MARY SEMINAR___
Part 06/08 - Stephen Bohr
Peter and the Rock
Dibuka
dengan doa.
Probably
by now some of you are wondering how the Roman Catholic Church can teach
these doctrines about Mary if there is no Biblical testimony to the effect
that Mary was the mother of God, that she was born immaculate, that
she was conceived without sin, that she was assumed to heaven, and so
on. Well the fact is today we are going to study the reason why Roman
Catholics believe in these teachings even though they are not contained
even implicitly in Holy Scripture. The basis of their belief is
founded on a passage that we find in Matthew 16.
Kira-kira
saat ini beberapa dari kalian sedang bertanya-tanya, kok bisa gereja Roma
Katolik mengajarkan doktrin-doktrin tentang Maria itu jika tidak ada bukti
alkitabiah bahwa Maria itu ibu Allah, bahwa dia dilahirkan tanpa kecenderungan
berbuat dosa, bahwa dia dibuahi tanpa kecenderungan berbuat dosa, bahwa dia
diangkat ke Surga, dll. Nah, sebenarnya hari ini kita akan mempelajari alasan
mengapa orang-orang Roma Katolik
meyakini ajaran-ajaran ini walaupun semua itu tidak terdapat dalam Kitab Suci,
bahkan tersirat pun tidak. Dasar dari keyakinan mereka terletak
pada bacaan yang ada di Matius pasal 16.
Before
we read that passage, I would like to share with you the Roman Catholic
view and interpretation of this passage. Basically what they say is that
when Jesus ascended to heaven He left Peter here on earth as His Vicar,
or as His successor. When Peter died he then left a successor on
the throne in his place. And this process has continued without
interruption until the present day Pope Benedict XVI.
Sebelum
kita membaca teks itu, saya ingin menyampaikan kepada kalian pandangan Roma
Katolik dan interpretasi mereka tentang teks ini. Pada dasarnya mereka berkata
bahwa ketika Yesus naik ke Surga, Dia meninggalkan Petrus di dunia ini sebagai
wakilNya, atau penerusNya. Ketika Petrus meninggal, dia lalu meninggalkan
seorang penerus yang menggantikan tempatnya di takhta, dan proses ini berlanjut
tanpa terputus hingga Paus Benediktus
XVI yang hari ini. [pelajaran ini dibuat
saat Benediktus XVI yang menjadi paus.]
Basically
as Christ's representative, the Roman Catholic Church believes that the pope has the
ability, and the power, to preserve, explain, and define the Word of
God. Not only the written Word, but also the oral traditions that
have been passed on from generation to generation. As he sits on
the cathedra, or the papal throne, he chairs church councils. He
also writes encyclicals and pastoral letters. And in this way he defines,
and clarifies, and dictates many of the beliefs of the Roman Catholic
Church. Many of these things are not found explicitly in the Bible,
or even implicitly, but they are to be accepted and believed because of
the position that the pope occupies in the divine economy.
Basically
the idea is that when the pope speaks ex cathedra, that is when he speaks from his
throne, his declarations are infallible. And what he
teaches is to be accepted without question by the faithful in the
church. In other words, his teaching is as if it is the teaching of
Jesus Christ Himself. What he teaches cannot be revised, changed,
or abolished under any circumstances. And what he teaches in the
realm of faith and morals, that is doctrine and practice, must be obeyed
implicitly by the members of the church.
Pada
dasarnya, sebagai wakil Kristus, gereja
Roma Katolik meyakini bahwa Paus memiliki kemampuan dan kuasa untuk mempertahankan,
menjelaskan, dan mengartikan Firman Allah. Bukan hanya Firman yang tertulis,
tetapi juga tradisi-tradisi lisan yang telah diturunkan dari satu generasi ke
generasi berikutnya. Begitu Paus duduk di katedra, atau takhta
kepausan, dia mengepalai konsili-konsili gereja, dia juga menulis surat-surat
edaran dan surat-surat pastoral, dan dengan cara itu dia mengartikan,
menjelaskan, dan menentukan banyak keyakinan gereja Roma Katolik. Banyak dari
keyakinan tersebut jelas-jelas tidak terdapat di Alkitab, tidak juga tersirat
di dalamnya, tetapi semua itu diterima dan diyakini karena kedudukan Paus dalam
sistem perekonomian ilahi.
Pada
dasarnya, konsepnya ialah, bila
Paus berbicara ex-katedra, maksudnya bila dia berbicara dari takhtanya,
pernyataannya itu mutlak benar. Dan apa yang diajarkannya harus
diterima tanpa ragu oleh umat gerejanya. Dengan kata lain ajarannya itu seolah-olah ajaran Yesus Kristus sendiri.
Apa yang diajarkan Paus tidak bisa dikoreksi, diganti, atau dihapus dalam
kondisi apa pun. Dan apa yang diajarkannya tentang iman dan moral, yaitu
doktrin dan aplikasinya, harus dipatuhi secara mutlak oleh anggota-anggota
gereja.
In this way many of the teachings of the Roman Catholic Church have been passed on without the smallest thread of evidence from Holy Scripture. For example, the idea that Mary is the mother of God, the idea that Mary was conceived immaculately, the idea that Mary was a perpetual virgin, the idea that Mary was assumed to heaven immediately after her death, actually three days after her death, and her body saw no corruption. These teachings are considered to be dogmas of the Roman Catholic Church, and they come as a result of this process that I have just described.
There
are many other teachings of the Roman Catholic Church which fit into this
same category, which we're not dealing with in this particular series; for
example the idea of infant baptism; baptism by aspersion, that is by
sprinkling; purgatory; auricular confession, that is confession of your
sins to a priest; the use of images; the celebration of Lent; and the
observance of Sunday as the day of rest. All of these have come into the church
not as a result of what Scripture teaches, but as a result of this idea of
apostolic succession, and the absolute infallible authority of the
teaching office of the Roman Catholic Church.
Dengan
cara ini,
banyak ajaran gereja Roma
Katolik telah diturunkan tanpa sedikit pun bukti alkitabiah dari Kitab Suci.
Misalnya, konsep bahwa Maria adalah ibu Allah, konsep bahwa Maria dibuahi tanpa
kecenderungan berbuat dosa, konsep bahwa Maria selamanya seorang perawan,
konsep bahwa Maria diangkat ke Surga segera setelah kematiannya, persisnya tiga
hari setelah kematiannya, dan tubuhnya tidak mengalami kerusakan. Semua ajaran
ini dianggap sebagai dogma oleh gereja Roma Katolik, dan berasal dari proses
yang baru saya jelaskan.
Ada
banyak ajaran gereja Roma Katolik yang masuk dalam kategori yang sama ini, tapi
tidak kita bahas dalam serie ini; misalnya konsep pembaptisan bayi; baptisan
dengan aspersi yaitu dengan memercikkan air; api penyucian; pengakuan dosa
rahasia yaitu mengakui dosa-dosa kepada seorang romo; dipergunakannya
patung-patung; perayaan Lent (pra-Paskah); dan pemeliharaan hari Minggu sebagai
hari perhentian. Semua ini masuk ke
dalam gereja bukan sebagai apa yang diajarkan oleh Kitab Suci, tetapi sebagai
akibat konsep suksesi apostolik dan kewenangan mutlak departemen pengajar
gereja Roma Katolik (Magisterium).
Now you
ask, “Where do they get this idea from?”
Well,
the fact is that the greatest text which is used is found in Matthew
16. And we want to go there now to Matthew 16, and we're going to
examine this passage in great detail. We will begin at verse 13.
Jesus was in Caesarea Philippi, which is right outside the northern
border of Israel, and He was about to ask His disciples two great
questions. Let's notice those questions as we find them, beginning
in verse 13. “13 When Jesus came into the region
of Caesarea Philippi, he asked his disciples, saying, ‘Who do men say that I
am, the Son of man?’ 14 So they said, ‘Some say John the Baptist:
some, Elija; others, Jeremia, or one of the prophets.’…” But Jesus wasn't
concerned about what others thought of Him. He wanted to know what His
disciples thought about Him. And so He says in verse 15: “…15 ‘But whom do you say that I am?’…” And then, of course,
Peter, who appeared to be the spokesman of the disciples, had an immediate
answer in verse 16. “…16 Simon
Peter answered and said, ‘You are the Christ,…”
In other words, the Messiah, the anointed One, “…You are the Christ, the
Son of the living God.” In other words, Peter was
saying that Jesus was the Messiah. But Peter didn't even understand what
He was saying. This didn't come from an intuition from his mind, it
was revealed to him directly by God, because he didn't even understand
what he was saying. Notice verse 17: “…17 And Jesus answered and
said unto him, ‘Blessed are you, Simon Barjona: for flesh and blood has not
revealed this to you, but my Father who is in heaven.”
In a
few moments we're going to notice that Peter definitely did not know what
he was talking about. He did not know what kind of Messiah Jesus was
going to be.
Sekarang
kalian bertanya, “Dari mana mereka mendapatkan ide-ide itu?”
Nah,
faktanya ialah teks yang paling penting yang mereka pakai terdapat di Matius
pasal 16. Dan sekarang kita akan ke Matius pasal 16, dan kita akan memeriksa
teks ini dengan sangat teliti.
Kita
akan mulai dengan ayat 13. Yesus sedang di Kaisarea, Filipi, yang berada persis
di luar perbatasan sebelah utara Israel, dan Dia akan mengajukan kepada
murid-muridNya dua pertanyaan. Mari kita perhatikan kedua pertanyaan tersebut,
mulai dari ayat 13: “13 Setelah Yesus tiba di daerah
Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: ‘Kata orang, siapakah Aku, Anak Manusia itu?’ 14 Maka
jawab mereka: ‘Ada yang mengatakan Yohanes Pembaptis, ada juga yang
mengatakan Elia, dan ada pula yang mengatakan Yeremia atau salah seorang dari
para nabi’…." Tetapi
Yesus tidak pusing dengan apa kata orang tentang Dia. Dia ingin tahu apa
pendapat murid-muridNya tentang Dia. Jadi kataNya di ayat 15, “…15 Lalu Yesus bertanya kepada mereka: ‘Tetapi apa katamu,
siapakah Aku ini?’..." Kemudian tentu saja Petrus, yang
sepertinya adalah juru bicara para murid, langsung memberikan jawaban di ayat
16, “…16 Maka jawab Simon Petrus: ‘Engkau
adalah Kristus,’…” dengan kata lain, Sang Mesias, Yang
diurapi,
“...’Engkau adalah Kristus, Anak Allah yang hidup!’…” dengan
kata lain, Petrus berkata bahwa Yesus adalah Sang Mesias. Tetapi Petrus sendiri
bahkan tidak mengerti apa yang dikatakannya. Kata-kata itu tidak datang dari
intuisi pikirannya sendiri, tetapi itu dinyatakan kepadanya langsung oleh
Allah, karena Petrus sendiri tidak mengerti apa yang dikatakannya. Simak ayat
17, “…17 Dan
Yesus menjawab kepadanya: ‘Diberkatilah engkau Simon bin Yunus sebab bukan
manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.”
Kita
akan segera melihat bahwa Petrus jelas tidak tahu apa yang dikatakannya. Dia
tidak tahu Yesus akan menjadi Mesias model apa.
And
then, of course, comes the verse that the Roman Catholic Church uses to
try and prove what is called the Petrine claims of the Roman Catholic
Church: the idea that Peter was the rock upon which
Jesus founded His church. Let’s notice Matthew
16:18. And I'm going to interject some remarks as we go along. Jesus
says: " 18 And I also say
to you that you are πέτρος [petros]… you are
Peter…” the Greek word is πέτρος [petros]. Now the word “petros”
means a pebble. It means a small stone. And the word is in
masculine gender. That's very important to remember. It is not
feminine gender. It is masculine gender. In fact it's used to
describe the seed that was planted in stony places in the parable of the
sower. So you're talking about small stones. In other words Jesus is
saying, “You, Peter, are a pebble, you are a small stone.” But then Jesus
says,
“…and on this Rock…” actually in the
Greek it says, “on this THE Rock…” It has the definite
article, “…on
this πέτρα
[petra] Rock…” In
other words on this Rock, on this πέτρα [petra], “…I will build My church…” Now the
word “petra” here is in the feminine gender, which means that it cannot
apply to Peter, because the word ”petros” is in the masculine
gender, and they would have to agree.
