2025 SERMONS AT HAMMOND SDA CHURCH
Stephen Bohr
03/09 THE GOD OF THE ETERNAL
https://www.youtube.com/watch?v=Zf6Kk8CBvYw
Dibuka
dengan doa.
Jesus
had many theological battles with the various Jewish sects of the time of
Christ. He had a lot of battles with the Sadducees and He had a lot of battles
with the Pharisees as well as the other Jewish sects. And once upon a time
there came a group of Sadducees to Jesus and they presented to Him a situation
which appeared to be insolvable. They wanted to put Jesus between a rock and a
hard place. They wanted to put Him in a situation where He could not answer
what they were presenting.
Yesus menghadapi
banyak pertikaian theologi dengan pelbagai sekte Yahudi di zamanNya. Dia
menghadapi banyak perselisihan dengan orang-orang Saduki dan Dia menghadapi
banyak perselisihan dengan orang-orang Farisi dan juga dengan sekte-sekte
Yahudi yang lain. Dan suatu ketika datanglah sekelompok orang Saduki kepada
Yesus dan mereka mengajukan kepadanya suatu situasi yang tampaknya tidak bisa
diselesaikan. Mereka mau memojokkan Yesus. Mereka mau menempatkan Yesus di
situasi di mana Dia tidak akan bisa menjawab apa yang mereka ajukan.
Now,
the apostle Paul told us something very interesting about the Sadducees. Go
with me to Acts 23:7-9. We're going to notice in a moment the story that the
Sadducees presented to Christ where they wanted to put Him in a difficult
situation. But first of all, we need to know something about what the Sadducees
believed and what they did not believe.
Nah, rasul
Paulus memberitahu kita sesuatu yang sangat menarik tentang orang-orang Saduki.
Mari bersama saya ke Kisah 23:7-9. Kita akan menyimak kisah yang disampaikan
orang-orang Saduki kepada Kristus di mana mereka mau memojokkan Dia. Tetapi
lebih dulu kita perlu tahu sesuatu tentang apa yang diyakini orang-orang Saduki
dan apa yang tidak diyakini mereka.
Here
the apostle Paul is defending himself between a group of Sadducees and Pharisees
and they have the intention of condemning the apostle Paul. When Paul realized
that there were Sadducees and Pharisees, he decided to bring up something that
the Sadducees did not believe in. Now the
Pharisees believed in the resurrection of the dead but the Sadducees did not
believe in the resurrection of the dead. So Paul said, this is a good
opportunity for me to say something about the resurrection, to say that the resurrection
will take place, because he knew that the Sadducees would end up fighting with
the Pharisees over the resurrection, and they would be distracted from the
intention of causing damage to Paul.
Di sini rasul
Paulus membela dirinya di hadapan sekelompok orang Saduki dan Farisi, dan
mereka berniat memalukan rasul Paulus. Ketika Paulus menyadari bahwa ada
orang-orang Saduki dan Farisi, dia memutuskan untuk mengetengahkan sesuatu yang
tidak diyakini oleh orang-orang Saduki. Nah, orang-orang Farisi meyakini
kebangkitan orang mati, tetapi orang-orang Saduki tidak meyakini
kebangkitan orang mati. Maka Paulus berkata, ini adalah kesempatan baik bagiku
untuk mengatakan sesuatu tentang kebangkitan, untuk mengatakan bahwa
kebangkitan akan terjadi, karena dia tahu orang-orang Saduki pasti akan
bertengkar dengan orang-orang Farisi mengenai kebangkitan, dan perhatian mereka
akan dialihkan dari niat mereka untuk mendatangkan masalah bagi Paulus.
And
this is exactly what the story tells us in Acts 23:7-9. “ 7 And
when he had said this...” when
he spoke about the resurrection, “...a dissension arose
between the Pharisees and the Sadducees;...” So they lost their focus on Paul and now they start
fighting with each other. It says in verse 8,
“... 8 For
Sadducees say that there is no resurrection—and no angel or spirit; but the
Pharisees confess both...” So
the Sadducees did not believe in the resurrection of the dead.
Dan inilah persis yang dikatakan cerita itu kepada kita di Kisah 23:7-9.
“7 Dan
ketika ia telah berkata demikian…” ketika dia bicara tentang kebangkitan, “…timbullah
perselisihan antara orang-orang Farisi dan
orang-orang Saduki…” sehingga perhatian mereka teralihkan
dari Paulus, dan sekarang mereka mulai bertengkar satu sama lain. Dikatakan di
ayat 8, “…8 Sebab
orang-orang Saduki mengatakan, tidak ada kebangkitan, dan tidak ada malaikat atau roh; tetapi
orang-orang Farisi mengakui kedua-duanya ada…” Jadi
orang-orang Saduki tidak percaya pada kebangkitan orang mati.
Ellen
White in the book Desire of Ages, page 603,
agrees with what we find in the passage that we just read in Acts 23. On page
603, Ellen White wrote, “The Sadducees
denied the existence of angels, the resurrection of the dead, and the doctrine
of a future life, with its rewards and punishments…”
In other words, the Sadducees were
basically fatalists. They believe that death, that's it. There's no afterlife
after death, either in bliss or in suffering. They did not believe in the
existence of angels, and they did not believe in the resurrection of the dead.
And they were a Jewish sect. They disagreed with the Pharisees.
Ellen White di
buku Desire of Ages
hal. 603 sepakat dengan apa yang kita temukan di bacaan yang
baru kita baca di Kisah 23. Di hal. 603 Ellen White menulis, “…Orang-orang
Saduki tidak mengakui eksistensi para malaikat, kebangkitan orang mati, dan
doktrin adanya kehidupan yang akan datang dengan pahala-pahalanya dan
hukuman-hukumannya…” Dengan kata lain, orang-orang Saduki pada
dasarnya adalah fatalis. Yang mereka yakini, mati, sudah itu saja. Tidak ada
kehidupan setelah kematian, baik dalam kebahagiaan maupun penderitaan. Mereka
tidak percaya adanya malaikat, dan mereka tidak percaya pada kebangkitan orang
mati. Dan mereka adalah sebuah sekte Yahudi. Mereka tidak sepakat dengan
orang-orang Farisi.
Now
the question is, why didn't the Sadducees believe in the resurrection of the
dead? Two reasons:
1.
According to liberal theology,
even to this day ~ when I say “liberal theologians”,
those are the theologians of the churches basically that have the word “United”
before them. United Methodist, United Presbyterian, United Lutheran.
Those are liberal churches. They accept gay marriage and they accept gay clergy, etc. These theologians of
these churches till this day, today they do
not believe in miracles, and of course a resurrection would be a
miracle. In fact, they apply what is
known as the principle of analogy.
And basically that principle to them says, that if we can't see resurrections
from the dead today, then we cannot believe that there were resurrections from
the dead in the past. So they say because scientifically we have to see it
today, to believe that there were resurrections in the past. And so the same is
true of the Sadducees in the days of Christ. You see, the Sadducees believed
that it was unscientific to believe that a disintegrated body could recompose
and be alive again. They said that would be a miracle and God simply cannot do
that.
Ellen White confirmed this in Desire of Ages 537 and 538. She wrote, “They [the Sadducees] did
not believe in a resurrection of the dead. Producing so-called
science,...” not science, but so-called science “...they had reasoned
that it would be an impossibility for a
dead body to be brought
to life….” They
said it would be a miracle. It's impossible for a disintegrated body to
suddenly be totally recomposed and begin breathing and living again. In other
words, they doubted the power of God. We'll come back to that in a few moments.
They had a second reason why they denied
the resurrection. First, because they believed it was scientifically impossible
to reintegrate a body that had been decomposed and returned to dust.
2.
The second reason is that the Sadducees only believed that the five books of
Moses were fully inspired by God.
They did not accept that the rest of the
Old Testament was inspired by God. And therefore, they believed that they had to prove all of their beliefs from the
five books of Moses, and they could not find any reference to the
resurrection in the five books of Moses. So they said, "Yes, the rest
of the Old Testament that speaks about resurrections, but we only accept the
full inspiration of the five books of Moses and the resurrection is not
mentioned in there."
So
in other words, they doubted the power of God to be able to resurrect a
decomposed body. And secondly, Jesus is going to say, "You
misunderstand the Scriptures because the books of Moses do mention the
resurrection."
Nah
pertanyaannya ialah, mengapa orang-orang Saduki tidak meyakini kebangkitan
orang mati? Ada dua alasan:
1.
Menurut theologi liberal,
bahkan sampai hari ini ~ kalau saya berkata
“theolog-theolog liberal”, mereka adalah theolog-theolog dari gereja-gereja
yang namanya ada kata “United” di depannya: United
Methodist, United Presbyterian, United Lutheran. Inilah gereja-gereja yang liberal.
Mereka menerima
perkawinan sesama jenis. Mereka menerima pendeta-pendeta gay, dll.
Theolog-theolog dari gereja-gereja ini hingga hari ini mereka tidak mempercayai adanya mujizat,
dan tentu saja kebangkitan adalah sebuah mujizat. Faktanya, mereka mengaplikasikan apa
yang dikenal sebagai prinsip
analogi. Dan pada dasarnya prinsip itu bagi mereka mengatakan, jika
hari ini kita tidak melihat adanya kebangkitan orang mati, maka kita tidak bisa
percaya bahwa di masa lampau ada kebangkitan orang mati. Maka mereka berkata
karena secara saintifik kita harus melihatnya hari ini, untuk bisa mempercayai
bahwa di masa lampau ada kebangkitan. Maka hal yang sama juga terjadi pada
orang-orang Saduki di zaman Kristus. Kalian lihat, orang-orang Saduki meyakini
bahwa mempercayai tubuh yang sudah rusak bisa pulih utuh dan hidup kembali, itu
tidak saintifik. Mereka berkata itu adalah suatu mujizat dan Allah jelas tidak
bisa melakukan itu.
Ellen White mengkonfirmasi ini di Desire of Ages hal. 537-538. Dia menulis, “…Mereka [orang-orang Saduki]
tidak percaya dalam kebangkitan orang mati. Dengan mengetengahkan apa yang mereka
sebut sebagai sains...” jadi bukan sains yang benar, tapi yang mereka
sebut itu sains, “...mereka
telah berdalih bahwa adalah suatu kemustahilan bagi sebuah tubuh yang mati
untuk dikembalikan hidup...” Mereka berkata itu haruslah suatu mujizat. Mustahil tubuh yang sudah
terurai tiba-tiba menjadi utuh kembali dan mulai bernafas dan hidup lagi.
Dengan kata lain, mereka meragukan kuasa Allah. Nanti sebentar kita akan
kembali kemari.
Mereka punya alasan kedua mengapa mereka menolak
kebangkitan. Pertama, karena mereka meyakini bahwa itu mustahil secara
saintifik untuk menjadikan utuh lagi suatu tubuh yang telah rusak dan telah
menjadi debu.
2.
Alasan kedua ialah orang-orang Saduki meyakini
hanya kelima kitab tulisan Musa itulah yang benar-benar diilhami oleh Allah.
Mereka tidak menerima sisanya kitab-kitab lain dari
Perjanjian Lama itu diilhami oleh Allah. Dan oleh karena itu mereka meyakini
bahwa mereka harus
membuktikan semua keyakinan mereka dari kelima kitab Musa, dan
mereka tidak menemukan acuan apa pun kepada kebangkitan dalam kelima kitab
Musa. Maka mereka berkata, “Ya, kitab-kitab lain di
Perjanjian Lama bicara tentang kebangkitan, tetapi kami hanya menerima kelimat
kitab Musa sebagai yang benar-benar diilhami, dan kebangkitan tidak disebutkan
di sana.”
Maka dengan kata
lain, mereka meragukan kuasa Allah bisa membangkitkan tubuh yang sudah rusak.
Dan kedua, Yesus akan berkata, “Kamu sudah
salah memahami Kitab Suci, karena kitab-kitab Musa ada menyebut tentang
kebangkitan.”
Now,
let's present the hypothetical case because it's not a real life situation.
They're trying to put Jesus in hot water so that He's in a place where He can't
answer their example. Basically, it's the example of one woman who married
seven brothers. And so now they're going to say to Jesus, "Okay, in the
resurrection, whose wife of the seven brothers will she be?" Of
course, that's not a real life situation. It's kind of a stretch to think that,
you know, you have seven brothers that marry the same woman. By the way, Moses
said that if a man died without descendants, that his brother needed to marry
his widow to produce offspring for her. So, it was in Moses, in the writings of
Moses, that the woman had to marry and give descendants to the husband that had
died. So let's read this hypothetical case that they presented.
Nah, mari kita
hadirkan kasus hipotetisnya, karena ini bukan situasi kehidupan nyata. Mereka
berusaha memasukkan Yesus ke air panas sehingga Dia berada di posisi di mana
Dia tidak bisa menjawab contoh soal
mereka. Pada dasarnya, ini adalah contoh dari seorang perempuan yang menikahi
tujuh saudara. Dan sekarang mereka akan berkata kepada Yesus, “Oke, di kebangkitan, perempuan
itu menjadi istri saudara yang mana dari ketujuh orang itu?” Sudah pasti ini
bukan kejadian yang sesungguhnya. Ini situasi yang sulit dipercaya di mana ada tujuh bersaudara yang menikahi
perempuan yang sama. Nah, Musa mengatakan bahwa jika seseorang mati tanpa
meninggalkan anak, saudara laki-lakinya harus menikahi jandanya untuk
memberikan anak kepada perempuan itu. Jadi, di tulisan-tulisan Musa, perempuan
itu harus menikah dan memberikan keturunan untuk suami yang sudah mati. Jadi
mari kita baca kasus hipotesa ini yang mereka sodorkan.
Luke 20:27-33. It says there,“27 Then some of the Sadducees, who deny that there is a
resurrection,…” See this is once again, we
read from Acts 23, now we find that Luke tells us that they did not believe in
the resurrection. So they “…came to Him and
asked Him, 28 saying:
‘Teacher, Moses wrote to us that if
a man’s brother dies, having a wife, and he dies without children, his brother
should take his wife and raise up offspring for his brother….” Are you understanding what it's saying here?
“…29 Now
there were seven brothers…” Here comes the case that they present, the imaginary case. “…29 Now there were seven brothers and the first took a
wife, and died without children. 30 And the second took her as wife, and he died
childless. 31 Then
the third took her, and in like manner the seven also; and they left no
children, and died. 32 Last
of all the woman died also…” And now comes the catch. “…33 Therefore, in the resurrection, whose wife does she
become? For all seven had her as wife.’…” Are
you understanding the situation that they're trying to put Jesus in? Which of
the seven brothers will have her as a wife in the life to come?
