2025 SERMONS AT HAMMOND SDA CHURCH
Stephen Bohr
04/09 GOD’S FINAL MESSAGE TO THE WORLD
https://www.youtube.com/watch?v=pkJmj7RQKpo
Dibuka
dengan doa.
This
evening in our second presentation, we're going to take a look at the First
Angel’s Message of Revelation 14:6 and 7. So I invite you to turn your Bibles
with me to Revelation 14 and we're going to read verses 6 and 7, First Angel’s
Message. Probably many of us can repeat it from memory. It says, “6 Then I saw another angel flying in the midst of
heaven, having the everlasting gospel to preach to those who dwell on the
earth—to every nation, tribe, tongue, and people— 7 saying with a loud
voice, ‘Fear God and give glory to Him, for the hour of His judgment has
come; and worship Him who made heaven and earth, the sea and springs of
water.’”
Petang ini di
presentasi kita yang kedua, kita akan menyimak Pekabaran Malaikat Pertama Wahyu
14:6-7. Jadi saya ajak kalian membuka Alkitab bersama saya ke Wahyu 14 dan kita
akan membaca ayat 6 dan 7, Pekabaran Malaikat Pertama. Kira-kira banyak di
antara kita yang bisa menghafalnya. “6
Lalu aku melihat seorang malaikat
lain terbang di tengah-tengah langit, dan padanya ada Injil yang kekal untuk diberitakan kepada mereka
yang diam di atas bumi ~ kepada setiap bangsa dan suku dan bahasa dan kaum, 7 berseru dengan
suara nyaring: ‘Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia, karena saat
penghakiman-Nya telah tiba, dan sembahlah Dia yang telah menjadikan langit dan
bumi dan laut dan semua mata air.’”
Now,
there are three things that I want to underline about the First Angel’s Message as we begin our study this evening:
1.
This is God's last message to planet Earth.
You say, “How do we know that this is
God's last message?” Well, because
after the First, Second, and Third Angel’s Message, the next scene in verse 14 is Jesus sitting on a cloud with a
sickle in His hand and He’s coming to harvest the earth. That's the Second Coming of Christ. So you have
the Three Angels’ Messages, then Jesus comes in verse 14. So it's the last
message before the Second Coming of Christ.
2.
It is a
global message.
It is a message that goes to the entire world, because we are told
that it goes to “every nation, tribe, tongue, and people” to all of “those
who dwell on the earth”. It's a
global message, the last message that is given to the world.
3.
And there is a sequence that we need to remember when we proclaim the Three
Angels’ Messages because the text tells us, “I saw another angel” and then you have the
First Angel’s Message; and then it says “a second angel followed him”, the First Angel; and then it says the Third Angel followed them.
Nah, ada tiga
hal yang mau saya garisbawahi tentang Pekabaran Malaikat Pertama
saat kita mengawali pelajaran kita petang ini:
1.
Ini adalah pesan Allah yang terakhir kepada
planet Bumi.
Kalian berkata, “Kok bisa
tahu ini pesan Allah yang terakhir?” Nah, karena setelah Pekabaran Malaikat
Pertama, Kedua dan Ketiga, adegan berikutnya di ayat 14 ialah Yesus duduk di atas awan
dengan alat penyabit di tanganNya dan
Dia datang untuk menuai bumi. Itulah Kedatangan Kedua Kristus. Jadi ada Pekabaran
Tiga Malaikat, lalu Yesus datang di ayat 14. Jadi ini adalah pekabaran terakhir
sebelum Kedatangan Kedua Kristus.
2.
Ini adalah pekabaran global.
Ini adalah pekabaran yang disampaikan ke seluruh dunia, karena
kita diberitahu bahwa itu disampaikan “kepada setiap bangsa dan suku dan bahasa dan kaum”, kepada “mereka yang diam di atas bumi”. Ini
adalah pekabaran yang global, pesan terakhir yang diberikan kepada dunia.
3.
Dan ada urut-urutannya
yang perlu kita ingat ketika kita menyampaikan Pekabaran Tiga Malaikat, karena
ayat itu memberitahu kita, “aku melihat seorang malaikat
lain” lalu
diberikan pekabaran Malaikat
Pertama, kemudian dikatakan, Malaikat
yang Kedua ”seorang malaikat lain, mengikuti” Malaikat
yang Pertama; kemudian dikatakan “Malaikat yang
Ketiga mengikuti mereka”.
So
don't begin teaching people at the Third Angel’s Message about the mark of the
Beast and the seal of God. Don't do the reverse order. We have to:
v first of all talk about the “everlasting gospel”.
v “Fear God, give glory to Him, the hour of His judgment
has come”.
v Then we need to call people, tell them that “Babylon is fallen” and invite them to come
out.
v And the third message says, if you don't come out “the wrath of God” will fall upon you. You will receive the plagues.
Jadi jangan
mulai mengajar orang dari Pekabaran Malaikat Ketiga, tentang tanda Binatang dan
meterai Allah. Jangan memutarbalikkan urutannya. Kita harus:
v pertama-tama bicara tentang “injil yang kekal”.
v “Takutlah akan Allah dan
muliakanlah Dia, karena saat penghakiman-Nya telah tiba”.
v Kemudian kita harus
memanggil orang-orang, ceritakan bahwa “Sudah roboh, sudah roboh Babel” dan mengajak
mereka untuk keluar.
v Dan pesan yang ketiga
mengatakan, jika kalian tidak keluar, “murka Allah” akan jatuh ke
atas kalian. Kalian akan menerima malapetaka-malapetaka.
So
basically the Three Angels’ Messages are sequential and they need to be
presented in their order. First the everlasting gospel of salvation. Then we
have the imperative: “Fear God,
give glory to Him, the hour of His judgment has come”. Then when people have heard the First Angel’s
Message, we say, “By the way, ‘Babylon’, where you're at now, it's fallen. And so God calls you to come out. ‘Come
out of her, My people’”. And then the
Third Angel’s Message says, “If you receive ‘the mark of the Beast, the wrath of God’ is going to fall upon you. So it's best to get out.” So those are the three things that I want us to
notice about the Three Angels’ Messages, and we're going to study specifically
the First Angel’s Message.
Jadi pada
dasarnya Pekabaran Tiga Malaikat itu berurutan dan mereka harus disampaikan
sesuai urutannya. Pertama, injil keselamatan yang kekal. Lalu perintahnya, “Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia, karena saat
penghakiman-Nya telah tiba”. Lalu setelah orang-orang sudah mendengar Pekabaran
Malaikat Pertama, kita berkata, “Nah, ketahuilah, ‘Babilon’ di mana
kalian sekarang berada, ‘sudah roboh, sudah roboh’. Maka Allah
memanggil kalian untuk keluar, ‘Keluarlah darinya,
umatKu’. Kemudian
Pekabaran Malaikat Ketiga berkata, “Jika kalian menerima ‘tanda Binatang, murka
Allah’ akan jatuh
ke atas kalian. Jadi sebaiknya kalian keluar.” Jadi inilah ketiga hal yang
saya mau kalian simak tentang Pekabaran Tiga Malaikat, dan kita akan mulai
mempelajari secara spesifik Pekabaran Malaikat Pertama.
So,
first of all, we want to talk about what the everlasting gospel is. We're going
to find that the everlasting gospel is
composed of four works that Christ does for us apart from our response.
Four things that Christ does for us that are His work.
Jadi pertama sekali, kita bicara
tentang apa itu injil yang kekal. Kita akan melihat bahwa injil
yang kekal itu terdiri atas empat pekerjaan yang dilakukan Kristus bagi kita, di luar
respons kita. Empat hal yang dilakukan Kristus bagi kita, yang adalah
pekerjaanNya.
First
of all, the gospel means that we are saved
by grace through faith. We're saved by the grace of Christ through
faith, not of works. That doesn't
mean that works don't follow faith. In fact, let's go to Ephesians 2:8-10. We're
going to find four concepts here in Ephesians 2:8-10. It says, “ 8 For by grace you have
been saved...” how? “... 8 For by grace you have
been saved through faith,...” and then it says, “...and that not of yourselves;...” if it was of ourselves, then it wouldn't be by grace,
right? “...and
that not of yourselves; it is the...” what?
“...the gift of God,...” So by grace
through faith, we receive salvation. And
then it underlines in verse 9 “...9 not of works, lest
anyone should boast...” So,
we're saved by grace through faith, not of works, so that we can't boast.
Because if they are our works, we have a reason to boast. But then many people
stop there and they don't read verse 10. Because God expects works, but not works that we do to be saved, but works that flow from salvation, works that are the
result of salvation, fruit that comes from the Root. Notice verse 10, “... 10 For we are His workmanship,
created in Christ Jesus...” by
the way, this is not talking about we were created, you know, when He created
Adam and we descended from Adam. It's not talking about that creation. It's talking about new creation, creation in
redemption. And so it says, “...10 For we are His workmanship, created in Christ Jesus
for good works,...” Saved by grace through faith for good works. But the
works are the result of salvation, not the cause of salvation.
Pertama-tama, injil berarti kita diselamatkan oleh kasih
karunia melalui iman. Kita diselamatkan oleh kasih karunia
Kristus melalui iman, bukan oleh perbuatan.
Itu tidak berarti bahwa perbuatan tidak mengikuti iman. Sebaiknya mari kita ke
Efesus 2:8-10, kita akan menemukan empat konsep di sini di Efesus 2:8-10.
Dikatakan, “8
Karena oleh kasih karunia kamu
diselamatkan…” bagaimana caranya? “…8 Karena oleh kasih karunia kamu diselamatkan melalui
iman,…” kemudian dikatakan “…dan itu bukan karena usaha kamu,…” seandainya itu datang dari usaha
kita sendiri, maka itu namanya bukan kasih karunia, benar? “…dan itu bukan karena usaha kamu, itu
adalah…” apa? “…pemberian Allah,…” jadi kita menerima keselamatan oleh
kasih karunia melalui iman. Kemudian di ayat 9 digarisbawahi, “…9 itu bukan hasil pekerjaanmu:
jangan sampai ada orang yang memegahkan
dirinya…” Jadi kita diselamatkan oleh kasih karunia melalui iman, bukan oleh
perbuatan, sehingga kita tidak bisa menyombong. Karena andaikan itu oleh
perbuatan kita, maka kita punya alasan untuk menyombong. Tetapi kemudian banyak
orang berhenti di ayat ini, dan mereka tidak membaca ayat 10. Karena Allah
mengharapkan ada perbuatan baik, tapi bukan perbuatan baik yang
kita lakukan supaya beroleh selamat, melainkan perbuatan baik yang
mengalir keluar dari keselamatan, perbuatan baik yang
adalah hasil dari keselamatan, buah-buah yang berasal dari
Akarnya. Simak ayat 10, “…10 Karena kita ini karya Allah,
diciptakan dalam Kristus Yesus…” nah, di sini tidak bicara tentang penciptaan kita seperti ketika Allah
menciptakan Adam dan kita diturunkan dari Adam. Ini tidak bicara tentang
penciptaan yang itu. Ini bicara tentang penciptaan baru,
penciptaan dalam penebusan. Jadi dikatakan, “…10 Karena kita ini karya Allah,
diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan perbuatan
baik,…” diselamatkan oleh kasih karunia melalui iman untuk melakukan perbuatan
yang baik. Tetapi perbuatan-perbuatan tersebut adalah hasil dari keselamatan,
bukan sarana untuk mendapatkan keselamatan.
Let
me ask you, what's more important, the horse or the cart? The horse is important,
but if you don't have the cart, the horse won't take you and take your stuff
anywhere. The problem is when you put the cart before the horse, works before
salvation, okay? The horse is vital to pull the cart, but when you put the cart
before the horse, you go nowhere.
It's
kind of like when you turn on your car in the morning. You put the car in drive
(it's an automatic transmission), put it in drive. Let me ask you, when you put
the foot on the accelerator, which wheels move first, the back wheels or the
front wheels? See, that's the question, that question is always asked, always
asked: is it frontwheel drive or backwheel drive? It makes no difference
because the instant ~ let's say it's backwheel drive ~ the instant that the
back wheels move, the front wheels follow. In other words, faith is a driving force of works. Are you
with me?
Ellen
White compares faith and works to the oars of a rowboat. Which oar is most
important? The right oar or the left oar. If you only have the right oar,
you're going to make circles to the left. If you have only the left oar, you're
going to make circles to the right. It's only
when faith and works work together that you have progress in your Christian
life.
Coba saya tanya,
mana yang lebih penting, kudanya atau keretanya? Kudanya penting, tetapi jika
kita tidak punya keretanya, kuda itu tidak bisa membawa kita dan barang-barang
kita. Masalahnya muncul ketika kita menempatkan keretanya di depan kuda, perbuatan sebelum keselamatan, oke? Kudanya
itu vital untuk menarik keretanya, tetapi bila kita letakkan keretanya di depan
kuda, kita tidak sampai ke mana-mana.
Seperti bila
kita nyalakan mobil kita di pagi hari. Kita masukkan mobil kita ke mode jalan
(ini mobil matic) masuk ke mode jalan. Coba saya tanya, saat kita meletakkan
kaki kita di pedal gas, roda yang mana yang bergerak duluan, roda-roda belakang
atau roda-roda depan? Lihat, itulah pertanyaannya, pertanyaan yang selalu
diajukan: apakah mobil itu digerakkan oleh roda depan atau roda belakang. Tidak
jadi soal, karena pada saat ~ katakanlah ini mobil yang digerakkan roda
belakang ~ pada saat roda-roda belakang bergerak, roda-roda depan mengikuti.
Dengan kata lain, iman adalah tenaga penggerak dari perbuatan.
Apakah kalian mengikuti saya?
Ellen White
membandingkan iman dan perbuatan dengan dayung-dayung perahu. Dayung mana yang
paling penting? Dayung kanan atau kiri? Jika kita hanya punya dayung kanan,
kita akan berputar-putar ke arah kiri. Jika kita hanya punya dayung kiri, kita
akan berputar-putar ke kanan. Hanya apabila iman dan perbuatan
bekerja bersama-sama kita bisa maju dalam kehidupan Kristen kita.
I
want to challenge you. I want somebody to take one side off of this page. Somebody
want to try take one side off of this page? Anybody want to try? Can you take
one side off of this page? No. Faith and
works, they go together. We are saved by grace through faith for good
works. Because we have been created, we are His workmanship; we have been recreated,
we have been regenerated for good works. So, we're saved by grace through
faith, not by the works that we do, but God has created works for us because it
continues saying, “we are His workmanship, created in Christ
Jesus for good works”. And notice that it's God's work because
it says “...which God prepared beforehand that we
should walk in them.”
When
the Bible uses the word “walk” in a figurative sense, in a symbolic sense, it has to
do with our conduct or our behavior. In 1 John 2:6, it says, we “ought to walk as Jesus walked”. It has to do with our conduct. It has to do with our
behavior. Our conduct does not save us. But when
we're saved, we will conduct ourselves as saved people. So that's the
first thing. What Christ does for us is Jesus saves us by grace.
Saya mau memberi kalian sebuah tantangan. Saya ingin ada yang mengambil
satu sisi dari halaman ini. Ada yang mau mencoba mengambil satu sisi dari
halaman ini? Ada yang mau mencoba? Bisakah kita mengambil satu sisi dari
halaman ini? Tidak. Iman dan perbuatan, mereka berjalan bersama-sama.
