Tuesday, June 30, 2026

EPISODE 02/05 ~ MESSAGE TO LAODICEAN ~ HOLIER THAN THOU ~ STEPHEN BOHR

 

MESSAGE TO LAODICEAN

Part 02/05 - Stephen Bohr

HOLIER THAN THOU

https://www.youtube.com/watch?v=VhXo9jBsOfE&list=PL0L42idUJxlPfOLLFqeek8BOtM0ubf0fz&index=4

 

Dibuka dengan doa.

 

Today's presentation is number two in the series titled “God's Message to the Laodiceans”. Now in our last study together we analyzed the concept of the tree in the New Testament, and we noticed that God through John the Baptist called Israel to produce fruit or be cut down and thrown into the fire. We noticed that a little bit later on in the ministry of Jesus, Jesus found this fig tree which had no fruit, and the owner of the vineyard told the vine- dresser, so to speak, “Cut it down!” And of course the vinedresser says, “Allow me to dedicate a special attention to this, the last year…” which is the last year of the ministry of Jesus. And then when we get to the end of the life of Jesus, actually this is a couple of days before He goes to the cross, we find Him seeing this fig tree from afar, that has leaves, so He goes and He looks for fruit on it, and it has no fruit. And so He curses the fig tree and the fig tree withers from the roots. We noticed last time that this is the message of God to the Laodiceans of that day and age, the scribes and the Pharisees who appeared to be very pious, they had many, many leaves, so to speak, but they were devoid of the fruit of the  Spirit. They felt rich and increased with goods and in need of nothing, because they had all of the beliefs, and all of the ceremonies straight. But their hearts were far from God. Their fruits showed that they were very far from the Lord.

 

Presentasi hari ini adalah nomor 2 dari seri yang berjudul “Pesan Allah kepada Jemaat Laodekia”. Nah, di pelajaran kita sebelumnya, kita sudah menganalisa konsep pohon di Perjanjian Baru, dan kita sudah menyimak bahwa Allah melalui Yohanes Pembaptis memanggil Israel untuk menghasilkan buah atau ditebang dan dilemparkan ke dalam api. Kita sudah menyimak bahwa kemudian dalam ministri Yesus, Yesus bertemu dengan pohon ara ini, yang tidak punya buah. Dan pemilik kebun itu memberitahu pengurus kebun, katakanlah demikian, “Tebang saja!” Dan tentu saja pengurus kebun itu berkata, “Izinkan aku mendedikasikan perhatian istimewa kepada pohon ini, tahun yang terakhir…” yang adalah tahun terakhir dari ministri Yesus. Kemudian ketika kita tiba di bagian akhir hidup Yesus, persisnya ini dua hari sebelum Dia pergi ke salib, kita mendapatkan Yesus melihat pohon ara ini dari kejauhan, yang berdaun rimbun. Maka  Dia pergi dan Dia mencari buah pada pohon itu, tetapi pohon itu tidak ada buahnya. Maka Dia mengutuk pohon ara itu dan pohon ara itu melayu dari akar-akarnya. Yang lalu kita sudah menyimak bahwa inilah pesan Allah kepada jemaat Laodekia pada zaman dan masa itu, yaitu para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, yang tampaknya sangat saleh, katakanlah mereka punya banyak sekali daun, tapi mereka tidak punya buah Roh. Mereka merasa kaya dan berkelimpahan harta dan tidak kekurangan apa-apa, karena mereka sudah punya semua keyakinannya, dan semua upacaranya lengkap. Tetapi hati mereka jauh dari Allah. Buah mereka menunjukkan bahwa mereka amat sangat jauh dari Tuhan.

 

 

Now in our study today we are going to examine a parable of Jesus which is wellknown, it's one of the best known parables of Christ. I'm referring to the story of The Prodigal Son. Now usually when we study the story of The Prodigal Son, we focus on the son who left home, we focus on that son who went astray from the household. But there's another son in this story which frequently is ignored when the passage is studied. And even though I'm going to dedicate a good amount of time to the story of the son that left home, I'm going to also speak about the son that stayed at home and did not leave. He is going to be actually the center of our focus, even though I'll probably dedicate less time to him than to the younger son.

 

Nah, dalam pelajaran kita hari ini, kita akan memeriksa sebuah perumpamaan Yesus yang terkenal, itu adalah salah satu perumpamaan Yesus yang paling terkenal. Saya merujuk ke kisah Anak yang Berfoya-foya. Nah, biasanya ketika kita mempelajari kisah Anak yang Berfoya-foya, kita fokus pada anak yang meninggalkan rumahnya, kita fokus pada anak yang pergi jauh dari rumahtangganya. Tetapi ada seorang anak yang lain di kisah ini yang sering diabaikan ketika kisah itu dipelajari. Dan walaupun saya akan mendedikasikan waktu yang cukup banyak kepada kisah anak yang meninggalkan rumah, saya juga akan bicara tentang anak yang tinggal di rumah dan tidak pergi dari rumahnya. Malah, dia yang akan menjadi pusat perhatian kita, walaupun saya mungkin mendedikasikan tidak sebanyak waktu kepadanya daripada kepada anak yang lebih muda.

 

 

Now I would like to begin by telling you that this parable has many symbols, and I would like to identify the meaning of the symbols before we actually study the parable.

·       First of all we have in this parable the father.

The father represents God the Father.

·       We have in the story the youngest son.

The youngest son represents the publicans, and sinners of Christ's day. We would call them people who have gone astray from the church, and gone out into the world. They're not living a pious and sanctified life.

·       Then we have the older son.

The older son in Christ's day represents the scribes and the Pharisees, those that feel self-righteous, who are righteous in their own sight.

·       Then in the parable we have the killing of the calf, of the fatted calf.

We're going to notice that that represents the sacrifice of Christ on the cross.

·       Then we have the owner of the swine, who enslaves the younger son when he hits upon hard times.

That owner of the swine really represents Satan.

·       The best robe that is placed on the son represents the righteousness of Christ.

·       The signet ring that the father places on the finger of his son represents the father's authority, because it was the ring which was used to sign documents.

It has nothing to do with the use or not use of jewelry. It had a practical purpose, it was a seal, it was not to exhibit, it was not to show off.

·       And finally we have the father's house.

The father's house represents the church.

·       And of course the far country where the son goes to, represents the world.

So this is the meaning of the symbols of the parable, and we'll be able to understand the parable a l lot better if we take these into account.

 

Nah saya mau mulai dengan memberitahu kalian bahwa perumpamaan ini punya banyak simbol, dan saya ingin mengidentifikasi makna dari simbol-simbol itu sebelum kita mulai mempelajari perumpamaan tersebut.

·       Pertama-tama di perumpamaan ini ada si ayah.

Si ayah melambangkan Allah Bapa.

·       Di kisah ini ada seorang anak bungsu.

Anak bungsu ini mewakili para pemungut cukai, para pendosa di zaman Kristus. Kita bisa menyebut mereka orang-orang yang telah meninggalkan gereja, dan pergi ke dunia. Mereka tidak hidup saleh dan kudus.

·       Lalu ada anak yang sulung.

Anak yang sulung di zaman Kristus melambangkan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, mereka yang merasa benar sendiri, yang di pemandangan mereka sendiri adalah orang-orang yang benar.

·       Kemudian di perumpamaan itu ada anak lembu tambun yang disembelih.

Kita akan menyimak bahwa itu melambangkan pengorbanan Kristus di salib.

·       Lalu ada si pemilik babi, yang memperbudak anak yang bungsu ketika uangnya habis.

Si pemilik babi ini sesungguhnya melambangkan Setan.

·       Jubah yang terindah yang dikenakan pada anak bungsu itu melambangkan kebenaran Kristus.

·       Cincin stempel yang ditempatkan si ayah di jari anaknya melambangkan autoritas si ayah, karena cincin itu dipakai untuk mengesahkan dokumen.

Ini tidak ada kaitannya dengan memakai atau tidak memakai perhiasan. Cincin ini punya tujuan praktis, ini sebuah meterai, bukan untuk memamerkan, bukan untuk menunjukkan kekayaan.

·       Dan akhirnya ada rumah si ayah.

Rumah si ayah melambangkan gererja.

·       Dan tentu saja negeri yang jauh ke mana anak bungsu itu pergi, melambangkan dunia.

Jadi inilah makna simbol-simbol dalam perumpamaan ini, dan kita akan bisa memahami perumpamaan ini dengan lebih baik bila kita memperhitungkan simbol-simbol ini.

 

 

Now let's go to Luke 15:1 and 2. This sets the stage for the parable. We're going to find in these two verses the younger son and the older son, and what they represent. It says there in Luke 15:1 and 2, 1Then all the tax collectors and the sinners…” put in parenthesis “the younger son”, okay? Put in parenthesis there “the younger son”  “…1Then all the tax collectors and the sinners…” tax collectors by the way are also called “publicans”  “…drew near to Him to hear Him…” they draw near to Jesus because they want to hear Him. And now notice,  “…And the Pharisees and scribes…” put there in parenthesis “the older son”, “…the Pharisees and scribes complained, saying, ‘This Man receives sinners and eats with them.’…” Of all things, this. This is the stage for this parable, two groups: the publicans and sinners represented by the younger son; and the scribes and the Pharisees represented by the older son. We need to remember that.

 

Nah, mari kita ke Lukas 15:1-2. Ini latar belakang perumpamaan ini. Kita akan melihat di dua ayat ini,  anak yang lebih muda dan anak yang lebih tua, dan mereka melambangkan apa. Dikatakan di sana, di Lukas 15:1-2, 1 Lalu semua pemungut cukai dan orang-orang berdosa…”  masukkan dalam kurung “anak yang bungsu” oke? Tulis dalam kurung di sana “anak bungsu”. “…1 Lalu semua pemungut cukai dan orang-orang berdosa…” nah, pemungut cukai juga disebut tukang pajak,  “…mendekati Yesus untuk mendengar Dia.…”  mereka mendekat ke Yesus karena mereka mau mendengar Yesus. Dan sekarang simak, “…2 Dan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat…” tulis di sana dalam kurung “anak sulung”, “…orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungutlah, berkata,Orang ini menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.’…” di antara hal-hal yang lain. Inilah latar belakang perumpamaan ini. Dua kelompok: pemungut cukai dan orang-orang berdosa dilambangkan oleh anak yang bungsu; dan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi dilambangkan oleh anak yang sulung. Kita perlu mengingat ini.