So Jesus is saying, “You are Peter. You are a small moving
stone. You are a pebble. But upon this “petra” I will build My church.”
Now the
word “petra”
does not mean small stones. It means the solid Rock. In fact it's
used to describe the bedrock upon which the man built his house when the
winds and the storms came. It's also used to describe the tomb of
Jesus, which was hewn in the rock. In other words, you're dealing
with solid rock here. Jesus is saying, “You are Peter. You are a pebble,” if you please. “You are this small moving
stone. But upon this “petra” I will build My church, “…and the gates of Hades shall not prevail against it.”
Lalu, tentu saja,
giliran ayat yang dipakai gereja Roma Katolik untuk berusaha membuktikan klaim gereja Roma Katolik atas
Petrus: konsep bahwa Petrus adalah batu di atas mana Yesus mendirikan
gerejaNya. Mari kita simak Matius 16:18 dan saya akan menyisipkan
beberapa komentar sambil jalan.
Yesus berkata, “18 Dan Aku
pun berkata kepadamu: ‘Engkau adalah πέτρος [petros] Petrus,..." kata Greekanya ialah πέτρος [petros]. Nah, kata πέτρος [petros] ini berarti batu
kerikil, artinya sebuah batu kecil. Dan kata ini berkelamin maskulin. Ini
sangat penting diingat. Kata ini tidak berkelamin feminin, dia maskulin.
Sesungguhnya kata itu dipakai untuk menggambarkan tanah berbatu-batu di mana
benih si penabur jatuh, dalam perumpamaan penabur benih. Jadi kita berbicara
tentang sebuah batu kecil. Dengan kata lain Yesus berkata, “Kamu, Petrus,
adalah sebuah batu kerikil, kamu itu batu yang kecil.” Tetapi kemudian Yesus berkata, “..dan di atas Batu karang ini..." sebenarnya dalam bahasa Greeka dikatakan, “...di atas SANG
Batu
ini...” jadi ada kata sandang tentunya “...di
atas πέτρα
[petra] batu karang ini..." dengan kata lain, di atas batu karang ini, di atas πέτρα
[petra] ini “...Aku
akan mendirikan jemaat-Ku...” nah, kata “petra”di sini berjenis feminin berarti ini
tidak bisa diaplikasikan kepada Petrus, karena kata πέτρος
[petros] itu berkelamin maskulin, sehingga tidak akan cocok. Jadi
Yesus berkata, "Kamu itu Petrus, kamu itu sebuah batu kecil yang bergerak,
kamu itu kerikil. Tetapi di atas πέτρα [petra] ini Aku akan
mendirikan jemaat-Ku.”
Nah, kata
"petra" tidak berarti batu kecil, ini berarti Batu yang besar,
bahkan kata ini dipakai untuk menggambarkan batu karang di atas mana orang
membangun rumahnya, di mana angin dan topan datang. Kata ini juga dipakai untuk
menggambarkan makam Yesus, yang dipahat dari batu besar. Dengan kata lain, di
sini kita berbicara tentang batu yang besar. Yesus berkata, "Kamu itu Petrus. Kamu itu
sebuah batu kerikil," katakanlah
begitu. “kamu adalah batu kecil yang bergerak ini. Tetapi di atas “petra” ini
Aku akan mendirikan jemaatKu “…dan alam maut tidak akan menguasainya.”
Now
interestingly Jesus used the same word, “petros”, but in the Aramaic
language to describe Peter. Notice John 1:42, It's the same word, “petros”,
but in a different language. It is in Aramaic. It says there: “ 42 And he brought him to Jesus. Now when Jesus looked at him, He said,
‘You are Simon the son of Jonah; you shall be called Cephas"…” that's
in Aramaic, “…which is translated…” a what? “…a stone.”
So Peter was a movable stone, an unstable stone, if you please. A small
stone. But the church was going to be built upon the Rock.
Now,
obviously from this passage, Jesus is pointing at Peter, and He is saying, “You are Peter,
but upon this Rock, upon Myself, I will build My church.”
Sekarang,
menariknya Yesus memakai kata yang sama “petros” tetapi dalam bahasa Aram untuk
menggambarkan Petrus. Perhatikan Yohanes 1:42, ini adalah kata “petros” yang
sama tetapi dalam bahasa yang berbeda, dalam bahasa Aram. Dikatakan di sana: “42 Ia membawanya kepada Yesus. Ketka Yesus memandang dia, Dia berkata: ‘Engkau Simon, anak Yunus,
engkau akan dinamai Kefas…” ini
dalam bahasa Aram, “…yang
diterjemahkan…” apa? “…sebuah batu." Jadi Petrus adalah sebuah batu yang
bergerak, katakanlah sebuah batu yang tidak stabil, sebuah kerikil. Tetapi
jemaat akan didirikan di atas Batu Karang.
Nah, jelas dari bacaan ini, Yesus
sedang menunjuk Petrus dan Dia berkata, “Kamu itu Petrus, tetapi di atas Batu
Karang ini, di atas DiriKu sendiri, Aku akan mendirikan jemaatKu.”
Does
the Bible corroborate the idea that the Rock represents God, and more
specifically Jesus? Absolutely!
By the
way, do you know that even the unanimous consent of the fathers of the
Catholic church do not agree on who the Rock is?
·
Allow me just to mention
that Origen, who is one of the early church fathers, said that the Rock
means every disciple of Christ.
· Tertullian, another one of the early church fathers said
that the entire church is meant as the Rock upon which the church
is built.
· Cyprian, he said the entire body of the bishops is the
Rock.
· Chrysostom said that the Rock is the faith which was
confessed by Peter.
·
And even Saint Augustine,
one of the greatest theologians of the Catholic church said that the Rock
was not Peter, but rather Christ. But then he said it must be
admitted that there are some today who believe that the Rock is
Peter.
Apakah
Alkitab mendukung konsep bahwa Batu Karang itu melambangkan Allah, dan
khususnya Yesus? Tentu saja!
Nah,
tahukah kalian bahwa bahkan para bapak gereja Katolik secara bulat tidak
sepakat mengenai siapakah Batu Karang itu?
·
Izinkan
saya menyebutkan Origen, salah satu bapak gereja mula-mula, yang mengatakan
bahwa Batu Karang itu berarti setiap murid Kristus.
· Tertullian, bapak gereja mula-mula yang
lain, berkata bahwa seluruh gereja dimaksudkan sebagai Batu di atas mana jemaat
itu didirikan.
· Cyprian, dia berkata seluruh kumpulan
uksup adalah Batu itu
· Chrysostom berkata bahwa Batu itu
adalah iman yang diakui oleh Petrus.
·
Dan
bahkan St. Augustine, salah satu theolog terbesar gereja Roma Katolik
mengatakan Batu itu bukan Petrus, melainkan Kristus. Tetapi dia lalu berkata,
harus diakui bahwa ada beberapa yang sekarang meyakini Batu itu Petrus.
The
question is, What does the Bible teach about the Rock? Well, you look in
vain in Scripture to find one text where the Rock is spoken of as a human
being. In fact, notice Deuteronomy 32: 3, 4. In Hebrew culture if
you said that a man was the Rock, it would have been blasphemy, because
they knew that all throughout the Old Testament, the Rock represented God.
Notice Deuteronomy 32:3, 4. And, by the way, as you're looking for these
verses, allow me to say that God is spoken of as the Rock also in verse
13, verse 15, verse 18, verse 30, verse 31, and verse 37 of this same
chapter. Notice: “3 Because I will proclaim
the name of the LORD: ascribe greatness to our God. 4 He is the
Rock, His work is perfect: for all His ways are justice: a God of truth and without injustice,
righteous and upright is He.”
Notice
this text says that He is what? He is the Rock.
Now the
New Testament corroborates this idea. Notice 1 Corinthians 10:3-4, do you remember the water that came forth
from the Rock? Notice how that is interpreted by the apostle
Paul. We find there, “All ate the same
spiritual food, and all drank the same spiritual drink. For they
drank of that spiritual ‘petra’…” Interesting! “…They drank from that
spiritual ‘petra’, or Rock, that followed them, and that Rock was Peter.” That's not what the text says. It says “…that Rock was…” whom? “…Christ.” Now that's the apostle Paul.
Pertanyaannya
ialah, apa yang diajarkan Alkitab mengenai Batu itu? Nah, kita akan sia-sia
mencari satu ayat saja dalam Kitab Suci yang menyatakan Batu itu sebagai
seorang manusia. Bahkan, perhatikan Ulangan 32:3-4. Dalam kebudayaan Ibrani,
jika orang mengatakan Batu itu adalah seorang manusia, itu namanya menghujat,
karena mereka semuanya tahu bahwa di
seluruh Perjanjian Lama, Batu itu melambangkan Allah. Simak
Ulangan 32:3-4. Dan ketahuilah, sambil mencari ayat-ayat ini, izinkan saya
berkata bahwa Allah juga disebut sebagai Batu di ayat 13, 15, 18, 30, 31, dan
37 pasal yang sama. Perhatikan, “3 Sebab nama TUHAN akan kuserukan: mengakui
kebesaran Allah kita, 4 Dialah Gunung
Batu itu, yang pekerjaan-Nya sempurna,
karena segala jalan-Nya adil, Allah yang penuh
kebenaran, dengan tiada kecurangan, benar dan jujur Dia.”
Perhatikan, ayat ini mengatakan Allah
itu apa? Allah itulah Batu itu.
Nah, kitab Perjanjian Baru mendukung konsep ini.
Perhatikan 1 Korintus 10:3-4, apakah
kalian ingat air yang keluar dari Batu? Simak bagaimana ini diartikan oleh
rasul Paulus. Kita dapati di sana, “3 Mereka semua makan makanan rohani yang sama 4 dan mereka
semua minum minuman rohani yang sama, sebab mereka minum dari “petra” rohani
…” menarik! “…mereka minum dari πέτρα ‘petra’ rohani itu, atau Batu Karang
yang mengikuti mereka, dan Batu karang itu ialah Petrus”? Bukan begitu kata ayat ini. Ayat ini berkata, “…dan Batu karang itu ialah…” siapa? “…Kristus.”
Nah ini dari rasul Paulus.
How did
Peter understand the Rock? Did Peter understand himself to be the Rock?
Notice
Acts 4:11, 12. I think we should let Peter interpret Peter. You
know, if Peter was the Rock he would have told us so. But nowhere in the
writings of Peter will you find that he believed that he was the
Rock. Notice Acts 4:11, 12. Here Peter is speaking and he's quoting
the Old Testament. He says, “This is the Stone which was rejected
by you builders, which has become the chief cornerstone…” He's speaking about Jesus. “…Nor is there
salvation in any other: for there is no other name under heaven given
among men, by which we must be saved.”
So he's saying Jesus is the stone that the builders rejected.
And
somebody might say, “Well, the word stone is used there. It's not the
word ‘petra’.” And it's true. But it's not “petros” either. It is
the word “lithos”. And “lithos” is many times used synonymously with
“petra”. Now allow me to read a text where “lithos” and “petra” are
used synonymously of Jesus.
Bagaimana
Petrus memahami Batu itu? Apakah Petrus mengartikan dirinya sendiri sebagai
Batu itu?
Perhatikan
Kisah 4:11-12, menurut saya kita harus membiarkan Petrus mengartikan “Petrus”.
Kalian tahu, jika Petrus adalah Batu itu, tentunya dia sudah mengatakannya
demikian kepada kita. Tetapi dalam semua tulisan Petrus tidak bisa ditemukan
bahwa dia meyakini dialah Batu itu.
Perhatikan
Kisah 4:11-12, di sini Petrus yang berbicara dan dia mengutip dari Perjanjian
Lama. Dia berkata, “11 Inilah Batu itu yang telah ditolak oleh kalian, tukang-tukang
bangunan, yang telah menjadi batu penjuru…” dia sedang berbicara tentang Yesus. “…12 Dan
keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di
bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia, yang
olehnya kita dapat diselamatkan." Jadi Petrus berkata bahwa Yesus itulah
Batu yang telah ditolak oleh tukang-tukang bangunan.