Kita diselamatkan oleh kasih karunia melalui iman untuk melakukan
perbuatan-perbuatn baik. Karena kita telah diciptakan, kita adalah hasil karya
Allah, kita telah diciptakan baru, kita telah diregenerasi untuk melakukan perbuatan-perbuatan
baik. Maka, kita sudah diselamatkan oleh kasih karunia melalui iman, bukan oleh
usaha-usaha yang kita perbuat, tetapi Allah telah menciptakan
perbuatan-perbuatan bagi kita karena selanjutnya dikatakan, “10 ... kita ini karya
Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan perbuatan baik,…” dan simak, itu adalah karya Allah, karena dikatakan, “…yang telah dipersiapkan Allah
sebelumnya, agar kita harus berjalan
(hidup) di dalamnya.”
Bila Alkitab
memakai kata “berjalan” dalam bentuk kiasan, dalam bentuk simbolis, itu bicara tentang kelakuan
atau sikap kita. Di 1 Yohanes 2:6 dikatakan, kita “wajib juga berjalan sebagaimana Dia telah berjalan”.
Ini berkaitan
dengan kelakuan kita, berkaitan dengan sikap kita. Kelakukan kita tidak
menyelamatkan kita, tetapi ketika kita sudah diselamatkan, kita harus
memiliki kelakukan sebagaimana orang-orang yang sudah diselamatkan. Jadi ini
hal yang pertama, apa yang telah dilakukan Kristus bagi kita ialah Yesus telah
menyelamatkan kita dengan kasih karunia.
The
second element of the First Angel’s Message of the everlasting gospel is that Jesus lived a perfect life without sin. And
by doing that He weaved a robe of perfect righteousness, a perfect righteous
life because Jesus never sinned. I cannot offer that to the Law because “all have sinned and come short of the glory of God”. But Jesus came and in 33 years of His life, He never
sinned. He weaved a perfect robe of righteousness that we then can claim as our
own by faith. He lived a perfect life, not us. But we can claim His perfect life as our own. That's our response.
We're going to talk a little bit later about our response to what He does.
You
say, “Where does the Bible say that He lived a life without sin?”
Well,
2 Corinthians 5:21. And we're going to read that in our next, our third step of
the everlasting gospel as well. It says there in 2 Corinthians 5:21, “21 For He...” that is God the Father “... made Him...” Jesus “...who knew no sin...” so Jesus what? He knew no sin. He’s our High Priest. Never
sinned according to 2 Corinthians 5:21 and also Hebrews chapter 4. And by His perfect
obedience, He weaved a perfect robe of righteousness that we can then respond
to and claim as our own.
Unsur kedua dari
Pekabaran Malaikat Pertama tentang injil yang kekal ialah bahwa Yesus
menghidupkan suatu kehidupan yang sempurna tanpa dosa. Dan
dengan melakukan itu, Yesus merajut sebuah jubah kebenaran yang sempurna, suatu
kehidupan yang benar yang sempurna karena Yesus tidak pernah berbuat dosa. Saya
tidak bisa memberikan itu kepada Hukum “karena semua orang telah berbuat dosa dan gagal mencapai kemuliaan Allah”
(Roma
3:23). Tetapi Yesus
datang dan selama 33 tahun dari hidupNya, Dia tidak pernah berbuat dosa. Dia
telah merajut sebuah jubah kebenaran yang sempurna, yang kemudian bisa kita
klaim sebagai milik kita sendiri melalui iman. Yesus yang menghidupkan suatu
kehidupan yang sempurna, bukan kita, tetapi kita bisa mengklaim hidupNya
yang sempurna sebagai milik kita sendiri. Itulah respons kita. Nanti kita
akan bicara tentang respons kita terhadap apa yang Dia lakukan.
Kalian berkata, “Di mana
Alkitab mengatakan bahwa Yesus hidup tanpa berbuat dosa?”
Nah, 2 Korintus 5:21. Dan kita akan membaca ini juga di bagian kita yang
ketiga berikutnya dari injil yang kekal. Dikatakan di 2 Korintus 5:21, “21 Karena Dia…” yaitu Allah Bapa “…telah menjadikan Dia…” Yesus “…yang tidak mengenal dosa...” Jadi bagaimana Yesus? Dia tidak pernah berbuat dosa.
Dialah Imam Besar kita. Tidak pernah berbuat dosa menurut 2 Korintus 5:21 dan
juga Ibrani pasal 4. Dan oleh kepatuhanNya yang sempurna, Dia telah merajut
sebuah jubah kebenaran yang sempurna yang bisa kita respon dan bisa kita klaim
sebagai milik kita.
The
third aspect of the everlasting gospel is that Jesus took our guilt and suffered our penalty. It wasn't enough
that He weaved a perfect robe of righteousness. Somebody had to pay for our
guilt. And Jesus took our guilt upon Himself and He suffered our penalty. Notice
once again 2 Corinthians 5:21, the last part of the verse, it says, “21 For He...” that is God
the Father, “...made Him...” Jesus “...who knew no sin to be...” what? “...sin for us...” so He took our
guilt “...that we might
become the righteousness of God in Him...” He took our guilt and our punishment so that we could
be recognized as righteous in Him.
Aspek ketiga dari injil yang kekal ialah Yesus mengambil
kesalahan kita dan menderita hukuman dosa kita. Tidak cukup Dia
merajut sebuah jubah kebenaran yang sempurna. Harus ada yang membayarkan
kesalahan kita. Dan Yesus mengambil kesalahan kita pada DiriNya sendiri dan
menjalani hukuman dosa kita. Simak sekali lagi 2 Korintus 5:21, bagian akhir
ayat itu mengatakan, “21 Karena
Dia…” yaitu Allah Bapa “…telah menjadikan Dia…” Yesus “…yang tidak mengenal dosa menjadi…” apa? “…dosa untuk kita…” jadi Yesus
mengambil dosa kita “…supaya kita boleh menjadi kebenaran Allah di dalam Dia…” Dia mengambil dosa kita dan hukuman kita supaya kita boleh diakui
sebagai benar dalam Dia.
Now
the fourth thing that Jesus does for us is ~ and we'll come back to this in a
moment ~ is to intercede for us. He intercedes
for us.
Nah, hal keempat
yang dilakukan Yesus bagi itu ialah ~ nanti kita akan kembali kemari ~ menjadi
perantara bagi kita. Dia menjadi Perantara bagi kita.
However,
before we go to that particular step, let's read another couple of statements
in the Bible on this issue of Jesus taking our guilt and suffering our penalty.
Notice Isaiah 53:4-6. This is a great Messianic prophecy in the Old Testament
that pointed to the work of Jesus Christ. It says here, “4 Surely He has borne
our griefs and carried our sorrows; yet we esteemed Him
stricken, smitten by...” whom?
Who was Jesus punished by? By His own Father.
Wasn't He punished by His own Father? Yeah. Because He was bearing our guilt. So
it says, “...yet we esteemed
Him stricken, smitten by God, and afflicted. 5 But He was wounded for our
transgressions, He was bruised
for our iniquities; the chastisement for our peace was upon Him, and by His stripes we are healed. 6 All we like sheep have gone
astray; we have turned, every one, to his own way; and the Lord has laid on Him the
iniquity of us all.” That's
beautiful and yet ugly when we read what happened to Jesus as a result of
taking our guilt.
Namun sebelum kita melangkah ke sana, mari kita baca dua pernyataan lain
di Alkitab tentang isu Yesus mengambil dosa kita dan menjalani hukuman dosa
kita. Simak Yesaya 53:4-6. Ini adalah nubuatan besar Mesianik di Perjanjian
Lama yang menunjuk ke pekerjaan Yesus Kristus. Dikatakan di sini, “4 Sesungguhnya, Dia yang telah menanggung duka kita dan memikul kesedihan
kita; namun kita menganggap Dia kena pukul, dipukul oleh…” siapa? Yesus dihukum oleh siapa?
Oleh BapaNya sendiri. Bukankah Dia dihukum oleh BapaNya sendiri? Iya, karena
Dia sedang memikul dosa kita. Jadi dikatakan, “…namun kita menganggap Dia kena pukul,
dipukul oleh Allah, dan tersiksa. 5 Tetapi
Dia dilukai karena pelanggaran-pelanggaran kita, Dia dipukuli hingga memar karena kejahatan-kejahatan kita; hukuman demi pendamaian kita ditanggung olehNya, dan oleh
bilur-bilurnya kita disembuhkan. 6Kita
sekalian seperti domba yang tersesat, kita telah berbalik masing-masing mengambil jalannya
sendiri, dan TUHAN telah menimpakan
kepadaNya kejahatan kita semua.” Ini indah sekali, namun juga buruk bila kita baca
apa yang terjadi pada Yesus sebagai akibat mengambil dosa kita.
Notice
Galatians 3:13 on this same point. See, we've noticed first thing that Jesus
does is He weaves a perfect robe of righteousness by His perfect life. He saves
us by grace when we respond by faith. In the third place, He takes our guilt
and suffers our penalty. That's what we're looking at now. Galatians 3:13, Christ has redeemed us from the curse of the Law.
And some people say, “See, the Law is bad because it curses us.” But why
does it curse us? Because we've broken it. It's not the Law's fault. It's our
fault that we actually broke the Law.
Simak Galatia
3:13 tentang poin yang sama ini. Lihat, kita sudah melihat hal pertama yang
dilakukan Yesus adalah Dia merajut sebuah jubah kebenaran yang sempurna dengan
kehidupanNya yang sempurna. Dia menyelamatkan kita dengan kasih karunia ketika
kita merespon dengan iman. Di tempat ketiga, Dia mengambil dosa kita dan
menjalani hukuman dosa kita. Itulah yang sedang kita simak sekarang. Galatia
3:13 Kristus telah menyelamatkan kita dari kutukan Hukum.
Dan beberapa orang berkata, “Lihat, Hukum
itu jahat karena dia mengutuk kita.” Tetapi mengapa Hukum mengutuk kita?
Karena kita yang sudah melanggarnya. Bukan salah Hukumnya, tapi salah kita,
kita yang melanggar Hukum.
Let
me give you an illustration. You come to a corner where there's a red stop
light. What should you do? You said, “Stop”. What happens if you go
through the red light? You get pulled over and you get a ticket, right? And
we're going to come back to this. I'm going to give you an illustration
concerning this. You get a ticket. Does the Law curse you at that point? Yes. Does
the Law curse you? Yeah. The ticket is the curse, okay? So, what would you say?
What would happen if you said to the policeman, you know, “This problem can
be easily solved. Get rid of the stoplight.” Would that solve the problem?
See, getting rid of the Law is not the
problem. The problem is getting rid of the sin, which is transgression of the
Law. And so it says here, “13 Christ has redeemed us from the curse of the Law,...” how? “...having become
a curse for us...” He
took our curse upon Himself, our guilt, and therefore He suffered the curse. We
should have suffered it, but He suffered it in our place.
Saya akan memberi kalian sebuah ilustrasi. Kalau kita tiba di
persimpangan di mana ada lampu lalulintas. Apa yang harus kita lakukan? Kalian
berkata, “Berhenti”. Apa yang terjadi jika kita terabas
lampu merahnya? Kita ditilang dan kita mendapat tiket, benar? Kita nanti akan
kembali kemari. Saya akan memberi kalian sebuah ilustrasi tentang ini. Nah,
kita mendapat tiket. Apakah Hukum mengutuk kita pada saat itu? Ya. Tilang
itulah kutukannya, oke? Jadi, apa yang akan kita katakan? Apa yang akan terjadi
jika kita berkata kepada polisinya, “Masalah ini bisa diselesaikan dengan
mudah. Singkirkan saja lampu lalulintasnya.” Apakah itu akan menyelesaikan
masalahnya? Lihat, menyingkirkan Hukum itu tidak menyelesaikan
masalah. Masalahnya ialah menyingkirkan dosa, yang adalah pelanggaran Hukum.
Maka dikatakan di sini, “13 Kristus
telah menebus kita dari kutuk hukum…” dengan cara apa? “…dengan
menjadi kutuk bagi kita…” Dia mengambil kutuk kita
pada DiriNya, dosa kita, oleh karenanya Dia menanggung kutuk kita. Seharusnya
kita yang menanggung, tapi Dia yang menanggungnya menggantikan kita.
Let
me give you an illustration. Shortly after I arrived in Fresno Central Church,
where I pastored for the last 20 years of my denominational employment, one Wednesday evening, we had a fantastic prayer
meeting. I mean, it's still unforgettable in my mind these days. We sang, there
were testimonies, we studied the Word, we fellowshipped. My mind was in the
clouds when we finished prayer meeting. It was a great spiritual experience. I
got in the car, drove down to the corner to Clinton Avenue, took a right, went
up First Street, and I wasn't concentrating on the speed limit. And so I was
probably going about 60 miles an hour in a 45 mile zone. And soon behind me I
saw a patrol car with the lights on. Oww. So I pulled over.
And
the policeman came to the window and he said, “Good evening, Sir. Do you
know why I stopped you?”
I
said, “I think I do. I was exceeding the speed limit.”
He
says, “Yes, you were going 60 in a 45 mile zone.”
And
I apologized. I said, “I'm really sorry. You know, I had this wonderful
prayer meeting…” I told him the story, you know, and I told him about, you
know, the singing and the everything else. And it looked like he was a
Christian by his response.
And
so he says, “You know, when you drive, your brain should not be in the
clouds. It should be on Earth.”
And
I looked at him and said, “I know, Sir. I know I'm guilty. I should have been concentrating on the road.
You're right.”
So
then he looked at me. He said, “You know, I see that you're really sorry for
what you did. You know, I'm not going to give you a ticket. I'm going to let
you go.”
How
do you think I felt? Hallelujah. I don't have to pay a ticket. And so I drove
off. And then I got to thinking, this policeman did not do what he was supposed
to do. The purpose of the police is to punish transgressions of the Law. I
deserve the ticket. I should have paid for the ticket. He should have given me
a ticket.
You
say, “Are you crazy?”
I'm
trying to give an illustration here. His job is to enforce the Law and he didn't
enforce the Law. Now let me ask you, how could this policeman have enforced the
Law and at the same time shown grace and mercy towards me? I'll tell you how he
could have done it. He could have said, “Mr. Bohr, Pastor Bohr,” because I told him I was a pastor. “Pastor
Bohr, you know, I am a Law enforcement officer, and my responsibility is to
punish transgressions of the Law, and you’ve transgressed the Law. So, I have to give you a ticket. But I'll tell you
what I'm going to do. I'm going to go down to the court and I'm going to pay
your ticket.” Now, that doesn't happen in real life.
Let
me ask you, if he paid for the ticket, would the payment have been made? Would
what the Law requires have been fulfilled? But at the same time, would he have
shown mercy? Yes. Mercy and justice met together.
That
is an illustration of what Jesus does. The wages of sin is death. Death has to
be enforced. But how could Jesus show mercy and not only justice? He paid for
our ticket, so to speak. And in that way, justice and mercy were both
satisfied. So Jesus took our guilt and He suffered our penalty.
Saya akan
memberikan ilustrasi. Tidak lama setelah saya tiba di Fresno Central Church di
mana saya menggembala selama 20 tahun terakhir dari pekerjaan denominasi saya,
suatu Rabu malam ada kebaktian doa yang luar biasa di gereja kami. Sampai
sekarang itu masih tidak terlupakan dalam ingatan saya. Kami menyanyikan
pujian, ada kesaksian-kesaksian, kami mempelajari Firman, kami bersekutu.
Pikiran saya masih di awan-awan ketika kami menutup kebaktian doa itu. Itu
adalah pengalaman rohani yang hebat. Saya masuk ke mobil, mengendarainya hingga
ke perempatan Clinton Avenue, belok kanan, menanjak First Street dan saya tidak
memperhatikan batasan kecepatan. Maka rasanya saya berkendaraan sekitar 60 mil
per jam di zona yang 45 mil per jam. Dan tidak lama kemudian saya lihat di
belakang saya ada mobil patroli yang lampunya menyala. Oww. Jadi saya menepi.
