THE GREAT PROPHECIES OF THE OLD TESTAMENT – 2
(DANIEL AND REVELATION)
Part 20/26
- Stephen Bohr
NOTES ON DANIEL 9 PART 4
https://www.youtube.com/watch?v=VRZp_p0rS-8&list=PLIWJyuxBfZ7hLabh9R9FPRklAb6fafzft&index=20
Dibuka
dengan doa.
Welcome back
everyone. We are going to continue our study of the 70 week prophecy and we
ended on page 496 in our last session. And so now we are going to begin at the
top of the page with the subtitle “The Cutting Off of The Messiah But Not For
Himself”. Now let's read once again verse 25, so that we see what we've covered
so far. “25 Know therefore and understand, that from the going forth of the
command to restore and build Jerusalem until Messiah the Prince, there shall be seven weeks and
sixty-two weeks; the street shall be built again, and the wall...” we’ve already noticed what the meaning of those words are
“...even in troublesome times.” And now we're going to take a look at verse 26. “26 And after the sixty-two weeks...”
in other words, after the seven and the
62 weeks, what is going to take place? “...Messiah shall be cut
off, but not for Himself...” So let's
pursue that.
Selamat
bertemu kembali. Kita akan melanjutkan pelajaran kita mengenai nubuatan 70
minggu dan di sesi kita yang terakhir, kita berhenti di hal. 496. Jadi sekarang
kita akan mulai di bagian atas halaman yang judulnya adalah “Dipotongnya
Messias Tetapi Bukan Karena DiriNya Sendiri”. Sekarang mari kita baca lagi ayat
25, supaya kita bisa melihat apa yang sudah kita liput sampai di sini. “25 Maka ketahuilah dan pahamilah: dari
saat keluarnya perintah untuk memulihkan dan
membangun Yerusalem hingga Messias, Sang Pangeran, akan ada tujuh minggu dan enam puluh dua minggu; jalannya akan dibangun kembali, dan dindingnya,…” kita sudah menyimak apa maksud kata-kata ini, “…yaitu di masa yang
sulit…” Dan sekarang kita akan menyimak ayat 26, “…26 Dan sesudah keenam puluh dua minggu itu…” dengan kata lain, setelah ke-7 dan ke-62 minggu itu,
apa yang akan terjadi? “…Messias akan dipotong tetapi bukan karena Dirinya sendiri…” Jadi mari kita kupas ini.
All events in
the previous section took place within the time frame of the first seven weeks,
which are 49 years. Then 62 weeks that's 434 years later, the prophecy
predicted that the Messiah would be cut off.
·
What is the meaning of the expression “cut off”?
·
For whom and why was the Messiah cut off?
Semua peristiwa di bagian
sebelumnya terjadi dalam kurun waktu ke-7 minggu yang pertama, yaitu 49 tahun. Lalu
62 minggu yang adalah 434 tahun kemudian, nubuatan itu memprediksi bahwa
Messias akan dipotong.
·
Apa artinya ungkapan “dipotong”?
·
Demi siapa dan mengapa Messias dipotong?
What is the
meaning of the expression “cut off” in other words? We find the answer to these
questions in a parallel prophecy of Isaiah chapter 53. There are several terms in Daniel 9 that appear also in
Isaiah 53. Notice some of those expressions and words that appear both
in Daniel 9 and Isaiah 53:
·
the word “transgression”,
·
the word “sin”,
·
the word “iniquity”,
·
the word “people”,
·
the word “righteousness”,
·
and also the word or the expression “cut off”.
Dengan kata lain, apa
artinya ungkapan “dipotong”? Kita menemukan jawaban kepada
pertanyaan-pertanyaan ini di sebuah nubuatan paralel di Yesaya pasal 53. Ada beberapa
istilah di Daniel 9 yang juga muncul di Yesaya 53. Simak
beberapa dari ungkapan-ungkapan dan kata-kata tersebut yang sama-sama muncul di
Daniel 9 dan Yesaya 53:
·
kata “pelanggaran”,
·
kata “dosa”,
·
kata “kejahatan”,
·
kata “umat” atau “orang-orang”,
·
kata “kebenaran”,
·
dan juga kata atau ungkapan “dipotong”.
Isaiah 53:8
is strikingly similar to Daniel 9. Let's read Isaiah 53:8, “8 He...” that is the
suffering Servant “...was taken
from prison and from judgment, and who will declare His generation? For He was...” what? Ah, this is a Messianic prophecy, “...He was cut off from the
land of the living...” in other words, He was killed, right? “cut off” means He's killed
“...He was cut off from the land of the living...” and for whom did He do it? Did He
do it for Himself? No! It says, “...for the transgressions of My
people He was stricken.” So He was cut off not for Himself, and “cut off” means that He's cut off
from the land of the living, in other words, He's killed. Clearly the
expression “cut off” means killed. And both prophecies indicate that He died
for His people and not for Himself.
Yesaya
53:8 sangat mirip Daniel 9. Mari kita baca Yesaya 53:8, “8 Dia…” yaitu Hamba yang menderita, “…dibawa dari penjara dan dari
pengadilan, dan siapa yang akan menyatakan keturunanNya? Karena Dia telah…” apa? Ah, ini adalah nubuatan Mesianik, “…Dia telah
dipotong dari
dunia orang hidup…” dengan kata lain Dia dibunuh, benar? “dipotong” berarti Dia dibunuh. “…Dia
telah
dipotong
dari dunia orang hidup…” dan Dia
melakukannya demi siapa? Apakah Dia melakukannya karena DiriNya Sendiri? Tidak!
Dikatakan, “… Karena dosa umatKu-lah, Dia
dipukul…” Jadi Dia
dipotong bukan karena DiriNya Sendiri. Dan “dipotong” artinya Dia disingkirkan
dari dunia orang hidup, dengan kata lain, Dia dibunuh. Jelaslah ungkapan
“dipotong” artinya dibunuh. Dan kedua nubuatan ini sama-sama mengindikasikan
bahwa Dia mati bagi umatNya dan bukan bagi DiriNya Sendiri.
The
altruistic death of the suffering Servant is repeated in other verses of Isaiah
53. Not only does Isaiah 53 say that He was going to be cut off for the sins of
His people, but notice Isaiah 53:3, 4, 5, 6, 11 and 12, I'm only including
certain expressions in these verses. “4 ... He has borne
our griefs and carried our sorrows; 5... He was wounded for our
transgressions, He was bruised
for our iniquities; the chastisement for our peace was upon Him, and by His stripes we are healed. 6 ... the Lord has laid on Him the
iniquity of us all. 11 … He shall bear their
iniquities. 12 … He was numbered with the
transgressors, and He bore the sin of many…”
So is it
clear that He was “cut off but not for himself”? I think there's enough evidence in all of these expressions He did it
for His people.
Kematian Hamba yang
menderita demi kepentingan orang lain diulangi di ayat-ayat lain di Yesaya 53.
Yesaya 53 bukan saja mengatakan Dia akan dipotong karena dosa-dosa umatNya,
tetapi simak Yesaya 53:3, 4, 5, 6, 11 dan 12. Saya hanya memasukkan
ungkapan-ungkapannya dari ayat-ayat ini. “4
... Dia yang
telah menanggung duka kita dan memikul kesedihan kita; 5... Dia dilukai karena pelanggaran-pelanggaran
kita, Dia dipukuli hingga memar karena kejahatan-kejahatan kita; hukuman demi pendamaian kita ditanggung olehNya, dan oleh
bilur-bilurnya kita disembuhkan. 6...
TUHAN telah menimpakan kepadaNya kejahatan kita semua.
11 ...Dia yang akan memikul dosa-dosa mereka. 12 … Ia dihitung
bersama para pelanggar Hukum. Dan Ia menanggung dosa banyak orang,…”
Jadi apakah jelas bahwa Dia “dipotong tetapi bukan karena DiriNya
Sendiri”? Menurut saya ada cukup
bukti di semua ungkapan ini bahwa Dia melakukannya bagi umatNya.
And so let's
go back to Daniel chapter 9. Immediately after saying, “26 … after
62 weeks the Messiah shall be cut off but not for Himself” it speaks about “...the people of the Prince who is to come shall destroy
the City and the Sanctuary. The end of it shall be with a flood, and till the end of the war
desolations are determined.” We have a lot to say about what I just
read.
Maka
marilah kita kembali ke Daniel pasal 9. Segera setelah mengatakan, “26 Dan sesudah keenam puluh dua minggu itu, Messias akan dipotong tetapi bukan karena Dirinya Sendiri…” ini bicara tentang “…orang-orang Pangeran yang bakal datang itu akan menghancurkan Kota dan Tempat kudus itu. Akhir darinya akan dengan air bah, dan hingga akhir peperangan itu, penelantaran telah ditetapkan…” Banyak yang harus kita bahas mengenai apa yang baru saya bacakan.
The question
is:
·
who is “the Prince who is to come”?
·
and who are His “people”?
Three
possibilities have been suggested.
1.
The “people” are the Romans, and the “Prince” is Titus. So Titus comes with the Roman armies, with his peoples, and he
destroys the City.
2.
The second possibility is the Futurist’s
possibility, and that is that the “Prince” is a future Antichrist. and the “people” are his wicked followers.
3.
And the third option is that the “people” are the Jews and the “Prince” is Jesus Christ.
Pertanyaannya ialah:
·
Siapakah “Pangeran
yang akan datang”?
·
dan siapa “orang-orang”Nya?
Tiga kemungkinan yang
diusulkan:
1.
“Orang-orang” adalah
bangsa Roma, dan “Pangeran”nya
adalah (jenderal) Titus. Jadi Titus datang dengan pasukan Roma, dengan
orang-orangnya, dan dia menghancurkan Kota itu.
2.
Kemungkinan kedua adalah kemungkinan golongan
Futurist, yaitu “Pangeran”nya
adalah Antikristus masa depan, dan “orang-orang” adalah
para pengikutnya yang jahat.
3.
Dan opsi ketiga ialah, “orang-orang” itu adalah bangsa Yahudi, dan “Pangeran”nya adalah Yesus Kristus.
We will
concern ourselves only with options 1 and 3, because once we understand options
1 and 3, number 2 becomes totally irrelevant, it takes care of itself.
Historicists
in general and Seventh-Day Adventists in particular have traditionally taught that
the “Prince” was Titus, and the “people of
the Prince” were the Roman legions or the armies
that accompanied Titus. Now this view is tempting, but it does not harmonize
with the literary structure of Daniel 9:24-27. Notice the following structural
consideration: In verse 25 you have “25 Know therefore and understand, that from the going forth of the
command to restore and build Jerusalem until Messiah the Prince...” So is Messiah
the Prince? Yes, Messiah is the Prince.
And then when you continue reading in verse 26 it says, “26 And after the sixty-two weeks
Messiah...” is that the same Messiah that we
read of in verse 25? Yes! “...Messiah shall be cut off, but not for Himself;
and the people of the Prince who is to come...” o, is it the
same Prince? Yes, it's the same Prince.
Verse 25 says “Messiah The Prince” and then it speaks about Messiah, and then it refers to “the Prince who is to come”. Are you
following me or not? There's no reason to believe that “Messiah the Prince” in verse 25
is not the same “Messiah” and “Prince” in verse 26. In fact the
reference to “Messiah” and “Prince” in verse 26 provides a literary balance with a reference to “Messiah the Prince” in verse 25.