Dan mungkin ada yang berkata, “Kata
yang dipakai di sana adalah λίθος [lithos], bukan kata πέτρα [petra].”
Memang benar. Tetapi juga bukan kata πέτρος [petros].
Kata yang dipakai ialah λίθος [lithos]. Dan λίθος [lithos] seringkali
dipakai secara sinonim dengan kata πέτρα [petra].
Izinkan saya membacakan suatu ayat di mana λίθος [lithos]
dan πέτρα [petra]
dipakai secara sinonim untuk Yesus.
Notice
1 Peter 2:6-8. Here we're going to find that “lithos” and “petra”
are used synonymously. It says there in 1 Peter 2:6: “6 Therefore
it is contained in the scripture, ‘Behold, I lay in Sion a chief corner stone,
elect, precious: and he who believes on Him by no means be put to shame. 7
Therefore, to you who believe, He is precious…” that is that Stone, “…but to those who are disobedient, the Stone…” that’s “lithos”, “…the Stone which the builders rejected, has become the chief
corner stone. 8 And a Stone…” once again “lithos”, “…And a Stone of stumbling, and a
“petra” of offence…” So do you see that
“lithos” and “petra” are used to refer to Jesus Christ by Peter
himself? And then he says, “…They stumble being
disobedient: to the Word, to which they also were appointed.”
Perhatikan 1 Petrus 2:6-8. Di sini kita
akan melihat “lithos” dan “petra” dipakai secara sinonim. Dikatakan di 1 Petrus
2:6, “6 Sebab ada tertulis dalam
Kitab Suci: ‘Lhatlah, Aku meletakkan di Sion
sebuah Batu penjuru, terpilih, berharga, dan siapa yang percaya kepada-Nya,
tidak akan dipermalukan.’ 7 Karena itu bagi kamu, yang percaya, Ia berharga,…” yaitu Batu tersebut, “…tetapi bagi mereka yang
tidak patuh, ‘Batu…” disini λίθος [lithos] “…Batu yang telah ditolak oleh
tukang-tukang bangunan, telah menjadi batu penjuru, 8 dan sebuah Batu...”
sekali lagi λίθος [lithos], “..dan sebuah Batu sandungan dan
sebuah πέτρα [petra] penyebab dosa..." Jadi apakah
kalian lihat bahwa “lithos” dan “petra” dipakai untuk menyebut Yesus Kristus
oleh Petrus sendiri? Kemudian dia berkata, “..Mereka tersandung padaNya, karena mereka tidak taat
kepada Firman Allah; untuk mana mereka juga telah diperintahkan.”
Now
somebody might say, “But, Pastor Bohr, why does Jesus say, ‘You are Peter
and upon this Rock I will build My church’? Why doesn't He say, ‘Upon Me
I will build My church? You are Peter and upon Me I will build this
church’. Why does He say, ‘Upon this Rock I will build My church’?”
Well,
because this was an idiom which was used in that day and age. Allow
me to give you a couple examples from other places where Jesus is
speaking. Notice John 2:19 and also verse 21. I want you to see
that Jesus
refers to Himself as “this” rather than “Me”. Notice John
2:19. “Jesus answered and said to them, ‘Destroy THIS temple, and in three days I will raise it
up. 20 Then the Jews said, ‘It has taken forty six years to build this
temple, and You will raise it up in three days’? 21 But He was
speaking of…” what? “…of the temple of his
body.”
Did He
refer to the temple of His body as “this” temple? Yes, He did. He could
have said, “Destroy Me, and in three days I will raise it up.”
Notice another example in Matthew 21:42
as well as verse 44, “Jesus said to them 42 ‘Have you never read in
the scriptures, ‘The Stone which the builders rejected’…” He's referring to Himself “…has become the chief corner: this was the Lord's doing, and
it is marvellous in our eyes?...” And now notice, who is that Stone? Jesus, right? Notice what He continues saying in
verse 44: “…44 And
whosoever falls on this Stone will be broken: but on whomsoever It falls, It will grind him to
powder.”
So
obviously Jesus refers in this passage to Himself as “THIS stone”, just
like He does “THIS Rock” in Matthew 16.
Nah,
mungkin ada yang berkata, “Tetapi, Pastor Bohr, mengapa Yesus berkata, ‘Engkau adalah Petrus dan di
atas Batu Karang ini Aku akan mendirikan
jemaatKu’? Mengapa Yesus tidak
berkata, ‘Di atas DiriKu, Aku akan mendirikan jemaatKu’; ‘Engkau adalah Petrus dan
di atas DiriKu, Aku akan mendirikan gereja ini.’ Mengapa Yesus berkata, ‘Di
atas Batu karang ini Aku akan mendirikan jemaatKu’?”
Yah,
karena ini adalah langgam bahasa yang
dipakai di zaman itu. Izinkan saya memberikan dua contoh lain di
mana Yesus berbicara. Perhatikan Yohanes 2:19 dan juga ayat 21. Saya mau kalian
melihat bahwa Yesus menyebut
DiriNya sebagai “ini” dan bukan “Aku”. Perhatikan Yohanes 2:19, “19 Jawab Yesus kepada mereka: ‘Hancurkan Bait Allah INI, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.’ 20
Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya: ‘Empat puluh enam tahun orang mendirikan
Bait Allah ini dan Engkau akan membangunnya
dalam tiga hari?’ 21 Tetapi yang dimaksudkan-Nya ialah…” apa? “…Bait Allah tubuh-Nya
sendiri.”
Apakah Yesus menyebut Bait Allah
tubuhNya sebagai “Bait Allah ini”?
Ya, benar. Dia bisa saja mengatakan, “Hancurkan Aku, dan dalam tiga hari Aku
akan mendirikanNya kembali.”
Perhatikan contoh lain di Matius 21:42 juga ayat 44, “ 42 Kata Yesus
kepada mereka: ‘Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang ditolak oleh tukang-tukang bangunan’…” Dia
berbicara tentang DiriNya sendiri, “…telah menjadi Batu penjuru utama, ini adalah perbuatan Tuhan, dan mengagumkan di mata kita’?...” Dan sekarang simak, siapakah Batu itu?
Yesus, betul? Simak apa kata Yesus selanjutnya di ayat 44, “…44 Dan barangsiapa jatuh ke atas Batu ini, ia akan hancur, tetapi barangsiapa ditimpa Batu ini, Batu ini akan menggilingnya hingga menjadi
debu.”
Jadi
jelas dalam bacaan ini, Yesus menyebut DiriNya sebagai “Batu INI”, persis sama seperti
yang dilakukanNya di Matius 16, dengan “Batu karang INI”.
Now
what does it mean that the church is built upon the Rock?
Does it mean that it's built on Peter? Does it mean that it's built on
every human being? Actually, it means that it's built on Jesus. But
it's built on Jesus in what sense? That's the big question.
Well,
go with me to Ephesians 2:19-22. Obviously Jesus is in heaven, isn't
He? So in what sense can the earthly church be built upon Jesus?
Well, as you're looking for the text, allow me to say, that the church
is built on Jesus in the sense that it is built upon the Word of
Jesus. It's built upon the Word of God. Notice Ephesians
2:19-22. “19 Now therefore you are no
longer strangers and foreigners, but fellow citizens with the saints, and
members of the household of God; 20 Having been built on the
foundation of the apostles and prophets,…” By the
way, that means the Old Testament and the what? and the New
Testament. And, by the way, who's the center of the Old and New
Testament? Let's continue reading. “…Having been built on the foundation of the apostles and the
prophets, Jesus Christ himself being the chief corner Stone; 21 In
whom the whole building being joined together grows into a…” what? See this is the church, “…into a holy temple in the Lord: 22 In whom you
also are being built together for a
dwelling place of God in the Spirit.”
The church is the dwelling place of God. “Know ye not that ye are
the temple of the Holy Spirit?” the
apostle Paul said to the Corinthian church.
So upon
what is the church built? It is built upon the foundation of the apostles, and
prophets, that is the writings of the Old and New Testament
authors; and the center of both that keeps them together is who?
Jesus Christ!
Sekarang
apa artinya gereja/jemaat itu
didirikan di atas Batu Karang? Apakah berarti didirikan di atas
Petrus? Apakah berarti didirikan di atas setiap manusia? Yang benar, itu berarti didirikan di atas Yesus.
Tetapi didirikan di atas Yesus dalam pengertian apa? Itulah pertanyaan yang
penting.
Nah,
marilah bersama saya ke Efesus 2:19-22. Jelas Yesus berada di Surga, bukan?
Jadi dalam pengertian apa gereja/jemaat yang di dunia ini didirikan di atas
Yesus? Nah, sementara kalian mencari ayat itu, izinkan saya mengatakan bahwa gereja/jemaat didirikan di atas
Yesus dalam pengertian dia didirikan di atas Firman Yesus, gereja didirikan di
atas Firman Allah. Perhatikan Efesus 2:19-22, “19 Demikianlah kamu bukan lagi
orang asing dan pendatang, melainkan sesama
warga dengan orang-orang kudus dan
anggota-anggota keluarga Allah, 20 yang telah dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi…” Nah itu artinya kitab Perjanjian Lama
dan apa? Dan kitab Perjanian Baru. Dan siapakah pusat dalam Perjanjian Lama dan
Perjanjian Baru? Mari kita teruskan membaca, “…yang telah dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus
Yesus sendiri sebagai Batu penjuru utama. 21 Di dalam Dia
seluruh bangunan yang menjadi satu tumbuh
menjadi…” apa? Lihat, inilah
gereja/jemaat itu, “…menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan.
22 Di dalam Dia kamu juga turut dibangun bersama menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.” Gereja
adalah tempat kediaman Allah. “16 Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh
Allah diam di dalam kamu?” [1 Korintus 3:16] kata rasul Paulus kepada jemaat
Korintus.
Jadi gereja didirikan di atas apa?
Didirikan di atas fondasi para rasul dan para nabi, yaitu tulisan-tulisan
penulis-penulis Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru; dan pusat dari keduanya,
yang mempersatukan keduanya itu siapa? Yesus Krisus!
Notice
also the parable that Jesus gave in Matthew 7:24, 26. It's speaking
about building your house upon the Rock, and building your house upon the
sand. And, incidentally, do you know that the apostle Paul, in 1 Timothy
3:15 calls the church the house of God? So when it says here that the
house is built on the Rock, it means that the what is built on the Rock?
the church is built on the Rock. And we, of course, individually, we are
also temples of the Holy Spirit, should also build on what? On the Rock.
Perhatikan
juga perumpamaan yang diberikan Yesus di Matius 7:24, 26
yang berbicara tentang membangun rumah di atas Batu karang, dan membangun rumah
di atas pasir. Dan kebetulan, tahukah kalian bahwa rasul Paulus di 1 Timotius 3:15 menyebut jemaat
sebagai rumah Allah? Jadi jika dikatakan di sini bahwa rumah itu
didirikan di atas Batu karang, berarti apa yang dibangun di atas Batu karang? Gereja yang didirikan di atas
Batu karang. Dan kita, tentunya, yang secara pribadi juga adalah
bait Roh Suci, harus didirikan di atas apa? Di atas Batu karang.
Now
let's read that passage. It begins in verse 24, and, of course, we're
only going to read 24 and 26. You know this parable. “24 Therefore...” listen to this, “…24 Therefore whosoever
hears these sayings of mine…” in other words, whoever
listens to My word, “…and does them…” whoever practices the word, “…I will liken him to a
wise man, who built his house on the Rock…” What
does it mean to build the house on the Rock? What does it mean to build
the church on the Rock? It means to hear the sayings of Jesus, and to
what? to do them. You see, Jesus is the Word of God in two senses.
He is personally the Word of God, but the Bible is the written Word of
God. It's Jesus in written form. So to build on Jesus means to build
on what? It means to build on Holy Scripture, which is a revelation of
Jesus. And then we notice it says in verse 26: “…26 And every
one who hears these sayings of mine, and does not do them, will be like a
foolish man, who built his house on the…” what? “…the sand.”