Lukas
20:27-33, dikatakan di sana, “27 Maka
beberapa orang Saduki, yang tidak mengakui adanya kebangkitan…” lihat, ini
sekali lagi, kita sudah membacanya di Kisah 23, sekarang kita temukan Lukas
memberitahu kita mereka tidak mempercayai kebangkitan. Maka mereka “…datang
kepada Yesus dan bertanya kepada-Nya, 28
mengatakan, ‘Guru, Musa menulis kepada kita bahwa
jika saudara laki-laki seseorang, mati, yang mempunyai seorang istri, dan dia mati tidak
meninggalkan anak, saudaranya laki-laki
harus mengawini isterinya dan membangkitkan
keturunan bagi saudara laki-lakinya itu…” apakah kalian
paham apa yang dikatakan di sini? “…29 Nah, ada tujuh orang bersaudara…” sekarang
inilah kasus yang mereka sodorkan, kasus khayalan, “…29
Nah, ada tujuh orang bersaudara Dan yang
pertama mengambil seorang istri, dan mati tanpa anak. 30 Dan yang kedua mengambil perempuan itu sebagai istri, dan dia mati tanpa anak. 31 Lalu yang ketiga mengambil
perempuan itu, dan seperti itu juga
ketujuhnya; dan mereka tidak meninggalkan anak, dan mati. 32 Yang terakhir, perempuan itu pun mati…” dan sekarang ini jebakannya. “…33Jadi di kebangkitan perempuan itu istri siapa? Sebab semua ketujuh bersaudara pernah beristerikan
dia.’” Apakah kalian paham situasi di mana mereka mencoba menempatkan Yesus?
Siapa dari antara ketujuh bersaudara itu yang akan memiliki perempuan itu
sebagai istrinya di kehidupan yang akan datang?
Now, Jesus answers
their imaginary scenario with three arguments. And I'm going to tell you what
the arguments are, and then we're going to read in the Bible those arguments.
Go with me to Matthew 22:29. Save your place there in Luke. I should have said
that before. Save your place in Luke 20. But let's go to Matthew 22:29 where we
find the same experience, but there's a detail that is in Matthew that is not
in Luke. See, that's why we have to look at all the gospels because they
complement each other. What Matthew says sometimes Luke doesn't say, and vice
versa.
Nah, Yesus menjawab skenario
khayalan mereka dengan tiga argumentasi. Dan saya akan memberitahu kalian apa
argumentasinya, lalu kita akan membaca di Alkitab tentang
argumentasi-argumentasi itu. Marilah bersama saya ke Matius 22:29. Tandai
halamannya di Lukas ~ seharusnya saya mengatakan itu sebelumnya ~ tandai
halamannya di Lukas 20, tetapi mari kita ke Matius 22:29 di mana kita temukan
pengalaman yang sama. Tetapi di Matius ada detail yang tidak ada di Lukas.
Lihat, itulah mengapa kita harus mempelajari semua injil karena mereka saling
melengkapi. Apa yang dikatakan Matius terkadang tidak dikatakan Lukas, dan sebaliknya.
And so it says in
Matthew 22:29, “29 Jesus answered and said to them, ‘You are mistaken, not knowing…” what? “…the Scriptures…” Whose Scriptures
specifically? Oh, whose Scriptures? The five books of Moses. The five books of
Mosesl, because those that's all they accepted. And so Jesus is saying “…‘You…” according to this,
“…you are mistaken, not knowing the Scriptures…” In other words, “you
don't even understand the writings of Moses.” He's going to prove that Moses did refer to the resurrection. And
so they're mistaken. So first of all, they don't know the Scriptures,
particularly the writings of Moses, “…nor the power of God…” There's two
arguments:
1. They misunderstand
the writings of Moses because Moses does mention the resurrection.
2. Secondly, they
doubt the power of God because God is powerful enough to resurrect the dead.
3. And then Jesus uses
a third argument and this is the most devastating to them.
He says, “in the life to come there's not going to be any
marriage. So your example has no significance and no importance.” because if there's
not going to be any marriage there then she's not going to be the wife of any
of the seven.
Maka
dikatakan di Matius 22:29, “29 Yesus
menjawab dan berkata kepada mereka, ‘Kamu salah, tanpa
mengetahui…” apa? “…Kitab Suci…” secara spesifik kitab suci tulisan siapa? Kelima kitab Musa! Karena
hanya kitab-kitab itu yang mereka terima. Maka Yesus berkata, “…‘Kamu…” menurut ini, “… ‘Kamu salah, tanpa
mengetahui Kitab Suci…” dengan kata lain “kamu bahkan tidak mengerti tulisan-tulisan
Musa.” Yesus akan membuktikan bahwa Musa ada mengacu
kepada kebangkitan. Maka orang-orang Saduki itu salah. Jadi,
pertama, mereka tidak tahu Kitab Suci terutama tulisan-tulisan Musa, “…maupun kuasa Allah!…” Ini kedua
argumentasinya.
1. Mereka salah mengerti tulisan-tulisan Musa, karena Musa ada menyebut
tentang kebangkitan.
2. Yang kedua, mereka meragukan kuasa Allah karena Allah cukup berkuasa
untuk membangkitkan yang mati.
3. Kemudian Yesus memakai argumentasi yang ketiga, dan ini yang paling
keras memukul mereka.
Yesus berkata, “dalam
kehidupan yang akan datang tidak akan ada perkawinan, maka contoh soal kalian
tidak punya signifikan dan kepentingan”, karena kalau
tidak akan ada perkawinan di sana, maka perempuan itu tidak akan menjadi istri
saudara yang mana pun dari ketujuhnya.
Now let's read the
full response of Jesus in Luke 20:33-38. This is the response of Jesus. We
already noticed that in Matthew, Jesus
says, "You don't believe in the power of God because God is powerful
enough to resurrect the dead and you
ignore or misunderstand the Scriptures, the writings of Moses." Now, Luke
20:33-38 is going to have additional details. “34 Jesus answered and said to them, ‘The sons of this age…” what does it mean
by “this age”? It means the sinful period in which we're living now, right?
This world before the resurrection, before the life to come. “… ‘The sons of this age marry and are given in marriage. 35 But those who are counted worthy to attain that age…” that age to come in
heaven and then on the new earth,
“…and the resurrection from the dead, neither marry nor are given in
marriage;…” In other words, in the life
to come, there's not going to be any marriage.
And let me insert here something very important. This is the only planet in God's universe that has
procreation. Ellen White states that a new order of being was created
when God created Adam and Eve. And she has several statements where she says
that the purpose of procreation was to
replace the vacancies that the fallen angels left in heaven when they were cast
out. That's the purpose of procreation. And so when we get to the new
world in the future, there will be no need of marriage because all of the vacancies
will have been filled. Are you with me or not? Ellen White has many statements
where she says this. In fact, she heard Satan say to God, "Are these sinners the ones that are to
replace me and my angels in heaven?" She heard Satan speak those
specific words.
So Jesus is saying,
"There's not going to be any marriage in the kingdom come. So your
example has no importance, because there's not going to be marriage. So she's
not going to be married to any of the seven.” Let's continue reading verse
35 once again. “…35 But those who are counted worthy to attain that age, and the resurrection from the
dead, neither marry nor are given in marriage; 36 nor can they die anymore, for they are equal to…” what? Isn't that
interesting? They'll replace the angels that left their vacancies in heaven.
See, Ellen White, you know, the little lady knew what she was talking about. If
you look hard enough, you'll find that what she says is in the Bible. And so it
says, “…36 nor can they die
anymore, for they are equal to the angels and are sons of God, being
sons of the resurrection…” So He's refuting their argument concerning marriage. “There's
not going to be marriage there. So your example has absolutely no importance
and no meaning.”
Nah,
mari kita baca respons Yesus yang lengkap di Lukas 20:33-38. Inilah respons
Yesus. Kita sudah menyimak bahwa di Matius, Yesus berkata, “Kamu
tidak mempercayai kuasa Allah. Allah itu cukup berkuasa untuk membangkitkan
yang mati, dan kamu abaikan atau tidak memahami Kitab Suci tulisan-tulisan
Musa.” Sekarang Lukas 20:33-38 akan memberikan detail tambahan. “34
Yesus menjawab
dan berkata kepada mereka, ‘Orang-orang zaman ini…” apa yang dimaksud dengan “zaman ini”? Artinya zaman berdosa di mana kita
sekarang hidup, benar? Dunia ini, sebelum kebangkitan, sebelum hidup yang
berikutnya. “…‘Orang-orang zaman ini kawin dan
dikawinkan, 35 tetapi mereka yang dianggap layak untuk mencapai zaman yang itu…” zaman itu yang akan datang di Surga kemudian di dunia baru, “…dan kebangkitan orang mati,
tidak kawin maupun dikawinkan…” Dengan kata lain, di kehidupan yang
akan datang, tidak akan ada perkawinan.
Dan saya mau memasukkan di sini
sesuatu yang sangat penting. Planet ini adalah satu-satunya
di alam semesta Allah yang bisa prokreasi (= melanjutkan
keturunan). Ellen White menyatakan bahwa sebuah tatanan baru diciptakan ketika
Allah menciptakan Adam dan Hawa. Dan Ellen White menulis beberapa pernyataan di
mana dia mengatakan tujuan dari prokreasi ini ialah untuk menggantikan
tempat-tempat kosong di Surga yang telah ditinggalkan malaikat-malaikat yang
jatuh dalam dosa ketika mereka dicampakkan keluar. Itulah tujuan
prokreasi. Maka ketika kita tiba di dunia baru nanti, tidak diperlukan lagi
perkawinan karena semua tempat kosong sudah akan terisi. Apakah kalian
mengikuti saya atau tidak? Ellen White menulis banyak pernyataan di mana dia
mengatakan demikian. Bahkan dia mendengar Setan berkata kepada Allah, “Apakah
orang-orang berdosa ini yang akan menggantikan aku dan malaikat-malaikatku di
Surga?” Dia mendengar Setan mengucapkan kata-kata spesifik
tersebut. (Testimonies for the Church, Vol. 5, hal.
472–473; Prophets and Kings,
hal. 588–589)
Maka Yesus berkata, “Tidak akan ada perkawinan di kerajaan yang
akan datang. Maka contoh soal kalian tidak ada kepentingannya karena nanti
tidak akan ada perkawinan. Jadi perempuan itu tidak akan menjadi istri siapa
pun dari ketujuh saudara itu.” Mari kita lanjutkan membaca ayat 35
sekali lagi, “…35 tetapi mereka yang dianggap layak untuk mencapai zaman yang itu, dan kebangkitan orang mati, tidak kawin maupun dikawinkan. 36 Mereka juga tidak dapat mati lagi karena mereka sama dengan…” apa? Tidakkah ini menarik? Mereka akan menggantikan para malaikat yang
telah mengosongkan tempat mereka di Surga. Lihat, Ellen White, ibu kecil ini,
tahu apa yang dibicarakannya. Jika kita teliti dengan seksama, kita akan
menemukan bahwa apa yang dikatakannya ada di Alkitab. Maka dikatakan, “…36 Mereka juga tidak dapat mati lagi karena mereka sama dengan malaikat-malaikat dan adalah anak-anak Allah, sebagai anak-anak kebangkitan.’…” Jadi Yesus membantah argumentasi
orang-orang Saduki tentang perkawinan. “Nanti di sana tidak akan
ada perkawinan. Jadi contoh soal kalian sama sekali tidak relevan maupun tidak
ada maknanya.”
And now Jesus is
going to amplify what we read in Matthew where it says, "You don't know
the Scriptures." In other words, “you don't understand the writings
of Moses that you claim to believe to be fully inspired.” Notice what He
says in verse 37
“…37 But
even Moses…” why would He use the word “even”? Because they think that Moses
didn't talk about the resurrection. But Jesus says,“…37 But even Moses…” the Scriptures that
you claim to believe in,
“…even Moses showed in the burning bush passage that the dead are
raised,…” Where is the burning bush passage? In Exodus 3. Jesus is saying
that “the passage in Exodus 3 proves that
Moses believed in the resurrection of the dead. So you don't even know
the Scriptures that you claim to believe in.” Now we're going to go there
to Exodus 3 because you say, "Where is the resurrection there in Exodus
chapter 3?" We'll come back to that.
So once again it
says in verse 37,
“…37 But
even Moses showed in the burning bush passage that the dead are raised, when he
called the Lord ‘the God of Abraham, the God of Isaac, and the God of
Jacob.’…”
And you're probably
thinking, "How does that prove the resurrection?"
The fact that when
the Lord is called “the God of Abraham, the God of Isaac, and the God of Jacob”. How does that
prove the resurrection? We'll come back to that in a moment.
Verse 38 is
critically important. “…38 For He is not the God of the dead but of the living,…”
and
now notice what it continues saying,
“…for all live to Him.” Are you with me or not? It doesn't say
that “all live to us”. It says, “all…”, including
Abraham, Isaac, and Jacob, “all live to Him”, to God. That is critically important in what we're going to
study this evening. In other words, we say, Abraham,
Isaac, and Jacob are dead. But we're going to find that for God who lives in an eternal present, they live.
We're going to pursue that.
You say, "Well,
that's absurd. It doesn't make sense."
Well, we're going
to study it. This is a very important concept.
Dan
sekarang Yesus akan menjelaskan apa yang kita baca di Matius di mana dikatakan,
“Kamu
tidak tahu isi Kitab Suci.” Dengan kata lain, “Kamu tidak mengerti
tulisan-tulisan Musa yang kamu klaim kamu yakini sepenuhnya diilhami.” Simak
apa yang dikatakanNya di ayat 37, “37 Tetapi bahkan Musa…” tulisan-tulisan Kitab Suci yang kamu
klaim kamu yakini, “…bahkan Musa telah menunjukkan di
ayat semak yang terbakar, bahwa
orang-orang mati dibangkitkan,…” di mana kutipan
tentang semak yang terbakar? Di Keluaran pasal 3. Yesus mengatakan, “Kutipan di Keluaran pasal
3 membuktikan bahwa Musa meyakini kebangkitan orang mati. Jadi
kalian sebetulnya tidak tahu isi Kitab Suci
yang kalian klaim kalian yakini.” Sekarang kita
akan ke Keluaran 3 karena kalian berkata, “Di mana ada kebangkitan di
Keluaran pasal 3?” Nanti kita akan kembali
kemari.
Jadi
sekali lagi dikatakan di ayat 37, “37
Tetapi bahkan Musa telah menunjukkan di
ayat semak yang terbakar, bahwa
orang-orang mati dibangkitkan, ketika dia menyebut Tuhan, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub’…”
Dan tentunya kalian berpikir, “Bagaimana itu membuktikan kebangkitan?”
Yaitu, faktanya ketika Tuhan disebut “Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub”. Bagaimana itu membuktikan adanya kebangkitan? Sebentar kita akan
kembali kemari.
Ayat 38 itu sangat penting, “…38
Sebab Ia bukan Allah orang mati,
melainkan Allah orang hidup…” sekarang simak apa yang dikatakan
selanjutnya, “…sebab semua hidup
bagiNya…” apakah kalian mengikuti saya atau
tidak? Tidak dikatakan “semua hidup bagi kita”. Dikatakan, “semua…” termasuk Abraham, Ishak, dan Yakub, “…semua
hidup bagiNya…”, bagi Allah. Ini sangat penting untuk apa yang akan kita pelajari petang
ini. Dengan kata lain, kita mengatakan, Abraham, Ishak
dan Yakub sudah mati. Tetapi kita akan melihat
bahwa bagi Allah yang hidup di kekekalan masa kini, mereka
hidup. Kita akan mempelajari ini.
