Sunday, July 26, 2026

EPISODE 04/05 MESSAGE TO LAODICEAN ~ HEART PROBLEM ~ STEPHEN BOHR

 

MESSAGE TO LAODICEAN

Part 04/05 - Stephen Bohr

HEART PROBLEM

https://www.youtube.com/watch?v=pSlWZbO2krg&t=62s

 

 

Dibuka dengan doa.

 


I'd like to invite you to open your Bibles with me to the book of Revelation 3:20. During the last three sermons that I preached here in the church, we have been dealing with the message of the Faithful and True Witness to the church of Laodicea, and we've noticed that the church of Laodicea is our church, the Seventh-Day Adventist church in particular, although it applies generally to Christians, it applies especially to the 7th-Day Adventist Church.

Now in Revelation 3:20 we have the fundamental problem of the church of Laodicea and I would like to read that verse as we begin our study. Revelation 3:20, here Jesus is speaking, and notice what He says to our church, to each one of us individually, “ 20 Behold, I stand at the door and knock. If anyone hears My voice and opens the door, I will come in to him and dine with him, and he with Me.” 

Very strange indeed that Jesus is outside the door of the church of Laodicea, and He's knocking on the door asking for access to the church. You would actually expect Jesus to be inside the door, inside the heart, but it becomes very clear that Laodicea does not have Jesus Christ in the heart. Now, if Jesus isn't in the heart it means that self is on the throne of the heart, because there are only two masters that can control the heart, one is self and the other is Jesus. And Jesus is outside of the church of Laodicea, knocking on the door.

 


Silakan kalian membuka Alkitab kalian bersama saya ke kitab Wahyu 3:20. Di tiga khotbah terakhir yang saya sampaikan di sini di gereja, kita membahas tentang pesan dari Saksi yang Setia dan Benar kepada gereja Laodekia, dan kita sudah menyimak bahwa gereja Laodekia adalah gereja kita, gereja MAHK khususnya, walaupun secara umum itu berlaku bagi orang-orang Kristen, tetapi itu terutama berlaku pada gereja MAHK.

Nah, di Wahyu 3:20 kita melihat masalah fundamental gereja Laodekia, dan saya ingin membacakan ayat itu saat kita memulai pelajaran kita. Wahyu 3:20, di sini Yesus sedang berbicara, dan simak apa yang dikatakanNya kepada gereja kita, kepada setiap masing-masing kita secara individu. 20 Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetuk; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk ke tempatnya dan  makan malam bersamanya dan ia bersama-Ku.”

Memang aneh sekali Yesus ada di luar pintu gereja Laodekia, dan Dia sedang mengetuk pintu, minta masuk ke gereja. Seharusnya kita berharap Yesus berada di sebelah dalam pintunya, di dalam hati, tetapi ternyata sangat jelas bahwa Laodekia tidak memiliki Yesus Kristus di dalam hati. Nah, jika Yesus tidak ada di dalam hati, berarti dirilah yang duduk di takhta hati, karena hanya ada dua majikan yang bisa mengendalikan hati: yang satu adalah diri sendiri, dan yang lain ialah Yesus. Dan Yesus sedang berada di luar gereja Laodekia, sedang mengetuk pintu.

 

 

Now there are two kinds of people with selfish hearts in God's end time church and I would like to especially speak about the second type, although I'm going to touch upon the first type of selfish person in the Laodicean church.

·       The first type are those who claim to serve God ~ because all Laodiceans  claim to serve God ~

and yet even though they claim to serve God, they claim to be followers of Christ, they actually do as they please. In other words, they wish to be saved in their sins. They claim to serve Jesus, they come to church, but they don't much care about their lifestyle because they say, “Well, basically Jesus will take care of it all, it doesn't really matter what I do or don't do, He did it all for me when He died on the cross.” And so this type of individual in the Laodicean church has self on the heart; and incidentally they want to be saved in their sins.

·       But there's a second type of person in the Laodicean church, and this type of person is even more deceived.

This is the individual who claims to serve God and yet seek to cover up an evil heart by a veneer of good works. In other words, they don't believe that we should live as we please, they believe that we should live in harmony with the will of God, but the way in which they go  about it is to try and work out their own salvation, earning salvation through their own works. And they cover an evil heart, a selfish heart, they cover it up by many artificial works which are not produced by the Spirit, but are produced by the person himself or herself. In other words these are the people who want to be saved by their works, basically they are legalists because they feel like by what they do they can earn salvation. That's why it's selfish because they think that by what they do, Jesus can guarantee them salvation.

And those who have the other type of selfish heart, believe that they can do anything and Jesus is their salvation also.

And so both of these kinds of people are found in the Laodicean church.

 

Nah, ada dua jenis orang dengan hati yang egois di dalam gereja akhir zaman Allah. Dan saya mau membahas terutama tentang jenis yang kedua, walaupun saya juga akan bicara tentang jenis orang egois yang pertama di gereja Laodekia.

·       Jenis yang pertama adalah mereka yang mengklaim mengabdi kepada Allah ~ karena semua orang Laodekia mengklaim mengabdi kepada Allah  ~

akan tetapi walaupun mereka mengklaim mengabdi kepada Allah, mereka mengklaim sebagai pengikut Kristus; sesungguhnya mereka berbuat sesuka hati mereka. Dengan kata lain, mereka mau diselamatkan dalam dosa-dosa mereka. Mereka mengklaim mengabdi kepada Yesus, mereka datang ke gereja, tetapi mereka tidak peduli tentang pola hidup mereka karena mereka berkata, “Nah, pada dasarnya Yesus yang akan membereskan itu semua, tidak jadi soal apa yang saya lakukan atau tidak lakukan, Yesus yang melakukannya semua untuk saya ketika Dia mati di salib.”  Maka jenis individu ini di dalam gereja Laodekia, hanya ada dirinya di hatinya; dan mereka mau diselamatkan dalam dosa-dosa mereka.

·       Tetapi ada jenis yang kedua di gereja Laodekia, dan jenis ini bahkan lebih sesat.

Ini adalah individu yang mengklaim mengabdi kepada Allah, namun berusaha menutupi hati yang jahat dengan lapisan perbuatan yang baik. Dengan kata lain, mereka tidak meyakini bahwa kita boleh hidup sesuka hati kita, mereka meyakini bahwa kita harus hidup selaras dengan kehendak Allah, tetapi cara mereka melakukannya ialah dengan berusaha dan mengerjakan sendiri keselamatan mereka, dengan mendapatkan keselamatan sebagai upah perbuatan mereka.  Dan mereka menutupi hati yang jahat, hati yang egois, mereka menutupinya dengan banyak perbuatan baik yang palsu yang tidak dihasilkan oleh Roh, melainkan yang dihasilkan oleh orang itu sendiri.  Dengan kata lain, ini adalah orang-orang yang mau diselamatkan oleh perbuatan mereka, pada dasarnya mereka adalah orang-orang legalis, karena mereka merasa mereka bisa mendapatkan keselamatan melalui apa yang mereka lakukan. Itulah mengapa ini dikatakan egois, karena mereka mengira dengan melakukan apa yang mereka lakukan, Yesus bisa menjamin keselamatan mereka.

Sementara mereka yang dari jenis yang pertama memiliki hati yang egois, mereka meyakini mereka boleh berbuat apa saja dan Yesus itu keselamatan mereka.

Maka kedua jenis ini ada di dalam gereja Laodekia.

 

 

Now allow me to touch upon just briefly the first type of selfish person in the Laodicean church, the person who says, “I serve Jesus but I can do as I please. I don't have to obey the Law, I don't have to  eat different, or speak different, or act differently, or do anything different, because Jesus did it all.”

 

Nah, izinkan saya bicara singkat tentang jenis manusia egois yang pertama di dalam gereja Laodekia, orang yang berkata, “Saya mengabdi kepada Yesus, tapi saya bisa berbuat sesuka hati saya. Saya tidak usah mematuhi Hukum, saya tidak usah makan yang berbeda, atau bicara yang berbeda, atau berbuat yang berbeda, atau melakukan apa pun yang berbeda, karena Yesus sudah melakukan semuanya.”

 

 

The fact is, both of these types of persons have heart problems. Jesus spoke about this type in the gospel of Mark 7:21-23, notice what Jesus has to say to those within the church who think that lifestyle doesn't matter. Now we're going to find that there's two types of people:

(1) those who claim that lifestyle doesn't matter and

(2) those who believe that they're saved because of their lifestyle.

Both are selfish. And there are both types in the Laodicean church.

In Mark 7:21-23 Jesus says this about the first type of sinner, first type of selfish person in the Laodicean church. He says, “ 21 For from within, out of the heart of men, proceed evil thoughts,  adulteries,  fornications, murders, 22 thefts, covetousness, wickedness, deceit,  lewdness, an evil eye,  blasphemy,  pride, foolishness. 23 All these evil things come from within and defile a man’…”

 

Faktanya ialah, kedua jenis orang ini punya masalah hati. Yesus bicara tentang jenis manusia ini di Injil Markus 7:21-23, simak apa kata Yesus mengenai mereka yang ada di dalam gereja yang menganggap pola hidup mereka tidak jadi masalah. Nah, kita akan melihat bahwa ada dua jenis manusia:

(1) mereka yang mengklaim bahwa pola hidup itu tidak menjadi soal, dan

(2) mereka yang meyakini bahwa mereka selamat karena pola hidup mereka.

Keduanya sama-sama egois. Dan di dalam gereja Laodekia ada kedua jenis ini.

Di Markus 7:21-23 Yesus berkata tentang pendosa jenis yang pertama, orang egois tipe pertama di gereja Laodekia. Dia berkata, 21 sebab dari dalam, dari hati orang  timbul segala pikiran jahat, perzinahan, percabulan, pembunuhan, 22 pencurian, keserakahan, kejahatan, penipuan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. 23 Semua kejahatan ini timbul dari dalam dan menajiskan orang."

 

 

So if you see these things outside expressed in the behavior, it's because they are inside. In other words, these things flow from a selfish heart. You know, you look at the Christian world today, they have a form of godliness but they lack the power of godliness. Christians visit the same places of entertainment that non-Christians do. Christians have the same rate of divorce as non-Christians do. Christians go to see the same movies that non-Christians do. Christians eat as worldlings do, and they dress like worldlings do. In other words there's very little distinction seen in the life between the profession and what actually transpires in the life of the person. But the problem is not with the behaviors, the problem was with the heart, because the heart leads to these behaviors.

 

Maka jika kalian melihat hal-hal ini di luar, dinyatakan dalam tindakan, itu karena mereka ada di dalam hati. Dengan kata lain, hal-hal itu mengalir keluar dari hati yang egois. Kalian tahu, jika kita memandang dunia Kristen hari ini, mereka memiliki suatu bentuk kesalehan tetapi mereka tidak punya kuasa kesalehan. Orang-orang Kristen pergi ke tempat hiburan yang sama yang didatangi non-Kristen. Orang-orang Kristen punya tingkat perceraian yang sama dengan yang bukan Kristen. Orang-orang Kristen pergi menonton film yang sama yang ditonton non-Kristen. Orang-orang Kristen makan sama seperti orang-orang dunia, dan mereka berpakaian sama seperti orang-orang dunia. Dengan kata lain hanya ada sedikit sekali perbedaan yang terlihat dalam hidup antara apa yang diyakini dan apa yang benar-benar terjadi dalam hidup seseorang. Tetapi masalahnya bukan pada perbuatannya, masalahnya ada di hatinya, karena hatilah yang menuntun kepada perbuatan-perbuatan itu.