 

 

Now let's jump down to verse 12, and we're going to follow through this parable verse by verse. It says ~ actually let's read verse 11, it says, 11 Then He said, ‘A certain man had two sons…” Now verse 12, “…12 And the younger of them said to his father, ‘Father, give me…” that's important,  “…‘Father, give me the portion of goods that falls to me.’ So he divided to them his livelihood…” Now it becomes very obvious in this verse that the younger son was selfish. This is reflected in the fact that he says “give me”. Later on he's going to have a different attitude. I want you to remember “give me what I am entitled to”. And so he speaks to his father, and he decides that he's going to leave home, which represents the church. You see, the younger son feels that his father is too restrictive, the house has too many rules and regulations. He wanted to be free to do his own thing, free from the restrictions of his father. He didn't want his father looking over his shoulder. He didn't want to live by the rules of the house. He wanted to be free and happy. And so he decides that the only way he can be free is by leaving the home and not having to live up to these restrictive rules and regulations, which the father has.

 

Sekarang mari kita loncat turun ke ayat 12, dan kita akan mengikuti perumpamaan ini ayat per ayat. Dikatakan ~ sebetulnya mari kita baca ayat 11, dikatakan, 11 Lalu Yesus berkata, ‘Ada seseorang mempunyai dua anak laki-laki…” sekarang ayat 12, “…12 Dan yang lebih muda dari keduanya berkata kepada ayahnya, ‘Bapak, berikanlah kepadaku…” ini penting, “…Bapak, berikanlah kepadaku bagian harta yang jatuh padaku.’ Maka ayahnya membagikan penghidupannya kepada mereka…” Nah, sangat jelas di ayat ini, anak yang lebih muda itu sangat egois. Ini terpantul dari fakta dia berkata  “…berikanlah kepadaku”.  Nanti dia akan punya sikap yang berbeda. Saya mau kalian mengingat “berikan kepadaku hakku”. Maka dia bicara demikian kepada ayahnya dan dia memutuskan dia akan meninggalkan rumah, yang mewakili gereja. Kalian lihat, anak yang lebih muda ini merasa bahwa ayahnya terlalu mengendalikan, rumahtangganya punya terlalu banyak peraturan dan ketentuan. Dia ingin bebas bisa semaunya sendiri, bebas dari pembatasan ayahnya. Dia tidak mau ayahnya selalu memonitornya. Dia tidak mau hidup menurut segala peraturan rumahtangganya. Dia ingin bebas dan bergembira. Maka dia memutuskan bahwa satu-satunya jalan dia bisa bebas ialah dengan meninggalkan rumah, dan tidak usah mematuhi peraturan dan ketentuan ayahnya yang membatasinya.

 

 

In Christ Object Lessons page 198 and 204 we find a description of the younger son's motivations in leaving. This is what the servant of the Lord says, “This younger son had become weary of the restraint of his fathers house…”  today we would say that people got tired of the church, the restrictions that are laid down in the church. She continues saying, “…He thought that his liberty was restricted…”  In his restless youth the prodigal looked upon his father as stern and severe. So the leader of the house, the leader of the church so to speak, was looked down upon as being too restrictive, too strict, too severe, his laws took away freedom. And so the young man focuses on present enjoyment without any thought about the future. He prefers the here and now, instead of the sweet by and by. He was just like Esau who sold his birthright because he was hungry at the present moment for a plate of lentils. Selling his eternal birthright for present enjoyment, present pleasures. And so he picks up all of his stuff and he leaves home. He leaves the church, he leaves the rules and regulations, and restrictions of church.

 

Di Christ’s Object Lessons hal. 198 dan 204, kita dapatkan sebuah deskripsi motivasi perginya anak yang lebih muda ini. Inilah yang dikatakan hamba Tuhan, “…Anak yang lebih muda ini menjadi kesal dengan pembatasan di rumahtangga ayahnya…”  Hari ini kita bisa mengatakan orang-orang menjadi jemu dengan gereja, pembatasan-pembatasan yang dikenakan dalam gereja. Ellen White melanjutkan berkata, “…Dia menganggap kebebasannya dibatasi…” Di usia mudanya yang penuh gejolak, anak yang boros ini memandang ayahnya sebagai keras dan kaku. Maka pemimpin rumahtangga, atau katakanlah pemimpin gereja dianggap sebagai terlalu membatasi, terlalu kaku, terlalu keras, aturan-aturannya melenyapkan kebebasan. Maka orang muda ini hanya fokus pada kenikmatan hari ini tanpa memikirkan masa depan. Dia lebih memilih yang sekarang dan yang kini, daripada masa depan yang indah yang akan datang. Dia persis seperti Esau, yang menjual hak sulungnya untuk semangkuk kacang lentil karena pada saat itu dia lapar; menjual hak kesulungannya yang kekal untuk kenikmatan saat ini, kesenangan masa kini. Maka anak bungsu itu mengemasi barang-barangnya dan meninggalkan rumah. Dia meninggalkan gereja, dia meninggalkan peraturan-peraturan, dan ketentuan-ketentuan, dan pembatasan-pembatasan gereja.

 

 

Verse 13, “ 13 And not many days after, the younger son gathered all together, journeyed to a far country…” that's important, he journeyed to a far country  “…and there wasted his possessions with prodigal living…” He went as far away as he could from home, in fact the “far away country” represents the world. He didn't want his father looking over his shoulder, so he went out into the world, abandoning his household, which represents the church. And he says, “Now here, there's no one to tell me what to do or what not to do, I can be free to do my own thing. Free at last, no rules, and no regulations like I had when I was home.” For a while things went well because the Bible says that the pleasures of sin are pleasures of sin for a season. Hello? I'm not saying that sometimes sin isn't pleasurable. Those of you who are here know that sin can be very pleasurable sometimes, in the short run, but not in the long run. In the long run sin makes us sick, it enslaves us, and it leads us ~ unless we repent ~ to lose eternal salvation.  And so for a while things go well, for a season he had fun partying and playing around. He has loads of friends out there that feel the way he does. He sends no letters home, he's free from his father, he's free from church. The father's heart at home meanwhile is bleeding because his son has left, but his father makes no effort to go out and search for him and try and convince him to come home; because it would have been a waste of time. You see, in this story, the son is lost, he knows he's lost, but it does no good to go seek for him. He has to hit rock bottom. So that, then he on his own will come back, because he knows where home is.

 

Ayat 13, 13 Dan tidak lama kemudian anak bungsu itu mengumpulkan semuanya, dan pergi ke negeri yang jauh,…”  ini penting, dia pergi ke negeri yang jauh,   “…dan  di sana ia memboroskan hartanya dengan hidup berfoya-foya…”  Dia pergi sejauh mungkin dari rumah, bahkan “negeri yang jauh” mewakili dunia ini. Dia tidak mau ayahnya memonitornya, jadi dia pergi keluar ke dunia, meninggalkan rumahtangganya, yang mewakili gereja. Dan dia berkata, “Nah, sekarang di sini, tidak ada orang yang memberitahu aku harus berbuat apa, atau tidak boleh berbuat apa, aku bisa bebas melakukan keinginanku sendiri. Merdeka akhirnya, tidak ada peraturan, tidak ada larangan seperti ketika aku masih di rumah.” Selama beberapa waktu lamanya semuanya lancar, karena Alkitab mengatakan kenikmatan dosa adalah kenikmatan dosa untuk satu masa. Halo? Saya tidak mengatakan bahwa terkadang dosa tidak nikmat. Kalian yang di sini tahu bahwa dosa terkadang bisa sangat nikmat, jangka pendek, tetapi tidak jangka panjang. Jangka panjang dosa membuat kita sakit, memperbudak kita, dan kecuali kita bertobat, dosa membuat kita kehilanngan keselamatan kekal. Maka untuk beberapa waktu lamanya, semuanya berjalan lancar, untuk satu masa anak itu menikmati berpesta dan bersenang-senang. Dia punya banyak teman di luar sana yang merasa sama seperti dia. Dia tidak mengirim surat pulang, dia terbebas dari ayahnya, dia terbebas dari gereja. Sementara itu ayahnya di rumah hatinya hancur karena anaknya sudah pergi, tetapi ayahnya tidak berusaha keluar mencarinya dan mencoba untuk meyakinkannya pulang; karena itu akan percuma saja. Kalian lihat, di kisah ini, anak itu hilang, dia tahu dia hilang, tapi tidak ada gunanya pergi mencarinya. Dia harus mengalami jatuh sampai ke titik paling rendah, supaya pada waktu itu atas kemauannya sendiri dia mau pulang, karena dia tahu di mana rumahnya.      

 

 

By the way, in this chapter you have three kinds of lost people. And this is just one kind, the kind that were in church, and because they wanted to be free from the restrictions of the church, they leave. They think that they'll be happier and freer in the world without these rules about the tithe, and the Sabbath, and healthful living, and all of these things. They say, “I want to be free from all of the restrictions of the church.” The father's heart is bleeding because the son has gone out into the world. He's left the home, the church, the father doesn't go to get him because he knows that he will come back when he hits rock bottom. We find these words from Christ’s Object Lessons page 199 to 200 about the life of this young man. “The treasure of his young manhood  is wasted…”  that's why the Bible says, “Remember your Creator in the days of your youth”. Listen up, young people, the world might appear to be very beautiful and very attractive, but I guarantee that if you go out there because you think that you're going to be freer out there and you're going to be happier out there, you're going to become a slave, and you're going to become very unhappy. As a pastor I've seen it time and again. People think that if they leave church there'll be less restrictions, less regulations, less rules, and they'll be happier, and they become enslaved. She continues saying, “…The precious  years of life, the strength of intellect, the bright visions of youth, the spiritual aspirations—all are consumed in the fires of lust.”