In
other words, if you listen to the words of Jesus, and you don't pay any
attention to them, you're building on the sand. If you
believe the words of Jesus, and you practice them, then you are building
upon what? upon the Rock. So to build upon the Rock
means to build upon the Word of God, who is Jesus Christ.
Sekarang
mari kita baca ayat-ayat itu. Mulai dari ayat 24, dan tentu saja kita hanya
akan membaca ayat 24 dan 26. Kalian sudah tahu perumpamaan ini. “24 Karena itu…” dengarkan ini, “…Karena itu siapa yang mendengar perkataan-Ku ini…” dengan
kata lain, siapa yang mendengarkan Firman-Ku “…dan melakukannya…” barangsiapa
yang mempraktekkan Firman, “…Aku akan menyamakan dia dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan
rumahnya di atas Batu karang…” Apa artinya mendirikan rumah di atas
Batu karang? Apa maksudnya mendirikan gereja di atas Batu karang? Artinya
mendengarkan perkataan-perkataan Yesus dan apa? Melakukannya. Kalian lihat,
Yesus itulah Firman Allah dalam dua pengertian. Secara pribadi Dialah Firman
Allah; dan Alkitab adalah Firman Allah yang tertulis, jadi itu ialah Yesus
dalam bentuk tulisan. Maka didirikan
di atas Yesus berarti didirikan di atas apa? Berarti didirikan di atas Alkitab yang
kudus, pernyataan Yesus. Kemudian kita simak apa yang dikatakan
di ayat 26: “…26 Tetapi setiap orang yang mendengar
perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, akan sama
dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas…” apa? “…pasir.”
Dengan kata lain, jika kita
mendengarkan kata-kata Yesus, dan kita tidak menggubrisnya, kita membangun di
atas pasar. Jika kita meyakini
kata-kata Yesus dan kita melakukannya, maka kita membangun di
atas apa? Di atas Batu karang.
Maka, membangun di atas Batu karang berarti membangun di atas Firman Allah,
yaitu Yesus Kristus.
Now
it's interesting in this parable you have a reference to winds, and you
have a reference to floods. Do you know that this is an allusion to what
later John wrote in the book of Revelation? He speaks in Revelation 7
about the
winds of strife which are about to be released upon the world.
And in chapter 12 he speaks about the persecution of the church, by
speaking about this serpent who spews water out of his mouth to drown the woman
by the flood, the Bible says. In other words there's a great
tribulation that is coming upon the world, and only those who hear the
words of Jesus and obey those words, who are built on the Rock,
will be able to stand. And that includes us individually, but it
also includes the church corporately.
Nah,
yang menarik dalam perumpamaan ini disebut tentang angin-angin, tentang air
bah. Tahukah kalian bahwa ini adalah pelambang-pelambang kepada apa yang
kemudian ditulis Yohanes dalam kitab Wahyu? Yohanes berkata di Wahyu pasal 7
tentang angin pertikaian yang akan
dilepaskan ke dunia. Dan di pasal 12, dia berbicara tentang
penganiayaan jemaat, berbicara tentang ular ini yang menyemburkan air dari mulutnya untuk menenggelamkan
perempuan itu dengan air bah, kata Alkitab. Dengan kata lain,
akan ada masa kesesakan
besar yang datang ke dunia ini, dan hanya mereka yang mendengarkan kata-kata
Yesus dan mematuhinya, mereka yang didirikan di atas Batu karang, yang akan
mampu bertahan. Dan ini termasuk kita, secara perorangan, tetapi juga termasuk
jemaat sebagai satu kesatuan.
Now let's continue our study of this very important verse. We've dedicated it a long time to talk about the issue of the Rock. Now lets ask the question, What is meant by this verse when it says that upon this Rock we build, and the gates of Hades will not prevail against it? That is against those who are built upon the Rock. Notice 1 Corinthians 15:55. Let's take a look at the word Hades for a moment. The word Hades actually means “the grave.” Notice 1 Corinthians 15:55. Here the apostle Paul is quoting a text from the Old Testament. He's quoting the book of Hosea 13:14. He says this: “55 O death, where is your sting? O “hades” [= grave], where is your victory?”
Do you
see that Hades is coupled with death in that verse? “O death, where is
your sting? O Hades, where is your victory?”
Now he's getting this quotation from the Old Testament. Let's notice
Hosea 13:14. It says there: “14 I will ransom…” God is speaking, “…I will ransom them from the power of the
grave…” the word there for grave is “Sheol”, which is equivalent
to the word “Hades” that we just read in the New Testament. And so it
says: “…I will redeem them
from…” what? “…death…” Do you see, once again, that to ransom from the power of
the grave is the same thing as redeeming them from death? And then
notice: “…O death, I will be
your plagues; O grave, I will be your destruction: pity is hidden from My
eyes.”
And so
basically “Hades” is what? It's the place of death. It is the place
of the grave.
Sekarang
marilah kita lanjutkan pelajaran kita tentang ayat yang sangat penting ini.
Kita telah menhabiskan banyak waktu berbicara tentang Batu Karang ini.
Sekarang, mari kita ajukan pertanyaan, apa yang dimaksudkan ayat itu bahwa di atas
Batu karang itulah kita mendirikan, dan gerbang maut tidak akan mengalahkannya?
Maksudnya terhadap mereka yang mendirikan di atas Batu karang itu. Perhatikan 1
Korintus 15:55. Mari kita simak kata “maut” sejenak. Kata “maut” sesungguhnya
berarti “kubur”. Perhatikan 1 Korintus 15:55. Di sini rasul Paulus mengutip
ayat dari Perjanjian Lama. Dia mengutip kitab Hosea 13:14, begini katanya, “55 Hai maut, di manakah
sengatmu? Hai ᾅδης [hadēs] kubur, di manakah kemenanganmu?”
Kalian lihat, “hades” (kubur) dikaitkan dengan maut dalam
ayat itu. “55 Hai
maut, di manakah sengatmu? Hai ᾅδης
[hadēs] kubur, di
manakah kemenanganmu?”
Nah, dia mendapatkan kutipan ini dari Perjanjian Lama.
Mari kita simak Hosea 13:14, dikatakan di sana: "14 Aku akan menebus..." Allah sedang
berbicara, “..Aku akan menebus mereka dari kuasa kubur,..." di sini kata untuk
“kubur” ialah שְׁאוֹל [she'ôl]
yang artinya sama dengan kata ᾅδης
[hadēs] yang baru kita baca dari Perjanjian Baru. Maka dikatakan, “...Aku akan menebus
mereka dari...” apa? “...maut..." Apa kalian lihat,
sekali lagi, bahwa untuk menebus dari kuasa kubur itu sama dengan menebus
mereka dari maut? Lalu simak, “...Hai
maut, Aku akan menjadi bala samparmu; hai kubur,
Aku akan menjadi pembinasamu: Mata-Ku tertutup bagi belas kasihan.”
Jadi
pada dasarnya “hades” itu apa? Itu tempat maut/kematian. Itu tempat kubur.
Now why
does Matthew 16 speak about “the gates of Hades”, or “the gates of
death”? Simply because the ancients believed that at death you
were shut in a prison. And unless somebody came to unlock
the prison, you were there indefinitely, forever.
Nah,
mengapa Matius 16 berbicara tentang “gerbang kubur” atau “gerbang maut”? Semata-mata karena orang-orang zaman dulu meyakini bahwa pada saat kematian,
orang itu terkunci dalam penjara. Dan kecuali bila ada yang datang
untuk membuka kuncinya, dia akan berada di sana untuk waktu yang tidak
terbatas, untuk selamanya.
Let's
notice a couple of verses from Scripture that speak about death as having
gates. Notice Psalm 9:13, 14. Here the psalmist says: “13 Have mercy on me, O LORD; consider my trouble from those that
hate me, You who lift me up…” Notice this, “…from the gates of death: 14 That
I may tell of all Your praise in the gates of the daughter of Zion: I will
rejoice in Your salvation.” Notice that he says that
God lifts him up from the what? from “the gates of death”. And
death is synonymous to Sheol or to Hades, to the grave so to speak.
Now
notice Isaiah 38:10-11. Here it doesn't speak about the gates of
death, it actually speaks about “the gates of Sheol”. The very
word, equivalent word in the Old Testament to the word Hades in the New
Testament. It says there in Isaiah 38:10: “10 I said, ‘In the prime of
my life, I shall go to the gates of Sheol [the grave]…” That's the exact Hebrew equivalent to Hades in the New
Testament. Notice, the gates of Hades. “… ‘In the prime of my
life I shall go to the gates of Sheol, I am deprived of the remainder of my
years…” See what it means to go to the gates of Sheol? It means
that you're deprived of the remainder of your years, because you are
what? dead. “…11 I said,
I shall not see יָהּ [YÂHH], the LORD, in the land of
the living: I shall observe man no more among the inhabitants of the world.”
Mari
kita simak dua ayat dari Kitab Suci yang berbicara tentang kematian/maut memiliki
gerbang. Perhatikan Mazmur 9:13-14. Di sini pemazmur berkata, “13 Kasihanilah aku, ya TUHAN;
lihatlah sengsaraku, disebabkan oleh orang-orang yang membenci aku, ya Engkau,
yang mengangkat aku…” perhatikan
ini, “….dari pintu gerbang maut, 14 supaya
aku boleh menceritakan segala perbuatan-Mu
yang terpuji di pintu gerbang puteri Sion; aku
akan bersukacita dalam keselamatan yang berasal
dari-Mu.” Perhatikan pemazmur berkata bahwa Allah mengangkatnya dari
apa? Dari pintu gerbang maut. Dan maut itu sinonim dengan Sheol atau Hades,
sinonim dengan kubur.
Sekarang,
mari simak Yesaya 38:10-11. Di sini tidak berbicara tentang gerbang maut, tapi
tentang gerbang “Sheol”. Kata yang sama maknanya di Perjanjian Lama dengan kata
“Hades” di Perjanjian Baru. Dikatakan di Yesaya 38:10, “10 Aku berkata: ‘Di saat gagah-gagahnya aku, aku harus pergi ke
pintu gerbang “Sheol” [= kubur]…” Itu
kata Ibrani yang persis sama dengan “hades” di Perjanjian Lama. Perhatikan,
gerbang “Hades”. “… ‘Di saat
gagah-gagahnya ku, aku harus pergi ke pintu gerbang “Sheol”, aku kehilangan sisa umurku…” lihat
apa artinya pergi ke gerbang “Sheol”? Artinya kita kehilangan sisa umur kita,
karena kita apa? Mati. “…11 Aku berkata:
‘Aku tidak akan melihat יָהּ [YAHH], TUHAN di dunia orang-orang yang hidup; aku tidak akan
melihat orang lagi di antara penduduk dunia.”
Now
immediately we ask the reason. Why is it that the gates of death, or the gates of
hell, will not prevail against the church, which is built upon the Rock?
Why is this? Because the church is built upon Peter? No! Because the
church is built upon whom? The church is built upon Jesus. But why will
the gates of death, or of the grave, not prevail against the church,
because the church is built on Jesus?
The
context itself of this passage tells us the reason why. You see, in the
context, in the succeeding context, we find that Peter says to Jesus,
when Jesus says, “I'm going to Jerusalem, I'm going to die, I'm going to
resurrect the third day.” Peter didn't hear the part about the
resurrection. He says, “O no, that's not going to happen to You!
The Messiah doesn't die. The Messiah reigns on the throne in
Jerusalem.” And what does Jesus say to Peter, who supposedly was
the first Pope? He says, “Get thee behind Me…” what? “…Get thee behind me
Satan.”
Notice
that Jesus was saying, “I'm going to die, and I'm going to…” what?
“…resurrect.” In other words, Jesus is saying the gates of the grave, the
gates of death are not going to what? They're not going to prevail
against Me; and therefore they will not prevail against the church.
Lest you're wondering about this, in the succeeding context of Matthew
16, it's very interesting to find that at the last verse of Matthew 16,
Jesus says this: “28 Assuredly, I say unto
you, There are some standing here, who shall not taste death, till they see the Son of man coming in
His kingdom.”