 

 

Now I want to focus especially on the second type of Laodicean.  The first type are those who say, you know, “Jesus did it all, He covers a multitude of sins. And therefore you know my lifestyle is not going to save me, and it's not going to condemn me.” Obviously, they have a bad heart because these things come from an evil heart according to Jesus.

But the second type is even more dangerous. They are described in Matthew 15:8 where Jesus says, speaking about the Jews of His day ~ by the way they were pretty righteous, they were keeping all the standards, they were observing the Sabbath, they were practicing the laws of health, they were fasting twice a week, they were very modest in their dress, they return a faithful tithe even of the smallest things. In other words, these people externally they were very very righteous, but it came from a selfish heart. Notice what Jesus says about these people, This people draweth nigh unto me with their mouth, and honoureth me with their lips; but their heart is far from me.’…” (KJV)

 

Sekarang saya mau fokus terutama pada tipe kedua dari Laodekia. Tipe yang pertama adalah mereka yang berkata, “Yesus sudah melakukan semuanya, Dia sudah menutupi banyak dosa. Dan oleh karena itu pola hidup saya tidak akan menyelamatkan saya, dan tidak akan menghukum saya.” Sangat jelas, mereka punya hati yang busuk karena hal-hal ini datang dari hati yang jahat, menurut Yesus.

Tetapi tipe yang kedua lebih berbahaya. Mereka digambarkan di Matius 15:8 di mana Yesus berkata, berbicara tentang orang-orang Yahudi di zamanNya ~ nah, orang-orang Yahudi itu lumayan saleh, mereka mematuhi semua ketetapannya, mereka memelihara Sabat, mereka mempraktekkan hukum kesehatan, mereka berpuasa dua kali seminggu, mereka berpakaian sangat sopan, mereka mengembalikan persepuluhan dengan setia bahkan sampai hal-hal yang sangat kecil. Dengan kata lain, orang-orang ini secara lahiriah amat sangat saleh, tetapi itu datang dari hati yang egois. Simak apa kata Yesus tentang orang-orang ini. 8 Bangsa ini mendekati Aku dengan mulut mereka, dan menghormati Aku dengan bibir mereka, padahal hati mereka jauh dari-Ku.” (KJV)

 

 

If I could illustrate the point, a bad tree produces bad fruit, that's the first type. A bad heart, bad fruit. By their works, by their fruits you can know if the heart is good or evil.

But the second type of person in Laodicea, the outside actually looks pretty good, so they're much more deceptive. The works look nice, but the works are done through self motivation, and they appear to be righteous before men, but these works are actually coming from an evil heart, but they cover up the evil heart by their supposedly good works, that are seen by men.

If I might illustrate it this way. A bad tree produces bad fruit, but there's a bad tree which apparently has good fruit, but those fruits that are on that tree are hung on the tree by threads to make people think that the tree has good fruit, but the fruit does not come from the nature of the tree, the fruit is artificially hung on the tree. Are you understanding what I'm saying?

 

Coba saya ilustrasikan poin ini. Sebatang pohon yang buruk, menghasilkan buah yang buruk, ini tipe yang pertama. Hati yang busuk, buah yang buruk. Dari perbuatan mereka, dari buah mereka, bisa diketahui apakah hatinya baik atau jahat.

Tetapi tipe yang kedua di Laodekia, bagian luarnya sesungguhnya terlihat lumayan baik, maka mereka lebih menyesatkan. Perbuatan mereka tampak baik, tetapi perbuatan-perbuatan itu dilakukan melalui motivasi sendiri, dan mereka tampak saleh di hadapan manusia, namun perbuatan-perbuatan ini sesungguhnya datang dari hati yang jahat, tetapi mereka menutupi hati yang jahat itu dengan perbuatan mereka yang kelihatannya baik, yang dilihat oleh manusia.

Jika saya bisa mengilustrasikannya demikian, sebatang pohon yang buruk, menghasilkan buah yang buruk. Tetapi ada pohon yang buruk yang tampaknya punya buah yang baik; tetapi buah-buah yang ada di pohon ini digantungkan di pohon itu dengan tali, untuk membuat orang menyangka pohon itu punya buah yang baik. Tetapi buah ini tidak berasal dari pohon itu secara alami, buahnya digantungkan secara buatan pada pohon itu. Apakah kalian paham apa yang saya katakan?

 

 

So you have these two types of Laodiceans. By the way the apostle Paul described this second type of Laodicean by describing them as wanting to be saved by works of Law. You know, you'll find people in the Evangelical world, they'll say to Adventist, “You know, you Adventists believe that you're justified by keeping the Law, that you're made righteous by keeping the Law. But the apostle Paul says that we don't have to have good works, because he says that man is justified by faith without works of Law.” But do you know that that expression “works of Law” in the writings of Paul does not mean good works at all. By definition “works of Law” are bad works. They're bad works because they're works that we perform to try and earn salvation, to try and impress God, to try and impress our fellow human beings. They are artificial fruits, hung on the tree. By definition “works of Law” are not good works, they're bad works because they are good things that are performed with the wrong motivation. You see, the problem with this second group of selfish people is not with their works. The problem is with the motivation for their works. In other words, they do the right things for the wrong reason. They do the right things to impress God, and to impress their fellow human beings, and they are actually deceived to think that they're pretty good, because they have all of these artificial external works that they've hung onto their life, which are not the product of the work of the Holy Spirit. They're selfish works because they are works to exhibit before God and the world, in order to manipulate God into saving them. Are you understanding what I'm saying? Motivations are critically important.

 

Jadi ada dua tipe orang Laodekia. Nah, rasul Paulus menggambarkan tipe Laodekia yang kedua ini dengan menggambarkan mereka minta diselamatkan melalui melakukan Hukum. Kalian tahu, ada orang-orang dari dunia Evangelis, mereka berkata begini kepada orang-orang Advent, “Kalian orang Advent meyakini kalian dibenarkan oleh memelihara Hukum, kalian dibenarkan melalui mematuhi Hukum. Tetapi rasul Paulus mengatakan kita tidak perlu punya perbuatan baik, karena dia bilang manusia dibenarkan oleh iman tanpa perbuatan Hukum.” Tetapi tahukah kalian, ungkapan “perbuatan Hukum” dalam tulisan Paulus sama sekali tidak berarti perbuatan-perbuatan yang baik. Definisi “perbuatan-perbuatan Hukum” adalah perbuatan-perbuatan yang buruk. Mereka itu perbuatan-perbuatan buruk karena mereka adalah perbuatan-perbuatan yang kita lakukan untuk mencoba mendapatkan keselamatan sebagai upah dari perbuatan-perbuatan itu, untuk mencoba mengesankan Allah, untuk berusaha mengesankan sesama manusisa. Mereka itu buah-buah buatan, yang sengaja digantungkan di pohon itu. Menurut definisi “perbuatan-perbuatan Hukum” itu bukan perbuatan-perbuatan baik, itu perbuatan-perbuatan buruk karena mereka itu hal-hal baik yang dilakukan berdasarkan motivasi yang salah. Kalian lihat, masalahnya dengan kelompok kedua orang-orang egois ini bukanlah pada perbuatan-perbuatan mereka. Masalahnya ialah pada motivasi perbuatan-perbuatan mereka. Dengan kata lain, mereka melakukan hal-hal yang benar demi alasan yang salah. Mereka melakukan hal-hal yang benar untuk mengesankan Allah, dan mengesankan sesama manusia, dan mereka benar-benar tertipu menyangka bahwa mereka cukup saleh, karena mereka memiliki semua perbuatan eksternal yang palsu yang mereka gantungkan pada hidup mereka, yang bukan produk pekerjaan Roh Kudus. Mereka itu perbuatan-perbuatan egois karena mereka itu perbuatan-perbuatan untuk dipamerkan di hadapan Allah dan dunia, untuk memanipulasi Allah agar menyelamatkan mereka. Apakah kalian paham apa yang saya katakan? Motivasi itu amat sangat penting.

 

 

I want to read some statements from Ellen White. There're several of them where she describes the importance of motives, you know not always our works are an indicator of good or evil, but the motivations that led to those works, determines whether the work is good or evil. Isn't that true that a lot of things we do, things for self, a lot of times we do things for selfish reasons, and it appears pretty good? I'm going to give you some examples a little bit later on of things that happen in the Adventist church where externally it looks real good, but the motivation is wrong. And God looks at the motivation, not at the work.

 

Saya mau membacakan beberapa pernyataan dari Ellen White. Ada beberapa dari mereka di mana dia menggambarkan pentingnya motif. Tidak selalu perbuatan-perbuatan kita menjadi indikator itu baik atau jahat, melainkan motivasi yang menuntun kepada perbuatan-perbuatan tersebut yang menentukan apakah perbuatan itu baik atau jahat. Tidakkah benar bahwa banyak perbuatan yang kita lakukan untuk diri sendiri, seringkali kita melakukannya untuk alasan egois, dan itu tampaknya cukup baik? Saya akan memberikan beberapa contoh nanti tentang hal-hal yang terjadi di gereja Advent di mana secara lahiriah tampaknya sangat baik tapi motivasinya salah. Dan Allah memandang motivasinya, bukan perbuatannya.

 

 

Steps to Christ page 30 listen to this, “The drunkard is despised and is told that his sin will exclude him from heaven; while pride, selfishness, and covetousness too often go unrebuked. But these are sins that are especially offensive to God;…” have you ever thought that pride, selfishness, and covetousness are more offensive to God than getting drunk? “Oh, he’s a drunk! He's never going to heaven, he won't inherit the kingdom of God. The Bible's clear on that!” Yes, but according to Ellen White there are sins that are even worse than that, because these sins, the sin of drunkenness or whatever springs from these internal attitudes and motivations. She says,  “…But these are sins that are especially offensive to God; for they are contrary to the benevolence of His character, to that unselfish love which is the very atmosphere of the unfallen universe….”  Now notice this.  “…He who falls into some of the grosser sins…”  by the way did the Pharisees keep their eye on the grosser sins? Oh, man! Did they ever! You just walk a little bit too far on Sabbath, that was a grosser sin. You don't tithe every single penny, that's a grosser sin. They catch you eating a little bit of shrimp, that is a grosser sin, according to them. By the way, it's not that those things are not sin, don't misunderstand me. She says,  “…He who falls into some of the grosser sins may feel a sense of his shame and poverty and his need of the grace of Christ;…”  isn't that true that people that are out there in the world, they're sinning like the Prodigal Son that we talked about last time? They become frustrated with their Christian life, they say, “Oh, desperate man, oh, wretched that I am.  Who shall deliver me from this body of death?” They feel their need. They feel like they need a deliverer. But notice what Ellen White says about  the Laodicean who is self-sufficient. She says, “… but pride feels no need,…” what is it the Laodicea says? “I am rich and increased with goods and have…” what? “…need of nothing.”   “…but pride feels no need and so it closes the heart…”  see, there's the door that leads into the heart. But closes  “…and so it closes the heart against Christ and the infinite blessings He came to give.”