 

Nah, di pasal ini ada tiga jenis manusia yang hilang. Dan ini baru satu jenisnya, jenis yang tadinya ada dalam gereja, dan karena mereka mau bebas dari pembatasan-pembatasan gereja, mereka pergi. Mereka sangka mereka akan lebih bahagia dan bebas di dunia tanpa segala peraturan tentang persepuluhan, Sabat, hidup sehat, dan semua itu. Mereka berkata, “Aku mau terbebas dari semua pembatasan gereja.” Hati si ayah hancur karena anaknya telah keluar ke dunia. Dia sudah meninggalkan rumah, gereja. Ayahnya tidak pergi mengambilnya karena dia tahu bahwa anak itu akan pulang saat dia jatuh ke titik terendah. Kita temukan kata-kata ini dari Christ’s Object Lessons hal. 199-200 tentang kehidupan orang muda ini. “…Harta kejantanan mudanya telah terbuang sia-sia…”  itulah mengapa Alkitab berkata, “Ingatlah Penciptamu pada masa mudamu…” (Pengkhotbah 12:1). Dengarkan, orang-orang muda, dunia mungkin saja tampak sangat indah dan sangat menarik, tetapi saya jamin jika kalian keluar ke sana karena kalian pikir kalian akan lebih bebas di luar sana dan akan lebih bahagia di luar sana, kalian akan menjadi budak, dan kalian akan menjadi sangat tidak bahagia. Sebagai seorang gembala sidang saya sudah melihatnya berulang-ulang. Orang sangka jika mereka meninggalkan gereja, akan ada lebih sedikit pembatasan, lebih sedikit peraturan, lebih sedikit larangan, dan mereka akan lebih bahagia, dan mereka menjadi budak. Ellen White melanjutkan berkata, “…Tahun-tahun yang berharga dari hidupnya, kekuatan intelek, impian-impian cemerlang masa muda, aspirasi-aspirasi spiritual ~ semuanya habis terbakar dalam api hawa nafsu.”

 

 

And then we go to verse 14, 14 But when he had spent all, there arose a severe famine in that land, and he began to be in want…” you see, young people, brothers, and sisters, when we separate ourselves from God and His family, which is the church, we lose our freedom and dignity. That which we sought, we actually lose. And we become slaves instead of becoming free. The momentary joy and happiness of this young man became bitterness and pain when he realized that now he was a slave in the world. He begins to suffer terrible want, so he has to find a job. New revelation, he's got to work now!

 

Lalu kita ke ayat 14, 14 Dan ketika dia telah menghabiskan semuanya, timbullah bencana kelaparan besar di negeri itu dan ia pun mulai kekurangan…”  kalian lihat, para orang muda, saudara-saudara seiman, ketika kita memisahkan diri dari Allah dan keluargaNya, yang adalah gereja, kita kehilangan kebebasan dan martabat kita. Apa yang kita cari, justru kita kehilangan. Dan kita menjadi budak, bukannya malah merdeka. Kegembiraan dan kebahagiaan sesaat orang muda ini menjadi kegetiran dan kepiluan ketika dia menyadari bahwa dia adalah seorang budak di dunia. Dia mulai menderita kekurangan hebat, maka dia harus mencari kerja. Kenyataan baru, sekarang dia harus bekerja!

 

 

And so in verse 15 we find that he goes out seeking for a job, and we're told this, “ 15 Then he went and joined himself to a citizen of that country, and he sent him into his fields to feed swine…” Now it's interesting. The expression “joined himself to” literally in Greek means that he “became glued to”, and I would say this was almost like super glue, because he was bound to this man who owned the swine. He has left the security of the church and the father. He's gone out into the world. He's now becomes a slave of Satan.

You say, “How do we know that this man, that he joined himself to, represent Satan?” Because he was raising swine, and swine are filthy animals. And in Mark chapter 5 we find Jesus sending the unclean spirits to the swine, exactly where they belong. And so the owner of this place, where swine were being raised, was Satan, you see. Satan is the expert. He's out there telling you that it's going to be happy, and it's going to be joy outside the church, but he knows when you get out there that you're going to have to work with the swine.

 

Maka di ayat 15 kita dapati anak muda ini pergi mencari pekerjaan, dan kita diberitahu demikian, 15 Lalu ia pergi dan menggabungkan dirinya  pada seorang penduduk negeri itu. Dan orang itu menyuruhnya ke ladang untuk memberi makan babinya…”  Nah, menarik, ungkapan  “menggabungkan dirinya pada” dalam bahasa Greeka berarti dia “melekat kepada”, dan saya mau katakan ini hampir seperti lem super glue karena dia menjadi terikat kepada orang yang memiliki babi itu. Dia telah meninggalkan keamanan gereja dan ayahnya. Dia sudah keluar ke dunia. Sekarang dia menjadi budak Setan.

Kalian berkata, “Dari mana kita tahu orang ini kepada siapa anak muda itu telah melekatkan dirinya itu melambangkan Setan?”

Karena dia memelihara babi, dan babi adalah binatang yang kotor. Dan di Markus pasal 5 kita temukan Yesus mengirim roh-roh najis ke dalam babi, tepat ke mana mereka berasal. Maka si pemilik tempat tersebut yang memelihara babi, ialah Setan. Setan itu ahlinya. Dia ada di luar sana mengatakan kepada kita, bahwa akan senang, ada sukacita di luar gereja, tetapi dia tahu ketika kita keluar di sana, kita akan harus bekerja dengan babi.

 

 

We find in Christ’s Object Lessons page 200 this, “…The youth who has boasted of his liberty, now finds himself a slave. He is in the worst of bondage—'holden with the cords of his sins.’ (Proverbs 5:22.). The glitter and tinsel that enticed him have disappeared, and he feels the burden of his chain…” that's what happens when you go out into the world. For a while it'll seem nice until the Holy Spirit comes and awakens conscience.

 

Kita lihat di Christ’s Object Lessons hal. 200 ini, “…Anak muda yang membanggakan kemerdekaannya, sekarang mendapatkan dirinya seorang budak. Dia berada dalam perbudakan yang paling buruk ~ ‘terikat oleh tali-tali dosa-dosanya’ (Amsal 5:22). Kilauan dan benda-benda mengilat murahan yang telah memikatnya telah lenyap, dan dia merasakan beban dari belenggunya…”  Itulah yang terjadi ketika kita keluar ke dunia. Untuk sementara waktu tampaknya enak, hingga Roh Kudus datang dan membangunkan hati nurani.

 

 

Now notice verse 16, “ 16 And he would gladly have filled his stomach with the pods that the swine ate, and no one gave him anything.” Notice he wasn't even given swine's food to eat. The swine ate it. Now it's interesting to notice that as he is out there in the world away from home, away from the church, away from his father, he is actually living, but he's dead. Notice Luke 15:24, this is a remark the father makes when he returns home. Notice he says, “ 24 for this my son was dead…” in other words, when you leave the security of the church because you don't want to follow rules and regulations, you think everything is too restrictive, it's better to go out into the world; the Bible says that at that point you are what? You're dead. He says, “… 24 for this my son was dead and…”  then when he comes back he is what?  “…is alive again; he was lost…” in other words, “to be lost” means “to be dead”  “…he was lost and is found.’…” When we go out into the world we're dead and lost. When we come back home, we're alive and found.  

 

Sekarang simak ayat 16, 16 Dan ia dengan senang akan mengisi perutnya dengan polong yang dimakan babi itu, dan tidak seorang pun memberinya apa-apa…”  simak, dia bahkan tidak diberikan makanan babi untuk dia makan. Babinya yang makan. Nah, menarik disimak bahwa sementara dia berada di luar sana di dunia, jauh dari rumah, jauh dari gereja, jauh dari ayahnya, dia sesungguhnya mati selagi dia hidup. Simak Lukas 15:24, ini adalah komentar yang dibuat ayahnya ketika dia pulang. Simak, ayahnya berkata, “…24 Sebab ini, anakku telah mati…” dengan kata lain, ketika kita meninggalkan keamanan gereja karena kita tidak mau mengikuti peraturan dan ketentuannya, kita menganggap semuanya terlalu membatasi, lebih baik keluar ke dunia; Alkitab berkata pada saat itu kita apa? Kita mati. Ayahnya berkata,  “…24 Sebab ini, anakku telah mati dan…”  kemudian ketika dia kembali dia apa?  “…hidup kembali, ia telah hilang…”  dengan kata lain, hilang berarti mati, “…ia telah hilang dan ditemukan kembali.’…”  Ketika kita keluar ke dunia, kita mati dan hilang. Ketika kita pulang ke rumah, kita hidup dan ditemukan.

 

 

Let's go on to verse 17, 17 But when he came to himself…” I like that, you know, what that means? That means he was out of it while he was in the world,  “…when he came to himself he said, ‘How many of my father’s hired servants have bread enough and to spare, and I perish with hunger!’...” What does he start thinking about? He starts thinking about home. He starts thinking about Dad. In fact he starts thinking, you know,  “My Dad really didn't treat me that badly, and there was food at home, and there was love at home.”  It says that he regained his senses, he began thinking straight. Notice that when you go out into the world you're not thinking straight. When he was in a far country he wasn't himself, because he was a slave. Do you know that in Romans 2:4 there we’re told that “the goodness of God leads us to repentance”? Do you know what this young man is thinking? He's thinking about the goodness of his father. He's saying, “My father is so good that he treats his servants better than I'm being treated right now.” And so we find that he prepares a speech.