Isn't
that interesting? Jesus says there's some of the disciples here who are
not going to taste death until they see Jesus Christ coming in His
kingdom. Well, the fact is all of those people are dead today. So
how do you explain this? You have to go to chapter 17. And in
chapter 17 we're told that Jesus was transfigured in the sight of His
disciples. How many of them? Three: Peter, James, and
John, whom Jesus had taken to the top of the mount. Those are the
some: “some of you will not die until you see the Son of man coming in
His glorious kingdom.” Now do you know that on the Mount of Transfiguration
was standing Jesus, transfigured and changed like He will look when He
comes in power and glory. And the Bible says that also there with
Jesus were Moses and Elijah that came to speak with Jesus. It's
interesting to notice that Moses died, and according to Scripture, ~I
don't have time to get into all of the details, ~ according to Scripture, he
resurrected. Michael the archangel came, according to Jude 9, to
resurrect Moses and transport him to heaven. And, of course, Elijah was
taken to heaven in a fiery chariot from among the living. In other
words, on
the Mount of Transfiguration you had a miniature Kingdom.
You had Jesus
as He will appear when He comes in power and glory, because He
died, but He did not remain dead. The gates of death and of the grave did
not prevail against Him. He died and resurrected, and therefore He
will come again. But notice that the gates of death did not prevail
against Moses either. Moses represents those who die in Christ;
“the dead in Christ shall rise first.” The gates of death did not prevail against
Elijah because Elijah was transported to heaven from among the living. In
other words, the reason why the gates of death, and the gates of the
grave do not prevail against Jesus, or against the church, is because
Jesus resurrected, and He is going to resurrect His church; He's
going to resurrect His people.
Nah,
segera kita bertanya mengapa. Mengapa gerbang maut atau gerbang kematian, tidak
akan mengalahkan gereja yang didirikan di atas Batu karang? Mengapa begitu?
Karena gereja itu didirikan di atas Petrus? Tidak! Karena gereja didirikan di
atas siapa? Gereja didirikan di atas
Yesus. Tetapi mengapa gerbang
maut atau kubur tidak bisa mengalahkan gereja karena gereja itu didirikan di
atas Yesus?
Konteksnya
sendiri dari perikop ini memberitahu kita alasannya mengapa. Kalian lihat,
dalam konteks, konteks berikutnya, kita melihat Petrus berkata kepada Yesus
ketika Yesus berkata bahwa Dia akan ke Yerusalem, Dia akan mati, Dia akan
bangkit pada hari ketiga, dan Petrus tidak mendengar bagian tentang kebangkitan
itu, Petrus berkata, “Oh, tidak! Hal itu tidak akan terjadi padaMu! Sang Mesias
tidak akan mati. Sang Mesias memerintah di atas takhta di Yerusalem.” Lalu apa
kata Yesus kepada Petrus, yang konon dianggap sebagai Paus yang pertama? Yesus
berkata, “Undurlah
[enyahlah] dariKu…”
siapa? “…Undurlah
dariKu, Setan!”
Perhatikan,
Yesus berkata, “Aku akan mati, dan Aku akan…” apa? “…bangkit!” Dengan kata
lain, Yesus sedang berkata bahwa
gerbang kubur, gerbang maut tidak akan apa? Tidak akan mengalahkan Aku, dan oleh
karenanya mereka tidak akan mengalahkan gereja. Misalnya kalian
bertanya-tanya tentang ini, maka konteks berikutnya di Matius 16 sangat
menarik, kita melihat ayat terakhir Matius 16 Yesus berkata demikian, “28 Aku sungguh-sungguh berkata kepadamu: di antara orang yang hadir di sini
ada beberapa yang tidak akan mati
sebelum mereka melihat Anak Manusia datang dalam Kerajaan-Nya."
Menarik, kan? Yesus berkata, ada
beberapa murid di sini yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Yesus datang
dalam kerajaanNya. Nah, faktanya semua orang itu sekarang ini sudah mati. Jadi
bagaimana kita menjelaskan ini? Kita harus ke pasal 17. Dan di pasal 17 kita
mendapat tahu bahwa Yesus diubahkan di hadapan murid-muridNya. Berapa orang?
Tiga: Petrus, Yakobus, dan Yohanes, yang dibawa Yesus ke atas bukit. Itulah
“beberapa” yang tidak akan mati hingga mereka melihat Anak Manusia datang dalam
kerajaanNya yang mulia.” Nah, tahukah
kalian bahwa di Bukit Transfigurasi, Yesus diubahkan menjadi seperti bagaimana
Dia akan tampak saat Dia datang dengan kuasa dan kemuliaan? Dan Alkitab berkata
bahwa bersama Yesus ada Musa dan Elia yang datang untuk berbicara dengan Yesus.
Menarik untuk disimak bahwa Musa sudah mati dan menurut Kitab Suci ~ saya tidak
punya waktu untuk membahas detailnya ~ menurut Kitab Suci, dia dibangkitkan.
Mikhael Penghulu Malaikat datang, menurut Yudas ayat 9, untuk membangkitkan
Musa dan membawanya ke Surga. Dan tentu saja Elia sudah dibawa ke Surga dalam
kereta yang menyala-nyala dari antara orang hidup. Dengan kata lain, di Bukit Transfigurasi itulah
tampak Kerajaan Kristus dalam bentuk miniatur. Ada Yesus sebagaimana Dia akan
tampak saat Dia datang dengan kuasa dan kemuliaan, karena Dia
mati tetapi tidak tinggal mati, pintu gerbang maut dan kubur tidak bisa
mengalahkanNya. Dia mati dan bangkit, dan oleh karena itu Dia akan datang lagi.
Tetapi simak, bahwa gerbang maut juga tidak bisa mengalahkan Musa. Musa mewakili mereka yang mati
dalam Kristus; “yang mati dalam Kristus
akan lebih dahulu bangkit” [1 Tesa. 4:16]. Gerbang maut tidak bisa mengalahkan
Elia juga karena Elia diangkat ke
Surga dari antara manusia yang hidup. Dengan kata lain, alasan
mengapa gerbang maut dan gerbang kubur
tidak bisa mengalahkan Yesus atau mengalahkan gereja, adalah karena Yesus telah
bangkit, dan Dia akan membangkitkan gerejaNya, Dia akan membangkitkan umatNya.
In
fact, notice Acts 2:25-27. And, by the way, I'm going to read this from
the New International Version, which is the most popular version in
the Christian church today, because I believe that it expresses it more
clearly. “David said about Him…” that is about Jesus, “…I saw the Lord always
before Me. Because He is at my right hand, I will not be shaken.
Therefore My heart is glad and My tongue rejoices. My body also will live
in hope, because You will not abandon Me to the grave…” By the way, that's the word Hades, “…You will not abandon Me
to the grave, nor will You let Your Holy One see…” what? “…see decay.” In other words, Jesus was not going to stay in the
grave. He was going to resurrect. The gates of death would not prevail
against Him. And because they would not prevail against Him, they
would not prevail against His church. It wasn't because the church was
built on Peter. I mean Peter died according to Scripture. Jesus
said that he was going to stretch out his arms, other people were going
to stretch out his arms. He wasn't going to do it voluntarily. In
other words, Jesus was saying that he was going to be
crucified. Peter died. He's still in the grave awaiting the second
coming of Jesus Christ.
Nah, simak Kisah
2:25-27. Dan saya akan membacakan ayat ini dari NIV, versi yang paling popular di gereja Kristen
sekarang ini, karena saya percaya bahwa versi ini mengungkapkannya dengan lebih
jelas. “ 25 Daud berkata tentang Dia…” yaitu
tentang Yesus, “…Aku senantiasa memandang kepada Tuhan, karena Ia
ada di tangan
kananKu, Aku tidak goyah. 26 Itulah
sebabnya hatiKu bersukacita dan lidahKu
bersorak-sorak. TubuhKu juga akan hidup dalam
harapan, 27 karena Engkau
tidak akan meninggalkan Aku di kubur…” nah kata “kubur” di sini adalah
“Hades”. “…Engkau
tidak akan meninggalkan Aku di kubur, dan tidak akan membiarkan Orang Kudus-Mu melihat…” apa? “…pembusukan.” Dengan kata lain, Yesus tidak akan
tinggal terus di dalam kubur. Dia akan bangkit. Gerbang maut tidak akan
mengalahkanNya. Dan karena gerbang maut tidak akan mengalahkan Dia, mereka juga
tidak akan mengalahkan gerejaNya. Bukan karena gereja itu didirikan di atas
Petrus.
Maksud saya, menurut Kitab Suci, Petrus mati. Yesus berkata
dia (Petrus) bakal harus merentangkan tangannya, orang lain yang akan membuat
dia merentangkan tangannya, Petrus tidak akan melakukannya dengan sukarela.
Dengan kata lain Yesus berkata bahwa Petrus akan mati disalibkan. Jadi Petrus
mati. Dia masih berada di dalam kubur menunggu kedatangan Kristus yang
kedua.
Notice
Revelation 1:17, 18. You know, it's comforting to know that the gates of
death have someone who can open those gates with the keys, with the
key. Notice, Revelation 1:17, 18. And here it's speaking about the
church. It says there: “17 And when I saw Him…” John is seeing Jesus, “…I fell at His feet as
dead...” And now notice: “...But He laid His right hand on me, saying to me, ‘Do not be
afraid; I am the first and the last: 18
I am He who lives, and was dead; and, behold, I am alive for evermore, Amen;
and I have the keys of Hades and of…” what? “…of Hades and of death’...”
Who has
the keys? Peter, right? That's not what the text says. The text
says that Jesus has the keys of the grave. See Jesus went into
the grave; He came out of the grave. And when He came out of the
grave, He brought the keys with Him, so that with the church, the church was not
going to fail either. Because Jesus is going to open the tombs of those
who accept Him as Savior and Lord. The dead in Christ are going to
rise again according to Scripture. He says, “Because I live, you will live also.” [John 14:19] In other words, the
center of this passage is not Peter. The center of this passage is none
other than Jesus Christ.
Simak
Wahyu 1:17-18. Kalian tahu, hati menjadi lega mengetahui bahwa ada yang bisa
membuka gerbang maut dengan kunci-kunci, atau dengan kunci. Perhatikan Wahyu
1:17-18. Dan di sini, yang dibicarakan adalah gereja. Dikatakan di sini: “17 Ketika aku melihat Dia…” Yohanes
melihat Yesus,
“…tersungkurlah aku di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati;…” dan
sekarang simak, “…tetapi
Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku, lalu berkata: ‘Jangan takut! Aku
adalah Yang Awal dan Yang Akhir, 18 Akulah
Dia Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai
selama-lamanya, Amin; dan Aku memegang kunci-kunci
kubur dan…” apa? “…kubur dan maut’.”
Siapa yang pegang kunci-kunci? Petrus
kah? Ayat-ayat ini tidak berkata demikian. Ayat-ayat ini berkata Yesus-lah yang memegang
kunci-kunci kubur. Lihat, Yesus masuk ke kubur; lalu Dia keluar
dari kubur. Dan ketika Dia keluar dari kubur, Dia membawa bersamaNya
kunci-kunci itu, supaya demi gereja, gereja juga tidak akan gagal, karena Yesus
akan membuka kubur-kubur mereka yang telah menerimaNya sebagai Juruselamat dan
Tuhan. Menurut Kitab Suci, mereka yang mati dalam Kristus akan bangkit lebih
dahulu. Yesus berkata,“…sebab Aku hidup, kamu pun akan hidup.” [Yoh. 14:19]
Dengan kata lain, pusat dari perikop
ini bukanlah Petrus, pusat perikop ini tak lain adalah Yesus Kristus.
Now you
say, “But Pastor, there's still some things to read about this text,
because in verse 19 we find that Jesus said that He was going to give
Peter the keys of the kingdom.”
Now
let's read that verse. Matthew 16:19. “And I will give you...” Now Jesus is speaking to Peter. “…I will give you the keys of the kingdom of heaven. And
whatever you bind on earth will be bound in heaven. And whatever you
loose on earth, will be loosed in heaven.”