 

Steps to Christ hal. 30, dengarkan ini, “…Si pemabuk dihina dan diberitahu bahwa dosanya akan membuatnya ditolak oleh Surga; sementara kesombongan, mementingkan diri, dan keserakahan terlalu sering dibiarkan tanpa teguran. Tetapi inilah dosa-dosa yang terutama dibenci Allah…”  pernahkah kita pikirkan bahwa kesombongan, mementingkan diri, dan keserakahan, lebih dibenci Allah daripada mabuk? “Oh, dia pemabuk! Dia tidak akan pernah masuk Surga, dia tidak akan mewarisi kerajaan Allah. Alkitab sangat jelas tentang itu!” Ya, tetapi menurut Ellen White ada dosa-dosa yang lebih buruk daripada iitu, karena dosa-dosa ini, dosa mabuk atau apa pun, itu muncul dari sikap internal dan motivasi. Ellen White berkata,  “…Tetapi inilah dosa-dosa yang terutama dibenci Allah karena mereka itu bertentangan dengan karakterNya yang mahabaik, bertentangan dengan kasih yang tanpa pamrih yang adalah suasana alam semesta yang tidak berdosa…” Sekarang simak ini.    “…Dia yang jatuh ke dalam beberapa dosa yang lebih mencolok…”  nah, mengapa orang-orang Farisi memasang mata mereka pada dosa-dosa yang lebih mencolok? Astaga! Sungguh! Jika ada yang berjalan sedikit lebih jauh dari yang seharusnya pada hari Sabat, itu dosa yang mencolok. Jika orang tidak mengembalikan persepuluhan atas setiap sen, itu dosa yang mencolok. Jika mereka menangkap basah ada yang makan sedikit udang, itu dosa yang mencolok, menurut mereka. Nah, tidak berarti hal-hal itu bukan dosa, jangan salah mengerti saya. Ellen White berkata,   “…Dia yang jatuh ke dalam beberapa dosa yang lebih mencolok, bisa merasakan perasaan malu dan kekurangannya, dan kebutuhannya akan karunia Kristus…”  bukankah orang-orang di luar sana di dunia, mereka yang berbuat dosa seperti Anak yang Boros yang kita bahas di pelajaran yang lalu? Mereka frustrasi dengan kehidupan Kekristenan mereka, mereka berkata, “O, manusia yang tidak punya harapan, oh, manusia celakalah aku. Siapa yang akan menyelamatkan aku dari tubuh kematian ini?” Mereka merasakan kebutuhan mereka. Mereka merasa mereka membutuhkan penyelamat. Tetapi simak apa kata Ellen White tentang orang Laodekia yang merasa cukup segalanya. Dia berkata,  “…tetapi kesombongan tidak merasa punya kebutuhan…” apa yang dikatakan orang Laodekia? “Aku kaya dan berkelimpahan harta dan tidak butuh…” apa? “…apa pun.”  “…tetapi kesombongan tidak merasa punya kebutuhan, dengan demikian hati pun ditutupnya…”  lihat, ini pintu yang membuka ke hati. Tetapi menutup,  “…dengan demikian hati pun ditutupnya terhadap Kristus dan berkat-berkat yang tidak terbatas yang Dia datang untuk menganugerahkan.” (3/146)

 

 

Here's another statement found in Gospel Workers page 111, Ellen White says this, “Many acts…”  listen to this, “…Many acts which pass for good works, even deeds of benevolence, will, when closely investigated, be found to be prompted by wrong motives.” Did you get that? Even good works, when they're scrutinized, it will be found that they were prompted by what? Wrong motives. Listen to this, “Many receive applause for virtues which they do not possess…” Wow!  “…The Searcher of hearts weighs the motives, and often deeds highly applauded by men are recorded by Him as springing from selfishness…”  selfish motives “…and base hypocrisy…” that is an amazing statement. She continues saying,  “…Every act of our lives, whether excellent and praiseworthy, or deserving of censure, is judged by the Searcher of hearts according to the motives which prompted it.” In other words, God evaluates our works on the basis of the motivation that led to that work. If God did that with us, where would we stand?

 

Ini ada pernyataan yang lain yang ada di Gospel Workers hal. 111. Ellen White mengatakan demikian, “…Banyak perbuatan…” dengarkan ini, “…Banyak perbuatan yang dianggap perbuatan yang baik, bahkan perbuatan kebajikan, bila diamati dengan teliti, akan ditemukan itu dipicu oleh motivasi-motivasi yang salah…”  Apakah kalian menangkap itu? Bahkan perbuatan-perbuatan baik, bila mereka diamati dengan seksama, akan ditemukan mereka telah dipicu oleh apa? Motivasi-motivasi yang salah. Dengarkan ini. “…Banyak orang menerima pujian untuk kebaikan-kebaikan yang tidak mereka miliki…” Wow! “…Sang Penyelidik hati menimbang motivasi-motivasinya, dan seringkali perbuatan-perbuatan yang sangat dipuji manusia dicatat olehNya sebagai timbul dari keegoisan…”  motivasi yang egois    “…dan kemunafikan yang hina…”  ini adalah pernyataan yang mengagumkan. Ellen White melanjutkan berkata, “…Setiap tindakan dalam hidup kita, apakah itu hebat dan layak dipuji, atau layak mendapatkan teguran, dinilai oleh Sang Penyelidik hati menurut motivasi-motivasi yang memicunya.”  Dengan kata lain, Allah menilai perbuatan-perbuatan kita berdasarkan motivasi yang menimbulkan perbuatan tersebut. Jika Allah melakukan hal itu pada kita, di manakah posisi kita.

 

 

Here's another statement. Sons and Daughters of God page 171, she says this, “Every action derives its quality from the motive which prompts it,…”  once again,   “…Every action derives its quality from the motive which prompts it…”

 

Ini ada pernyataan yang lain. Sons and Daughters of God, hal. 171, Ellen White mengatakan ini, “…Setiap perbuatan dinilai mutunya dari motivasi yang memicunya…”  Satu kali lagi.    “…Setiap perbuatan dinilai mutunya dari motivasi yang memicunya.” 

 

 

Child Guidance page 201. “Every course of action has a twofold character and importance. It is virtuous or vicious, right or wrong, according to the motive which prompts it…”   have you ever thought that a good act could be vicious, and that an evil act could be righteous, depending on the motivation that comes from the heart? You see, the problem of Laodicea is that Laodicea has a heartless religion, it has many good qualities outside, I mean, we observe many standards, and we have many teachings, and we have many practices and many beliefs that we uphold, but the question is, are we upholding these things because they come from the heart, or are these artificial works hung on the tree by string?

 

Child Guidance hal. 201.    “…Setiap perbuatan yang telah dirancang, memiliki dua karakter dan kepentingan. Itu baik atau jahat, benar atau salah, bergantung pada motivasi yang memicunya…”  pernahkah kalian berpikir bahwa suatu tindakan yang baik bisa bersifat jahat, dan suatu tindakan jahat bisa benar, tergantung pada motivasi yang datang dari dalam hati? Kalian lihat, masalah Laodekia ialah Laodekia punya agama tanpa hati, dia punya banyak kualitas di luarnya, maksud saya, kita mematuhi banyak ketentuan, dan kita punya banyak ajaran, dan kita punya banyak praktek dan keyakinan yang kita pegang, tetapi pertanyaannya ialah, apakah kita memegang hal-hal ini karena mereka datang dari dalam hati, atau apakah ini adalah tindakan-tindakan buatan yang digantungkan pada pohon dengan tali?

 

 

One final statement from Ellen White Vol. 5 of The Testimonies page 279. She says, “It is not the greatness of the work, but the love with which it is done, the motive underlying the action, that determines its worth…”   what is it that determines the value of our works? The motivation that leads to those works. In other words, if we're doing the works to be recognized by God, to be saved by God, and to be recognized by our fellow human beings, even though they are good works, they are done for the wrong motivation, and they are written in God's books as bad works, because they are works of Law, they are not works of love. They are not works of faith. They are artificial works that we do. They are selfish works. And Laodicea is rich and increased with goods and in need of nothing.  Laodicea is like the Pharisee like we've studied in the story of the Pharisee and the publican. “Thank You, God I'm not like other men. Oh, I fast twice a week, I keep the Sabbath, I tithe, I don't eat anything I'm not supposed to eat, I dress exactly the way I'm supposed to, I only walk a certain distance on the Sabbath day, I'm ready for translation.”  And then you have that publican over there, miserable tax collector, works for the IRS, I'm not saying no moral judgment on the IRS, but that was the IRS back then. He says, “I especially thank You that I'm not like that miserable publican over there.” Now the Pharisee had a lot of good works, didn't he? Oh, yeah. He tithed the mint, the dill, and the cumin. Oh he kept the Sabbath from sundown to sundown, not a minute more or a minute less. He didn't put anything into his mouth that was forbidden by God. In other words, he had all of the works right, but they were works produced with the wrong motivation, they did not come from the heart, they were self-propelled works, if you please. And you know what? We can hide our works from men, we can hide the intentions of our hearts from men by our works done externally, but we cannot hide the motivations from God.

 

Satu pernyataan yang terakhir dari Ellen White, The Testimonies Vol. 5 hal. 279, dia berkata, “…Bukan kehebatan perbuatan itu, tetapi kasih dengan mana perbuatan itu dilakukan, motivasi yang mendasari tindakan itu; itulah yang menentukan nilainya…”   apakah yang menentukan nilai perbuatan kita? Motivasi yang melahirkan perbuatan itu. Dengan kata lain, jika kita melakukan perbuatan itu supaya diakui Allah, supaya diselamatkan Allah, dan mendapat pengakuan dari sesama umat manusia, walaupun itu perbuatan yang baik, tapi itu dilakukan demi motivasi yang salah, dan di kitab Allah itu tertulis sebagai perbuatan yang buruk, karena itu adalah perbuatan untuk memenuhi Hukum, bukan perbuatan dari kasih. Itu bukan perbuatan iman. Itu perbuatan yang palsu yang kita lakukan. Itu perbuatan yang egois. Dan Laodekia kaya dan berkelimpahan harta dan tidak kekurangan apa-apa. Laodekia itu seperti si orang Farisi yang kita pelajari dalam kisah orang Farisi dan pemungut cukai. “Aku bersyukur, Allah, aku tidak seperti orang-orang lain. Oh, aku berpuasa dua kali seminggu, aku memelihara Sabat, aku menyerahkan persepuluhan, aku tidak makan apa-apa yang dilarang, aku berpakaian yang seharusnya, aku hanya berjalan sepanjang jarak yang ditentukan pada hari Sabat, aku siap diangkat ke Surga.” Kemudian ada si pemungut cukai di sana, pemungut cukai yang menyedihkan, yang bekerja untuk kantor pajak, saya tidak berkata tidak ada penghakiman moral pada orang-orang kantor pajak, tetapi itulah kantor pajak di zaman itu. Orang Farisi itu berkata, “Aku terutama bersyukur aku tidak seperti pemungut cukai yang menyedihkankan itu di sana.” Nah, orang Farisi itu punya banyak perbuatan baik, bukan? Oh, iya, dia menghitung persepuluhan atas mint, adas, dan jintan. Oh, dia memelihara Sabat dari matahari terbenam hingga matahari terbenam, tidak lebih satu menit, tidak kurang satu menit. Dia tidak memasukkan apa-apa yang dilarang Allah ke dalam mulutnya, dengan kata lain perbuatannya semuanya benar, tetapi itu adalah perbuatan yang dihasilkan oleh motivasi yang salah, itu tidak datang dari dalam hati, itu adalah perbuatan yang dimunculkan dari diri sendiri, katakanlah demikian. Dan kalian tahu, kita bisa menyembunyikan perbuatan kita dari manusia, kita bisa menyembunyikan niatan hati kita dari manusia lewat perbuatan-perbuatan yang kita lakukan secara eksternal, tetapi kita tidak bisa menyembunyikan motivasinya dari Allah.   