 

Mari ke ayat 17, 17 Dan ketika ia menyadari keadaannya…”  saya suka itu, tahukah kalian apa artinya? Artinya selama dia ada di dunia, dia tidak sadar, “…ketika ia menyadari keadaannya, ia berkata, ‘Betapa banyaknya orang upahan bapaku punya makanan cukup bahkan berlebihan, dan aku di sini mati kelaparan…” Apa yang mulai dipikirkannya? Dia mulai berpikir tentang rumah, dia mulai berpikir tentang Ayah. Bahkan dia mulai berpikir, “Sesungguhnya ayahku tidak memperlakukan aku seburuk itu, dan di rumah ada makanan, dan di rumah ada kasih sayang.” Dikatakan pikiran anak muda ini menjadi waras lagi, dia mulai berpikir jernih. Simak, ketika kita keluar ke dunia, kita tidak berpikir waras.  Ketika dia di negeri yang jauh, dia bukanlah dirinya sendiri karena dia seorang budak. Tahukah kalian di Roma 2:4 di sana kita diberitahu bahwa  “…kemurahan Allah itu menuntun engkau kepada pertobatan”? Tahukah kalian apa yang dipikirkan anak muda ini? Dia memikirkan kebaikan ayahnya. Dia berkata, “Ayahku begitu baiknya, dia memperlakukan hamba-hambanya lebih baik daripada aku diperlakukan di sini sekarang.” Maka kita lihat, anak ini lalu mempersiapkan kata-katanya.

 

 

Verse 18, he says, “ 18 I will arise and go to my father, and will say to him, ‘Father, I have sinned against heaven and before you,…” verse 19,  “…19 and I am no longer worthy to be called your son…”  Let me ask you, was he right that he wasn't worthy to be called God's son or his father's son? Yes, he was right, he wasn't worthy. And then he says, “…Make me like one of your…” what? “…Make me like one of your hired servants.’…” In other words, make me a servant. I don't know whether you've noticed in this story, but you have in this story repentance, sorrow for sin. And what is it that leads him to repentance or sorrow for sin? What leads him to sorrow over his sin is the goodness of his father, the goodness of God leads us to repentance. When you see how good God is and how bad we are in contrast, you say, “Wow! I want to go back to my Father, I want to be like my Father.” And so he's sorry for his sin, he repents, while he's out in the world having left the church and he makes up his mind that he's not only going to be repentant, he's also going to confess his sin to his father.  See, you have repentance, and you have what? And you have confession in this story.

 

Ayat 18, dia berkata, 18 Aku akan bangkit dan pergi kepada bapakku dan aku akan berkata kepadanya, ‘Bapak, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapak, …”  ayat 19, “…19 dan aku tidak layak lagi disebut anak bapak;…”  coba saya tanya, apakah dia benar bahwa dia tidak layak disebut anak Allah atau anak ayahnya? Ya, dia benar, dia tidak layak. Kemudian dia berkata, “…jadikanlah aku sebagai salah satu…” apa?  “…orang upahan bapak.’…” dengan kata lain, jadikan aku seorang hamba. Entah apakah kalian melihat, di kisah ini ada pertobatan, kesedihan karena dosa. Dan apakah yang menuntun dia kepada pertobatan atau kesedihan karena dosa? Apa yang menuntunnya kepada kesedihan karena dosanya adalah kebaikan bapaknya, kebaikan Allah menuntun kita kepada pertobatan. Ketika kita melihat betapa baiknya Allah dan betapa buruknya kita dalam perbandingan, kita berkata, “Wow! Aku mau pulang ke Bapaku, aku ingin seperti Bapaku.” Maka anak muda ini menyesali dosanya, dia bertobat selagi dia berada di dunia luar sana, meninggalkan gereja, dan dia memutuskan bahwa dia tidak hanya akan bertobat, dia juga akan mengakui dosanya kepada bapaknya. Lihat, di kisah ini ada pertobatan, dan ada apa? Dan ada pengakuan dosa.

 

 

Let me ask you, are repentance and confession both necessary in order to be received by the Father? Yes, the father received him as he was, not as he was in the world but as he now was, repentant and broken. Are you understanding me? Because there's the idea that, you know, when people come back from the world into the church, they can continue living the same way that they were always living, and God doesn't care what you do or what you don't do, that there's no need for repentance, there's no need for confession of sin. That's not what this story is teaching. This story is teaching that this young man's heart was broken, he had sorrow for sin, repentance for sin, he was willing to confess his sin, and say, “The buck stops here, I am guilty and no one else. So he prepares his speech. He says, I have sinned against heaven and before you, and I am no longer worthy to be called your son, make me like one of your hired servants.” I want you to notice that he doesn't think that he has to clean up before he comes home. He comes home just as he is, broken, repentant, unworthy, knowing that he has nothing really to recommend himself to his father.

And by the way I want you to notice the contrast now. How you can see that his heart is converted. At first he says to his father, “give me”, but now he says to his father, “make me”. His attitude has changed, as he sees the love of his father.

 

Coba saya tanya, apakah pertobatan dan pengakuan dosa keduanya diperlukan untuk diterima kembali oleh Bapa? Ya, bapaknya menerima dia sebagaimana adanya, bukan sebagaimana saat dia berada di dunia luar, tetapi sebagaimana dia sekarang, menyesal dan patah hati. Apakah kalian memahami saya? Karena ada pendapat bahwa ketika orang kembali dari dunia di luar ke dalam gereja, mereka boleh melanjutkan kehidupan mereka sama seperti cara mereka selalu hidup sebelumnya, dan Allah tidak perduli apa yang mereka lakukan atau tidak lakukan, bahwa tidak perlu ada pertobatan, tidak perlu ada pengakuan dosa. Bukan ini yang diajarkan kisah ini. Kisah ini mengajarkan bahwa hati anak muda ini hancur, dia sedih karena dosanya, ada penyesalan untuk dosa, dia bersedia mengakui dosanya, dan berkata, “Sampai di sini cukup, aku yang salah, aku tidak akan melemparkan kesalahan kepada orang lain.” Maka dia mempersiapkan kata-katanya. Dia berkata, 18 … aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapak, 19 dan aku tidak layak lagi disebut anak bapak; jadikanlah aku sebagai salah satu orang upahan bapak.’…” Saya mau kalian perhatikan, anak muda ini tidak berpikir dia harus membersihkan dirinya lebih dulu sebelum dia pulang, dia pulang seperti apa adanya, hancur, menyesal, tidak layak, sadar bahwa dia tidak punya apa-apa yang bisa direkomendasikannya kepada bapaknya.

Nah, saya mau kalian melihat perbedaannya sekarang. Bagaimana kalian bisa melihat bahwa hatinya telah berubah. Pada awalnya dia berkata kepada ayahnya, “berikanlah kepadaku” tetapi sekarang dia berkata kepada ayahnya, “jadikanlah aku”. Sikapnya telah berubah ketika dia melihat kasih ayahnya.

 

 

Verse 20, 20 And he arose and came to his father. But when he was still a great way off, his father saw him and had compassion, and ran and fell on his neck and kissed him…” Let me ask you, was the father waiting for him all the time? Do you notice that, that when he was still what? When he was still far off, what was the father doing? Probably out on the porch of the house, looking into the horizon where he had seen his son leave. “Oh, I wish my son would come home. Oh, what a pain it causes me to not have my son that I love so much home. Oh, that he would come back.” And every day the father would go out and he would, you know, he would strain his eyes to see if his son was coming home. It says while he was still far off, that shows that the father was watching for him.

 

Ayat 20, 20 Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapaknya. Tetapi ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, dan mengasihaninya, dan berlari, dan merangkulnya  dan mencium dia…”  coba saya tanya, apakah ayahnya menunggunya selama ini? Apakah kalian melihat bahwa ketika anak muda itu masih apa? Ketika dia masih jauh, apa yang dilakukan si ayah? Kira-kira ayahnya ada di luar, di beranda rumah, memandang ke kejauhan ke arah mana anaknya tempo hari pergi. “Oh, aku berharap anakku mau pulang. Oh, betapa ini membuat sakit hatiku, anakku yang begitu aku kasihi tidak ada di rumah. Oh, andaikan dia mau pulang.” Dan setiap hari si ayah akan keluar dan dia akan memaksakan matanya untuk melihat apakah anaknya pulang. Dikatakan, sementara anak itu masih jauh, ini membuktikan bahwa ayahnya sedang menantikan kedatangannya.

 

 

Ellen White in Christ’s Object Lessons page 206 makes this wonderful remark of how this applies to us. She says, “If you take even one step toward Him in repentance, He will hasten to enfold you in His arms of infinite love. His ear is open to the cry of the contrite soul. The very first reaching out of the heart after God is known to Him. Never a prayer is offered, however faltering; never a tear is shed, however secret; never a sincere desire after God is cherished, however feeble; but the Spirit of God goes forth to meet it…”  isn't that marvelous? No matter how far we've gone away from home, how far we've gone from the church, how far we've gone from our Father God, there's always room to come back with a contrite heart. And I can hear Eileen saying “Hallelujah!” because she's a living testimony of that. Many of us are living testimonies of that. “I once was lost but now I'm found, was blind but now I see” as the song says.

 

Ellen White di Christ’s Object Lessons hal. 206, membuat pernyataan yang indah ini, tentang bagaimana ini berlaku bagi kita. Kata Ellen White, “…Jika kita mengambil satu langkah saja maju untuk menghampiri Dia dalam pertobatan, Dia akan bergegas memeluk kita dalam lengan-lengan kasihNya yang tidak terbatas. TelingaNya terbuka kepada jeritan jiwa yang menyesal. Upaya yang paling pertama dari hati untuk menjangkau Allah, diketahui olehNya. Tidak pernah ada doa yang disampaikan betapa pun tersendatnya; tidak pernah ada air mata yang diteteskan betapa pun tersembunyinya; tidak pernah ada hasrat dalam hati yang tulus mencari Allah betapa pun lemahnya, yang Roh Allah tidak keluar untuk menyambutnya…”  bukankah ini luar biasa? Tidak perduli berapa jauhnya kita sudah meninggalkan rumah, berapa jauhnya kita sudah pergi dari gereja, berapa jauhnya kita sudah pergi dari Allah Bapa kita, selalu ada ruang untuk kembali dengan hati yang penuh penyesalan. Dan saya bisa mendengar Eileen berkata, “Halleluya!” karena dia adalah kesaksian hidup dari hal itu. Banyak di antara kita adalah kesaksian hidup itu. “Dulu aku tersesat tetapi sekarang aku ditemukan, buta tapi sekarang melihat”, seperti kata lagu (Amazing Grace) itu.

