Sunday, September 6, 2026

EPISODE 03/09 2025 HAMMOND ~ THE GOD OF THE ETERNAL ~ STEPHEN BOHR

 

2025 SERMONS AT HAMMOND SDA CHURCH

Stephen Bohr

03/09 THE GOD OF THE ETERNAL

https://www.youtube.com/watch?v=Zf6Kk8CBvYw

 

Dibuka dengan doa.

 

 

Jesus had many theological battles with the various Jewish sects of the time of Christ. He had a lot of battles with the Sadducees and He had a lot of battles with the Pharisees as well as the other Jewish sects. And once upon a time there came a group of Sadducees to Jesus and they presented to Him a situation which appeared to be insolvable. They wanted to put Jesus between a rock and a hard place. They wanted to put Him in a situation where He could not answer what they were presenting.

 

Yesus menghadapi banyak pertikaian theologi dengan pelbagai sekte Yahudi di zamanNya. Dia menghadapi banyak perselisihan dengan orang-orang Saduki dan Dia menghadapi banyak perselisihan dengan orang-orang Farisi dan juga dengan sekte-sekte Yahudi yang lain. Dan suatu ketika datanglah sekelompok orang Saduki kepada Yesus dan mereka mengajukan kepadanya suatu situasi yang tampaknya tidak bisa diselesaikan. Mereka mau memojokkan Yesus. Mereka mau menempatkan Yesus di situasi di mana Dia tidak akan bisa menjawab apa yang mereka ajukan.

 

 

Now, the apostle Paul told us something very interesting about the Sadducees. Go with me to Acts 23:7-9. We're going to notice in a moment the story that the Sadducees presented to Christ where they wanted to put Him in a difficult situation. But first of all, we need to know something about what the Sadducees believed and what they did not believe.

 

Nah, rasul Paulus memberitahu kita sesuatu yang sangat menarik tentang orang-orang Saduki. Mari bersama saya ke Kisah 23:7-9. Kita akan menyimak kisah yang disampaikan orang-orang Saduki kepada Kristus di mana mereka mau memojokkan Dia. Tetapi lebih dulu kita perlu tahu sesuatu tentang apa yang diyakini orang-orang Saduki dan apa yang tidak diyakini mereka.

 

 

Here the apostle Paul is defending himself between a group of Sadducees and Pharisees and they have the intention of condemning the apostle Paul. When Paul realized that there were Sadducees and Pharisees, he decided to bring up something that the Sadducees did not believe in. Now the Pharisees believed in the resurrection of the dead but the Sadducees did not believe in the resurrection of the dead. So Paul said, this is a good opportunity for me to say something about the resurrection, to say that the resurrection will take place, because he knew that the Sadducees would end up fighting with the Pharisees over the resurrection, and they would be distracted from the intention of causing damage to Paul.

 

Di sini rasul Paulus membela dirinya di hadapan sekelompok orang Saduki dan Farisi, dan mereka berniat memalukan rasul Paulus. Ketika Paulus menyadari bahwa ada orang-orang Saduki dan Farisi, dia memutuskan untuk mengetengahkan sesuatu yang tidak diyakini oleh orang-orang Saduki. Nah, orang-orang Farisi meyakini kebangkitan orang mati, tetapi orang-orang Saduki tidak meyakini kebangkitan orang mati. Maka Paulus berkata, ini adalah kesempatan baik bagiku untuk mengatakan sesuatu tentang kebangkitan, untuk mengatakan bahwa kebangkitan akan terjadi, karena dia tahu orang-orang Saduki pasti akan bertengkar dengan orang-orang Farisi mengenai kebangkitan, dan perhatian mereka akan dialihkan dari niat mereka untuk mendatangkan masalah bagi Paulus.

 

 

And this is exactly what the story tells us in Acts 23:7-9.  And when he had said this...” when he spoke about the resurrection,  “...a dissension arose between the Pharisees and the Sadducees;...” So they lost their focus on Paul and now they start fighting with each other. It says in verse 8,  “... For Sadducees say that there is no resurrection—and no angel or spirit; but the Pharisees confess both...” So the Sadducees did not believe in the resurrection of the dead.

 

Dan inilah persis yang dikatakan cerita itu kepada kita di Kisah 23:7-9. 7 Dan ketika ia telah berkata demikian…” ketika dia bicara tentang kebangkitan, “…timbullah perselisihan antara orang-orang Farisi dan orang-orang Saduki…” sehingga perhatian mereka teralihkan dari Paulus, dan sekarang mereka mulai bertengkar satu sama lain. Dikatakan di ayat 8, “…8 Sebab orang-orang Saduki mengatakan, tidak ada kebangkitan, dan tidak ada malaikat atau roh; tetapi orang-orang Farisi mengakui kedua-duanya ada…”  Jadi orang-orang Saduki tidak percaya pada kebangkitan orang mati.

 

 

Ellen White in the book Desire of Ages, page 603, agrees with what we find in the passage that we just read in Acts 23. On page 603, Ellen White wrote, “The Sadducees denied the existence of angels, the resurrection of the dead, and the doctrine of a future life, with its rewards and punishments…” In other words, the Sadducees were basically fatalists. They believe that death, that's it. There's no afterlife after death, either in bliss or in suffering. They did not believe in the existence of angels, and they did not believe in the resurrection of the dead. And they were a Jewish sect. They disagreed with the Pharisees.

 

Ellen White di buku Desire of Ages hal. 603 sepakat dengan apa yang kita temukan di bacaan yang baru kita baca di Kisah 23. Di hal. 603 Ellen White menulis, “…Orang-orang Saduki tidak mengakui eksistensi para malaikat, kebangkitan orang mati, dan doktrin adanya kehidupan yang akan datang dengan pahala-pahalanya dan hukuman-hukumannya…”    Dengan kata lain, orang-orang Saduki pada dasarnya adalah fatalis. Yang mereka yakini, mati, sudah itu saja. Tidak ada kehidupan setelah kematian, baik dalam kebahagiaan maupun penderitaan. Mereka tidak percaya adanya malaikat, dan mereka tidak percaya pada kebangkitan orang mati. Dan mereka adalah sebuah sekte Yahudi. Mereka tidak sepakat dengan orang-orang Farisi.  

 

 

Now the question is, why didn't the Sadducees believe in the resurrection of the dead? Two reasons:

1.    According to liberal theology,

even to this day ~ when I say “liberal theologians”, those are the theologians of the churches basically that have the word “United” before them. United Methodist, United Presbyterian, United Lutheran. Those are liberal churches. They accept gay marriage and they accept gay clergy, etc. These theologians of these churches till this day, today they do not believe in miracles, and of course a resurrection would be a miracle. In fact, they apply what is known as the principle of analogy. And basically that principle to them says, that if we can't see resurrections from the dead today, then we cannot believe that there were resurrections from the dead in the past. So they say because scientifically we have to see it today, to believe that there were resurrections in the past. And so the same is true of the Sadducees in the days of Christ. You see, the Sadducees believed that it was unscientific to believe that a disintegrated body could recompose and be alive again. They said that would be a miracle and God simply cannot do that.

Ellen White confirmed this in Desire of Ages 537 and 538. She wrote, “They [the Sadducees] did not believe in a resurrection of the dead. Producing so-called science,...”  not science, but so-called science “...they had reasoned that it would be an impossibility for a dead body to be brought to life….” They said it would be a miracle. It's impossible for a disintegrated body to suddenly be totally recomposed and begin breathing and living again. In other words, they doubted the power of God. We'll come back to that in a few moments.

They had a second reason why they denied the resurrection. First, because they believed it was scientifically impossible to reintegrate a body that had been decomposed and returned to dust.

 

2.    The second reason is that the Sadducees only believed that the five books of Moses were fully inspired by God.

They did not accept that the rest of the Old Testament was inspired by God. And therefore, they believed that they had to prove all of their beliefs from the five books of Moses, and they could not find any reference to the resurrection in the five books of Moses. So they said, "Yes, the rest of the Old Testament that speaks about resurrections, but we only accept the full inspiration of the five books of Moses and the resurrection is not mentioned in there."

So in other words, they doubted the power of God to be able to resurrect a decomposed body. And secondly, Jesus is going to say, "You misunderstand the Scriptures because the books of Moses do mention the resurrection."

 

Nah pertanyaannya ialah, mengapa orang-orang Saduki tidak meyakini kebangkitan orang mati? Ada dua alasan:

1.    Menurut theologi liberal,

bahkan sampai hari ini ~ kalau saya berkata “theolog-theolog liberal”, mereka adalah theolog-theolog dari gereja-gereja yang namanya ada kata “United” di depannya: United Methodist, United Presbyterian, United Lutheran. Inilah gereja-gereja yang liberal. Mereka menerima perkawinan sesama jenis. Mereka menerima pendeta-pendeta gay, dll. Theolog-theolog dari gereja-gereja ini hingga hari ini mereka tidak mempercayai adanya mujizat, dan tentu saja kebangkitan adalah sebuah mujizat. Faktanya, mereka mengaplikasikan apa yang dikenal sebagai prinsip analogi. Dan pada dasarnya prinsip itu bagi mereka mengatakan, jika hari ini kita tidak melihat adanya kebangkitan orang mati, maka kita tidak bisa percaya bahwa di masa lampau ada kebangkitan orang mati. Maka mereka berkata karena secara saintifik kita harus melihatnya hari ini, untuk bisa mempercayai bahwa di masa lampau ada kebangkitan. Maka hal yang sama juga terjadi pada orang-orang Saduki di zaman Kristus. Kalian lihat, orang-orang Saduki meyakini bahwa mempercayai tubuh yang sudah rusak bisa pulih utuh dan hidup kembali, itu tidak saintifik. Mereka berkata itu adalah suatu mujizat dan Allah jelas tidak bisa melakukan itu.

Ellen White mengkonfirmasi ini di Desire of Ages hal. 537-538. Dia menulis, “…Mereka [orang-orang Saduki] tidak percaya dalam kebangkitan orang mati. Dengan mengetengahkan apa yang mereka sebut sebagai sains...”  jadi bukan sains yang benar, tapi yang mereka sebut itu sains, “...mereka telah berdalih bahwa adalah suatu kemustahilan bagi sebuah tubuh yang mati untuk dikembalikan hidup...” Mereka berkata itu haruslah suatu mujizat. Mustahil tubuh yang sudah terurai tiba-tiba menjadi utuh kembali dan mulai bernafas dan hidup lagi. Dengan kata lain, mereka meragukan kuasa Allah. Nanti sebentar kita akan kembali kemari.

Mereka punya alasan kedua mengapa mereka menolak kebangkitan. Pertama, karena mereka meyakini bahwa itu mustahil secara saintifik untuk menjadikan utuh lagi suatu tubuh yang telah rusak dan telah menjadi debu.

 

2.    Alasan kedua ialah orang-orang Saduki meyakini hanya kelima kitab tulisan Musa itulah yang benar-benar diilhami oleh Allah.

Mereka tidak menerima sisanya kitab-kitab lain dari Perjanjian Lama itu diilhami oleh Allah. Dan oleh karena itu mereka meyakini bahwa mereka harus membuktikan semua keyakinan mereka dari kelima kitab Musa, dan mereka tidak menemukan acuan apa pun kepada kebangkitan dalam kelima kitab Musa. Maka mereka berkata, “Ya, kitab-kitab lain di Perjanjian Lama bicara tentang kebangkitan, tetapi kami hanya menerima kelimat kitab Musa sebagai yang benar-benar diilhami, dan kebangkitan tidak disebutkan di sana.”

Maka dengan kata lain, mereka meragukan kuasa Allah bisa membangkitkan tubuh yang sudah rusak. Dan kedua, Yesus akan berkata, “Kamu sudah salah memahami Kitab Suci, karena kitab-kitab Musa ada menyebut tentang kebangkitan.”

 

 

Now, let's present the hypothetical case because it's not a real life situation. They're trying to put Jesus in hot water so that He's in a place where He can't answer their example. Basically, it's the example of one woman who married seven brothers. And so now they're going to say to Jesus, "Okay, in the resurrection, whose wife of the seven brothers will she be?" Of course, that's not a real life situation. It's kind of a stretch to think that, you know, you have seven brothers that marry the same woman. By the way, Moses said that if a man died without descendants, that his brother needed to marry his widow to produce offspring for her. So, it was in Moses, in the writings of Moses, that the woman had to marry and give descendants to the husband that had died. So let's read this hypothetical case that they presented.

 

Nah, mari kita hadirkan kasus hipotetisnya, karena ini bukan situasi kehidupan nyata. Mereka berusaha memasukkan Yesus ke air panas sehingga Dia berada di posisi di mana Dia tidak bisa  menjawab contoh soal mereka. Pada dasarnya, ini adalah contoh dari seorang perempuan yang menikahi tujuh saudara. Dan sekarang mereka akan berkata kepada Yesus, “Oke, di kebangkitan,  perempuan itu menjadi istri saudara yang mana dari ketujuh orang itu?” Sudah pasti ini bukan kejadian yang sesungguhnya. Ini situasi yang sulit dipercaya  di mana ada tujuh bersaudara yang menikahi perempuan yang sama. Nah, Musa mengatakan bahwa jika seseorang mati tanpa meninggalkan anak, saudara laki-lakinya harus menikahi jandanya untuk memberikan anak kepada perempuan itu. Jadi, di tulisan-tulisan Musa, perempuan itu harus menikah dan memberikan keturunan untuk suami yang sudah mati. Jadi mari kita baca kasus hipotesa ini yang mereka sodorkan.

 

 

Luke 20:27-33. It says there,27 Then some of the Sadducees, who deny that there is a resurrection,…” See this is once again, we read from Acts 23, now we find that Luke tells us that they did not believe in the resurrection. So they “…came to Him and asked Him, 28 saying: ‘Teacher, Moses wrote to us that if a man’s brother dies, having a wife, and he dies without children, his brother should take his wife and raise up offspring for his brother….” Are you understanding what it's saying here?  “…29 Now there were seven brothers…”  Here comes the case that they present, the imaginary case. “…29 Now there were seven brothers and the first took a wife, and died without children. 30 And the second took her as wife, and he died childless. 31 Then the third took her, and in like manner the seven also; and they left no children, and died. 32 Last of all the woman died also…” And now comes the catch. “…33 Therefore, in the resurrection, whose wife does she become? For all seven had her as wife.’…” Are you understanding the situation that they're trying to put Jesus in? Which of the seven brothers will have her as a wife in the life to come?