 

 

Notice Hebrews  4:12 and 13, it says here, 12 For the Word of God is quick…” that means living  “…and powerful, and sharper than any two-edged sword, piercing even to the dividing asunder of soul and spirit, and of the joints and marrow, and is a discerner of the thoughts and intents of the heart…”  what does the Word of God search out? By the way, the Word is Jesus, we're going to notice in a moment. It discerns the thoughts and intents of the heart “…13 Neither is there any creature that is not manifest in his sight: but all things are naked and opened unto the eyes of him with whom we have to do.” (KJV)

So you know, we can hide a wicked heart from human beings by all of the works that we perform, but God analyzes the intentions and the motivations of the heart. He knows the reason why we do things, and many things which are written in the books as “evil works” human beings proclaim them to be great works of love and charity.

 

Simak Ibrani 4:12-13, dikatakan di sini, 12 Sebab Firman Allah itu hidup, dan berkuasa, dan lebih tajam daripada pedang bermata dua mana pun; menembus bahkan sampai ke pemisahan jiwa dan roh, dan dari sendi-sendi dan sumsum; dan adalah pengenal dari pikiran dan niat hati. …”  Apa yang digali keluar oleh Firman Allah? Nah, Firman itu Yesus, kita akan melihatnya. Firman itu mengenali pikiran dan niat hati, “…13 Dan tidak ada makhluk apa pun yang tidak tampak dalam pandanganNya, tetapi segala sesuatu telanjang dan terbuka di mata Dia, dengan Siapa kita berurusan.” (KJV)

Jadi, kita tahu, kita bisa menyembunyikan hati yang jahat dari sesama manusia melalui semua perbuatan yang kita lakukan, tetapi Allah menganalisa niatnya dan motivasi hatinya. Dia tahu alasannya mengapa kita berbuat sesuatu, dan banyak hal yang tercantum dalam kitab-kitab sebagai “perbuatan jahat”, dinyatakan manusia sebagai perbuatan kasih dan amal yang hebat.

 

 

Now I want to give you several practical examples, and I want to go back to the times of Jesus just for a moment. Let me ask you, did the Jews of Christ's day give alms for the poor? Were they charitable? Oh, yes, they were charitable. Did they want everybody to know that they were charitable? Oh, yes! Were they looked upon as being very generous? Oh sure. Notice Matthew 6:1-4, remember it's the motivation not the act that God evaluates. Here Jesus says in Matthew 6:1-4, 1Take heed that ye do not your alms before men, to be seen of them: otherwise ye have no reward of your Father which is in heaven. 2 Therefore when thou doest thine alms,…” that means charity by the way, giving to the poor,  “…do not sound a trumpet before thee, as the hypocrites do in the synagogues and in the streets, that they may have glory of…” whom?  “…of men…” by the way, did they appear to be very generous in what they were giving? Oh, yes! Some very large amounts, but did they want everybody to know it? Oh, yes! How did God write down the work of charity that they were doing? How did God write it down in the books? As an evil work. Jesus says,  “…Verily I say unto you, they have their reward. 3 But when thou doest alms,…” in other words, when you give the charity   “…let not thy left hand know what thy right hand doeth: 4 That thine alms may be in secret: and thy Father which seeth in secret Himself shall reward thee openly.” (KJV)

 

Sekarang saya mau memberi kalian beberapa contoh praktis, dan saya mau kembali ke zaman Yesus sejenak lamanya. Coba saya tanya, apakah orang-orang Yahudi di zaman Kristus memberikan sumbangan bagi orang miskin? Apakah mereka murah hati? Oh iya, mereka sangat murah hati. Apakah mereka mau setiap orang tahu bahwa mereka itu murah hati? Oh, ya! Apakah mereka dipandang sebagai sangat murah hati? Tentu saja. Simak Matius 6:1-4, ingat yang dinilai Allah itu bukan perbuatannya tapi motivasinya. Di sini di Matius 6:1-4 Yesus berkata, 1Berhati-hatilah, jangan kamu melakukan amalmu di hadapan orang supaya dilihat mereka; kalau tidak, kamu tidak beroleh hadiah dari Bapamu yang di sorga. 2 Karena itu apabila engkau berbuat amal…”  itu maksudnya memberi sumbangan, memberi bantuan kepada orang miskin,  “…janganlah membunyikan terompet di depanmu seperti yang dilakukan orang-orang munafik di rumah-rumah ibadah dan di jalan-jalan, supaya mereka boleh dimuliakan…” oleh siapa?   “…manusia…”  Nah, apakah mereka tampak sangat murah hati dengan apa yang mereka berikan? O, iya! Ada yang jumlahnya besar sekali. Tetapi apakah mereka ingin semua orang tahu? O, iya! Bagaimana Allah mencatat perbuatan amal yang mereka lakukan? Bagaimana Allah menulisnya di buku-bukuNya? Sebagai perbuatan yang jahat. Yesus berkata,     “…Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, mereka sudah mendapat hadiahnya. 3 Tetapi jika engkau berbuat amal,…” dengan kata lain, ketika engkau memberi amal,   “…janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu 4 supaya amalmu itu secara rahasia, maka Bapamu yang melihat yang rahasia, Dia sendiri akan memberimu hadiah secara terbuka.” (KJV)

 

 

Does this help illustrate what we're talking about the problem with Laodicea? See, Laodicea is the most generous church in the world. Do you know there's no church that comes near the Seventh-Day Adventist church in giving of tithes and offerings, not even the Catholic church rivals the Adventist church per capita, and yet the question is what is the motivation for giving, is it because we think that maybe God might condemn us if we don't give? Is the reason perhaps because we want to be recognized as very generous people? Let me ask you, can a philanthropist give a huge amount of money with selfish reasons? How does God write that down in His books when a philanthropist gives millions of dollars to a certain project and it's publicized in magazines, it's publicized in the newspaper, it's publicized in television, and everybody says, “Wow! This guy's really generous.” But what if he did it because he wanted the recognition? That good work is written down by God as an evil work, because it's not the fruit of love, it's artificial, it's selfish, because it seeks to bring attraction to the person. This is the problem with Laodicea. Outside you know, lots of leaves, outside rich and increased with goods and in need of nothing; but the inside does not lead to that exterior lifestyle.

 

Apakah ini membantu mengilustrasikan apa yang kita bicarakan tentang masalah Laodekia? Lihat, Laodekia adalah gereja yang paling murah hati di dunia. Tahulkah kalian tidak  ada gereja lain yang mendekati gereja MAHK dalam memberikan persepuluhan dan persembahan, bahkan tidak juga gereja Katolik bisa menandingi gereja Advent per kapita, namun pertanyaannya ialah, apakah motivasi memberikan itu, apakah karena kita sangka Allah mungkin akan menghukum kita jika kita tidak memberi?  Apakah alasannya mungkin karena kita ingin dikenal sebagai umat yang sangat murah hati? Coba saya tanya, bisakah seorang filantropis memberikan sejumlah besar uang dengan alasan yang egois? Bagaimana Allah akan mencantumkan itu dalam kitab-kitabNya ketika seorang filantropis memberikan jutaan dollar untuk sebuah proyek dan itu dipublikasikan di majalah-majalah, di surat-surat kabar, di televisi, dan semua orang berkata, “Wow! Orang ini sungguh-sungguh murah hati!” Tetapi bagaimana jika dia melakukannya karena dia ingin dikenal? Perbuatan baik ini oleh Allah ditulis sebagai perbuatan yang jahat, karena itu bukan buah dari kasih, itu palsu, itu egois, karena itu demi mendatangkan perhatian kepada si pemberi. Inilah masalah Laodekia. Di luarnya, ada banyak sekali daun, di luarnya kaya dan berkelimpahan harta dan tidak kekurangan apa pun; tetapi bagian dalamnya tidak menuntun ke pola hidup eksteriornya.

 

 

Allow me to address another issue of the days of Christ: prayer ministries. I know I'm treading on dangerous ground right now. Is prayer very important? Yes, it is. Is it possible to pray for the wrong reason? Yes or No? Is it possible to pray as a religious exercise to be seen by people, so that people think that we're very spiritual individuals? You know, one of the dangers I see in the present day Seventh-Day Adventist churches that you know~ and not that there shouldn't be an emphasis on prayer ~ but there's the idea that people who pray all the time publicly are very spiritual people. There's danger, danger in that. Notice what Jesus had to say in Matthew 6:5 and 6, He said, 5 And when thou prayest, thou shalt not be as the hypocrites are: for they love to pray standing in the synagogues and in the corners of the streets, that they may be seen of men…” in other words, “we're very very spiritual. Look, we publicly pray here. See how spiritual we are!” “…Verily I say unto you, They have their reward…” what is their reward by the way? Recognition. You know, if that's what you want as a reward, you're going to get it. But you're going to lose your eternal reward. But then Jesus says this,  “…6 But thou, when thou prayest, enter into thy closet, and when thou hast shut thy door, pray to thy Father which is in secret; and thy Father which seeth in secret shall reward thee openly.”

 

Izinkan saya membahas isu yang lain di zaman Kristus: pelayanan doa. Saya tahu saya sedang meniti di jalan yang berbahaya sekarang. Apakah doa itu penting? Ya, benar. Apakah mungkin berdoa demi alasan yang salah? Ya atau Tidak? Apakah ada kemungkinan berdoa sebagai suatu praktek relijius untuk dilihat orang, supaya orang menganggap kita adalah individu-individu yang sangat rohani? Kalian tahu, salah satu bahaya yang saya lihat sekarang ada di gereja-gereja MAHK yang kita kenal ~ bukan maksud saya tidak boleh ada penekanan pada doa ~ tetapi ada sebuah konsep bahwa orang-orang yang selalu berdoa secara publik adalah orang-orang yang sangat rohani. Ada bahayanya dengan hal itu. Simak apa kata Yesus di Matius 6:5-6, Dia berkata, 5 Dan apabila kamu berdoa, janganlah seperti orang-orang munafik, karena mereka suka berdoa sambil berdiri di rumah-rumah ibadah dan di pojok-pojok jalan, supaya mereka boleh dilihat orang…”  dengan kata lain, “kami sangat spiritual. Lihat, kami berdoa secara publik di sini. Lihat, betapa spiritualnya kami!” “… Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, mereka sudah mendapat hadiahnya…”  apa hadiah mereka? Pengakuan. Kalian tahu, jika itulah yang kalian inginkan sebagai hadiah, kalian akan mendapatkannya. Tetapi kalian akan kehilangan hadiah yang kekal. Kemudian Yesus berkata demikian, “…6 Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, dan ketika kamu menutup pintumu, berdoalah kepada Bapamu secara rahasia. Maka Bapamu yang melihat secara rahasia akan memberi hadiah kepadamu secara terbuka.”