Now the
question is, what are those keys which Jesus gave to Peter WITH WHICH Peter can open the kingdom of heaven? Well, there's a very easy Biblical way of explaining
this. But we have to go back and examine the case of the scribes
and the Pharisees who, by the way, sat on Moses' cathedra. Go with me to
Matthew 23:1-2. “1 Then Jesus spoke to the multitude, and to his disciples, 2
saying, ‘The scribes and the Pharisees sit in Moses' cathedra [seat]’.” It's the word “cathedra” in Greek. They sit on Moses'
throne. They sit on Moses' seat. Do you know what that
means? It means that they thought that they had the authority and
the power to define, and to explain, and to dictate what Holy Scripture
of that time meant; what the Old Testament meant. But in those
writings they did not find Jesus. And therefore instead of opening the
kingdom of heaven, by not finding Jesus in the Old
Testament, they were actually shutting the kingdom of heaven.
Sekarang
kalian berkata, “Tapi, Pastor Bohr, masih ada beberapa hal yang harus dibaca
tentang perikop ini, karena di ayat 19 kita melihat Yesus berkata bahwa Dia
akan memberikan kepada Petrus kunci-kunci Kerajaan.”
Nah,
mari kita baca ayat itu. Matius 16:19 “19 Dan Aku akan memberikan kepadamu …” sekarang
Yesus sedang berbicara kepada Petrus, “…Aku akan
memberikan kepadamu kunci-kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan
terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di
sorga."
Sekarang
pertanyaannya, apakah kunci-kunci
yang diberikan Yesus kepada Petrus DENGAN MANA Petrus bisa membuka Kerajaan
Surga? Nah, ada cara Alkitabiah yang sangat mudah untuk
menjelaskan ini. Tetapi kita harus mundur dan mengamati kasus para ahli Taurat
dan orang-orang Farisi yang, kalian tahu, duduk di katedra Musa. Mari bersama
saya ke Matius 23:1-2, “1 Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada
murid-murid-Nya, kata-Nya: 2 ‘Ahli-ahli Taurat dan orang-orang
Farisi duduk di katedra [tempat duduk] Musa.’…” kata Greekanya ialah “katedra”. Jadi
mereka duduk di kursi Musa, mereka duduk di tempat duduk Musa. Tahukah kalian
apa artinya ini? Artinya mereka menganggap mereka memiliki wewenang dan kuasa
untuk mendefinisikan, dan menjelaskan, dan menentukan apa yang dimaksud oleh
Kitab Suci pada zaman itu, apa yang dimaksud oleh kitab Perjanjian Lama. Namun,
dalam tulian-tulisan itu mereka gagal melihat Yesus. Dan oleh karena itu, mereka bukan membuka
Kerajaan Surga; dengan tidak
menemukan Yesus di kitab Perjanjian Lama, mereka justru menutup Kerajaan Surga.
Notice
what we find in Matthew 23:13. Here Jesus continues speaking to the
scribes and the Pharisees who sit on Moses' seat, who claim to have the
absolute power and authority to explain Scripture. Of course
they're explaining it without Jesus, and without Jesus there is no life.
It says there: “13 But woe to you, scribes
and Pharisees, hypocrites! for you…” Now
notice this, “…you…” what? “…you shut up the kingdom of heaven against
men: for you neither go in yourselves, nor do you allow those who are entering to go in.” What were the scribes and Pharisees doing who sat
upon Moses' seat? They were shutting the kingdom of heaven to
people. Now why were they shutting the kingdom of heaven? And what
were they shutting it with? The parallel passage in Luke to this one is
very revealing. Notice Luke 11:52. I'm thankful that God gave us
more than one gospel. Because one gospel explains the other gospel.
Notice
Luke 11:52. Here Jesus says: “52 Woe to you, lawyers! for
you have taken away the…” what? “…the key of knowledge…” Oh, now we know that they have a key that they use to shut
the kingdom. “…you have taken away…” The reason why the door is shut is because they've taken
away what? “…the key of knowledge,
you did not enter in yourselves, and
those who were entering in you hindered.”
So,
were they using the key to unlock the kingdom of heaven? Absolutely not! They were
actually locking themselves out and others by not using the key of
knowledge to open the kingdom of heaven.
Simak
apa yang kita temukan di Matius 23:13. Di sini Yesus berbicara kepada para ahli
Taurat dan orang-orang Farisi yang duduk di takhta Musa, yang mengklaim mereka
memiliki kuasa mutlak dan wewenang untuk menjelaskan Kitab Suci. Tentu saja
mereka menjelaskannya tanpa Yesus dan tanpa Yesus tidak ada hidup. Dikatakan di
sana, “13 Celakalah kamu, hai
ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, orang-orang munafik, karena
kamu…” nah, simak ini, “…kamu…” apa? “…kamu menutup Kerajaan Sorga bagi orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu tidak mengizinkan mereka yang akan masuk, untuk masuk.” Apa yang dilakukan para ahli Taurat dan
orang-orang Farisi yang duduk di kursi Musa? Mereka menutup Kerajaan Surga bagi
orang lain. Nah, mengapa mereka menutup Kerajaan Surga? Dan mereka menutupnya
dengan apa? Perikop yang paralel di kitab Lukas tentang hal ini sangat
mencerahkan. Simak Lukas 11:52. Saya bersyukur Allah memberikan lebih dari satu
Injil kepada kita, karena masing-masing Inji saling menjelaskan yang lain.
Simak Lukas 11:52, di sini Yesus berkata,
“52 Celakalah kamu, hai
ahli-ahli Taurat, sebab kamu telah menyingkirkan…” apa? “…kunci pengetahuan…” Oh,
sekarang kita tahu bahwa mereka punya sebuah kunci yang mereka pakai untuk
mengunci Kerajaan. “…kamu telah menyingkirkan…”
alasan mengapa pintu tertutup ialah karena mereka telah
menyingkirkan apa? “…kunci pengetahuan. Kamu sendiri tidak
masuk ke dalam dan orang yang berusaha masuk ke dalam kamu
halang-halangi."
Jadi,
apakah mereka memakai kunci mereka untuk membuka Kerajaan Surga? Sama sekali
tidak! Malah mereka sebenarnya
mengunci mereka sendiri dan orang lain di luar, dengan tidak menggunakan kunci
pengetahuan untuk membuka Kerajaan Surga.
Now let
me ask you, What is that key of knowledge? Well, there's many texts that I
could read about the word “knowledge” in the New Testament, particularly
in the gospels, but allow me to read one text that deals with the issue
of knowledge, what knowledge we're talking about.
Luke
1:76, 77. It says there: “76 And you, child…” speaking about John the Baptist, “…will be called the prophet of the Highest: for you will go
before the face of the Lord to prepare His ways;…” and now notice. “… 77 To
give…” what? “…knowledge of…” what? “…salvation unto His
people by the remission of their sins.”.
What is
the
knowledge that is imparted by the key? It is the knowledge of what? salvation, which
opens the door to where? to the kingdom of heaven. What were
the Pharisees doing with that key? They were locking the door, because
they did not have the knowledge of salvation, because they did not
see Jesus in the Word. They did not see Jesus in Scripture, in
other words.
Sekarang
coba saya tanya, kunci pengetahuan itu apa?
Nah,
ada banyak ayat yang bisa saya bacakan tentang kata “pengetahuan” di Perjanjian
Baru, terutama dalam kitab-kitab Injil, tetapi izinkan saya membacakan satu
ayat yang membahas tentang isu pengetahuan, pengetahuan apa yang kita bicarakan
ini.
Lukas
1:76-77, dikatakan, “76 Dan engkau, hai anakku…” berbicara
tentang Yohanes Pembaptis, “…akan disebut nabi Allah Yang Mahatinggi;
karena engkau akan berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan
bagi-Nya,…” dan sekarang simak, “…77 untuk
memberikan…” apa? “…pengertian akan…” apa? “…keselamatan bagi
umat-Nya melalui
pengampunan dosa-dosa mereka.”
Apa pengetahuan yang diberikan oleh kunci itu?
Itulah pengetahuan tentang
apa? Keselamatan, yang membuka pintu
ke mana? Ke Kerajaan Surga.
Apa yang dilakukan orang-orang Farisi
dengan kunci itu? Mereka mengunci pintunya karena tidak memiliki pengetahuan
tentang keselamatan, karena mereka tidak menemukan Yesus dalam Firman Allah,
dengan kata lain, mereka tidak melihat Yesus dalam Kitab Suci.
Notice John 5:39, 40. Jesus indicted these leaders and He said: “39 You search the scriptures; for in them you think you have eternal life: and these are they which testify of Me…” You're searching the Scriptures. You want to teach people the Scriptures, and you think that in them you have eternal life. But then He says, These are the Scriptures which testify of Me. And then He says in verse 40: “…40 But you are not willing to come to Me, that you may have…” what? “…that you may have life.”
In
other words they were locking with the key of knowledge, the kingdom of
heaven, because they were not preaching the Word of God, and especially
Jesus as contained where? as contained in the Word of God, which is what
opens the kingdom of heaven.
Simak
Yohanes 5:39-40. Yesus menuduh pemimpin-pemimpin ini dan Dia berkata, “39 Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci sebab kamu menyangka di dalamnya kamu mendapatkan
hidup yang kekal, dan kitab-kitab itulah yang memberi
kesaksian tentang Aku…” Kalian
menyelidiki Kitab Suci, kalian mau mengajar orang tentang Kitab Suci, dan
kalian menyangka di dalamnya ada hidup kekal. Tetapi lalu Yesus berkata, inilah
kitab-kitab suci yang memberi kesaksian tentang Aku. Kemudian Dia berkata di
ayat 40, “…40 namun kamu tidak rela datang
kepada-Ku agar kamu boleh mendapat…” apa?
“…agar kamu boleh mendapat hidup itu…”
Dengan kata lain, mereka mengunci
Kerajaan Surga dengan kunci pengetahuan, karena mereka tidak menyampaikan
Firman Allah, dan terutama mereka tidak menyampaikan tentang Yesus seperti yang terdapat di mana?
Yang terdapat dalam Firman Allah, itulah yang dapat membuka Kerajaan Surga.
By the
way, notice Acts 14:27, 28. It says, “Now when they had come
and gathered the church together they reported all that God had done with
them…” and now notice: “…And that He had…” what? “…opened the door of
faith to…” whom? “…to the Gentiles…”
How did they open the door of faith to the Gentiles? By what? By the “foolishness”
of preaching.
Nah,
simak Kisah 14:27-28, dikatakan, “27 Setelah mereka datang dan
memanggil jemaat berkumpul, mereka melaporkan
segala sesuatu yang telah Allah lakukan pada mereka…”
dan sekarang simak, “…dan bahwa Ia telah…” apa? “…membuka pintu iman bagi…” siapa? “….bagi bangsa-bangsa lain…”
Bagaimana mereka membuka pintu iman kepada bangsa-bangsa
lain? Dengan apa? Dengan menyampaikan pekabaran yang dianggap suatu kebodohan.
How did
they open the kingdom of heaven? They opened the kingdom of heaven by using the key
of knowledge to reveal Jesus through preaching, and in this way
people were able to enter the kingdom of heaven, and become citizens of
the kingdom of heaven. In other words, the key which God gave the Pharisees
was that through Christ in Scripture, people could come to a
knowledge of Jesus, and enter the experience of salvation.
Bagaimana
mereka membuka Kerajaan Surga? Mereka
membuka Kerajaan Surga dengan menggunakan kunci pengetahuan untuk menyatakan
Yesus melalui penyampaian kabar baik, dan dengan cara ini,
orang-orang bisa masuk Kerajaan Surga dan menjadi warga Kerajaan Surga. Dengan
kata lain, kunci yang
diberikan Allah kepada orang-orang Farisi adalah melalui Kristus dalam Kitab
Suci, orang-orang bisa mendapat pengetahuan tentang Yesus, dan masuk untuk
menjalani pengalaman diselamatkan.
By the
way, did the apostle Peter open up the kingdom of heaven for a great
number of people in Acts 2 on the Day of Pentecost? Oh, yes! 3,000
the Bible says were baptized. What did Peter do to open the kingdom? Have
you ever read that he quoted the Old Testament? He quoted
several passages from the Old Testament; from Psalm, and from Joel.