 

Lukas 20:27-33, dikatakan di sana, 27 Maka beberapa orang Saduki, yang tidak mengakui adanya kebangkitan…”  lihat, ini sekali lagi, kita sudah membacanya di Kisah 23, sekarang kita temukan Lukas memberitahu kita mereka tidak mempercayai kebangkitan. Maka mereka  “…datang kepada Yesus dan bertanya kepada-Nya, 28 mengatakan, ‘Guru, Musa menulis kepada kita bahwa jika saudara laki-laki seseorang, mati, yang mempunyai seorang istri, dan dia mati tidak meninggalkan anak, saudaranya laki-laki harus mengawini isterinya dan membangkitkan keturunan bagi saudara laki-lakinya itu…”  apakah kalian paham apa yang dikatakan di sini?  “…29 Nah, ada tujuh orang bersaudara…” sekarang inilah kasus yang mereka sodorkan, kasus khayalan,  “…29 Nah, ada tujuh orang bersaudara Dan  yang pertama mengambil seorang istri, dan mati tanpa anak. 30 Dan  yang kedua mengambil perempuan itu sebagai istri, dan dia mati tanpa anak. 31 Lalu yang ketiga mengambil perempuan itu, dan seperti itu juga ketujuhnya; dan mereka tidak meninggalkan anak, dan mati. 32 Yang terakhir, perempuan itu pun mati…” dan sekarang ini jebakannya. “…33Jadi di kebangkitan perempuan itu istri siapa? Sebab semua ketujuh bersaudara pernah beristerikan dia.’” Apakah kalian paham situasi di mana mereka mencoba menempatkan Yesus? Siapa dari antara ketujuh bersaudara itu yang akan memiliki perempuan itu sebagai istrinya di kehidupan yang akan datang?

 

 

Now, Jesus answers their imaginary scenario with three arguments. And I'm going to tell you what the arguments are, and then we're going to read in the Bible those arguments. Go with me to Matthew 22:29. Save your place there in Luke. I should have said that before. Save your place in Luke 20. But let's go to Matthew 22:29 where we find the same experience, but there's a detail that is in Matthew that is not in Luke. See, that's why we have to look at all the gospels because they complement each other. What Matthew says sometimes Luke doesn't say, and vice versa.

 


Nah, Yesus menjawab skenario khayalan mereka dengan tiga argumentasi. Dan saya akan memberitahu kalian apa argumentasinya, lalu kita akan membaca di Alkitab tentang argumentasi-argumentasi itu. Marilah bersama saya ke Matius 22:29. Tandai halamannya di Lukas ~ seharusnya saya mengatakan itu sebelumnya ~ tandai halamannya di Lukas 20, tetapi mari kita ke Matius 22:29 di mana kita temukan pengalaman yang sama. Tetapi di Matius ada detail yang tidak ada di Lukas. Lihat, itulah mengapa kita harus mempelajari semua injil karena mereka saling melengkapi. Apa yang dikatakan Matius terkadang tidak dikatakan Lukas, dan sebaliknya.

 

 

And so it says in Matthew 22:29, 29 Jesus answered and said to them, ‘You are mistaken, not knowing…” what? “…the Scriptures…” Whose Scriptures specifically? Oh, whose Scriptures? The five books of Moses. The five books of Mosesl, because those that's all they accepted. And so Jesus is saying  “…You…” according to this,  “…you are mistaken, not knowing the Scriptures…” In other words, “you don't even understand the writings of Moses.” He's going to prove that Moses did refer to the resurrection. And so they're mistaken. So first of all, they don't know the Scriptures, particularly the writings of Moses, “…nor the power of God…” There's two arguments:

1.    They misunderstand the writings of Moses because Moses does mention the resurrection.

2.    Secondly, they doubt the power of God because God is powerful enough to resurrect the dead.

3.    And then Jesus uses a third argument and this is the most devastating to them.

He says, “in the life to come there's not going to be any marriage. So your example has no significance and no importance.” because if there's not going to be any marriage there then she's not going to be the wife of any of the seven.

 

Maka dikatakan di Matius 22:29, 29 Yesus menjawab dan berkata kepada mereka, ‘Kamu salah, tanpa mengetahui…” apa?  “…Kitab Suci…” secara spesifik kitab suci tulisan siapa? Kelima kitab Musa! Karena hanya kitab-kitab itu yang mereka terima. Maka Yesus berkata,  “…‘Kamu…” menurut ini, “… ‘Kamu salah, tanpa mengetahui Kitab Suci…”  dengan kata lain “kamu bahkan tidak mengerti tulisan-tulisan Musa.” Yesus akan membuktikan bahwa Musa ada mengacu kepada kebangkitan. Maka orang-orang Saduki itu salah. Jadi, pertama, mereka tidak tahu Kitab Suci terutama tulisan-tulisan Musa, “…maupun kuasa Allah!…”  Ini kedua argumentasinya.

1.    Mereka salah mengerti tulisan-tulisan Musa, karena Musa ada menyebut tentang kebangkitan.

2.    Yang kedua, mereka meragukan kuasa Allah karena Allah cukup berkuasa untuk membangkitkan yang mati.

3.    Kemudian Yesus memakai argumentasi yang ketiga, dan ini yang paling keras memukul mereka.

Yesus berkata, “dalam kehidupan yang akan datang tidak akan ada perkawinan, maka contoh soal kalian tidak punya signifikan dan kepentingan”, karena kalau tidak akan ada perkawinan di sana, maka perempuan itu tidak akan menjadi istri saudara yang mana pun dari ketujuhnya.

 

 

Now let's read the full response of Jesus in Luke 20:33-38. This is the response of Jesus. We already noticed  that in Matthew, Jesus says, "You don't believe in the power of God because God is powerful enough to resurrect the dead  and you ignore or misunderstand the Scriptures, the writings of Moses." Now, Luke 20:33-38 is going to have additional details. 34 Jesus answered and said to them, ‘The sons of this age…” what does it mean by “this age”? It means the sinful period in which we're living now, right? This world before the resurrection, before the life to come.  “… ‘The sons of this age marry and are given in marriage. 35 But those who are counted worthy to attain that age…” that age to come in heaven and then on the new earth,  “…and the resurrection from the dead, neither marry nor are given in marriage;…” In other words, in the life to come, there's not going to be any marriage.

And let me insert here something very important. This is the only planet in God's universe that has procreation. Ellen White states that a new order of being was created when God created Adam and Eve. And she has several statements where she says that the purpose of procreation was to replace the vacancies that the fallen angels left in heaven when they were cast out. That's the purpose of procreation. And so when we get to the new world in the future, there will be no need of marriage because all of the vacancies will have been filled. Are you with me or not? Ellen White has many statements where she says this. In fact, she heard Satan say to God, "Are these sinners the ones that are to replace me and my angels in heaven?" She heard Satan speak those specific words.

So Jesus is saying, "There's not going to be any marriage in the kingdom come. So your example has no importance, because there's not going to be marriage. So she's not going to be married to any of the seven.” Let's continue reading verse 35 once again.   “…35 But those who are counted worthy to attain that age, and the resurrection from the dead, neither marry nor are given in marriage; 36 nor can they die anymore, for they are equal to…” what? Isn't that interesting? They'll replace the angels that left their vacancies in heaven. See, Ellen White, you know, the little lady knew what she was talking about. If you look hard enough, you'll find that what she says is in the Bible. And so it says,  “…36 nor can they die anymore, for they are equal to the angels and are sons of God, being sons of the resurrection…” So He's refuting their argument concerning marriage. “There's not going to be marriage there. So your example has absolutely no importance and no meaning.”

 

Nah, mari kita baca respons Yesus yang lengkap di Lukas 20:33-38. Inilah respons Yesus. Kita sudah menyimak bahwa di Matius, Yesus berkata, “Kamu tidak mempercayai kuasa Allah. Allah itu cukup berkuasa untuk membangkitkan yang mati, dan kamu abaikan atau tidak memahami Kitab Suci tulisan-tulisan Musa.” Sekarang Lukas 20:33-38 akan memberikan detail tambahan.  34 Yesus menjawab dan berkata kepada mereka, ‘Orang-orang zaman ini…” apa yang dimaksud dengan “zaman ini”? Artinya zaman berdosa di mana kita sekarang hidup, benar? Dunia ini, sebelum kebangkitan, sebelum hidup yang berikutnya. “…‘Orang-orang zaman ini kawin dan dikawinkan, 35 tetapi mereka yang dianggap layak untuk mencapai zaman yang itu…”  zaman itu yang akan datang di Surga kemudian di dunia baru, “…dan kebangkitan orang mati, tidak kawin maupun dikawinkan…” Dengan kata lain, di kehidupan yang akan datang, tidak akan ada perkawinan.

Dan saya mau memasukkan di sini sesuatu yang sangat penting. Planet ini adalah satu-satunya di alam semesta Allah yang bisa prokreasi (= melanjutkan keturunan). Ellen White menyatakan bahwa sebuah tatanan baru diciptakan ketika Allah menciptakan Adam dan Hawa. Dan Ellen White menulis beberapa pernyataan di mana dia mengatakan tujuan dari prokreasi ini ialah untuk menggantikan tempat-tempat kosong di Surga yang telah ditinggalkan malaikat-malaikat yang jatuh dalam dosa ketika mereka dicampakkan keluar. Itulah tujuan prokreasi. Maka ketika kita tiba di dunia baru nanti, tidak diperlukan lagi perkawinan karena semua tempat kosong sudah akan terisi. Apakah kalian mengikuti saya atau tidak? Ellen White menulis banyak pernyataan di mana dia mengatakan demikian. Bahkan dia mendengar Setan berkata kepada Allah, “Apakah orang-orang berdosa ini yang akan menggantikan aku dan malaikat-malaikatku di Surga?” Dia mendengar Setan mengucapkan kata-kata spesifik tersebut. (Testimonies for the Church, Vol. 5, hal. 472–473; Prophets and Kings, hal. 588–589)

Maka Yesus berkata, “Tidak akan ada perkawinan di kerajaan yang akan datang. Maka contoh soal kalian tidak ada kepentingannya karena nanti tidak akan ada perkawinan. Jadi perempuan itu tidak akan menjadi istri siapa pun dari ketujuh saudara itu.” Mari kita lanjutkan membaca ayat 35 sekali lagi, “…35 tetapi mereka yang dianggap layak untuk mencapai zaman yang itu, dan kebangkitan orang mati, tidak kawin maupun dikawinkan. 36 Mereka juga tidak dapat mati lagi karena mereka sama dengan…”  apa? Tidakkah ini menarik? Mereka akan menggantikan para malaikat yang telah mengosongkan tempat mereka di Surga. Lihat, Ellen White, ibu kecil ini, tahu apa yang dibicarakannya. Jika kita teliti dengan seksama, kita akan menemukan bahwa apa yang dikatakannya ada di Alkitab. Maka dikatakan, “…36 Mereka juga tidak dapat mati lagi karena mereka sama dengan malaikat-malaikat dan adalah anak-anak Allah, sebagai anak-anak kebangkitan.’…” Jadi Yesus membantah argumentasi orang-orang Saduki tentang perkawinan. “Nanti di sana tidak akan ada perkawinan. Jadi contoh soal kalian sama sekali tidak relevan maupun tidak ada maknanya.”

 

 

And now Jesus is going to amplify what we read in Matthew where it says, "You don't know the Scriptures." In other words, “you don't understand the writings of Moses that you claim to believe to be fully inspired.” Notice what He says in verse 37  “…37 But even Moses…” why would He use the word “even”? Because they think that Moses didn't talk about the resurrection. But Jesus says,“…37 But even Moses…” the Scriptures that you claim to believe in,  “…even Moses showed in the burning bush passage that the dead are raised,…” Where is the burning bush passage? In Exodus 3. Jesus is saying that the passage in Exodus 3 proves that Moses believed in the resurrection of the dead. So you don't even know the Scriptures that you claim to believe in.” Now we're going to go there to Exodus 3 because you say, "Where is the resurrection there in Exodus chapter 3?" We'll come back to that.

So once again it says in verse 37,  “…37 But even Moses showed in the burning bush passage that the dead are raised, when he called the Lord ‘the God of Abraham, the God of Isaac, and the God of Jacob.’…” 

And you're probably thinking, "How does that prove the resurrection?"

The fact that when the Lord is called “the God of Abraham, the God of Isaac, and the God of Jacob”. How does that prove the resurrection? We'll come back to that in a moment.

Verse 38 is critically important. “…38 For He is not the God of the dead but of the living,…” and now notice what it continues saying,  “…for all live to Him.” Are you with me or not? It doesn't say that “all live to us”. It says, “all…”, including Abraham, Isaac, and Jacob, “all live to Him”, to God. That is critically important in what we're going to study this evening. In other words, we say, Abraham, Isaac, and Jacob are dead. But we're going to find that for God who lives in an eternal present, they live. We're going to pursue that.

You say, "Well, that's absurd. It doesn't make sense."

Well, we're going to study it. This is a very important concept.

 

Dan sekarang Yesus akan menjelaskan apa yang kita baca di Matius di mana dikatakan, “Kamu tidak tahu isi Kitab Suci.” Dengan kata lain, “Kamu tidak mengerti tulisan-tulisan Musa yang kamu klaim kamu yakini sepenuhnya diilhami.” Simak apa yang dikatakanNya di ayat 37, 37 Tetapi bahkan Musa…” tulisan-tulisan Kitab Suci yang kamu klaim kamu yakini, “…bahkan Musa  telah menunjukkan di ayat semak yang terbakar, bahwa orang-orang mati dibangkitkan,…”  di mana kutipan tentang semak yang terbakar? Di Keluaran pasal 3. Yesus mengatakan, “Kutipan di Keluaran pasal 3 membuktikan bahwa Musa meyakini kebangkitan orang mati. Jadi kalian sebetulnya tidak tahu isi Kitab Suci  yang kalian klaim kalian yakini.” Sekarang kita akan ke Keluaran 3 karena kalian berkata, “Di mana ada kebangkitan di Keluaran pasal 3?”  Nanti kita akan kembali kemari.

Jadi sekali lagi dikatakan di ayat 37, 37 Tetapi bahkan Musa telah menunjukkan di ayat semak yang terbakar, bahwa orang-orang mati dibangkitkan, ketika dia menyebut Tuhan, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub’…” 

Dan tentunya kalian berpikir, “Bagaimana itu membuktikan kebangkitan?”

Yaitu, faktanya ketika Tuhan disebut “Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub”. Bagaimana itu membuktikan adanya kebangkitan? Sebentar kita akan kembali kemari.

Ayat 38 itu sangat penting, “…38 Sebab Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup…” sekarang simak apa yang dikatakan selanjutnya, “…sebab semua hidup bagiNya…” apakah kalian mengikuti saya atau tidak? Tidak dikatakan “semua hidup bagi kita”. Dikatakan, “semua…” termasuk Abraham, Ishak, dan Yakub, “…semua hidup bagiNya…”, bagi Allah. Ini sangat penting untuk apa yang akan kita pelajari petang ini. Dengan kata lain, kita mengatakan, Abraham, Ishak dan Yakub sudah mati. Tetapi kita akan melihat bahwa bagi Allah yang hidup di kekekalan masa kini, mereka hidup. Kita akan mempelajari ini.