Dan polisinya
menghampiri jendela dan dia berkata, “Selamat malam,
Pak. Tahukah Anda mengapa saya menghentikan Anda?”
Saya berkata, “Rasanya iya. Saya sudah melampaui batas kecepatan.”
Dia berkata, “Ya, Anda berkendaraan 60 mil di zona 45 mil.”
Dan saya minta
maaf. Saya berkata, “Saya sungguh menyesal. Saya pulang dari kebaktian doa
yang luar biasa ini…” saya ceritakan padanya kisahnya, dan saya beritahukan
dia tentang lagu-lagu pujiannya, dan semua yang lain. Dan tampaknya dari
responsnya dia seorang Kristen.
Maka dia
berkata, “Anda tahu, bila Anda sedang mengemudikan mobil,
pikiran Anda tidak boleh berada di awan-awan. Pikiran Anda harus ada di bumi.”
Dan saya
memandangnya dan berkata, “Saya tahu, Pak, saya tahu
saya salah. Seharusnya saya memperhatikan jalan. Anda benar.”
Maka dia
memandang saya dan dia berkata, “Nah, saya lihat
Anda benar-benar menyesali perbuatan Anda. Saya tidak akan memberi Anda tilang,
saya akan membiarkan Anda pergi.”
Menurut kalian
bagaimana perasaan saya? Halleluya, saya tidak harus membayar tilang. Maka saya
pergi. Kemudian saya mulai berpikir, polisi ini tidak melakukan tugas yang
seharusnya dia lakukan. Tujuan adanya polisi adalah untuk menghukum para
pelanggar Hukum. Saya layak kena tilang. Saya seharusnya membayar denda tilang
itu. Polisi itu seharusnya menilang saya.
Kalian berkata, “Anda waras?”
Saya sedang
memberikan sebuah ilustrasi di sini. Tugas polisi itu adalah menegakkan Hukum,
dan dia tidak menegakkan Hukum. Sekarang coba saya tanya, bagaimana polisi ini
bisa menegakkan Hukum dan pada waktu yang sama menunjukkan rahmat dan kemurahan
kepada saya? Saya beritahu kalian bagaimana polisi itu bisa melakukannya. Dia
bisa berkata, “Tuan Bohr, Pendeta Bohr,” karena saya mengatakan
kepadanya saya seorang pendeta, “Pendeta Bohr, Anda tahu saya adalah
seorang petugas penegak Hukum, dan tanggung jawab saya adalah menghukum para
pelanggar Hukum, dan Anda sudah melanggar Hukum, jadi saya harus menilang Anda,
tetapi saya beritahukan apa yang akan saya lakukan. Saya akan pergi ke
pengadilan dan saya akan membayarkan tilang Anda.” Nah, tentu saja ini tidak
terjadi di kehidupan nyata.
Coba saya tanya,
seandainya polisi itu membayarkan denda tilangya, apakah pembayarannya terjadi?
Apakah yang dituntut oleh Hukum lunas, tetapi pada waktu yang sama, apakah itu
akan membuktikan adanya rahmat? Ya, rahmat dan keadilan bertemu. Ini adalah sebuah
ilustrasi apa yang dilakukan Yesus.
Upah dosa itu
maut. Kematian harus dijalankan. Tetapi bagaimana Yesus bisa menunjukkan rahmat
dan bukan hanya keadilan? Dia yang membayarkan denda tilang kita, katakanlah
begitu. Dan dengan cara itu, keadilan dan rahmat sama-sama dipuaskan. Maka
Yesus yang mengambil dosa kita dan Dia yang menanggung hukuman dosa kita.
The
fourth thing that is involved in the everlasting gospel is He intercedes for us. Now, in order for
Jesus to be an intercessor, in order for Him to intercede or to mediate for us, He has to have three
characteristics according to the Bible.
1.
He has to be God because He has to represent us before God.
2.
He has to be man because He has to sympathize and understand us. And
3.
He has to be without sin because no sinner can represent us before God.
Hal keempat yang
terlibat dalam injil yang kekal ialah Dia menjadi Perantara kita.
Nah, supaya Yesus bisa menjadi Perantara, supaya Dia bisa memediasi untuk kita,
Dia harus memiliki tiga karakteristik menurut Alkitab.
1.
Dia haruslah Allah,
karena Dia harus mewakili kita di hadapan Allah.
2.
Dia haruslah Manusia
karena Dia harus bersimpati pada kita dan memahami kita. Dan
3.
Dia harus tanpa dosa
karena tidak ada manusia berdosa yang bisa mewakili kita di hadapan Allah.
Let's
prove those points from the Bible. Go with me to 1 John 2:1. Here the beloved
disciple wrote, “1My little children, these things I write
to you, so that you may not sin. And if anyone sins, we have…” what? “…an advocate with the Father, Jesus Christ the
righteous.” Was Jesus perfectly righteous? Does He have to be
perfectly righteous to be our advocate or our intercessor or our mediator? Yes.
It says here, He has to be without sin. Perfectly righteous.
Mari kita buktikan poin-poin ini dari Alkitab. Marilah bersama saya ke 1
Yohanes 2:1, di sini murid yang terkasih menulis, “1‘Anak-anakku, aku menulis ini
kepadamu, supaya kamu jangan berbuat dosa. Tetapi jika seorang berbuat dosa,
kita mempunyai…” apa? “…seorang Pembela pada Bapa yaitu Yesus Kristus, yang benar…” Apakah Yesus benar secara sempurna?
Apakah Dia harus benar secara sempurna untuk menjadi Pembela kita atau
Perantara kita atau Mediator kita? Ya. Dikatakan di sini, Dia haruslah tanpa
dosa. Benar secara sempurna.
Notice
Hebrews 4:15, the same point that He had to be righteous, He had to be without
sin to represent us. It says in Hebrews 4:15, “15 For we do not have
a High Priest who cannot sympathize with our weaknesses, but was in
all points tempted as we are, yet without sin.”
So,
does Jesus meet the qualification that the mediator has to be without sin? Perfectly
righteous. Yes.
Simak Ibrani 4:15, poin yang sama bahwa Dia haruslah benar, Dia haruslah
tanpa dosa untuk mewakili kita. Dikatakan di Ibrani 4:15, “15 Sebab kita bukan punya
seorang Imam Besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan
kita, melainkan yang dalam segala hal dicobai sebagaimana
kita dicobai, namun tidak berbuat dosa.”
Jadi apakah
Yesus memenuhi persyaratan bahwa Perantara itu haruslah tanpa dosa? Benar
secara sempurna. Ya.
Let's
go to one more text that proves that point. Hebrews 7:25 and 26. “25 Therefore He is
also able to save to the uttermost those who come to God through Him,...” Does
Jesus mediate for everybody in the world? No. Jesus
does not mediate for every person in the world. The text says, “...He is
also able to save to the uttermost those who come to God through
Him...” that doesn't include everyone. You have to come to God through Him, through our
Mediator. And then what kind of priest does He have to be? “...26 For such a High Priest was
fitting for us, who is holy, harmless,
undefiled, separate from sinners, and has become higher than the heavens...”
So is Jesus perfect and therefore can
mediate for us? Can He serve as our advocate? Yes.
Mari kita ke satu ayat lagi yang membuktikan poin ini. Ibrani 7:25-26. “25 Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan sepenuhnya mereka
yang datang kepada Allah melalui Dia…” apakah Yesus menjadi Perantara bagi
semua orang di dunia? Tidak. Yesus tidak menjadi Perantara
bagi setiap orang di dunia. Ayat ini berkata, “…Ia sanggup juga menyelamatkan
sepenuhnya mereka
yang datang kepada Allah melalui Dia…” ini tidak berarti semua orang termasuk. Orang itu harus
datang kepada Allah melalui Yesus, melalui Perantara kita. Lalu
Dia harus menjadi Imam macam apa? “…26 Sebab Imam Besar yang
demikianlah yang tepat bagi kita: yang kudus, tidak berniat jahat, tidak tercemar, yang terpisah dari orang-orang
berdosa, dan telah menjadi lebih tinggi
daripada segala langit…” Jadi apakah Yesus sempurna dan oleh
karena itu boleh menjadi Perantara kita? Bisakah Dia melayani sebagai Perantara
kita? Ya.
1
John 2:1 says He’s righteous. Hebrews 4:15 says He’s a High Priest without sin.
And here in Hebrews 7:25-26, it says He’s “holy, harmless, undefiled, and separate from sinners”.
And
some people say, “But pastor Bohr, if He’s separate from sinners, how can He
understand us?”
1 Yohanes 2:1
mengatakan Dia benar. Ibrani 4:15 mengatakan Dia Imam Besar tanpa dosa. Dan di
sini di Ibrani 7:25-26 dikatakan Dia “kudus, tidak berniat jahat, tidak tercemar, yang terpisah dari orang-orang
berdosa”.
Dan ada orang
berkata, “Tetapi Pastor Bohr, jika Dia terpisah dari
orang-orang berdosa, bagaimana Dia bisa memahami kita?”
Let
me give you an illustration. Do you know what quicksand is? Suppose you're sinking in quicksand. Who
would you rather have? Somebody sympathizing with you in the quicksand or
someone who is standing on solid ground? If Jesus was in the quicksand and He
sinked, He would be in our same plight. But praise the Lord that He faced all
the brunt of temptation and He was on solid ground, and therefore He can pull
us out from the quicksand. If He was in the quicksand of sin, He wouldn't be
able to help us.
Saya akan memberikan ilustrasi. Tahukah kalian apa itu
pasir hisap? Misalkan kita sedang tersedot dalam pasir hisap, siapa yang lebih
kita pilih? Seseorang yang bersimpati dengan kita di dalam pasir hisap itu atau
seseorang yang sedang berdiri di tanah yang padat? Andai Yesus ada di dalam
pasir hisap dan Dia sedang tenggelam, Dia senasib dengan kondisi kita. Tetapi
puji Tuhan Dia telah menghadapi pencobaan terberat dan Dia ada di tanah yang
padat, oleh karena itu Dia sanggup menarik kita keluar dari pasir hisap itu.
Andaikan Dia ada di dalam pasir hisap dosa itu, Dia tidak akan sanggup menolong
kita.
So,
we've noticed first of all that Jesus is qualified to intercede for us because He's
without sin. Secondly, He’s able to intercede for us, because He’s human. Notice
what we find in 1 Timothy 2:5. “5
For there is one God and one Mediator...”
how many gods? “...one God and one Mediator
between God and men, the Man Christ Jesus...”
Jadi kita sudah menyimak bahwa
pertama-tama Yesus memenuhi syarat untuk menjadi Perantara bagi kita karena Dia
tidak punya dosa. Kedua, Dia sanggup menjadi Perantara kita karena Dia Manusia.
Simak apa yang ada di 1 Timotius 2:5, “5 Karena ada satu Allah
dan satu Perantara…” berapa Allah? “…satu Allah dan satu Perantara antara
Allah dan manusia, yaitu Manusia Kristus Yesus.”
And
we just read a statement in Hebrews 4 where it says, “We don't have a High Priest
who can't sympathize with us”. Because He’s human, He suffered our temptations,
our trials. He didn't sin, but He certainly was tempted such as we are in all
points, the Bible says. So, He can understand us because He’s not only God and
can represent us before God, He’s also Man and He can sympathize with us.
Dan kita baru saja membaca pernyataan di Ibrani 4:15
di mana dikatakan, “kita
bukan punya seorang Imam Besar yang tidak bisa bersimpati pada kita”. Karena
Dia Manusia, Dia telah mengalami pencobaan-pencobaan kita, ujian-ujian kita.
Dia tidak berbuat dosa, tetapi Dia sungguh-sungguh dicobai seperti kita di
segala bidang, kata Alkitab. Jadi, Dia bisa memahami kita karena Dia bukan
hanya Allah dan bisa mewakili kita di hadapan Allah, Dia juga Manusia, dan Dia
bisa bersimpati dengan kita.
Now,
what about the third qualification? And the third qualification is that He is without sin. All three.This is the reason why a human priest can never
intercede before God for us. A mere human priest. The Roman Catholic
Church is a counterfeit because it says that you go and you confess your sins
to the priest and the priest gives you forgiveness. He says “Ego te absolvo”,
in other words, “I forgive you.” He can't be our mediator before God
because the only qualification he meets is that he’s man, but he’s not God and
he’s not sinless. Therefore, he cannot represent us before God. The Bible says
we have “one Mediator between God and man: Jesus
Christ the Man”, Jesus Christ the righteous, and Jesus
Christ who never sinned.
So
Roman Catholicism is a counterfeit system. That's why when we show the
everlasting gospel to a Roman Catholic, we say, “Who do you confess your
sins to?”
“Oh,
I go to the confessional to the priest.”
“Well,
do you know that that's a false gospel?”
And then we show them this. “Is your priest God?”
“No.”
“Is
your priest sinless?”
“No.”
“Well,
then he can't represent you before God.”
Sekarang bagaimana dengan syarat ketiga? Dan syarat
ketiga ialah Dia tidak punya dosa. Semua
ketiga-tiganya. Inilah alasannya mengapa seorang imam manusia
tidak pernah bisa menjadi perantara di hadapan Allah bagi kita.
Seorang yang hanya imam manusia. Gereja Roma Katolik itu palsu karena dia
mengatakan orang harus pergi dan mengakui dosanya kepada seorang imam yang
memberinya pengampunan. Imam itu berkata,
“Ego te absolvo”
dengan kata lain “aku mengampunimu”. Dia tidak bisa menjadi perantara
kita di hadapan Allah karena satu-satunya persyaratan yang dipenuhinya ialah
dia seorang manusia. Tetapi dia bukan Allah dan dia tidak tanpa dosa. Itulah
sebabnya dia tidak bisa mewakili kita di hadapan Allah. Alkitab mengatakan kita
punya “satu Perantora antara Allah dengan
manusia: Manusia Kristus Yesus”, Yesus Kristus yang benar, dan Yesus Kristus yang
tidak pernah berdosa.
Jadi Roma Katolikisme adalah sistem yang palsu. Itulah
mengapa ketika kita menunjukkan injil yang kekal kepada seorang Roma Katolik,
kita katakan, “Kepada siapa kau
mengakui dosa-dosamu?”
“Oh, saya ke ruang pengakuan dosa, kepada imam.”
“Nah, tahukah bahwa itu injil yang palsu?” Lalu
tunjukkanlah ini kepadanya, “Apakah imammu Allah?”
“Tidak.”
“Apakah imammu tidak punya dosa?”
“Tidak.”
“Nah, kalau begitu dia tidak bisa mewakilimu di
hadapan Allah.”
By
the way, Jesus is the ladder that connects
heaven and earth. Remember Genesis 28:12. Let's read Genesis 28:12. The
dream that Jacob had. It says, “ 12 Then
he dreamed, and behold, a ladder was set up on the earth, and its top reached to heaven; and
there the angels of God were ascending and descending on it.” So here you find a ladder. By the way, the ladder is rooted
where? On earth, but it reaches to
where? To the high heaven. Jesus is Man.
Jesus is God. That's the ladder. And angels are ascending and
descending upon the ladder.
You
say, “Well, what does this represent?”
Jesus
Himself explained in John 1:51, Jesus said, “I'm the ladder.” “51 And He said to him, ‘Most assuredly, I say to you, hereafter you shall see heaven open, and
the angels of God ascending and descending upon the Son of Man.’” Do
you know that when we pray to God, the angels take our prayer to God? Do you
know that when God sends His answers, He sends angels with the answers to our
prayers? You find that in Daniel. Daniel is praying and God sends Gabriel to
answer what Daniel is looking for.