So you have “Messiah The Prince” and then you have “Messiah” and then you have “the Prince
who is to come”.
Kita akan fokus hanya pada
opsi 1 dan 3, karena begitu kita memahami opsi 1 dan 3, opsi 2 menjadi sama
sekali tidak relevan, itu beres sendiri.
Kelompok
Historist pada umumnya, dan MAHK khususnya, secara tradisi mengajarkan bahwa “Pangeran” itu adalah Titus, dan “orang-orang Pangeran” itu adalah legiun atau
tentara Roma yang bersama Titus. Nah, ini memang menggiurkan, tetapi ini tidak
selaras dengan struktur sastra Daniel 9:24-27. Simak struktural berikut untuk
dipertimbangkan: di ayat 25 kita baca, “25
Maka ketahuilah dan pahamilah: dari saat keluarnya perintah untuk memulihkan dan
membangun Yerusalem hingga Messias Sang Pangeran…” Nah, apakah Messias itu Sang Pangeran? Ya, Messias adalah Sang
Pangeran. Kemudian kita lanjut membaca di ayat 26 dikatakan, “… 26 Dan sesudah keenam puluh dua minggu itu Messias…” apakah ini Messias yang sama yang kita baca di ayat 25? Iya! “…Messias akan dipotong tetapi bukan karena Dirinya
sendiri. Dan orang-orang Pangeran yang bakal datang itu…” O, apakah ini Pangeran yang sama? Betul, ini Pangeran yang sama.
Ayat 25 mengatakan “Messias Sang Pangeran”, kemudian dia bicara tentang “Messias”, kemudian dia mengacu ke “Pangeran
yang akan datang”. Apakah kalian mengikuti saya atau
tidak? Tidak ada alasan untuk meyakini bahwa “Messias Sang Pangeran” di ayat 25 bukanlah “Messias” dan “Pangeran” yang sama di ayat 26. Bahkan
referensi ke “Messias” dan “Pangeran” di ayat 26 memberikan suatu
keseimbangan sastra dengan sebuah rujukan ke “Messias Sang Pangeran” di ayat 25. Jadi ada “Messias Sang Pangeran”, kemudian ada “Messias”, dan kemudian ada “Pangeran yang akan datang”.
A more serious problem with the view that the “Prince” is Tyrus, and the “people” the Roman legions is, that it is
incongruous with the three personal pronouns in verse 27. Verse 27 reads as
follows, “27 Then he...” is that the same “Prince who is to come” in the previous verse? Yeah,
of course it is, there's no break, it's the same Prince “...He shall confirm a
Covenant with many for one week; and in the midst of the week He...” the same
Prince of the previous verse “...He shall cause the sacrifice and the oblation to cease and for the overspreading
of abominations He shall make it desolate.” (KJV) So is this “He” of verse 27 the same
“He” as the “Prince who is to come” in the previous verse? Absolutely! Now
let's unpack this.
Masalah
yang lebih serius dengan konsep bahwa “Pangeran” adalah
Tirus dan “orang-orang” adalah
tentara Roma ialah, hal ini tidak serasi dengan ketiga kata ganti orang di ayat
27. Ayat 27 berbunyi seperti berikut: “27…
Dia…” apakah ini “Pangeran yang akan datang” yang sama di ayat sebelumnya? Iya, tentu saja, tidak
ada jedahnya, ini Pangeran yang sama. “27…
Dia akan meneguhkan sebuah perjanjian dengan banyak orang untuk satu minggu.
Dan pada pertengahan minggu itu Ia…” Pangeran yang sama dari ayat sebelumnya, “…Ia akan mengakibatkan
kurban dan persembahan berhenti; dan karena
adanya penyebaran
kekejian-kekejian, Ia akan membuatnya (= kota itu ) terlantar...” (KJV). Jadi apakah “Ia” di ayat 27 ini sama dengan “Ia”nya
“Pangeran yang akan datang” di ayat sebelumnya? Tentu saja!
Sekarang mari kita kupas ini.
The context
clearly indicates that the three “He” of
verse 27 refer to the same Person as the “He” in verse 26. That is to
say, the “Prince of the people” in verse 26 is the same Person who confirms the
Covenant for one week, causes the sacrifice and oblation to cease, and makes
the City and the Sanctuary desolate.
·
It is true that Titus literally caused
the sacrificial system to come to an end, because he destroyed the Temple.
However, it is not true that Titus made a
strong Covenant with Israel for one week, is it? That's not true.
·
Seventh-Day Adventists have
traditionally believed that it was Jesus who
brought the sacrifice and oblation to an end, when He said on the cross
what? “It is finished.”
·
Seventh-Day Adventists have also
believed that Jesus confirmed the Covenant
with Israel for the final of the 70 weeks. Don't we believe that? Of
course we do!
Konteksnya dengan jelas
mengindikasikan bahwa ketiga “Ia” ayat 27 mengacu
kepada Pribadi yang sama dengan “Ia” di ayat 26. Artinya, “Pangeran
orang-orang” di ayat 26 adalah Pribadi yang sama yang meneguhkan Perjanjian
untuk satu minggu, yang membuat kurban dan persembahan berhenti, dan membuat
Kota dan Bait Sucinya terlantar.
·
Memang benar Titus yang secara literal
mengakibatkan sistem kurban berakhir karena dia menghancurkan Bait Suci. Namun,
tidaklah benar Titus
telah membuat sebuah Perjanjian yang kuat dengan Israel untuk satu
minggu, bukan? Itu tidak benar.
·
MAHK secara tradisi meyakini bahwa Yesus-lah yang telah
menghentikan kurban dan persembahan ketika di salib Dia berkata apa?
“Sudah selesai.”.
·
MAHK juga meyakini bahwa Yesus yang meneguhkan Perjanjian
dengan Israel untuk bagian akhir dari nubuatan 70 minggu. Bukankah
itu keyakinan kita? Tentu saja iya!
It is clear
that the antecedent to all three “He”’s in verse 27 is “the Prince who is to come” in verse 26. This is the way it reads, “26 ...the people of the Prince who is to come
shall destroy the City and the Sanctuary... 27 And He…” the Prince, the same One “…shall
confirm the Covenant with many for one week: and in the midst of the week He…” the Prince “…shall cause the sacrifice and the oblation to
cease, and for the overspreading of abominations He…” the same Prince “…shall make it desolate…” (KJV) are you
following the argument here?
Jelas
bahwa kata benda aslinya dari semua ketiga “Ia” di ayat 27
adalah “Pangeran yang akan datang” di ayat 26.
Inilah bunyinya, “26Dan orang-orang
Pangeran yang bakal datang itu, akan memusnahkan kota itu dan Bait Suci itu.... 27 Lalu Dia…” Sang Pangeran, Pribadi yang sama, “…akan meneguhkan sebuah Perjanjian dengan banyak orang untuk satu minggu.
Dan pada pertengahan minggu itu Ia…” Sang Pangeran “…akan mengakibatkan
kurban dan persembahan berhenti; dan karena adanya penyebaran kekejian-kekejian, Ia…” Pangeran yang sama, “…akan membuatnya terlantar…” apakah kalian mengikuti argumentasinya di sini?
Now the
difficult situation of understanding this way is that it gives the impression
that the Jews ~ if you notice here, that
the Jews destroyed Jerusalem. Let's pursue this. If the Prince of verse 26 is
Jesus, then the people of the Prince must be whom? The Jews. The word “people” throughout Daniel 9 always
refers to “Israel”, no exception, such verses 15, 16, 19, 20, 24. Of
course the question that ensues is this: Did the Jews, the people of the Prince,
destroy their own City and Sanctuary? Are you understanding the problem here? Did
the Jews destroy their own City and their own Sanctuary? The idea appears to be
absurd. But let's take a closer look. After all the Jews did not destroy their
own City or Sanctuary, Titus and the Roman legions did, or did they?
Nah, kondisi yang sulit
untuk memahami ini ialah ini memberi kita kesan bahwa ~ bangsa Yahudi ~ jika
kalian simak di sini, bahwa bangsa Yahudi-lah yang menghancurkan Yerusaslem.
Mari kita kupas ini. Jika Pangeran di ayat 26 itu Yesus, maka orang-orang
Pangeran itu haruslah siapa? Bangsa Yahudi. Kata “orang-orang” di seluruh
Daniel 9, selalu mengacu kepaa “Israel”, tanpa perkecualian,
misalnya di ayat 15, 16, 19, 20, 24. Tentu saja pertanyaan yang muncul ialah:
Apakah bangsa Yahudi, orang-orang Sang Pangeran, yang menghancurkan Kota dan
Bait Suci mereka sendiri? Apakah kalian memahami masalahnya di sini? Apakah
bangsa Yahudi menghancurkan Kota mereka sendiri dan Bait Suci mereka sendiri?
Ide ini sepertinya tidak masuk akal. Tapi marilah kita simak lebih teliti.
Bukankah bangsa Yahudi tidak menghancurkan Kota atau Bait Suci mereka sendiri,
Titus dan tentara Roma yang menghancurkannya, atau tidak?
It will help
us to understand how the Jews destroyed their own City and Sanctuary in AD 70 by
comparing to the first destruction of Jerusalem by King Nebuchadnezzar. Who
destroyed Jerusalem the first time? Was it God, Nebuchadnezzar, or Israel?
·
Well, Daniel 9:14 explicitly states that
it was God.
·
2 Chronicles 36:17-20 says that it was Nebuchadnezzar.
·
And Daniel 9:11, 14 and 15 explains that
Israel's sins caused the destruction of the City and the Temple.
Jeremiah warned what would happen if
Israel refused to submit to the king of Babylon. God said in Jeremiah 38:23, “23 … thou shalt cause this city to be burned with fire.”
So who
destroyed Jerusalem the first time? Was it God, Nebuchadnezzar, or Israel? The
answer is Yes.
This is how
it works out. Because of Israel's sins, God employed His servant Nebuchadnezzar
to destroy the City and the Temple. However God would not have used Nebuchadnezzar
had it not been for the sins of the people. In other words, Israel because of her own sinful choices, brought
destruction upon herself.
Kita akan lebih mudah
mengerti bagaimana bangsa Yahudi yang menghancurkan Kota dan Bait Suci mereka
sendiri di AD 70 dengan membandingkannya kepada penghancuran Yerusalem pertama
kalinya oleh raja Nebukadnezar. Siapa yang menghancurkan Yerusalem pertama
kalinya? Apakah Allah, Nebukadnezar, atau Israel?
·
Nah, Daniel 9:14 secara eksplisit menyatakan
bahwa itu Allah.
·
2 Tawarikh 36:17-20 mengatakan bahwa itu Nebukadnezar.
·
Dan Daniel 9:11, 14-15 menjelaskan bahwa
dosa-dosa Israel-lah yang mengakibatkan penghancuran Kota dan Bait Sucinya.
Yeremia sudah memperingatkan apa yang akan terjadi
jika Israel menolak takluk kepada raja Babilon. Allah berkata di Yeremiah
38:23, “23 … kamu akan mengakibatkan
Kota ini dibakar dengan api.”
Jadi siapa yang
menghancurkan Yerusalem pertama kalinya? Apakah Allah, Nebukadnezar atau Israel? Jawabannya ialah Ya.
