he's going to make a list of all, of all of the leaves that he has, “…12 I fast twice a week; I give
tithes of all that I possess.’…” by the way,
don't anybody go out of here today and say Pastor Bohr says you're not supposed
to tithe or give the church budget. We're supposed to tithe, and keep the
Sabbath, and practice the Laws of health, but if that is not accompanied by the
practical religion of Christ, it's worthless. You
have to have both. You have to have leaves and fruit. By the way, the
leaves are the main mechanism that the tree uses to bear fruit. The leaves are
the food making elements of the tree. For those of you ~ I see Phil saying, “Yes!
yes Pastor you got it right,” He says, “…12 I fast twice a week; I give
tithes of all that I possess.’…” could he
have made a good Seventh-Day Adventist? What do you think? Yeah, maybe a leader
in the church. Sure, I believe so, but there was something terribly wrong. Verse
13, “…13 And the tax
collector, standing afar off, would not so much as raise his eyes to
heaven…” you can imagine him standing there
with his head down embarrassed to be in the presence of God, “…but beat his breast, saying, ‘God, be
merciful to me a sinner!’…” was he
repentant? Was the first guy repentant? No! He was self-sufficient. See, that's
the problem with Laodicea, it's a
self-sufficient church, because of all that it has, and the Adventist
denomination is greatly blessed, it has an enviable organizational system, enviable system of ministers and leaders, it has an enviable health
system, and publishing ministry, and educational system, incomparable beliefs,
incomparable lifestyle, and practices. But folks, all of that is worthless
unless the fruit of Christ's life is seen in us. Verse 14, Jesus gives the
lesson to the parable, He says, “…14 I tell you, this man…” that is the publican, “…went down to his house
justified rather than the other; for everyone who
exalts himself will be humbled, and he
who humbles himself will be exalted.”
Tahukah kalian orang Farisi selalu membandingkan
kesalehannya dengan kesalehan orang lain? Mari kita simak itu, Lukas pasal 18,
dan saya mau mulai di ayat 9, “9 Juga Dia mengatakan perumpamaan ini kepada
beberapa orang yang mengandalkan diri mereka
sendiri bahwa mereka benar dan memandang rendah orang lain,…” halo? Ada kaitan dengan pohon ara?
Tentu saja. Ayat 10, “…10 Ada dua orang pergi ke Bait Allah
untuk berdoa;…” apakah keduanya datang untuk beribadah kepada Allah? Tentu, “…yang
seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai…” Bagaimana orang Farisi itu memandang si
pemungut cukai? “Pegawai
pajak yang menyebalkan, moga-moga ada petir yang jatuh dari langit dan
membakarnya.” Semoga kita tidak punya perasaan seperti itu terhadap
pegawai pajak, kita juga harus mengasihi mereka. Tetapi orang-orang Yahudi
membenci para pemungut cukai karena mereka juga orang-orang Yahudi namun
bekerja pada pemerintah Roma, bayangkan itu. Ayat 11, “…11
Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dengan
dirinya sendiri demikian,…” Halo? Dia
berdoa bagaimana? Dengan dirinya sendiri! Dengan kata lain, doanya tidak naik
melampaui kepalanya yang ketahuilah sangat besar. “…11 Orang Farisi itu berdiri dan
berdoa dengan dirinya sendiri demikian, ‘Ya
Allah, aku bersyukur aku tidak seperti orang
lain…” dia
membandingkan dirinya dengan siapa? Dengan orang lain. Kalian tahu, bila saya
membandingkan diri saya dengan orang lain, saya selalu lebih baik daripada
mereka. Itu sudah pasti. Tetapi bila saya membandingkan saya dengan Allah, saya
ini cacing. Jadi dikatakan, “…11 Orang Farisi itu berdiri dan
berdoa dengan dirinya sendiri demikian, ‘Ya
Allah, aku bersyukur aku tidak seperti orang
lain ~ pemeras, lalim, pezinah, bahkan seperti pemungut cukai ini…” lalu dia akan membuat daftar semua daun
yang dimilikinya. “…12 Aku berpuasa dua kali seminggu,
aku memberikan sepersepuluh dari segala milikku.’…” Nah, jangan sampai ada yang keluar hari
ini dan mengatakan Pastor Bohr berkata kita tidak usah mengembalikan
persepuluhan atau memberi untuk anggaran gereja. Kita harus mengembalikan
persepuluhan, dan memelihara Sabat, dan mempraktekkan hukum kesehatan, tetapi
jika itu tidak disertai oleh agama praktis Kristus, itu percuma. Harus