The
angels have a very important role to play in our prayer to God. And by the way,
this is the reason why on the veil between the Holy and the Most Holy place,
there were cherubim, which are angels, ascending and descending on the veil. Right
in front of the veil was the altar of incense. And when incense was mingled
with the fire, the smoke ascended upward on the veil, over the veil into the
presence of God. The incense represents the
merits of Christ that is mingled with our prayer. And the result is
that our prayers are fragrant to God. Wow. And the reason why you have angels
ascending and descending on the veil is because the angels take our prayers to the Lord and then they bring God's
answers back to us. They're the emissaries of Christ in taking our
prayers and bringing answers to our prayers.
Nah, Yesus adalah tangga yang
menghubungkan antara langit dan bumi. Ingat Kejadian 28:12. Mari
kita baca Kejadian 28:12. Mimpi Yakub. Dikatakan, “12 Lalu ia bermimpi, dan lihatlah, sebuah tangga didirikan di bumi dan bagian atasnya mencapai ke
langit, dan di sana malaikat-malaikat Allah naik
turun padanya.” Jadi di sini ada sebuah
tangga. Nah, tangga itu berakar di mana? Di bumi. Tetapi mencapai ke mana? Ke
langit yang mahatinggi. Yesus adalah Manusia. Yesus adalah Allah. Itulah
tangganya. Dan para malaikat naik dan turun pada tangga itu.
Kalian berkata, “Ini
melambangkan apa?”
Yesus sendiri menjelaskannya
di Yohanes 1:51, Yesus berkata, “Akulah tangga itu”, “51 Lalu kata Yesus
kepadanya: ‘Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, sesudah ini engkau akan melihat langit terbuka
dan malaikat-malaikat Allah naik turun pada
Anak Manusia.” Tahukah kalian ketika kita berdoa kepada Allah, para malaikat yang
membawa doa kita kepada Allah? Tahukah kalian ketika Allah memberikan
jawabanNya, Dia mengutus malaikat-malaikat dengan jawaban-jawaban untuk doa-doa
kita? Kita temukan itu di Daniel. Daniel sedang berdoa dan Allah mengutus
Gabriel untuk memberi jawaban yang dicari Daniel.
Para malaikat punya peranan
yang sangat penting terkait doa kita kepada Allah. Dan inilah alasannya mengapa
pada tabir antara Bilik Kudus dan Bilik Mahakudus ada kerubim ~ yaitu
malaikat-malaikat ~ naik dan turun pada tabir itu. Tepat di depan tabir ialah
mezbah ukupan. Dan ketika kemenyan dicampurkan dengan apinya, asapnya naik ke
atas tabir itu, melewati tabir itu ke dalam hadirat Allah. Kemenyan
melambangkan jasa-jasa Kristus yang dicampurkan dengan doa kita. Dan hasilnya
ialah doa-doa kita menjadi bau-bauan yang harum bagi Allah. Dan alasannya
mengapa malaikat-malaikat naik turun di tirai itu ialah para
malaikat yang membawa doa-doa kita kepada Tuhan kemudian mereka membawa jawaban
Allah kembali kepada kita. Mereka adalah utusan-utusan Kristus dalam membawa
doa-doa kita dan membawa jawaban-jawaban doa-doa kita.
So
this is the everlasting gospel. This
is what people need to understand first. Okay? Before anything else in the
Three Angels’ Messages.
Jadi inilah Injil yang
kekal. Inilah yang perlu dipahami orang lebih dulu. Oke? Sebelum
segala yang lain dalam Pekabaran Tiga Malaikat.
Let's
not begin with the Sabbath and say the Sabbath is the seal of God and Sunday
observance is the mark of the Beast ~ at the end of time of course, nobody has
the mark of the Beast right now ~ because they're going to be turned off. But
once they understand the everlasting gospel, take a Roman Catholic for example,
they're going to say, “Oh, now wait a minute. We're told that we by our pilgrimages and by giving money, you
know, we can earn merits with God. But I just learned that it's not by works,
it's by grace. And I have a priest, a human priest who represents me. But a
mere human priest who is a sinner and not God, can't represent me. Oh, and by
the way, in my church, they teach that at every mass, Jesus is sacrificed all
over again. I'm in the wrong place. I’d better get out.” They're ready for
the Second Angel’s Message. Are you with me or not? They have to have a reason
to get out. But the First Angel’s Message
gives them the reason for getting out.
Kita jangan
mulai dengan Sabat dan mengatakan Sabat itu meterai Allah dan pemeliharaan hari
Minggu itu tanda Binatang ~ pada akhir zaman tentunya, sekarang ini tidak ada
yang punya tanda Binatang ~ karena itu akan membuat mereka menjauh. Tetapi
begitu mereka paham tentang injil yang kekal, misalnya pada seorang Roma
Katolik, mereka akan berkata, “Oh, tunggu
dulu. Kami diberitahu bahwa dengan ziarah-ziarah kami dan dengan memberikan
uang, kami bisa mendapatkan kebaikan dari Allah. Tetapi saya baru mengerti bahwa
itu bukan melalui perbuatan, itu melalui kasih karunia. Dan saya punya seorang
imam, seorang imam manusia yang mewakili saya.
Tetapi seorang imam yang hanya manusia adalah seorang pendosa dan bukan
Allah, dia tidak bisa mewakili saya. Oh, dan di gereja saya mereka mengajarkan
bahwa di setiap misa, Yesus dikorbankan lagi. Saya ada di tempat yang salah.
Sebaiknya saya keluar.” Mereka sudah siap menerima Pekabaran Malaikat Kedua.
Apakah kalian mengikuti saya atau tidak? Mereka harus punya alasan untuk keluar.
Pekabaran Malaikat Pertama memberi mereka alasannya untuk keluar.
And
then the Third Angel’s Message says, “If you don't get out, then the wrath
of God is going to fall upon you. And
God doesn't want that.”
Some
people say, “Oh, you know, that's so mean.”
You
know what would be mean? If God didn't warn you, that would be mean. God's
warnings are a blessing. They're not a curse like many people believe.
You
know and some say, “Don't talk about
the Third Angel’s Message, the wrath of God and the plagues and
everything. Let's not, let's talk about how good God is.” Yeah, God is
good. God is loving. God is merciful. But God is also just. We should not pit
His justice against His mercy because He’s both. He’s just and Justifier
according to the Bible.
Lalu Pekabaran
Malaikat Ketiga mengatakan, “Kalau kamu
tidak keluar, maka murka Allah akan jatuh ke atasmu. Dan Allah tidak
menghendaki itu.”
Ada orang yang
berkata, “Oh, itu kejam sekali.”
Tahukah kalian
apa yang benar-benar kejam? Andai Allah tidak memperingatkan kita, itu baru
kejam. Peringatan-peringatan Allah adalah suatu berkat. Itu bukanlah suatu
kutukan seperti yang disangka banyak orang.
Kalian tahu ada
yang berkata, “Jangan bicara tentang Pekabaran Malaikat Ketiga,
murka Allah, dan malapetaka-malapetaka dan segalanya itu. Jangan. Marilah kita
bicara tentang betapa baiknya Allah.” Iya, Allah itu baik, Allah itu
mengasihi, Allah itu penuh rahmat. Tetapi Allah juga adil. Kita jangan membenturkan
antara keadilanNya dengan rahmatNya karena Allah adalah kedua-duanya. Allah itu
adil dan Pembenar menurut Alkitab.
Now,
many people stop at verse 6 of the First Angel’s Message, but there's also
verse 7. Verse 7 will tell us how God wants us to respond to what Jesus has
done. Are you following me or not? Amen. In other words, First Angel’s Message, the everlasting gospel is
what Jesus does for us. Verse 7 tells us what we should do in response to what
Jesus has done for us.
Nah, banyak
orang berhenti di ayat 6 dari Pekabaran Malaikat Pertama, tetapi ada ayat
7. Ayat 7 memberitahu kita bagaimana
Allah ingin kita merespon kepada apa yang telah dilakukan Yesus. Apakah kalian
mengikuti saya atau tidak? Amin. Dengan kata lain, Pekabaran Malaikat
Pertama, injil yang kekal ialah apa yang Yesus lakukan bagi kita. Ayat 7
memberitahu kita apa yang harus kita lakukan untuk merespon apa yang telah
dilakukan Yesus bagi kita.
In
verse 7, there are three imperatives. Do you know what an imperative is? It's
an order. It's a command. And there are
three commands in verse 7 which should be our response to what Jesus
does for us.
1.
The first is “fear God”.
2.
The second imperative is “give glory to Him”.
3.
And the third imperative is “worship Him” as the Creator.
Those
are commands of what we should do in response to what Christ does and has done.
So let's deal with these three commands, these three orders or these three
imperatives.
Di ayat 7, ada
tiga imperatif. Tahukah kalian imperatif itu apa?? Itu sebuah tugas. Itu sebuah
perintah. Dan ada tiga perintah di ayat 7 yang harus
menjadi respons kita untuk apa yang dilakukan Yesus bagi kita.
1.
“Takutlah akan
Allah”.
2.
“Muliakanlah
Dia”.
3.
Dan “sembahlah Dia” sebagai
Sang Pencipta.
Itulah
perintah-perintah apa yang harus kita lakukan sebagai respons kepada apa
yang sedang dilakukan dan telah
dilakukan Kristus bagi kita. Jadi mari kita bahas ketiga perintah ini, ketiga tugas
atau ketiga imperatif ini.
The First Command
Let's
deal first of all with what it means to “fear God”. The Bible says that children should
fear their parents. Leviticus 19:3. That doesn't mean that children should be
afraid of their parents. It means that they owe
their parents reverence, respect and obedience. Those who fear God are
obedient to God. They obey God's commands. So fear
God is connected with obedience to God's Law. Let me give you several
real life examples that are mentioned in the Bible of what it means to fear
God.
Perintah Pertama
Mari kita bahas
lebih dulu apa artinya “takut akan
Allah”. Alkitab mengatakan bahwa anak-anak harus takut akan
orangtua mereka. Imamat 19:3. Itu tidak berarti anak-anak harus ketakutan pada
orangtua mereka. Itu artinya mereka harus memberikan penghormatan,
respek, dan kepatuhan kepada orangtua mereka. Mereka yang takut
akan Allah, patuh kepada Allah. Mereka mematuhi perintah-perintah Allah. Jadi takut
akan Allah itu terkait kepada penurutan kepada Hukum Allah. Saya
akan memberikan beberapa contoh dari kehidupan nyata yang disebutkan di Alkitab
tentang apa artinya takut akan Allah.
You
remember that once Abraham was down in the region of Egypt and he went through
the city of Gerar and the king there was named Abimelech. And Abraham ~
evidently his wife was very beautiful ~ so Abraham says you know, “If I tell
these people that she's my wife, they're going to kill me and they're going to
take her and you know, I'm going to cease to exist. So I'll just tell them a
half-truth…” A half truth is a full lie. So he says, “…Sarah is my
sister…” to save his skin. And God gives Abimelech a dream and He says, “Abraham didn't tell you the whole truth and
nothing but the truth. So help Him God. She's also his wife. And if you take
her as a wife, you are going to be cursed and all of you are going to be
destroyed in the city of Gerar.” And
so Abimelech wakes up and he goes to Abraham. Let's read the story as it's in
the Bible now.
Kalian ingat
suatu kali Abraham ada di daerah Mesir dan dia melewati kota Gerar, dan rajanya
di sana bernama Abimelekh. Dan Abraham ~ yang faktanya istrinya sangat cantik ~
Abraham berkata, “Jika aku katakan kepada orang-orang ini bahwa dia
istriku, mereka akan membunuhku dan mengambilnya, dan aku akan mati. Jadi aku
akan katakan saja setengah kebenaran…” setengah kebenaran itu seratus persen
kebohongan. Jadi Abraham berkata, “Sarah itu saudaraku…” untuk
menyelamatkan dirinya. Dan Allah memberi Abimelekh mimpi dan Dia berkata, “Abraham
tidak mengatakan seluruh kebenaran dan hanya kebenaran, biarlah Allah yang
menolongnya. Sarah itu juga istrinya. Dan jika kamu mengambilnya sebagai istri,
kamu akan dikutuk dan kalian semua di kota Gerar akan dibinasakan.” Maka
Abimelekh terjaga dan dia pergi ke Abraham. Mari kita sekarang baca kisahnya
seperti yang tertulis di Alkitab.
Genesis
20:8-11, “8 So Abimelech rose early in the morning, called all his servants,
and told all these things in their hearing…” he told them the dream
that he had had “…and the men were very much afraid. 9 And Abimelech called
Abraham and said to Him, ‘What have you done to us? How have I offended
you, that you have brought on me and on my kingdom a great sin? You have
done deeds to me that ought not to be done.’ 10 Then Abimelech said to Abraham, ‘What did you have in view, that
you have done this thing?’ 11 And
Abraham said, ‘Because I thought, surely the fear of God is not in this place;
and they will kill me on account of my wife…” See,
when there's no fear of God, there's danger of being killed. A violation of the
sixth Commandment. Are you with me? But where the fear of God is, your life is
secure.
Kejadian 20:8-11, “8 Maka Abimelekh bangun
pagi-pagi dan memanggil semua hambanya dan memberitahukan semua hal itu kepada mereka…” dia memberitahu mereka tentang mimpinya, “…dan orang-orang itu sangat ketakutan. 9
Kemudian Abimelekh memanggil Abraham dan berkata kepadanya, ‘Apa yang telah kaulakukan kepada
kami? Bagaimana aku telah menyinggungmu
sehingga engkau mendatangkan suatu dosa
besar atas diriku dan kerajaanku? Engkau telah berbuat kepadaku hal-hal yang tidak patut dilakukan.’ 10 Dan Abimelekh berkata kepada Abraham, ‘Apa yang ada dalam rencanamu sehingga engkau
melakukan hal ini?’ 11Dan Abraham berkata, ‘Karena aku berpikir sesungguhnya takut akan Allah tidak ada di tempat ini; dan mereka akan membunuhku oleh karena
isteriku.’…” Lihat, bilamana
tidak ada takut akan Allah, ada bahaya dibunuh, pelanggaran Perintah Keenam.
Apakah kalian mengikuti saya? Tetapi di mana ada takut akan Allah, hidup kalian
aman.
Let's notice
another real life example. You have the
story of Abraham when he took his son to sacrifice his son on Mount Moriah. Let's
read the story in Genesis 22:1 and 2, and then we'll jump to verse 9. “1 Now it came to pass after these
things that God tested Abraham, and said to him, ‘Abraham!’ And he said, ‘Here I am.’ 2 Then He said, ‘Take now your son, your only son...” By the way, the word “only” really means your “unique” son because he’s the son of the promise. He had another son. Didn't
he have another? Ishmael. He had another son. But this is the unique son, the covenant son, “...Isaac, whom you love, and
go to the land of Moriah, and offer him there as a burnt offering on
one of the mountains of which I shall tell you.’...” “Take your son, your only son whom you love” does that sound familiar? That's the relationship
between the Father and the Son in the Godhead. Verse 9, “...9 Then they came to the place of which God had told him. And
Abraham built an altar there and placed the wood in order; and he bound Isaac
his son and laid him on the altar, upon the wood. 10 And Abraham stretched
out his hand and took the knife to slay his son...” the son of the promise. “…11 But the Angel of
the Lord called to him from heaven and said, ‘Abraham, Abraham!’ So he said, ‘Here I am.’ 12 And He said, ‘Do not lay your hand on the lad,
or do anything to him; for now I know that you fear God...” Let me ask you, “fearing God”,
did that involve obedience? To the most absurd request of God, humanly
speaking, he was obedient, because he feared God. “Fearing God” means obedience to God, to His commands.