Beginilah cara kerjanya.
Karena dosa-dosa Israel, Allah memakai hambaNya Nebukadnezar untuk
menghancurkan Kota dan Bait Sucinya. Namun, Allah tidak akan memakai
Nebukadnezar seandainya umatNya tidak berbuat dosa. Dengan kata lain, Israel,
karena pilihannya sendiri yang berdosa, yang mendatangkan kehancuran pada
dirinya sendiri.
Now, let's
take a look at the second destruction of Jerusalem. One thing is absolutely
clear ~ this is an extremely important point ~ now one thing is absolutely
clear in Daniel 9: the destiny of Jerusalem
is inseparably linked with what happened to the Messiah, the Prince. In
other words, what happens with Jerusalem is related to what happened to the Prince.
Nah, mari kita lihat ke
penghancuran Yerusalem yang kedua kalinya. Satu hal yang betul-betul jelas ~
ini adalah poin yang sangat penting ~ nah satu hal yang betul-betul jelas di
Daniel 9: nasib Yerusalem itu terkait tak terpisahkan dengan apa
yang terjadi pada Sang Messias, Sang Pangeran. Dengan kata lain,
apa yang terjadi pada Yerusalem itu terkait kepada apa yang terjadi pada Sang
Pangeran.
Let's
continue here. Twice in the literary structure, what happened to the Messiah is followed by the destruction of Jerusalem.
·
Verse 26 explains that after “the Messiah was cut off”, Jerusalem would
be destroyed.
·
And in verse 27 Jerusalem was destroyed
after the Prince “caused the sacrifice and the oblation
to cease”.
Are you
following this or not? So what happens to the Messiah determines what happens
to Jerusalem, in other words. Does the New Testament shed any light on how the
destiny of the Messiah is linked to the fate of the second destruction of
Jerusalem? Well, let's pursue this.
Mari kita lanjut. Dua kali
di strukturnya, apa yang terjadi kepada Messias diikuti oleh
penghancuran Yerusalem.
·
Ayat 26 menjelaskan bahwa setelah “Messias dipotong”, Yerusalem akan
dihancurkan.
·
Dan di ayat 27 Yerusalem dihancurkan setelah
Sang Pangeran “mengakibatkan
kurban dan persembahan berhenti”.
Apakah kalian mengikuti
saya atau tidak? Jadi, dengan kata lain, apa yang terjadi kepada Messias
menentukan apa yang terjadi pada Yerusalem. Apakah Perjanjian Baru memberikan
terang tentang bagaimana nasib Messias dikaitkan kepada nasib penghancuran kedua
Yersualem? Nah, mari kita kupas ini.
On the Sunday
before the crucifixion, Jesus entered Jerusalem at His triumphal entry on a
donkey. At the conclusion of this majestic event, Jesus entered the Temple and
cast out the money changers. At this point, Matthew referred to the Temple as “the Temple of God” and Jesus
called it “My house”. When Jesus entered at the end of the triumphal entry, it's called “the Temple of God” and Jesus
refers to the Temple as “My house”. In the following two chapters ~ this is important ~ in the following
two chapters Jesus told a series of parables where He underlined that the
Jewish nation was about to make the terrible mistake of rejecting Him. Of
particular significance is the parable of the vineyard in Matthew 21:33-34
where Jesus reviewed the history of Israel in five stages.
1.
First stage tells us that God sent
servants to Israel to gather fruit at harvest season, but Israel rejected the
messengers. This first group of messengers
refers to the messengers that were sent to
Israel after the Exodus from Egypt.
2.
And then
God sends more servants. You can read it in this parable. Those more
servants are the ones that are sent after
the Babylonian captivity: Zerubabel, Haggai, etc. And then they
rejected those as well.
3.
So last of all the parable says, He sent His own what? His own Son. And what did they do? They threw Him
out of the vineyard and they killed Him.
4.
The next stage is described as, because
the wicked men killed the Son, the City was
destroyed and burned.
5.
And then the kingdom goes to the Gentiles. Jesus says, “the kingdom will be taken from you and given to…” whom? “…and given to the Gentiles.”
Are you
seeing the five stages here? So what is the determining factor in the Gospel
going to the Gentiles? It must mean that the Jewish nation by the crucifixion
of the Messiah caused the destruction of their own City, and the end of the
theocracy.
Pada hari Minggu sebelum
penyaliban, Yesus masuk ke Yerusalem sebagai Raja di atas seekor keledai. Pada
akhir peristiwa kerajaan ini, Yesus masuk ke Bait Suci dan mengusir semua
penukar uang. Di saat ini, Matius menyebut Bait Suci itu sebagai “Bait Allah” dan Yesus menyebutnya “RumahKu”. Ketika Yesus masuk pada akhir
kedatanganNya sebagai Raja, Bait Suci itu disebut “Bait Allah” dan Yesus menyebut Bait Suci itu sebagai “RumahKu”. Di dua pasal berikutnya ~ ini penting ~ di dua pasal
berikutnya Yesus menyampaikan serangkaian perumpamaan di mana Dia menekankan
bahwa bangsa Yahudi sedang membuat kesalahan yang mengerikan dengan menolak
Dia. Yang paling signifikan adalah perumpamaan kebun anggur di Matius 21:33-34
di mana Yesus mengulangi sejarah Israel dalam 5 tahap.
1.
Tahap pertama mengatakan kepada kita bahwa Allah
mengutus hamba-hambaNya ke Israel untuk mengumpulkan buah pada musim panen,
tetapi Israel menolak para utusan ini. Kelompok pertama utusan ini mengacu kepada
para utusan yang dikirim
ke Israel setelah mereka keluar dari Mesir.
2.
Lalu Allah mengirim lebih banyak lagi utusan. Kalian
bisa membacanya di perumpamaan itu. Hamba-hamba ini adalah mereka yang dikirim setelah penawanan Babilon,
misalnya Zerubabel, Hagai, dll. Dan mereka juga ditolak.
3.
Maka terakhir, kata perumpamaan itu, Dia mengirim apanya
sendiri? AnakNya
Sendiri. Dan apa yang mereka perbuat? Mereka melemparkan AnakNya
keluar dari kebun anggur dan mereka membunuhNya.
4.
Tahap berikutnya digambarkan, karena orang-orang
jahat membunuh AnakNya, Kota
itu dihancurkan dan dibakar.
5. Lalu kerajaan itu diberikan kepada
bangsa-bangsa lain. Yesus berkata, “Kerajaan Allah akan diambil dari kamu dan akan diberikan kepada...”
siapa? “...diberikan kepada bangsa-bangsa lain.” (Matius
21:43).
Apakah kalian melihat
seluruh 5 tahap ini di sini? Jadi apa faktor yang menentukan perginya Injil
kepada bangsa-bangsa lain? Itu haruslah karena bangsa Yahudi dengan menyalibkan
Messias telah mendatangkan kehancuran Kota mereka sendiri dan mengakhiri
theokrasinya.
These five
stages of Israel's History in Matthew 21:33-34
parallel the same stages of Israel's History in Daniel 9. In other words, you have the same five stages in
Daniel 9.
1.
Stage number one: after God freed the people from Egypt He sent them messengers, but they
mocked and rejected them. You see this in Daniel chapter 9, in Daniel's prayer.
Also in 2 Chronicles 36.
2.
Stage number two: after the Babylonian captivity God gave Israel
another opportunity. 70 weeks, right? The City and the Temple were rebuilt, and
God gave them 70 weeks to bear fruit.
During this period, God sent them additional
messengers, many of them, Haggai, Zechariah, Zerubabel, Joshua the high
priest, Ezra, Nehemiah, Malachi, John the Baptist. However, they also rejected
these messengers and fell into apostasy. So who's next?
3.
So God
sends His what? Jesus Christ, His own
Son. And what do they do? He's cut off by them.
4.
Now because Israel rejected the Messiah
what happens? The Roman legions come
and they destroy Jerusalem and the Temple.
5.
And then what happens? The Gentiles then become the new Israel. No
longer was the Gospel message for the lost sheep of the house of Israel because
the 70 weeks have come to an end. When Steven was stoned, the theocracy came to an end, and the
Gospel went to the Gentiles.
Are you
catching the picture or not? Does the destruction of Jerusalem have anything to
do with the death of the Messiah? Yes. What caused the destruction of Jerusalem?
Yes, the Roman legions destroyed Jerusalem, I know that. Yes, God destroyed
Jerusalem, but who caused the destruction of Jerusalem? It was the rejection of
the Messiah by the Jews.
Kelima tahap sejarah Israel
di Matius 21:33-34 paralel dengan tahap-tahap
sejarah Israel di Daniel 9. Dengan kata lain, di
Daniel 9 ada kelima tahap yang sama.
1.
Tahap pertama: setelah Allah membebaskan orang-orang dari Mesir, Dia mengirim
utusan-utusan kepada mereka, tetapi mereka mengolok-olok dan menolak
utusan-utusan itu. Kalian lihat ini di Daniel pasal 9, di doa Daniel. Juga di 2
Tawarikh 36.
2.
Tahap kedua: setelah penawanan Babilon Allah memberi Israel
kesempatatn lagi. 70 minggu, benar? Kota dan Bait Suci dibangun kembali, dan Allah memberi mereka 70 minggu
untuk berbuah. Selama periode ini Allah mengirimi mereka utusan-utusan tambahan,
banyak-banyak: Hagai, Zakharia, Zerubabel, Yosua imam besar, Ezra, Nehemiah,
Maleakhi, Johanes Pembaptis. Namun, utusan-utusan ini pun mereka tolak dan
mereka jatuh murtad. Lalu siapa berikutnya?
3.
Maka Allah mengirim siapaNya? Yesus Kristus, AnakNya sendiri.
Dan apa yang mereka lakukan? Kristus dipotong oleh mereka.
4.
Nah, karena Israel menolak Messias, apa yang
terjadi? Tentara Roma
datang dan mereka menghancurkan
Yerusalem dan Bait Suci.
5.
Kemudian apa yang terjadi? Kemudian bangsa-bangsa lain
menjadi Israel Baru. Injil tidak lagi hanya bagi domba yang hilang
dari keluarga Israel, karena ke 70 nminggu telah berakhir. Ketika Stefanus
dirajam, theokrasiya
berakhir dan Injil disampaikan kepada bangsa-bangsa lain.
Apakah kalian menangkap
gambarnya atau tidak? Apakah penghancuran Yerusalem ada kaitannya dengan
kematian Messias? Ya. Apa yang menyebabkan penghancuran Yerusalem? Betul,
tentara Roma yang menghancurkan Yerusalem, saya tahu itu. Betul, Allah yang
menghancurkan Yerusalem, tetapi siapa yang menyebabkan kejatuhan Yerusalem? Itu
adalah ditolaknya Messias oleh bangsa Yahudi.
The striking
parallel between Daniel 9:26 and 27 and Matthew 21:33 to 44 clearly indicates
that the rejection of the Son by Israel resulted in the destruction of
Jerusalem, and the grafting in of the Gentiles as God's chosen nation. When
Jesus left the Temple ~ this is notable ~ did you notice that the word “desolate” is used here when it speaks about the
destruction of Jerusalem: “desolations
are determined”. Did you notice that? Notice, this is
very interesting. When Jesus left the Temple for the last time, He pronounced
the ominous words “Behold your house is left unto you
desolate”. Two details in this verse arrest our
attention.