Kalian berkata, “Ini aneh. Ini tidak masuk akal.”

Nah, kita akan mempelajarinya. Ini adalah konsep yang sangat penting.

 

 

Now, notice what Ellen White wrote about this passage. The little lady understood this. In Desire of Ages 606, Ellen White wrote, listen carefully, “God counts the things that are not, as though they were…” What does God do? He “…counts the things that are not, as though they were. He sees the end from the beginning, and beholds the result of His work as though it were now accomplished...” See, for us, there's past, present, and future. But God lives in an eternal present. He sees a total sweep of eternity as if it's taking place before His eyes, right at that moment. Don't ask me to explain it because only God can explain that. But for us, there's past, present, and future. We look at time by segments. But God doesn't look at time by segments. God looks at time as a broad panoramic view that is transpiring at this moment before His eyes. Now, let's continue reading this statement.  “...He sees the end from the beginning, and beholds the result of His work as though it were now accomplished. The precious dead, from Adam down to the last saint who dies, will hear the voice of the Son of God, and will come forth from the grave to immortal life...”  Now that's our perspective, right? “will” future. So in other words,  “...The precious dead, from Adam down to the last saint who dies, will hear the voice of the Son of God,...” that's our perspective in future  “...and will come forth from the grave to immortal life...”  that's that's our perspective. But now notice, “...God will be their God, and they shall be His people. There will be...” all of this is our perspective, future. But for God it's present. 

Let me ask you, how certain is it that Jesus is going to come again? Does God have a date for the Second Coming of Christ? Does God have a date in His calendar for the Second Coming? Does God know when the Second Coming is going to be? Of course, He does. He knows exactly when He's going to come again. So, let me ask you, can we delay the Second Coming of Christ? No, no. You say, "Now, wait a minute. Ellen White says that Jesus could have come shortly after 1844."

And she also said that “Jesus could have come shortly after 1888”, the Minneapolis General Conference.

So, how do we say that God doesn't change the date of the Second Coming? God doesn't change the date. God put a date in His calendar for the Second Coming. If He'd known that the people were going to be ready shortly after 1844, He would have put that date in His calendar. If He already knew ~ which He did because He's omniscient ~ that the people would have been ready immediately after 1888, He would have put that date in His calendar. But God doesn't say, "O, o, I put this date, so I'm going to have to postpone the date." No. Because God is omniscient. He knows everything. Are you with me or not? This is very important for understanding Bible prophecy, we're going to find in our study. What we studied last night is foundational for studying Bible prophecy, seeing history on the basis of what is transpiring behind the scenes. We cannot understand prophecy unless we understand that. That prophecy is the battle between Christ and Satan in the invisible realm. And what we see before our eyes is the visible manifestation of the struggle in here. And what we're studying tonight is foundational also for understanding Bible prophecy. Let me ask you, is the prophecy of Daniel true? Has that prophecy been fulfilled exactly the way it was given in the days of Daniel? Did Babylon rule? Did Medo-Persia rule? Did Greece rule? Did the Roman Empire rule? Was the Roman Empire divided into 10 kingdoms? Then did you have a Little Horn coming up among the 10? Was history fulfilled exactly the same way that Daniel 2 says? Yes. Did God have to wait till it happened or did He already in the broad sweep, did He already see everything happening as it was going to happen? For us Daniel 2 was future. For God, He was seeing the whole sweep all at once before His eyes as if it was transpiring at that very moment. Are you following me? This broadens our view. I think of the omniscience of God.

So she continues saying, once again the future tense, “...The precious dead, from Adam down to the last saint who dies, will hear the voice of the Son of God,...” that's our perspective  “...and will come forth from the grave to immortal life. God will be their God, and they shall be His people. There will be a close and tender relationship between God and the risen saints…”  But now notice how she ends the statement. Now she's going to talk about God's perspective of time. “…This condition, which is anticipated in His purpose, He beholds as if it were already existing…” God looks at the resurrection of the dead as if it already exists. How certain is the resurrection? You can take it to the bank. For us it is a hope. For God it's a done deal. That's comforting. I hope to see my relatives who died. No, no, no. For God, it's as if it has already happened.  “...He beholds...” now, listen carefully.  “…He beholds as if it were already existing. The dead live unto Him...” The dead do not live unto us because we know its future, but because God beholds everything in the present, it's already a done deal. Amazing.

 

Sekarang simak apa yang ditulis Ellen White tentang bacaan ini. Ibu kecil itu mengerti ini. Di Desire of Ages hal. 606 Ellen White menulis, dengarkan baik-baik, “…Allah memperhitungkan hal-hal yang ada, bukan seperti  kondisi mereka saat itu…” apa yang dilakukan Allah? Dia “…memperhitungkan hal-hal yang ada, bukan seperti  kondisi mereka saat itu. Dia melihat akhirnya dari awal, dan melihat hasil dari karyaNya seolah-olah itu digenapi sekarang ini…” Lihat, bagi kita ada waktu lampau, sekarang dan akan datang. Tetapi Allah hidup di kekekalan masa sekarang. Dia melihat keseluruhan kekekalan seolah-olah itu sedang terjadi di depan mataNya sekarang, pada saat itu. Jangan suruh saya menjelaskannya karena hanya Allah yang bisa menjelaskan itu. Tetapi bagi kita, ada waktu lampau, sekarang dan akan datang. Kita melihat waktu tersegmentasi. Tetapi Allah tidak melihat waktu tersegmentasi. Allah melihat waktu sebagai suatu pandangan panoramik luas yang sedang terjadi di saat ini di depan mataNya. Nah, mari kita lanjutkan membaca pernyataan ini, “…Dia melihat akhirnya dari awal, dan melihat hasil dari karyaNya seolah-olah itu digenapi sekarang ini.  Orang-orang mati yang dikasihiNya, mulai dari Adam terus hingga orang kudus terakhir yang mati, akan mendengar suara Anak Allah dan akan keluar dari kubur kepada hidup kekal…” nah, ini perspektif kita, benar? “akan” masih di masa depan. Jadi dengan kata lain,  “…Orang-orang mati yang dikasihiNya, mulai dari Adam terus hingga orang kudus terakhir yang mati, akan mendengar suara Anak Allah…”  ini  perspektif kita di masa depan, “…dan akan keluar dari kubur kepada hidup kekal…” ini perspektif kita. Tetapi sekarang simak, “…Allah akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umatNya. Akan ada…” semua ini perspektif kita, di masa depan. Tetapi bagi Allah, ini terjadi sekarang.

Coba saya tanya, seberapa pastikah Yesus akan datang kembali? Apakah Allah punya tanggal untuk Kedatangan Kedua Kristus? Apakah di kalender Allah ada tanggal untuk Kedatangan Kedua? Apakah Allah tahu kapan Kedatangan Kedua itu akan terjadi? Tentu saja Dia tahu. Dia tahu persis kapan Kristus akan datang lagi. Jadi coba saya tanya, bisakah kita menunda Kedatangan Kedua Kristus? Tidak, tidak.

Kalian berkata, “Tunggu sebentar, Ellen White berkata Yesus seharusnya bisa datang tidak lama setelah 1844.”

Ellen White juga berkata, “Yesus seharusnya bisa datang tidak lama setelah 1888”, General Conference Minneapolis.

Jadi bagaimana? Kita berkata bahwa Allah tidak mengubah tanggal Kedatangan Kedua? Allah tidak mengubah tanggalnya. Allah telah menentukan sebuah tanggal di kalenderNya untuk Kedatangan Kedua. Andaikan Dia tahu bahwa umatNya akan siap tidak lama setelah 1844, Dia akan menentukan tanggal itu di kalenderNya. Andaikan Dia sudah tahu ~ yang tentu saja Dia tahu karena Dia mahatahu ~ bahwa umatNya sudah akan siap segera setelah 1888, Dia sudah akan menunjuk tanggal itu di kalenderNya.

Tetapi Allah tidak berkata, “O-o, Aku sudah menunjuk tanggal ini jadi Aku harus menunda tanggalnya.” Tidak. Karena Allah itu mahatahu. Dia tahu segalanya. Apakah kalian mengikuti saya atau tidak? Ini sangat penting untuk memahami nubuatan Alkitab, kita akan melihat ini di pelajaran kita.

Apa yang kita pelajari semalam itu adalah dasar untuk mempelajari nubuatan Alkitab, melihat sejarah berdasarkan apa yang terjadi di belakang layar. Kita tidak bisa mengerti nubuatan kecuali kita memahami bahwa nubuatan adalah peperangan antara Kristus dan Setan di dunia yang tidak kasatmata. Dan apa yang kita lihat di depan mata kita adalah manifestasi yang kasatmata dari pergumulan di sana. Dan apa yang kita pelajari malam ini, itu menjadi dasar untuk memahami nubuatan Alkitab.

Coba saya tanya, apakah nubuatan Daniel itu benar? Apakah nubuatan itu sudah digenapi tepat seperti yang diberikan di zaman Daniel? Apakah Babilon pernah berkuasa? Apakah Medo-Persia pernah berkuasa? Apakah Greeka pernah berkuasa? Apakah Kekaisaran Roma pernah berkuasa? Apakah Kekaisaran Roma terbagi menjadi 10 kerajaan? Lalu apakah ada sebuah Tanduk Kecil yang bangkit dari antara ke-10 kerajaan? Apakah sejarah digenapi persis seperti yang dikatakan Daniel 2? Ya. Apakah Allah harus menunggu hingga itu terjadi atau apakah Allah sudah melihat dalam liputan yang luas segala yang terjadi seperti yang seharusnya akan terjadi? Untuk kita Daniel 2 masih di masa depan. Untuk Allah, Dia sudah melihat seluruh liputan sekaligus terjadi di depan mataNya seolah-olah itu sedang terjadi pada saat itu. Apakah kalian mengikuti saya? Ini memperluas pandangan kita. Saya berpikir tentang kemahatahuan Allah.

Jadi Ellen White melanjutkan berkata, sekali lagi dalam keterangan waktu yang akan datang, “...Orang-orang mati yang dikasihiNya, mulai dari Adam terus hingga orang kudus terakhir yang mati, akan mendengar suara Anak Allah…”  ini perspektif kita,  “…dan akan keluar dari kubur kepada hidup kekal. Allah akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umatNya. Akan ada suatu hubungan yang intim dan indah antara Allah dengan orang-orang kudus yang bangkit…” tetapi sekarang simak bagaimana Ellen White mengakhiri pernyataannya. Sekarang dia akan bicara tentang perspektif waktu Allah.  “…Kondisi ini, yang telah diantisipasi dalam tujuanNya, Dia lihat itu seolah-olah itu sudah terjadi…” Allah memandang kebangkitan orang mati sebagai hal yang sudah terjadi. Seberapa pastikah kebangkitan? Itu jaminan pasti. Bagi kita itu sebuah harapan. Bagi  Allah itu sudah terjadi. Ini menghibur. Saya berharap bertemu keluarga saya yang sudah meninggal. Tidak, tidak, tidak. Bagi Allah itu sama dengan sudah terjadi.  “…Dia lihat itu seolah-olah itu sudah terjadi.  BagiNya orang-orang yang mati, itu hidup…”  Yang mati belum hidup bagi kita karena kita tahu itu masih di masa depan, tetapi karena Allah melihat segalanya di waktu sekarang, itu sudah terjadi. Luar biasa!

 

 

For us, time bound creatures, that which has been and that which will be are two different things. What has been done is past and what is yet to be done is future. However, God is not time bound like we are. What is potential and future for us is present and actual for God. That is to say, things exist in the mind of God before they come into actual existence. That's why Acts 15:18 says that everything is known to God, “18 Known to God from eternity are all His works.”  From eternity, God knows all of His works as if those works had already transpired. Although time is important for God, in contrast to us, He lives in an eternal present. Because He knows the end from the beginning, nothing takes Him by surprise. After all, He is the great I AM. He's not the great “I was” or the great “I will be”. He is the great I AM. When it says that God is, was and is to come, it's speaking about our perspective. But His name is I AM.

 

Bagi kita, makhluk-makhluk yang terikat pada waktu, apa yang telah ada dan apa yang akan ada, itu dua hal yang berbeda. Apa yang telah dilakukan itu sudah lampau, dan apa yang masih akan dilakukan itu masa depan. Namun, Allah tidak terikat kepada waktu seperti kita. Apa yang potensial dan masih di masa depan bagi kita, itu ada dan aktual bagi Allah. Artinya, hal-hal sudah ada di pikiran Allah sebelum mereka ada secara aktual. Itulah mengapa Kisah 15:18 mengatakan bahwa segala diketahui oleh Allah, 18 Semua pekerjaanNya dari kekekalan diketahui oleh Allah.” Dari kekekalan Allah mengetahui semua pekerjaanNya seakan-akan pekerjaan-pekerjaan itu sudah terjadi. Walaupun waktu itu penting bagi Allah, tapi berbeda dengan kita, Allah hidup di kekekalan masa kini. Karena Dia mengetahui akhirnya dari awal, tidak ada apa pun yang mengejutkanNya. Bukankah Dialah Sang “I AM” (Aku yang Sekarang) yang mahabesar? Dia bukan “I was” (Aku yang lampau) yang mahabesar, atau “I will be” (Aku yang akan datang) yang mahabesar. Dialah Sang “I AM” (Aku yang Sekarang). Ketika dikatakan bahwa Allah yang sekarang, yang lampau, dan yang akan datang, itu bicara tentang perspektif kita. Tetapi namaNya ialah  “I AM” (Aku yang Sekarang)

 

 

Now, we need to go back to Exodus 3. Let's amplify Exodus 3. Go back to Exodus chapter 3. Here Moses is up on the mountain and he sees a bush that is burning but it's not consuming. And so he gets close to the bush and he wants to see this strange thing of the bush that's burning and burning and burning but it's not consumed. Let's read Exodus 3:6. Here God is speaking to Moses. “ Moreover He said, ‘I am the God of your father—the God of Abraham, the God of Isaac, and the God of Jacob.’…” Now, it's very interesting here, at this point Abraham, Isaac, and Jacob were already dead. They died long before, Abraham, Isaac, and Jacob. But here we find Jesus saying, “…am the God of your father…” before the time of Moses, that is,  “…I am the God of your father, the God of Abraham, the God of Isaac, and the God of Jacob.”  At this point, these were already dead. But notice that God doesn't say, "I was the God of Abraham, Isaac, and Jacob while they were alive”. At the burning bush, although they were dead, God says, "I am their God." Let's continue.  “…And Moses hid his face, for he was afraid to look upon God…. 13 Then Moses said to God, ‘Indeed, when I come to the children of Israel and say to them, ‘The God of your fathers has sent me to you,’ and they say to me, ‘What is His name?’ what shall I say to them?’ 14 And God said to Moses…” what?  “…‘I AM WHO I AM.’ And He said, ‘Thus you shall say to the children of Israel, ‘I AM has sent me to you.’…”   What name does God give Himself? “I AM”. Why? Because He lives in an eternal what? In an eternal present.