 

 

We need more closet prayer, don't we? Because when you pray in the closet it's very sincere and very open, because you're not doing it to make people think you're spiritual, or to make people think that you belong to a special group that's more spiritually oriented, a special cadre of individuals. It's sincere, it comes from the heart.

Now I'm not condemning public prayer, it's very important to have public prayer, but we need to ask ourselves the question, whether the intent and purpose of it is to give a veneer of spirituality. We have to examine our motivations in other words for public prayer. And by the way, prayer must come from the heart, not from the lips. Deuteronomy 4:29 we're told, 29 But if from thence thou shalt seek the LORD thy God, thou shalt find Him, if thou seek Him with all thy heart and with all thy soul.” Prayer has to come from the heart. If it's from the lips, it's useless.

And by the way, for God to listen to our prayers we cannot regard iniquity in our hearts, because the Lord will not hear. Psalm 66:18 makes that very clear. Now you can pray, pray, till you're blue in the face, but if you're hiding iniquity in your heart, the Lord will not  hear.

 

Kita membutuhkan lebih banyak doa pribadi, bukan? Karena jika kita berdoa sendirian, itu tulus dan sangat terbuka karena kita tidak melakukannya untuk membuat orang menganggap kita spiritual, atau untuk membuat orang berpikir kita masuk kelompok yang istimewa yang lebih berorientasi kepada kerohanian, kelompok kader istimewa. Doa pribadi itu tulus, itu datang dari hati.

Nah saya tidak menyalahkan doa umum, doa umum itu sangat penting. Tetapi kita perlu bertanya kepada diri sendiri, apakah niat dan tujuan doa itu untuk memberikan lapisan penutup kerohanian. Dengan kata lain kita harus memeriksa motivasi kita sendiri untuk doa umum. Dan ketahuilah, doa harus datang dari hati bukan dari bibir. Ulangan 4:29 memberitahu kita, 29 Tetapi jika dari sana engkau akan mencari TUHAN, Allahmu, engkau akan menemukan-Nya, asal engkau mencariNya dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu.”  Doa harus datang dari hati, jika itu dari bibir, itu percuma.

Dan ketahuilah, bagi Tuhan untuk mendengarkan doa-doa kita, kita tidak boleh menyimpan dosa di dalam hati. Karena Tuhan tidak mau mendengar. Mazmur 66:18 sangat jelas menerangkan itu. Kita boleh berdoa, berdoa, sampai wajah kita berwarna biru, tetapi bila kita menyembunyikan dosa di dalam hati, Tuhan tidak mau mendengar.

 

 

Let's talk a little bit about baptisms and church growth. We're talking about externals that appear to be very good, but with the wrong motivation. You know, in the Adventist church now we're baptizing thousands and thousands of people every day, on a worldwide basis, and I say, “Praise the Lord!” as long as they're well prepared for baptism. But is it just possible that this desire to have a huge number of baptisms could have a selfish motivation? Because this Division will be greater than the other Division, and they'll have more representatives to constituency sessions than the other one? Is it possible that a pastor could baptize many, many people with the intention of baptizing more than his colleagues? It's not only a possibility, it's happening.

 

Mari kita bicara sedikit tentang pembaptisan dan pertumbuhan gereja. Kita bicara tentang yang eksternal yang tampaknya sangat bagus, tetapi dengan motivasi yang salah. Kalian tahu, gereja Advent sekarang membaptiskan beribu-ribu orang setiap hari di seluruh dunia dan saya berkata, “Puji Tuhan!” selama mereka memang sudah disiapkan benar-benar untuk dibaptis. Tetapi apakah mungkin hasrat untuk mencapai angka baptisan yang tinggi ini punya motivasi egois? Karena Divisi ini akan dianggap lebih hebat daripada Divisi yang lain, dan mereka akan memiliki lebih banyak wakil-wakil dalam rapat-rapat konstituen daripada Divisi yang lain? Apakah mungkin seorang pendeta membaptiskan banyak, banyak orang dengan tujuan membaptiskan lebih banyak daripada kolega-koleganya? Ini bukan hanya sebuah kemungkinan, ini sudah terjadi. 

 

 

As you know, I travel many different places, and you know I travel quite a bit to Latin America, and there's such a great emphasis on numbers that it makes me wonder whether perhaps we are coming to the point that David came to, when he did a census of Israel, and the purpose why he did it was to show that Israel was so great because it had so many people. Is it possible to have a huge number of baptisms and to say “Hallelujah, praise the Lord” when really the heart is praising itself?

We need to examine our hearts because that's Laodicea. Laodicea says, “How many, look, how many people we baptize, look how much money is being given in tithes and offerings, look how much is being given in charity” and so on, but is it being done with the right motivation? Each one of us has to examine his heart or her heart to see if it is.

 

Seperti yang kalian ketahui, saya bepergian ke banyak tempat, dan saya sering ke  Amerika Latin, dan di sana ada penekanan yang sangat besar pada jumlah yang membuat saya bertanya-tanya apakah barangkali kita tiba di titik di mana Daud pernah berada, ketika dia membuat sensus pada Israel, dan tujuannya melakukan itu ialah untuk menunjukkan bahwa Israel sudah sedemikian besarnya karena dia punya begitu banyak rakyat. Apakah mungkin mencapai jumlah baptisan yang besar dan berkata, “Haleluya puji Tuhan” padahal sesungguhnya hati sedang memuji dirinya sendiri?

Kita perlu menyelidiki hati kita sendiri karena begitulah Laodekia. Laodekia berkata, “Lihat, berapa banyak orang yang sudah kami baptiskan. Lihat, berapa banyak uang yang sudah diserahkan di persepuluhan dan persembahan. Lihat, berapa banyak yang telah diberikan sebagai amal” dan seterusnya, tetapi apakah itu dilakukan dengan motivasi yang benar? Setiap orang di antara kita harus menyelidiki hatinya untuk melihat apakah demikian.

 

 

And then we can talk about giving in the church. Remember Israel in the wilderness, they did it the right way. Do you know that we're told in Exodus chapter  35 that when Moses made an appeal for the people to bring an offering for the building of the Tabernacle, do you know it says that each one was moved in his heart to bring money or to bring actually jewelry and things like that, that they'd  ransacked from the Egyptians. What happened when they brought it from the heart? Listen folks, the Bible tells us that there was so much that was brought that Moses had to say, “Stop!” Boy, wouldn't that be the day at Fresno Central when at the end of the year, you know, the pastors have to say, “Folks, don't bring anymore! The bank account is bursting. It's going to blow up the computer!” I'm exaggerating to make a point. Do you know what? At Fresno Central church we don't have a money problem, we don't have a wallet problem, we don't have a purse problem, we've got a heart problem. And you know what? We're not saved by tithing, but if we steal from God we're not going to be saved either. Are you with me? Because some people are saying, “Pastor Bohr's going off the deep end, he's saying,  he's talking against good works.” Ah-ah, I'm talking about works, truly good works, that come from the heart.

 

Kemudian kita bisa bicara tentang memberi di dalam gereja. Ingat bangsa Israel di padang gurun, mereka melakukannya dengan cara yang benar. Tahukah kalian kita diberitahu di Keluaran pasal 35 bahwa ketika Musa membuat permohonan kepada umat agar membawa persembahan untuk pembangunan Tabernakel, tahukah kalian dikatakan di sana bahwa setiap orang tergerak hatinya untuk membawa uang, atau tepatnya membawa perhiasan dan hal-hal seperti itu yang tadinya mereka ambil dari bangsa Mesir. Apa yang terjadi ketika mereka menyerahkannya dari hati? Dengarkan, Saudara-saudara, Alkitab memberitahu kita bahwa ada begitu banyak yang diserahkan sampai Musa harus berkata, “Stop!” Alamak, andaikan saja itu terjadi di Fresno Central, ketika di akhir tahun, pendeta-pendetanya harus berkata, “Saudara-saudara, jangan membawa lagi! Rekening banknya sudah meletus. Komputernya akan meledak!” Saya melebih-lebihkan untuk membuat poin. Kalian tahu, di gereja Fresno Central kita tidak punya masalah uang, kita tidak punya masalah dompet, kita punya masalah hati. Dan kalian tahu, kita tidak diselamatkan oleh persepuluhan, tetapi jika kita mencuri dari Allah, kita juga tidak akan selamat. Apakah kalian mengikuti saya?  Karena ada orang yang berkata, “Pastor Bohr sudah kehilangan akal warasnya, dia bicara menentang perbuatan baik.” Tidak, tidak, saya bicara tentang perbuatan yang sungguh-sungguh baik, yang berasal dari hati.  

 

 

And by the way, there's two kinds of lost people in the Laodicean church.

·       those people who think that they can live as they please

·       and those people who perform good works on their own.

Both groups are lost.

 

Nah, jadi ada dua jenis manusia yang tidak selamat di gereja Laodekia.

·       Mereka yang berpikir mereka boleh hidup sesuka hati mereka.

·       Dan mereka yang melakukan perbuatan baik dari diri mereka sendiri.

Kedua-duanya tidak selamat.

 

 

What God wants is individuals with new hearts, that do things for the right motivation, that's what God wants. Those are the only kinds of people that God can save because God cannot save a selfish heart. God loves the cheerful giver.

 

Apa yang diinginkan Allah adalah orang-orang dengan hati yang baru, yang berbuat berdasarkan motivasi yang benar, itulah yang dikehendaki Allah. Itulah satu-satunya jenis orang yang bisa diselamatkan Allah, karena Allah tidak bisa menyelamatkan hati yang egois. Allah mengasihi pemberi yang memberi dengan sukacita.

 

 

You remember the story of The Widow's Mites found in Mark chapter 12? Very interesting story. You know it says that many of the rich people, you know, there was this public coffer where people came and dropped in their money, and you can catch the image, the real rich people were coming and they were dropping in, you know, where people could see it, dropping in their big donations, their huge donations, and of course  there were probably people standing around saying, “Wow! Did you see that?” By the works it appeared to be wonderful, they were giving a lot. Then here comes this little old widow with her two mites, the last thing she had on planet earth, and she comes up unnoticed. Jesus noticed her, and the disciples hadn't noticed her because Jesus says to the disciples, “Hey, look, look, look!” The disciples, they were all caught up in these rich people putting the money in, saying, “Wow! Those are really, the Lord is going to really reward them.” And here comes this little widow. She puts in her two mites almost unnoticed, and she walks by. Jesus said, she gave more than all the rest combined, because Jesus looked at the motive He did not look at the amount. Are you understanding what I'm saying?