ada kedua-duanya. Harus punya daun dan buah. Nah, daun-daun
adalah mekanisme utama pohon itu bisa menghasilkan buah. Daun-daun adalah unsur
pembuat makanan pohon tersebut. Bagi kalian ~ saya melihat Phil mengatakan, “Ya, ya, Pastor, Anda benar!” Orang Farisi
itu berkata, “…12
Aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala milikku.’…”
apakah
dia bisa menjadi seorang MAHK yang baik? Menurut kalian? Ya, bahkan mungkin
seorang pemimpin di gereja. Tentu saja, saya yakin begitu, tetapi ada yang
sangat salah. Ayat 13, “…13 Dan
pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan tidak sedikit pun berani mengangkat matanya ke langit,…” kita bisa
membayangkan dia berdiri di situ dengan kepala tertunduk ke bawah, malu berada
di hadirat Allah, “…melainkan
memukuli dadanya sambil berkata: ‘Ya Allah, kasihanilah aku orang yang berdosa.’…” apakah dia
bertobat? Apakah orang Farisi tadi bertobat? Tidak! Dia puas dengan dirinya
sendiri. Lihat, itulah masalahnya dengan Laodekia, sebuah gereja yang
merasa puas diri karena segala yang dimilikinya. Dan denominasi
Advent sangat diberkati, punya sistem organisasi yang membuat iri, sistem
kependetaan dan kepemimpinan yang membuat iri, sistem kesehatan yang membuat
iri, dan ministri penerbitan, dan sistem edukasi, keyakinan yang tidak ada
bandingnya, pola hidup dan praktek yang tidak ada bandingnya. Tapi
Saudara-saudara, semua ini tidak ada artinya kecuali buah kehidupan Kristus
terlihat dalam kita. Ayat 14, “…14 Aku berkata kepadamu, orang ini…”
yaitu
si pemungut cukai, “…pulang ke rumahnya sebagai orang yang
dibenarkan Allah, tidak seperti yang satunya.
Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa
merendahkan diri, ia akan ditinggikan."
Do you know Ellen White says that the substance of the teachings of Jesus is the denial of self? You
look at everything Jesus taught, the essence or the substance is the denial of
self. Selflessness, giving, without expecting anything in return.
Tahukah kalian Ellen White mengatakan
bahwa substansi ajaran Yesus adalah penyangkalan diri.
Kita lihat segala yang diajarkan Yesus, esensinya atau substansinya adalah
penyangkalan diri. Tidak mementingkan diri, memberi tanpa mengharapkan apa-apa
sebagai balasan.
And so we begin our study on the Church of Laodicea by
understanding the experience that Israel went through when Jesus came to this
world. Perhaps before I end, I should read one final passage, in case you
didn't catch what I'm talking about, the meaning of what I'm talking about. Go
with me to Matthew chapter 23, and this will be our last passage. Matthew
chapter 23, this is the woes upon the scribes and the Pharisees. And I want you
to notice what their problem was. Verse 23, “23 Woe to you,
scribes and Pharisees, hypocrites! For you pay tithe
of mint and anise and cummin…” can you
imagine what it must be like to pay tithe on cumin seeds? Nine for me, one for
the Lord; nine for me, one for the Lord. They were sticklers for detail. But
then He says, “…and have neglected the
weightier matters of
the Law: justice and mercy and faith…” you see practical religion there? “…These you ought to have done,
without leaving the others undone...” He says, “Yes, you need both. Not tithe or love, but love
that tithes.” Verse 24, “…24 Blind guides, who strain out a gnat and swallow a
camel!...” Do you know that they actually did
that? Because they were forbidden from eating anything unclean, the Pharisees
they would strain their water just in case a gnat had gotten in the water, and if
they swallowed the gnat they would be eating something unclean. But Jesus says,
you
“…strain out a gnat and swallow a camel!...” Verse 25, “…25 ‘Woe to you, scribes and Pharisees, hypocrites! For you cleanse the outside of the cup and dish, but inside they
are full of extortion and self-indulgence…” How many of
you when you wash your dishes you only wash them on the outside, nice and
sparkling, and shiny? You look at the light, oh, they're so shiny and sparkling
outside. But you didn't wash them inside. What's the use? It's useless. Jesus
is saying, “Outside you're okay, but inside there's something wrong.” There's a conflict between outside and inside.