·
First, the Temple was no longer the
Temple of God. He refers to it as “your house”. And Jesus referred it to “your house”.
·
Second, the appearance of the keyword “desolate”.
This is the word that appears in Daniel 9 to describe the fate of Jerusalem for
rejecting the Messiah. Three times in Daniel 9, the text predicted that Jerusalem would be left how? Desolate.
And by the way, Jesus referred to this in Matthew 24:15 when He said, “When you shall see the abomination of desolation that was spoken of by
Daniel the prophet…” and Luke 21:20 explains “when you see Jerusalem surrounded by armies”. So the “abomination of desolation” is when the Roman armies come against
the City of Jerusalem because of the rejection of the Messiah.
Paralel yang mencolok
antara Daniel 9:26-27 dan Matius 21:33-44 jelas mengindikasikan bahwa penolakan
Sang Anak oleh israel mengakibatkan penghancuran Yerusalem, dan dicangkokkannya
bangsa-bangsa lain sebagai bangsa pilihan Allah. Ketika Yesus meninggalkan Bait
Suci ~ ini penting dicatat ~ apakah kalian melihat kata “terlantar” dipakai di
sini ketika berbicara tentang penghancuran Yerusalem: “penelantaran-penelantaran
telah ditetapkan”. Apa kalian
melihat itu? Simak, ini sangat menarik. Ketika Yesus meninggalkan Bait Suci
untuk terakhir kalinya, Dia mengucapkan kata-kata yang buruk itu, “Lihatlah! Rumahmu telah ditinggalkan kepadamu terlantar” (Matius 23:38).
Dua detail di ayat ini yang
menarik perhatian kita.
·
Pertama, Bait Suci bukan lagi Bait Allah. Dia
menyebutnya “rumahmu”, dan
Yesus menyebutnya “rumahmu”.
· Kedua,
munculnya kata “terlantar”. Ini adalah
kata yang muncul di Daniel 9 untuk menggambarkan nasib Yerusalem gara-gara
menolak Messias. Tiga kali di Daniel 9, ayatnya memprediksi bahwa Yerusalem
akan ditinggalkan bagaimana? Terlantar. Dan ketahuilah, Yesus menyebut ini di
Matius 24:15 ketika Dia berkata, “15 ... apabila kamu
melihat ‘Kekejian Yang Menelantarkan’ ~ yang disebut oleh nabi
Daniel...” dan Lukas 21:20 menjelaskan, “20 … apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara...”. Jadi “kekejian yang menelantarkan” itu
adalah ketika tentara Roma datang ke Kota Yerusalem karena penolakan atas Sang
Messias.
Significantly,
immediately after Jesus pronounced these chilling words ~ notice this ~ after
Jesus says “your house is left unto you desolate” what does He talk about in Matthew 24? The destruction of Jerusalem, in
Matthew 24:1 to 3. Is there a connection between the rejection of the Messiah
and the destruction of Jerusalem? Absolutely! Certainly no one can miss the
connection between the rejection of the Messiah and the destruction of
Jerusalem. Only a willful and unexplainable blindness could fail to help us see
how the rejection of the Messiah, the Prince led to the destruction of the City
and the Temple.
Signifikan, segera setelah
Yesus mengucapkan kata-kata yang mengerikan ini ~ simak ini ~ setelah Yesus
berkata, “Rumahmu telah ditinggalkan kepadamu terlantar” (Matius 23:38) apa yang dikatakannya di Matius 24? Penghancuran Yerusalem di Matius
24:1-3. Apakah ada kaitannya antara penolakan terhadap Sang Messias dengan
penghancuran Yerusalem? Tentu saja! Jelas tidak ada yang bisa tidak melihat
koneksi antara penolakan terhadap Sang Messias dengan penghancuran Yerusalem.
Hanya kebutaan yang disengaja yang tidak bisa dijelaskan, yang gagal menolong
kita melihat bahwa penolakan terhadap Messias, Sang Pangeran, yang
mengakibatkan penghancuran Kota itu dan Bait Sucinya.
So who is “the
Prince who is to come”? Is it some
future Antichrist that is going to sit in a rebuilt Jerusalem Temple? No! The
Prince who is to come is the same Messiah,
the Prince of previous verses, the same Messiah. Notice the link also
in Luke 19:41-44, “41 And when He was come near…”
Jesus is coming He's going to enter
through the East Gate of Jerusalem, “…He beheld the City, and wept over it, 42
Saying, ‘If thou hadst known, even thou, at least in this thy day, the things
which belong unto thy peace! But now they are hid from thine eyes. 43
For the days shall come upon thee, that thine enemies…” referring to the Romans “…shall cast a trench about thee, and compass
thee round, and keep thee in on every side, 44 And shall lay thee
even with the ground, and thy children within thee; and they shall not leave in
thee one stone upon another…” and now notice the last part of the verse, critically important. Why was
the City going to be raised to the ground “…because thou knewest not the time of thy
visitation.” (KJV)
Is that clear?
Yes, crystal clear. Can there be any doubt that the fate of Jerusalem is
closely connected with the rejection of the Messiah?
Jadi
siapakah “Pangeran
yang akan datang”? Apakah itu Antikristus di masa depan yang akan
duduk di Bait Suci Yerusalem yang dibangun kembali? Bukan! Pangeran yang akan
datang adalah Messias yang sama, Pangeran yang ada di ayat-ayat
sebelumnya, Messias yang sama. Simak kaitannya juga di Lukas
19:41-44, “41 Dan ketika Dia telah dekat…” Yesus sedang mendekat, Dia akan
masuk melalui gerbang Timur Yerusalem, “…Dia melihat kota itu dan
menangisinya, 42 kata-Nya, ‘Seandainya
engkau tahu, yaitu engkau, setidaknya di masamu sekarang ini, akan hal-hal yang
mendatangkan damai sejahteramu! Tetapi sekarang
hal-hal itu tersembunyi dari matamu. 43
Sebab akan datang harinya kepadamu, bahwa
musuhmu…” mengacu kepada bangsa Roma, “…akan membangun parit yang dalam
mengelilingimu, lalu mengepung engkau dan mengurung
engkau dari segala sisi, 44
dan mereka akan meratakan engkau dengan tanah, dan anak-anakmu di dalam kotamu, dan mereka tidak akan meninggalkan padamu satu batu pun terletak di
atas batu yang lain…” dan sekarang simak bagian terakhir
ayat ini, sangat penting. Mengapa Kota itu akan diratakan dengan tanah? “…karena engkau tidak menyadari
saat ketika Allah datang kepadamu dengan kemurahan.’…” (KJV)
Apakah ini jelas? Jelas
sekali. Apakah ada sedikit keraguan pun bahwa nasib Yerusalem terkait sangat
erat dengan penolakan Sang Messias?
Let's focus
for a few moments on the parable of Matthew
22:1-14 because it also explains the
reason why Jerusalem was destroyed the second time, like the parable of
Matthew 21:33 to 46 which we looked at a few moments ago.
1.
God sent servants to Israel to invite
them to the marriage of His Son. This first stage represents the Old Testament period when God sent prophets to prepare Israel for the
arrival of the Messiah. Sadly they rejected the invitation.
2.
After the sacrifice of Christ ~ in the
parable, the sacrifice of Christ is represented by the sacrifice of oxen and fatted
cattle that are killed. So after the
sacrifice of Christ we find further messengers
being sent: Peter, Stephen, Paul, among others. But these were also
what? Also rejected.
3.
So now notice in verse 7 the result of rejecting
the messengers, rejecting Christ who was killed, which is symbolized by the
sacrifice of the oxen and fatted cattle; and the rejection of the messages of
those who proclaimed the message after the death of Christ, it says, “7 But when the King…” who is God
the Father by the way “…when the King heard thereof…” what they had done, that they rejected the message, “…He was wroth: and He sent
forth His armies, and destroyed those murderers, and burned up their city…”
Who burned up
the City? Was it the Roman legions or was it the King? God? Yes, God. God
allowed the Romans to go and destroy the City. So does the rejection of the
Messiah have anything to do with the destruction of Jerusalem? It's clear as day,
but for some incredible blindness called by the Devil, the Futurists believe that
the Prince who is to come is a future Antichrist. They are putting Antichrist
where Christ should be. That is serious, to put Antichrist where Christ is
found in the text.
Mari kita fokus sejenak
pada perumpamaan Matius 22:1-14 karena ini juga
menjelaskan alasan mengapa Yerusalem dihancurkan kedua kalinya,
seperti perumpamaan Matius 21:33-46 yang kita simak tadi,
1.
Allah mengirim hamba-hambaNya ke Israel untuk
mengundang mereka ke perkawinan AnakNya. Tahap pertama ini melambangkan periode Perjanjian Lama
ketika Allah mengirim
nabi-nabi untuk mempersiapkan Israel bagi kedatangan Messias.
Sayangnya mereka menolak undangan tersebut.
2.
Setelah pengorbanan Kristus ~ dalam perumpamaan
itu pengorbanan Kristus dilambangkan oleh kurban sapi dan ternak tambun yang
disembelih. Jadi setelah
kurban Kristus, kita dapati utusan-utusan selanjutnya yang dikirim:
diantaranya Petrus, Stefanus, Paulus. Tetapi ini juga apa? Juga ditolak.
3.
Sekarang simak di ayat 7 akibat dari menolak
para utusan, menolak Kristus yang dibunuh, yang dilambangkan oleh kurban sapi
dan ternak tambun; dan penolakan pekabaran-pekabaran mereka yang menyampaikan
pekabaran setelah kematian Kristus. Dikatakan, “7 Tetapi ketika Raja itu…” yang adalah Allah Bapa, “…ketika Raja itu mendengar tentang hal itu…” apa yang telah mereka lakukan, bahwa mereka telah menolak pekabaran itu, “…murkalah Dia. Dan dikirimNya
pasukanNya, dan membinasakan
pembunuh-pembunuh itu dan membakar Kota mereka.”
Siapa yang membakar
Kotanya? Apakah tentara Roma atau apakah Rajanya? Allah? Ya, Allah. Allah
mengizinkan bangsa Roma pergi dan menghancurkan Kotanya. Jadi apakah penolakan
terhadap Messias ada hubungannya dengan penghancuran Yerusalem? Sangat jelas,
tetapi entah bagaimana ada kebutaan yang ajaib yang ditimbulkan Iblis, sehingga
kelompok Futurist meyakini bahwa Pangeran yang akan datang adalah Antikristus
masa depan. Mereka menempatkan Antikristus di mana seharusnya Kristus berada.
Itu serius, menempatkan Antikristus di mana Kristus yang ditemukan di ayat itu.
Three ideas
coalesce in this verse which is in Matthew 22:7. Three ideas:
·
God sent the Roman armies to destroy
those murderers and to burn their City,
·
the people by rejecting the Messiah
brought destruction upon their own City,
·
God destroyed the City through the
instrumentality of Titus and the Roman legions, but it was the choice of the
Jewish nation that determined its fate.
That’s how Ellen
White understood this. I don't know why we still persist in saying that it was
Titus and the Roman legions that are being spoken about.The Prince is Titus and
the people are his armies.