Kalian
berkata, “Ini aneh. Ini tidak masuk akal.”
Nah, kita
akan mempelajarinya. Ini adalah konsep yang sangat penting.
Now, notice what
Ellen White wrote about this passage. The little lady understood this. In Desire of Ages 606, Ellen White wrote, listen
carefully, “God counts the things
that are not, as though they were…” What does God do? He “…counts the things
that are not, as though they were.
He sees
the end from the beginning, and beholds the result of His work as though it
were now accomplished...” See, for us,
there's past, present, and future. But God
lives in an eternal present. He sees a total sweep of eternity as if it's
taking place before His eyes, right at that moment. Don't ask me to
explain it because only God can explain that. But for us, there's past,
present, and future. We look at time by segments. But God doesn't look at time
by segments. God looks at time as a broad
panoramic view that is transpiring at this moment before His eyes. Now,
let's continue reading this statement. “...He sees the end from the beginning,
and beholds the result of His work as though it
were now accomplished. The precious
dead, from Adam down to the last saint who dies, will hear the voice of the Son of God, and will come forth from
the grave to immortal life...” Now that's our
perspective, right? “will” future. So in other words, “...The precious
dead, from Adam down to the last saint who dies, will hear the voice of the Son of God,...” that's our
perspective in future “...and will come forth from
the grave to immortal life...” that's that's our
perspective. But now notice, “...God will be their God, and
they shall be His people. There will be...” all of this is our perspective,
future. But for God it's present.
Let me ask you, how certain is it that Jesus is going to come
again? Does God have a date for the Second Coming of Christ? Does God have a date in His calendar for the Second
Coming? Does God know when the Second Coming is going to be? Of course,
He does. He knows exactly when He's going to come again. So, let me ask you,
can we delay the Second Coming of Christ? No, no. You say, "Now, wait a
minute. Ellen White says that Jesus could have come shortly after 1844."
And she also said that “Jesus could have come shortly after
1888”, the Minneapolis General Conference.
So, how do we say that God doesn't change the date of the Second
Coming? God doesn't change the date.
God put a date in His calendar for the Second Coming. If He'd known that the
people were going to be ready shortly after 1844, He would have put that date
in His calendar. If He already knew ~ which He did because He's omniscient ~ that
the people would have been ready immediately after 1888, He would have put that
date in His calendar. But God doesn't say, "O, o, I put this date, so
I'm going to have to postpone the date." No. Because God is omniscient.
He knows everything. Are you with me or not? This is very important for
understanding Bible prophecy, we're going to find in our study. What we studied
last night is foundational for studying Bible prophecy, seeing history on the
basis of what is transpiring behind the scenes. We cannot understand prophecy
unless we understand that. That prophecy is the battle between Christ and Satan
in the invisible realm. And what we see before our eyes is the visible
manifestation of the struggle in here. And what we're studying tonight is
foundational also for understanding Bible prophecy. Let me ask you, is the
prophecy of Daniel true? Has that prophecy been fulfilled exactly the way it
was given in the days of Daniel? Did Babylon rule? Did Medo-Persia rule? Did
Greece rule? Did the Roman Empire rule? Was the Roman Empire divided into 10
kingdoms? Then did you have a Little Horn coming up among the 10? Was history
fulfilled exactly the same way that Daniel 2 says? Yes. Did God have to wait
till it happened or did He already in the broad sweep, did He already see everything happening as it was
going to happen? For us Daniel 2 was future. For God, He was seeing the
whole sweep all at once before His eyes as if it was transpiring at that very
moment. Are you following me? This broadens our view. I think of the
omniscience of God.
So she continues
saying, once again the future tense, “...The precious dead, from Adam down to the last saint who dies, will hear the voice of the Son of God,...” that's our
perspective “...and will come forth
from the grave to
immortal life. God will be their God, and
they shall be His people. There will be a close and
tender relationship between
God and the risen saints…” But now notice how she ends the statement. Now she's going to
talk about God's perspective of time. “…This condition,
which is anticipated in His purpose, He beholds as if it were already existing…” God looks at the resurrection of the dead as if it already
exists. How certain is the resurrection? You can take it to the bank. For
us it is a hope. For God it's a done deal. That's comforting. I hope to see my
relatives who died. No, no, no. For God, it's as if it has already happened. “...He beholds...” now, listen carefully. “…He beholds as if it were already existing.
The dead live unto Him...” The dead do not
live unto us because we know its future, but because God beholds everything in the present, it's already a done deal.
Amazing.
Sekarang simak
apa yang ditulis Ellen White tentang bacaan ini. Ibu kecil itu mengerti ini. Di
Desire of Ages hal. 606 Ellen
White menulis, dengarkan baik-baik, “…Allah memperhitungkan
hal-hal yang ada, bukan seperti kondisi
mereka saat itu…” apa yang dilakukan Allah?
Dia “…memperhitungkan
hal-hal yang ada, bukan seperti kondisi
mereka saat itu. Dia melihat akhirnya dari awal, dan melihat hasil dari
karyaNya seolah-olah itu digenapi sekarang ini…” Lihat, bagi kita ada waktu lampau, sekarang dan akan datang. Tetapi Allah
hidup di kekekalan masa sekarang. Dia melihat keseluruhan kekekalan seolah-olah
itu sedang terjadi di depan mataNya sekarang, pada saat itu.
Jangan suruh saya menjelaskannya karena hanya Allah yang bisa menjelaskan itu.
Tetapi bagi kita, ada waktu lampau, sekarang dan akan datang. Kita melihat
waktu tersegmentasi. Tetapi Allah tidak melihat waktu tersegmentasi. Allah
melihat waktu sebagai suatu pandangan panoramik luas yang sedang terjadi di
saat ini di depan mataNya. Nah, mari kita lanjutkan membaca
pernyataan ini, “…Dia
melihat akhirnya dari awal, dan melihat hasil dari karyaNya seolah-olah itu
digenapi sekarang ini. Orang-orang mati
yang dikasihiNya, mulai dari Adam terus hingga orang kudus terakhir yang mati,
akan mendengar suara Anak Allah dan akan keluar dari kubur kepada hidup kekal…” nah, ini perspektif kita, benar? “akan” masih di masa depan. Jadi
dengan kata lain, “…Orang-orang mati yang
dikasihiNya, mulai dari Adam terus hingga orang kudus terakhir yang mati, akan
mendengar suara Anak Allah…” ini perspektif kita di masa depan, “…dan akan
keluar dari kubur kepada hidup kekal…” ini
perspektif kita. Tetapi sekarang simak, “…Allah akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umatNya.
Akan ada…” semua ini perspektif kita,
di masa depan. Tetapi bagi Allah, ini terjadi sekarang.
Coba saya tanya, seberapa
pastikah Yesus akan datang kembali? Apakah Allah punya tanggal untuk Kedatangan
Kedua Kristus? Apakah di kalender Allah ada tanggal
untuk Kedatangan Kedua? Apakah Allah tahu kapan Kedatangan
Kedua itu akan terjadi? Tentu saja Dia tahu. Dia tahu persis
kapan Kristus akan datang lagi. Jadi coba saya tanya, bisakah kita menunda
Kedatangan Kedua Kristus? Tidak, tidak.
Kalian berkata, “Tunggu sebentar, Ellen White berkata Yesus
seharusnya bisa datang tidak lama setelah 1844.”
Ellen White juga berkata, “Yesus seharusnya bisa datang tidak lama
setelah 1888”, General Conference
Minneapolis.
Jadi bagaimana? Kita
berkata bahwa Allah tidak mengubah tanggal Kedatangan Kedua? Allah
tidak mengubah tanggalnya. Allah telah menentukan sebuah tanggal
di kalenderNya untuk Kedatangan Kedua. Andaikan Dia tahu bahwa umatNya akan
siap tidak lama setelah 1844, Dia akan menentukan tanggal itu di kalenderNya.
Andaikan Dia sudah tahu ~ yang tentu saja Dia tahu karena Dia mahatahu ~ bahwa
umatNya sudah akan siap segera setelah 1888, Dia sudah akan menunjuk tanggal
itu di kalenderNya.
Tetapi Allah tidak
berkata, “O-o, Aku sudah
menunjuk tanggal ini jadi Aku harus menunda tanggalnya.” Tidak. Karena Allah itu
mahatahu. Dia tahu segalanya. Apakah kalian mengikuti saya atau tidak? Ini
sangat penting untuk memahami nubuatan Alkitab, kita akan melihat ini di
pelajaran kita.
Apa yang kita pelajari
semalam itu adalah dasar untuk mempelajari nubuatan Alkitab, melihat sejarah
berdasarkan apa yang terjadi di belakang layar. Kita tidak bisa mengerti
nubuatan kecuali kita memahami bahwa nubuatan adalah peperangan antara Kristus
dan Setan di dunia yang tidak kasatmata. Dan apa yang kita lihat di depan mata
kita adalah manifestasi yang kasatmata dari pergumulan di sana. Dan apa yang
kita pelajari malam ini, itu menjadi dasar untuk memahami nubuatan Alkitab.
Coba saya tanya, apakah
nubuatan Daniel itu benar? Apakah nubuatan itu sudah digenapi tepat seperti
yang diberikan di zaman Daniel? Apakah Babilon pernah berkuasa? Apakah
Medo-Persia pernah berkuasa? Apakah Greeka pernah berkuasa? Apakah Kekaisaran
Roma pernah berkuasa? Apakah Kekaisaran Roma terbagi menjadi 10 kerajaan? Lalu
apakah ada sebuah Tanduk Kecil yang bangkit dari antara ke-10 kerajaan? Apakah
sejarah digenapi persis seperti yang dikatakan Daniel 2? Ya. Apakah Allah harus
menunggu hingga itu terjadi atau apakah Allah sudah melihat dalam liputan yang
luas segala yang terjadi seperti yang seharusnya akan terjadi? Untuk kita
Daniel 2 masih di masa depan. Untuk Allah, Dia sudah melihat seluruh liputan
sekaligus terjadi di depan mataNya seolah-olah itu sedang terjadi pada saat
itu. Apakah kalian mengikuti saya? Ini memperluas pandangan kita. Saya berpikir
tentang kemahatahuan Allah.
Jadi Ellen White melanjutkan berkata, sekali
lagi dalam keterangan waktu yang akan datang, “...Orang-orang
mati yang dikasihiNya, mulai dari Adam terus hingga orang kudus terakhir yang
mati, akan mendengar suara Anak Allah…” ini perspektif kita, “…dan akan keluar dari kubur kepada
hidup kekal. Allah akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umatNya.
Akan ada suatu hubungan yang intim dan indah antara Allah dengan orang-orang
kudus yang bangkit…” tetapi sekarang simak
bagaimana Ellen White mengakhiri pernyataannya. Sekarang dia akan bicara
tentang perspektif waktu Allah. “…Kondisi
ini, yang telah diantisipasi dalam tujuanNya, Dia lihat itu seolah-olah itu
sudah terjadi…” Allah memandang kebangkitan
orang mati sebagai hal yang sudah terjadi. Seberapa pastikah
kebangkitan? Itu jaminan pasti. Bagi kita itu sebuah harapan. Bagi Allah itu sudah terjadi. Ini menghibur. Saya
berharap bertemu keluarga saya yang sudah meninggal. Tidak, tidak, tidak. Bagi
Allah itu sama dengan sudah terjadi. “…Dia lihat
itu seolah-olah itu sudah terjadi. BagiNya
orang-orang yang mati, itu hidup…” Yang mati belum hidup bagi kita karena kita tahu itu masih di masa
depan, tetapi karena Allah melihat segalanya di waktu sekarang, itu sudah
terjadi. Luar biasa!
For us, time bound
creatures, that which has been and that which will be are two different things.
What has been done is past and what is yet to be done is future. However, God is not time bound like we are. What is potential and future for us is present and
actual for God. That is to say, things
exist in the mind of God before they come into actual existence. That's
why Acts 15:18 says that everything is known to God, “18 ‘Known to God from eternity are all His works.” From eternity, God
knows all of His works as if those works had already transpired. Although time
is important for God, in contrast to us, He lives in an eternal present. Because
He knows the end from the beginning, nothing takes Him by surprise. After all, He is the great I AM. He's not the great “I
was” or the great “I will be”. He is the great I AM. When it says that God is, was and is to come, it's speaking about our
perspective. But His name is I AM.
Bagi kita, makhluk-makhluk yang
terikat pada waktu, apa yang telah ada dan apa yang akan ada, itu dua hal yang
berbeda. Apa yang telah dilakukan itu sudah lampau, dan apa yang masih akan
dilakukan itu masa depan. Namun, Allah tidak terikat kepada waktu
seperti kita. Apa yang potensial dan masih di masa depan bagi kita, itu ada dan
aktual bagi Allah. Artinya, hal-hal sudah ada di pikiran Allah
sebelum mereka ada secara aktual. Itulah mengapa Kisah 15:18 mengatakan bahwa
segala diketahui oleh Allah, “18 Semua
pekerjaanNya dari kekekalan diketahui oleh Allah.” Dari
kekekalan Allah mengetahui semua pekerjaanNya seakan-akan pekerjaan-pekerjaan
itu sudah terjadi. Walaupun waktu itu penting bagi Allah, tapi berbeda dengan
kita, Allah hidup di kekekalan masa kini. Karena Dia mengetahui akhirnya dari
awal, tidak ada apa pun yang mengejutkanNya. Bukankah Dialah Sang “I AM” (Aku yang Sekarang) yang
mahabesar? Dia bukan “I was” (Aku yang
lampau) yang mahabesar, atau “I will be” (Aku yang akan datang) yang
mahabesar. Dialah Sang “I AM” (Aku yang Sekarang). Ketika dikatakan bahwa Allah yang sekarang, yang lampau, dan yang akan
datang, itu bicara tentang perspektif kita.
Tetapi namaNya ialah “I AM”
(Aku yang Sekarang)
Now, we need to go
back to Exodus 3. Let's amplify Exodus 3. Go back to Exodus chapter 3. Here
Moses is up on the mountain and he sees a bush that is burning but it's not
consuming. And so he gets close to the bush and he wants to see this strange
thing of the bush that's burning and burning and burning but it's not consumed.
Let's read Exodus 3:6. Here God is speaking to Moses. “ 6 Moreover
He said, ‘I am the
God of your father—the God of Abraham, the God of Isaac, and the God of Jacob.’…”
Now, it's very interesting here, at this point Abraham, Isaac,
and Jacob were already dead. They died long before, Abraham, Isaac, and Jacob.
But here we find Jesus saying, “…I am the God of your father…” before the time of
Moses, that is,
“…I am the God
of your father, the God of Abraham, the God of Isaac, and the God of Jacob.” At this point, these were already dead. But
notice that God doesn't say, "I was
the God of Abraham, Isaac, and Jacob while they were alive”. At the burning
bush, although they were dead, God says, "I am their God." Let's continue. “…And Moses hid his
face, for he was afraid to look upon God…. 13 Then Moses said to God, ‘Indeed, when I come to the children of
Israel and say to them, ‘The God of your fathers has sent me to you,’ and they
say to me, ‘What is His
name?’ what shall I say to them?’ 14 And
God said to Moses…” what?