 

Sekarang kita harus kembali ke Keluaran 3. Mari kita perjelas Keluaran 3. Kembali ke Keluaran pasal 3. Di sini Musa ada di atas gunung dan dia melihat sebuah semak yang sedang terbakar tapi tidak hangus. Maka dia dekati semak itu dan dia mau melihat barang yang ajaib ini, semak yang terbakar dan terbakar dan terbakar, tetapi tidak hangus. Mari kita baca Keluaran 3:6. Di sini Allah berbicara kepada Musa. 6 Selain itu Ia berkata, ‘Aku (sekarang ini) adalah Allah leluhurmu ~ Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.’…”  nah, yang sangat menarik di sini, pada waktu itu Abraham, Ishak, Yakub sudah lama mati. Mereka sudah mati lama sebelumnya, Abraham, Ishak dan Yakub. Tetapi di sini kita melihat Yesus berkata,   “…‘Aku (sekarang ini) adalah Allah leluhurmu ~ Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.’…”  yaitu di zaman sebelum Musa, “…‘Aku (sekarang ini) adalah Allah leluhurmu ~ Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.’…”  pada waktu ini orang-orang itu sudah mati, tapi simak Allah tidak mengatakan, “Aku (dulu) adalah Allah Abraham, Ishak, dan Yakub, ketika mereka masih hidup.” Di semak yang terbakar, walaupun mereka sudah mati, Allah berkata, “Aku (sekarang ini) Allah mereka”. Mari kita lanjut, “…Dan Musa menyembunyikan mukanya, sebab ia takut memandang Allah… 13 Lalu Musa berkata kepada Allah, ‘Sesungguhnya apabila aku datang kepada orang Israel dan berkata kepada mereka, ‘Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu’, dan mereka berkata kepadaku, ‘Siapa namaNya?’ Apa yang harus aku katakan kepada mereka?’ 14 Dan Allah berkata kepada Musa,…” apa? “…‘AKU ADALAH SIAPA AKU SEKARANG, dan Allah berkata, ‘Demikianlah harus kamu katakan kepada orang Israel, Sang AKU SEKARANG itulah yang telah mengutus aku kepadamu.’…”  Nama apa Allah menyebut Dirinya sendiri? “AKU YANG SEKARANG”.  Mengapa? Karena Dia hidup di kekekalan apa? Di kekekalan masa kini. 

 

 

Now, Ellen White understood this. I love the way that Ellen White explains this. In Manuscript Releases which are several volumes of literature from Ellen White which were released many years ago, there's 20 volumes, but in Volume 14 pages 22 and 23 we find these words. Ellen White is going to explain what “I AM” means.“I AM means an eternal Presence;...” What does “I AM” mean? An eternal Presence. An eternal Presence. Now listen carefully  “...the past, present, and future are alike to God…” What is alike to God? Past, present, and future are alike to God. Are they alike to us? No. Because we  live by segments: past, present, and future. But Ellen White is saying here, “I AM means an eternal Presence; the past, present, and future are alike to God . He sees the most remote events of past history and the far distant future with as clear a vision as we do those things that are transpiring daily.”  Amazing statement from Ellen White.

 

Nah, Ellen White memahami ini. Saya suka cara Ellen White menjelaskan ini. Ini ada di Manuscript Releases ~ yaitu beberapa jilid literatur dari Ellen White yang diterbitkan banyak tahun yang lampau, ada 20 jilid. Tetapi di Vol.14 hal. 22-23 kita temukan kata-kata ini. Ellen White akan menjelaskan apa arti “I AM”. “…AKU YANG SEKARANG artinya kehadiran yang kekal;…” apa artinya “I AM”? Suatu Kehadiran yang kekal. Sekarang dengarkan baik-baik,   “…masa lampau, masa sekarang, dan masa depan semuanya sama bagi Allah…”  apa yang sama bagi Allah?  Masa lampau, sekarang dan yang akan datang bagi Allah itu sama. Apakah bagi kita itu sama? Tidak, karena kita hidup dalam segmen: lampau, sekarang, dan akan datang. Tetapi Ellen White di sini berkata,  “…AKU YANG SEKARANG itu artinya kehadiran yang kekal; masa lampau, masa sekarang, dan masa depan semuanya sama bagi Allah. Allah melihat peristiwa-peristwa sejarah masa lampau yang paling lama dan masa depan yang paling jauh dengan pandangan yang sama jelasnya sebagaimana kita melihat hal-hal yang sedang terjadi setiap hari.” Pernyataan yang mengagumkan dari Ellen White.

 

 

You know, we talk about history and we say, you know, we reminisce about history and so on. God can see all of the past, all the present, and all the future in a panoramic view as if it's happening right now, because He's the I AM. He lives in eternal present. So Abraham and Isaac and Jacob, for Moses, they were already dead, but for God they live. That's why God said, "I am the God of Abraham, Isaac, and Jacob" even though they were dead. This is the argument that Jesus is using with the Sadducees who denied the resurrection of the dead. From our perspective, Abraham, Isaac, and Jacob were dead. But not from God's perspective because Jesus said “all live to Him”, not to us because we know that the resurrection is future, but all live to Him.


 

Kalian tahu, kita bicara tentang sejarah dan kita berkata kita mengingat kembali sejarah dan seterusnya. Allah bisa melihat semua yang lampau, semua yang sekarang dan semua yang akan datang dalam sebuah pandangan panoramik seolah-olah itu sedang terjadi sekarang, karena Dialah Sang AKU SEKARANG. Dia hidup di kekekalan masa kini. Jadi Abraham, dan Ishak, dan Yakub, bagi Musa mereka sudah mati, tetapi bagi Allah mereka hidup. Itulah mengapa Allah berkata, “…‘Aku (sekarang ini) adalah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.’…” walaupun mereka sudah mati. Inilah argumentasi yang dipakai Yesus dengan orang-orang Saduki yang menolak kebangkitan orang mati. Dari perspektif kita, Abraham, Ishak, dan Yakub sudah mati. Tetapi tidak dari perspektif Allah, karena Yesus berkata, “…sebab semua hidup bagiNya…” tidak bagi kita karena kita tahu bahwa kebangkitan masih di masa depan, tetapi bagi Allah semua mereka hidup.

 

 

Now the question is, do we find this concept in other places of the Bible? Go with me to Genesis 17:4. Here God is going to promise Abram that he's going to be the father of many nations. But when we read verse  5, there's going to be a small variation which is very significant. Here God says to Abram, “ As for Me, behold, My covenant is with you,…” and now listen carefully,  “…and you shall be a father of many nations…” Whose perspective of time is that? That's not God's perspective. That's our perspective, because He's saying to Abram, “…you shall be a father of many nations…” But for God, it was already a done deal. Let's read verse 5. “…No longer…” the very next verse, “…No longer shall your name be called Abram, but your name shall be Abraham; for I have made you a father of many nations.” Are you catching the difference? “you shall be. But then God says, "I have made you." God did not have to wait until it happened because it was absolutely certain, because in the mind of God, He doesn't change His mind. Are you following me or not?

Now, you might be saying, "Oh, Pastor Bohr, you're twisting the text and you know, you're misunderstanding what's saying here. You're changing the verbs."

No, the apostle Paul quotes these verses and he interprets them in this way. Go with me to Romans 4:17. The apostle Paul is going to pick up on this. So, this is not just a matter of interpretation. “You shall be” or ‘I have made you a father of many nations”  The apostle Paul caught this. He understood this. It says in Romans 4:17, 17 as it is written, ‘I have made you a father of many nations’…” Where is Paul quoting? Genesis 17:5, right? “…He is our father in the presence of God whom he believed——the God who makes the dead alive…” Now, when it says that He makes the dead alive, it's because in Hebrews 11:12, it says that Abraham's body was as good as dead when God promised him that He was going to give him Isaac, because he was beyond making his wife pregnant. So this is saying,  “…whom he believed—the God who makes the dead alive…” which He did with Abraham so that Abraham could bring forth seed, and now listen carefully “…and summons the things that do not yet exist as though they already do…” (NET)

Is my interpretation of Genesis 17 correct? If you don't believe it, argue with Paul.

 

Sekarang pertanyaannya adalah, apakah kita menemukan konsep ini di tempat lain di Alkitab? Marilah bersama saya ke Kejadian 17:4, di sini Allah akan berjanji kepada Abram bahwa dia akan menjadi bapak banyak bangsa. Tetapi ketika kita baca ayat 5, ada sebuah variasi kecil yang sangat signifikan. Di sini Allah berkata kepada Abram, 4 Sedangkan untuk Aku, lihatlah perjanjian-Ku itu dengan engkau…” dan sekarang dengarkan baik-baik,  “…dan engkau akan menjadi bapak banyak bangsa…” Perspektif waktu siapa itu? Itu bukan perspektif Allah, itu perspektif kita, karena Dia berkata kepada Abram,    “…engkau akan menjadi bapak banyak bangsa…” tetapi bagi Allah ini sudah terjadi. Mari kita baca ayat 5, “…5 Tidak lagi…”  ayat yang selanjutnya,  “…5 Tidak lagi namamu akan dipanggil Abram, tetapi namamu akan menjadi Abraham, karena Aku telah menjadikan engkau bapak banyak bangsa.’…” apakah kalian menangkap bedanya? “engkau akan menjadi” tetapi kemudian Allah berkata,  “Aku telah menjadikan engkau”. Allah tidak usah menunggu hingga itu terjadi karena itu sudah mutlak pasti, karena di pikiran Allah, Dia tidak mengubah pikiranNya. Apakah kalian mengikuti saya atau tidak?

Nah, kalian mungkin berkata, “Oh, Pastor Bohr, Anda memelintir ayat dan Anda salah memahami apa yang dikatakan di sini. Anda mengganti kata-kata kerjanya.”

Tidak. Rasul Paulus mengutip ayat-ayat ini dan dia menginterpretasikan mereka seperti ini. Mari bersama saya ke Roma 4:17. Rasul Paulus akan bicara tentang ini. Jadi ini bukan semata-mata soal interpretasi dari “engkau akan menjadi” atau “Aku telah menjadikan engkau bapak banyak bangsa”. Rasul Paulus menangkap ini. Dia memahami ini. Dikatakan di Roma 4:17, 17 (seperti ada tertulis: ‘Aku telah menjadikan engkau bapak banyak bangsa’) …”  apa yang dikutip Paulus? Kejadian 17:5, bukan?  “… – dia adalah bapak kita di hadapan Allah yang dipercayainya ~ Allah yang membuat yang mati hidup…”  nah, ketika dikatakan bahwa Dia membuat yang mati hidup, itu karena di Ibrani 11:12, dikatakan bahwa tubuh Abraham sudah sama seperti sudah mati ketika Allah berjanji kepadanya Dia akan memberikan Ishak kepadanya, karena Abraham sudah tidak punya kemampuan untuk menghamili istrinya. Jadi ini berkata, “…Allah yang dipercayainya ~ Allah yang membuat yang mati hidup…” yang mana Allah lakukan terhadap Abraham supaya Abraham bisa menghasilkan keturunan. Dan sekarang dengarkan baik-baik,   “…dan memanggil hal-hal yang belum ada seolah-olah mereka sudah ada.”(NET). Apakah interpretasi saya tentang Kejadian 17 benar? Jika kalian tidak percaya, berdebatlah dengan Paulus.

 

 

Now, let me read you from another couple translations that make this verse even clearer.  The New English Translation, 17 (as it is written, ‘I have made you the father of many nations’). He is our father in the presence of God whom he believed—the God who makes the dead alive and summons the things that do not yet exist as though they already do.”

 

Sekarang saya akan membacakan dari terjemahan lain yang membuat ayat ini lebih jelas.

Dari The New English Translation, 17 (seperti ada tertulis: ‘Aku telah menjadikan engkau bapak banyak bangsa’) – dia adalah bapak kita di hadapan Allah yang dipercayainya ~ Allah yang membuat yang mati hidup dan memanggil hal-hal yang belum ada seolah-olah mereka sudah ada. (NET)

 

 

Let me read you the Weymouth Translation of this verse. 17  … Thus in the sight of God…” in whose sight? Ours or God's? God's.  “…Thus in the sight of God…”  all live to Him. Remember, “all live to Him”.  “… Thus in the sight of God in whom he believed, who gives life to the dead and makes reference to things that do not exist, as though they did, Abraham is the forefather of all of us. As it is written, ‘I have appointed you to be the forefather of many nations.’"

 

Saya akan membacakan The Weymouth Translation ayat ini.17 … Demikianlah di pemandangan Allah…”  di pemandangan siapa? Kita atau Allah? Allah. “…Demikianlah di pemandangan Allah kepada siapa dia percaya, Yang memberi hidup kepada yang mati, dan menyebut hal-hal yang tidak ada seolah-olah mereka sudah ada, Abraham adalah bapak leluhur kita semua. Sebagimana tertulis, ‘Aku telah menetapkan engkau menjadi bapak pendiri banyak bangsa’…” (Weymouth)

 

 

The great Presbyterian Bible commentator, Albert Barnes, he's from a couple of centuries ago. Great Bible commentator, even though he's a Presbyterian. He has some doctrinal matters kind of goofed up, but he has a lot of good material. And notice what he wrote concerning Romans 4:17. That is, “Those things which He foretells,...”  which God foretells “...and promises are so certain that He may speak of them as already in existence...” Are you understanding that? “Those things which He foretells and promises…” which are future for us, “…are so certain that He may speak of them as already in existence”.  

Let me ask you, how certain is it that Revelation 13 is going to be fulfilled exactly the way it was written 2,000 years ago? Let me ask you, did the Roman Empire try to kill the male Child in chapter 12 of Revelation? Yes. He used Herod to try and kill the Child. Was that fulfilled exactly the way the prophecy said? Did the church have to flee to the wilderness for exactly 1260 years, persecuted by the Papacy? Did the Papacy receive a deadly wound? This is 1600 plus years in the future. Does the prophecy say the deadly wound is going to be healed? Is it in the process of being healed? How certain can we be that the deadly wound is going to be healed? For us, it is going to be healed. But for God, it's a done deal. There's no possibility that it can't happen. Because God sees the broad sweep and He reveals the broad sweep. And He reveals to us the segments that are future for us. But for Him, it's a done deal. Is this an important concept for studying Bible prophecy? Yes, it's going to be fulfilled the way that it's written. Is there going to be a Time of Trouble for God's people? Are they going to be persecuted? Is there going to be a Sunday law? For God, it's already present because He lives in an eternal presence. He is the I AM.