Tiga konsep tergabung di
ayat ini, yaitu di Matius 22:7. Tiga konsep:
·
Allah mengirim tentara Roma untuk menghancurkan
para pembunuh dan membakar Kota mereka,
·
Orang-orang dengan menolak Messias mendatangkan
kehancuran atas Kota mereka sendiri,
·
Allah menghancurkan Kota itu melalui Titus dan
tentara Roma, tetapi pilihan bangsa Yahudi-lah yang telah menentukan nasibnya.
Demikianlah Ellen White
memahaminya. Saya tidak tahu mengapa kita masih bersikukuh mengatakan bahwa
Titus dan tentara Roma-lah yang dibicarakan di sini. Pangerannya adalah Titus,
dan orang-orangnya adalah pasukannya.
Notice, Ellen
White is explicit. "The Jews had forged
their own fetters...” who? “... The Jews had
forged their own
fetters, they had filled for themselves the cup of vengeance. In the utter destruction that
befell them as a nation, and in all the woes that followed them in their dispersion they were but reaping the harvest which
their own hands had
sown. Says the prophet, 'O Israel,
thou hast destroyed thyself,'...” who destroyed
Jerusalem? They did. Notice, “...’O Israel,
thou hast destroyed thyself' 'for thou hast fallen by thine iniquity.' (Hosea 13:9; 14:1). Their sufferings are often represented as a punishment visited upon them by the direct decree of God. It is thus that the great deceiver seeks to conceal his own work. By stubborn rejection of divine love and mercy, the
Jews had caused the protection of God to be withdrawn from them, and Satan was permitted to rule them according to his will." (GC pg. 35-36). Is this becoming clearer and clearer as we study along? See, it's really
important to study phrase by phrase, isn't it? And to look what the New
Testament has to say.
Simak, Ellen White itu
eksplisit. “…Bangsa Yahudi telah menempa belenggu mereka sendiri…” siapa? “…Bangsa Yahudi telah menempa belenggu mereka sendiri, mereka telah mengisi cawan murka
pembalasan mereka sendiri. Dalam penghancuran total yang jatuh ke atas mereka
sebagai satu bangsa, dan dalam semua celaka yang mengikuti mereka, dalam
terseraknya mereka, mereka hanya menuai hasil yang telah mereka tabur dengan
tangan mereka sendiri. Kata nabi itu, ‘O, Israel, engkau telah menghancurkan dirimu sendiri’ (Hosea 13:9) ‘…sebab engkau sudah jatuh
karena kesalahanmu’ (Hosea 14:1). Penderitaan mereka sering digambarkan sebagai
penghukuman yang datang kepada mereka oleh perintah langsung dari Allah.
Demikianlah si penipu ulung berusaha menyembunyikan pekerjaannya sendiri.
Dengan kekerasan hati menolak kasih dan pengampunan ilahi, orang Yahudi telah
membuat perlindungan Allah ditarik dari mereka, dan Setan diizinkan memerintah
mereka sesuai kehendaknya.…” (GC hal. 35-36). Apakah ini menjadi semakin jelas
sambil kita mempelajarinya? Lihat, sangatlah penting belajar ungkapan demi
ungkapan, bukan? Dan menyimak apa yang dikatakan Perjanjian Baru.
Now let's
talk about “the Prince that shall come”. I already gave some indications about the Prince who shall come, but
let's pursue this a little bit closer. The 70 week prophecy describes a Prince
that shall come. Who is this Prince who shall come? Well, we believe that it's the same Messiah, the Prince, right? The
same Messiah, all the way through, the same
Person.
Sekarang mari kita bicara
tentang “Pangeran yang akan datang”. Saya
sudah memberikan sedikit indikasi tentang Pangeran yang akan datang, tetapi
mari kita simak ini sedikit lebih teliti. Nubuatan 70 minggu menggambarkan
seorang Pangeran yang akan datang. Siapakah Pangeran yang akan datang ini? Nah,
kita meyakini itulah Messias Sang Pangeran yang sama,
benar? Messias yang sama, dari awal hingga akhir, Pribadi yang sama.
Historicists
and Futurists agree that the Prince would come at the conclusion of the first
69 weeks. However, while Historicists believe that the Prince that shall come
was fulfilled in Jesus or Titus; Futurists teach that the Prince will be a
future world dictator, who will rise to power after the Rapture of the church. That's
the Devil's, that's the false prophets’ prediction about what's going to happen.
And for that reason the majority of the Christian world is totally deceived
about how end time events will transpire.
Kelompok Historist dan
Futurist setuju bahwa Pangeran itu akan datang pada akhir dari 69 minggu yang
pertama. Namun, sementara Historist meyakini bahwa Pangeran yang akan datang
itu digenapi oleh Yesus atau Titus; Futurist mengajarkan bahwa Pangeran itu adalah
seorang diktator dunia di masa depan yang akan naik kuasa setelah Pengangkatan
gereja. Ini dari si Iblis, ini adalah prediksi nabi-nabi palsu tentang apa yang
akan terjadi. Dan karena alasan inilah, mayoritas dunia Kristen seluruhnya
tertipu tentang bagaimana peristiwa-peristiwa akhir masa akan terjadi.
Now remember
the expression “Prince who is to come”. That expression is used in the New
Testament and it's used of Christ.
Let's pursue this.
We previously
saw how the prophecy of Isaiah 53 pointed to the vicarious death of the Messiah,
that means the death of the Messiah in our place. Now we find in another
Messianic prophecy, the identity of the Prince who is to come.
Psalm 118:26
is a Messianic prophecy, not talking
about some future Antichrist who is to come. Notice that what says, “26 Blessed be He that cometh in the name of the LORD: we
have blessed you out of the house of the LORD.”
So notice a
similar expression “blessed is He that cometh in the name
of the Lord” according to Luke 13:35, Jesus applied this Messianic prophecy to Himself
at His second coming, but also to His triumphal entry into Jerusalem on Palm
Sunday, just before He was going to die.
Sekarang ingat ungkapan “Pangeran yang akan datang”. Ungkapan ini dipakai di
Perjanjian Baru dan dipakai untuk Kristus.
Mari kita bahas ini.
Sebelumnya kita sudah
menyimak bagaimana nubuatan Yesaya 53 menunjuk ke kematian pengganti Sang
Messias, artinya kematian Sang Messias yang menggantikan kita.
Sekarang kita temukan di
nubuatan mesianik yang lain, identitas dari Pangeran yang akan datang. Mazmur
118:26 adalah sebuah nubuatan mesianik, bukan bicara tentang Antikristus masa
depan yang akan datang. Simak apa yang dikatakan, “26 Diberkatilah Dia yang datang dalam nama
TUHAN! Kami telah memberkati Engkau yang
keluar dari rumah TUHAN.”
Jadi
simak ungkapan yang sama, “35 Diberkatilah
Dia yang datang dalam nama TUHAN…” menurut Lukas 13:35. Yesus mengaplikasikan nubuatan mesianik ini kepada DiriNya sendiri pada
saat KedatanganNya yang Kedua, tetapi juga ke kedatanganNya sebagai Raja ke
Yerusalem pada hari Minggu Palem, sebelum Dia harus mati.
Luke 19:37 to
44 outlines three events in their precise chronological order.
·
Jesus enters Jerusalem on a colt and the
multitude sang. What did they sing? “38 …
blessed be the King that cometh in the name of the Lord…”. Is that a reference back to Daniel chapter 9? Of course it is. Then
Jesus spoke about His rejection by the Jewish nation. By the way, the expression
“He that cometh in the name of the Lord” is verses 37 and 38 of Luke 19.
·
Then Jesus speaks about His rejection by
the Jewish nation in verses 39 to 42.
·
And finally Jesus speaks about the
destruction of Jerusalem in verses 43 and 44.
Lukas 19:37-44 menggambarkan
tiga peristiwa dalam susunan kronologinya yang presisi.
·
Yesus masuk Yerusalem naik seekor anak keledai
dan orang banyak bernyanyi. Apa yang mereka nyanyikan? "38 …
Diberkatilah Raja yang datang dalam nama Tuhan…” Apakah
ini merujuk kembali ke Daniel pasal 9? Tentu saja iya. Lalu Yesus bicara
tentang penolakanNya oleh bangsa Yahudi. Nah, ungkapan "38 … Raja yang datang dalam nama Tuhan…” itu ayat
37-38 Lukas 19.
·
Lalu Yesus bicara tentang penolakanNya oleh
bangsa Yahudi di ayat 39 hingga 42.
·
Dan akhirnya Yesus bicara tentang penghancuran
Yerusalem di ayat 43 dan 44.
The same
sequence of events that we find in Daniel chapter 9. Daniel 9:26 has the
identical three-fold sequence of events in the exact order.
·
The Prince comes into Jerusalem in the
name of the Lord.
·
Shortly thereafter He is cut off.
·
And then the City and the Temple are d
destroyed.
Urut-urutan peristiwa yang
sama kita temukan di Daniel pasal 9. Daniel 9:26 berisikan urutan peristiwa
tiga rangkap yang identik dalam urutan yang persis sama.
·
Sang Pangeran datang ke Yerusalem dalam nama
Tuhan.
·
Tidak lama setelah itu, Dia dipotong.
·
Lalu Kotanya dan Bait Sucinya dihancurkan.
Psalm 118:26
identifies the One who “comes in the name of the Lord” as “the Stone which the builders refused”, and has become “the Head of the corner”. Jesus claimed to be this Stone. Significantly after announcing that
not one stone would be left upon another in the literal Jerusalem Temple, Jesus
announced that He would become the Head Cornerstone of a new spiritual Temple,
the church. Are you following me or not?
In the Old
Testament the word “head” is used interchangeably with the word “Prince” or “Ruler”.
Mazmur 118:26
mengidentifikasi Dia yang “datang dalam nama TUHAN” sebagai “Batu yang ditolak oleh tukang-tukang bangunan...” dan ”...telah menjadi batu penjuru utama.” (Mazmur
118:22). Yesus telah
mengklaim sebagai Batu tersebut. Secara signifikan setelah mengumumkan bahwa
tidak ada satu pun batu yang akan dibiarkan tinggal tersusun di atas yang lain
di Bait Suci literal Yerusalem, Yesus mengumumkan bahwa Dia menjadi Batu
Penjuru Utama dari Bait Suci baru yang spiritual, yaitu gereja. Apakah kalian
mengikuti saya atau tidak?
Di Perjanjian Lama, kata
“Kepala/Utama” bisa dipakai bergantian dengan kata “Pangeran” atau “Penguasa”.
Sekarang
mari kita bicara tentang “akan
menghancurkan Kota dan Tempat kudus itu”. Kita akan mengupas ungkapan
demi ungkapan. Mari kita kembali ke ayat 25 lagi, “25 Maka ketahuilah dan
pahamilah: dari saat keluarnya perintah untuk memulihkan dan
membangun Yerusalem hingga Messias, Sang Pangeran, akan ada tujuh minggu dan enam puluh dua minggu, jalannya akan dibangun kembali, dan dindingnya, yaitu di
masa yang sulit. 26 Dan sesudah keenam puluh dua minggu itu Messias akan dipotong tetapi bukan karena Dirinya
sendiri. Dan orang-orang Pangeran yang bakal datang itu…” siapakah orang-orang itu? Bangsa Yahudi. Siapa Pangeran yang bakal
datang? Yesus Kristus; “…orang-orang Pangeran yang bakal datang itu
akan menghancurkan Kota dan Tempat kudus itu. …” Jadi siapa yang
menghancurkan Kota dan Bait Sucinya? Orang-orang itu.