“…‘I AM WHO I AM.’ And He said, ‘Thus you shall say to the children of
Israel, ‘I AM has sent me to you.’…”
What name does God give Himself? “I AM”. Why? Because He lives
in an eternal what? In an eternal present.
Sekarang
kita harus kembali ke Keluaran 3. Mari kita perjelas Keluaran 3. Kembali ke
Keluaran pasal 3. Di sini Musa ada di atas gunung dan dia melihat sebuah semak
yang sedang terbakar tapi tidak hangus. Maka dia dekati semak itu dan dia mau
melihat barang yang ajaib ini, semak yang terbakar dan terbakar dan terbakar,
tetapi tidak hangus. Mari kita baca Keluaran 3:6. Di sini Allah berbicara
kepada Musa. “6 Selain itu Ia berkata,
‘Aku (sekarang ini) adalah Allah leluhurmu ~ Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah
Yakub.’…” nah, yang sangat menarik di sini, pada waktu itu Abraham, Ishak, Yakub
sudah lama mati. Mereka sudah mati lama sebelumnya, Abraham, Ishak dan Yakub.
Tetapi di sini kita melihat Yesus berkata, “…‘Aku (sekarang ini) adalah Allah leluhurmu ~ Allah
Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.’…”
yaitu di zaman sebelum Musa, “…‘Aku (sekarang ini) adalah
Allah leluhurmu ~ Allah Abraham, Allah Ishak
dan Allah Yakub.’…” pada waktu ini orang-orang itu sudah mati, tapi simak Allah tidak
mengatakan, “Aku (dulu) adalah Allah Abraham, Ishak, dan
Yakub, ketika mereka masih hidup.” Di semak yang terbakar, walaupun
mereka sudah mati, Allah berkata, “Aku (sekarang
ini) Allah mereka”. Mari kita lanjut, “…Dan Musa menyembunyikan mukanya, sebab ia takut
memandang Allah… 13 Lalu
Musa berkata kepada Allah, ‘Sesungguhnya
apabila aku datang kepada orang Israel dan
berkata kepada mereka, ‘Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu’, dan
mereka berkata kepadaku, ‘Siapa namaNya?’ Apa yang harus aku katakan kepada mereka?’ 14 Dan Allah berkata kepada Musa,…” apa? “…‘AKU
ADALAH SIAPA AKU SEKARANG’,
dan Allah berkata, ‘Demikianlah harus
kamu katakan kepada orang Israel, Sang AKU SEKARANG itulah yang telah mengutus aku kepadamu.’…” Nama apa Allah menyebut Dirinya sendiri? “AKU YANG SEKARANG”. Mengapa? Karena Dia hidup di kekekalan apa?
Di kekekalan masa kini.
Now, Ellen White
understood this. I love the way that Ellen White explains this. In Manuscript Releases which are several volumes
of literature from Ellen White which were released many years ago, there's 20
volumes, but in Volume 14 pages 22 and 23 we
find these words. Ellen White is going to explain what “I AM” means.“I AM means an eternal
Presence;...” What does “I AM” mean? An eternal
Presence. An eternal Presence. Now listen carefully
“...the past, present,
and future are alike to God…” What is alike to God? Past,
present, and future are alike to God. Are they alike to us? No. Because
we live by segments: past, present, and
future. But Ellen White is saying here, “I AM means an eternal
Presence; the past, present, and future are alike to God . He
sees the most remote events of past history and the far distant
future with as clear a vision as we do those things that are transpiring daily.” Amazing statement from Ellen White.
Nah, Ellen White
memahami ini. Saya suka cara Ellen White menjelaskan ini. Ini ada di Manuscript Releases ~ yaitu
beberapa jilid literatur dari Ellen White yang diterbitkan banyak tahun yang
lampau, ada 20 jilid. Tetapi di Vol.14 hal.
22-23 kita temukan kata-kata ini. Ellen White akan menjelaskan apa arti “I AM”.
“…AKU YANG SEKARANG artinya kehadiran yang kekal;…” apa artinya “I AM”? Suatu Kehadiran yang kekal. Sekarang dengarkan
baik-baik, “…masa lampau, masa
sekarang, dan masa depan semuanya sama bagi Allah…” apa yang sama bagi Allah? Masa
lampau, sekarang dan yang akan datang bagi Allah itu sama.
Apakah bagi kita itu sama? Tidak, karena kita hidup dalam segmen: lampau,
sekarang, dan akan datang. Tetapi Ellen White di sini berkata,
“…AKU YANG SEKARANG itu artinya kehadiran yang kekal; masa
lampau, masa sekarang, dan masa depan semuanya sama bagi Allah. Allah melihat
peristiwa-peristwa sejarah masa lampau yang paling lama dan masa depan yang
paling jauh dengan pandangan yang sama jelasnya sebagaimana kita melihat
hal-hal yang sedang terjadi setiap hari.” Pernyataan yang mengagumkan dari Ellen White.
You know, we talk
about history and we say, you know, we reminisce about history and so on. God
can see all of the past, all the present, and all the future in a panoramic
view as if it's happening right now, because He's the I AM. He lives in eternal
present. So Abraham and Isaac and Jacob, for
Moses, they were already dead, but for God they live. That's why God
said, "I am the God of Abraham, Isaac, and Jacob" even though they
were dead. This is the argument that Jesus is using with the Sadducees who
denied the resurrection of the dead. From our perspective, Abraham, Isaac, and
Jacob were dead. But not from God's perspective because Jesus said “all live to Him”, not to us because
we know that the resurrection is future, but all live to Him.
Kalian tahu, kita bicara tentang
sejarah dan kita berkata kita mengingat kembali sejarah dan seterusnya. Allah
bisa melihat semua yang lampau, semua yang sekarang dan semua yang akan datang
dalam sebuah pandangan panoramik seolah-olah itu sedang terjadi sekarang,
karena Dialah Sang AKU SEKARANG. Dia hidup di kekekalan masa kini. Jadi Abraham,
dan Ishak, dan Yakub, bagi Musa mereka sudah mati, tetapi bagi Allah mereka
hidup. Itulah mengapa Allah berkata, “…‘Aku (sekarang ini) adalah Allah
Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.’…” walaupun mereka sudah
mati. Inilah argumentasi yang dipakai Yesus dengan orang-orang Saduki yang menolak
kebangkitan orang mati. Dari perspektif kita, Abraham, Ishak, dan Yakub sudah
mati. Tetapi tidak dari perspektif Allah, karena Yesus berkata, “…sebab semua hidup bagiNya…” tidak bagi kita karena
kita tahu bahwa kebangkitan masih di masa depan, tetapi bagi Allah semua mereka
hidup.
Now the question is,
do we find this concept in other places of the Bible? Go with me to Genesis
17:4. Here God is going to promise Abram that he's going to be the father of
many nations. But when we read verse 5,
there's going to be a small variation which is very significant. Here God says
to Abram, “ 4 As for Me, behold, My
covenant is with you,…” and now listen carefully, “…and you shall
be a father of many nations…” Whose perspective
of time is that? That's not God's perspective. That's our perspective, because He's
saying to Abram, “…you shall be a father
of many nations…” But for God, it was already a done deal. Let's read verse 5. “…5 No
longer…” the very next verse, “…5 No
longer shall your name be called Abram, but your name shall
be Abraham; for I have made you a father of many nations.” Are you catching
the difference? “you shall be”. But then God
says, "I have made
you." God did not have to wait until it happened because it was
absolutely certain, because in the mind of God, He doesn't change His mind. Are
you following me or not?
Now, you might be
saying, "Oh, Pastor Bohr, you're twisting the text and you know, you're
misunderstanding what's saying here. You're changing the verbs."
No, the apostle
Paul quotes these verses and he interprets them in this way. Go with me to
Romans 4:17. The apostle Paul is going to pick up on this. So, this is not just
a matter of interpretation. “You shall be” or ‘I have made you a father of many nations” The apostle Paul caught this. He
understood this. It says in Romans 4:17, “17 as it is written, ‘I have made you a father of many nations’…” Where is Paul quoting? Genesis 17:5, right? “…He is
our father in the presence of God whom he
believed——the God
who makes the dead alive…” Now, when it says that He makes the dead alive, it's because in
Hebrews 11:12, it says that Abraham's body was as good as dead when God
promised him that He was going to give him Isaac, because he was beyond making
his wife pregnant. So this is saying, “…whom he believed—the God
who makes the dead alive…” which He did with Abraham so that Abraham could bring forth
seed, and now listen carefully “…and summons the things that do not yet exist as though they
already do…” (NET)
Is my
interpretation of Genesis 17 correct? If you don't believe it, argue with Paul.
Sekarang
pertanyaannya adalah, apakah kita menemukan konsep ini di tempat lain di
Alkitab? Marilah bersama saya ke Kejadian 17:4, di sini Allah akan berjanji
kepada Abram bahwa dia akan menjadi bapak banyak bangsa. Tetapi ketika kita
baca ayat 5, ada sebuah variasi kecil yang sangat signifikan. Di sini Allah
berkata kepada Abram, “4 Sedangkan untuk Aku, lihatlah perjanjian-Ku itu dengan engkau…” dan sekarang dengarkan baik-baik, “…dan
engkau akan menjadi bapak banyak bangsa…” Perspektif waktu siapa itu? Itu bukan perspektif Allah, itu perspektif
kita, karena Dia berkata kepada Abram, “…engkau akan menjadi bapak banyak bangsa…” tetapi bagi
Allah ini sudah terjadi. Mari kita baca ayat 5, “…5
Tidak lagi…”
ayat yang selanjutnya, “…5 Tidak
lagi namamu akan dipanggil Abram, tetapi namamu akan menjadi Abraham, karena Aku telah
menjadikan engkau bapak banyak bangsa.’…” apakah kalian menangkap bedanya? “engkau
akan menjadi” tetapi
kemudian Allah berkata, “Aku telah
menjadikan engkau”. Allah tidak usah menunggu hingga itu terjadi
karena itu sudah mutlak pasti, karena di pikiran Allah, Dia tidak mengubah
pikiranNya. Apakah kalian mengikuti saya atau tidak?
Nah,
kalian mungkin berkata, “Oh, Pastor Bohr, Anda memelintir ayat dan
Anda salah memahami apa yang dikatakan di sini. Anda mengganti kata-kata
kerjanya.”
Tidak.
Rasul Paulus mengutip ayat-ayat ini dan dia menginterpretasikan mereka seperti
ini. Mari bersama saya ke Roma 4:17. Rasul Paulus akan bicara tentang ini. Jadi
ini bukan semata-mata soal interpretasi dari “engkau
akan menjadi” atau “Aku telah
menjadikan engkau bapak banyak bangsa”. Rasul
Paulus menangkap ini. Dia memahami ini. Dikatakan di Roma 4:17, “17 (seperti ada tertulis: ‘Aku
telah menjadikan engkau bapak banyak
bangsa’) …” apa yang dikutip Paulus? Kejadian 17:5, bukan? “… – dia adalah bapak kita di hadapan Allah yang dipercayainya ~ Allah yang membuat yang mati hidup…” nah, ketika
dikatakan bahwa Dia membuat yang mati hidup, itu karena di Ibrani 11:12,
dikatakan bahwa tubuh Abraham sudah sama seperti sudah mati ketika Allah
berjanji kepadanya Dia akan memberikan Ishak kepadanya, karena Abraham sudah
tidak punya kemampuan untuk menghamili istrinya. Jadi ini berkata, “…Allah yang dipercayainya
~ Allah yang membuat yang mati hidup…” yang mana Allah
lakukan terhadap Abraham supaya Abraham bisa menghasilkan keturunan. Dan
sekarang dengarkan baik-baik, “…dan memanggil
hal-hal yang belum ada seolah-olah mereka sudah ada.”(NET). Apakah
interpretasi saya tentang Kejadian 17 benar? Jika kalian tidak percaya,
berdebatlah dengan Paulus.
Now, let me read
you from another couple translations that make this verse even clearer. The New English Translation, “17 (as
it is written, ‘I have made you the
father of many nations’). He is our father in the presence of
God whom he believed—the God who makes the dead alive and summons the
things that do not yet exist as though they already do.”
Sekarang
saya akan membacakan dari terjemahan lain yang membuat ayat ini lebih jelas.
Dari
The New English Translation,
“17 (seperti
ada tertulis: ‘Aku telah menjadikan engkau bapak banyak bangsa’) – dia adalah bapak kita di hadapan Allah yang dipercayainya ~ Allah yang membuat yang mati hidup dan memanggil hal-hal yang belum ada seolah-olah mereka
sudah ada. (NET)
Let me read you the
Weymouth Translation of this verse. “17 … Thus in the sight of God…” in whose sight? Ours
or God's? God's. “…Thus in the sight of
God…” all live to Him.
Remember, “all live to Him”. “… Thus in the sight of
God in whom he believed, who gives life to the dead and makes reference to
things that do not exist, as though they did, Abraham is the forefather of all
of us. As it is written, ‘I have appointed you to be the forefather of many
nations.’"
Saya akan membacakan The Weymouth Translation ayat
ini.“17 … Demikianlah di pemandangan
Allah…” di pemandangan
siapa? Kita atau Allah? Allah. “…Demikianlah di
pemandangan Allah kepada siapa dia percaya, Yang memberi hidup kepada yang
mati, dan menyebut hal-hal yang tidak ada seolah-olah mereka sudah ada, Abraham
adalah bapak leluhur kita semua. Sebagimana tertulis, ‘Aku
telah menetapkan engkau menjadi bapak pendiri banyak bangsa’…” (Weymouth)
The great
Presbyterian Bible commentator, Albert Barnes, he's from a couple of centuries
ago. Great Bible commentator, even though he's a Presbyterian. He has some
doctrinal matters kind of goofed up, but he has a lot of good material. And
notice what he wrote concerning Romans 4:17. That is, “Those
things which He foretells,...” which God
foretells “...and
promises are so certain that He may speak of them as already in existence...” Are you
understanding that? “Those things which He foretells and promises…” which are future
for us, “…are
so certain that He may speak of them as already in existence”.
Let me ask you, how certain is it that Revelation 13 is going to
be fulfilled exactly the way it was written 2,000 years ago? Let me ask you,
did the Roman Empire try to kill the male Child in chapter 12 of Revelation? Yes.
He used Herod to try and kill the Child. Was that fulfilled exactly the way the
prophecy said? Did the church have to flee to the wilderness for exactly 1260
years, persecuted by the Papacy? Did the Papacy receive a deadly wound? This is
1600 plus years in the future. Does the prophecy say the deadly wound is going
to be healed? Is it in the process of being healed? How certain can we be that
the deadly wound is going to be healed? For us, it is going to be healed. But
for God, it's a done deal. There's no possibility that it can't happen. Because
God sees the broad sweep and He reveals the broad sweep. And He reveals to us
the segments that are future for us. But for Him, it's a done deal. Is this an
important concept for studying Bible prophecy? Yes, it's going to be fulfilled
the way that it's written. Is there going to be a Time of Trouble for God's
people? Are they going to be persecuted? Is there going to be a Sunday law? For
God, it's already present because He lives in an eternal presence. He is the I
AM.