 

Kalian ingat kisah Uang Dua Koin Perempuan Janda di Markus pasal 12? Kisah yang sangat menarik. Kalian tahu, ada banyak orang kaya, datang ke kotak persembahan umum di mana orang-orang datang untuk memasukkan uang mereka, dan kalian bisa membayangkan gambarnya bagaimana orang-orang yang betul-betul kaya datang dan mereka memasukkan uang mereka di mana bisa dilihat banyak orang, memasukkan donasi mereka yang besar, donasi mereka yang banyak, dan tentu saja ada orang-orang yang berdiri di sana berkata, “Wow! Apa kalian melihat itu?” Perbuatan itu tampaknya bagus, mereka memberi banyak. Kemudidan datanglah seorang perempuan janda tua dengan dua koinnya, harta terakhir yang dimilikinya di planet bumi. (Menurut Google 1 koin itu kira-kira 1/8 sen atau 1/128 dinar, 1 dinar adalah upah buruh 1 hari). Dan perempuan janda itu datang tanpa dilihat orang. Yesus melihatnya. Para murid tidak melihatnya karena Yesus berkata kepada murid-muridNya, “Hei, lihat, lihat, lihat!” Para murid semuanya sedang sibuk melihat orang-orangn yang kaya memasukkan uang mereka, mengatakan, “Wow! Itu benar-benar hebat. Tuhan pasti akan memberi mereka pahala.” Dan masuklah perempuan janda itu. Dia memasukkan dua koinnya nyaris tidak terlihat, dan dia berlalu. Yesus berkata, perempuan itu telah memberi lebih banyak daripada semua yang lain dijumlah, karena Yesus melihat motivasinya, bukan jumlahnya. Apakah kalian paham apa yang saya katakan? 

 

 

You know if we took this to heart we would have our church budget cleared up by next Sabbath. By the way I didn't prepare this sermon to talk about church budget, but you know if everyone in this church had a transformed and changed heart, we wouldn't have any deficit in our church budget. I know we always get caught up in December. You say, “Don't worry Pastor, we'll get caught up.” And I'm sure we will, in fact when you get your newsletter you'll see I put “I thank God because God is going to help us reach our church budget”. But the problem isn't with our church budget, the problem is that there are many people in the church who are not giving anything to the Lord. That shows a heart problem. And there are others that perhaps are giving for the wrong motivation, for the wrong reason. Somehow we have to get our heart right and our giving  right. Isn't it true that we spend a lot of money on things that we don't need, and then when it comes to the Lord we say, “Oh, Lord, I don't have enough money to return my tithes  and pay offerings.” Listen, if we sat down and we figured how much money we wasted, that the waste that could have gone into the cause of God, I'll bet you our conscience would be awakened very quickly.

 

Kalian tahu, jika kita memasukkan ini di hati kita, anggaran gereja kita sudah akan beres Sabat yang akan datang. Nah, saya tidak menyiapkan khotbah ini untuk bicara tentang anggaran gereja, tetapi kalian tahu jika semua orang di gereja ini memiliki hati yang sudah ditransformasi dan diubahkan, kita tidak akan mengalami defisit di anggaran gereja kita. Saya tahu kita selalu bisa menutupnya di bulan Desember. Kalian berkata, “Jangan khawatir, Pastor, kita akan bisa menutupnya.” Dan saya yakin kita akan, bahkan kalian akan menerima bulletin gereja dan kalian akan melihat saya menulis, “Bersyukur karena Allah akan membantu kita mencapai anggaran gereja kita.” Tetapi masalahnya bukanlah anggaran gereja kita. Masalahnya ialah ada banyak orang di gereja yang tidak memberikan apa pun kepada Tuhan. Ini menunjukkan adanya masalah hati. Dan ada yang lain yang mungkin memberi berdasarkan motivasi yang salah, alasan yang salah. Entah bagaimana kita harus membenahi hati kita dan cara pemberian kita. Bukankah kita memboroskan banyak uang pada hal-hal yang tidak kita butuhkan, kemudian tiba giliran Tuhan kita berkata, “Oh, Tuhan, aku tidak punya cukup uang untuk mengembalikan persepuluhanku dan memberi persembahanku.” Dengarkan, jika kita duduk dan menghitung berapa banyak uang yang telah kita hamburkan, uang yang kita hamburkan itu bisa diserahkan untuk pekerjaan Allah, saya bertaruh hati nurani kita akan menjadi sangat cepat sadar.

 

 

How about the observance of the Sabbath? You know on Christ's day the observance of the Sabbath was a big show, a big show of piety. They kept the Sabbath because they wanted people to see how wonderfully they kept the Sabbath, and because they wanted to impress God. They actually believed that they could be saved if they kept the Sabbath very carefully and very strictly.

Now is Pastor Bohr saying that we shouldn't keep the Sabbath anymore, that we don't have to be strict in our Sabbath observance? No! What I'm saying is that when our heart is right our Sabbath observance will be right. And then our Sabbath observance will be recognized and accepted by God.

 

Bagaimana dengan pemeliharaan Sabat? Kalian tahu, di zaman Kristus, pemeliharaan Sabat merupakan pertunjukan besar, pertunjukan besar kesalehan. Mereka memelihara Sabat karena mereka mau orang-orang melihat betapa hebatnya mereka memelihara Sabat, dan karena mereka mau membuat Allah terkesan. Mereka sungguh meyakini mereka bisa diselamatkan jika mereka memelihara Sabat dengan teliti dan sangat ketat.

Nah, apakah Pastor Bohr mengatakan kita tidak usah memelihara Sabat lagi, bahwa kita tidak perlu ketat dalam memelihara Sabat kita? Tidak! Apa yang saya katakan ialah, bila hati kita benar, pemeliharaan Sabat kita benar. Lalu pemeliharaan Sabat kita akan diakui dan diterima Allah.

 

 

And there's two kinds of Laodiceans  in the church as I've mentioned.

1.    There's those individuals who have become very lax in their Sabbath observance

because they say it's grace, it's not Law. Those people have a problem with their hearts because if their heart was right, their Sabbath observance would be right.

2.    And then there are those that keep the Sabbath real strictly

and they're constantly looking out of the corner of the eye to see who's not keeping it the way they do. They're also lost because their Sabbath observance doesn't come from the heart, their Sabbath observance is simply an external veneer to try and hide wickedness, selfishness in the heart.

 

Ada dua jenis orang Laodekia di gereja, seperti yang sudah saya katakan.

1.    Ada individu-individu yang menjadi sangat longgar dalam pemeliharaan Sabat mereka

karena mereka berkata itu kasih karunia, itu bukan Hukum. Orang-orang ini punya masalah dengan hati mereka karena jika hati mereka benar, pemeliharaan Sabat mereka juga akan benar.

2.    Lalu ada mereka yang memelihara Sabat dengan sangat ketat

dan mereka selalu melihat dari ujung mata mereka siapa-siapa yang tidak memelihara Sabat seperti mereka. Mereka juga tidak selamat karena pemeliharaan Sabat mereka tidak datang dari hati, pemeliharaan Sabat mereka semata-mata lapisan luar untuk mencoba menyembunyikan kejahatan, keegoisan di dalam hati.

 

 

God actually wants both. He wants us to give generously and He wants us to give from the heart. You know in Isaiah chapter 58 that famous chapter about the Sabbath, you know, about taking our foot away from the Sabbath, from doing our own will on God's holy day, have you ever read that passage? Allow me to read it. Verses 1-7 Isaiah 58:1-7 it says, 1 Cry aloud, spare not, lift up thy voice like a trumpet, and shew My people their transgression, and the house of Jacob their sins. 2 Yet they seek Me daily,…” notice, they're very religious, “…they seek Me daily and delight to know My ways as a nation that did righteousness …” see,  “…as a nation that did righteousness, and forsook not the ordinance of their God…” in other words, they're fulfilling what God has told them that they're supposed to do, “…they ask of Me the ordinances of justice; they take delight in approaching to God…” and now notice what they say to God. “…3 Wherefore have we fasted, say they, and Thou seest not?...” we fast and You don't even notice it, Lord!  “…Wherefore have we afflicted our soul, and Thou takest no knowledge?...” And then God says,  “…Behold, in the day of your fast, ye find pleasure, and exact all your labours. 4 Behold, ye fast for strife and debate, and to smite with the fist of wickedness: ye shall not fast as ye do this day, to make your voice to be heard on high. 5 Is it such a fast that I have chosen? a day for a man to afflict his soul? Is it to bow down his head as a bulrush, and to spread sackcloth and ashes under him? Wilt thou call this a fast, and an acceptable day to the LORD?...” See, they were very religious people, but they weren't spiritual. Is it possible to be religious and not spiritual? Yes! In fact, they're very religious. They're saying, “Lord, why don't You recognize it? Come on, we're fasting. Come on, pat us on the back.” And now notice what God tells to them.  “…6 Is not this the fast that I have chosen? to loose the bands of wickedness, to undo the heavy burdens, and to let the oppressed go free, and that ye break every yoke? 7 Is it not to deal thy bread to the hungry, and that thou bring the poor that are cast out to thy house? when thou seest the naked, that thou cover him; and that thou hide not thyself from thine own flesh?” (KJV). Practical religion. Religion that comes from the heart, not to be seen of men, but as a natural response to the love of God, to Jesus being present in the heart.

 

Sesungguhnya Allah minta keduanya. Dia mau kita memberi dengan murah hati, dan Dia mau kita memberi dari hati. Kalian tahu di Yesaya pasal 58, pasal yang terkenal tentang Sabat, tentang tidak menginjak-injak Sabat, dari melakukan kehendak kita sendiri di hari Allah yang kudus, pernahkah kalian membaca kutipan itu? Izinkan saya membacakannya, ayat 1-7. Yesaya 58:1-7 mengatakan,1 Serukanlah kuat-kuat, janganlah tahan-tahan! Angkatlah suaramu seperti sebuah terompet, dan tunjukkanlah umat-Ku pelanggaran mereka, dan kaum keturunan Yakub dosa mereka! 2 Namun  mereka mencari Aku setiap hari…”  simak, mereka sangat relijius, “…mereka mencari Aku setiap hari, dan gemar mengenal segala jalan-Ku seperti bangsa yang melakukan apa yang benar…”  lihat,   “…seperti bangsa yang melakukan apa yang benar, dan yang tidak meninggalkan Hukum Allah mereka…”  dengan kata lain mereka memenuhi apa yang dikatakan Allah kepada mereka supaya mereka lakukan, “…Mereka bertanya kepadaKu tentang hukum-hukum keadilan, mereka gemar menghampiri Allah…”  dan sekarang simak apa yang mereka katakan kepada Allah, “…3 ‘Mengapa kami telah berpuasa’, kata mereka,  ‘dan Engkau tidak melihatnya?…”kami berpuasa dan Engkau bahkan tidak melihatnya, Tuhan.  “…Mengapa kami telah menyelidiki hati dan Engkau tidak mengindahkannya?’…” Lalu Allah berkata, “…‘Faktanya, pada hari puasamu engkau mencari kesenangan, dan mengeksploatasi semua buruhmu. 4 Lihat, engkau berpuasa untuk bertengkar dan berbantah, dan untuk memukul dengan kepalan kejahatan. Engkau tidak akan berpuasa seperti yang engkau lakukan hari ini, untuk membuat suaramu didengar di tempat tinggi. 5 Puasa inikah yang Kupilih? Satu hari bagi manusia supaya menyelidiki hatinya? Apakah supaya dia menundukkan kepalanya seperti gelagah, dan membentangkan goni hitam dan abu? Apakah engkau akan menyebut ini puasa, dan hari yang diperkenan TUHAN?...”  Lihat, mereka adalah orang-orang yang sangat relijius, tetapi mereka tidak spiritual. Apakah mungkin relijius dan tidak spiritual? Ya! Bahkan mereka sangat relijius. Mereka berkata, “Tuhan, mengapa Engkau tidak mengenalinya? Ayo, kita sedang berpuasa. Ayo, tepuklah kami di punggung.” Dan sekarang simak apa kata Allah kepada mereka, “…6 Bukankah puasa inilah yang telah Kupilih? Untuk membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan beban-beban yang berat, untuk memerdekakan yang tertindas, dan mematahkan setiap kuk? 7 Bukankah untuk berbagi rotimu dengan orang yang lapar dan engkau membawa orang miskin yang terusir ke rumahmu?  Bila engkau melihat orang telanjang supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan dirimu terhadap saudaramu sendiri?…”  agama praktis. Agama yang datang dari hati, bukan untuk dilihat manusia, tetapi sebagai respons yang alami kepada kasih Allah, kepada Yesus yang ada di dalam hati.