Mari kita simak contoh lain di kehidupan nyata. Kalian tahu kisah
Abraham ketika dia membawa anaknya untuk dikurbankan di Gunung Moria. Mari kita
baca kisahnya di Kejadian 22:1-2 kemudian kita akan loncat ke ayat 9, “1
Kemudian setelah hal-hal ini, Allah menguji Abraham, dan
berfirman kepadanya, ‘Abraham,’ Dan dia
berkata, ‘Di sini aku.’ 2 Lalu Allah berfirman, ‘Bawalah sekarang anakmu, anakmu satu-satunya…” nah, kata “satu-satunya” sebenarnya berarti
anakmu yang “unik” karena dialah anak perjanjian.
Abraham punya anak yang lain, bukankah dia punya anak lain? Ismael. Dia punya
anak yang lain. Tetapi ini adalah anaknya yang unik (= tidak ada duanya), anak
perjanjian, “…Ishak, yang engkau kasihi, dan pergilah
ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan
kepadamu.’…” “Bawalah anakmu, anakmu satu-satunya yang engkau kasihi” apakah ini
terdengar familier? Inilah hubungan antara Bapa dan Anak dalam Keallahan. Ayat
9, “…9 Lalu tibalah mereka di tempat yang
dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan sebuah mezbah di situ, dan menyusun
kayu sesuai aturannya, dan dia mengikat Ishak, anaknya, dan meletakkan dia di mezbah itu, di
atas kayu api. 10 Dan Abraham
mengulurkan tangannya, dan mengambil pisau
untuk menyembelih anaknya…” anak perjanjian. “…11 Tetapi Malaikat TUHAN berseru kepadanya dari
langit dan berkata, ‘Abraham, Abraham!’ Maka ia berkata, ‘Aku di sini.’ 12 Dan Dia berfirman, ‘Jangan sentuh
anak itu atau melakukan apa pun padanya,
sebab Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah,…” coba saya tanya apakah “takut akan
Allah” melibatkan kepatuhan? Bahkan kepada permintaan Allah yang paling tidak
masuk akal sekali pun, dari sudut pandang manusia, Abraham patuh, karena dia
takut akan Allah. “Takut akan Allah” berarti patuh kepada Allah,
kepada perintah-perintahNya.
You
remember the midwives in Egypt? Pharaoh had said, “Kill all of the male
children that are born.” But the midwives
didn't. They chose to obey God. Why did they choose to obey God? Let's read Exodus 1:15-17. “15 Then the king of Egypt spoke to the Hebrew midwives...” this is Pharaoh,
“...of whom the name of one was Shiphrah and the name of the
other Puah; 16 and he said, ‘When you do the
duties of a midwife for the Hebrew women, and see them on the birthstools, if it is a son, then you shall kill him; but if it is a daughter, then she shall
live.’ 17 But
the midwives...” what?
“...feared God...” they didn't obey Pharaoh. They obeyed God, they “...feared God and did
not do as the king of Egypt commanded them, but saved the male children
alive...” And by the way, they were risking their
own lives if Pharaoh discovered what they were doing.
What
about Job? Did Job fear God? Yes. It says in Job 1:8, “8 Then the Lord said to Satan, ‘Have you
considered My servant Job, that there
is none like Him on the earth, a blameless and upright man, one who
fears God and...” does
what? “...shuns evil?’” By
the way, what is evil? It's transgression of God's Commandments. That's evil.
Bagaimana dengan Ayub? Apakah Ayub takut akan Allah? Ya. Dikatakan di
Ayub 1:8, “8 Lalu TUHAN
berkata kepada Setan, ‘Sudahkah engkau mempertimbangkan hamba-Ku Ayub, bahwa tiada
seorang pun seperti dia di bumi, seorang yang
tidak bercacat dan benar, yang takut
akan Allah dan…” berbuat apa? “…menjauhi kejahatan?’…” Nah, kejahatan itu apa? Itu adalah
pelanggaran Perintah-perintah Allah. Itulah kejahatan.
God
told Noah to build an ark on dry land when it had never rained. What did Noah
do? He said, “Go get the hammers and the nails and the saws. Let's cut down
the trees and get the wood” and do what appears to be ridiculous and absurd,
because God said so. Notice Hebrews 11:7. “The fear of God” is used here. “7 By faith Noah, being
divinely warned of things not yet seen, moved with godly fear...” Did Noah fear God? How did he show he feared God? By
obedience. To the most absurd and apparently ridiculous command of God. So fearing God means respectful obedience to God no
matter what He asks us to do. God's people at the end, are they going
to keep the Commandments of God according to the book of Revelation?
Absolutely. And so it says, he “...moved with godly fear, prepared an ark for the saving of
his household, by which he condemned the world and became heir of the
righteousness which is according to faith.”
Allah menyuruh Nuh membangun sebuah bahtera di daratan ketika di masa
itu tidak pernah ada hujan. Apa yang dilakukan Nuh? Dia berkata, “Pergi ambil palu-palu dan paku-paku dan gergaji-gergaji. Ayo kita
potong pohon-pohon dan ambil kayunya” dan melakukan apa yang tampak aneh dan
tidak masuk akal, karena Allah yang mengatakan demikian. Simak Ibrani 11:7.
“Takut akan Tuhan” dipakai di sini. “7 Karena iman,
Nuh setelah diperingatkan Allah tentang hal-hal yang belum
kelihatan, bertindak dengan takut akan Allah,…” apakah Nuh takut akan Allah?
Bagaimana dia menunjukkan bahwa dia takut akan Allah? Melalui kepatuhannya.
Patuh kepada perintah Allah yang paling aneh dan tampak tidak masuk akal. Jadi takut
akan Allah berarti kepatuhan dengan hormat, kepada apa pun yang Allah suruh
kita lakukan. Menurut kitab Wahyu, umat Allah di akhir masa,
apakah mereka akan mematuhi Perintah-perintah Allah? Betul sekali. Maka
dikatakan, Nuh “…bertindak dengan takut akan Allah, mempersiapkan sebuah
bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; dengan
tindakan mana ia telah menghukum dunia dan menjadi ahliwaris kebenaran, sesuai dengan iman.”
Let's
notice a few other verses that defined what fearing God means, the first
command in the First Angel’s Message. Notice Job 28:28. It's going to define
what the fear of the Lord is, the fear of God, “28 And to man He said, ‘Behold, the fear of the Lord, that is wisdom, and to depart from evil is understanding.’” This is what you call a synonymous parallelism which is how the Hebrews
would write poetry. They would write one line, and then they would repeat the
same idea in the second line in different words. So in other words “the fear of the Lord that is wisdom” is parallel to “depart from evil is understanding”. So what is the
fear of God? To depart from evil. And what is evil? Sin. And what is sin? Transgression
of the Law.
Mari kita simak
beberapa ayat lain yang menggambarkan apa makna takut akan Allah, perintah
pertama di Pekabaran Malaikat Pertama. Simak Ayub 28:28, ini akan
mendefinisikan apa artinya takut akan Tuhan, takut akan Allah, “28 tetapi kepada manusia Ia berfirman: ‘Lihatlah, takut akan Tuhan, itulah hikmat, dan
menjauhi kejahatan itulah akal budi.’” Ini yang disebut paralelisme
sinonim, yaitu cara orang Ibrani menulis puisi. Mereka menulis satu baris,
kemudian mereka akan mengulangi konsep yang sama di baris kedua dengan
kata-kata yang berbeda. Maka “takut akan Tuhan, itulah hikmat” itu paralel
dengan “menjauhi kejahatan itulah akal budi”. Jadi “takut
akan Allah” itu apa? “Menjauhi kejahatan”. Dan apa itu
“kejahatan”?
Dosa. Dan apa itu “dosa”? Pelanggaran Hukum Allah.
Notice
Proverbs 8:13. I'm only taking a
sampling. The Old Testament is filled with references to “the fear of God”
being obedient to God. Proverbs 8:13, it says, “13The fear of the Lord is to hate evil...” That's an
amazing statement, isn't it? “The
fear of the Lord is to hate evil…”
Simak Amsal 8:13, saya hanya mengambil beberapa contoh. Perjanjian Lama
itu berisikan banyak rujukan “takut akan Allah” sebagai patuh kepada Allah.
Amsal 8:13 mengatakan, “13 Takut akan
TUHAN ialah membenci yang jahat…” ini adalah pernyataan yang
mengagumkan, bukan? “…13 Takut akan TUHAN ialah membenci yang
jahat...”
And
then notice Ecclesiastes 12:13 and 14. This is the conclusion of the book of
Ecclesiastes. Here Solomon is saying, “If you missed the point that I was
trying to make in the whole book, here's the summary. Here's what I want you to
understand.” “13 Let us hear the conclusion of the whole matter: Fear God and
keep His Commandments, for this is man’s all...” or some versions say “this is the whole duty of man”. And then comes the idea of judgment. “...14 For God will bring every
work into judgment, Including every secret thing, whether good or evil.”
Lalu simak Pengkhotbah 12:13-14, ini adalah kesimpulan kitab
Pengkhotbah. Di sini Salomo berkata, “Jika kalian
melewatkan poin yang berusaha aku tunjukkan di seluruh kitab, inilah
kesimpulannya, inilah yang aku mau kalian pahami.” “13Mari kita dengarkan kesimpulan dari semua ini ialah: takutlah
akan Allah dan peliharalah perintah-perintah-Nya, karena inilah segala-galanya…” atau beberapa versi mengatakan “…ini adalah seluruh kewajiban setiap orang…” Lalu muncul konsep penghakimannya. “…14Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke penghakiman, termasuk setiap hal yang
rahasia, entah itu baik, entah itu jahat.”
By
the way, this is a New Testament concept as well. In Hebrews 12:28 and 29 it
says, “28 Therefore, since we are receiving a kingdom which cannot be
shaken, let us have grace, by which we may serve God acceptably with
reverence and godly fear...”
What do we do? We serve God with reverence and godly fear.
Nah, ini juga konsep di Perjanjian Baru. Di Ibrani 12:28-29 dikatakan, “28 Jadi, karena kita akan
menerima kerajaan yang tidak bisa digoncang, marilah kita mengucap syukur dengan mana kita boleh beribadah kepada Allah
menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut akan Allah…” apa yang kita lakukan? Kita beribadah kepada Allah dengan hormat dan
takut akan Allah.
So
what does the command “fear God” mean? It means
rendering God obedience to His commands even when they appear to be absurd, and
have no reason, and are impossible. God says, “Obey Me. Shun evil.
Hate evil. Fear God.” So that's the
first command.
Jadi apa makna
perintah “takutlah akan Allah”? Itu artinya memberikan kepada Allah kepatuhan kepada
Perintah-perintahNya, walaupun tampaknya aneh, dan tidak beralasan, dan
mustahil. Allah berkata, “Patuhilah Aku.
Jauhi kejahatan. Bencilah kejahatan. Takutlah akan Allah.” Jadi inilah
perintah yang pertama.
The Second Command
The
second command is “give glory to God”. How can we do that? We don't have any glory to give
God. The book of Romans says we have “come
short of the glory of God”. I
like the Spanish translation: “destituidos
de la gloria de Dios" We are “destitute of the glory of God”. We have no glory to give because we're sinners. So
how can we give glory to God? Well, let's pursue that.
Perintah Kedua
Perintah yang
kedua ialah “muliakanlah Allah”. Bagaimana kita bisa melakukan itu? Kita tidak punya kemuliaan apa pun
untuk diberikan kepada Allah. Kitab Roma mengatakan kita “gagal mencapai kemuliaan Allah”
(Roma 3:23). Saya suka terjemahan bahasa Spanyolnya: “destituidos de la gloria de Dios" kita
“miskin kemuliaan Allah”. Kita tidak punya kemuliaan yang
bisa kita berikan karena kita adalah orang-orang berdosa. Jadi bagaimana kita
bisa memberikan kemuliaan kepada Allah? Nah, mari kita bahas
itu.
Go
with me to Exodus 33:18 and 19. We need to understand what the glory of God is.
Exodus 33:18 and 19. Here Moses is at the top of the mountain and he’s having a
conversation with Jesus. This is Jesusl, we're going to find a little bit later
on. And Moses is going to make a strange request. It says there, “18 And he said…” to God, “…‘Please, show
me Your glory.’...” What a request, “…Show me Your glory…” What did Jesus show him? A radiant light, a bright
light? No, it continues saying verse 19, “...19 Then He said...” God says, “...‘I will make all
My goodness pass before you, and I will proclaim the name of the Lord before you...” In the Bible, the name is an indication of the
character of the person. My parents
gave me the name Stephen Paul. I have the name of the martyr and the
martyrizer. And my parents ~ all the time I was growing up ~ reminded me why
they gave me that name. Because they wanted me to reflect that name. They said,
“We want you to be a preacher to bring souls to the feet of Christ like
Paul. And we want you to have the faithfulness even unto death of Stephen.”
And as I grew up, that was constantly placed in my mind by my parents. The name
indicated the character that they wanted me to have. And so when it says here, “...‘I will make all
My goodness pass before you, and I will proclaim the name of the Lord before you...” “I'm going to show you My character,” is what He’s saying. “...I will be gracious...” Notice goodness, “...I will be gracious to whom I will be gracious, and I
will have compassion on whom I will have compassion.’” God is showing His character to Moses. This is
expanded in the next chapter.
Mari bersama saya ke Keluaran 33:18-19. Kita perlu memahami apa itu
kemuliaan Allah. Keluaran 33:18-19. Di sini Musa ada di puncak gunung dan dia
sedang berkomunikasi dengan Yesus. Ini Yesus, kita akan melihatnya sebentar
lagi. Dan Musa akan mengajukan permohonan yang aneh. Dikatakan di sana, “18 Dan dia
berkata…” kepada Allah, “…‘Mohon perlihatkanlah kiranya
kemuliaan-Mu kepadaku.’…” permintaan yang luar biasa “…perlihatkanlah kiranya kemuliaan-Mu kepadaku.’…” apa yang diperlihatkan Yesus
kepadanya? Cahaya yang benderang, cahaya yang terang? Tidak. Selanjutnya
dikatakan di ayat 19, “…19 Lalu firman-Nya,…” Allah berfirman, “…‘Aku akan membuat segenap kebaikanKu lewat di depanmu dan Aku akan mengumumkan
nama TUHAN di depanmu…” Di Alkitab, nama merupakan indikasi dari karakter orang tersebut. Orangtua saya memberi saya nama Stephen Paul, saya memiliki nama si
martir dan yang memartirnya. Dan orangtua saya selama saya bertumbuh,
mengingatkan saya mengapa mereka memberi saya nama itu. Karena mereka mau saya
memantulkan nama itu. Mereka berkata, “Kami mau kau menjadi
seorang pengkhotbah, untuk membawa jiwa-jiwa ke kaki Kristus seperti Paulus.
Dan kami mau kau punya kesetiaan bahkan sampai ajal seperti Stefanus.” Dan selama saya bertumbuh, itu terus-menerus ditanamkan di pikiran saya
oleh orangtua saya. Nama mengindikasikan karakter yang mereka mau saya miliki.
Maka ketika di sini dikatakan, “…‘Aku akan membuat segenap kebaikanKu lewat di depanmu dan Aku akan mengumumkan
nama TUHAN di depanmu…” Aku akan menunjukkan karakterKu, itulah yang dikatakan Allah. “…Aku akan bermurah hati…” simak, kebaikan, “…Aku akan bermurah
hati kepada siapa Aku akan bermurah hati, dan Aku akan mengasihani siapa yang akan Kukasihani…” Allah sedang menunjukkan karakterNya kepada Musa. Ini diperluas di pasal
berikutnya.