 

 

When he arrives home the father crosses his arms, “I  knew you were going to come home. You're hungry, aren't you? I know why you came home, because you're hungry. Look at you! What have you been doing! Now I have to put you on trial to see if you're going to behave. And then after a while of trial I'll see if I'll receive you.” Is that the way it happened? No! The father does not lecture him. The father doesn't scold him. The father doesn't even make him promise to obey, because the father already knows that he's going to obey because his heart has been converted by repentance and by confession. He's a new man. So you don't have to enforce obedience where the heart has been changed.

 

Ketika anak itu tiba di rumah, ayahnya berkata dengan tangan terlipat, “Aku sudah tahu kamu akan pulang. Kamu lapar kan? Aku sudah tahu kamu akan pulang karena kamu lapar. Lihat rupamu! Apa yang telah kamu buat? Sekarang aku harus memberimu masa percobaan untuk melihat apakah kamu akan menurut. Setelah itu, setelah masa percobaan itu, nanti aku lihat lagi apakah aku akan menerimamu atau tidak.” Begitukah yang terjadi? Tidak! Ayahnya tidak menguliahinya. Ayahnya tidak memarahinya. Ayahnya bahkan tidak membuatnya berjanji untuk menurut, karena ayahnya sudah tahu anaknya akan menurut krena hatinya sudah diubahkan oleh pertobatan dan oleh pengakuan. Dia sekarang adalah orang baru. Jadi tidak perlu dipaksa untuk menurut bilamana hatinya sudah berubah.

 

 

Page 204 we find these words from Christ’s Object Lessons. “In the parable there is no taunting, no casting up to the prodigal of his evil course. The son feels that the past is forgiven and forgotten, blotted out forever.”

 

Hal. 204 kita dapati kata-kata ini dari Christ’s Object Lessons,  “…Di perumpamaan itu tidak ada ejekan, tidak ada yang mengungkit-ungkit kelakuan jahat anak yang boros itu. Anak itu merasa bahwa masa lalunya telah diampuni dan dilupakan, selamanya terhapus.” 

 

 

Notice verse 21, “…21 And the son said to him…” and notice carefully here  “…21 And the son said to him, ‘Father, I have sinned against heaven and in your sight, and am no longer worthy to be called your son.’…” and by the way the father interrupts him because he was not able to finish his speech, because there was one phrase that isn't in there. He said, ‘Make me as one of your…” what? “…one of your servants.” The father says, cut that short, “You say you're no longer worthy to be called my son, that may be true.” But he doesn't allow him to say, “make me a servant in your household”. The father is saying, “What do you mean ‘servant’? You're my son!” And so he doesn't finish his speech, he's restored not as a servant, he's restored as a son, with all rights and privileges.

 

Simak ayat 21, 21 Dan  kata anak itu kepadanya,…” simak baik-baik di sini, “…21 Dan  kata anak itu kepadanya, ‘Bapak, aku telah berdosa terhadap sorga dan di pemandanganmu, dan tidak layak lagi disebut anak bapak.’…”  Nah, ayahnya memotong bicaranya karena anak itu tidak sempat menyelesaikan kata-katanya, karena ada satu frase yang tidak ada di sini. Dia berkata, “Jadikan aku sebagai satu dari…” apa? “…satu dari  hambamu.” Ayahnya berkata, memotong pendek kalimatnya, “Kamu bilang kamu tidak lagi layak disebut anakku, mungkin itu benar,” tetapi ayahnya tidak mengizinkan anaknya melanjutkan berkata “jadikan aku seorang hamba di rumah tangga Bapak.” Ayahnya berkata, “Apa maksudmu ‘hamba’? Kamu anakku!” Maka anak itu tidak menyelesaikan kata-katanya, dia dipulihkan bukan sebagai seorang hamba, dia dipulihkan sebagai anak, dengan segala wewenang dan hak istimewanya.

 

 

Verse 22, 22 But the father said to his servants, ‘Bring out the best robe and put it on him, and put a ring on his hand and sandals on his feet…” he must have returned home barefoot, he didn't even have shoes on; and who knows, he might not have had clothing either, because now the best robe is going to be placed on, the ring represents the father's authority, it was his signate ring where he signed official documents, he has the father's authority now; and the robe of course represents the robe of Christ's righteousness which covers his unworthiness.

By the way, did you notice that the robe of righteousness is placed upon someone who has confessed his sin, and has repented of sin? It is not placed on someone who is unrepentant, who does not confess sin, who says, “Oh, the righteousness of Jesus will cover all and that's it.”  Only those who have sorrow for sin and a willingness to turn away from sin, receive that robe of righteousness.

 

Ayat 22, 22 Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya, ‘Bawa kemari jubah yang terbaik dan pakaikanlah itu kepadanya, dan kenakanlah sebuah cincin pada jarinya, dan sandal pada kakinya…”  rupanya dia pulang dengan kaki telanjang, dia bahkan tidak punya alas kaki; dan siapa tahu, kira-kira dia juga tidak punya pakaian karena sekarang jubah yang terbaik akan dikenakan kepadanya. Cincinnya melambangkan autoritas ayahnya, itu adalah cincin stempel dengan mana ayahnya menandatangani dokumen-dokumen resmi. Anak itu sekarang memiliki autoritas ayahnya. Dan jubahnya tentu saja melambangkan jubah kebenaran Kristus yang menutupi ketidaklayakannya.

Nah, apakah kalian melihat bahwa jubah kebenaran ini dikenakan pada orang yang telah mengakui dosanya, yang telah bertobat dari dosa? Ini tidak dikenakan pada orang yang tidak bertobat, yang tidak mengakui dosanya, yang berkata, “Oh, kebenaran Kristus akan menutupi semuanya dan itu sudah cukup.” Hanya mereka yang bersedih karena dosa dan memiliki kesediaan untuk berpaling dari dosa, yang akan menerima jubah kebenaran itu.

 

 

And then notice verse 23,  “…23 And bring the fatted calf…” that's important  “…bring the fatted calf here and kill it, and let us eat and be merry;…” that's a word that's going to appear three times “be merry”, “happy”, “let's have a celebration” is what the father is saying.

 

Lalu simak ayat 23, 23 Dan bawalah kemari anak lembu tambun itu…”  ini penting,   “…bawalah kemari anak lembu tambun itu dan sembelihlah dia, dan marilah kita makan dan bersukacita…”  kata ini akan muncul tiga kali, “bersukacita”, “bersenang-senang”, “mari kita rayakan”, itulah yang dikatakan si ayah.

 

 

Say, do you know what the killing of the fatted calf represents? It represents the death of Jesus. That's why we can celebrate. In fact in Leviticus 9:2 we find that the sacrifice of the calf represented the sacrifice of Jesus, because in the Hebrew ritual all of the sacrifices represented the death of Christ. It says there in Leviticus 9:2 the first part of the verse, “ 2… ‘Take for yourself a young bull [calf] as a sin offering…”  so the offering of the young calf is an offering for a sin offering.

 

Nah, tahukah kalian menyembelih anak lembu tambun itu melambangkan apa? Itu melambangkan kematian Yesus. Itulah mengapa kita bisa merayakan. Bahkan di Imamat 9:2 kita lihat bahwa pengurbanan anak lembu melambangkan pengurbanan Yesus, karena di ritual Yahudi semua kurban melambangkan kematian Kristus. Dikatakan di Imamat 9:2 bagian pertama ayat itu, 2 … ‘Ambillah bagimu sendiri seekor lembu muda, untuk kurban penghapus dosa…” jadi dikurbankannya seekor lembu muda adalah kurban untuk penghapusan dosa.

 

 

And then notice verse 24,  “…24 for this my son…” notice, was what?  “…was dead and is alive again;…” has his heart been changed? Has he been born again, so to speak? Obviously, yes, he has died and resurrected spiritually from the dead. And so the father says, “…24 for this my son was dead and is alive again; he was lost and is found.’…”  And it says once again, “…And they began to be…” what? “…to be merry…” they're having a regular party at home to receive this sinner of all things.

 

Lalu simak ayat 24, 24 Sebab ini, anakku…” simak, telah apa? “…telah mati dan hidup kembali,…”  apakah hatinya telah diubahkan? Apakah dia sudah lahir kembali, katakanlah demikian? Jelas iya, dia sudah mati, dan bangkit secara spiritual dari kematian. Maka si ayah berkata, “…24 Sebab ini, anakku telah mati dan hidup kembali, ia telah hilang dan ditemukan kembali.’…” dan dikatakan sekali lagi, “…Dan mereka mulai…” apa?   “…bersukaria…”  mereka mengadakan pesta betulan di rumah untuk menerima si pendosa segala sesuatu ini. 

 

 

And then verse 25 continues the joy. It says, 25 Now his older son was in the field…”   by the way, why was the older son in the field? He was minding his father's business, he was working, that's what he was supposed to be doing, he was following the rules of the household, he was tending the father's fields. And so it says, “…25 Now his older son was in the field. And as he came and drew near to the house, he heard music…” by the way, the Greek word there for music is the word χορός [choros] where we get the word “coro” in Spanish, “choir”. In other words, the father called the choir. Hallelujah! And then it says,  “…he heard music and dancing….” Let me ask you, can you hear dancing? How many of you have ever heard dancing? You've heard dancing? Do you see with your ears?  You know that's a mistranslation. The word here is not “dancing”. This is not presenting the virtues or the disvirtues of dancing. Really the Greek word is the word συμφωνία [sumphōnia], in other words he called the symphony. What you're hearing here is music and a symphony. This is a celebration, a welcome home party, if you please.