Maka kita
memulai pelajaran kita mengenai gereja Laodekia dengan memahami pengalaman yang
dilalui Israel ketika Yesus datang ke dunia ini. Mungkin sebelum saya akhiri,
sebaiknya saya membacakan satu bacaan terakhir, sekiranya kalian tidak
menangkap apa yang saya katakan, makna dari apa yang saya katakan. Marilah
bersama saya ke Matius pasal 23, dan ini akan menjadi bacaan kita yang
terakhir. Matius 23, ini adalah celaka-celaka kepada para ahli Taurat dan
orang-orang Farisi. Dan saya mau kalian menyimak apa masalah mereka. Ayat 23, “23 Celakalah
kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, orang-orang munafik! Sebab kamu mengembalikan persepuluhan dari selasih,
adas manis dan jintan…” bisakah kalian bayangkan seperti apa mengembalikan
persepuluhan atas biji jintan? Sembilan untuk saya, satu buat Tuhan; sembilan
untuk saya, satu untuk Tuhan. Mereka sangat teliti dalam detail. Tetapi
kemudian Tuhan berkata, “…tetapi telah
mengabaikan yang lebih penting dalam
Hukum Taurat: keadilan, dan belas kasihan, dan iman…”
kalian
lihat agama praktis di sini? “…Ini harus kamu lakukan, tanpa membiarkan yang lain
tidak dilakukan…” Kata Tuhan, “Ya, kalian harus melakukan
keduanya. Bukan persepuluhan atau kasih, tetapi kasih yang mengembalikan
persepuluhan.” Ayat 24, “…24
Pemandu-pemandu buta, yang menyaring ngengat dan menelan unta!…” Tahukah
kalian mereka benar-benar melakukan itu? Karena mereka dilarang makan apa pun
yang tidak halal, orang-orang Farisi menyaring air minum mereka sekiranya ada
ngengat yang masuk ke air itu dan mereka menelan ngengat itu, maka berarti
mereka telah makan sesuatu yang tidak halal. Tetapi Yesus berkata, kamu “…menyaring
ngengat dan menelan unta!…” Ayat 25, “…25
Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, orang-orang
munafik! Sebab kamu bersihkan sebelah
luar cawan
dan pinggan, tetapi sebelah dalamnya penuh pemerasan
dan pemanjaan diri…” Berapa orang
dari kalian ketika mencuci piring dan mangkuk hanya mencuci bagian luarnya
saja? Bersih, mengilat, dan bersinar. Kalian lihat cahayanya, oh mereka begitu
bersinar dan mengilat bagian luarnya. Tetapi bagian dalamnya tidak dicuci.
Untuk apa? Tidak ada gunanya. Yesus berkata, “Bagian luarmu oke, tapi ada yang salah di bagian
dalamnya.” Ada konflik antara luar dan dalam.
And we're going to notice in our study of Laodicea, folks, that
Laodicea has something hot and has something cold because lukewarm water is the
combination of hot and cold. Laodicea has something hot and something cold. Do you
know what it has hot? Works. Do you
know what it has cold? The heart. And
the combination of a cold heart producing
work, selfish works, self-righteous works, is what? Lukewarm and nauseating to Jesus Christ.
Dan kita akan menyimak di pelajaran kita
tentang Laodekia, Saudara-saudara, bahwa Laodekia punya sesuatu yang panas dan
sesuatu yang dingin, karena suam-suam adalah campuran panas dan dingin.
Laodekia punya sesuatu yang panas dan sesuatu yang dingin. Tahukah kalian apa
yang dimilikinya yang panas? Perbuatan. Tahukah
kalian apa yang dimilikinya yang
dingin? Hati. Dan
kombinasi antara hati yang dingin yang menghasilkan perbuatan,
perbuatan yang egois, perbuatan berdasarkan rasa benar sendiri, itu
apa? Suam-suam, dan memuakkan bagi Yesus Kristus.
Well, I hope you'll continue coming. I know this is strong stuff,
strong medicine, but it's Christ's message to His last church, and we can say, “Oh
no that's not the way I am“, or we can come to terms with what Jesus says,
and allow the Holy Spirit to come in and transform our hearts, and to change us
and to receive the rebuke of Jesus, because this message is not meant to
discourage the church. Jesus says, “He whom I love, I rebuke and
chastise.” This is a message of love, because He
does not want to see us, He does not want to see His church perish.
Let us pray.
Nah, saya berharap kalian akan terus
datang. Saya tahu ini materi yang keras, obat yang keras, tetapi ini adalah
pesan Kristus kepada gerejaNya yang terakhir, dan kita bisa berkata, “Oh, tidak, saya tidak seperti itu”,
atau kita bisa menerima apa yang dikatakan Yesus dan mengizinkan Roh Kudus
masuk dan mengubahkan hati kita, dan mengubah kita, dan menerima teguran Yesus.
Karena pesan ini tidak ditujukan untuk membuat gereja kecil hati. Yesus
berkata, “19 Seberapa banyak yang Kukasihi, Aku tegur dan
hajar…” (Wahyu 3:19). Ini adalah sebuah pesan cinta, karena Dia
tidak ingin melihat kita, Dia tidak ingin melihat gerejaNya binasa.
Mari kita berdoa.
20 06 26