Exodus
34:5-7. Notice Moses here is going to make the same request and God is going to
show him His name. And notice what is connected with His name. “5 Now the Lord descended in
the cloud and stood with him there, and proclaimed the name of
the Lord...” What did God do? He proclaimed the name of the Lord. What
is His name? His character. “...6 And the Lord passed before him and
proclaimed, ‘The Lord, the Lord God, merciful and
gracious, longsuffering, and abounding in goodness and truth, 7 keeping mercy for
thousands, forgiving iniquity and transgression and sin,...” Are those manifestations of His character? Yes. And
then notice this is a part that many times we don't like to read. We're fine.
We're fine when God says God is merciful, He’s gracious, He’s long-suffering, full
of goodness and truth, mercy, forgiving, etc. But then it says,
“...by no means clearing the
guilty...” God is also just. It's an aspect of His character. So
God is showing His name. He’s showing His character.
Keluaran 34:5-7, simak Musa di sini akan membuat permohonan yang sama
dan Allah akan menunjukkan kepadanya, namaNya. Dan simak apa yang terkait
dengan namaNya. “5 Dan TUHAN turun dalam awan, lalu berdiri di sana bersamanya (bersama Musa) dan mengumumkan
nama TUHAN. …” apa yang
dilakukan Allah? Dia mengumumkan nama Allah. Apa namaNya?
KarakterNya. “…6 Dan TUHAN lewat di hadapannya dan mengumumkan: ‘TUHAN, TUHAN
Allah, penuh belas kasihan dan penuh rahmat, panjang sabar, berlimpah dalam kebaikan dan kebenaran, 7 yang
mempertahankan belas kasih-Nya bagi beribu-ribu
orang, yang mengampuni kejahatan,
pelanggaran dan dosa…” apakah ini
manifestasi dari karakterNya? Ya. Kemudian simak, bagian ini sering kita tidak
suka baca. Kita suka, kita suka bila Allah berkata Allah itu penuh belas
kasihan, Dia penuh rahmat, Dia panjang sabar, berlimpah kebaikan dan kebenaran,
berbelas kasihan, mengampuni, dll. Tetapi kemudian dikatakan, “…tetapi tidaklah sekali-kali
membebaskan orang yang bersalah dari hukuman...” Allah juga adil. Itu juga aspek
dari karakterNya. Jadi Allah menunjukkan namaNya, Dia menunjukkan karakterNya.
Now
something very interesting happened. God's
glory is sticky. God's glory is what? Sticky.
You
say, “What do you mean sticky?”
Go
to chapter 34:29. Moses was in communion with the Lord. God showed him His character,
which is His glory. And notice what it says in Exodus 34:29. “29 Now it
was so, when Moses came down from Mount Sinai (and the two tablets of the
Testimony were in
Moses’ hand when he came down from the mountain), that Moses did not know
that the skin of his face shone while he talked with Him.” The glory of God was sticky. The glory of God was
reflected on the face of Moses.
Sekarang ada
yang sangat menarik terjadi. Kemuliaan Allah itu menular.
Kemuliaan Allah itu apa? Menular.
Kalian berkata, “Apa maksudnya menular?”
Marilah ke pasal
34:29, Musa sedang berkomunikasi dengan Tuhan. Allah menunjukkan kepadanya
karakterNya, yaitu kemuliaanNya. Dan simak apa yang dikkatakan di Keluaran
34:29, “29 Nah, yang terjadi ketika Musa turun dari gunung
Sinai, dan kedua loh Kesaksian Allah ada di tangan Musa, ketika ia turun dari gunung itu,
Musa tidak tahu bahwa kulit mukanya
bercahaya selagi ia berbicara dengan Dia (TUHAN).” Kemuliaan
Allah itu melekat pada Musa. Kemuliaan Allah terpantul di wajah Musa.
By
the way, the apostle Paul picked up on this. We know that that Person was Jesus
Christ and we know that the glory was the character of Jesus Christ which when we have constant communion with Him, His glory
becomes our glory. We return to Him the glory that came from Him in the first
place. 2 Corinthians 3:18 says, the apostle Paul, “18 But we all, with unveiled face, beholding as in
a mirror the glory of the Lord...” what happens when we behold the glory of the Lord? Not
once in a while, constantly, “...are being...” what? “...transformed...” So what happens as we behold the glory of Christ? We dedicate that
thoughtful hour every day to study the life of Christ, particularly the closing
scenes. His glory becomes sticky. The glory
we receive from Him is the glory that now is reflected in us. And so it
says, “...beholding as in a mirror the glory of the
Lord, are being transformed...” that word “transformed” is the word “metamorphosis” in
Greek μεταμορφόω [metamorphoō]. Do you know what “metamorphosis” is? Let me ask you,
how is a caterpillar similar to a butterfly? They're radically different. Ah,
okay. But the worm as worm or the caterpillar as caterpillar is not a
butterfly. It has to go through a metamorphosis and it's a radical change
because the caterpillar encloses itself in a cocoon or in a chrysalis and after
a little while out comes the butterfly. How'd that happen? A transformation.
Radical transformation. And so what Paul is saying that by beholding the glory
of the Lord, the more we behold the glory of Christ and the less television we
watch, and the less time we dedicate to texting dumb things, and the less time
that we go to the internet, the more time that we spend with Christ, we come to
reflect His glory. It says we “...are being
transformed into the same image, from glory to glory,...” because
it doesn't happen overnight. The more we behold, the more we reflect His glory
from glory to glory, “... just as by the
Spirit of the Lord.”
Nah, rasul Paulus mengutip ini. Kita tahu bahwa Pribadi itu adalah Yesus
Kristus, dan kita tahu bahwa kemuliaan adalah karakter Yesus Kristus yang bilamana
kita punya hubungan yang terus terjalin denganNya, kemuliaanNya menjadi
kemuliaan kita. Kita mengembalikan kepadaNya kemuliaan yang semula berasal
dariNya. 2 Korintus 3:18 mengatakan, ini rasul Paulus, “18 Tetapi kita semua, dengan wajah yang tidak
terhalang penutup, memandang kemuliaan Tuhan seperti di cermin…” apa yang terjadi ketika kita
memandang kemuliaan Tuhan, bukan sekali waktu, tapi terus-menerus? “…dan kita sedang…” apa? “…diubahkan…” jadi apa yang terjadi ketika kita memandang kemuliaan Kristus? Ketika
kita mendedikasikan satu jam dalam perenungan setiap hari untuk mempelajari
kehidupan Kristus, terutama adegan-adegan penutupnya, kemuliaanNya menular. Kemuliaan
yang kita terima dari Dia adalah kemuliaan yang sekarang terpantul dari kita.
Jadi dikatakan, “…memandang
kemuliaan Tuhan seperti di cermin, dan kita sedang diubahkan…” kata “diubahkan” itu adalah kata
metamorfosis μεταμορφόω
[metamorphoō] dalam bahasa Greeka. Tahukah kalian apa itu metamorfosis? Coba saya
tanya, bagaimana seekor ulat bisa sama dengan seekor kupu-kupu? Mereka berbeda
secara radikal. Ah, oke, tetapi ulat itu sebagai ulat bukanlah kupu-kupu. Dia
harus melalui proses metamorfosis dan
itu adalah perubahan yang radikal karena ulat itu membungkus dirinya dalam
sebuah kepompong dan setelah beberapa waktu lamanya keluarlah seekor kupu-kupu.
Bagaimana itu bisa terjadi? Suatu perubahan. Perubahan yang radikal. Maka apa
yang dikatakan Paulus ialah dengan memandang kemuliaan Tuhan, semakin kita
memandang kemuliaan Kristus, dan semakin jarang menonton televisi, dan semakin
sedikit waktu yang kita habiskan untuk mengirim pesan-pesan bodoh dari HP, dan
semakin sedikit waktu kita ke internet, semakin banyak waktu kita habiskan bersama Kristus, kita jadi memantulkan
kemuliaanNya. Dikatakan, kita “…sedang diubahkan menjadi gambar yang serupa, dari kemuliaan ke kemuliaan,…” karena itu tidak terjadi dalam satu
malam. Semakin banyak kita pandang, semakin kita memantulkan kemuliaanNya dari
kemuliaan ke kemuliaan, “…sama
seperti oleh Roh Tuhan.”
Let
me ask you, did Moses have a pretty violent temper? You’d better believe he had
a violent temper. If you don't think so, just ask the Egyptian that he buried
in the sand. And right on the borders of Canaan, he struck the rock twice. Out
of anger. He had a temper. But you know what? The Bible from the time that
Moses led Israel out of Egypt till the time that he struck the rock twice,
which was almost 40 years, the Bible doesn't mention one sin that Moses
committed in those 40 years, because he had spent 40 years in the wilderness
with Jethro's sheep going to the top of the mount. By the way, Mount Sinai is
not at the bottom of the Sinai Peninsula. The apostle Paul says that the Sinai is in Arabia where Saudi Arabia is
today. And Moses for 40 years was up in the
mountain communing with God and the glory of God stuck on him and he was
changed from glory to glory. And so in 40 years in the wilderness with
that rebellious people who were always complaining and Moses would always say, “Oh,
well, let me go consult with the Lord.” Not one sin is mentioned. And Ellen White
states in Patriarchs and Prophets that if
Moses had not committed that one sin, he would have been translated to heaven
without experiencing death. In fact, we're told in the book of Numbers 12:3, “3 now the man Moses was very humble, more
than all men who were on the face of the earth.” Some versions translate “meek”. By
the way, the “meek” are not the “weak”. Meekness is a divine quality.
Coba saya tanya,
apakah Musa punya perangai yang temperamental? Percayalah dia punya temperamen
yang keras. Jika kalian tidak menganggapnya begitu, tanyalah orang Mesir yang
dikuburnya di pasir. Dan tepat sebelum perbatasan Kanaan, dia memukul batu dua
kali, karena marah. Musa pemarah. Tetapi kalian tahu? Dari saat Musa memimpin
orang Israel keluar dari Mesir hingga saat dia memukul batu dua kali yang
adalah rentang waktu hampir 40 tahun, Alkitab tidak menyebutkan satu dosa pun
yang diperbuat Musa selama 40 tahun itu, karena dia telah menghabiskan 40 tahun
di padang gurun bersama domba-domba Jitro hingga ke puncak gunung. Nah,
ketahuilah, Gunung Sinai tidak berada di bawah Peninsula Sinai. Rasul Paulus
mengatakan bahwa Sinai ada di Arabia di mana hari ini adalah Saudi Arabia. Dan selama
40 tahun Musa ada di atas gunung berkomunikasi dengan Allah dan kemuliaan Allah
menular padanya dan dia diubahkan dari kemuliaan ke kemuliaan.
Maka selama 40 tahun di padang gurun bersama bangsa yang pemberontak yang
selalu bersungut-sungut, Musa selalu berkata, “Baiklah, biar saya tanya kepada Tuhan.” Tidak satu dosa pun pernah
disebutkan. Dan Ellen White menyatakan di Patriarchs
and Prophets bahwa seandainya Musa tidak melakukan satu dosa itu (memukul
batu dua kali), dia sudah diubahkan ke Surga tanpa mengalami kematian. Bahkan
kita diberitahu kitab Bilangan 12:3, “3Ada
pun manusia Musa itu sangat rendah hati,
lebih dari semua manusia yang ada di atas muka bumi saat itu.” Ada versi yang menerjemahkannya “menurut”. Nah, “menurut” bukan
“lemah”. Penurutan adalah suatu sifat ilahi.
Let
me give you an illustration so you understand that the glory that we give to God is the glory that came from Him. You
go out one night ~ this hasn't happened yet since I've been here, because it's
cloudy ~ you go out one night, the sky is crystal clear, and you see that beautiful
full silver moon. Are there nights like that here? Yes. Okay. So, you do have
nights. I can't tell it by experience. You say, “Oh, how beautiful the moon
tonight. Look at that beautiful full silver moon.” False. The moon is ugly. Full of craters. Where
does the light of the moon come from? The sun. So you have to say “how
beautiful is the sun tonight.” The moon receives the light of the sun and
projects it to the earth. We receive the glory of Christ and we project it to
others. The glory that we receive is a glory
that we return. It's not our glory. It's His. And so when He commands “give glory to Him”, it's talking about the glory that comes from Him in
the first place. So the glory isn't for us. The glory is for Him.
Saya akan
memberikan ilustrasi supaya kalian paham bahwa kemuliaan yang kita
berikan Allah adalah kemuliaan yang datang dariNya. Kita keluar
pada suatu malam ~ ini belum terjadi sejak saya ada di sini karena langit
mendung ~ kita keluar suatu malam, langitnya cerah terang, dan kita lihat bulan
purnama keperakan yang indah. Apakah di sini ada malam-malam seperti itu? Ya.
Oke. Jadi ada malam-malam seperti itu. Saya belum mengalaminya di sini. Kalian
berkata, “Oh, betapa indahnya bulan malam ini. Lihat bulan
purnama keperakan yang indah itu.” Salah. Bulan itu jelek. Penuh lubang
kawah. Dari mana datangnya cahaya bulan? Matahari. Maka kalian harus
mengatakan, “Betapa indahnya matahari malam ini.” Bulan menerima cahaya
matahari dan memantulkannya ke bumi. Kita menerima kemuliaan Kristus dan kita
memantulkannya kepada orang lain. Kemuliaan yang kita terima
adalah kemuliaan yang kita kembalikan. Itu bukan kemuliaan kita.
Itu kemuliaanNya. Maka ketika Dia memerintahkan “muliakanlah
Dia”, itu bicara tentang kemuliaan yang semula datang dari
DiriNya. Jadi kemuliaan itu bukan untuk kita. Kemuliaan itu untuk Dia.
Let's
notice one final verse on this particular point of what it means to give glory
to God. Go with me to Matthew 5:14-16. Jesus says, “14 You are the light of the world...” Now, wait a minute. Didn't Jesus say, “I am the light of the world”? Now, He says what? “...14 You are the light of the
world...” What does He mean? Let's continue
reading. “...14 You are the light of the
world. A city that is set on a hill
cannot be hidden. 15 Nor
do they light a lamp and put it under a basket, but on a lampstand, and it
gives light to all who are in
the house...” And then it says, “...16 Let your light so shine
before men, that they may see your good works...” so what is the
light? Your good works, right?
“...that they may see your good works...” And by the way, where do those good works come from?
We read Ephesians chapter 2: “We
are His workmanships, created in Christ Jesus for good works.” He created them. And so it says, “...16 Let your light so shine
before men, that they may see your good works and glorify your Father
in heaven.” Because it's His glory. It's not our
glory.
Mari kita simak satu ayat terakhir tentang poin ini, yaitu apa artinya
memberikan kemuliaan kepada Allah. Mari bersama saya ke Matius 5:14-16. Yesus
berkata, “14 Kamu adalah terang dunia…” tunggu dulu. Bukankah Yesus berkata,
“Akulah terang dunia”? (Yohanes 8:12). Sekarang Dia mengatakan apa? “…14 Kamu adalah terang dunia…” apa maksudNya? Mari kita lanjutkan membaca. “…14 Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas bukit tidak mungkin tersembunyi. 15 Demikian pula orang tidak menyalakan pelita
lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian dan itu memberi terang
kepada semua orang di dalam rumah itu…” kemudian dikatakan “…16 Hendaknya terangmu bercahaya sedemikian di depan orang, supaya mereka
melihat perbuatanmu yang baik…” jadi terang itu apa? Perbuatan baikmu,
benar? “…supaya mereka melihat
perbuatanmu yang baik...” nah, dari mana datangnya perbuatan-perbuatan baik
ini? Kita sudah baca Efesus 2:10, “kita ini karya Allah,
diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan perbuatan
baik” Dia yang menciptakan mereka. Jadi dikatakan, “...16 Hendaknya
terangmu bercahaya sedemikian di depan
orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang
di sorga…” Karena itu kemuliaanNya, bukan kemuliaan kita.