And he
pointed how these things revealed whom? Jesus. And at the end of
the story, see he's opening the door of salvation through the key of Scripture.
And at the end the people come to him and they say, “Well, what do we
need to do?” And Peter says, “Well, repent and be baptized,
everyone of you, for the remission of sins, and you will receive the
gift of the Holy Spirit.”
And so
they were baptized, and 3,000 souls entered the door of the kingdom that
day; entered the door of the church through the preaching of Peter.
Are you understanding what the key is in this case?
Nah,
menurut Kisah pasal 2, apakah rasul Petrus membuka Kerajaan Surga bagi sejumlah
besar orang pada hari Pentakosta? Oh, ya! 3’000 orang dibaptis kata Alkitab.
Apa yang dilakukan Petrus untuk membuka Kerajaan Surga? Pernahkkah kalian
membaca bahwa Petrus mengutip
dari Perjanjian Lama? Dia mengutip beberapa ayat dari Perjanjian
Lama, dari Mazmur, dan dari Yoel. Dan dia
menunjukkan bagaimana hal-hal tersebut mengungkapkan siapa? Yesus. Dan pada
akhir cerita, lihat, Petrus
membuka pintu keselamatan melalui kunci Kitab Suci. Dan akhirnya
orang-orang datang kepadanya dan mereka berkata, “Nah, apa yang harus kami
lakukan?” Dan Petrus berkata, “Yah, bertobatlah dan hendaklah
kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk
pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.” [Kis. 2:38]
Maka mereka dibaptis dan hari itu 3’000
jiwa memasuki pintu Kerajaan; mereka memasuki pintu gereja melalui khotbah
Petrus. Apakah kalian paham kunci itu apa dalam hal ini?
But
you're saying, “Now wait a minute, Pastor. The passage doesn't say ‘key’,
the passage says ‘keys’.”
Now do
you know that in Hebrew and Greek when a word is plural, like keys, it means
two. Let me give you another example. “Time, times, and the
dividing of time.” How many times is “times”? two. Every scholar
agrees that the word “times” means “two times”. So when it's plural and
unqualified, it means two. So Jesus is giving Peter two keys. Why
did He
gives the scribes and Pharisees only one key? Well, let me explain
the reason why. How many portions is Scripture composed of? It's composed
of two.
Do you know that when the Scriptures is referred to it's always a
two-some? For example, in Revelation you have two witnesses. Those
two witnesses represent what? the Old and New Testament. You have
two olive trees; that's the Holy Spirit working through the Old and New
Testament. You have two candlesticks that give light; “Thy word is…” what? “a light and a lamp…” it
says in Psalm 119:105. The sword of the Spirit has how many edges?
two, and it's the Word of God. And the church is built upon the
writings of whom? The apostles and the prophets; Old and New
Testament.
Tetapi
kalian berkata, “Tunggu sebentar, Pastor. Bacaan ini tidak bilang ‘satu kunci’,
bacaan ini bilang ‘kunci-kunci’.”
Nah,
tahukah kalian bahwa dalam Bahasa Ibrani dan Greeka, bilamana kata itu jamak,
misalnya “kunci-kunci”, itu artinya “dua kunci.” Saya berikan contoh yang lain:
“satu masa, masa-masa, dan setengah masa.” Berapa banyak “masa” yang dimaksud
dengan “masa-masa”? Dua. Setiap pakar Alkitab setuju bahwa kata “masa-masa”
berarti “dua masa”. Jadi bila kata itu jamak dan tanpa keterangan angka, maka
artinya adalah dua. Jadi Yesus
memberi Petrus dua kunci. Mengapa Yesus memberikan hanya satu kunci kepada para ahli Taurat
dan orang-orang Farisi? Nah, saya akan menjelaskan alasannya.
Kitab Suci itu terdiri atas berapa bagian? Dua. Tahukah kalian bahwa Kitab Suci selalu disebutkan
sebagai satu pasang? Misalnya di kitab Wahyu, istilahnya “dua
saksi”. [Wahyu 11:3]. Kedua saksi itu mewakili apa? Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Juga
ada “dua pohon zaitun” [Wahyu 11:4] itu Roh Kudus yang bekerja melalui
Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Ada “dua kaki dian” [Wahyu 11:4] yang
memberikan cahaya. “Firman-Mu itu…” apa? “…pelita bagi kakiku dan terang bagi
jalanku.” Kata
Mazmur 119:105. Pedang Roh punya berapa mata? Dua, dan itu adalah Firman Allah.
Dan gereja didirikan di atas tulisan siapa? Para rasul dan para nabi,
Perjanjian Baru da Perjanjian Lama.
In other words, the Pharisees had only one key. Because all they had was what? the Old Testament. But God gives, Jesus gives to Peter, the keys, two keys, because he has what? he has the Old and he has what? and he has the New Testament.
In
other words, he has all of Scripture with which to use the keys to open
the kingdom through preaching, so that people can come in and be
saved.
Dengan
kata lain, orang-orang Farisi
hanya punya satu kunci karena mereka hanya punya apa? Perjanjian Lama.
Tetapi Allah memberi, Yesus
memberi Petrus kunci-kunci, dua kunci, karena dia punya apa? Perjanjian Lama, dan
apa? Perjanjian Baru.
Dengan
kata lain, Petrus memiliki semua Kitab Suci di mana dia bisa memakai
kunci-kuncinya untuk membuka Kerajaan Surga melalui pekabarannya, sehingga
orang-orang bisa masuk dan diselamatkan.
Now the
question is, Did Jesus only give the keys to Peter? See, the Roman
Catholic Church teaches that He gave the keys only to Peter, and to his
successors. Do you know that Jesus actually gave the right to open, to
bind, and to unbind to all of the disciples. Notice Matthew
18:15-18. So this wasn't exclusively for Peter. You're not dealing
here with apostolic succession. It was given to all of the leaders of the
church. It says here: “15 Moreover if your brother
sins against you, go and tell him his fault between you and him alone: if he
hears thee, you have gained your brother. 16 But if he will not
hear, take with you one or two more, that by the mouth of two or three
witnesses every word may be established. 17 And if he refuses to
hear them, tell it to the church: but if he refuses even to hear the church, let
him be to you like a heathen and a tax collector. 18 Assuredly, I say to you, ‘Whatever you bind on earth
will be bound in heaven: and whatever you loose on earth will be loosed in
heaven.”
Is that
the same expression we found in Matthew 16? Absolutely! But here it is a
power not given to a certain individual, but which is given to whom?
which is given to the church at large.
Sekarang
pertanyaannya, apakah Yesus hanya memberikan kunci-kunci kepada Petrus? Karena
gereja Roma Katolik mengajarkan bahwa Yesus memberikan kunci-kunci hanya kepada
Petrus dan pengganti-penggantinya. Tahukah kalian bahwa Yesus sebenarnya memberikan wewenang untuk membuka,
mengikat, dan membuka ikatan kepada semua muridNya. Perhatikan
Matius 18:15-18. Jadi itu bukan hanya ekslusif untuk Petrus semata-mata. Kita
di sini tidak berbicara tentang suksesi apostolik. Itu diberikan kepada semua
pemimpin gereja.
Dikatakan
di sini, “15 Apabila saudaramu berbuat dosa
terhadap dirimu, tegurlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan
nasihatmu engkau telah memenangkannya
kembali. 16 Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau
dua orang lagi, supaya dengan mulut dua atau
tiga orang saksi, setiap kata bisa diteguhkan.
17 Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya
kepada jemaat. Dan jika ia bahkan tidak mau
juga mendengarkan jemaat, anggaplah dia
sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. 18
Aku sungguh berkata kepadamu: apa yang kamu
ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini
akan terlepas di sorga.”
Apakah
itu ekspresi yang sama yang kita temukan di Matius pasal 16? Tentu saja! Tetapi
kekuasaan ini tidak diberikan kepada seorang individu tertentu, melainkan
diberikan kepada siapa? Diberikan kepada gereja sebagai suatu kesatuan, secara
umum.
Now you
say, “But, Pastor Bohr, it speaks there about binding and
loosing. What does that mean that the keys bind and loose?”
Well,
we need to first of all understand the tense of the verb. You know,
when you read the text as it's written, it gives you the impression that
whatever you bind on earth, God is going to immediately bind it in
heaven. And whatever you loose on earth, God is going to immediately
loose it in heaven. It doesn't reflect, really, the tense of the
verb. The verb is what you call a perfect tense, which is a past action
which has repercussions in the present. In other words, something
happened in the past that allows you to bind and to loose.
Now the
question is, what happened in the past that allows you to bind and to
loose? Actually, a perfect should be read in the following way: “whatever you bind on earth, will
have been bound in heaven. And whatever you loose on earth will have been loosed in heaven.”
Sekarang
kalian berkata, “Tetapi, Pastor Bohr, ini berbicara tentang mengikat dan
melepaskan. Apa maksudnya kunci-kunci mengikat dan melepaskan?”
Nah,
pertama kita perlu memahami keterangan waktu kata kerjanya. Kalian tahu, bila
kita membaca ayat itu sebagaimana tertulis, ayat itu memberikan kesan apa pun
yang kita ikat di dunia, Allah akan
segera mengikatnya di Surga. Dan apa pun yang kita lepaskan di
dunia, Allah akan segera
melepaskannya di Surga. Sebenarnya itu tidak mencerminkan keterangan waktu kata
kerjanya. Kata kerjanya di sini adalah
perfect tense, yang menceritakan tentang suatu tindakan yang SUDAH TERJADI di
waktu lampau, tetapi yang memiliki reaksi/akibatnya sekarang. Dengan kata lain, sesuatu sudah terjadi di masa
lampau, yang membuat kita bisa mengikat dan melepaskan sekarang.
Sekarang
pertanyaannya, apa yang telah terjadi di masa lampau yang membuat kita bisa
mengikat dan melepaskan sekarang? Sesungguhnya kalimat dengan kata kerja
perfect itu harus dibaca demikian: “apa pun yang kamu ikat di dunia, akan
sudah terikat di Surga; dan apa pun
yang kamu lepaskan di dunia, akan sudah dilepaskan
di Surga.”
Let me ask you, when we preach the gospel of Jesus Christ, can we tell people that their sins are forgiven, and salvation has come to their house? Sure we can.
Do we
bring salvation to them? No, but we can declare to them that if they've
met the conditions, they have become citizens of the kingdom.
But let
me ask you, What was the basis for them becoming citizens of the
kingdom? Did something happen in the past that allowed them to
become citizens of the kingdom? Of course. What was it? It
was the death of Jesus, and the resurrection of Jesus.
See, what we
bind has already been bound by Jesus. Because He did it in the past.
It's simply a person accepting the terms and conditions of what Jesus
did. And the same is true with losing. In other words, this text
is saying that whatever we bind on earth, or whatever we loose on earth,
has already been done in heaven by virtue of what Jesus has done to
save people in the past.
Coba
saya tanya, bila kita menyampaikan Injil Yesus Kristus, bisakah kita mengatakan
kepada orang bahwa dosa-dosa mereka telah diampuni, dan keselamatan telah
datang ke dalam keluarga mereka? Tentu saja bisa.
Apakah
kita yang membawa keselamatan kepada mereka? Tidak. Tetapi kita bisa menyatakan
kepada mereka bahwa jika mereka memenuhi persyaratannya, mereka menjadi warga
Kerajaan.
Tetapi
coba saya tanya, apakah dasarnya bagi mereka menjadi warga Kerajaan? Apakah
sesuatu telah terjadi di masa lampau yang membuat mereka bisa menjadi warga
Kerajaan? Betul sekali. Apa itu? Kematian Yesus dan kebangkitan Yesus.
Paham?
Apa yang kita ikat, sudah diikat
oleh Yesus, karena itu sudah dilakukanNya di masa lampau. Ini sekarang semata-mata tentang seseorang
menerima syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan dari apa yang telah dilakukan
Yesus.