 

 

Now listen to what I'm going to say. God is less impressed with what we eat than why we eat it. Do you think God is impressed, you know, for example, say I'm a lacto-ovo vegetarian, do you think God is really impressed with that? Do you know it's possible for me to be a lacto-ovo vegetarian or a vegan with the purpose of appearing to be better than others who aren't? How does God write that down? Good question, right? Or are we vegans because we love Jesus and we want to be more like Jesus, and we have a clear mind in a healthy body, we're able to approach Him more closely? That would be from the heart, right?

Jesus is less impressed with what we give than why we give it. God is less impressed with what we do than why we do it. God is less impressed with what we wear than why we wear it. God is less impressed with where we go than why we go. You see, did Jesus visit the parties of the publicans and sinners? Did Jesus visit their parties? Oh, sure, He did. And so the Pharisees accused Him being a party animal. They did. They said, “He eats with publicans and sinners and He drinks.” Why did Jesus go to those activities? Because He wanted to reach out to that group. By the way, they had a good rapport with Him. Even though it looked like He was doing something wrong, was His motivation right? Absolutely! I'll bet if one of our people went to a certain party where people were drinking and dancing and so on, we'd have a few raised eyebrows in our church. But the person might have gone to reach out to these people. So it's a wrong action apparently with the right motivation. God writes it down as a good act, even though before human beings it appears to be evil.

 

Nah, dengarkan apa yang akan saya katakan. Allah kurang terkesan dengan apa yang kita makan daripada dengan mengapa kita memakannya. Kalian pikir Allah terkesan misalnya, katakanlah saya seorang vegetarian lacto-ovo, kalian pikir Allah sungguh terkesan dengan itu? Tahukah kalian mungkin saja saya menjadi vegetarian lacto-ovo atau seorang vegan dengan tujuan tampil lebih baik daripada orang lain yang bukan? Bagaimana Allah akan mencatatnya? Pertanyaan yang bagus, bukan? Atau apakah kita menjadi vegan karena kita mengasihi Yesus dan kita ingin menjadi lebih menyerupai Yesus, punya pikiran yang jernih dalam tubuh yang sehat, dan kita bisa menghampiriNya lebih dekat lagi? Ini berasal dari hati, benar?

Yesus lebih tidak terkesan dengan apa yang kita berikan daripada mengapa kita memberikannya. Allah lebih tidak terkesan dengan apa yang kita lakukan daripada mengapa kita melakukannya. Allah lebih tidak terkesan dengan apa yang kita kenakan daripada mengapa kita mengenakannya. Allah lebih tidak terkesan dengan ke mana kita pergi daripada mengapa kita pergi. Kalian lihat, apakah Yesus menghadiri pesta-pesta para pemungut cukai dan orang-orang berdosa? Apakah Yesus menghadiri pesta-pesta? Oh, tentu saja iya. Maka orang-orang Farisi menuduhNya sebagai tukang pesta. Itu tuduhan mereka. Mereka berkata, “Dia makan bersama para pemungut cukai dan orang-orang berdosa dan Dia minum.” Mengapa Yesus pergi ke kegiatan-kegiatan tersebut? Karena Dia mau menjangkau kelompok itu. Nah, mereka punya hubungan yang baik denganNya. Walaupun tampaknya seakan-akan Dia melakukan sesuatu yang salah, apakah motivasiNya benar? Tentu saja! Saya bertaruh jika salah satu anggota kita pergi ke pesta tertentu di mana orang-orang minum minuman keras dan berdansa, dan seterusnya, pasti ada yang mengangkat alis mereka di gereja kita. Tetapi orang itu mungkin saja pergi untuk menjangkau orang-orang itu. Jadi itu perbuatan yang salah tapi ternyata dengan motivasi yang benar. Allah mencatatnya sebagai perbuatan yang baik, walaupun di hadapan manusia itu tampaknya jahat.

 

 

You see, folks, what God wants is our heart. Jesus wants to come into our heart. He wants to live in us and through us. He wants us to produce good works. He wants us to tithe. He wants us to eat right. He wants us to observe the Sabbath. He wants us to dress the way we should. He wants us to participate in entertainment which is appropriate for the Christian. He wants us to do all of these things. But He wants us to do it as a response to having Him in our hearts and not as a veneer to show our spirituality, to earn brownie points with God, and to impress our fellow human beings. So what God wants us to have is a new heart. Do you know what God says? We have to have a our heart circumcised. See, if it's a heart problem we need to resolve the problem with heart. You know what many many Seventh-Day Adventists try to resolve the problem by getting rid of sins? “Oh, I'll overcome this sin” and “I'll overcome that sin” and then when you've overcome this one, you say, “Good, that one's taken care of.” You go overcoming this one, and this one comes back, because the heart is wrong. But when the heart is right, the life will be right.

 

Kalian lihat, Saudara-saudara, apa yang diinginkan Allah ialah hati kita. Yesus ingin masuk ke dalam hati kita. Dia mau tinggal dalam kita dan hidup melalui kita. Dia mau kita menghasilkan perbuatan-perbuatan baik. Dia mau kita menyerahkan persepuluhan. Dia mau kita makan yang benar. Dia mau kita memelihara Sabat. Dia mau kita berpakaian yang seharusnya. Dia mau kita berpartisipasi dalam hiburan yang pantas bagi orang Kristen. Dia mau kita melakukan semua ini. Tetapi Dia mau kita melakukannya sebagai respons kehadiranNya di dalam hati kita, dan bukan sebagai lapisan penutup untuk memamerkan spiritualitas kita, untuk mendapatkan angka baik dari Allah, dan untuk mengesankan sesama manusia.

Jadi apa yang Allah mau kita punya adalah hati yang baru. Tahukah kalian apa kata Allah? Kita harus menyunat hati kita. Lihat, jika masalahnya adalah masalah hati, kita perlu menyelesaikan masalah itu dari hati. Tahukah kalian banyak orang MAHK mencoba menyelesaikan masalahnya dengan menyingkirkan dosa? “Oh, aku akan mengatasi dosa ini” dan “aku akan mengatasi dosa itu”, kemudian ketika kita sudah mengatasi dosa yang ini, kita berkata, “Bagus, yang ini sudah tertangani”, dan kita lanjut mengatasi dosa yang satunya, dan dosa yang pertama kembali, karena hatinya tidak benar. Tetapi bilamana hatinya benar, hidup akan menjadi benar.

 

 

In Deuteronomy 30:6 we're told this, 6 And the LORD thy God will circumcise thine heart, and the heart of thy seed, to love the LORD thy God with all thine heart, and with all thy soul, that thou mayest…” what?   “…that thou mayest live.” (KJV)

 

Di Ulangan 30:6 kita diberitahu ini, 6 Dan TUHAN, Allahmu, akan menyunat hatimu dan hati keturunanmu, agar mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, supaya  engkau boleh…” apa?  “…supaya engkau boleh  hidup.” (KJV)

 

 

The apostle Paul said in Philippians 3:3, 3 For we are the circumcision, which worship God in the Spirit, and rejoice in Christ Jesus, and have no confidence in the flesh.”

The Jews of Christ's day had confidence in the flesh because you know, they did all these things. The apostle Paul says, “That's not really the circumcision. The true circumcision are those who worship God in the Spirit and rejoice in Jesus Christ.”

 

Rasul Paulus berkata di Filipi 3:3, 3 Karena kita inilah sunat itu,  yang beribadah kepada Allah dalam Roh, dan bersukacita dalam Kristus Yesus, dan tidak mengandalkan daging.” Orang Yahudi di zaman Kristus mengandalkan daging, karena mereka yang melakukan semua hal ini. Rasul Paulus berkata, “Itu bukan sunat yang sesungguhnya. Sunat yang sesungguhnya adalah mereka yang beribadah kepada Allah dalam Roh dan bersukacita dalam Yesus Kristus.”

 

 

By the way this means that God wants to give us a heart transplant. You know God doesn't go around putting pacemakers in. He doesn't do bypass surgery. He doesn't change valves and He doesn't do angioplasty. In other words, God doesn't repair our heart. When we consent, He changes our heart, He takes out the heart of stone and He puts in there a heart of flesh. And then Jesus won't be knocking outside asking for access. Jesus will be inside the heart. We hold back too much from Jesus.

 

Nah, ini berarti Allah mau memberi kita transplantasi hati. Kalian tahu, Allah tidak keliling memasang alat pacu jantung. Dia tidak melakukan bedah bypass. Dia tidak mengganti katup, dan Dia tidak melakukan angioplasty (operasi pembuluh darah yang buntu). Dengan kata lain Allah tidak memperbaiki hati kita. Bilamana kita setuju, Dia mengganti hati kita, Dia mengeluarkan hati yang dari batu dan Dia memasukkan hati dari daging. Setelah itu Yesus tidak perlu mengetuk di luar pintu minta akses. Yesus akan berada di dalam hati. Kita sudah menahan terlalu banyak dari Yesus.

 

 

And by the way, I'll mention once again, because I don't want anybody to get the wrong impression that I'm saying that you know we can live any type of lifestyle that we want, because I'm not going to be a Pharisee, I'm not going to be a hypocrite. You know my grandfather from my mother's side never came to church because he said the church is full of hypocrites. True, the church has lots of hypocrites, but it's not our role to determine who is and who isn't. That's the role of the Holy Spirit.