He continues writing,  “...Thus in relation to Abraham, God ~ instead of simply promising that He would make him the father of many nations ~ speaks of it as already done. ‘I have made thee’ ~~ in His own mind or purpose, God had so constituted him, and it was so certain that it would take place that He might speak of it as already done.” I love that statement by Albert Barnes. Right on target.

 

Komentator Alkitab yang terkenal dari denominasi Presbyterian, Albert Barnes, yang hidup dua ratus tahun yang lalu, seorang komentator Alkitab yang hebat walaupun dia seorang Presbyterian, dia punya beberapa masalah doktrinal yang salah dipahaminya, tetapi dia punya banyak materi yang bagus. Dan simak apa yang ditulisnya tentang Roma 4:17, yaitu, “…Hal-hal yang diberitahukanNya sebelum terjadinya…” yang diberitahukan Allah sebelumnya,  “…dan yang dijanjikan itu sedemikian pasti sehingga Dia boleh menceritakan tentang mereka sebagai sudah terjadi…” apakah kalian mengerti ini? “…Hal-hal yang diberitahukanNya sebelum terjadinya dan yang dijanjikan…” yang bagi kita masih di masa depan, “…itu sedemikian pasti sehingga Dia boleh mengatakan mereka sebagai sudah terjadi.”

Coba saya tanya, seberapa pastikah Wahyu 13 akan digenapi persis seperti nyang tertulis 2’000 tahun yang lalu? Coba saya tanya, apakah Kekaisaran Roma berusaha untuk membunuh Anak laki-laki di Wahyu pasal 12? Ya. Dia menggunakan Herodes untuk berusaha membunuh Anak itu. Apakah itu digenapi persis seperti yang dikatakan nubuatan? Apakah gereja harus lari ke padang gurun untuk persis 1260 tahun, dipersekusi oleh Kepausan? Apakah Kepausan menerima luka yang mematikan? Ini terjadi lebih dari 1600 tahun kemudian. Apakah Kepausan mengatakan bahwa luka yang mematikan itu akan disembuhkan? Apakah sekarang sedang dalam proses disembuhkan? Seberapa pastikah kita bahwa luka yang mematikan ini akan disembuhkan? Bagi kita, itu akan disembuhkan. Tetapi bagi Allah, itu sudah terjadi. Tidak ada kemungkinan bahwa itu tidak akan terjadi. Karena Allah melihat seluruh pandangan yang luas dan Dia menyatakan pandangan yang luas itu. Dan Allah menyatakan kepada kita segmen-segmen yang masih di masa depan bagi kita. Tetapi bagi Allah, itu sudah terjadi. Apakah ini konsep yang penting dalam mempelajari nubuatan Alkitab? Ya, itu akan digenapi persis seperti yang ditulis. Apakah bakal ada suatu Masa Kesukaran bagi umat Allah? Apakah mereka akan dipersekusi? Apakah akan ada Undang-undang Hari Minggu? Bagi Allah itu sudah ada, karena Dia hidup di kekekalan masa kini. Dialah Sang AKU SEKARANG.

Albert Barnes melanjutkan menulis, “...Dengan demikian, sehubungan dengan Abraham, Allah ~ bukan sekedar berjanji akan menjadikan dia bapak banyak bangsa ~ tetapi berbicara seolah-olah itu sudah terjadi. ‘Aku telah menjadikan engkau’ ~ dalam pikiranNya sendiri atau tujuanNya, Allah sudah menetapkan Abraham demikian, dan itu begitu pasti akan terjadi sehingga Dia boleh membicarakannya seakan-akan itu sudah terjadi. …” Saya suka pernyataan Albert Barnes ini. Tepat kena sasaran.

         

 

Now do we have further evidence in the Bible of this concept that what is future for us is present for God, because God lives in an eternal present? Let's go to Revelation 13:8. When was Jesus slain? When was He crucified? He was crucified on a Friday, the 14th day of Nisan, of the month of Nisan, at 3:00 in the afternoon, right? That's when Jesus was crucified, when the Lamb was slain, right? Well, but now we have a problem. Let's read Revelation 13:8. But the problem is resolved when we understand what we're studying tonight. It says in Revelation 13:8, All…” speaking about those who are going to worship the beast, All who dwell on the earth will worship him,…” that is will worship the Beast  “…whose names have not been written in the Book of Life of the Lamb slain from the foundation of the world.”  When was Jesus slain? I thought it was in the year 31, hehehe. Are you with me or not? When was Jesus slain? It says here “from the foundation of the world”. How certain was it that Jesus was going to die at this precise moment that God knew He was going to die? How certain was it? Was there any chance that it would not be fulfilled? No. Because for God, it was already done. That's why it says that He was “slain from the foundation of the world”. But for us, He was slain in the year 31 in the past. Are you following me or not?

 

Nah, apakah kita punya bukti lebih jauh di Alkitab tentang konsep ini, bahwa apa yang masih di masa depan bagi kita itu adalah sekarang bagi Allah, karena Allah hidup di kekekalan masa kini? Mari ke Wahyu 13:8. Kapan Yesus dibunuh? Kapan Dia disalibkan? Dia mati disalibkan pada suatu hari Jumat, hari ke-14 Nisan, bulan Nisan, pada pukul 3:00 sore, benar? Itulah ketika Yesus mati disalib, ketika Domba Allah dibunuh, benar? Nah, tetapi sekarang kita punya problem. Mari kita baca Wahyu 13:8. Tapi problem itu terselesaikan ketika kita memahami apa yang kita pelajari malam ini. Dikatakan di Wahyu 13:8, 8 Dan semua…”  bicara tentang mereka yang akan menyembah Binatang itu,   “…8 Dan semua yang diam di atas bumi akan menyembahnya,…” maksudnya akan menyembah Binatang itu, “…yang namanya tidak tertulis di dalam kitab kehidupan Sang Domba, yang telah disembelih dari fondasi dunia…”  Kapan Yesus mati dibunuh? Saya sangka itu di tahun 31, hehehe. Apakah kalian mengikuti saya atau tidak? Kapan Yesus dibunuh? Dikatakan di sini “…dari fondasi dunia…” Seberapa pastikah Yesus akan mati persis di saat yang Allah tahu Dia akan mati? Seberapa pastinya itu? Apakah ada kemungkinan  bahwa itu tidak akan digenapi? Tidak. Karena bagi Allah, itu sudah terjadi. Itulah mengapa dikatakan bahwa Yesus itu “telah disembelih dari fondasi duniatetapi bagi kita, Dia dibunuh di tahun 31 yang sudah lewat. Apakah kalian mengikuti saya atau tidak?

 

 

That's why Ellen White says, "The covenant of grace is not a new truth, for it existed in the mind of God from all eternity. This is why it is called the everlasting covenant.What a marvelous concept.

 

Itulah mengapa Ellen White berkata,  “…Perjanjian rahmat (kasih karunia) itu bukan kebenaran yang baru, karena itu sudah ada dalam pikiran Allah sejak kekekalan. Inilah mengapa itu disebut perjanjian kekal.” (The Faith I Live By hal. 77).  Betapa indahnya konsep ini.

 

 

By the way, both Peter and Paul wrote verses that give us both perspectives. God's perspective of when Jesus died and our perspective of when Jesus died. Go with me to 1 Peter 1:20. Here we have our perspective and we have God's perspective. It says there in 1 Peter 1:20, “ 20 He…” that is Jesus  “…indeed was foreordained…” when?  “…before the foundation of the world…” whose perspective is that? He was foreordained to die when? From the foundation of the world. Whose perspective is that? That's God's perspective,   “…but was manifest in these last times for you…” Whose perspective of time is that?  Ours. “…was manifest in these last times…” foreordained from eternity. So you have God's perspective and you have our perspective.

 

Nah, baik Petrus maupun Paulus menulis ayat-ayat yang memberi kita kedua perspektif itu. Perspektif Allah tentang kapan Yesus mati, dan perspektif kita kapan Yesus mati. Mari pergi bersama ssaya ke 1 Petrus 1:20.  Di sini ada perspektif kita dan perspektif Allah. Dikatakan di 1 Petrus 1:20, 20 Dia…”  yaitu Yesus, “…sungguh-sungguh sudah ditentukan sebelumnya,…” kapan? “…sebelum dunia dijadikan,…” perspektif siapa ini? Dia sudah ditentukan sebelumnya untuk mati, kapan? Sejak sebelum dunia dijadikan. Ini perspektif Allah, “…namun dinyatakan pada akhir masa ini untuk kamu…”  perspektif waktu siapa ini? Kita. “…dinyatakan pada akhir masa inidan “ditentukan dari kekekalan”. Jadi ada perspektif Allah dan ada perspektif kita.

 

 

Paul agreed. Go with me to Titus 1:2 and 3. It says there, “ in hope of eternal life which God, who cannot lie, promised before time began,…” whose perspective is that? God's perspective. He promised that Jesus would come and live and die when? Before time began. But now notice our perspective, “…but has in due time manifested His word through preaching,…” in due time He manifested it to us. But from His perspective it was in His mind before time began. Two different perspectives.   

 

Paulus sepakat. Mari bersama saya ke Titus 1:2-3, dikatakan di sana, 2 Dalam pengharapan akan hidup kekal yang oleh Allah yang tidak bisa berdusta, dijanjikan sebelum ada perhitungan waktu…” perspektif siapa itu? Perspektif Allah. Dia menjanjikan bahwa Yesus akan datang dan hidup dan mati kapan? Sebelum ada perhitungan waktu. Tetapi sekarang simak perspektif kita, “…3 tetapi yang ketika waktunya tiba, telah menyatakan Firman-Nya melalui pemberitaan Injil…”  ketika tiba waktunya Dia menyatakannya kepada kita. Tetapi dari perspektifNya, itu ada di pikiranNya sebelum ada perhitungan waktu. Dua perspektif yang berbeda.  

 

 

Now let me ask you this. When is our name written in the Book of Life? Take another example. When is our name written in the Book of Life? When we receive Jesus, right? But now we have a problem. See, this helps us solve a whole bunch of problems in the Bible. Let's read Revelation 17:8. Let me ask you, how long or since when have the names of those who at the end were not written? “ The Beast that you saw was, and is not, and will ascend out of the bottomless pit and go to perdition. And those who dwell on the earth will marvel, whose names are not written in the Book of Life from…”  when? So since when have the names of the lost not been written in the Book of Life? From the foundation of the world. So it's not when they actually worshiped the Beast. Their names were not written in the Book of Life from the foundation of the world. And so you might be thinking, they were predestined to be lost? This is going to help us understand predestination. We'll come to that in a few moments. Are you learning anything tonight? Vital for interpreting Bible prophecy. So it says, their names are not written, actually a better translation it's the perfect tense, “… whose names have not been written in the Book of Life from the foundation of the world, when they see the Beast that was, and is not, and yet is”.

 

Nah, coba saya tanya. Kapan nama kita ditulis di Kitab Kehidupan? Kita lihat contoh yang lain. Kapan nama kita ditulis di Kitab Kehidupan? Ketika kita menerima Yesus, benar? Tetapi sekarang ada masalah. Lihat, ini membantu kita menemukan jawaban dari banyak masalah di Alkitab. Mari kita baca Wahyu 17:8. Coba saya tanya, sudah berapa lama, atau sejak kapan nama-nama mereka yang pada akhirnya tidak ditulis? 8 Adapun Binatang yang telah kaulihat itu, pernah ada, namun sekarang tidak ada, dan ia akan muncul  dari jurang maut, dan menuju kepada kebinasaan. Dan mereka yang diam di bumi akan heran, yang namanya tidak tertulis di dalam Kitab Kehidupan,  dari…”  kapan? Jadi sejak kapan nama-nama mereka yang tidak selamat tidak tertulis di Kitab Kehidupan? Dari fondasi dunia. Jadi bukan ketika mereka benar-benar menyembah Binatang itu. Nama mereka sudah tidak tertulis di Kitab Kehidupan dari fondasi dunia. Maka kalian mungkin berpikir, apa mereka ditakdirkan untuk tidak selamat? Ini akan membantu kita memahami pradestinasi. Sebentar kita akan kembali ke sana. Apakah malam ini kalian telah belajar sesuatu? Vital untuk menginterpretasi nubuatan Alkitab. Maka dikatakan bahwa nama mereka  tidak tertulis, terjemahan yang lebih bagus adalah dalam perfect tense,   “…yang namanya sudah tidak pernah tertulis di dalam Kitab Kehidupan, dari fondasi dunia,  apabila mereka melihat Binatang yang pernah ada, dan tidak ada, namun [akan] ada.”

 

 

But now we have a problem. Ellen White tells us that the names of those who are saved ~  by the way, if the names of the wicked have not been written in the Book of Life from the foundation of the world, since when the names of God's people been written in the Book of Life? Before the foundation of the world, right? What's true of the wicked is true of the righteous. Did God already know who was going to be saved before the world existed? Yeah, because God is omniscient. Did God already know everyone who was going to be lost? Let me rephrase that. Did God already know everyone who was going to choose to be lost? It was their choice, but God knew what their choice would be. Wow!

 

Tapi sekarang ada masalah. Ellen White memberitahu kita bahwa nama-nama mereka yang selamat ~ nah, jika nama-nama mereka yang jahat sudah tidak pernah diitulis di Kitab Kehidupan dari fondasi dunia, sejak kapan nama-nama umat Allah tertulis di Kitab Kehidupan? Sebelum fondasi dunia, benar? Apa yang berlaku bagi yang jahat, berlaku juga bagi yang benar. Apakah Allah sudah tahu siapa-siapa yang akan selamat sebelum ada dunia? Iya, karena Allah itu mahatahu. Apakah Allah sudah tahu semua orang yang akan tidak selamat? Saya akan memperbaiki kalimat ini. Apakah Allah sudah tahu siapa-siapa yang akan memilih untuk tidak selamat? Itu adalah pilihan mereka, tetapi Allah sudah tahu apa pilihan mereka. Wow!

 

 

Now, Ellen White wrote that our name is written in the Book of Life when we're baptized. In the devotional book, God's Amazing Grace, page 143, she wrote, “The Father, the Son, and the Holy Ghost, powers infinite and omniscient,  receive those who truly enter into covenant relation with God. They...” the Father, Son, and Holy Spirit  “...are present at every baptism to receive the candidates who have renounced the world and have received Christ into the soul temple. These candidates have entered into the family of God, and their names are inscribed in the Lambs Book of Life.” So when are the names written in the Book of Life? They were written before the foundation of the world in the Book of Life.