So let's go
now to the destruction of the City. Gabriel announced that the Temple that was
to be rebuilt by the decrees of Cyrus and Darius I, and the City was restored. In
other words Gabriel announced that the Temple that was to be built by the
decrees of Cyrus, Darius, the City that was restored and rebuilt also by the
decree of Artaxerxes. But also we find a prediction that the City was going to
be destroyed. Notice what we find in Daniel chapter 9 at the end of verse 26, “26...The end of it
(thereof – KJV) shall be with
a flood, and till the end of the war desolations are determined...” it's talking
about the war of Titus and the Roman legions against the City of Jerusalem. Now
the antecedence of the word “thereof” are “City and Sanctuary”. In other words, when it says “the end
thereof shall be with the flood” it's talking about the end of the City and the
Sanctuary. In other words, the end of the City and the Sanctuary would
be with a flood. In the Bible a devastating
military invasion is compared to an overwhelming flood.
Flavius
Josephus in his classic work The Wars of the
Jews wrote a vivid description of the destruction of Jerusalem and its
Temple by Titus and the Roman legions. It is of interest that Josephus used the
word “War”, the very word that appears in the prophecy of Daniel 9:26.
Ellen White
gave a vivid description of the destruction of Jerusalem in the first chapter
of the book The Great Controversy.
Jadi sekarang mari kita ke
penghancuran Kotanya. Gabriel mengumumkan bahwa Bait Suci yang akan dibangun
kembali dengan dekrit Koresh dan Darius I, dan Kotanya, akan dipulihkan. Dengan
kata lain, Gabriel mengumumkan bahwa Bait Sucinya akan dibangun oleh dekrit
Koresh, Darius; Kotanya dipulihkan dan dibangun juga oleh dekrit Artahsasta.
Tetapi kita juga menemukan prediksi bahwa Kota itu akan dihancurkan. Simak apa
yang kita temukan di Daniel pasal 9 di bagian akhir ayat 26, “26 ...Akhir darinya akan dengan air bah, dan hingga akhir peperangan itu, penelantaran telah ditetapkan...” Ini bicara tentang perang
Titus dan tentara Roma terhadap Kota Yerusalem.
Nah, kata yang ada sebelum
kata “darinya” adalah “Kota dan Tempat kudus”. Dengan kata lain ketika
dikatakan, “26 ...Akhir
darinya akan dengan air bah” ini bicara tentang akhir dari Kota itu dan Tempat
kudusnya. Dengan kata lain, akhir dari Kota dan Bait Sucinya akan dengan air bah.
Di
Alkitab, invasi militer yang menghancurkan itu dibandingkan dengan air bah yang
menyapu habis semua.
Flavius Josephus dalam karya
klasiknya The Wars of the Jews menulis
sebuah deskripsi yang sangat hidup tentang penghancuran Yerusalem dan Bait
Sucinya oleh Titus dan tentara Roma. Menarik bahwa Josephus memakai kata “War”
(peperangan), kata yang sama yang muncul di nubuatan Daniel 9:26.
Ellen White memberikan gambaran
yang sangat hidup tentang penghancuran Yerusalem di halaman pertama buku The Great Controversy.
Significant
also in Daniel 9:26 is the word “desolations” which reminds us of the words of Jesus to the Jewish leaders, “Behold, your house is left unto you…” what? “…desolate.” And He said this immediately before He spoke about the destruction of
Jerusalem and the Temple. We're going to talk a little bit more about the word “desolations”
when we deal with the last half of the next verse, verse 27.
Juga
signifikan di Daniel 9:26 adalah kata “penelantaran” yang mengingatkan kita
kepada kata-kata Yesus kepada para pemimpin Yahudi, “Lihatlah! Rumahmu telah ditinggalkan kepadamu…” apa? “…terlantar” (Matius 23:38). Dan Yesus mengatakan ini segera sebelum Dia bicara tentang penghancuran
Yerusalem dan Bait Sucinya. Kita akan bicara lebih
banyak lagi tentang kata “penelantaran” ketika kita membahas bagian terakhir
dari ayat berikutnya, ayat 27.
Someone might
object that the destruction of Jerusalem
fell outside the parameters of the 70 weeks. Is that true? Was
Jerusalem destroyed within the 70 week period? No. So some people say, “The
destruction of Jerusalem cannot be referred to here.” This is true. It's true that the destruction
of Jerusalem falls outside the parameters of the 70 weeks. But let's see why. However,
though the destruction of Jerusalem fell outside the chronological time frame
of the 70 weeks (because the 70 weeks ended
in the year 34), it is inseparably linked with events that occurred
within that time period, correct? The
destruction of the City in the year 70 is linked with events that happened
during the period of the 70 weeks. This is reflected in the last
phrases of Daniel 9:26 and 9:27. Here's the key. Notice once again verse 26 it
says there at the end of the verse, “26 ...shall destroy
the City and the Sanctuary. The end thereof shall be with a flood, and till the end of the war
desolations are...” what? “...determined...” that's important. Notice verse 27,
“...27 Then
He shall confirm a Covenant with many for one week; but in the middle
of the week He shall bring an end to sacrifice and offering. And on the wing of
abominations shall be one who makes desolate, even until the consummation,
which is...” what?
“...determined...” so what does that mean? As we have previously noted, the word “determined” refers to an event that has been
decreed or decided before it occurs. Are you following the point here? So
had the destiny of Jerusalem already been determined? Had the destruction of
Jerusalem already been determined during the 70 weeks? Yes, that is to say the destruction of Jerusalem and its Temple had
already been determined by events which took place during the time frame of the
70 weeks, particularly the last week. Is it clear?
Mungkin
ada yang keberatan bahwa penghancuran Yerusalem itu
terjadi di luar parameter ke-70 minggu. Apakah itu benar? Apakah
Yerusalem dihancurkan dalam periode 70 minggu itu? Tidak. Maka ada orang yang
berkata, “Penghancuran Yerusalem tidak bisa dikaitkan di sini.”
Ini benar. Memang benar penghancuran Yerusalem terjadi di luar kerangka 70
minggu itu. Tetapi mari kita lihat mengapa. Namun, walaupun penghancuran
Yerusalem terjadi di luar kerangka kronologis ke-70 minggu (karena ke-70
minggu itu berakhir di tahun 34), dia terkait tak terpisahkan
dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalam kerangka periode tersebut,
benar? Penghancuran Kotanya di tahun 70 AD terkait
peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam periode ke-70 minggu. Ini
direfleksikan di frase terakhir Daniel 9:26
dan 27. Di sini kuncinya. Simak sekali lagi ayat 26, dikatakan di bagian akhir
ayat tersebut, “26 ... akan
menghancurkan Kota dan Tempat kudus itu. Akhir darinya akan dengan air bah, dan hingga akhir peperangan itu, penelantaran…” apa? “…telah ditetapkan…” ini penting. Simak ayat 27, “…27 Lalu Dia akan meneguhkan sebuah Perjanjian dengan banyak orang untuk satu minggu.
Tetapi pada pertengahan minggu itu Dia akan mengakhiri kurban dan persembahan. Dan di atas sayap kekejian akan
ada satu yang mengakibatkan
penelantaran, yaitu
hingga konsumasinya (selesai
secara sah), yang…” apa? “…telah
ditetapkan...” jadi apa artinya ini? Seperti yang sebelumnya sudah
kita simak, kata “ditetapkan”
mengacu kepada suatu peristiwa yang telah diperintahkan atau diputuskan sebelum
terjadinya. Apakah
kalian mengikuti poin di sini? Maka, apakah nasib Yerusalem sudah ditetapkan?
Apakah penghancuran Yerusalem sudah ditetapkan selama masa 70 minggu itu? Ya,
artinya, penghancuran
Yerusalem dan Bait Sucinya sudah ditetapkan oleh peristiwa-peristiwa yang
terjadi dalam kerangka waktu 70 minggu, terutama minggu yang terakhir. Apakah itu jelas?
Now let's
discuss “He shall confirm a Covenant with many
for one week”. Futurists say, “Ah see, this Prince
who is to come is a nasty individual who's going to sit in the Jerusalem Temple
and he's going to make a Covenant with the literal Jews for one week.” Let's
discuss this. Let's ask several
questions.
·
who does the pronoun “He” referred to in this verse?
·
what does the word “confirm” mean?
·
and which “Covenant” is being spoken of as confirmed?
·
who are “the many” with whom the Covenant is confirmed?
·
and of course is this talking about the
last week when it says “one week”? Is it talking about the last week of the 70?
The meaning
of verse 27 revolves around the identity of the Person who confirms the
Covenant for one week. The all important question then is this, who is this Person?
Futurists believe ~ as I mentioned before ~ “He” is a future Antichrist, who after the
Rapture of the church will make a seven-year pact or Covenant with the literal
Jews, only to break it in the middle of the week. According to their view, this
vile person will halt the sacrificial system in a rebuilt Jerusalem Temple, and
impose a reign of terror for the last 3½ years of the 7-year tribulation. Is
that a counterfeit or what? That is a total counterfeit of what God is trying
to teach through this particular prophecy.
Nah mari kita bahas “Dia akan meneguhkan sebuah Perjanjian dengan banyak orang untuk satu minggu”. Kelompok
Futurist berkata, “Ah lihat, Pangeran yang akan datang ini adalah
seorang yang jahat yang akan duduk di Bait Suci Yerusalem dan dia akan membuat
sebuah perjanjian dengan bangsa Yahudi literal untuk satu minggu.” Mari kita
bahas ini. Mari kita ajukan beberapa pertanyaan.
·
Kata ganti orang “Dia” itu mengacu kepada siapa di ayat ini?
·
apa arti kata “meneguhkan”?
·
dan “Perjanjian” mana
yang dikatakan diteguhkan ini?
·
siapa “banyak
orang” yang Perjanjiannya diteguhkan?
·
dan tentunya, apakah ini bicara tentang minggu
yang terakhir ketika dikatakan “satu minggu”? Apakah
ini bicara tentang minggu terakhir dari 70 minggu itu?
Makna ayat 27 berpusat pada
identitas Pribadi yang meneguhkan Perjanjian untuk satu minggu. Kalau begitu
pertanyaan yang paling penting ialah ini, siapakan Pribadi itu? Kelompok
Futurist meyakini ~ seperti yang sudah saya katakan sebelumnya ~ “Dia” adalah seorang Antikristus di masa depan, yang
setelah pengangkatan (rapture) gereja akan membuat sebuah pakta atau
perjanjian dengan bangsa Yahudi literal untuk 7 tahun, hanya untuk kemudian
dilanggar sendiri di tengah-tengah minggu itu. Menurut pandangan mereka, orang
jahat ini akan menghentikan sistem kurban di Bait Suci Yerusalem yang dibangun
kembali, dan menjalankan suatu pemerintahan yang mengerikan selama 3½ tahun
yang terakhir dari ke-7 tahun tribulasi (masa kesukaran). Apakah ini suatu
pemalsuan atau apa? Ini adalah 100% pemalsuan dari apa yang mau diajarkan Allah
melalui nubuatan spesifik ini.