Begitu
juga untuk melepaskan. Dengan kata lain, ayat
ini berkata, apa pun yang kita ikat di dunia, atau apa pun yang kita lepaskan
di dunia, sudah dilakukan di Surga berdasarkan kebaikan yang telah dilakukan
Yesus untuk menyelamatkan orang di masa lampau.
When we
preach, who do we preach? We preach salvation through Jesus. Where
did Jesus save us? He saved us on the cross. So presently we're preaching,
if people accept the conditions of our preaching, can we tell them, “Your sins
are forgiven” on the basis of their acceptance of Jesus?
Yes. If they reject the message, can we tell them, “Your sins
are bound”? We certainly can.
Bila
kita menyampaikan pekabaran, apa yang kita sampaikan? Kita menyampaikan
keselamatan melalui Yesus. Di mana Yesus menyelamatkan kita? Di salib. Jadi
sekarang ini kita menyampaikan pekabaran, dan bila orang menerima persyaratan
pekabaran kita, bisakah kita berkata kepada mereka, “Dosa-dosamu telah diampuni” atas dasar penerimaan
mereka akan Yesus? Ya. Jika mereka menolak pekabaran itu, bisakah kita berkata
kepada mereka, “Dosa-dosamu
terikat”? Tentu saja kita bisa.
By the
way, do you know that the preaching of the gospel can either open or shut
heaven? You say, “Well, how's that?”
Let me
ask you, When Moses preached to Pharaoh, did Pharaoh shut his heart to
heaven? He most certainly did. The gospel can soften or harden.
You
have Felix and Agrippa, “Almost persuadest thou
me to be a Christian.” And Paul had preached a
fantastic sermon before. What was Paul trying to do? He was trying
to what? He was trying to unlock the kingdom. But what did these
men do? Another one says, “I'll call you. Go and I'll call you at a
convenient time.” The convenient time never came.
What was happening? The gospel was preached, but the kingdom wasn't opened, because they did not accept Jesus as their Savior. So are you understanding the tense of the verb that is being used here?
What was happening? The gospel was preached, but the kingdom wasn't opened, because they did not accept Jesus as their Savior. So are you understanding the tense of the verb that is being used here?
Nah,
tahukah kalian menyampaikan pekabaran Injil bisa membuka atau menutup Surga?
Kalian
berkata, “Kok bisa begitu?”
Coba
saya tanya, ketika Musa menyampaikan pekabaran kepada Firaun, apakah Firaun
menutup hatinya terhadap Surga? Betul sekali. Injil bisa melunakan atau mengeraskan.
Ada Felix dan Agripa, “Hampir-hampir saja kauyakinkan aku menjadi orang
Kristen!" [Kis.
26:28]. Sebelumnya Paulus telah menyampaikan suatu pekabaran yang
luar biasa. Apa yang mau dilakukan Paulus? Dia berusaha apa? Dia berusaha
membuka kunci Kerajaan. Tetapi apa yang dilakukan orang-orang itu? Ada yang
berkata, “Nanti aku hubungi. Pergilah, dan aku akan memanggilmu kapan-kapan ada
waktu yang tepat.” [Kis. 24:25] Waktu yang tepat tidak pernah datang.
Apa yang terjadi? Injil disampaikan,
tetapi Kerajaan tidak terbuka karena mereka tidak menerima Yesus sebagai
Juruselamat mereka.
Jadi, apakah kalian paham keterangan
waktu kata kerja yang dipakai di sini?
Now,
the Roman Catholic Church uses the idea that Jesus re-affirmed Peter
three times after the resurrection to say, “See, Peter was special in the
sight of Jesus, because He said, ‘Feed My Sheep, feed My lambs.’ He
didn't say that to anybody else. He said that to Peter.”
Well,
the fact is, folks, that the reason why Jesus said to Peter three times, “Do
you love Me, Peter? Do you love Me, Peter? Do you love Me, Peter?
Feed My lambs, feed My lambs, feed My sheep.” The reason why it happened
three times, the Bible makes very, very clear.
By the
way, this is found in John 21:15-17. How many times did Peter deny
Jesus? Go with me to John 13:38. “38 Jesus answered him,
‘Will you lay down your life for My sake?...” Jesus
says to Peter, “… Most assuredly I say
to you, ‘The rooster shall not crow, till you have denied Me three times.”
Nah,
gereja Roma Katolik menggunakan konsep bahwa Yesus meneguhkan Petrus tiga kali
setelah kebangkitanNya, dan berkata, “Lihat, Petrus itu istimewa di mata Yesus,
karena Yesus berkata, ‘Berilah makan domba-dombaKu, berilah makan anak-anak
dombaKu.’ Yesus tidak mengatakan itu kepada orang lain, Dia mengatakannya
kepada Petrus.”
Nah,
faktanya, Saudara-saudara, mengapa Yesus berkata kepada Petrus tiga kali
“Apakah engkau mengasihi Aku, Petrus? Apakah engkau mengasihi Aku, Petrus?
Apakah engkau mengasihi Aku, Petrus? Berilah makan anak-anak dombaKu, berilah
makan domba-dombaKu.” Mengapa ini terjadi tiga kali, Alkitab menerangkannya
dengan amat sangat jelas.
Nah,
ini ada di Yohanes 21:15-17. Berapa kali Petrus menyangkal Yesus? Marilah
bersama saya ke Yohanes 13:38. “38 Jawab Yesus: ‘Maukah egkau
memberikan nyawamu bagi-Ku? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum ayam
berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.’"
So
Peter denies Jesus three times, and Jesus reinstates him three
times. Very clear connection between his denial of Jesus, and his
reinstatement by Jesus. And, by the way, that idea that Jesus only said to Peter
that he was supposed to shepherd the flock is simply not true in
Scripture.
Notice
1 Peter 5:1-4. Peter was not the only shepherd. Actually all of the
elders of the church are called shepherds. Notice: “1 The elders who are among
you I exhort, I who am a fellow-elder, and a witness of the sufferings of
Christ,…” Notice that Peter doesn't say, I am the Pope.
He says: “…I am a fellow-elder and a witness of the
sufferings of Christ, and also a partaker of the glory that will be revealed…” then he says to the elders, “…2 Shepherd
the flock of God…” Is he saying, “Feed my
sheep? Take care of my sheep”, Peter, to the elders? Yes. “…Shepherd the flock of
God which is among you, serving as overseers…” By the
way, the word overseers, is episkopos, where we get the word Episcopal
from today, “…not by compulsion, but willingly; not for
dishonest gain, but eagerly; 3 Nor being lords over those entrusted
to you…” In
other words, don't be lords. Don't rule over them. “…but being examples to
the flock. 4 And when the chief Shepherd appears…” Who is the Chief Shepherd? Peter, right? No, it's Jesus, “…And when the chief
Shepherd appears, you will receive the crown of glory that does not fade away.”
Jadi
Petrus menyangkal Yesus tiga kali, dan Yesus memulihkan statusnya tiga kali.
Sangat jelas hubungan antara penyangkalannya pada Yesus dan pemulihan statusnya
oleh Yesus. Dan, ketahuilah, konsep
bahwa Yesus berkata hanya kepada Petrus bahwa dia harus menggembalakan kawanan domba
sama sekali tidak benar di Kitab Suci.
Perhatikan
1 Petrus 5:1-4. Petrus bukan satu-satunya gembala. Sebenarnya semua ketua/penatua
gereja disebut gembala. Perhatikan, “1 Aku menasihatkan para penatua di antara kamu, aku yang adalah rekan penatua dan saksi penderitaan
Kristus,…” perhatikan, Petrus tidak berkata, “Akulah Paus”, dia
berkata, “…aku yang adalah rekan penatua dan saksi penderitaan
Kristus, yang juga akan mendapat bagian dalam kemuliaan yang akan dinyatakan
kelak…” lalu dia berkata kepada para penatua, “…2 Gembalakanlah kawanan domba
Allah…” apakah dia berkata, “Berilah makan
dombaku”? “Peliharakan dombaku”? Petrus kepada
para penatua? Ya! “…Gembalakanlah
kawanan domba Allah yang ada padamu, melayani
sebagai seorang pengawas,…” nah, kata “pengawas” adalah episkopos,
dari mana kita mendapatkan kata “Episcopal” sekarang, “…jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela;
jangan karena mau mencari keuntungan yang tidak
halal, tetapi dengan pengabdian diri. 3 Jangan juga menjadi majikan memerintah atas mereka
yang dipercayakan kepadamu,…” dengan kata lain, jangan menjadi majikan,
jangan menguasai mereka, “…tetapi hendaklah kamu
menjadi teladan bagi kawanan domba itu. 4 Maka apabila Gembala Agung
datang,…” Siapa Gembala Agungnya? Petrus-kah? Tidak! Yesus-lah. “…Maka apabila Gembala Agung datang, kamu akan menerima mahkota
kemuliaan yang tidak akan pudar.”
Now
allow me to make a few closing remarks about Peter. Peter was undoubtedly
a great apostle. He played a very important role at the founding of the
Christian church and the growth of the early church. But allow me
to share with you several things about Peter.
·
First of all, on the way
to Jerusalem, the last trip to Jerusalem after Jesus had said to Peter,
“You are Peter, but I am the Rock.” The disciples are struggling
and arguing about who's going to be the greatest. Listen, if Jesus
had said that Peter was the Rock, case closed. What would they have been
fighting about?
· Furthermore, Peter failed. The gates of Hades did prevail
against him in the garden, and in Pilate's court.
· Furthermore, Peter, if he was the first Pope, he was
married, because he had a mother-in-law. You can find that in
Matthew 8:14.
· The Catholic church says that Peter was the first person
that saw Jesus after the resurrection. Not so. It was Mary
Magdalene and the other Mary's.
· They say that Peter's always mentioned first in all the
lists. Not right. John 1:44 Andrew is mentioned first, and then
Peter. Galatians 2:7 you have Paul then Peter. 1 Corinthians 1:12
you have Paul, Apollos, and then Cephas. 1 Corinthians 9:5 Cephas is
last.
·
In the first general
church council James presided in the council.
In
other words, this passage is speaking about Jesus, the great Jesus. And
the church will not fall because it is built on Him.
Sekarang,
izinkan saya membuat beberapa komentar tentang Petrus sebagai penutup. Petrus
tidak diragukan lagi adalah seorang rasul yang besar. Dia memainkan peranan
yang sangat penting dalam pembentukan gereja Kristen, dan pertumbuhan gereja
mula-mula. Tetapi izinkan saya membagikan beberapa hal tentang Petrus:
·
Pertama,
dalam perjalanan ke Yerusalem, perjalanan yang terakhir, setelah Yesus berkata
kepada Petrus, “Kamu itu Petrus tetapi Akulah Batu karang itu”, para murid
bergumul dan berdebat tentang siapa yang akan menjadi yang terbesar. Dengar,
andai Yesus saat itu berkata bahwa Petrus itulah Batu karangnya, maka urusannya
selesai, sudah tidak ada yang didebatkan lagi, memang apa lagi yang harus
diperebutan?
· Selain itu, Petrus sudah gagal. Gerbang
kubur telah menang atasnya di kebun [Getsemani], dan di pengadilan Pilatus.
· Lebih jauh, seandainya Petrus itu betul
Paus yang pertama, dia pernah kawin karena dia punya ibu mertua. Kalian bisa menemukan
ayatnya di Matius 8:14.
· Gereja Katolik bilang Petrus adalah
orang pertama yang melihat Yesus setelah kebangkitanNya. Tidak benar. Yang
benar adalah Maria Magdalena dan Maria-Maria yang lain.
· Mereka berkata Petrus selalu disebutkan
lebih dulu dalam semua daftar. Tidak benar. Yohanes 1:44 menyebutkan Andreas
dulu, baru Petrus. Galatia 2:7 menyebut Paulus dulu baru Petrus. 1 Korintus
1:12, Paulus, Apollos, baru Kephas. 1 Korintus 9:5 Kephas disebut terakhir.
·
Di
konsili pertama gereja, yang duduk sebagai ketua adalah Yakobus.
Dengan
kata lain, semua itu berbicara tentang Yesus, Yesus yang Agung. Dan gereja
tidak akan jatuh, karena gereja didirikan di atas Dia.
01 05 17
No comments:
Post a Comment