 

Nah, Ellen White menulis bahwa nama kita ditulis di Kitab Kehidupan ketika kita dibaptis. Di buku devosi God’s Amazing Grace hal. 143, dia menulis, “…Bapa, Anak, dan Roh Kudus, kekuasaan yang tidak terbatas dan mahatahu, menerima mereka yang benar-benar masuk dalam hubungan perjanjian dengan Allah. Mereka…”  Bapa, Anak, dan Roh Kudus,   “…hadir dalam setiap baptisan untuk menerima para calon yang telah menolak dunia dan telah menerima Kristus ke dalam bait suci hati. Para calon ini  telah masuk ke dalam keluarga Allah, dan nama mereka tertulis dalam Kitab Kehidupan Sang Domba. …”   Jadi kapan nama-nama itu ditulis di Kitab Kehidupan? Mereka sudah ditulis di Kitab Kehidupan sebelum fondasi dunia. 

 

 

Throughout eternity, God foreknew who would choose to accept the atonement and who would not. In other words, from eternity, God knew the choices that people would make, but He did not make the choices for them. He predestined those whom He knew were going to make the right choice. God didn't say from eternity past like, “The Presbyterians believe.” God didn't say, "By divine decree, I choose one group to be saved and the other group to be lost. And don't complain. No, it's not the way it works. God is not an arbitrary God. God knew from eternity who would choose to be saved. And therefore, for God, they were already written in the Book of Life. But for us, they're written at the moment which God saw from eternity in the Book of Life. Two different perspectives.

 

Sepanjang kekekalan Allah sudah lebih dulu tahu siapa-siapa yang akan menerima pendamaian dan siapa-siapa yang tidak. Dengan kata lain, dari kekekalan, Allah sudah tahu pilihan-pilihan yang akan dibuat manusia, tetapi bukan Dia yang membuat pilihan tersebut untuk mereka. Dia menggolongkan mereka yang Dia tahu akan membuat pilihan yang benar. Allah tidak mengatakan dari kekekalan lampau misalnya, “Kelompok Presbyterian percaya”. Allah tidak mengatakan, “Berdasarkan dekrit Ilahi, Aku memilih satu kelompok untuk diselamatkan, dan kelompok yang lain tidak selamat. Dan jangan protes.” Tidak, bukan begitu cara kerjanya. Allah bukan Allah yang semena-mena. Allah tahu dari kekekalan siapa-siapa yang akan memilih untuk diselamatkan. Dan oleh karenanya, bagi Allah mereka sudah ditulis di Kitab Kehidupan. Tetapi bagi kita, nama-nama itu ditulis di Kitab Kehidupan pada saat yang dilihat Allah dari kekekalan. Dua perspektif yang berbeda.

 

 

There's a difference between predestination and predetermination. God predestines, but He does not predetermine. God ~ for those who believe in predestination in the wrong sense of the word ~ chose who is going to be saved and who's going to be lost. However, the biblical view is that God predestined the elect to salvation because He knew the choice that they would make. God predestined them on the basis of their choice, not on the basis of His arbitrary choice.

 

Ada perbedaan antara pradestinasi (pradestinasi = tujuan yang sudah diketahui sebelumnya) dan pradeterminasi (pradeterminasi = pilihan yang sudah ditentukan sebelumnya). Allah membuat pradestinasi, tetapi Dia tidak membuat pradeterminasi. Bagi mereka yang memahamii pradestinasi dalam pengertian yang salah dari kata tersebut, menurut mereka Allah yang menentukan (secara sepihak) siapa-siapa yang akan diselamatkan dan siapa-siapa yang akan tidak selamat. Namun pandangan yang alkitabiah ialah, Allah mempradestinasi umat pilihan (= memisahkan menurut tujuan yang akan mereka pilih, yang sudah diketahui Allah karena kemahatahuanNya) kepada keselamatan karena Dia sudah tahu sebelumnya pilihan apa yang akan mereka buat. Allah mempradestinasi mereka atas dasar pilihan mereka, bukan atas dasar pilihan sesuka hati Allah.

 

 

Now we need to examine two very important Greek words. I don't like to go into the original Greek but in this case we have to examine two Greek words. The first is the word ~ and we have it in English: πρόγνωσις [prognōsis]. Have you ever heard of the word “prognosis”? Well that's a word in Greek. It's used two times in the New Testament. What does the word mean? It means knowing something in advance. That's what “prognosis” means in the Greek. It means knowing something before it happens, knowing something in advance. Another definition that's given in the English dictionary is “a forecast of the likely outcome of a situation.” With God, I would eliminate the word “likely”. With God, it would be “a forecast of the outcome of a situation”, not the “likely outcome of a situation”.

 

Sekarang kita perlu menyimak dua kata Greeka yang penting. Saya tidak suka ke bahasa Greeka aslinya, tetapi dalam hal ini kita perlu menyimak dua kata Greka. Yang pertama adalah kata ~ dan kita mengenal kata itu dalam bahasa Inggris: πρόγνωσις [prognōsis]. Pernahkah kalian dengar kata “prognosis”? Nah, itu kata dalam bahasa Greeka. Kata ini dipakai dua kali di Perjanjian Baru. Apa arti kata ini? Artinya mengetahui sesuatu di muka. Itulah arti “prognosis” dalam bahasa Greeka. Itu berarti mengetahui sesuatu sebelum itu terjadi, mengetahui sesuatu sebelumnya. Definisi yang lain yang diberikan kamus bahasa Inggris  ialah, “sebuah ramalan tentang apa yang mungkin dihasilkan oleh suatu situasi.” Bila berkaitan dengan Allah, saya akan menghapus kata “mungkin”, untuk Allah itu adalah “sebuah ramalan tentang apa yang dihasilkan oleh suatu situasi”

 

 

Let's examine the two references to the word “prognosis”: “to know beforehand”. 1 Peter 1:1-2 very important verses. It says, 1 Peter, an apostle of Jesus Christ, to the pilgrims of the Dispersion in Pontus, Galatia, Cappadocia, Asia, and Bithynia,…” Now listen carefully to what it says in verse 2,  “…elect…” he's talking about these Christians in these places “…elect according to the…” what?  “…to the foreknowledge of God…” Why were they elected? Because of God's knowing the choice that they would make. Are you following me or not? They were elected according to the foreknowledge of God that they would choose salvation. So it says,  “…elect according to the πρόγνωσις [prognōsis]…” By the way, the word “foreknowledge” there is the the word πρόγνωσις [prognōsis] of God the Father, in sanctification of the Spirit for obedience, and sprinkling of the blood of Jesus Christ: Grace to you and peace be multiplied.” “elect according to the prognosis of God”, the foreknowledge of God because God already knew what their choice would be.

 

Mari kita simak kedua rujukan kata “prognosis”: “mengetahui sebelumnya”. 1 Petrus 1:1-2, ayat-ayat yang sangat penting. Dikatakan, 1 Dari Petrus, seorang rasul Yesus Kristus, kepada muzafir (pengikut Kristus) yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia,…”  sekarang dengarkan baik-baik apa yang dikatakan di ayat 2, “…2 yang dipilih…”  dia bicara tentang orang-orang Kristen di tempat-tempat itu, “…2 yang dipilih sesuai dengan…” apa? “…dengan pengetahuan Allah Bapa akan hal-hal yang belum terjadi,…” mengapa mereka dipilih? Karena pengetahuan Allah tentang pilihan yang akan mereka buat. Apakah kalian mengikuti saya atau tidak? Mereka dipilih menurut kemahatahuan Allah bahwa mereka akan memilih keselamatan. Maka dikatakan,  “…2 yang dipilih sesuai dengan πρόγνωσις [prognōsis]…” nah, kata “pengetahuan Allah Bapa akan hal-hal yang belum terjadi” di sana adalah kata πρόγνωσις [prognōsis]  “…pengetahuan Allah Bapa akan hal-hal yang belum terjadi, dalam pengudusan oleh Roh untuk ketaatan, dan percikan darah Yesus Kristus. Rahmat dan damai sejahtera bagimu dilipatgandakan.” Jadi “dipilih sesuai dengan πρόγνωσις [prognōsis] Allah”,  kemahatahuan Allah, karena Allah sudah tahu apa yang akan mereka pilih.

 

 

The second use of the word “prognosis” is in Acts 2:22 and 23. It's only used twice in the New Testament, this word. It says, 22 ‘Men of Israel, hear these words: Jesus of Nazareth, a Man attested by God to you by miracles, wonders, and signs which God did through Him in your midst, as you yourselves also know— 23 Him, …” that is Jesus,  “…being delivered by the determined purpose and…” what? “…foreknowledge of God, …”  Let me ask you, was it in God's infinite plan for Jesus Christ to be crucified? Yes, it was in His plan. Did He have foreknowledge of it? Did He predict it in the Bible? So that people even in the Old Testament knew that Christ was going to come and He was going to die? Absolutely. So once again, God knew beforehand, His foreknowledge. He knew that His plan was going to be fulfilled.

 

Penggunaan kedua dari kata “prognosis” ada di Kisah 2:22-23. Kata ini hanya dipakai dua kali di Perjanjian Baru. Dikatakan, 22 Hai orang-orang Israel, dengarlah kata-kata ini: Yesus dari Nazaret, satu Manusia yang telah dibuktikan oleh Allah kepadamu melalui mujizat-mujizat, keajaiban-keajaiban, dan tanda-tanda yang dilakukan Allah melalui Dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu sendiri pun tahu. 23 Dia, …”  yaitu Yesus,   “…yang diserahkan demi tujuan yang pasti dan…”  apa?   “…pengetahuan Allah akan hal-hal yang belum terjadi,…”  coba saya tanya, apakah ada di dalam rencana Allah yang infinit Yesus Kristus akan mati disalib? Ya, ada di dalam rencanaNya. Apakah Allah sudah tahu sebelumnya tentang hal itu? Apakah Allah menubuatkannya di Alkitab, sehingga bahkan orang-orang di Perjanjian Lama pun tahu bahwa Kristus akan datang dan bahwa Dia akan mati? Tepat sekali. Jadi sekali lagi, Allah sudah tahu sebelumnya, itu kemahatahuanNya. Allah tahu rencanaNya akan digenapi. 

 

 

Let me read you two other translations of Acts 2:22 and verse 23, The New Century Version reads, 22 … But this was God’s plan…” Jesus, to be taken and being crucified. This was God's plan  “…which He had made long ago; He knew…”  that's the word πρόγνωσις [prognōsis] “…He knew all this would happen.” (NCV)

 

Saya akan membacakan dua terjemahan lain dari Kisah 2:22-23, The New Century Version bunyinya: 22… Tetapi itu adalah rencana Allah…”  Yesus ditangkap dan disalibkan. Ini adalah rencana Allah,   “…yang telah dibuatNya sejak lama; Dia sudah tahu…”  ini kata πρόγνωσις [prognōsis]  “…Dia sudah tahu semua ini akan terjadi.” (NCV)

 

 

Could God already see all of this as if it had happened from eternity past? He's the Lamb slain from when? From the foundation of the world. Because He's omnisient. He lives in an eternal present. He didn't have to wait for Jesus to come and be crucified because it was absolutely certain in His mind that it was going to happen that way. It was going to be His plan and He revealed it because He has foreknowledge of it.

 

Bisakah Allah dari kekekalan lampau sudah melihat semua ini seolah-olah itu sudah terjadi? Dialah Domba yang tersembelih sejak kapan? Dari fondasi dunia. Karena Allah itu mahatahu. Dia hidup di kekekalan masa kini. Dia tidak perlu menunggu Yesus datang ke dunia dan mati disalib karena itu sudah suatu kepastian yang mutlak di pikiranNya bahwa itu akan terjadi seperti itu. Itu akan menjadi rencanaNya dan Dia menyatakannya karena Dia punya pengetahuan sebelumnya tentang hal itu.

 

 

Notice the New Living Translation. I like this one. 23 But God knew...” that's the word  πρόγνωσις [prognōsis] “...God knew what would happen, and His prearranged plan was carried out when Jesus was betrayed...” (NLT) I like that phrase: “God knew”, πρόγνωσις [prognōsis] which He had made long ago.

 

Simak The New Living Translation. Saya suka ini, 23 Tetapi Allah sudah tahu…”  ini kata πρόγνωσις [prognōsis] “…Allah sudah tahu apa yang akan terjadi, dan rencanaNya yang sudah diaturNya sebelumnya, dijalankan ketika Yesus dikhianati…”(NLT). Saya suka ungkapan itu: “…Allah sudah tahu”  πρόγνωσις [prognōsis],  yang telah dibuatNya sejak lama sekali.

 

 

Now let's discuss just for a few moments the way that we understand the word “prognosis” because it's very much the way it's used in the Bible. We use the word “prognosis”, right? Let me ask you, do the weather forecasters prognosticate? Of course, they prognosticate, it means announcing what is going to happen before it happens. But the weathercasters are the only people who work that I know of, that still keep their jobs even though they're 50% wrong. Why? because their prognosis is not omniscient. But God's prognosis is omniscient. It is “not likely that it will happen”, it will happen because He knows everything beforehand. He prognosticates based on His knowledge.

 

Nah, mari kita bicara sebentar tentang cara kita memahami kata “prognosis” karena itu sangat mirip cara kata itu dipergunakan di Alkitab. Kita memakai kata “prognosis”, bukan? Coba saya tanya, apakah para peramal cuaca berprognosis? Tentu saja mereka berprognosis, itu artinya mengumumkan apa yang akan terjadi sebelum itu terjadi. Tetapi para peramal cuaca adalah satu-satunya kelompok manusia yang saya tahu yang tetap tidak kehilangan pekerjaan mereka walaupun mereka salah 50%. Mengapa? Karena prognosis mereka tidaklah mahatahu. Tetapi prognosis Allah itu berdasarkan kemahatahuan. Itu bukan hanya kemungkinan besar akan terjadi, itu pasti akan terjadi, karena Allah tahu segalanya sebelumnya. Allah berprognosis berdasarkan pengetahuanNya.

 

 

We also use the word “prognosis” when we go to the doctor and the doctor does the exams and may it not be that way. He says, “You have six months to live. You’ve got cancer.” But I've known people who live years after they've been prognosticated and said that they're going to die within six months. You see, man's prognosis is not based on omniscience, on knowing everything. But God's prognosis is absolutely certain because He lives in an eternal present. He sees the broad scope of everything, past, present, and future as if it's happening right there before His eyes at that particular moment. His prognosis is perfect. I hope you're understanding what I'm saying.