There are
ample reasons to believe that this Person is
the same as “the Messiah, who was cut off” in verse 26. There is no contextual or syntactical reason to insert the Antichrist
into this verse. As we have seen in our discussion above, Jesus Christ fits this prophecy like hand
in glove. This fact will become ever clearer as we answer the questions that we
formulated at the beginning of this section: what is the meaning of the
sentence “He shall confirm a Covenant with many
for one week”.
Ada banyak alasan untuk
meyakini bahwa Pribadi ini sama dengan “Messias yang dipotong” di
ayat 26. Tidak ada alasan kontekstual maupun
sintaktikal untuk memasukkan Antikristus ke dalam ayat ini. Sebagaimana yang
sudah kita simak di diskusi kita di atas, Yesus Kristus pas sekali
memenuhi nubuatan ini. Fakta ini akan menjadi semakin jelas saat
kita menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sudah kita bentuk di awal bagian ini:
apa makna kalimat “Dia akan meneguhkan sebuah Perjanjian dengan banyak orang untuk satu minggu”.
Now here
comes an interesting detail. Without any exception every time the word “covenant” appears in Daniel, it refers to God's
Covenant with His people. Not once does it refer to a political
Covenant.
·
Daniel 9:4 describes a God who “keeps the Covenant and mercy to them that love Him”.
·
Daniel 11:22 refers to Jesus as “the Prince of the Covenant”.
·
Daniel 9:27 also links “Prince” and “Covenant”.
·
Daniel 11:28 and 30 describes the “Holy Covenant”.
·
And Daniel 11:32 refers to those who “do wickedly against the Covenant”.
So in Daniel,
the “Covenant” is always God's Covenant, never is it a secular Covenant by a secular ruler.
Nah ini ada detail-detail yang menarik. Tanpa kecuali, setiap
kali kata “Perjanjian” muncul di Daniel, itu mengacu ke Perjanjian Allah dengan
umatNya. Tidak sekali pun itu merujuk ke sebuah perjanjian
politik.
· Daniel 9:4 menggambarkan Allah “yang memegang Perjanjian dan rahmat
kepada mereka yang mengasihi Dia”.
· Daniel 11:22 menyebut Yesus sebagai “Pangeran Perjanjian”.
· Daniel 9:27 juga mengaitkan “Pangeran” dan “Perjanjian”.
· Daniel 11:28 dan 30 menggambarkan “Perjanjian kudus”.
· Dan Daniel 11:32 menunjuk mereka yang “yang bersikap jahat terhadap Perjanjian itu”.
Jadi di Daniel, “Perjanjian” selalu adalah Perjanjian Allah, tidak pernah itu
sebuah perjanjian sekuler yang dibuat seorang penguasa sekuler.
The word “Covenant” in Daniel 9:27 does not have a definite
article, in other words it doesn't say “the Covenant”, it says “He shall
confirm a Covenant”. However, it is interesting that the King James Version inserts the
definite article “the
Covenant”. This is significant because it shows
that before the Rapture Theory which occurs in the 18th century, early 18th
century, before the Rapture Theory intruded into the church in the 18th and
19th century, the King James translators believed that Daniel 9:27 was
referring to whose Covenant? Was referring to God's Covenant. It is “the
Covenant” not “a Covenant”. Daniel 9, in his prayer is the only chapter where
the Covenant name YaHWeH appears. This
is God's Covenant name throughout the Old
Testament. The expression “He shall confirm the Covenant” is better translated “He shall make strong the Covenant”. The Hebrew word גָּבַר [gâbar] appears some 328 times in the Old
Testament and the basic meaning is “strong” or “mighty”. For example in Isaiah 9:6 this word is
translated “mighty
God, everlasting Father, Prince of Peace.” So the word really means “to make strong”. In some sense this Prince is going to make
strong the Covenant.
Kata “Perjanjian” di Daniel 9:27 tidak ada kata
sandang tentunya, dengan kata lain tidak
dikatakan “Perjanjian yang itu” (“the Covenant”) melainkan “Dia akan meneguhkan sebuah
Perjanjian”. Namun, menarik bahwa terjemahan KJV memasukkan kata
sandang “the
Covenant”. Signifikan bahwa KJV memasukkan kata sandang tentu “the Covenant”.
Ini signifikan karena ini menunjukkan bahwa sebelum teori Pengangkatan (rapture)
yang muncul di abad 18, awal abad 18, sebelum teori Pengangkatan masuk ke dalam
gereja di abad 18 dan 19, para penerjemah KJV meyakini bahwa Daniel 9:27
mengacu ke Perjanjian siapa? Mengacu ke Perjanjian Allah. Itu adalah “Perjanjian
yang itu” (“the Covenant”) bukan “sebuah Perjanjian” (“a Covenant”). Daniel 9 dalam doanya
adalah satu-satunya pasal di mana nama YaHWeH muncul.
Ini adalah nama Perjanjian Allah di seluruh Perjanjian Lama.
Ungkapan “Dia akan meneguhkan Perjanjian
itu” lebih baik bila diterjemahkan “Dia akan menguatkan Perjanjian itu”. Kata Ibrani גָּבַר [gâbar] muncul
sekitar 328 kali di Perjanjian Lama dan makna dasarnya adalah “kuat” atau
“perkasa”. Misalnya di Yesaya 9:6 kata ini diterjemahkan “Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Pangeran
Damai”. Maka kata
tersebut sesungguhnya berarti “menjadikan kuat”. Dalam pengertian tertentu,
Pangeran ini akan membuat Perjanjian itu menjadi kuat.
Now why would
it say that He was going to make strong a Covenant? Was the Covenant weak? is a
big question. Well, what it means is
that the Prince would put the Covenant on
firm footing, by ratifying the Covenant. If the Covenant needed to be made strong, was
it weak? The answer to this question lies in the fact that the old Covenant was ratified with the blood of
animals that could not take away sin. Are you following me or not? The new Covenant is better and stronger
because it is based on better blood, a
better priesthood, a better Covenant,
better promises, a better sacrifice, a better Sanctuary. The old
Covenant could not truly remove sin but the
new Covenant does remove sin. The
old Covenant was made strong by its fulfillment in the new Testament. The
old Covenant was weak because it could not legally save, because the blood of
bulls and goats cannot remove sin.
Nah, mengapa dikatakan
bahwa Dia akan membuat kuat sebuah Perjanjian? Apakah Perjanjian itu lemah,
adalah pertanyaan yang penting. Nah, apa maksudnya ialah Sang Pangeran
akan meletakkan Perjanjian itu di atas dasar yang teguh, dengan mengesahkan
Perjanjian itu. Jika Perjanjian itu perlu dikuatkan, apakah dia
lemah? Jawaban kepada pertanyaan ini terletak di fakta bahwa Perjanjian
yang lama itu disahkan dengan darah hewan yang tidak bisa
menghapus dosa. Apakah kalian mengikuti saya atau tidak? Perjanjian
yang baru itu lebih baik dan lebih kuat karena berdasarkan
darah yang lebih baik, imamat yang lebih baik, Perjanjian yang lebih baik,
janji-janji yang lebih baik, kurban yang lebih baik, Bait Suci yang lebih baik.
Perjanjian yang lama tidak benar-benar bisa menghapus dosa, tetapi Perjanjian
yang Baru menghapus dosa. Perjanjian yang Lama dibuat kuat
oleh penggenapannya di Perjanjian yang Baru. Perjanjian yang
lama itu lemah karena dia tidak bisa secara sah menyelamatkan karena darah
lembu dan kambing tidak bisa menghapus dosa.
And here's an
interesting detail. In fact Hebrews 7:8 specifically tells us that the old
Covenant priesthood was weak. Did the Covenant need to be made strong? Of
course it did. The function of the old
Covenant was to reveal a Savior to come, and when He came, He made the Covenant
strong, He ratified the Covenant.
Dan ini ada detail yang
menarik. Bahkan Ibrani 7:8 secara spesifik memberitahu kita bahwa imamat
Perjanjian yang lama itu lemah. Apakah Perjanjian itu perlu dibuat kuat? Tentu
saja iya. Fungsi dari Perjanjian yang lama ialah untuk menyatakan
Seorang Juruselamat yang akan datang, dan ketika Dia datang, Dia menjadikan
Perjanjian itu kuat, Dia mengesahkan Perjanjian itu.
Now who are “the many”? He's going to make a Covenant
strong with? Who are “the many”? In our analysis of verse 26, we saw that the Messiah's cutting off was
a sacrifice, in other words, not for Himself but for us. The word “many” is key. In the parallel Messianic passage
of Isaiah 53 we find the following declaration: “11 … by His knowledge shall My righteous Servant justify…” what? “…many, for He shall bear their
iniquities”. This prophecy of Isaiah 53 is picked up
in the New Testament.
Sekarang,
siapakah “banyak orang”? Dia
akan membuat kuat sebuah Perjanjian dengan? Siapakah “banyak orang”? Dalam analisa kita pada ayat 26, kita melihat
bahwa dipotongnya Sang Messias itu adalah sebuah pengorbanan, dengan kata lain,
bukan karena Dirinya sendiri, melainkan karena kita. Kata “orang banyak” itulah kuncinya. Di kutipan mesianik yang
paralel di Yesaya 53 kita temukan deklarasi berikut: “11 Dengan hikmatNya Hamba-Ku yang benar itu akan
membenarkan…” apa? “… banyak orang, karena Dia yang akan memikul dosa-dosa mereka…” Nubuatan Yesaya
53 ini dikutip di Perjanjian Baru.
See, the
problem that Futurists have is, that
they go from the prophecy of the Old Testament, they bypass the New Testament and they go straight to the end time,
that's the problem. But the Gospels are the key that opens this prophecy. But
because they ignore the Gospels, and they put over a 2’000 year gap between week
number 69 and week number 70, they don't see the light, the beautiful Messianic
fulfillment of this prophecy in Jesus Christ.
Lihat, masalah kelompok
Futurist ialah, dari nubuatan Perjanjian Lama, mereka melompati
Perjanjian Baru, dan mereka pergi langsung ke akhir zaman.
Itulah masalahnya. Padahal kitab-kitab Injil adalah kunci yang membuka nubuatan
ini. Tetapi karena mereka mengabaikan kitab-kitab Injil, dan mereka menempatkan
jarak 2’000 tahun lebih antara minggu ke-69 dan minggu ke-70, mereka tidak
melihat terangnya, penggenapan mesianik yang indah dari nubuatan ini yang ada dalam
Yesus Kristus.
So Mark 10:45
assures us that Jesus came “45 …
not to be ministered unto but to minister; and to give His life a ransom for…” there's the word, “…many…”. Once more the word “many” is linked with a vicarious sacrifice here.
Jadi di
Markus 10:45 memberi kita jaminan bahwa Yesus datang, “45 … tidak untuk dilayani, melainkan untuk melayani, dan untuk memberikan
nyawa-Nya menjadi tebusan bagi…” itulah katanya “…banyak orang…”
Sekali lagi kata “banyak orang” terkait kepada suatu
kurban pengganti di sini.
Hebrews 9:28
contains the same idea. “28 So Christ was once
offered to bear the sins of many…”
Ibrani 9:28 berisikan
konsep yang sama, “28 Demikian pula
Kristus hanya satu kali dipersembahkan
untuk menanggung dosa banyak orang...”