 

Kemudian ayat 25 melanjutkan sukacitanya. Dikatakan, 25 Nah, anaknya yang sulung berada di ladang.…”  nah, mengapa anaknya yang lebih tua berada di ladang? Dia sedang mengurusi pekerjaan ayahnya, dia sedang bekerja, itulah yang seharusnya dia lakukan, dia sedang mengikuti peraturan dalam rumahtangganya, dia sedang mengurus ladang ayahnya. Maka dikatakan, “…25 Nah, anaknya yang sulung berada di ladang. Dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar musik…” nah, kata Greeka di sana untuk “musik” adalah kata χορός [choros] dari mana kita mendapatkan kata “coro” dalam bahasa Spanyol, “koor” (paduan suara). Dengan kata lain si ayah memanggil paduan suara. Halleluya! Kemudian dikatakan, “…ia mendengar musik dan tari-tarian…” Coba saya tanya, bisakah kita mendengar tari-tarian? Berapa banyak dari kalian yang pernah mendengar tarian? Kalian pernah mendengar tarian? Apakah kita melihat dengan telinga kita? Kalian tahu, ini suatu salah penerjemahan. Perkataannya di sini bukan “tari-tarian”. Ini tidak sedang membicarakan baik buruknya tari-tarian. Sesungguhnya kata Greekanya adalah συμφωνία [sumphōnia], dengan kata lain si ayah memanggil simfoni (orkes). Apa yang terdengar di sini adalah musik dan sebuah simfoni. Ini adalah suatu perayaan, sebuah pesta menyambut kepulangan ke rumah, katakanlah begitu.  

 

 

Christ’s Object Lessons page 209 you find this statement. “By the elder son…”  listen to this, now we're going to talk about the elder son “…By the elder son were  represented  the unrepenting Jews of Christs day,…” what was represented by the older son? The unrepenting what? Jews of Christ’s day. Were they the chosen people? The chosen chosen? They were the chosen people, were they not? They kept the Sabbath, did they not? They practiced the rules of health, did they not? They tithed, did they not? They fasted twice a week, did they not? They did, and all of those things they should have been doing, but with a different motivation. Because God looks not at the act, but the motive that leads to the act. And by the way you have a very clear relationship here with the message to the Laodiceans. Next Sabbath we're going to actually get into Revelation 3, I wanted to give you these two sermons so that we understand what the problem of Laodicea is. It's a church which is rich and increased with goods and in need of absolutely nothing. But Christ looks at Laodicea from a different perspective. Jesus in fact is outside of the heart of Laodicea, knocking on the door. “Let Me in!” Amazing! Notice it says,   “…the unrepenting  Jews  of Christs day,…” and then she continues saying  “…and also the Pharisees in every age, who look…” now notice this, “…who look with contempt upon those whom they regard as publicans and sinners. Because they themselves have not gone to great excesses in vice, they are filled with self-righteousness.”

 

Christ’s Object Lessons hal. 209, kalian menemukan pernyataan ini, “…Melalui anak yang sulung…”  dengarkan ini, sekarang kita akan bicara tentang anak yang sulung, “…Melalui anak yang sulung, dilambangkan orang-orang Yahudi yang tidak bertobat di zaman Kristus…”  apa yang dilambangkan oleh anak sulung? Apa yang tidak bertobat? Orang-orang Yahudi di zaman Kristus. Bukankah mereka umat pilihan? Yang terpilih dari yang terpilih? Mereka adalah umat pilihan, bukan? Mereka memelihara Sabat, bukan? Mereka mempraktekkan peraturan-peraturan kesehatan, bukan? Mereka mengembalikan persepuluhan, bukan? Mereka berpuasa dua kali seminggu, bukan? Iya, dan semua hal itu memang harus mereka lakukan, tetapi dengan motivasi yang berbeda. Karena Allah tidak melihat pada tindakannya melainkan pada motivasi yang menuntun kepada tindakan itu. Dan di sini ada hubungan yang sangat jelas dengan pesan kepada jemaat Laodekia. Sabat depan kita akan masuk ke Wahyu pasal 3, saya mau memberi kalian dua khotbah ini supaya kita bisa paham apa masalah Laodekia. Inilah sebuah gereja yang kaya dan berkelimpahan harta dan sama sekali tidak kekurangan apa-apa. Tetapi Kristus memandang Laodekia dari perspektif yang berbeda. Sesungguhnya Yesus ada di luar hati Laodekia, sedang mengetuk pintu. “Izinkan Aku masuk!” Luar biasa! Simak, dikatakan,  “…orang-orang Yahudi yang tidak bertobat di zaman Kristus…” lalu Ellen White melanjutkan berkata, “…dan juga orang-orang Farisi dari segala zaman, yang memandang…” sekarang simak ini, “…yang memandang dengan menghina kepada mereka yang mereka anggap pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Karena mereka sendiri tidak melakukan kejahatan yang parah, mereka dipenuhi oleh rasa benar sendiri.” (3/145)

 

 

Like the story of the publican and the Pharisee that we studied in our last sermon. They both come to the temple to pray. The Pharisee prays with himself, says, “Father, I thank You so much that I'm not like other man.”

The Pharisee has two characteristics:

1.    he's self-righteous and

2.    he's intolerant of all those who don't reach his level of self-righteousness.

He's always comparing himself with other people. “I thank You that I'm not like like other man, I tithe, I fast twice a week, I keep the Sabbath.”

Like the rich young ruler, “I've kept all of these from my youth, what do I still lack? I'm rich and increased with goods, and in need of nothing. What's missing?” He said. “There's nothing missing from my life.”

And then he ends his prayer by saying, “And Lord, I thank You especially because I'm not like this miserable publican.” He feels self-righteous and he's down and intolerant with those who do not reach his level of righteousness.

 

Seperti kisah pemungut cukai dan orang Farisi yang sudah kita pelajari di khotbah sebelumnya. Mereka sama-sama datang ke Bait Suci untuk berdoa. Orang Farisi berdoa dengan dirinya sendiri, berkata, “Bapa, aku sangat bersyukur aku tidak seperti orang lain.” Orang Farisi punya dua karakteristik:

1.    dia merasa sudah benar sendiri, dan

2.    dia tidak toleran terhadap semua yang tidak mencapai tahap pembenaran dirinya.

Dia selalu membandingkan dirinya dengan orang lain. “Aku bersyukur aku tidak seperti orang lain, aku mengembalikan persepuluhan, aku berpuasa dua kali seminggu, aku memelihara Sabat.”

Sama seperti penguasa muda yang kaya, “Aku sudah memelihara semuanya ini dari masa mudaku, apa lagi yang masih kurang padaku? Aku kaya dan berkelimpahan harta, dan tidak kekurangan apa pun. Apa yang kurang?” Dia berkata, “Tidak ada yang kurang dari hidupku.”

Kemudian dia mengakhiri doanya dengan mengatakan, “Dan, Tuhan, aku terutama berterima kasih karena aku tidak seperti pemungut cukai yang menyedihkan ini.” Dia merasa benar sendiri dan dia memandang rendah dan tidak toleran terhadap mereka yang tidak mencapai tingkat kebenarannya.

 

 

Now we belong to what I believe to be the true church, the remnant church. We have the right message, we have the right lifestyle. Don't get me wrong, tithing, Sabbath-keeping, health reforming, fasting, very good. But it's a sobering fact that Jesus was killed by a group of Sabbath-keeping, health reforming, fasting, tithing, people. You all come back next Sabbath, okay?

 

Nah, kita termasuk dalam apa yang saya yakini adalah gereja yang benar, gereja umat yang sisa. Kita punya pekabaran yang benar, kita punya pola hidup yang benar. Jangan salah paham, mengembalikan persepuluhan, memelihara Sabat, reformasi kesehatan, berpuasa, sangat bagus. Tetapi adalah fakta yang membuka mata kita bahwa Yesus dibunuh oleh sekelompok orang pemelihara Sabat, pengikut reformasi kesehatan, yang berpuasa, mengembalikan persepuluhan. Kalian semua akan kembali Sabat depan, oke?

 

 

She continues saying, By the elder son  were  represented  the unrepenting  Jews  of Christs day, and also the Pharisees in every age, who look with contempt upon those whom they regard as publicans and sinners. Because they themselves have not gone to great excesses in vice, they are filled with self-righteousness.”

So now the older son is very very concerned. So he doesn't go into the house to talk to his Dad because he's really angry.

 

Ellen White melanjutkan berkata, “…Melalui anak yang sulung, dilambangkan orang-orang Yahudi yang tidak bertobat di zaman Kristus dan juga orang-orang Farisi dari segala zaman, yang memandang dengan menghina kepada mereka yang mereka anggap pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Karena mereka sendiri tidak melakukan kejahatan yang parah, mereka dipenuhi oleh rasa benar sendiri.”

Jadi sekarang anak yang sulung amat sangat khawatir. Maka dia tidak masuk ke dalam rumah untuk bicara kepada ayahnya karena dia benar-benar marah.

 

 

So it says in verse 26, “ 26 So he called one of the servants and asked what these things meant…” “What is all of this? Why has my father called the symphony? Why all of this music in the house? What is the reason for the celebration?” Verse 27, “… 27 And he said to him, ‘Your brother has come,…” notice, “…‘Your brother has come, and because he has received him safe and sound, your father has killed the fatted calf.’…” How does the older son feel? He feels like he has been slapped in the face by his father. “I can't believe it!” He says. “He's having a party for that guy who went and wasted his goods? If anybody deserves a party it's me!”

 

Jadi dikatakan di ayat 26, 26 Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu…” “Ada apa semua ini? Mengapa ayahku memanggil orkes? Mengapa semua musik di dalam rumah? Apa alasan perayaan itu?” Ayat 27, “…27 Jawab hamba itu, ‘Adikmu telah kembali dan karena ia mendapatnya kembali dengan sehat dan selamat, ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun’…” bagaimana perasaan anak yang sulung ini? Dia merasa seolah-olah wajahnya sudah kena tempeleng ayahnya. “Aku tidak bisa terima!” katanya. “Dia mengadakan pesta buat orang yang telah pergi dan menghabiskan hartanya? Jika ada yang layak dipestakan, akulah orangnya!”