He continues
writing, “...Thus in relation to Abraham, God ~
instead of simply promising that He would make him the father of many nations ~
speaks of it as already done. ‘I have made thee’ ~~ in His own mind or purpose,
God had so constituted him, and it was so certain that it would take place that
He might speak of it as already done.” I love that
statement by Albert Barnes. Right on target.
Komentator
Alkitab yang terkenal dari denominasi Presbyterian, Albert Barnes, yang hidup
dua ratus tahun yang lalu, seorang komentator Alkitab yang hebat walaupun dia
seorang Presbyterian, dia punya beberapa masalah doktrinal yang salah
dipahaminya, tetapi dia punya banyak materi yang bagus. Dan simak apa yang
ditulisnya tentang Roma 4:17, yaitu, “…Hal-hal yang
diberitahukanNya sebelum terjadinya…” yang
diberitahukan Allah sebelumnya, “…dan yang
dijanjikan itu sedemikian pasti sehingga Dia boleh menceritakan tentang mereka
sebagai sudah terjadi…” apakah kalian mengerti
ini? “…Hal-hal yang diberitahukanNya sebelum terjadinya dan yang
dijanjikan…” yang bagi kita masih di masa depan, “…itu sedemikian pasti
sehingga Dia boleh mengatakan mereka sebagai sudah terjadi.”
Coba saya tanya, seberapa pastikah Wahyu 13 akan
digenapi persis seperti nyang tertulis 2’000 tahun yang lalu? Coba saya tanya,
apakah Kekaisaran Roma berusaha untuk membunuh Anak laki-laki di Wahyu pasal
12? Ya. Dia menggunakan Herodes untuk berusaha membunuh Anak itu. Apakah itu
digenapi persis seperti yang dikatakan nubuatan? Apakah gereja harus lari ke
padang gurun untuk persis 1260 tahun, dipersekusi oleh Kepausan? Apakah
Kepausan menerima luka yang mematikan? Ini terjadi lebih dari 1600 tahun
kemudian. Apakah Kepausan mengatakan bahwa luka yang mematikan itu akan
disembuhkan? Apakah sekarang sedang dalam proses disembuhkan? Seberapa pastikah
kita bahwa luka yang mematikan ini akan disembuhkan? Bagi kita, itu akan
disembuhkan. Tetapi bagi Allah, itu sudah terjadi. Tidak ada kemungkinan bahwa
itu tidak akan terjadi. Karena Allah melihat seluruh pandangan yang luas dan
Dia menyatakan pandangan yang luas itu. Dan Allah menyatakan kepada kita
segmen-segmen yang masih di masa depan bagi kita. Tetapi bagi Allah, itu sudah
terjadi. Apakah ini konsep yang penting dalam mempelajari nubuatan Alkitab? Ya,
itu akan digenapi persis seperti yang ditulis. Apakah bakal ada suatu Masa
Kesukaran bagi umat Allah? Apakah mereka akan dipersekusi? Apakah akan ada
Undang-undang Hari Minggu? Bagi Allah itu sudah ada, karena Dia hidup di
kekekalan masa kini. Dialah Sang AKU SEKARANG.
Albert Barnes melanjutkan menulis, “...Dengan
demikian, sehubungan dengan Abraham, Allah ~ bukan sekedar berjanji akan
menjadikan dia bapak banyak bangsa ~ tetapi berbicara seolah-olah itu sudah
terjadi. ‘Aku telah menjadikan engkau’ ~ dalam pikiranNya sendiri atau
tujuanNya, Allah sudah menetapkan Abraham demikian, dan itu begitu pasti akan
terjadi sehingga Dia boleh membicarakannya seakan-akan itu sudah terjadi. …” Saya suka pernyataan Albert Barnes ini. Tepat kena
sasaran.
Now do we have
further evidence in the Bible of this concept that what is future for us is present
for God, because God lives in an eternal present? Let's go to Revelation 13:8. When
was Jesus slain? When was He crucified? He was crucified on a Friday, the 14th
day of Nisan, of the month of Nisan, at 3:00 in the afternoon, right? That's
when Jesus was crucified, when the Lamb was slain, right? Well, but now we have
a problem. Let's read Revelation 13:8. But the problem is resolved when we
understand what we're studying tonight. It says in Revelation 13:8, “8 All…” speaking about
those who are going to worship the beast, “8 All
who dwell on the earth will worship him,…” that is will
worship the Beast “…whose names have not
been written in the Book of Life of the Lamb slain from the foundation of the
world.” When was Jesus
slain? I thought it was in the year 31, hehehe. Are you with me or not? When
was Jesus slain? It says here “from the foundation of the world”. How certain was
it that Jesus was going to die at this precise moment that God knew He was
going to die? How certain was it? Was there any chance that it would not be
fulfilled? No. Because for God, it was
already done. That's why it says that He was “slain from the
foundation of the world”. But for us, He was slain in the year 31 in the past. Are you
following me or not?
Nah,
apakah kita punya bukti lebih jauh di Alkitab tentang konsep ini, bahwa apa
yang masih di masa depan bagi kita itu adalah sekarang bagi Allah, karena Allah
hidup di kekekalan masa kini? Mari ke Wahyu 13:8. Kapan Yesus dibunuh? Kapan
Dia disalibkan? Dia mati disalibkan pada suatu hari Jumat, hari ke-14 Nisan,
bulan Nisan, pada pukul 3:00 sore, benar? Itulah ketika Yesus mati disalib,
ketika Domba Allah dibunuh, benar? Nah, tetapi sekarang kita punya problem.
Mari kita baca Wahyu 13:8. Tapi problem itu terselesaikan ketika kita memahami
apa yang kita pelajari malam ini. Dikatakan di Wahyu 13:8, “8 Dan semua…” bicara tentang
mereka yang akan menyembah Binatang itu, “…8 Dan semua yang diam di atas
bumi akan menyembahnya,…” maksudnya akan menyembah Binatang itu, “…yang namanya tidak tertulis di dalam kitab kehidupan Sang Domba, yang telah disembelih dari fondasi dunia…” Kapan Yesus mati dibunuh? Saya sangka itu di tahun 31, hehehe. Apakah
kalian mengikuti saya atau tidak? Kapan Yesus dibunuh? Dikatakan di sini “…dari fondasi dunia…” Seberapa pastikah Yesus akan mati
persis di saat yang Allah tahu Dia akan mati? Seberapa pastinya itu? Apakah ada
kemungkinan bahwa itu tidak akan
digenapi? Tidak. Karena bagi Allah, itu sudah terjadi.
Itulah mengapa dikatakan bahwa Yesus itu “telah disembelih dari
fondasi dunia” tetapi
bagi kita, Dia dibunuh di tahun 31 yang sudah lewat. Apakah kalian mengikuti
saya atau tidak?
That's why Ellen
White says,
"The covenant
of grace is not a new truth, for it existed in the mind of God from
all eternity. This is why it is called the everlasting covenant.“ What a marvelous concept.
Itulah
mengapa Ellen White berkata,
“…Perjanjian rahmat (kasih karunia) itu bukan kebenaran yang baru,
karena itu sudah ada dalam pikiran Allah sejak kekekalan. Inilah mengapa itu
disebut perjanjian kekal.” (The Faith I Live By hal. 77).
Betapa indahnya konsep ini.
By the way, both
Peter and Paul wrote verses that give us both perspectives. God's perspective
of when Jesus died and our perspective of when Jesus died. Go with me to 1 Peter
1:20. Here we have our perspective and we have God's perspective. It says there
in 1 Peter 1:20, “ 20 He…” that is Jesus “…indeed was
foreordained…” when?
“…before the foundation of the world…” whose perspective
is that? He was foreordained to die when? From the foundation of the world.
Whose perspective is that? That's God's perspective, “…but
was manifest in these last times for you…” Whose perspective
of time is that? Ours. “…was manifest in these last times…” foreordained from
eternity. So you have God's perspective and you have our perspective.
Nah,
baik Petrus maupun Paulus menulis ayat-ayat yang memberi kita kedua perspektif
itu. Perspektif Allah tentang kapan Yesus mati, dan perspektif kita kapan Yesus
mati. Mari pergi bersama ssaya ke 1 Petrus 1:20. Di sini ada perspektif kita dan perspektif
Allah. Dikatakan di 1 Petrus 1:20, “20 Dia…” yaitu Yesus, “…sungguh-sungguh sudah
ditentukan sebelumnya,…” kapan? “…sebelum dunia dijadikan,…” perspektif siapa ini? Dia sudah
ditentukan sebelumnya untuk mati, kapan? Sejak sebelum dunia dijadikan. Ini
perspektif Allah, “…namun dinyatakan pada akhir
masa ini untuk kamu…” perspektif
waktu siapa ini? Kita. “…dinyatakan pada akhir masa
ini” dan “ditentukan dari kekekalan”. Jadi ada perspektif
Allah dan ada perspektif kita.
Paul agreed. Go
with me to Titus 1:2 and 3. It says there, “ 2 in
hope of eternal life which God, who cannot lie, promised before time
began,…” whose perspective is that? God's perspective. He promised that
Jesus would come and live and die when? Before time began. But now notice our
perspective, “…3 but has in due time manifested His word through
preaching,…” in due time He manifested it to us. But from His perspective it
was in His mind before time began. Two different perspectives.
Paulus
sepakat. Mari bersama saya ke Titus 1:2-3, dikatakan di sana, “2 Dalam pengharapan
akan hidup kekal yang oleh Allah yang tidak bisa
berdusta, dijanjikan sebelum ada perhitungan waktu…” perspektif siapa itu? Perspektif Allah. Dia menjanjikan bahwa Yesus akan
datang dan hidup dan mati kapan? Sebelum ada perhitungan waktu. Tetapi sekarang
simak perspektif kita, “…3 tetapi yang ketika
waktunya tiba, telah menyatakan Firman-Nya melalui pemberitaan Injil…” ketika tiba
waktunya Dia menyatakannya kepada kita. Tetapi dari perspektifNya, itu ada di
pikiranNya sebelum ada perhitungan waktu. Dua perspektif yang berbeda.
Now let me ask you
this. When is our name written in the Book of Life? Take another example. When
is our name written in the Book of Life? When we receive Jesus, right? But now
we have a problem. See, this helps us solve a whole bunch of problems in the
Bible. Let's read Revelation 17:8. Let me ask you, how long or since when have
the names of those who at the end were not written? “ 8 The
Beast that you saw was, and is not, and will ascend out of the bottomless
pit and go to perdition. And those who dwell on the
earth will marvel, whose names are not written in the Book of Life
from…” when? So since when have the names
of the lost not been written in the Book of Life? From the foundation of the
world. So it's not when they
actually worshiped the Beast. Their names were not written in the Book
of Life from the foundation of the world. And so you might be thinking, they
were predestined to be lost? This is going to help us understand
predestination. We'll come to that in a few moments. Are you learning anything
tonight? Vital for interpreting Bible prophecy. So it says, their names are not
written, actually a better translation it's the perfect tense, “… whose names have
not been written in the Book of Life from the foundation of the world, when they see the
Beast that was, and is not, and yet is”.
Nah,
coba saya tanya. Kapan nama kita ditulis di Kitab Kehidupan? Kita lihat contoh
yang lain. Kapan nama kita ditulis di Kitab Kehidupan? Ketika kita menerima
Yesus, benar? Tetapi sekarang ada masalah. Lihat, ini membantu kita menemukan
jawaban dari banyak masalah di Alkitab. Mari kita baca Wahyu 17:8. Coba saya
tanya, sudah berapa lama, atau sejak kapan nama-nama mereka yang pada akhirnya
tidak ditulis? “8
Adapun Binatang yang telah kaulihat itu, pernah ada, namun sekarang tidak ada, dan ia akan
muncul dari jurang maut, dan menuju
kepada kebinasaan. Dan mereka yang diam di bumi akan
heran, yang namanya tidak tertulis di
dalam Kitab
Kehidupan,
dari…” kapan? Jadi
sejak kapan nama-nama mereka yang tidak selamat tidak tertulis di
Kitab Kehidupan? Dari fondasi dunia. Jadi bukan
ketika mereka benar-benar menyembah Binatang itu. Nama mereka
sudah tidak tertulis di Kitab Kehidupan dari fondasi dunia. Maka kalian mungkin
berpikir, apa mereka ditakdirkan untuk tidak selamat? Ini akan membantu kita
memahami pradestinasi. Sebentar kita akan kembali ke sana. Apakah malam ini
kalian telah belajar sesuatu? Vital untuk menginterpretasi nubuatan Alkitab. Maka
dikatakan bahwa nama mereka tidak
tertulis, terjemahan yang lebih bagus adalah dalam perfect
tense, “…yang namanya
sudah tidak pernah tertulis di dalam Kitab Kehidupan, dari fondasi
dunia, apabila mereka melihat Binatang yang pernah ada, dan
tidak ada, namun [akan] ada.”
But now we have a
problem. Ellen White tells us that the names of those who are saved ~ by the way, if the names of the wicked have
not been written in the Book of Life from the foundation of the world, since
when the names of God's people been written
in the Book of Life? Before the foundation of the world, right? What's
true of the wicked is true of the righteous. Did God already know who was going to be saved before the world existed?
Yeah, because God is omniscient. Did God already know everyone who was going to
be lost? Let me rephrase that. Did God
already know everyone who was going to choose to be lost? It was their
choice, but God knew what their choice would be. Wow!
Tapi sekarang ada masalah. Ellen
White memberitahu kita bahwa nama-nama mereka yang selamat ~ nah, jika
nama-nama mereka yang jahat sudah tidak pernah diitulis di Kitab Kehidupan dari
fondasi dunia, sejak kapan nama-nama umat Allah tertulis di
Kitab Kehidupan? Sebelum fondasi dunia, benar? Apa yang berlaku
bagi yang jahat, berlaku juga bagi yang benar. Apakah Allah sudah tahu
siapa-siapa yang akan selamat sebelum ada dunia? Iya, karena
Allah itu mahatahu. Apakah Allah sudah tahu semua orang yang akan tidak selamat?
Saya akan memperbaiki kalimat ini. Apakah Allah sudah tahu siapa-siapa
yang akan memilih untuk tidak selamat? Itu adalah pilihan
mereka, tetapi Allah sudah tahu apa pilihan mereka. Wow!
Now, Ellen White
wrote that our name is written in the Book of Life when we're baptized. In the
devotional book, God's Amazing Grace, page 143,
she wrote, “The Father, the Son, and the Holy Ghost, powers infinite and omniscient, receive those who truly
enter into covenant relation
with God. They...” the Father, Son,
and Holy Spirit “...are present at every baptism to receive the candidates who have renounced the world and
have received Christ into the soul temple. These candidates have entered into the family of God, and their names
are inscribed in the Lamb’s Book of Life.” So when are the names written in the Book of Life? They were
written before the foundation of the world in the Book of Life.