 

Kita juga menggunakan kata “prognosis”. Bila kita ke dokter, dan dokter itu memeriksa, dan semoga tidak terjadi seperti itu, dokter itu berkata, “Anda punya enam bulan lagi untuk hidup. Anda punya kanker.” Tetapi saya kenal orang-orang yang hidup bertahun-tahun setelah mereka diprognosis dan dikatakan bahwa mereka akan mati dalam enam bulan. Kalian lihat, prognosis manusia tidak berdasarkan pada kemahatahuan, pada mengetahui segalanya. Tetapi prognosis Allah itu mutlak pasti karena  Dia hidup di kekekalan masa kini. Dia melihat pandangan yang luas dari segalanya, yang lampau, yang sekarang, dan yang akan datang, seolah-olah itu sedang terjadi di sana tepat di depan mataNya pada saat itu. PrognosisNya sempurna. Saya harap kalian paham apa yang saya katakan.

 

 

Now, another word which is used five times in relation to this, it's a verb. It's the word προγινώσκω [proginóskó]. The same thing as “prognosis”, but it's the verb προγινώσκω [proginóskó]. It's used five times in the New Testament. Let me just read you one or two of the five. Go with me to Romans 11:2. Here it's speaking about the Jewish nation. Did God already foreknow that the Jewish nation was going to be the chosen people that would bring the Messiah into the world? Did God know before it happened? Did He see every single detail of Israel, every king, every battle, everything? Yes, as if it was happening right at the moment. 

Romans 11:2 says, “ God has not cast away His people whom He foreknew…” whom He knew beforehand.

Romans 8:29, this is a key verse. 29 For whom He foreknew…” that's the word προγινώσκω [proginóskó ] “…29 For whom He foreknew…” the person that God foreknew  “…He also…” what? “…predestined…” what is “predestination” based on? God's foreknowledge. Did God already know all the choices that people were going to make? Did He predestine those whom He knew were going to make the right choice? He, in other words, God announces who is going to be saved based on knowing the choice that they're going to make, because He lives in an eternal present. God doesn't have to wait till a baptism,  till a call is made for baptism, if a person is going to give his heart to the Lord or not. He already knows who's going to give his heart to the Lord from eternity, before we even existed. Notice Romans 8:29. “…29 For whom He foreknew…” that’s προγινώσκω [proginóskó ] “…He also predestined, to be conformed to the image of His Son, that He might be the firstborn among many brethren…” Now notice verse 30.30 Moreover whom He predestined,…” because He foreknew, right? According to the context, those whom He predestined because He foreknew them, “…these He also…” what? “…called; whom He called, these He also justified; and whom He justified, these He also glorified.”

 

Nah, kata lain yang dipakai lima kali sehubungan dengan ini, adalah sebuah kata kerja, yaitu kata προγινώσκω [proginóskó]. Sama seperti “prognosis” tetapi ini kata kerjanya, προγινώσκω [proginóskó]. Ini dipakai lima kali di Perjanjian Baru. Saya akan membacakan satu atau dua dari lima contohnya. Mari bersama saya ke Roma 11:2, di sini ini bicara tentang bangsa Yahudi. Apakah Allah sudah lebih dulu tahu bahwa bangsa Yahudi akan menjadi bangsa pilihan yang akan menurunkan Sang Messias ke dunia? Apakah Allah sudah lebih dulu tahu sebelum itu terjadi? Apakah Allah melihat setiap detail dari Israel, setiap raja, setiap peperangan, segalanya? Ya, seakan-akan itu sedang terjadi tepat di saat itu.

Roma 11:2 mengatakan, 2 Allah tidak membuang umat-Nya yang telah Dia ketahui sebelumnya…”  yang telah Dia ketahui sebelumnya.

Roma 8:29, ini adalah ayat kunci, “…29 Sebab siapa yang sudah Dia ketahui dari semula,…” ini kata προγινώσκω [proginóskó],  “…29 Sebab siapa yang sudah Dia ketahui dari semula,…” orang yang sudah diketahui Allah dari semula, “…Dia juga…” apa?   “…memisahkan…“pradestinasi” berdasarkan apa? Pengetahuan Allah yang sebelumnya. Apakah Allah sudah tahu semua pilihan yang akan dibuat manusia? Apakah Allah memisahkan mereka yang sudah Dia ketahui akan membuat keputusan yang benar? Dia, dengan kata lain, Allah mengumumkan siapa-siapa yang akan selamat berdasarkan pengetahuanNya tentang pilihan yang akan mereka buat, karena Allah hidup di kekekalan masa kini. Allah tidak harus menunggu hingga ada baptisan, hingga ada undangan untuk baptisan dibuat, apakah seseorang akan memberikan hatinya kepada Tuhan atau tidak. Dari kekekalan Allah sudah lebih dulu tahu siapa-siapa yang akan menyerahkan hatinya kepada Tuhan, bahkan sebelum kita ada. Simak Roma 8:29, “…29 Sebab siapa yang sudah Dia ketahui dari semula, …”  ini προγινώσκω [proginóskó], “…Dia juga memisahkan dari semula  untuk dijadikan serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia (Anak-Nya) boleh menjadi yang sulung di antara banyak saudara…”  Sekarang simak ayat 30, “…30 Selain itu, siapa yang Dia pisahkan dari semula,…”  karena Dia sudah tahu lebih dulu, benar? Menurut konteksnya, mereka yang Dia pisahkan dari semula itu karena Dia sudah tahu lebih dulu tentang mereka, “…mereka ini juga Dia…” apa? “…panggil; siapa yang Dia panggil, mereka ini juga Dia benarkan; dan siapa yang Dia benarkan, mereka ini juga Dia muliakan.”

 

 

Now, let me give you a couple biblical examples. There's three other references to the word προγινώσκω [proginóskó], but I think you have the idea of what it means. Remember the story of Jacob and Esau. Before they were born, God said, the older was going to serve the younger. So God determined it that way? He said, "Tough luck, Esau. This is your destiny." Is that the way it worked? No. Did God know the choices that Jacob and Esau were going to make? Did He predestine Jacob on the basis of His knowledge of the choice that Jacob would make? Listen carefully again. Did He choose Jacob because He knew the choice that Jacob would make? Yes. Did He reject Esau because He knew the character that Esau was going to develop? Yes. But God did not determine it that way. He didn't say, "My favorite is Jacob. You're going to get the blessing." And “Esau, tough luck. No. Did God foreknow in His omniscience the choices that they would make? Absolutely. And HHHe announced it beforehand saying that the older would serve the younger.

 

Nah, saya akan memberi kalian dua contoh alkitabiah. Ada tiga referensi yang lain untuk kata προγινώσκω [proginóskó], tetapi saya rasa kalian sudah menangkap apa artinya. Ingat kisah Yakub dan Esau? Sebelum mereka dilahirkan Allah berkata, bahwa yang lebih tua akan mengabdi kepada yang lebih muda. Jadi apakah Allah yang menetapkan seperti itu? Apakah Allah berkata, “Nasibmu yang sial, Esau, inilah takdirmu.” Apakah begitu cara kerjanya? Tidak! Apakah Allah sudah tahu pilihan-pilihan yang akan dibuat oleh Yakub dan Esau? Apakah Allah memisahkan lebih dulu Yakub berdasarkan pengetahuanNya tentang pilihan yang akan dibuat Yakub? Dengarkan baik-baik lagi. Apakah Allah memilih Yakub karena Dia tahu pilihan yang akan dibuat Yakub? Iya! Apakah Allah menolak Esau karena Dia sudah tahu karakter yang akan dikembangkan Esau? Iya! Tetapi bukan Allah yang menetapkannya begitu. Allah tidak berkata, “FavoritKu Yakub. Kamu yang akan mendapat berkatnya.” Dan “Esau, nasibmu sial.” Tidak. Apakah Allah sudah lebih dulu tahu dari kemahatahuanNya, pilihan-pilihan yang akan mereka buat? Tentu saja. Dan Allah mengumumkannya sebelumnya dengan mengatakan bahwa yang lebih tua akan mengabdi kepada yang lebih muda.

 

 

Let's read this statement from Ellen White, Vol. 1 Spirit of Prophecy, page 105 and 106. “…God knows the end from the beginning. He knew, ...” see, this is a prognosis προγινώσκω [proginóskó ]. “...He knew before the birth of Jacob and Esau, just what characters they would both develop. He knew that Esau would not have a heart to obey Him. He answered the troubled prayer of Rebekah, and informed her that she would have two children, and the elder should serve the younger. He presented the future history...” future history to us, right? Not to God because God already knew from eternity the choices that they were going to make. So  “...He presented the future history of her two sons before her, that they would be two nations, the one greater than the other, and the elder should serve the younger….”

So He predestined Jacob on the basis of foreknowing the choice that Jacob would make. That's predestination. It's not God determining it's going to be this way, but God announcing it's going to be this way because He knows the choices that will be made.

 

Mari kita baca pernyataan ini dari Ellen White dari Spirit of Prophecy Vol. 1 hal. 105-106  “…Allah tahu yang akhir dari mulanya. Allah tahu…” lihat, ini sebuah prognosis,  προγινώσκω [proginóskó] “…Allah tahu sebelum kelahiran Yakub dan Esau karakter macam apa yang akan mereka berdua kembangkan. Allah tahu bahwa Esau tidak akan punya hati untuk mematuhiNya. Dia menjawab doa Ribkah yang gundah dan memberitahunya bahwa dia akan punya dua anak, dan yang lebih tua akan menghamba kepada yang muda. Dia menunjukkan sejarah masa depan…”  sejarah masa depan itu bagi kita, benar? Bukan bagi Allah karena Allah sudah tahu dari kekekalan pilihan-pilihan yang akan mereka buat. Jadi, “…Dia menunjukkan sejarah masa depan kedua anaknya ini di hadapan Ribkah, bahwa mereka akan menjadi dua bangsa, yang satu lebih hebat daripada yang lain, dan yang lebih tua akan menghamba kepada yang lebih muda…”

Jadi Allah mempredestinasi (memisahkan) Yakub berdasarkan pengetahuanNya lebih dulu atas pilihan yang akan dibuat Yakub. Itulah pradestinasi. Bukan Allah menetapkan itu untuk terjadi demikian, tetapi Allah mengumumkan itu akan terjadi demikian karena Dia sudah mengetahui pilihan-pilihan yang akan dibuat.

 

 

Let's take another biblical example. Did God predict that an individual was going to betray Christ in the Old Testament? Yes. Psalm 109. And the apostle Peter on the day of Pentecost in chapter 1, actually before the day of Pentecost, the 10 days before, he used the Psalms to say why Judas had betrayed Christ. He said that the betrayer ~ he didn't use the name by the way ~ he said that the betrayer would not come back to his home, insinuating that he would commit suicide, and that somebody else would take his office in Psalm 109. Obviously, for a very important purpose, God did not say Judas is going to do this because that would sound pretty deterministic. How did it work then? Jesus said to Judas, "Tough luck, buddy. You've been chosen to betray Me and you have no choice in the matter. Sorry." Is that the way it works? No.  Did God know? By the way, did Jesus do everything possible to save Judas? Just read it in the Gospels. He did everything that He could do to save Judas. Why was Judas lost? By a deterministic announcement of God or because God already knew the choice that he was going to make? God's not responsible. Judas is responsible.

 

Mari kita lihat contoh lain dari Alkitab. Apakah di Perjanjian Lama Allah memprediksi bahwa seseorang akan mengkhianati Kristus?  Ya, Mazmur 109. Dan rasul Petrus di pasal 1, sebelum hari Pentakosta, 10 hari sebelumnya, dia memakai Mazmur itu untuk mengatakan mengapa Yudas telah mengkhianati Kristus. Dia mengatakan, si pengkhianat ~ dia tidak memakai namanya ~ dia mengatakan bahwa si pengkhianat tidak akan pulang ke rumahnya, menyiratkan bahwa dia akan bunuh diri, dan bahwa orang lain akan mengambil tempatnya, di Mazmur 109. Jelas untuk tujuan yang sangat penting, Allah tidak mengatakan Yudas itulah yang akan melakukan ini karena itu akan terdengar sangat menentukan.Jadi bagaimana kerjanya? Yesus berkata kepada Yudas, “Nasibmu yang sial, teman. Kamu sudah dipilih untuk mengkhianati Aku dan kamu tidak punya pilihan dalam hal itu. Maaf.” Begitukah cara kerjanya? Tidak. Apakah Allah sudah tahu? Nah, apakah Yesus telah melakukan sebisa-bisanya untuk menyelamatkan Yudas? Baca saja di kitab-kitab Injil. Yesus telah berbuat apa saja untuk menyelamatkan Yudas. Mengapa Yudas tidak selamat? Gara-gara pengumuman Allah yang menentukan atau karena Allah sudah mengetahui pilihan yang akan dia buat? Bukan Allah yang salah. Yudas yang bertanggungjawab sendiri.

 

 

In Acts 1:20 it says, 20 ‘For it is written in the book of Psalms…” this is Peter before the day of Pentecost  “…‘Let his dwelling place be desolate, and let no one live in it’; and, ‘Let another take his office.’…” And then Matias is elected in place of Judas.

 

Di Kisah 1:20 dikatakan, 20 Sebab ada tertulis dalam kitab Mazmur, …”  ini Petrus sebelum hari Pentakosta, “…‘Biarlah tempat tinggalnya menjadi terlantar, dan biarlah tidak ada yang menghuninya dan ‘Biarlah orang lain mengambil jabatannya…” kemudian Matias yang dipilih menggantikan Yudas.

 

 

In John 13:18 and 19, which we read last night, God says, “18 I do not speak concerning all of you…” that is the disciples.  “…I know whom I have chosen; but that the Scripture may be fulfilled, ‘He who eats bread with Me has lifted up his heel against Me.’…” And then He says this in verse 19.  “…19 Now I tell you before it comes, that when it does come to pass, you may believe that I am He.” He tells us before it happens, but He does not determine that it's going to happen in a certain way.

 

Di Yohanes 13:18-19 yang sudah kita baca semalam, Allah berkata, 18 ‘Aku tidak bicara tentang kamu semua…”  maksudnya para murid, “…Aku tahu, siapa yang telah Kupilih, tetapi supaya ayat Kitab Suci boleh digenapi,Dia yang makan roti dengan AKu, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku.’…” Lalu Dia mengatakan ini di ayat 19, “…19 Sekarang Aku memberitahu kamu sebelum itu terjadi, supaya jika hal itu terjadi, kamu boleh percaya, bahwa Akulah Dia.’…”  Dia memberitahu kita sebelum itu terjadi, tetapi Dia tidak menentukan itu akan terjadi menurut cara tertentu.

 

 

Let me give you an example so you can understand the difference between predetermination and predestination. I want you to imagine a train. The train is going down some train tracks and it comes to a place where the rails of the lane of the train divide into right and left. So when the train gets to that spot, the train has to go either right or has to go left at this crossroads. Now there are two ways in which the train can go one way or the other.

v   The first way is if there's someone in a control box outside the train that can change the track that the train will go down from that control place outside the train.