So who's
making the Covenant? The Messiah. And who are “the many”? His people. However the most important verse for
understanding the word “many” is in Matthew 26:28 when Jesus instituted the Lord's Supper as a
memorial of His death until He comes. He said, “28 For this is My blood of the new testament…” by the way don't get all hung up with the word “testament” from the King
James, it's the same word Διαθήκη [diathēkē] which means Covenant. So, “…this is My blood of the new covenant which
is shed for many for the remission of sins.”
Jadi
siapa yang membuat Perjanjian? Sang Messias. Dan siapa “orang banyak”? UmatNya. Namun ayat yang paling penting untuk
memahami kata “orang banyak” ini ada
di Matius 26:28 ketika Yesus melembagakan Perjamuan Kudus sebagai peringatan
kematianNya hingga kedatanganNya. Dia berkata, “28 Sebab inilah darah-Ku dari perjanjian yang baru…” nah, jangan menjadi bingung dengan kata “testament” yang ada di terjemahan KJV, itu adalah kata Διαθήκη [diathēkē] yang sama, artinya “perjanjian” (covenant). Jadi, “…inilah darah-Ku dari perjanjian yang baru, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk
pengampunan dosa.”
All these
texts are related by a common idea: a vicarious sacrifice for many. Thus the
statement of Daniel 9:26 that the Messiah was cut off but not for Himself, was
picked up by the three New Testament writers, and applied to Jesus Christ. Also
the fact that Jesus linked His vicarious sacrifice with the word “many” and
“Covenant”. Do you see the same words “a Covenant
with many”? The fact that Jesus linked the word “many”
and “Covenant” is compelling evidence that the New Testament holds the key that
unlocks the meaning of the prophecy of the 70 weeks.
Semua ayat ini terkait oleh
satu konsep yang sama: suatu kurban pengganti bagi banyak orang. Dengan
demikian pernyataan Daniel 9:26 bahwa Messias dipotong tetapi bukan karena
Dirinya sendiri, dipakai oleh ketiga penulis Perjanjian Baru dan mereka
mengaplikasikannya kepada Yesus Kristus. Juga faktanya bahwa Yesus mengaitkan
kurban penggantiNya dengan kata “orang
banyak” dan “Perjanjian”. Apakah
kalian melihat kata-kata yang sama “sebuah
Perjanjian dengan orang banyak”? Faktanya Yesus mengaitkan
kata “orang banyak” dan “Perjanjian” adalah bukti yang meyakinkan bahwa Perjanjian
Baru memegang kunci yang membuka makna nubuatan 70 minggu.
Let's move on
to our final consideration in this section. To which week was Gabriel referring
when he explained “and He shall confirm the Covenant with
many for one week”? Well, it's obvious that he's referring to week number what? Week number 70. However, Dr William Shea
who was my teacher in the Seminary, has pointed out that there is a
chronological progression of the Messiah's career, that is repeated twice in chiastic
fashion in Daniel 9:25 to 27, ending each time with the destruction of
Jerusalem.
Mari kita lanjut ke
pelajaran akhir kita di bagian ini. Gabriel merujuk ke minggu yang mana ketika
dia menjelaskan “27 Dia akan meneguhkan
sebuah
perjanjian dengan banyak orang untuk satu minggu”? Nah, jelas Gabriel merujuk ke minggu ke berapa? Minggu ke-70. Namun, Dr. William Shea
yang adalah dosen saya di Seminari, menunjukkan bahwa ada suatu progresi
kronologis dalam karier Messias, yang diulangi dua kali dalam bentuk kiastik di
Daniel 9:25-27, setiap kali berakhir dengan penghancuran Yerusalem.
Notice the
interesting chiastic structure of Daniel 9:25 to 27.
A.
Anointing of the Messiah begins the 70th week.
B. Messiah is cut off (at an unspecified point during the 70th week).
C. Messiah's death leads to Jerusalem's destruction in 70 A.D.
Are you
understanding the structure here? Okay, so the anointing of the Messiah begins
the 70th week. He's cut off, but it doesn't say exactly when in this verse,
during the 70th week. And then the Messiah's death leads to Jerusalem's
destruction in AD 70.
Simak struktur kiastik yang
menarik dari Daniel 9:25-27
A. Diurapinya Messias mengawali minggu ke-70.
B. Messias dipotong (waktunya tidak
dijelaskan, dalam minggu ke-70).
C. Kematian Messias mengakibatkan penghancuran Yerusalem di 70 AD.
Apakah kalian paham
strukturnya di sini? Oke. Jadi
pengurapan Messias mengawali minggu ke-70. Messias dipotong, tetapi tidak
dikatakan tepatnya kapan di ayat ini, dalam minggu ke 70. Kemudian kematian
Messias mengakibatkan penghancuran Yerusalem di AD 70.
Now,
a similar sequence of events is repeated in verse 27:
A. Messiah makes the covenant strong beginning with the 70th week.
B. Messiah causes the sacrifice to cease in the middle of the 70th week.
C. At the end Messiah's death leads to the destruction of Jerusalem
Now verse 27
repeats the same events in chastic structure. A: The Messiah makes the Covenant
strong beginning with the 70th week. B: Messiah causes the sacrifice to cease,
now it defines when it's going to cease: in the middle of the week is when He's
going to be cut off. And then C: it refers to the destruction of Jerusalem.
Nah suatu urutan peristiwa-peristiwa yang sama diulangi lagi di ayat 27.
A. Messias membuat perjanjian
menjadi kuat pada awal minggu ke-70.
B. Messias membuat kurban
berhenti di bagian tengah minggu ke-70.
C. Akhirnya, kematian Messias mengakibatkan penghancuran
Yerusalem.
Nah, ayat 27 mengulangi
peristiwa-peristiwa yang sama di struktur kiastik. A: Messias membuat
Perjanjian menjadi kuat mulai di minggu ke-70. B: Messias membuat kurban
berhenti, sekarang dijelaskan kapan itu akan berhenti, di bagian tengah minggu
Dia akan dipotong. Lalu C: merujuk ke penghancuran Yerusalem.
Do you see
the chiasmus here between verses 26 and 27? So let's go here. A comparison of
verses 25 and 26 with verse 27 reveals that verses 25 through 27 cannot be read
in linear fashion as if one event followed the other in a neat chronological
sequence. The fact is that the same material is repeated twice in chastic
fashion. Verse 27 expands upon verses 25 and 26.
·
The A in verse 25 points the date for
the initiation of Messiah's ministry during the 70th week.
·
While the A in verse 27 emphasizes that
the Messiah made strong the Covenant during the 70th week.
·
The B in verse 26 describes the death of
the Messiah at some point during the 70th week, but does not specify the exact
time.
·
The corresponding B in verse 27
pinpoints the precise time of the Messiah's death: in the middle of the 70th
week.
·
The C in verse 26 describes the
destruction of Jerusalem.
·
As does the C in verse 27.
This
beautiful symmetry is further evidence that “the Messiah the Prince” of verse 25
is the same Person as “Messiah” and “Prince” in verse 26. You get it? It's amazing.
Apakah kalian melihat
kiasma di sini antara ayat-ayat 26 dan 27? Jadi mari kita lihat. Suatu
perbandingan antara ayat 25-26 dengan ayat 27 mengungkapkan ayat 25 hingga 27
tidak bisa dibaca secara linear satu peristiwa mengikuti peristiwa yang lain
dalam urutan kronologi yang rapi. Faktanya ialah bahan yang sama diulangi dua
kali dalam model kiastik. Ayat 27 memperluas ayat 25 dan 26.
·
Bagian A di ayat 25 menunjuk ke tanggal inisiasi
ministri Messias dalam minggu ke 70.
·
Sementara A di ayat 27 menekankan bahwa Messias
membuat kuat Perjanjian dalam minggu ke-70.
·
Bagian B di ayat 26 menggambarkan kematian
Messias suatu saat dalam minggu ke-70, tetapi tidak memberikan waktunya yang
tepat.
·
B yang terkait, di ayat 27 menunjukkan waktu
yang tepat kematian Messias: di tengah-tengah minggu ke-70.
·
Bagian C di ayat 26 menggambarkan penghancuran
Yerusalem.
·
Begitu juga bagian C di ayat 27.
Simetri yang indah ini
adalah bukti lebih lanjut bahwa “Messias Sang
Pangeran” di ayat 25 adalah Pribadi yang sama dengan “Messias” dan “Pangeran” di ayat
26. Kalian menangkapnya? Ini mengagumkan.
See, when we study
this, it's not just enough to read the Bible, we’ve got to think when we're
reading, we’ve got to ask why, where, where do I find this in some other place
in the Bible. We have to be like detectives. You know one of my favorite television
programs ~ maybe I shouldn't be saying
that I watch television, I don't watch very much, but one of my favorite
programs is Columbo, because the emphasis is not on the murder, the emphasis is
how he works like a detective, looking for clues, and then he puts all the
clues together, gotcha! Study of Bible
is like detective work. You look for a clue here, a clue there, you go to the
New Testament, you go to the Old Testament, you go to Genesis, you go to
Revelation, you look up all the common terms, you look at the structure, you
look at the syntax, you look at the vocabulary, and then when you have all the
evidence you say, “I got it!” That's what we're doing here. We're
studing phrase by phrase, so that we understand that the prophecy week is
centered in Jesus Christ, it's not centered in the Antichrist. This idea of
putting a gap of over 2’000 years between the 69th week and the 70th week, there's
no evidence in the Bible of any prophecy having a big gap like that. It's an
invention that was done to hide the identity of the true Christ in this
Prophecy of the 70 weeks.
Lihat, ketika kita
mempelajari ini, tidak cukup hanya membaca Alkitabnya, kita harus berpikir saat
kita membaca, kita harus bertanya mengapa, di mana, di mana saya menemukan ini
di ayat lain di Alkitab. Kita harus menjadi seperti detektif. Kalian tahu, salah
satu program televisi favorit saya ~ mungkin saya tidak seharusnya mengatakan
saya nonton televisi, saya tidak nonton banyak, tetapi salah satu program
favorit saya itu Columbo, karena penekanannya bukan pada pembunuhannya,
penekanannya ada pada bagaimana dia bekerja seperti detektif, mencari
petunjuk-petunjuk, lalu dia mengumpulkan semua petunjuk menjadi satu, dan kena! Mempelajari Alkitab itu seperti
pekerjaan detektif. Kita mencari petunjuk di sini, petunjuk di sana, kita ke
Perjanjian Baru, kita ke Perjanjian Lama, kita ke Kejadian, kita ke Wahyu, kita
cari semua istilah yang sama, kita lihat strukturnya, kita lihat sintaksnya,
kita lihat vokabularinya, kemudian setelah kita punya semua buktinya, kita
berkata, “Dapat!” Itulah yang sedang kita lakukan di sini.
Kita belajar frase demi frase, sehingga kita paham bahwa mingguan nubuatan itu
berpusat pada Yesus Kristus, bukan berpusat pada Antikristus. Ide untuk
menempatkan jarak yang besar lebih dari 2’000 tahun antara minggu ke-69 dengan
minggu ke-70, tidak ada bukti di Alkitab nubuatan apa pun yang punya jarak
besar seperti itu. Itu sebuah karangan yang dibuat untuk menyembunyikan
identitas Kristus yang sejati dalam nubuatan 70 minggu ini.
19 04 26
No comments:
Post a Comment