Nah, Ellen White
menulis bahwa nama kita ditulis di Kitab Kehidupan ketika kita dibaptis. Di
buku devosi God’s Amazing
Grace hal. 143, dia menulis, “…Bapa,
Anak, dan Roh Kudus, kekuasaan yang tidak terbatas dan mahatahu, menerima
mereka yang benar-benar masuk dalam hubungan perjanjian dengan Allah. Mereka…” Bapa, Anak, dan Roh Kudus,
“…hadir dalam setiap baptisan untuk menerima para calon yang telah
menolak dunia dan telah menerima Kristus ke dalam bait suci hati. Para calon
ini telah masuk ke dalam keluarga Allah,
dan nama mereka tertulis dalam Kitab Kehidupan Sang Domba. …” Jadi kapan nama-nama itu ditulis di Kitab
Kehidupan? Mereka sudah ditulis di Kitab Kehidupan sebelum fondasi dunia.
Throughout
eternity, God foreknew who would choose to accept the atonement and who would
not. In other words, from eternity, God knew
the choices that people would make, but He did not make the choices for them.
He predestined those whom He knew were going
to make the right choice. God didn't say from eternity past like, “The
Presbyterians believe.” God didn't say, "By divine decree, I choose
one group to be saved and the other group to be lost. And don't complain.”
No, it's not the way it works. God is not an arbitrary God. God knew from eternity who would choose to be
saved. And therefore, for God, they were already written in the Book of
Life. But for us, they're written at the moment which God saw from eternity in
the Book of Life. Two different perspectives.
Sepanjang
kekekalan Allah sudah lebih dulu tahu siapa-siapa yang akan menerima pendamaian
dan siapa-siapa yang tidak. Dengan kata lain, dari kekekalan, Allah sudah tahu
pilihan-pilihan yang akan dibuat manusia, tetapi bukan Dia yang membuat pilihan
tersebut untuk mereka. Dia menggolongkan mereka yang
Dia tahu akan membuat pilihan yang benar. Allah tidak mengatakan
dari kekekalan lampau misalnya, “Kelompok Presbyterian percaya”. Allah
tidak mengatakan, “Berdasarkan dekrit Ilahi, Aku memilih satu kelompok
untuk diselamatkan, dan kelompok yang lain tidak selamat. Dan jangan protes.” Tidak,
bukan begitu cara kerjanya. Allah bukan Allah yang semena-mena. Allah
tahu dari kekekalan siapa-siapa yang akan memilih untuk diselamatkan.
Dan oleh karenanya, bagi Allah mereka sudah ditulis di Kitab Kehidupan. Tetapi
bagi kita, nama-nama itu ditulis di Kitab Kehidupan pada saat yang dilihat
Allah dari kekekalan. Dua perspektif yang berbeda.
There's a difference between predestination and predetermination. God predestines,
but He does not predetermine. God ~ for those who believe in predestination in
the wrong sense of the word ~ chose who is going to be saved and who's going to
be lost. However, the biblical view is that God
predestined the elect to salvation because He knew the choice that they
would make. God predestined them on the
basis of their choice, not on the basis of His arbitrary choice.
Ada
perbedaan antara pradestinasi (pradestinasi = tujuan
yang sudah diketahui sebelumnya) dan pradeterminasi (pradeterminasi
= pilihan yang sudah ditentukan sebelumnya). Allah membuat pradestinasi,
tetapi Dia tidak membuat pradeterminasi. Bagi mereka yang memahamii
pradestinasi dalam pengertian yang salah dari kata tersebut, menurut mereka Allah
yang menentukan (secara sepihak) siapa-siapa yang akan diselamatkan dan
siapa-siapa yang akan tidak selamat. Namun pandangan yang alkitabiah ialah,
Allah mempradestinasi umat pilihan (= memisahkan menurut tujuan
yang akan mereka pilih, yang sudah diketahui Allah karena kemahatahuanNya) kepada
keselamatan karena Dia sudah tahu sebelumnya pilihan apa yang
akan mereka buat. Allah mempradestinasi mereka atas dasar pilihan
mereka, bukan atas dasar pilihan sesuka hati Allah.
Now we need to
examine two very important Greek words. I don't like to go into the original
Greek but in this case we have to examine two Greek words. The first is the
word ~ and we have it in English: πρόγνωσις [prognōsis]. Have you ever
heard of the word “prognosis”? Well that's a word in Greek. It's used two times
in the New Testament. What does the word mean? It means knowing something in advance. That's what “prognosis”
means in the Greek. It means knowing something before it happens, knowing something in advance. Another
definition that's given in the English dictionary is “a forecast of the likely outcome of a situation.” With God, I
would eliminate the word “likely”. With God, it would be “a forecast of the
outcome of a situation”, not the “likely outcome of a situation”.
Sekarang
kita perlu menyimak dua kata Greeka yang penting. Saya tidak suka ke bahasa
Greeka aslinya, tetapi dalam hal ini kita perlu menyimak dua kata Greka. Yang
pertama adalah kata ~ dan kita mengenal kata itu dalam bahasa Inggris: πρόγνωσις [prognōsis]. Pernahkah kalian
dengar kata “prognosis”? Nah, itu kata dalam bahasa Greeka. Kata ini dipakai
dua kali di Perjanjian Baru. Apa arti kata ini? Artinya mengetahui
sesuatu di muka. Itulah arti “prognosis” dalam bahasa Greeka.
Itu berarti mengetahui sesuatu sebelum itu terjadi,
mengetahui sesuatu sebelumnya. Definisi yang lain yang diberikan kamus bahasa
Inggris ialah, “sebuah
ramalan tentang apa yang mungkin dihasilkan oleh suatu situasi.”
Bila berkaitan dengan Allah, saya akan menghapus kata “mungkin”,
untuk Allah itu adalah “sebuah ramalan tentang apa yang dihasilkan oleh
suatu situasi”
Let's examine the
two references to the word “prognosis”: “to know beforehand”. 1 Peter 1:1-2
very important verses. It says, “1 Peter, an apostle of Jesus Christ, to
the pilgrims of the Dispersion in Pontus, Galatia, Cappadocia, Asia,
and Bithynia,…” Now listen carefully to what it says in verse 2, “…2 elect…” he's talking about
these Christians in these places “…2 elect according to the…” what? “…to the
foreknowledge of God…” Why were they elected?
Because of God's knowing the choice that they would make. Are you
following me or not? They were elected according to the foreknowledge of God
that they would choose salvation. So it says, “…2 elect according to the πρόγνωσις [prognōsis]…” By the way, the word “foreknowledge” there is the the
word πρόγνωσις [prognōsis] of God the Father, in
sanctification of the Spirit for obedience, and sprinkling of the
blood of Jesus Christ: Grace to you and peace be multiplied.” “elect according to
the prognosis of God”, the foreknowledge of God because God already knew what their
choice would be.
Mari kita simak kedua rujukan kata
“prognosis”: “mengetahui sebelumnya”. 1 Petrus 1:1-2, ayat-ayat yang sangat
penting. Dikatakan, “1 Dari Petrus,
seorang rasul Yesus Kristus, kepada muzafir (pengikut Kristus) yang tersebar di Pontus,
Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia,…”
sekarang dengarkan baik-baik apa yang dikatakan di
ayat 2, “…2 yang dipilih…” dia bicara
tentang orang-orang Kristen di tempat-tempat itu, “…2 yang dipilih sesuai dengan…” apa?
“…dengan pengetahuan Allah Bapa akan hal-hal yang belum
terjadi,…” mengapa mereka dipilih? Karena pengetahuan Allah tentang pilihan
yang akan mereka buat. Apakah kalian mengikuti saya atau tidak?
Mereka dipilih menurut kemahatahuan Allah bahwa mereka akan memilih
keselamatan. Maka dikatakan, “…2 yang dipilih sesuai dengan πρόγνωσις [prognōsis]…” nah, kata “pengetahuan Allah Bapa akan hal-hal yang belum terjadi” di sana adalah kata πρόγνωσις [prognōsis] “…pengetahuan Allah Bapa akan hal-hal yang belum terjadi, dalam pengudusan oleh Roh untuk ketaatan, dan percikan darah Yesus Kristus. Rahmat dan damai sejahtera bagimu dilipatgandakan.” Jadi “dipilih sesuai dengan πρόγνωσις [prognōsis] Allah”, kemahatahuan Allah, karena Allah sudah tahu
apa yang akan mereka pilih.
The second use of
the word “prognosis” is in Acts 2:22 and 23. It's only used twice in the New
Testament, this word. It says, “22 ‘Men of Israel, hear these words: Jesus of Nazareth, a
Man attested by God to you by miracles, wonders, and signs which God did
through Him in your midst, as you yourselves also know— 23 Him, …” that is Jesus, “…being
delivered by the determined purpose and…” what? “…foreknowledge of God, …” Let me ask you, was it in God's
infinite plan for Jesus Christ to be
crucified? Yes, it was in His plan.
Did He have foreknowledge of it? Did
He predict it in the Bible? So that people even in the Old Testament knew that
Christ was going to come and He was going to die? Absolutely. So once again,
God knew beforehand, His foreknowledge. He knew that His plan was going to be
fulfilled.
Penggunaan
kedua dari kata “prognosis” ada di Kisah 2:22-23. Kata ini hanya dipakai dua
kali di Perjanjian Baru. Dikatakan, “22 Hai
orang-orang Israel, dengarlah kata-kata ini: Yesus
dari Nazaret, satu
Manusia yang telah dibuktikan
oleh Allah kepadamu melalui
mujizat-mujizat, keajaiban-keajaiban,
dan tanda-tanda yang dilakukan Allah melalui Dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu sendiri pun tahu. 23 Dia, …” yaitu Yesus, “…yang diserahkan demi tujuan yang pasti dan…” apa? “…pengetahuan Allah akan hal-hal yang belum
terjadi,…” coba saya
tanya, apakah ada di dalam rencana Allah yang infinit Yesus Kristus akan
mati disalib? Ya, ada di dalam rencanaNya.
Apakah Allah sudah tahu sebelumnya tentang hal itu?
Apakah Allah menubuatkannya di Alkitab, sehingga bahkan orang-orang di
Perjanjian Lama pun tahu bahwa Kristus akan datang dan bahwa Dia akan mati?
Tepat sekali. Jadi sekali lagi, Allah sudah tahu sebelumnya, itu
kemahatahuanNya. Allah tahu rencanaNya akan digenapi.
Let me read you two
other translations of Acts 2:22 and verse 23, The New Century Version reads, “22 …
But this was God’s plan…” Jesus, to be taken and being crucified. This was God's plan “…which He had made long ago; He knew…” that's the word πρόγνωσις [prognōsis]
“…He knew all this would happen.” (NCV)
Saya
akan membacakan dua terjemahan lain dari Kisah 2:22-23, The New
Century Version bunyinya: “22…
Tetapi itu adalah rencana Allah…” Yesus ditangkap
dan disalibkan. Ini adalah rencana Allah, “…yang telah dibuatNya sejak lama; Dia sudah
tahu…” ini kata πρόγνωσις [prognōsis] “…Dia sudah tahu semua ini akan terjadi.”
(NCV)
Could God already see all of this as if it had
happened from eternity past? He's the Lamb slain from when? From the foundation of the world. Because He's
omnisient. He lives in an eternal present. He didn't have to wait for Jesus to
come and be crucified because it was absolutely certain in His mind that it was
going to happen that way. It was going to be His plan and He revealed it
because He has foreknowledge of it.
Bisakah Allah dari
kekekalan lampau sudah melihat semua ini seolah-olah itu sudah
terjadi? Dialah Domba yang tersembelih sejak kapan?
Dari fondasi dunia. Karena Allah itu mahatahu. Dia hidup
di kekekalan masa kini. Dia tidak perlu menunggu Yesus datang ke dunia dan mati
disalib karena itu sudah suatu kepastian yang mutlak di pikiranNya bahwa itu
akan terjadi seperti itu. Itu akan menjadi rencanaNya dan Dia menyatakannya
karena Dia punya pengetahuan sebelumnya tentang hal itu.
Notice the New
Living Translation. I like this one. “23 But God knew...” that's the word πρόγνωσις [prognōsis] “...God knew what would happen, and His prearranged plan was carried out
when Jesus was betrayed...” (NLT) I like that phrase: “God knew”, πρόγνωσις [prognōsis] which He had made
long ago.
Simak The New
Living Translation. Saya suka ini, “23
Tetapi Allah sudah tahu…” ini kata πρόγνωσις [prognōsis]
“…Allah sudah tahu apa yang akan terjadi, dan rencanaNya yang sudah diaturNya
sebelumnya, dijalankan ketika Yesus dikhianati…”(NLT). Saya suka ungkapan itu: “…Allah sudah tahu” πρόγνωσις [prognōsis], yang telah dibuatNya sejak lama sekali.
Now let's discuss
just for a few moments the way that we understand the word “prognosis” because
it's very much the way it's used in the Bible. We use the word “prognosis”,
right? Let me ask you, do the weather forecasters prognosticate? Of course,
they prognosticate, it means announcing what is going to happen
before it happens. But the weathercasters are the only people who work
that I know of, that still keep their jobs even though they're 50% wrong. Why? because
their prognosis is not omniscient. But God's
prognosis is omniscient. It is “not likely that it will happen”, it will happen because He knows everything
beforehand. He prognosticates based on His knowledge.
Nah, mari kita bicara sebentar
tentang cara kita memahami kata “prognosis” karena itu sangat mirip cara kata
itu dipergunakan di Alkitab. Kita memakai kata “prognosis”, bukan? Coba saya
tanya, apakah para peramal cuaca berprognosis? Tentu saja mereka berprognosis,
itu artinya mengumumkan apa yang akan terjadi sebelum itu terjadi.
Tetapi para peramal cuaca adalah satu-satunya kelompok manusia yang saya tahu
yang tetap tidak kehilangan pekerjaan mereka walaupun mereka salah 50%.
Mengapa? Karena prognosis mereka tidaklah mahatahu. Tetapi prognosis
Allah itu berdasarkan kemahatahuan. Itu bukan hanya kemungkinan
besar akan terjadi, itu pasti akan terjadi,
karena Allah tahu segalanya sebelumnya. Allah berprognosis berdasarkan
pengetahuanNya.
We also use the
word “prognosis” when we go to the doctor and the doctor does the exams and may
it not be that way. He says, “You have six months to live. You’ve got
cancer.” But I've known people who live years after they've been
prognosticated and said that they're going to die within six months. You see, man's
prognosis is not based on omniscience, on knowing everything. But God's prognosis is absolutely certain because He
lives in an eternal present. He sees the broad scope of everything,
past, present, and future as if it's happening right there before His eyes at that
particular moment. His prognosis is perfect. I hope you're understanding what
I'm saying.
Kita juga menggunakan kata
“prognosis”. Bila kita ke dokter, dan dokter itu memeriksa, dan semoga tidak
terjadi seperti itu, dokter itu berkata, “Anda punya enam bulan lagi untuk hidup. Anda punya
kanker.” Tetapi saya kenal orang-orang yang hidup bertahun-tahun setelah
mereka diprognosis dan dikatakan bahwa mereka akan mati dalam enam bulan.