In that case the train has no choice as to which direction it's going to go because someone is outside the train determining which track the train is going to go down. So is it the case that God is sitting in a control room, and when an individual comes to the choice in an evangelistic meeting to be saved or to be lost, God from outside says, “Your choice has been made since eternity. You're going to go and be saved.” And God is determining it from outside. No!

v   Now there's another way in which the train can go right or left.

And that is if the  conductor of the train is the one who decides which direction it goes. In that case the conductor is responsible for going to the right or to the left. Are you with me? 

So God is not in some booth where “tough luck” that way. “Ah, You're My favorite. Saved.” No, God isn't doing it outside. When we get to the crossroads, God already knows which choice I'm going to make, but He does not make the choice for me. Are you following me?  That's biblical predestination, not the idea of predetermination, which is totally different.

 

Saya akan memberikan contoh supaya kalian bisa mengerti perbedaan antara pradeterminasi dan pradestinasi. Saya mau kalian membayangkan sebuah kereta api. Kereta api itu berjalan di atas rel dan tiba di tempat di mana rel kereta itu bercabang ke kiri dan ke kanan. Jadi ketika kereta itu tiba di tempat tersebut, kereta itu harus ke kiri atau ke kanan di persimpangan ini. Nah ada dua cara bagaimana kereta ini bisa ke kiri atau ke kanan.

v   Cara pertama ialah ada orang yang duduk di dalam gardu di luar kereta itu yang bisa mengubah jalur ke mana kereta itu akan pergi dari gardu tempatnya di luar kereta.

Dalam hal ini, kereta itu tidak punya pilihan ke arah mana dia akan pergi karena ada orang di luar kereta yang menentukan jalur rel mana yang akan dilalui kereta itu. Jadi apakah Allah sedang duduk di dalam gardu dan ketika seseorang di suatu pertemuan penginjilan tiba pada saat di mana dia mengambil keputusan untuk diselamatkan atau tidak, Allah dari luar berkata, “Pilihanmu sudah ditentukan sejak kekekalan. Kamu akan diselamatkan.” Dan Allah yang menentukannya dari luar? Tidak!

v   Nah, ada cara yang lain di mana kereta itu bisa ke kiri atau ke kanan. 

Dan itu ialah jika kondektur kereta itu yang menentukan ke arah mana kereta tersebut pergi. Dalam hal ini si kondektur yang bertanggungjawab apakah keretanya ke kiri atau ke kanan. Apakah kalian mengikuti saya?

Jadi Allah tidak berada di dalam sebuah gardu dan berkata “Nasibmu seperti itu.  Ah, kamu anak emasKu. Selamat.”  Tidak. Allah tidak melakukannya dari luar. Ketika kita tiba di persimpangan, Allah sudah tahu lebih dulu pilihan mana yang akan kita buat, tetapi Dia tidak mengambil pilihan itu untuk kita. Apakah kalian mengikuti saya? Inilah pradestinasi yang alkitabiah, bukan konsep pradeterminasi yang sama sekali berbeda.

 

 

Now, you remember the parable ~ we're almost finished here ~ remember the parable of the man who sneaked into the wedding without a wedding garment? It's in Matthew chapter 22. Interesting story. By the way, that proves the investigative judgment which is being questioned these days. That is the doctrine that is most questioned by scholars of the church that have left the church, of any of our doctrines, is the investigative judgment. That before the Second Coming, the books are going to be opened and the lives of everyone who claim the name of Christ are going to be examined to see if they're going to be saved or lost. And people say, "Well, but God already knows who's going to be saved or going to be lost." Yeah, but the judgment isn't for Him. The judgment is for all the beings in the universe to make sure that God was just.

What would you think of a judge, when a person who is accused comes before the judge and without any jury the judge says, “Guilty! Electric chair!”?

What would people say? “Hey, wait a minute, electric chair? There hasn't been any trial. No evidence has been examined.”

And God says, "Doesn't matter. I know everything."

Would people complain? Would there be doubts? Oh, you’d better believe there would be doubts.

So God says, "I'm going to lay it all open because there are wise and foolish virgins in the church. There are wheat and tares in the church. There's good and bad fish in the church. And so separation has to be made, so that the universe sees that I'm a God that is just and merciful, and all the decisions are based on the choices that were made.”

That's the purpose of the investigative judgment. It's not to inform God because God knows everything, even before this world existed. It's for the benefit of the universe.

 


Nah, kalian ingat perumpamaan ~ kita hampir selesai ~ ingat perumpamaan orang yang masuk ke tempat pernikahan tanpa mengenakan pakaian yang seharusnya untuk acara itu? Ada di Matius pasal 22. Kisah yang menarik. Nah, ini membuktikan adanya penghakiman investigasi yang dipertanyakan hari ini. Dari semua doktrin kita, inilah doktrin yang paling dipertanyakan oleh para pakar Alkitab MAHK yang telah meninggalkan MAHK, doktrin penghakiman investigasi. Bahwa sebelum Kedatangan Kedua, kitab-kitab akan dibuka dan hidup setiap orang yang mengakui nama Kristus akan diperiksa untuk dipastikan apakah mereka akan diselamatkan atau tidak. Dan orang-orang berkata, “Tapi Allah kan sudah tahu siapa-siapa yang akan diselamatkan atau tidak.” Iya, tapi penghakiman ini bukan untuk kepentingan Allah. Penghakiman ini untuk semua makhluk di alam semesta, untuk membuktikan apa Allah itu adil.

Apa pendapat kita tentang seorang hakim yang bila seseorang yang dituduh hadir di hadapannya dan tanpa ada juri satu pun hakim itu berkata, “Bersalah! Kursi listrik!”

Apa akan dikatakan orang-orang? “Hei, tunggu dulu, kursi listrik? Belum ada pengadilan. Belum ada bukti yang diperiksa.”

Dan Allah berkata, “Tidak jadi soal. Aku tahu segala.”

Apakah orang-orang akan komplain? Apakah akan ada keraguan? Oh, percayalah, pasti akan ada keraguan.

Karena itu Allah berkata, “Aku akan membeberkan semuanya terbuka karena di dalam gereja ada gadis-gadis yang bijak dan bodoh, di gereja ada gandum dan lalang, di gereja ada ikan yang baik dan yang buruk. Maka harus dibuat pemisahan, supaya alam semesta melihat bahwa Aku adalah Allah yang adil dan berbelas kasihan, dan semua keputusan itu berdasarkan pilihan-pilihan yang telah dibuat.”

Inilah tujuan penghakiman investigasi. Bukan untuk memberitahu Allah, karena Allah sudah tahu segala sesuatu, bahkan sebelum dunia ini ada. Ini adalah untuk kepentingan alam semesta. 

 

 

Notice what it says in Matthew 22:14 about the man who entered without the wedding garment. Then Jesus says this, 14 For many are called, but few are chosen.” Whom does God choose? He chooses those who choose Him. Are many many called? When an evangelist preaches a sermon, does he make a call? He makes a call. Who's chosen? Those who respond to the call. God chooses of them based on their choice. Are you with me or not?

 

Simak apa yang dikatakan di Matius 22:14 tentang orang yang masuk ke tempat perkawinan tanpa pakaian pesta. Lalu Yesus mengatakan ini, 14 Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih…”  siapa yang dipilih Allah? Dia memilih mereka yang memilih Dia. Apakah ada banyak sekali yang dipanggil? Ketika seorang penginjil menyampaikan khotbah, apakah dia membuat panggilan? Dia membuat panggilan. Siapa yang dipilih? Mereka yang merespon panggilan itu. Allah memilih mereka berdasarkan pilihan mereka. Apakah kalian mengikuti saya atau tidak?

 

 

Mark 13:20 says, speaking about the tribulation, “ 20 And unless the Lord had shortened those days, no flesh would be saved; but for the elect’s sake, whom He chose, He shortened the days.But on what basis did He choose the elect? Because He knew what their choice would be.

 

Markus 13:20 mengatakan, bicara tentang masa kesukaran besar, 20 Dan kecuali Tuhan mempersingkat hari-hari itu, tidak ada manusia yang selamat; akan tetapi demi orang-orang pilihan yang telah dipilih-Nya, Tuhan mempersingkat hari-harinya…” Tetapi berdasarkan apa Allah memilih mereka yang dipilih? Karena Allah sudah tahu apa yang akan mereka pilih.

 

 

And then in Revelation 17:13 and 14, He uses three expressions. Those who are with Jesus at the end are “called, chosen, and faithful”. He chose them because they're faithful. because they responded to His call.

 

Lalu di Wahyu 17:13-14 Dia menggunakan tiga ungkapan. Mereka yang bersama dengan Yesus pada akhirnya itu “dipanggil, dipilih, dan setia”. Dia memilih mereka karena mereka setia, karena mereka merespon panggilanNya.

 

 

One final statement, Manuscript Releases Vol. 18, page 380. “In the mind of God, the ministry of men and women existed before the world was created…” in the what? “In the mind of God, the ministry of men and women…” notice it doesn't say “would exist”. “In the mind of God, the ministry of men and women existed before the world was created.” Wow, what an amazing concept. There are many Adventists who lost relatives in the pandemic. It was a difficult time even for the church, not only for the people generally in the world, but for Adventists, many lost relatives. And you know, it's really comforting to know that even though for us we say, “Someday we're going to see this relative rise from the grave and we're going to be together again.” And look at it from the perspective of God, and say it's already a done deal. It is as certain as the omniscient knowledge of God. And prophecy in Daniel and Revelation will be fulfilled exactly the way that it is written. Everything in the past has been fulfilled. In the present, we see things being fulfilled, and the future events will be fulfilled because God since eternity had the entire panorama before Him.

 

Satu pernyataan terakhir Manuscript Releases Vol. 18 hal. 380, “…Di pikiran Allah, pelayanan untuk laki-laki dan perempuan sudah ada sebelum dunia diciptakan…”  di mana?   “…Di pikiran Allah, pelayanan laki-laki dan perempuan…” simak, tidak dikatakan “akan ada”. “…Di pikiran Allah, pelayanan laki-laki dan perempuan  sudah ada sebelum dunia diciptakan…”  Wow! Konsep yang sangat mengagumkan.

Ada banyak orang Advent yang kehilangan sanak-keluarga sewaktu pandemik. Saat itu waktu yang sulit bahkan bagi gereja, bukan hanya bagi orang-orang dunia pada umumnya, tetapi bagi orang-orang Advent, banyak yang kehilangan sanak-keluarga. Dan kalian tahu, itu adalah penghiburan untuk tahu walaupun bagi kita yang berkata, “Suatu hari kita akan melihat kerabat ini bangkit dari kubur dan kita akan bersama-sama kembali.” Pandanglah dari perspektif Allah, yang mengatakan itu sudah terjadi. Itu sama pastinya dengan kemahatahuan Allah. Dan nubuatan Daniel dan Wahyu akan digenapi persis sebagaimana tertulis. Semua yang lampau sudah digenapi. Di masa sekarang kita melihat hal-hal sedang digenapi, dan peristiwa-peristiwa di masa depan akan digenapi karena Allah sejak kekekalan sudah melihat seluruh panoramanya di hadapanNya.

 

 

And I'll end with this. There's a lot of false prophecy going around. You know, there the evangelical world has been deceived. They don't understand Daniel and Revelation. They're looking to the Middle East for the fulfillment of prophecy. Just go to the internet. They're bringing up Ezekiel 38, the valley of the dry bones, and Gog and Magog and they're talking about, you know, the the role of Israel in Bible prophecy, that Israel is going to be restored and then everybody's going to be against Israel, and the temple is going to be rebuilt there on the temple mount. And you know a nasty individual who is the Antichrist is going to sit in the temple. But before that, the saints are all raptured to Heaven. They're going to be up there for seven years. All of this false scenario. And meanwhile, the powers that are going to play a role in prophecy are in Rome and the United States. And people can't see it because they're looking in the wrong place. The Devil has hoodwinked the entire religious world. The Seventh Day Adventist Church is the last stand. Present truth is the last stand. If the Seventh Advenist Church ceased to exist, the world would be just totally lost because we have the correct interpretation of prophecy. And I don't say that arrogantly. But it's the truth. But it does no good to have the truth and hide it under a bushel. We have to let our light shine. If we want our neighbors saved, if we want our friends saved, if we want our family and our relatives saved, we have to speak up. Be nice. Because many times we present prophecy in a mean-spirited way. But we need to be nice, but we need to be frank and we need to be clear, because someday if we don't, they're going to say, "Why didn't you tell me?" And you're not going to be able to say, "Well, I knew that you weren't going to accept." Everybody has to have the opportunity.  

 

Dan saya akan mengakhiri dengan ini. Ada banyak nubuatan palsu yang beredar. Kalian tahu, dunia evangelis telah tertipu. Mereka tidak paham Daniel dan Wahyu. Mereka memandang ke Timur Tengah untuk penggenapan nubuatan. Pergilah ke internet. Mereka mengangkat Yehezkiel 38, lembah tulang-tulang kering, dan Gog dan Magog, dan mereka sedang berbicara tentang peranan Israel dalam nubuatan Alkitab, bahwa Israel akan dipulihkan kemudian semua orang akan memusuhi Israel, dan Bait Suci akan dibangun kembali di sana di bukitnya. Dan seorang individu yang jahat yang adalah Antikristus akan duduk di Bait Suci itu. Tetapi sebelum itu, orang-orang kudus sudah semuanya diangkat ke Surga. Mereka akan ada di Surga selama tujuh tahun. Semua skenario ini salah. Sementara itu kekuasaan yang akan berperan dalam nubuatan ada di Roma dan di Amerika. Dan orang-orang tidak bisa melihat ini karena mereka sedang melihat di tempat yang salah. Iblis telah menipu seluruh dunia relijius. Gereja MAHK adalah benteng yang terakhir. Kebenaran masa kini adalah pertahanan yang terakhir. Jika gereja MAHK tidak ada lagi, dunia akan sama sekali hancur karena kitalah yang punya interpretasi yang benar tentang nubuatan. Dan saya tidak mengatakan ini untuk menyombong, tapi inilah kebenarannya. Namun tidak ada gunanya memiliki kebenaran dan menyembunyikannya di bawah gantang. Kita harus membiarkan terang kita bersinar. Jika kita ingin tetangga-tetangga kita selamat, jika kita ingin teman-teman kita selamat, jika kita ingin keluarga dan kerabat kita selamat, kita harus buka mulut. Dengan sikap yang baik. Karena seringkali kita menyampaikan nubuatan dengan cara yang tidak baik. Kita harus bersikap ramah, tetapi kita perlu berterus terang dan kita perlu jelas, karena jika tidak, suatu hari mereka akan berkata, “Mengapa kamu tidak memberitahu saya?” Dan kita tidak akan bisa berkata, “Nah, saya tahu kamu tidak akan menerima.” Setiap orang harus punya kesempatan.

 

 

 

03 09 26