Are
you understanding the First Angel’s Message better? It means that our response
to the gospel, the fact that Jesus is so wonderful because by His grace He saved
us. The fact that He lived a life that I could never live, perfect life, weaved
a robe of righteousness. The fact that He took my guilt and suffered my
penalty. The fact that if I sin, He’s willing to intercede for me. I say, “Wow,
thank you, Lord Jesus. You're wonderful. Now I want to keep Your Law. ‘Fear
God’. Now I want to be in communion with You
so I can reveal Your glory. And now
I want to worship You as my Creator.”
Apakah kalian
sudah lebih memahami Pekabaran Malaikat Pertama? Artinya respons kita kepada
injil, fakta bahwa Yesus begitu luar biasa karena dengan kasih karuniaNya Dia
telah menyelamatkann kita. Fakta bahwa Dia menjalani suatu kehidupan yang tidak
pernah bisa saya jalani, suatu kehidupan yang sempurna, merajut sebuah jubah
kebenaran; fakta bahwa Yesus telah mengambil dosa saya dan menjalani hukuman
saya; fakta bahwa jika saya berbuat dosa Dia bersedia menjadi Perantara bagi
saya. Saya katakan, “Wow! Terima kasih Tuhan Yesus, Engkau luar biasa.
Sekarang saya mau mematuhi HukumMu. ‘Takutlah
akan Allah’. Sekarang saya mau menjalin hubungan denganMu supaya
saya bisa menyatakan kemuliaanMu. Dan sekarang saya mau menyembahMu
sebagai Penciptaku.”
The Third Command
And
now we're going to go to our third command, our third order, our third
imperative, which is “worship Him
who created”. Let's go back to Revelation 14:6 and
7. “6 Then I saw another angel flying in the midst of
heaven, having the everlasting gospel to preach to those who dwell on the
earth—to every nation, tribe, tongue, and people— 7 saying with a loud
voice, ‘Fear God and give glory to Him, for the hour of His judgment has
come; and worship Him who made heaven and earth, the sea and springs of
water.’”
Let me ask you this. What gives God the right to
command us to worship Him? What right does God have to command us to worship
Him? The answer is very simple. He’s our
Creator. Therefore, He has a perfect right to command us to worship Him as our
Creator.
Perintah Ketiga
Dan sekarang kita
akan ke perintah kita yang ketiga, tugas kita yang ketiga, imperatif kita yang
ketiga, yaitu “sembahlah Dia yang telah
menjadikan”. Mari kita kembali ke Wahyu 14:6-7. “6 Lalu aku melihat seorang malaikat lain terbang di
tengah-tengah langit, dan padanya ada Injil yang kekal untuk diberitakan kepada mereka
yang diam di atas bumi ~ kepada setiap bangsa dan suku dan bahasa
dan kaum,7 berseru dengan suara nyaring: ‘Takutlah akan Allah dan
muliakanlah Dia, karena saat penghakiman-Nya telah tiba, dan sembahlah Dia yang
telah menjadikan langit dan bumi dan laut dan semua mata air.”
Coba saya tanya ini, apa yang memberi Allah hak
untuk memerintah kita menyembahNya? Hak apa yang dimiliki Allah untuk
memerintah kita menyembah Dia? Jawabannya sangat sederhana. Dialah Pencipta
kita. Oleh karena itu Dia punya segala hak untuk memerintah kita menyembahNya
sebagai Pencipta kita.
Go
with me to Psalm 95:1-6. When I was pastor of Fresno Central Church, the last
20 years of my ministry, we always began our service with this Scripture
reading, Psalm 95:1-6. “1 Oh come, let us sing to
the Lord! Let us shout joyfully to the
Rock of our salvation. 2 Let
us come before His presence with thanksgiving; let us shout joyfully to Him
with psalms. 3 For the Lord is the great God, and the great King above all gods.
Why
does everything belong to God? Because He made it. It's His because He made it.
Mari
bersama saya ke Mazmur 95:1-6. Ketika saya masih gembala di Fresno Central
Church, 20 tahun terakhir dari ministri saya, kita selalu memulai kebaktian
kita dengan membaca ayat ini, Mazmur 95:1-6. “1 O, datanglah,
marilah kita bernyanyi untuk TUHAN! Marilah kita bersorak dengan gembira kepada
Gunung Batu keselamatan kita. 2 Biarlah kita menghadap hadirat-Nya dengan pujian syukur, marilah kita bersorak-sorak
pada-Nya dengan nyanyian mazmur. 3
Sebab TUHAN adalah Allah yang besar, dan Raja yang besar di atas segala allah. 4 Bagian-bagian bumi yang paling
dalam ada di tangan-Nya, puncak gunung-gunung pun…” apa? “…kepunyaan-Nya.5 Laut itu…” punya siapa? “…kepunyaan-Nya, karena Dialah yang
menjadikannya …” mengapa semua milik Allah? Karena Dia yang menciptakannya. Semua
milikNya karena Dia yang telah menciptakannya.
And
this is why I can't understand the churches who observe Sunday as a day of rest
because in Genesis it says that the seventh day is the Sabbath, right?
So
you ask one of these individuals say, “To whom does the light belong?”
“Oh,
the light belongs to God.”
“Why?”
“Because
He made it.”
“Okay.
To whom does the firmament belong?”
“Oh,
this firmament belongs to God because God made it.”
“To
whom do the trees and the flowers and the green grass belong?”
“Oh,
they belong to God.”
“Why?”
“Because
He made them.”
“To
whom do the sun, moon, and stars belong?”
“Oh,
they belong to God because God made them.”
“To
whom do the fish and the birds belong?”
“Oh,
they're God’s because God made them.”
“To
whom do the beasts of the field belong?”
“Oh,
they belong to God because He made them.”
“To
whom do human beings belong?”
“Oh,
they belong to God because He made them.”
And
then you ask the most critical question and it's this: “To whom does the
Sabbath belong?”
“To
the Jews.”
He made it. Therefore, it's His! It's not the Jewish
Sabbath. It's the Lord's Sabbath. It's the sign of the Creator.
Dan inilah mengapa saya tidak bisa mengerti
gereja-gereja yang memelihara hari Minggu sebagai hari perhentian karena di
Kejadian dikatakan bahwa hari ketujuhlah hari Sabat, benar?
Maka jika kita tanya salah satu dari individu itu, “Milik siapa terang itu?”
“Oh, terang itu milik Allah.”
“Mengapa?”
“Karena Dia yang menciptakannya.”
“Oke. Milik siapa cakrawala?”
“Oh, cakrawala itu milik Allah, karena Allah yang
menciptakannya.”
“Segala pohon, bunga dan rumput hijau itu milik
siapa?”
“Oh, mereka milik Allah?”
“Mengapa?”
“Karena Dia yang menciptakan mereka.”
“Matahari, bulan dan bintang-bintang itu milik siapa?”
“Oh, mereka milik Allah karena Allah yang telah
menciptakan mereka.”
“Segala ikan dan burung itu milik siapa?”
“Oh, mereka milik Allah karena Allah yang telah
menciptakan mereka.”
“Segala binatang di padang itu milik siapa?”
“Oh, mereka milik Allah karena Dia yang menciptakan
mereka.”
“Manusia itu milik siapa?”
“Oh, mereka itu milik Allah karena Dia yang
menciptakan mereka.”
Kemudian kita tanya pertanyaan yang paling kritis
yaitu ini, “Sabat itu milik
siapa?”
“Milik orang Yahudi.”
Tuhan yang menciptakan Sabat itu, karena itu Sabat itu
milik Allah! Itu bukan Sabat orang Yahudi. Itu Sabat Tuhan. Itu
adalah tanda Sang Pencipta.
Now,
because the First Angel’s Message mentions the creation, we have to go back to
creation. Go with me to Genesis 1:31 through chapter 2:3. “31 Then God saw everything
that He had made...” does that include the Sabbath? Yeah, the Sabbath was made. Jesus said “the Sabbath was made for man”. So it's part of
creation. So it says, “...31 Then God saw
everything that He had made and indeed it was very good. So the evening and the morning were the
sixth day. 1 Thus the heavens and the earth, and all the host of them,
were finished...” And now notice this.
“...2 And on the seventh day God ended His work which He had done, and
He rested on the seventh day from all His work which He had done. 3 Then God blessed the
seventh day...” somehow I get the impression that the seventh day is the Sabbath. Three
times. And then it says, “... 3 Then
God blessed the seventh day and sanctified it, because in it He rested
from all His work...”
Sekarang, karena Pekabaran
Malaikat Pertama menyinggung tentang penciptaan, kita harus kembali ke
Penciptaan. Mari bersama saya ke Kejadian 1:31 hingga pasal 2:3. “31 Maka Allah
melihat segala yang telah dijadikan-Nya itu,…” apakah ini
termasuk Sabat? Iya, Sabat itu diciptakan. Yesus
berkata, “Sabat diadakan untuk
manusia” (Markus 2:27). Jadi Sabat itu bagian dari Penciptaan. Maka
dikatakan, “…31 Maka Allah melihat segala yang
telah dijadikan-Nya itu, dan sungguh itu amat baik. Maka petang itu dan pagi itu adalah
hari keenam. 1 Demikianlah langit dan bumi dan
segala isinya sudah selesai…” dan sekarang
simak ini, “…2 Dan pada hari ketujuh Allah
telah mengakhiri pekerjaanNya yang telah dibuatNya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh
dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. 3 Lalu Allah
memberkati hari yang ketujuh…” saya mendapat
kesan bahwa hari ketujuh itulah Sabat. Tiga kali. Kemudian dikatakan, “…3 Lalu Allah memberkati hari yang
ketujuh dan menguduskannya, karena di hari itu Ia telah berhenti dari segala pekerjaan
penciptaan yang telah dibuat-Nya itu.”
Three
things that God did:
(1) He rested,
(2) He blessed,
(3) and He sanctified.
And
three times it's repeated that the seventh
day is the Sabbath.
Tiga hal yang dilakukan Allah:
(1) Dia berhenti,
(2) Dia memberkati,
(3) dan Dia menguduskan.
Dan tiga kali itu diulangi bahwa
hari yang ketujuh itulah Sabat.
Let
me ask you, does the fourth Commandment contain the same elements as what we
just read? So let me ask you, is the Sabbath
of the Jews or did it exist before sin?
Before sins. Because the fourth Commandment says that the Sabbath is the
seventh day. And it also says that God rested, blessed, and sanctified the day.
So the Sabbath pre-existed the fourth
Commandment. So, it's not Jewish.
It's the Lord's Sabbath.
Coba saya tanya,
apakah Perintah Keempat berisikan unsur-unsur yang sama dengan apa yang baru
saja kita baca? Jadi coba saya tanya, apakah Sabat itu punya
orang Yahudi atau apakah itu sudah ada sebelum manusia
berdosa? Sebelum dosa. Karena Perintah Keempat mengatakan bahwa
Sabat ialah hari ketujuh. Dan juga mengatakan bahwa Allah berhenti, memberkati,
dan menguduskan hari ketujuh. Jadi Sabat sudah lebih dulu ada
sebelum Perintah Keempat. Jadi itu bukan milik orang Yahudi. Itu adalah Sabat Tuhan.
Now,
the Bible also says that the Sabbath is God's sign to remind us that He is the
Creator and we owe Him our worship. Correct? It's a weekly sign that remind us
every week that God is our Creator and therefore we owe Him our worship. In
other words, worship, Sabbath observance and
the Creator go together.
Nah, Alkitab
juga mengatakan bahwa Sabat adalah tanda Allah untuk mengingatkan kita bahwa
Dialah Sang Pencipta, dan kita harus beribadah kepadaNya. Benar? Itu adalah
suatu tanda mingguan yang mengingatkan kita setiap minggu bahwa Allah itu
Pencipta kita dan oleh karena itu kita harus beribadah kepadaNya. Dengan kata
lain, ibadah, pemeliharaan Sabat dan Sang Pencipta itu satu
paket.
And
by the way, I want to share this thought with you. Human beings build monuments
to commemorate historical events, right? For example, if you go to New York,
there you have the memorial of when the Twin Towers were knocked down by the
terrorists. There's a fantastic memorial there. What happens every year on 9/11?
Everybody gathers there at the memorial to commemorate what happened and the
3,000 names of those who perished are read. September 11, every year they come
to the monument. Why don't they do it on October 11? Because the historical
event is rooted in history and you can't change historical events. In order to
memorialize it, you have to memorialize it on the same day in which it
occurred. That's why Sunday cannot be the
Sabbath. Because the Sabbath, seventh day is what commemorates creation,
not Sunday.
Nah, saya mau
membagi konsep ini dengan kalian. Manusia membuat monumen untuk memperingati
peristiwa-peristiwa sejarah, benar? Misalnya, jika kita ke New York, di sana
ada peringatan kapan Twin Towers dihancurkan oleh kaum teroris. Ada peringatan
yang fantastik di sana. Apa yang terjadi setiap tahun pada 9/11? Orang-orang
berkumpul di sana di tempat peringatan itu untuk memperingati apa yang terjadi,
dan ke 3’000 nama mereka yang gugur, dibacakan. September 11 setiap tahun
mereka datang ke peringatan itu. Mengapa mereka tidak melakukannya pada Oktober
11? Karena peristiwa sejarah itu berakar pada sejarah dan kita tidak bisa
mengubah peristiwa sejarah. Untuk memperingatinya, kita harus memperingatinya
pada hari yang sama ketika itu terjadi. Itulah mengapa hari Minggu tidak
bisa menjadi Sabat. Karena Sabat, hari yang ketujuh, itulah yang memperingati
Penciptaan, bukan hari Minggu.
Furthermore,
what's interesting is monuments are built in a certain place to commemorate an
event that occurred in that place. The problem is God had to make a monument of
creation, but He couldn't put it in Hammond because then the people who live in
Hammond will have an advantage over everybody else who lives elsewhere. So, how
could God memorialize creation, a global event? Well, God created a memorial that comes to us. We don't have to come
to it. Every seventh day, the memorial comes
to us, the seventh day Sabbath, which commemorates a global event, creation.
Lebih jauh, yang
menarik ialah tanda peringatan itu dibangun di tempat tertentu untuk
memperingati kejadian yang terjadi di tempat tersebut. Masalahnya Allah harus
membuat tanda peringatan Penciptaan, tetapi Dia tidak bisa meletakkannya di Hammond
karena kalau begitu orang-orang yang tinggal di Hammond akan punya keuntungan
di atas semua orang yang tinggal di tempat lain. Jadi, bagaimana Allah bisa
memperingati Penciptaan, suatu peristiwa yang global? Nah, Allah
menciptakan suatu peringatan yang datang kepada kita. Kita tidak
usah datang kepadanya. Setiap hari ketujuh, peringatan
itu datang kepada kita, Sabat hari ketujuh, yang memperingati
suatu peristiwa global, Penciptaan.
Let's
read a couple of statements in the Bible that speak about the sign. The Sabbath
as a sign. Exodus 31:16-18, “ 16 Therefore the children
of Israel shall keep the Sabbath,...” and so some people say, “See, the children of
Israel ought to keep the Sabbath. God wasn't going to say, ‘And
therefore the church shall keep the Sabbath.’” There was
no church. He’s speaking to His people at that moment in time. Doesn't
mean that it's not for the church. It simply means that He’s speaking to Israel
at that particular point, because they're His people at that particular point.