 

 

And so it says in verse 28, 28 But he was angry and would not go in. Therefore his father came out and pleaded with him…” He wouldn't even go into the house. And then notice verse 29, “…29 So he answered and said to his father, ‘Lo, these many years I have been serving you;…” notice that he doesn't even call him “Father”, never does the older son call him “Father”, he says, “all of these years I have been serving you”, maybe that was the problem. He was a son with a servant’s mentality. “I've kept your rules, I've kept your laws, I've kept your regulations, I've never gone astray from the house, I've always been here.” In fact, he says, “I never transgressed your commandment at any time.” Can you hear the rich young ruler here? “All these I have kept from my youth, what more do I yet lack?” In other words, “I've kept your law, contrary to this guy who left home.” And then he says, “…I never transgressed your commandment at any time; and yet you never gave me a young goat, that I might make merry with my friends…”

I want you to notice the contrast. The father has the fatted calf sacrificed for the son who left home; but the older son says, “you haven't even  given me a young goat” Do you know what he's really saying? He's saying to his father, even though he doesn't call him “Father”, he says, “You have done the maximum to reward a sinner, while you haven't even done the minimum to reward a righteous person such as me.” Fatted calf versus young goat. “If anybody deserved the fatted calf, it was me, because I've kept your rules and regulations, I've obeyed.”

 

Maka dikatakan di ayat 28, 28 Tetapi marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Maka ayahnya keluar dan membujuknya…” Anak sulung itu bahkan tidak mau masuk ke dalam rumah. Kemudian simak ayat 29, “…29 Jadi ia menjawab ayahnya, katanya ‘Lihatlah, telah bertahun-tahun aku melayanimu…” simak dia bahkan tidak menyebut ayahnya “Ayah”, anak sulung itu tidak pernah menyebut ayahnya “Bapak”. Dia berkata, “Selama bertahun-tahun ini aku melayanimu,” mungkin itulah masalahnya, dia adalah seorang anak dengan mentalitas seorang hamba. “Aku telah menuruti peraturan-peraturanmu, aku telah mematuhi hukummu, aku telah memegang ketentuan-ketentuanmu, aku tidak pernah pergi lepas dari rumah, aku selalu ada di sini.”  Bahkan dia berkata, “Aku tidak pernah melangar perintahmu kapan pun.” Bisakah kalian mendengar si penguasa muda kaya itu di sini? “Semua ini sudah aku turuti dari mudaku, apa lagi yang masih kurang padaku?” Dengan kata lain, “Aku sudah memelihara hukummu, berbeda dengan orang ini yang telah meninggalkan rumah.” Kemudian dia berkata, “…dan belum pernah aku melanggar perintahmu kapan pun, tetapi kepadaku belum pernah engkau berikan seekor anak kambing supaya aku boleh bersenang-senang dengan sahabat-sahabatku.”

Aku mau kalian menyimak perbedaannya. Si ayah telah menyembelih anak lembu tambun untuk kurban bagi anak yang meninggalkan rumah; tetapi anak yang sulung berkata, “engkau bahkan tidak pernah memberiku seekor anak kambing.” Tahukah kalian apa yang sesungguhnya dia katakan? Dia mengatakan kepada ayahnya ~ walaupun dia tidak memanggilnya “Ayah” ~ dia berkata, “Engkau telah berbuat yang maksimum untuk memberi hadiah kepada seorang pendosa, sementara engkau bahkan tidak berbuat yang minimum untuk memberi pahala orang yang benar seperti aku.” Anak lembu tambun versus anak kambing. “Jika ada yang layak menerima anak lembu tambun itu, akulah dia, karena aku telah memelihara semua peraturan dan ketentuanmu, aku sudah patuh.”

 

 

And then notice verse 30,  it gets even worse  “…30 But as soon as this son of yours came,…”  excuse me, notice he doesn't say “as soon as my brother came”. He doesn't even say “Father”, he says, “…as soon as this son of yours came, who has devoured your livelihood with harlots, you killed the fatted calf for him.’…”

Are you seeing what the problem of this older son is? He's self-righteous and he's comparing his righteousness with whom? With the unrighteousness of his brother, instead of looking at the goodness of his father. He's a son with a servants mentality. He serves the father not because he loves the father, but because he wants the father's recognition and reward. He thought he earned the father's inheritance by his works, by his hard work.

 

Lalu simak ayat 30, semakin parah. 30 Tetapi begitu anakmu ini datang,…”  tunggu dulu, simak dia tidak berkata “begitu saudaraku datang”, dia bahkan tidak menyebut “bapak”, dia berkata, “…begitu anakmu ini datang, yang telah memboroskan harta kekayaanmu  dengan pelacur-pelacur, engkau menyembelih anak lembu tambun untuk dia.’…”  Apakah kalian melihat apa masalahnya dengan anak sulung ini? Dia merasa benar sendiri dan dia membandingkan kebenarannya dengan siapa? Dengan ketidakbenaran saudaranya, bukannya dengan melihat kebaikan ayahnya. Dia seorang anak dengan mentalitas seorang hamba. Dia melayani ayahnya bukan karena dia mengasihi ayahnya, tetapi karena dia menginginkan pengakuan dan pahala ayahnya. Dia sangka dia telah mendapatkan warisan ayahnya melakui pekerjaannya, melalui kerja kerasnya.

 

 

In other words, the older son was lost at home. How many here are lost at home? He's just like the rich young ruler ~ who went away sad because he had many possessions, he wouldn't do anything for his fellow human being ~ full of self-righteousness, he was like the vineyard workers. You know Jesus spoke constantly about this in His parables, you know, the individuals that came to work at different hours of the day, 6:00 a.m., 9:00 a.m., 12 noon, 3:00 in the afternoon, the last group comes at 5:00 in the afternoon. When pay time comes the owner of the vineyard pays everyone one Denarius. And what do those who came at 6:00 a.m. say? They're not looking at the goodness of the owner of the vineyard, what do they say? They say, “No! Hold on! We work more and we deserve more!” Is that perhaps the attitude we have? It's not about the amount of work we do, it's about God's kindness and goodness and grace. In other words, the older son is the prototype of the typical Laodicean, rich and increased with goods, and in need of nothing.

 

Dengan kata lain, anak yang sulung itu hilang di rumah. Berapa banyak di sini yang hilang di rumah? Dia ~ persis seperti penguasa muda yng kaya yang pergi dengan hati sedih karena hartanya banyak, dia tidak mau melakukan apa pun bagi sesamanya ~ penuh dengan rasa benar diri. Dia seperti para pekerja kebun anggur. Kalian tahu Yesus senantiasa bicara tentang ini dalam perumpamaan-perumpamaanNya. Nah, orang-orang yang datang untuk bekerja pada jam yang berbeda, pukul 6:00 pagi, 9:00 pagi, 12:00 siang, 3:00 sore, dan kelompok yang terakhir masuk pada pukul 5:00 sore. Ketika tiba saat gajian, pemilik kebun anggur itu membayar setiap orang satu Dinar. Dan apa kata mereka yang masuk pukul 6:00 pagi? Mereka tidak memandang kebaikan pemilik kebun anggur itu. Apa kata mereka? Mereka mengatakan, “Tidak! Tunggu dulu! Kami bekerja lebih banyak dan kami berhak menerima lebih!” Apakah mungkin itu sikap yang kita miliki? Ini bukan mengenai jumlah pekerjaan yang kita lakukan, ini mengenai kebaikan dan kebenaran dan rahmat Allah. Dengan kata lain, anak yang sulung adalah prototipe dari jemat Laodekia pada umumnya, kaya dan berkelimpahan harta dan tidak kekurangan apa-apa.

 

 

And Ellen White has this to say in Christ’s Object Lessons page 210, “When you see yourselves as sinners saved only by the love of your heavenly Father, you will have tender pity for others who are suffering in sin...”  I'm going to read that again.  “When you see yourselves as sinners saved only by the love of your heavenly Father, you will have tender pity for others who are suffering in sin…” 

 

Dan Ellen White mengatakan ini di Christ’s Object Lessons hal. 210,   “…Ketika kita melihat diri kita sendiri sebagai orang-orang berdosa yang diselamatkan hanya oleh kasih Allah Bapa kita di Surga, kita akan punya rasa iba bagi orang-orang lain yang masih menderita dalam dosa…”  Saya akan membacakan itu lagi,   “Ketika kita melihat diri kita sendiri sebagai orang-orang berdosa yang diselamatkan hanya oleh kasih Allah Bapa kita di Surga, kita akan punya rasa iba bagi orang-orang lain yang masih menderita dalam dosa…”

 

 

And then the father tries to reason with his older son. How can you reason with someone? How can you reason with a blind person who doesn't think he's blind? How can you reason with someone who's miserable but thinks he's happy? How can you reason with someone who is naked, and he thinks he's fully clothed?

You said, “You are naked!” 

“Me? You're kidding, I'm not naked.”

He's naked, and he, and he doesn't think he's naked. How in the world can you convince somebody like that? You can't. That's why Ellen White says that salvation for the Pharisees was practically impossible because they were so caught up in self, that the Holy Spirit could not make an impression upon their hearts.

 

Kemudian si ayah mencoba untuk bicara dengan anaknya yang sulung. Bagaimana bisa bicara dengan seseorang? Bagaimana bisa bicara dengan seorang yang buta yang tidak menganggap dia buta? Bagaimana bisa bicara dengan orang yang menyedihkan tetapi yang mengira dirinya senang? Bagaimana bisa bicara dengan orang yang telanjang yang yakin dia berpakaian lengkap?

Kita berkata, “Kamu telanjang!”

“Aku? Yang bener aja, aku tidak telanjang.”

Dia telanjang dan dia tidak menganggap dia telanjang. Bagaimana kita bisa meyakinkan seseorang seperti itu? Tidak bisa. Itulah mengapa Ellen White berkata bahwa bagi orang Farisi keselamatan itu nyaris mustahil karena mereka begitu terperangkap dalam kebenaran diri sendiri sehingga Roh Kudus tidak bisa menanmkan kesan dalam hati mereka.