Kalian lihat, prognosis manusia tidak berdasarkan pada kemahatahuan, pada
mengetahui segalanya. Tetapi prognosis Allah itu mutlak pasti
karena Dia hidup di kekekalan masa kini.
Dia melihat pandangan yang luas dari segalanya, yang lampau, yang sekarang, dan
yang akan datang, seolah-olah itu sedang terjadi di sana tepat di depan mataNya
pada saat itu. PrognosisNya sempurna. Saya harap kalian paham apa yang saya
katakan.
Now, another word
which is used five times in relation to this, it's a verb. It's the word προγινώσκω [proginóskó]. The same thing as
“prognosis”, but it's the verb προγινώσκω [proginóskó]. It's used five times in the New
Testament. Let me just read you one or two of the five. Go with me to Romans
11:2. Here it's speaking about the Jewish nation. Did God already foreknow that
the Jewish nation was going to be the chosen people that would bring the
Messiah into the world? Did God know before it happened? Did He see every
single detail of Israel, every king, every battle, everything? Yes, as if it
was happening right at the moment.
Romans 11:2 says, “ 2 God
has not cast away His people whom He foreknew…” whom He knew
beforehand.
Romans 8:29, this
is a key verse. “29 For whom He foreknew…” that's the word προγινώσκω [proginóskó ] “…29
For whom He foreknew…” the person that God foreknew “…He also…” what?
“…predestined…” what is “predestination” based on? God's foreknowledge. Did God
already know all the choices that people were going to make? Did He predestine
those whom He knew were going to make the right choice? He, in other words, God
announces who is going to be saved based on knowing the choice that they're
going to make, because He lives in an eternal present. God doesn't have to wait
till a baptism, till a call is made for
baptism, if a person is going to give his heart to the Lord or not. He already
knows who's going to give his heart to the Lord from eternity, before we even
existed. Notice Romans 8:29. “…29 For whom He foreknew…” that’s προγινώσκω [proginóskó ] “…He
also predestined, to be conformed to the image of His Son, that He might be the
firstborn among many brethren…” Now notice verse 30. “30 Moreover whom He predestined,…” because He foreknew,
right? According to the context, those whom He predestined because He foreknew
them, “…these He also…” what? “…called; whom He called, these He
also justified; and whom He justified, these He also glorified.”
Nah, kata lain yang dipakai lima
kali sehubungan dengan ini, adalah sebuah kata kerja, yaitu kata προγινώσκω [proginóskó]. Sama
seperti “prognosis” tetapi ini kata kerjanya, προγινώσκω [proginóskó]. Ini
dipakai lima kali di Perjanjian Baru. Saya akan membacakan satu atau dua dari
lima contohnya. Mari bersama saya ke Roma 11:2, di sini ini bicara tentang
bangsa Yahudi. Apakah Allah sudah lebih dulu tahu bahwa bangsa Yahudi akan
menjadi bangsa pilihan yang akan menurunkan Sang Messias ke dunia? Apakah Allah
sudah lebih dulu tahu sebelum itu terjadi? Apakah Allah melihat setiap detail dari
Israel, setiap raja, setiap peperangan, segalanya? Ya, seakan-akan itu sedang
terjadi tepat di saat itu.
Roma 11:2 mengatakan, “2 Allah tidak membuang umat-Nya yang telah Dia ketahui sebelumnya…” yang telah Dia
ketahui sebelumnya.
Roma 8:29, ini adalah ayat kunci, “…29
Sebab siapa yang sudah Dia ketahui dari semula,…” ini kata προγινώσκω [proginóskó], “…29 Sebab
siapa yang sudah
Dia ketahui dari semula,…” orang yang sudah diketahui Allah
dari semula, “…Dia juga…” apa? “…memisahkan…”
“pradestinasi” berdasarkan apa? Pengetahuan Allah yang
sebelumnya. Apakah Allah sudah tahu semua pilihan yang akan dibuat manusia?
Apakah Allah memisahkan mereka yang sudah Dia ketahui akan membuat keputusan
yang benar? Dia, dengan kata lain, Allah mengumumkan siapa-siapa yang akan
selamat berdasarkan pengetahuanNya tentang pilihan yang akan mereka buat,
karena Allah hidup di kekekalan masa kini. Allah tidak harus menunggu hingga
ada baptisan, hingga ada undangan untuk baptisan dibuat, apakah seseorang akan
memberikan hatinya kepada Tuhan atau tidak. Dari kekekalan Allah sudah lebih
dulu tahu siapa-siapa yang akan menyerahkan hatinya kepada Tuhan, bahkan
sebelum kita ada. Simak Roma 8:29, “…29 Sebab siapa yang
sudah Dia ketahui dari semula, …” ini προγινώσκω [proginóskó], “…Dia juga memisahkan dari semula untuk dijadikan
serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia (Anak-Nya) boleh menjadi yang sulung di antara banyak saudara…” Sekarang simak ayat 30, “…30 Selain itu, siapa yang Dia pisahkan dari semula,…” karena Dia sudah tahu lebih dulu, benar? Menurut
konteksnya, mereka yang Dia pisahkan dari semula itu karena Dia sudah tahu
lebih dulu tentang mereka, “…mereka ini juga Dia…” apa? “…panggil; siapa
yang Dia panggil, mereka ini juga Dia
benarkan; dan siapa yang Dia benarkan, mereka ini juga Dia muliakan.”
Now, let me give
you a couple biblical examples. There's three other references to the word προγινώσκω [proginóskó], but I think you
have the idea of what it means. Remember the story of Jacob and Esau. Before
they were born, God said, the older was going to serve the younger. So God
determined it that way? He said, "Tough luck, Esau. This is your
destiny." Is that the way it worked? No. Did God know the choices that
Jacob and Esau were going to make? Did He predestine Jacob on the basis of His
knowledge of the choice that Jacob would make? Listen carefully again. Did He choose Jacob because He knew the choice that
Jacob would make? Yes. Did He reject Esau because He knew the character
that Esau was going to develop? Yes. But God
did not determine it that way. He didn't say, "My favorite is
Jacob. You're going to get the blessing." And “Esau, tough luck.”
No. Did God foreknow in His
omniscience the choices that they would make? Absolutely. And He announced it beforehand saying
that the older would serve the younger.
Nah, saya akan memberi kalian dua
contoh alkitabiah. Ada tiga referensi yang lain untuk kata προγινώσκω [proginóskó], tetapi
saya rasa kalian sudah menangkap apa artinya. Ingat kisah Yakub dan Esau?
Sebelum mereka dilahirkan Allah berkata, bahwa yang lebih tua akan mengabdi
kepada yang lebih muda. Jadi apakah Allah yang menetapkan seperti itu? Apakah
Allah berkata, “Nasibmu yang sial, Esau, inilah takdirmu.”
Apakah begitu cara kerjanya? Tidak! Apakah Allah sudah tahu pilihan-pilihan
yang akan dibuat oleh Yakub dan Esau? Apakah Allah memisahkan lebih dulu Yakub
berdasarkan pengetahuanNya tentang pilihan yang akan dibuat Yakub? Dengarkan
baik-baik lagi. Apakah Allah memilih Yakub karena Dia tahu pilihan yang akan dibuat
Yakub? Iya! Apakah Allah menolak Esau karena Dia sudah
tahu karakter yang akan dikembangkan Esau? Iya! Tetapi bukan Allah yang menetapkannya begitu. Allah
tidak berkata, “FavoritKu Yakub. Kamu yang akan mendapat
berkatnya.” Dan “Esau, nasibmu sial.” Tidak. Apakah Allah sudah lebih
dulu tahu dari kemahatahuanNya, pilihan-pilihan yang akan mereka buat? Tentu
saja. Dan Allah mengumumkannya sebelumnya dengan mengatakan bahwa yang lebih
tua akan mengabdi kepada yang lebih muda.
Let's read this
statement from Ellen White, Vol. 1 Spirit of
Prophecy, page 105 and 106. “…God knows the end
from the beginning. He knew, ...”
see, this is a prognosis προγινώσκω [proginóskó ]. “...He
knew before the birth
of Jacob and Esau, just what characters they would both
develop. He knew that Esau would not have a heart to
obey Him. He answered the troubled
prayer of Rebekah, and informed her that she would have two children,
and the elder should serve the
younger. He presented the future history...” future history to
us, right? Not to God because God already knew from eternity the choices that
they were going to make. So “...He presented the future history of her two sons before her, that they would be two nations, the one greater than the other, and the elder should serve the younger….”
So He predestined
Jacob on the basis of foreknowing the choice that Jacob would make. That's
predestination. It's not God determining it's going to be this way, but God
announcing it's going to be this way because He knows the choices that will be
made.
Mari kita baca pernyataan ini
dari Ellen White dari Spirit of Prophecy Vol. 1 hal. 105-106 “…Allah tahu yang akhir dari mulanya. Allah
tahu…” lihat, ini sebuah
prognosis, προγινώσκω [proginóskó]
“…Allah tahu sebelum kelahiran Yakub dan Esau karakter macam apa yang akan
mereka berdua kembangkan. Allah tahu bahwa Esau tidak akan punya hati untuk
mematuhiNya. Dia menjawab doa Ribkah yang gundah dan memberitahunya bahwa dia
akan punya dua anak, dan yang lebih tua akan menghamba kepada yang muda. Dia
menunjukkan sejarah masa depan…” sejarah masa depan itu bagi kita, benar? Bukan bagi Allah karena Allah
sudah tahu dari kekekalan pilihan-pilihan yang akan mereka buat. Jadi, “…Dia
menunjukkan sejarah masa depan kedua anaknya ini di hadapan Ribkah, bahwa
mereka akan menjadi dua bangsa, yang satu lebih hebat daripada yang lain, dan
yang lebih tua akan menghamba kepada yang lebih muda…”
Jadi Allah mempredestinasi (memisahkan) Yakub
berdasarkan pengetahuanNya lebih dulu atas pilihan yang akan dibuat Yakub.
Itulah pradestinasi. Bukan Allah menetapkan itu untuk terjadi demikian, tetapi
Allah mengumumkan itu akan terjadi demikian karena Dia sudah mengetahui
pilihan-pilihan yang akan dibuat.
Let's take another
biblical example. Did God predict that an
individual was going to betray Christ in the Old Testament? Yes. Psalm 109. And the apostle Peter on the
day of Pentecost in chapter 1, actually before the day of Pentecost, the 10
days before, he used the Psalms to say why Judas had betrayed Christ. He said
that the betrayer ~ he didn't use the name by the way ~ he said that the
betrayer would not come back to his home, insinuating that he would commit
suicide, and that somebody else would take his office in Psalm 109. Obviously,
for a very important purpose, God did not say Judas is going to do this because
that would sound pretty deterministic. How did it work then? Jesus said to
Judas, "Tough luck, buddy. You've been chosen to betray Me and you have
no choice in the matter. Sorry." Is that the way it works? No. Did God know? By the way, did Jesus do everything possible to save Judas?
Just read it in the Gospels. He did everything that He could do to save Judas. Why
was Judas lost? By a deterministic announcement of God or because God already
knew the choice that he was going to make? God's not responsible. Judas is
responsible.
Mari kita lihat contoh lain dari
Alkitab. Apakah di Perjanjian Lama Allah memprediksi bahwa
seseorang akan mengkhianati Kristus? Ya, Mazmur 109. Dan
rasul Petrus di pasal 1, sebelum hari Pentakosta, 10 hari sebelumnya, dia
memakai Mazmur itu untuk mengatakan mengapa Yudas telah mengkhianati Kristus.
Dia mengatakan, si pengkhianat ~ dia tidak memakai namanya ~ dia mengatakan
bahwa si pengkhianat tidak akan pulang ke rumahnya, menyiratkan bahwa dia akan
bunuh diri, dan bahwa orang lain akan mengambil tempatnya, di Mazmur 109. Jelas
untuk tujuan yang sangat penting, Allah tidak mengatakan Yudas itulah yang akan
melakukan ini karena itu akan terdengar sangat menentukan.Jadi bagaimana
kerjanya? Yesus berkata kepada Yudas, “Nasibmu
yang sial, teman. Kamu sudah dipilih untuk mengkhianati Aku dan kamu tidak
punya pilihan dalam hal itu. Maaf.” Begitukah cara kerjanya? Tidak. Apakah
Allah sudah tahu? Nah, apakah Yesus telah melakukan
sebisa-bisanya untuk menyelamatkan Yudas? Baca saja di
kitab-kitab Injil. Yesus telah berbuat apa saja untuk menyelamatkan Yudas.
Mengapa Yudas tidak selamat? Gara-gara pengumuman Allah yang menentukan atau
karena Allah sudah mengetahui pilihan yang akan dia buat? Bukan Allah yang
salah. Yudas yang bertanggungjawab sendiri.
In Acts 1:20 it
says, “20 ‘For it is written in the book of Psalms…” this is Peter
before the day of Pentecost
“…‘Let his dwelling place be desolate, and let
no one live in it’; and, ‘Let
another take his office.’…”
And then Matias is elected in place of Judas.
Di Kisah 1:20 dikatakan, “20 Sebab ada tertulis dalam
kitab Mazmur, …” ini Petrus sebelum hari Pentakosta, “…‘Biarlah tempat tinggalnya
menjadi terlantar, dan biarlah tidak ada yang menghuninya dan ‘Biarlah orang lain
mengambil jabatannya’…” kemudian Matias yang dipilih
menggantikan Yudas.
In John 13:18 and
19, which we read last night, God says, “18 I do not speak concerning all of you…” that is the disciples. “…I know whom I have chosen; but that
the Scripture may be fulfilled, ‘He who eats bread with Me has
lifted up his heel against Me.’…” And
then He says this in verse 19.
“…19 Now I tell you before it comes, that when it does
come to pass, you may believe that I am He.” He tells us before
it happens, but He does not determine that it's going to happen in a certain
way.
Di Yohanes 13:18-19 yang sudah kita baca semalam, Allah berkata, “18 ‘Aku tidak
bicara tentang kamu semua…” maksudnya para murid, “…Aku tahu, siapa yang
telah Kupilih, tetapi supaya ayat Kitab Suci
boleh digenapi, ‘Dia yang makan roti dengan AKu, telah mengangkat tumitnya terhadap
Aku.’…” Lalu Dia mengatakan ini di ayat 19, “…19 Sekarang Aku memberitahu kamu sebelum itu terjadi, supaya jika hal itu terjadi,
kamu boleh percaya, bahwa Akulah Dia.’…” Dia memberitahu
kita sebelum itu terjadi, tetapi Dia tidak menentukan itu akan terjadi menurut
cara tertentu.
Let me give you an
example so you can understand the difference between predetermination and
predestination. I want you to imagine a train. The train is going down some
train tracks and it comes to a place where the rails of the lane of the train
divide into right and left. So when the train gets to that spot, the train has
to go either right or has to go left at this crossroads. Now there are two ways
in which the train can go one way or the other.
v
The first way is if
there's someone in a control box outside the
train that can change the track that the train will go down from that
control place outside the train.