It doesn't say, “Therefore the children of Israel shall exclusively keep the
Sabbath.” No, He says, they “...shall keep the Sabbath, to observe the
Sabbath throughout their generations as a perpetual covenant. 17 It is a
sign between Me and the children of Israel forever;...” and
now comes the reason, because “...for in six days the Lord made the heavens and the
earth, and on the seventh day He rested and was refreshed.’...” So
God told Israel to keep the Sabbath because God is the Creator, correct? So
only Israel needs to recognize the Creator by keeping the Sabbath? That's
ridiculous. It says God gave the Sabbath as a sign, that He made the world in
six days and rested on the seventh day. So only
the Jews need to recognize that God is the Creator and rest on the seventh day?
No. Because God created all of us.
Mari kita baca dua pernyataan di
Alkitab yang bicara tentang tanda ini. Sabat adalah sebuah tanda. Keluaran
31:16-18, “16 Itulah sebabnya orang Israel harus memelihara hari Sabat,…” maka ada beberapa orang yang
berkata, “Lihat, bangsa Israel yang harus memelihara Sabat. Allah tidak
mengatakan, ‘Oleh karena itu gereja harus memelihara Sabat.’” Pada waktu itu belum ada gereja! Allah sedang berbicara
kepada umatNya pada waktu itu. Tidak berarti bahwa perintah itu
bukan untuk gereja. Ini semata-mata berarti bahwa pada waktu itu Allah sedang
berbicara kepada Israel karena Israel adalah umatNya pada waktu itu. Tidak
dikatakan, “Oleh karena itu Sabat akan dipelihara bangsa Israel secara ekslusif”. Tidak. Dia berkata, mereka “…harus memelihara hari Sabat, untuk memelihara Sabat turun-temurun, menjadi suatu perjanjian kekal. 17 Itulah tanda antara Aku dan
orang Israel selama-lamanya…” dan sekarang ini alasannya, karena, “…sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, dan pada hari
yang ketujuh Ia berhenti bekerja dan disegarkan…” Jadi Allah menyuruh Israel untuk
memelihara Sabat karena Allah adalah Sang Pencipta, benar? Jadi apa hanya
Israel yang harus mengakui Sang Pencipta dengan memelihara Sabat? Itu tidak
masuk akal. Dikatakan bahwa Allah memberikan Sabat sebagai suatu tanda, bahwa
Dia telah menciptakan dunia ini dalam enam hari dan berhenti pada hari ketujuh.
Jadi apa hanya bangsa Yahudi yang harus mengakui Allah sebagai
Pencipta dan berhenti pada hari ketujuh? Tidak. Karena Allah menciptakan kita
semua.
Another
place where you find the Sabbath as a sign or a memorial is Ezekiel 20:12 and
verse 20. It says, “12 Moreover I also gave them
My Sabbaths...” Now, it doesn't say that’s the Jewish Sabbath,
God says “I gave them (the Jews) My Sabbaths”
“...to be a...” what? “...a sign between them
and Me, that they might know that I am the Lord who sanctifies them...” Verse 20,
“...20 hallow...”
that means sanctify, keep holy, “...My Sabbaths...” again
“...and they will be a sign between Me and you, that you may know that
I am the Lord your God.’” It's a sign that the Lord is our God.
Tempat lain di mana
kita melihat Sabat sebagai suatu tanda atau peringatan ialah Yehezkiel 20:12
dan 20. Dikatakan, “12 Selain itu, Aku juga memberikan kepada
mereka hari-hari Sabat-Ku…” nah, tidak dikatakan bahwa itu adalah Sabat orang Yahudi, Allah berkata,
“Aku berikan kepada mereka (orang Yahudi) hari-hari SabatKu” “…untuk menjadi…” apa? “…pertanda di antara Aku dan mereka, supaya mereka boleh tahu bahwa Akulah TUHAN, yang menguduskan mereka…” Ayat 20, “…20 Kuduskanlah…” itu artinya pelihara kekudusannya, “…hari-hari Sabat-Ku, dan itu menjadi tanda di antara Aku dan kamu,
supaya kamu boleh tahu, bahwa Akulah TUHAN,
Allahmu…” itu adalah sebuah tanda bahwa Tuhan adalah Allah kita.
Now,
there's a couple of verses that I want to read as we near the end of our study
this evening, where creation, worship, and the Sabbath are connected. And it
has to do with the future when God makes a
new heavens and a new earth. The Sabbath will still be the sign, the weekly
sign. It says in Isaiah 66:22 and 23 the following, “22 ‘For as the new heavens and the new earth
which I will make...” is this talking about the future? Is God
going to make new heavens and new earth?
So it must be after the old heavens and old earth, right? He’s going to
redo what He did at the beginning. “...shall
remain before Me,’ says the Lord, ‘So shall
your descendants and your name remain. 23 And it shall come to pass that from one new moon to another...” some people
get all hung up on that “new moon” thing. Do you know that in the King James
version only nine times is that word translated “new moon”? Hundreds of times it's
translated “month” because the new moon
marks the beginning of the month. It's the first day of the month, the
new moon. And in the Spanish version of this verse, it says "de mes en
mes" “from month to month”, which is really
the way it should be translated. It's not the moon connected with a sacrificial
system. No, it's the beginning of the month.
You say, “Why are we going to go worship before the
Lord at the beginning of the month?”
Well, because there's a certain tree that produces its
fruit every month, the tree of life. We're going to go monthly and we're going
to go work weekly to do what?
So, it says, He’s going to make new heavens and earth.
There's creation. “...23 And it shall come
to pass that from months (one
new moon) to months (another) and from one Sabbath to another...” there's the
Sabbath. So you have the new creation, the Sabbath, and what are God's people
going to do? It says, “...all flesh shall
come to worship before Me,’ says the Lord.”
Is the Sabbath going to be kept when God makes the new
heavens and new earth as a sign of the Creator, a sign of worship? Yes. So what
makes you think that meantime, Sunday's
the day? It's the Devil's falsification.
He wants to substitute Sunday because the Papacy claims to have changed Sunday
and therefore the Papacy gets the glory that belongs only to God.
You know, when people understand this, they're willing
to get out. But only when they understand these things, and then they're ready
for the Third Angel’s Message. The mark of the Beast and the seal of God
becomes very simple.
Nah, ada dua ayat yang mau
saya bacakan sementara kita hampir tiba di akhir pelajaran kita malam ini, di
mana Penciptaan, ibadah, dan Sabat terkait. Dan itu berkaitan dengan masa depan
ketika Allah menciptakan langit baru dan bumi baru. Sabat masih akan
tetap menjadi tanda, tanda mingguan. Dikatakan di Yesaya
66:22-23, yang berikut, “22 Sebab sama
seperti langit yang baru dan bumi yang baru yang akan Kujadikan…” apakah ini bicara tentang masa depan? Apakah Allah akan membuat langit
baru dan bumi baru? Jadi ini tentunya setelah langit lama dan bumi lama, bukan?
Allah akan menciptakan ulang apa yang Dia lakukan pada awalnya, “…akan tetap ada di hadapan-Ku,’ firman TUHAN, ‘demikianlah keturunanmu dan namamu
akan tetap ada. 23Dan
yang akan terjadi, ialah
dari satu bulan
baru ke
bulan baru yang lain,…” ada orang yang menjadi bingung
dengan istilah “bulan baru”. Tahukah kalian di terjemahan KJV hanya 9 kali kata
tersebut diterjemahkan “bulan baru”? Ratusan kali yang lain kata itu
diterjemahkan “bulan”, karena “bulan baru” merupakan tanda
dari awal bulan. Itu hari pertama dari setiap bulan, bulan yang
baru. Dan di terjemahan bahasa Spanyol ayat ini dikatakan “de mes en mes” atau “dari bulan ke bulan”, yang
sesungguhnya memang harus diterjemahkan demikian. Ini bukan bulan yang
dikaitkan dengan upacara kurban, bukan. Ini awal bulan. Kalian bertanya, “Mengapa kita harus datang beribadah di
hadapan Tuhan pada awal bulan?”
Karena ada sebatang pohon yang
menghasilkan buahnya setiap bulan, pohon kehidupan. Kita akan datang setiap
bulan, dan kita akan bekerja setiap minggu.
Dikatakan Dia akan menciptakan
langit baru dan bumi baru. Itulah Penciptaan, “…23Dan yang akan terjadi, ialah
dari satu bulan
(baru) ke
bulan (baru) yang lain, dan
dari satu Sabat ke Sabat yang lain,…” itu Sabatnya. Jadi ada Penciptaan
baru, Sabat, dan apa yang akan dilakukan umat Allah? Dikatakan, “…maka
semua manusia akan datang untuk sujud
menyembah di hadapan-Ku,’ firman TUHAN.”
Apakah Sabat akan dipelihara ketika Allah
menciptakan langit baru dan bumi baru sebagai tanda Sang Pencipta, tanda
ibadah? Ya. Lalu mengapa kalian berpikir sementara ini hari Minggu-lah harinya? Itu adalah pemalsuan Iblis. Dia yang mau menggantikannya dengan hari Minggu
karena Kepausan yang telah mengklaim telah mengganti hari Minggu dan oleh
karena itu Kepausan yang mendapatkan kemuliaan yang adalah hak Allah. Kalian
tahu, bila orang-orang mengerti hal-hal ini, maka mereka siap untuk Pekabaran
Malaikat Ketiga. Tanda Binatang dan meterai Allah menjadi sangat mudah.
Now,
here's my final point. The test at the end of time is going to be the same test
that faced Adam and Eve in the Garden of Eden. The only difference is that at
the beginning, the test was a tree. At the end, it's going to be a day. The
issue behind the tree was whose authority we
will obey. The tree was only the way in which God could test Adam and
Eve to see if they would obey His authority as their Creator. So behind the day
is whose authority we're going to obey: the serpent or God? At the end of time
it's going to be the same trial. And that trial is, will you obey God by
keeping the day that He has established or are you going to listen to the power
that claims to have changed the day? It's the Word of God versus the word of
the serpent. And the test at the end is a day, at the beginning it was a tree.
But behind the tree and the day is whose authority we will obey. Will it be the
authority of the Little Horn that claimed to change God's Law? Or will it be
the acceptance of the authority of the One who created the Sabbath and showing
it by observing His holy Sabbath? That's a test, but it's the same test. The Word
of God or the word of man.
Nah, ini poin
terakhir saya. Ujian pada akhir masa akan menjadi ujian yang sama yang dihadapi
oleh Adam dan Hawa di Taman Eden. Satu-satunya perbedaan ialah di awalnya,
ujian itu dengan sebuah pohon, di akhirnya, itu akan dengan sebuah hari. Isu di
balik pohon adalah autoritas siapa yang akan kita patuhi.
Pohon hanyalah sarana dengan mana Allah menguji Adam dan Hawa untuk melihat
apakah mereka mau mematuhi autoritas Allah sebagai Pencipta mereka. Maka di
balik hari adalah autoritas siapa yang akan kita patuhi: si ular atau Allah?
Pada akhir masa ujiannya sama. Dan ujian itu ialah apakah kita akan mematuhi
Allah dengan memelihara hari yang telah ditetapkanNya, atau apakah kita akan
mendengarkan kekuasaan yang mengklaim telah mengubah harinya? Itu adalah Firman
Allah melawan kata-kata si ular. Dan ujiannya pada akhir masa ialah tentang
sebuah hari, pada awalnya itu tentang sebuah pohon. Tetapi di balik pohon dan
hari ialah autoritas siapa yang akan kita patuhi. Apakah autoritas Tanduk Kecil
yang mengklaim telah mengubah Hukum Allah? Ataukah kita akan menerima autoritas
Dia yang menciptakan Sabat dan menunjukkannya dengan memelihara SabatNya yang
kudus? Itu ujiannya, ujian yang sama. Firman Allah atau kata-kata manusia.
So,
I hope you understand the First Angel’s Message a little bit better now. It
shows us what Jesus has done ~ Praise the Lord ~ and a loving response that He wants
from us. And by the way, when people understand the First Angel’s Message,
those who are in the Protestant churches, in the in the Roman Catholic church,
those who are sincere and searching for the truth, they're going to say, “I'm
in the wrong place. We keep Sunday. We
have human priests. We believe that Jesus sacrificed over and over again. We
believe that by pilgrimages and by
giving alms, you know, we can earn a few brownie points with the Lord. I'm in
the wrong place.”
So
God says, “Get out. Babylon is fallen. Get out.” And then He warns, “If you don't get out,
there's the Third Angel’s Message.”
So
these messages are all connected one with the other. And when we present them
in the order in which God gave them, there is power for people to come out.
You
know, some people say, “Well, you know, there's other churches that keep the
Sabbath. There's the Seventh Day Baptists, some Pentecostal groups, the Jews
keep the Sabbath. So that's not unique to the Adventist Church.”
You
know what's unique about the Seventh Day
Adventist Church? Because we connect
it with the Third Angel’s Message. And because we say it's the final test. These churches, they
say the Sabbath is just one of the Commandments. We say the Sabbath is God's
final test for the world. It's a much more profound meaning of the Sabbath. It has to do with human destiny. So, we
have a unique way of looking at the Sabbath.
Jadi saya harap
kalian memahami Pekabaran Malaikat Pertama dengan lebih baik sekarang. Ini
menunjukkan kepada kita apa yang telah dilakukan Yesus ~ Puji Tuhan ~ dan
sebuah respons yang penuh kasih yang diharapkanNya dari kita. Dan ketahuilah
ketika orang-orang memahami Pekabaran Malaikat Pertama, mereka yang di
gereja-gereja Protestan, di gereja Roma Katolik, mereka yang tulus dan mencari
kebenaran, mereka akan berkata, “Aku ada di
tempat yang salah. Kami memelihara hari Minggu. Kami punya imam-imam manusia.
Kami meyakini Yesus dikurbankan berulang-ulang. Kami meyakini bahwa dengan
ziarah-ziarah dan memberikan derma, kami bisa mendapatkan beberapa poin dari
Tuhan. Aku ada di tempat yang salah.”
Maka Allah
berkata, “Keluarlah. Babilon sudah jatuh. Keluarlah.”
Kemudian Allah memperingatkan, “Jika kamu tidak keluar, ada Pekabaran
Malaikat Ketiga.”
Maka pesan-pesan
ini semuanya terkait satu sama lain. Dan ketika kita menyampaikan mereka dalam
urutan sebagaimana yang diberikan Allah, ada kuasa bagi orang-orang untuk
keluar.
Kalian tahu, ada
orang-orang yang berkata, “Nah, ada gereja-gereja lain
yang memelihara Sabat. Ada Baptis Hari Ketujuh, beberapa kelompok Pentakosta,
orang Yahudi memelihara Sabat. Jadi itu tidak unik hanya Gereja Advent.”
Kalian tahu apa
yang unik tentang gereja MAHK? Karena kita mengaitkannya
kepada Pekabaran Malaikat Ketiga. Dan karena kita mengatakan itu
adalah ujian yang terakhir. Gereja-gereja ini
mereka mengatakan bahwa Sabat hanyalah salah satu Perintah Allah. Kita
mengatakan Sabat itu ujian terakhir dari Allah bagi dunia. Arti Sabat menjadi
jauh lebih mendalam. Ini berkaitan dengan masa depan
manusia. Jadi, kita punya cara yang unik melihat Sabat.
Well,
folks, I ended a little bit later today, but it's only 8:30. I hope that you
understood what we studied tonight. Many wonderful things from the Word of God.
Is the Word of God sweet like honey? Oh, it's delicious. Let's pray.
Nah,
Saudara-saudara, saya mengakhirinya sedikit lebih malam hari ini, tetapi ini
baru 8:30. Saya berharap kalian paham apa yang kita pelajari hari ini. Banyak
hal lain yang mengagumkan dari Firman Allah. Bukankah Firman Allah manis
seperti madu? Oh, sedap. Mari kita berdoa.
23 09 26
No comments:
Post a Comment