 

 

Verse 31, 31 And he said to him, ‘Son, you are always with me, and all that I have is yours…” verse 32, “…32 It was right that we should make merry and be glad, for your brother was dead and is alive again, and was lost and is…” what?  “…and is found.’…”

And the story ends.

 

Ayat 31, 31 Dan ayahnya berkata kepadanya, ‘Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu…”  ayat 32,  “…32 Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan hidup kembali, ia telah hilang dan…”  apa?  “…dan ditemukan.’…”  Dan kisahnya berakhir.

 

 

Do you know it makes you wonder how the story ended, how did the older brother accept or listen to his father's logic. Did he, did the father knock some sense into his son and his son started thinking like the father, “Oh, really this brother of mine, he went out into the world, I'm so glad that he's home.” Did the father get to his son, his older son and persuade him, or didn't he? The fact is that this parable was left in suspense on purpose, because at that time the story was still being written. What the scribes and Pharisees would do at that point was still being written. How they would  treat the publicans and the sinners was still being written.

 

Tahukah kalian, ini membuat kita bertanya-tanya bagaimana akhir dari kisah ini, apakah anak yang sulung akan menerima atau mendengarkan logika ayahnya. Apakah si ayah berhasil memasukkan logika ke dalam otak anaknya dan anaknya ini mulai berpikir seperti ayahnya, “Oh, sebetulnya saudaraku ini, dia sudah keluar ke dunia, dan aku sangat senang dia pulang.” Apakah ayahnya berhasil meyakinkan ini kepada anaknya yang sulung dan membujuknya atau tidak? Faktanya ialah, perumpamaan ini sengaja ditinggalkan tanpa kepastian, karena pada waktu itu kisahnya masih sedang ditulis. Apa yang akan dilakukan para ahli Taurat dan orang Farisi pada saat itu masih sedang ditulis. Bagaimana mereka memperlakukan para pemungut cukai dan para pendosa masih sedang ditulis.

 

 

In fact in Christ’s Object Lessons page 209 Ellen White says this, “Was the elder brother brought to see his own mean, ungrateful spirit? Did he come to see that though his brother had done wickedly, he was his brother still? Did the elder brother repent of his jealousy and hardheartedness?  Concerning this, Christ was silent.  For the parable was still enacting,…” the story was still being written, “…and it rested with His hearers to determine what the outcome should be.”

 

Bahkan di Christ’s Object Lessons hal. 209 Ellen White mengatakan ini, “…Apakah saudara yang lebih tua dibuat melihat rohnya sendiri yang jahat dan tidak bersyukur? Apakah dia akhirnya bisa melihat walaupun saudaranya telah berbuat jahat, namun dia tetap masih saudaranya? Apakah saudara yang lebih tua bertobat dari iri hatinya dan kekerasan hatinya? Tentang ini, Kristus bungkam. Karena perumpamaan itu masih sedang berlangsung…”  kisahnya masih lagi ditulis, “…dan itu tergantung pada para pendengarNya yang menentukan apa yang akan terjadi akhirnya.” 

 

 

What will be the outcome in your life and in my life? You know some people say, “I'd rather be in the world than a hypocrite in church.” I don't say that because both are equally lost. In fact, my grandfather, my Mom's Dad never came to church, he says that the church is full of hypocrites, “I can't go to a place that is full of hypocrites.” And so he was out into the world. The fact is folks, that those who go out into the world because they want to get away from God's restrictions, they're dead and lost. And those who are in church who feel self-righteous and good, and look down on those who have left or those who are in the world, are also lost. One is lost away from home, and the other one is lost at home. What God wants is loving sons and daughters of God, who will stay at home, and who will obey the household rules, while they love others because they're obeying out of a motivation of love.

 

Bagaimana akhirnya hidup kalian dan hidup saya? Kalian tahu, ada yang berkata, “Lebih baik saya ada di dunia daripada menjadi seorang yang munafik di dalam gereja.” Saya tidak berkata begitu karena keduanya sama-sama tidak selamat. Faktanya, kakek saya, ayah ibu saya, tidak pernah ke gereja. Dia mengatakan gereja itu penuh orang-orang munafik. “Aku tidak bisa pergi ke tempat yang penuh orang munafik.” Maka dia ada di luar sana, di dunia. Faktanya, Saudara-saudara, mereka yang keluar ke dunia karena mereka mau menghindari pembatasan Allah, mereka mati dan tidak selamat. Dan mereka yang ada di dalam gereja yang merasa benar sendiri dan baik, dan memandang rendah pada yang telah keluar atau yang berada di dunia, juga tidak selamat. Yang satu hilang jauh dari rumah, dan yang lain hilang di dalam rumah. Apa yang diinginkan Allah adalah putra dan putri Allah yang mengasihi, yang mau tinggal di rumah, dan mau patuh pada peraturan rumahtangga, sementara mereka mengasihi orang-orang lain, karena mereka patuh berdasarkan motivasi kasih.

 

 

I don't want to end this sermon this morning without making a call. I don't make a lot of calls at Fresno Central Church, but sometimes I feel that it's appropriate to do so. I want to have a special prayer this morning at the conclusion of my sermon, and I'm just going to ask point blank, is there anyone here who's gone astray from the paths of the Lord? Perhaps you've made a mess out of your life, but you want to say to the Father, “Father, I'm going to come home, I’m coming home. I want You to open Your arms and to embrace me and receive me as Your child.” Is there anyone here this morning that fits that description? You want to stand? Let's stand, why not? You know I don't want you to start guessing and saying, “Oh, you know I wonder what they were doing?”, because then you're a Pharisee, see? Then you're a Pharisee. It matters not.

The second question is even more gripping, because most of us, you know, hey we haven't gone out. It's okay, you can sit down. Most of those who are here haven't gone out into the world, you don't smoke, you don't drink ~ at least I hope not ~ you come to church on Sabbath, you don't eat pork, no lobster, vegans, probably most of those who are here fit within those categories. And so I make a call to the rest of us

this morning. How many of us would like to say to Jesus, “Lord Jesus, there's a bit of a Pharisee in my heart. And Father, I want You to come and I want You to break that heart of mine. I want You to give me Your power to obey You because I love You. And Father, to give me that love for others that comes as a result of receiving Jesus into my heart.” Do you want to raise your hand if you want to ask God, all the Pharisees here this morning? You realize that we're all admitting we're Pharisees. Can we stand? So I want to have a special word of prayer, and I hope, Lord, I hope, that when we leave this place, we're not the same as we were before. You know, we come, we listen to the sermon, we leave and within a day or two, we're back to our same old habits and customs all over again. I pray to God that God will take this message, and He will write it in our hearts and in our minds and that it will impact our lives throughout the course of this week, and throughout the course of our lives. And that the Lord will get rid of that Pharisee, and that if we've gone astray the Lord will bring us home once and for all. Let us pray.

 

Saya tidak mau mengakhiri khotbah ini pagi ini tanpa membuat panggilan. Saya tidak banyak membuat panggilan di Fresno Central Church, tetapi terkadang saya merasa itu tepat untuk dilakukan. Saya mau berdoa istimewa pagi ini di akhir khotbah saya, dan saya akan bertanya terus terang, apakah ada di sini yang telah melenceng dari jalan Tuhan? Mungkin ada yang telah membuat hidupnya kacau tetapi ingin berkata kepada Bapa, “Bapa, aku mau pulang, aku pulang. Aku mau Bapa membuka lengan Bapa dan memeluk aku dan menerima aku sebagai anak Bapa.” Apakah ada yang di sini pagi ini yang sama dengan deskripsi itu? Maukah Anda berdiri? Mari kita berdiri, mengapa tidak? Saya tidak mau kalian mulai menebak-nebak dan berkata, “Oh, kira-kira apa yang telah mereka lakukan?” karena jika demikian, maka kalian adalah orang Farisi, lihat? Kalau begitu kalian seorang Farisi. Itu tidak penting.

Pertanyaan kedua lebih mencekam, karena kebanyakan kita ini, kita belum keluar ~ baik, kalian boleh duduk kembali ~ kebanyakan kita yang ada di sini belum keluar ke dunia. Kita tidak merokok, tidak minum minuman keras ~ setidaknya itu harapan saya ~ kita datang ke gereja pada hari Sabat, kita tidak makan babi, tidak makan lobster, vegan, kemungkinan besar kebanyakan dari kita yang ada di sini masuk dalam kategori ini. Maka saya membuat panggilan kepada sisanya yang lain pagi ini, berapa banyak dari kita yang mau berkata kepada Yesus, “Tuhan Yesus, ada sedikit sifat Farisi dalam hatiku. Dan Bapa, aku mau Engkau datang dan menghancurkan hatiku ini. Aku mau Engkau memberiku kuasaMu untuk mematuhiMu karena aku mengasihiMu. Dan Bapa, untuk memberiku kasih itu bagi sesama sebagai hasil menerima Yesus ke dalam hatiku.” Maukah kalian mengangkat tangan jika kalian mau memohon Allah ~ semua orang Farisi di sini pagi ini? Kalian menyadari bahwa kita semua mengakui bahwa kita adalah orang-orang Farisi? Bolehkah kita berdiri? Supaya saya bisa menaikkan doa khusus, dan saya berharap, Tuhan, saya berharap, ketika kita meninggalkan tempat ini, kita tidak sama dengan kita yang sebelumnya. Kita datang, kita mendengarkan khotbah, kita pulang, dan dalam sehari-dua hari kita kembali ke sifat dan kebiasaan lama kita lagi. Saya memohon kepada Allah, agar Allah akan mengambil pesan ini, dan Dia akan menuliskannya di hati kita, dan di pikiran kita, dan bahwa itu akan berdampak dalam hidup kita sepanjang minggu ini, dan sepanjang umur kita. Dan bahwa Tuhan akan menyingkirkan sifat Farisi itu, dan jika kita telah melenceng jauh, Tuhan, akan membawa kita pulang lagi satu kali untuk selamanya. Mari kita berdoa.

 

 

 

 

 

29 06 26

No comments:

Post a Comment