In that case the train has no choice as to which direction it's
going to go because someone is outside the train determining which track the train is going to go down. So is it
the case that God is sitting in a control room, and when an individual comes to
the choice in an evangelistic meeting to be saved or to be lost, God from
outside says, “Your choice has been made since eternity. You're going to go
and be saved.” And God is determining it from outside. No!
v
Now there's another way
in which the train can go right or left.
And that is if the conductor of the train is the one who decides
which direction it goes. In that case the conductor is responsible for
going to the right or to the left. Are you with me?
So God is not in
some booth where “tough luck” that way. “Ah, You're My favorite.
Saved.” No, God isn't doing it outside. When we get to the crossroads, God already knows which choice I'm going to make,
but He does not make the choice for me. Are you following me? That's biblical predestination, not the idea
of predetermination, which is totally different.
Saya akan memberikan contoh
supaya kalian bisa mengerti perbedaan antara pradeterminasi dan pradestinasi.
Saya mau kalian membayangkan sebuah kereta api. Kereta api itu berjalan di atas
rel dan tiba di tempat di mana rel kereta itu bercabang ke kiri dan ke kanan.
Jadi ketika kereta itu tiba di tempat tersebut, kereta itu harus ke kiri atau
ke kanan di persimpangan ini. Nah ada dua cara bagaimana kereta ini bisa ke
kiri atau ke kanan.
v
Cara pertama ialah ada orang yang duduk di dalam gardu di luar kereta
itu yang bisa mengubah jalur ke mana kereta itu akan pergi dari
gardu tempatnya di luar kereta.
Dalam
hal ini, kereta itu tidak punya pilihan ke arah mana dia akan pergi karena ada
orang di luar kereta yang
menentukan jalur rel mana yang akan dilalui kereta itu. Jadi apakah
Allah sedang duduk di dalam gardu dan ketika seseorang di suatu pertemuan
penginjilan tiba pada saat di mana dia mengambil keputusan untuk diselamatkan
atau tidak, Allah dari luar berkata, “Pilihanmu
sudah ditentukan sejak kekekalan. Kamu akan diselamatkan.” Dan Allah yang
menentukannya dari luar? Tidak!
v
Nah, ada cara yang lain di mana kereta itu
bisa ke kiri atau ke kanan.
Dan
itu ialah jika kondektur
kereta itu yang menentukan ke arah mana kereta tersebut pergi. Dalam
hal ini si kondektur yang bertanggungjawab apakah keretanya ke kiri atau ke
kanan. Apakah kalian mengikuti saya?
Jadi Allah tidak berada di dalam
sebuah gardu dan berkata “Nasibmu
seperti itu. Ah, kamu anak emasKu.
Selamat.” Tidak. Allah tidak
melakukannya dari luar. Ketika kita tiba di persimpangan, Allah
sudah tahu lebih dulu pilihan mana yang akan kita buat, tetapi Dia tidak
mengambil pilihan itu untuk kita. Apakah kalian mengikuti saya?
Inilah pradestinasi yang alkitabiah, bukan konsep pradeterminasi yang sama
sekali berbeda.
Now, you remember
the parable ~ we're almost finished here ~ remember the parable of the man who sneaked into the wedding without a wedding
garment? It's in Matthew chapter 22. Interesting story. By the way,
that proves the investigative judgment
which is being questioned these days. That is the doctrine that is most
questioned by scholars of the church that have left the church, of any of our
doctrines, is the investigative judgment. That before the Second Coming, the
books are going to be opened and the lives of everyone who claim the name of
Christ are going to be examined to see if they're going to be saved or lost.
And people say, "Well, but God already knows who's going to be saved or
going to be lost." Yeah, but the judgment isn't for Him. The judgment is for all the beings in the universe
to make sure that God was just.
What would you
think of a judge, when a person who is accused comes before the judge and
without any jury the judge says, “Guilty! Electric chair!”?
What would people
say? “Hey, wait a minute, electric chair? There hasn't been any
trial. No evidence has been examined.”
And God says, "Doesn't
matter. I know everything."
Would people
complain? Would there be doubts? Oh, you’d better believe there would be
doubts.
So God says,
"I'm going to lay it all open because there are wise and foolish virgins
in the church. There are wheat and tares in the church. There's good and bad
fish in the church. And so separation has to be made, so that the universe sees
that I'm a God that is just and merciful, and all the decisions are based on
the choices that were made.”
That's the purpose
of the investigative judgment. It's not to inform God because God knows
everything, even before this world existed. It's for the benefit of the
universe.
Nah, kalian ingat perumpamaan ~
kita hampir selesai ~ ingat perumpamaan orang yang masuk ke tempat pernikahan tanpa mengenakan
pakaian yang seharusnya untuk acara itu? Ada di Matius pasal 22. Kisah
yang menarik. Nah, ini membuktikan adanya penghakiman
investigasi yang dipertanyakan hari ini. Dari semua doktrin
kita, inilah doktrin yang paling dipertanyakan oleh para pakar Alkitab MAHK
yang telah meninggalkan MAHK, doktrin penghakiman investigasi. Bahwa sebelum
Kedatangan Kedua, kitab-kitab akan dibuka dan hidup setiap orang yang mengakui
nama Kristus akan diperiksa untuk dipastikan apakah mereka akan diselamatkan
atau tidak. Dan orang-orang berkata, “Tapi
Allah kan sudah tahu siapa-siapa yang akan diselamatkan atau tidak.” Iya,
tapi penghakiman ini bukan untuk kepentingan Allah. Penghakiman ini
untuk semua makhluk di alam semesta, untuk membuktikan apa Allah itu adil.
Apa pendapat kita tentang seorang
hakim yang bila seseorang yang dituduh hadir di hadapannya dan tanpa ada juri
satu pun hakim itu berkata, “Bersalah!
Kursi listrik!”
Apa akan dikatakan orang-orang? “Hei, tunggu dulu, kursi listrik?
Belum ada pengadilan. Belum ada bukti yang diperiksa.”
Dan Allah berkata, “Tidak jadi soal. Aku tahu
segala.”
Apakah orang-orang akan komplain?
Apakah akan ada keraguan? Oh, percayalah, pasti akan ada keraguan.
Karena itu Allah berkata, “Aku akan membeberkan semuanya
terbuka karena di dalam gereja ada gadis-gadis yang bijak dan bodoh, di gereja
ada gandum dan lalang, di gereja ada ikan yang baik dan yang buruk. Maka harus
dibuat pemisahan, supaya alam semesta melihat bahwa Aku adalah Allah yang adil
dan berbelas kasihan, dan semua keputusan itu berdasarkan pilihan-pilihan yang
telah dibuat.”
Inilah tujuan penghakiman
investigasi. Bukan untuk memberitahu Allah, karena Allah sudah tahu segala
sesuatu, bahkan sebelum dunia ini ada. Ini adalah untuk kepentingan alam
semesta.
Notice what it says
in Matthew 22:14 about the man who entered without the wedding garment. Then
Jesus says this, “14 For many are called, but few are chosen.” Whom does God choose? He chooses those
who choose Him. Are many many called? When an evangelist preaches a
sermon, does he make a call? He makes a call. Who's chosen? Those who respond to the call. God chooses of them based
on their choice. Are you with me or not?
Simak
apa yang dikatakan di Matius 22:14 tentang orang yang masuk ke tempat
perkawinan tanpa pakaian pesta. Lalu Yesus mengatakan ini, “14 Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih…” siapa yang dipilih Allah? Dia memilih
mereka yang memilih Dia. Apakah ada banyak sekali yang
dipanggil? Ketika seorang penginjil menyampaikan khotbah, apakah dia membuat
panggilan? Dia membuat panggilan. Siapa yang dipilih? Mereka yang
merespon panggilan itu. Allah memilih mereka berdasarkan pilihan
mereka. Apakah kalian mengikuti saya atau tidak?
Mark 13:20 says,
speaking about the tribulation, “ 20 And
unless the Lord had shortened those days, no flesh would be saved; but for the
elect’s sake, whom He chose, He shortened the days.” But on what basis
did He choose the elect? Because He knew what their choice would be.
Markus
13:20 mengatakan, bicara tentang masa kesukaran besar, “20 Dan kecuali Tuhan
mempersingkat hari-hari itu, tidak ada
manusia yang selamat; akan tetapi demi orang-orang
pilihan yang telah dipilih-Nya, Tuhan mempersingkat hari-harinya…” Tetapi berdasarkan apa Allah memilih
mereka yang dipilih? Karena Allah sudah tahu apa yang akan mereka pilih.
And then in
Revelation 17:13 and 14, He uses three expressions. Those who are with Jesus at
the end are “called, chosen, and faithful”. He chose them because they're
faithful. because they responded to His call.
Lalu di Wahyu 17:13-14 Dia
menggunakan tiga ungkapan. Mereka yang bersama dengan Yesus pada akhirnya itu “dipanggil,
dipilih, dan setia”.
Dia memilih mereka karena mereka setia, karena mereka merespon panggilanNya.
One final
statement, Manuscript Releases Vol. 18, page
380. “In the mind of God, the ministry of men and women existed
before the world was created…” in the what? “In
the mind of God, the ministry of men and women…”
notice it doesn't say “would exist”. “In the mind of God, the
ministry of men and women existed before the
world was created.” Wow, what an amazing
concept. There are many Adventists who lost relatives in the pandemic. It was a
difficult time even for the church, not only for the people generally in the
world, but for Adventists, many lost relatives. And you know, it's really
comforting to know that even though for us we say, “Someday we're going to
see this relative rise from the grave and we're going to be together again.”
And look at it from the perspective of God, and say it's already a done deal.
It is as certain as the omniscient knowledge of God. And prophecy in Daniel and
Revelation will be fulfilled exactly the way that it is written. Everything in
the past has been fulfilled. In the present, we see things being fulfilled, and
the future events will be fulfilled because God since eternity had the entire
panorama before Him.
Satu pernyataan
terakhir Manuscript
Releases Vol. 18 hal. 380, “…Di pikiran Allah, pelayanan untuk
laki-laki dan perempuan sudah ada sebelum dunia diciptakan…” di mana? “…Di pikiran Allah, pelayanan laki-laki dan
perempuan…” simak, tidak dikatakan “akan ada”. “…Di pikiran Allah, pelayanan laki-laki dan perempuan
sudah ada sebelum dunia diciptakan…” Wow! Konsep yang sangat mengagumkan.
Ada banyak orang Advent yang kehilangan
sanak-keluarga sewaktu pandemik. Saat itu waktu yang sulit bahkan bagi gereja,
bukan hanya bagi orang-orang dunia pada umumnya, tetapi bagi orang-orang
Advent, banyak yang kehilangan sanak-keluarga. Dan kalian tahu, itu adalah
penghiburan untuk tahu walaupun bagi kita yang berkata, “Suatu hari kita akan melihat kerabat ini
bangkit dari kubur dan kita akan bersama-sama kembali.” Pandanglah dari
perspektif Allah, yang mengatakan itu sudah terjadi. Itu sama pastinya dengan
kemahatahuan Allah. Dan nubuatan Daniel dan Wahyu akan digenapi persis
sebagaimana tertulis. Semua yang lampau sudah digenapi. Di masa sekarang kita
melihat hal-hal sedang digenapi, dan peristiwa-peristiwa di masa depan akan
digenapi karena Allah sejak kekekalan sudah melihat seluruh panoramanya di
hadapanNya.
And I'll end with
this. There's a lot of false prophecy going around. You know, there the
evangelical world has been deceived. They don't understand Daniel and Revelation.
They're looking to the Middle East for the fulfillment of prophecy. Just go to
the internet. They're bringing up Ezekiel 38, the valley of the dry bones, and
Gog and Magog and they're talking about, you know, the the role of Israel in
Bible prophecy, that Israel is going to be restored and then everybody's going
to be against Israel, and the temple is going to be rebuilt there on the temple
mount. And you know a nasty individual who is the Antichrist is going to sit in
the temple. But before that, the saints are all raptured to Heaven. They're
going to be up there for seven years. All of this false scenario. And
meanwhile, the powers that are going to play a role in prophecy are in Rome and
the United States. And people can't see it because they're looking in the wrong
place. The Devil has hoodwinked the entire religious world. The Seventh Day Adventist Church is the last stand.
Present truth is the last stand. If the Seventh Advenist Church ceased to
exist, the world would be just totally lost because we have the correct interpretation of prophecy. And I don't say
that arrogantly. But it's the truth. But it does no good to have the truth and hide
it under a bushel. We have to let our light shine. If we want our neighbors
saved, if we want our friends saved, if we want our family and our relatives
saved, we have to speak up. Be nice. Because many times we present prophecy in
a mean-spirited way. But we need to be nice, but we need to be frank and we
need to be clear, because someday if we don't, they're going to say, "Why
didn't you tell me?" And you're not going to be able to say,
"Well, I knew that you weren't going to accept." Everybody has to
have the opportunity.
Dan saya akan mengakhiri dengan
ini. Ada banyak nubuatan palsu yang beredar. Kalian tahu, dunia evangelis telah
tertipu. Mereka tidak paham Daniel dan Wahyu. Mereka memandang ke Timur Tengah
untuk penggenapan nubuatan. Pergilah ke internet. Mereka mengangkat Yehezkiel
38, lembah tulang-tulang kering, dan Gog dan Magog, dan mereka sedang berbicara
tentang peranan Israel dalam nubuatan Alkitab, bahwa Israel akan dipulihkan
kemudian semua orang akan memusuhi Israel, dan Bait Suci akan dibangun kembali
di sana di bukitnya. Dan seorang individu yang jahat yang adalah Antikristus
akan duduk di Bait Suci itu. Tetapi sebelum itu, orang-orang kudus sudah
semuanya diangkat ke Surga. Mereka akan ada di Surga selama tujuh tahun. Semua
skenario ini salah. Sementara itu kekuasaan yang akan berperan dalam nubuatan
ada di Roma dan di Amerika. Dan orang-orang tidak bisa melihat ini karena
mereka sedang melihat di tempat yang salah. Iblis telah menipu seluruh dunia
relijius. Gereja MAHK adalah benteng yang terakhir.
Kebenaran masa kini adalah pertahanan yang terakhir. Jika gereja MAHK tidak ada
lagi, dunia akan sama sekali hancur karena kitalah yang punya interpretasi
yang benar tentang
nubuatan. Dan saya tidak mengatakan ini untuk menyombong, tapi
inilah kebenarannya. Namun tidak ada gunanya memiliki kebenaran dan menyembunyikannya
di bawah gantang. Kita harus membiarkan terang kita bersinar. Jika kita ingin
tetangga-tetangga kita selamat, jika kita ingin teman-teman kita selamat, jika
kita ingin keluarga dan kerabat kita selamat, kita harus buka mulut. Dengan
sikap yang baik. Karena seringkali kita menyampaikan nubuatan dengan cara yang
tidak baik. Kita harus bersikap ramah, tetapi kita perlu berterus terang dan
kita perlu jelas, karena jika tidak, suatu hari mereka akan berkata, “Mengapa kamu tidak memberitahu
saya?” Dan kita tidak akan bisa berkata, “Nah, saya tahu kamu tidak akan
menerima.” Setiap orang harus punya kesempatan.
03 09 26
No comments:
Post a Comment