 

Nah, saya katakan sekali lagi, karena saya tidak mau ada yang mendapat kesan yang salah bahwa saya mengatakan kita boleh menghidupkan pola hidup model apa saja sesuka hati kita, karena saya tidak akan menjadi seorang Farisi, saya tidak mau menjadi seorang yang munafik. Kalian tahu, kakek saya dari pihak ibu tidak pernah datang ke gereja karena dia mengatakan gereja itu penuh orang munafik. Betul, gereja punya banyak orang munafik, tetapi bukan tugas kita untuk menentukan siapa yang munafik dan siapa yang bukan. Itu peranan Roh Kudus.

 

 

When the heart is right the actions will be right. Notice this text from Psalm 37:31, here the psalmist says, listen to this, 31 The law of his God is in his heart;…” because when God gives us a heart of flesh He then writes His Law in our heart.  “…31 The law of his God is in his heart; none of his steps shall slide...”  Will we walk correctly if our heart is right? Absolutely.

 

Ketika hatinya benar, tindakannya akan benar. Simak ayat ini dari Mazmur 37:31, di sini pemazmur berkata, dengarkan ini, 31 Hukum Allahnya ada di dalam hatinya…”  karena ketika Allah memberi kita sebuah hati dari daging, Dia lalu menuliskan HukumNya di hati kita. “…31 Hukum Allahnya ada di dalam hatinya, tak satu pun langkahnya akan terpeleset…”  Apakah kita akan hidup dengan benar jika hati kita benar? Pasti.

 

 

And you all know that promise in Jeremiah 31:31-33, wonderful promise, God says, 31 ‘Behold, the days come,’ saith the LORD, ‘that I will make a new covenant with the house of Israel, and with the house of Judah: 32 Not according to the covenant that I made with their fathers in the day that I took them by the hand to bring them out of the land of Egypt; which My covenant they brake, although I was an Husband unto them, saith the LORD…”  see, God is saying “I'm not going to give My Law in tables of stone”, because when God gave the Law in tables of stone what Israel did is, they said, “Okay, there's the Ten Commandments on tables of stone. Let's try and measure up.” You can't, you can't measure up to the Law with a bad heart. So God says, “No, it's not going to be on tables of stone. It's going to be with a new heart, and the fleshly tables of the heart.” And then notice what it says,  “… 33 But this shall be the covenant that I will make with the house of Israel after those days,’ saith the LORD, ‘I will put My Law in their inward parts, and write it in their hearts; and will be their God, and they shall be My people.”

By the way, the Law is a reflection of the character of Christ. So having the Law in the heart means having Christ in the heart.

And then we'll have the same experience that Jesus had where He said in Psalm 40:8, 8 I delight to do Thy will, O My God: yea, Thy Law is within My heart.”

 

Dan kalian tahu janji yang di Yeremia 31:31-33, janji yang indah, Allah berkata, 31 Lihat, harinya akan datang,’ firman TUHAN, ‘ketika Aku akan membuat perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda 32 bukan menurut perjanjian yang telah Kubuat dengan nenek moyang mereka pada hari Aku memegang tangan mereka untuk menuntun mereka keluar dari tanah Mesir, perjanjian-Ku yang telah mereka langgar, meskipun Aku adalah Suami bagi mereka, demikianlah firman TUHAN…” Lihat, Allah mengatakan, “Aku tidak akan memberikan HukumKu di loh-loh batu”, karena ketika Allah memberikan HukumNya di loh-loh batu, apa yang dilakukan Israel ialah, mereka berkata, “Oke, itu Kesepuluh Perintah di loh-loh batu. Ayo kita coba untuk memenuhinya.” Kita tidak bisa, kita tidak bisa memenuhi Hukum itu dengan hati yang busuk. Maka Allah berkata, “Tidak, itu tidak akan di loh-loh batu, itu akan pada hati yang baru, hati yang dari daging.” Kemudian simak apa katanya, “… 33 Tetapi beginilah perjanjian yang akan Kubuat dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman TUHAN: ‘Aku akan menaruh Hukum-Ku di organ dalam mereka,  dan menulisnya  di hati mereka; dan Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.”

Nah, Hukum adalah pantulan karakter Kristus. Jadi dengan adanya Hukum di dalam hati berarti memiliki Kristus dalam hati.

Kemudian kita akan punya pengalaman yang sama yang dimiliki Yesus di mana Dia berkata di Mazmur 40:8, 8 Aku suka melakukan kehendak-Mu, ya AllahKu; iya, Hukum-Mu ada di dalam hati-Ku.”

 

 

Do you know that Pharisees usually are quite miserable? “That's my duty”, “that's my responsibility”, “I've got to do it, God says so”. But the person who truly has Jesus in his heart will delight to do the will of God, because the Law is in the heart. And by the way, when Jesus is in the heart, you know what happens? We'll dress like Jesus, we'll speak like Jesus, we'll give like Jesus, we'll act like Jesus, we'll eat like Jesus, but we'll do all of this for the right reasons. We will not do less than the Pharisees, we will do more; but we will do it with the right motivation. That's why Jesus says, that our righteousness has to be greater than the righteousness of the scribes and the Pharisees, greater in the sense that it has to have a far greater motivation than the motivation which led them to obey God. How tragic that Jesus is outside the door of the church of Laodicea, that is our church, trying to gain access. Sad. If we’d just sat down and reflected on that. Am I one of those hearts?

 

Tahukah kalian, biasanya orang-orang Farisi itu tidak gembira? “Itu kewajiban saya”, “itu tanggung jawab saya”, “saya harus melakukannya, Allah mengatakan demikian”. Tetapi manusia yang sungguh-sungguh punya Yesus di dalam hatinya akan gemar melakukan kehendak Allah, karena Hukum ada di dalam hatinya. Nah, ketika Yesus ada di dalam hati, tahukah kalian apa yang terjadi? Kita akan berpakaian seperti Yesus, kita akan bicara seperti Yesus, kita akan memberi seperti Yesus, kita akan bertindak seperti Yesus, kita akan makan seperti Yesus, tetapi kita akan melakukan semua ini demi alasan yang benar. Kita tidak akan berbuat lebih sedikit daripada orang-orang Farisi, kita justru akan berbuat lebih banyak, tetapi kita akan melakukannya dengan motivasi yang benar. Itulah mengapa Yesus berkata bahwa kebenaran kita harus lebih besar daripada kebenaran para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, lebih besar dalam pengertian itu haruslah berdasarkan motivasi yang lebih besar daripada motivasi yang membuat mereka mematuhi Allah. Betapa tragisnya Yesus berada di luar pintu gereja Laodekia, yaitu gereja kita, berusaha mendapatkan jalan masuk. Menyedihkan. Kalau saja kita duduk dan merenungkan itu. Apakah saya salah satu hati-hati yang seperti itu?

 

 

I'd like to conclude by referring to two verses, Ezekiel 36:26 and 27. This is a promise. You can claim this promise. God says,  26 A new heart also will I give you, and a new spirit will I put within you: and I will take away the stony heart out of your flesh, and I will give you an heart of flesh…” take out the heart of stone and give a heart of flesh.   “…27 And I will put My Spirit within you, and…” now notice the obedience that comes as a result,  “…and cause you to walk in My statutes, and ye shall keep My judgments, and do them.”

 

Saya ingin mengakhir dengan merujuk ke dua ayat Yehezkiel 36:26-27. Ini adalah sebuah janji. Kita bisa mengklaim janji ini. Allah berkata, 26 Hati yang baru juga akan Aku berikan kamu, dan roh yang baru akan Aku tempatkan di dalam kamu; dan Aku akan mengeluarkan hatimu yang dari batu dari dagingmu, dan Aku akan memberi kamu hati  dari daging…”  mengeluarkan hati yang dari batu dan memberikan hati dari daging. “…27 Dan Aku akan menempatkan Roh-Ku di dalam dirimu, dan…”  sekarang simak penurutan yang datang sebagai akibatnya,   “…dan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku, dan kamu akan memelihara peraturan-peraturan-Ku dan  melakukan mereka.”

 

 

When the heart is right the actions will be right. And folks, this is critically important because Jesus said, “Blessed are the pure in heart for they shall see God”. The opposite side is cursed are those who do not have a pure heart, for they shall not see God. May God do a work of taking out the old heart and giving us a new one.

 

Ketika hatinya benar, tindakannya akan benar. Dan Saudara-saudara, ini sangat penting karena Yesus berkata, 8 Diberkatilah orang yang murni hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” (Matius 5:8). Kebalikannya ialah, terkutuklah mereka yang tidak punya hati yang murni, karena mereka tidak akan melihat Allah. Semoga Allah mengeluarkan hati yang lama dan memberi kita hati yang baru.

 

 

Let me ask you, would you like me to have a word of prayer now, that God will take out that selfish heart that does as it wishes, that selfish heart which leads us to do works to be recognized by God and by men? Would you like me to pray that the Lord will take out that heart of stone and that He will put a tender heart in there where He will write His Law where Jesus will be written on your heart? Is that your desire? Can I have your stand, if that's the desire of your heart? It's not only a matter of a desire, folks. Now we have to go home. We have to become a people of prayer. We have to study the Word. We have to ask the Lord to help us work for others without any vested interests, we have to ask the Lord to help us desire to do that which is good, not because we have to, not because of credit, but because Jesus is in our hearts. And I assure you, the church will be totally different if this happens; not only financially but in every respect. You know you'll have people knocking at the door, wanting, saying, “What's going on here?” It's because we've kept our hearts from God that the church faces problems, different types of problems. But when we give Him our heart, the church becomes a power to move the world and to move our community. Let us pray

 

Coba saya tanya, maukah kalian saya berdoa sekarang agar Allah mau mengeluarkan hati yang egois yang berbuat sesuka hatinya, hati yang egois yang membuat kita melakukan perbuatan-perbuatan untuk dipuji Allah dan manusia? Maukah kalian saya berdoa agar Tuhan mau mengeluarkan hati yang dari batu dan Dia mau memasukkan hati yang lembut di sana di mana Dia akan menuliskan HukumNya, di mana Yesus akan tertulis di hati kita? Apakah itu keinginan kalian? Bisakah saya mengetahui posisi kalian, apakah itu keinginan hati kalian? Ini bukan hanya masalah keinginan, Saudara-saudara. Sekarang kita akan pulang, kita harus menjadi umat yang berdoa. Kita harus mempelajari Firman. Kita harus minta Tuhan membantu kita bekerja bagi orang lain tanpa ada pamrih apa pun, kita harus minta Tuhan membantu kita gemar melakukan apa yang benar, bukan karena kita harus, bukan demi kreditnya, tetapi karena Yesus ada dalam hati kita. Dan saya pastikan, gereja akan berubah secara total jika ini terjadi; bukan hanya secara finansial, tetapi dalam segala hal. Kalian tahu, akan ada orang-orang yang datang mengetuk pintu, ingin tahu, mengatakan, “Apa yang sedang terjadi di sini?” Karena kita telah menahan hati kita dari Allah sehingga gereja menghadapi masalah-masalah, pelbagai jenis masalah. Tetapi ketika kita memberi Dia hati kita, gereja menjadi suatu kekuatan yang menggerakkan dunia dan menggerakkan komunitas kita. Mari kita berdoa.

 

 

25 07 26

 

No comments:

Post a Comment